PENDAHULUAN

 

RAHASIA KAUM MISSIONARIS ( PARA PENDETA DAN PASTOR ) YANG TAKUT DIKETAHUI OLEH UMATNYA SENDIRI

BERIKUT INI ADALAH SEBAGIAN INFORMASI YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN OLEH GEREJA AGAR UMAT KRISTEN / KATHOLIK TIDAK MEMPELAJARI ALKITAB MEREKA SENDIRI SECARA MENDALAM, APALAGI SAMPAI DENGAN MEMBANDINGKAN ANTAR SATU KITAB DENGAN KITAB LAIN,  SANGAT DILARANG KERAS.

INDEKS AL-KITAB

Kitab agama ini adalah milik umat Kristiani, dikenal dengan sebutan Alkitab atau Bibel (Inggris : Bible, Jerman : Bijbel), terdiri dari dua bagian kitab, yaitu Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab Perjanjian Baru (PB). Di dalam Perjaniian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-oran Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca: Kitab Mikha 3:1 – 12 dan Ulangan 31:27). Akibatnya, kitab suci ini menjadi bercampur-baur antara kebenaran ilahi dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditulis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka Alkitab tidak boleh dibaca dengan doktrin yang harus diterima apa adanya bahwa Alkitab itu pasti baik dan benar, karena Tuhan telah mengaruniakan akal budi kepada setiap manusia. Akal budi inilah yang mendatangkan karunia (Amsal 13:15). Tanpa akal budi mengakibatkan kebodohan dan kebinasaan (Amsal 10:21). Gunakanlah akal untuk menguji dan menyaring Alkitab antara ayat-ayat firman Tuhan dan ayat-ayat buatan manusia. Sesuai dengan perintah berikut : “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (I Tesalonika 5: 2 1).

AYAT-AYAT ILLAHI :

Tuhan itu Esa (monotheisme), bukan Trinitas

1. Tauhid Nabi Musa (Ulangan 4:35, Ulangan 6:4, Ulangan 32:39).

2. Tauhid Nabi Daud (II Samuel 7:22, Mazmur 86:8).

3. Tauhid Nabi Sulaiman (I Raja-raja 8:23).

4. Tauhid Nabi Yesaya (Yesaya 43: 10-11, Yesaya 44:6,Yesaya 45:5-6, Yesaya 46:9).

5. Tauhid Yesus (Markus 12:29, Yohanes 5:30, Yohanes 17:3).

Yesus bukan Tuhan dan tidak sama dengan Tuhan

1. Yesus lebih kecil daripada Tuhan (Yohanes 10:29).

2. Tuhan lebih besar dari pada Yesus (Yohanes 14:28).

3. Yesus duduk di sebelah kanan Tuhan (Markus 16:19, Roma 8:4).

4. Yesus berdiri di sebelah kanan Tuhan (Kisah Para Rasul 7:56).

5. Allah tahu kapan datangnya kiamat, sedang Yesus tidak tahu (Matius 24:36).

6. Yesus bersyukur kepada Tuhan (Matius ll:25, Lukas 10:21).

7. Yesus berteriak memanggil Tuhan (Matius 27:46, Markus 15:34).

8. Yesus menyerahkan nyawanya kepada Tuhan (Lukas 23:44-46, Yohanes 19:30).

9. Yesus disetir oleh Tuhan (Yohanes 5:30).

Yesus adalah utusan Tuhan (Rasul Allah)

Dalil : Markus 9:37, Yohanes 5:24, 30,7:29,33,8:16,18,26,9:4,10:36,II:42,13:20,16:5, 17:3,8,23,25.

Tidak ada dosa waris dan Penebusan dosa

Para nabi Allah tidak ada yang mengajarkan Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Risalah Allah yang dibawa oleh semua nabi-Nya itu pada hakekatnya sama saja, yaitu Tauhid dan amal shalih. Semua nabi menekankan adanya tanggung jawab individu atas segala perbuatan setiap manusia (Yehezkiel 18:20, Ulangan 24:16, Matius 16:27, Yeremia 31:29-30, II Tawarikh 25:4).

Nubuat akan datangnya seorang nabi akhir setelah Yesus

Dalam Alkitab masih dapat ditemukan nubuat-nubuat para nabi yang memberikan sinyalemen akan datangnya seorang nabi terakhir yang menutup keberadaan para nabi sebelumnya. Keberadaan nabi terakhir yang pamungkas ini sangat penting artinya untuk kesempurnaan ajaran Tuhan kepada manusia di muka bumi.

Namun, nubuat itu disampaikan dalam bentuk sandi-sandi bahasa yang dapat dipahami dengan penafsiran yang membutuhkan pemikiran akal yang tinggi.

Ayat-ayat yang dimaksud adalah :

1.  Ulangan 18:18-20, tentang nabi diluar bani Israel dengan ciri-ciri: nabi seperti musa, tidak mati terbunuh dan semua perkatannya terjadi.

2.  Habakuk 3:3 jo. Ulangan 33;1-3, tentang nabi yang berhasil menegakkan syariat agama di tanah Arab.

3.  Yesaya 29:12, nabi yang tidak bisa membaca.

4.  Yesaya 41:1-4, nabi yang bisa perang, punya keturunan dan sudah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa yang tertindas sebagai pembebas dan penyelamat dari penindasan kaum yang zalim.

5.  Yesaya 42:1-4, nabi yang menegakkan hukum kepada bangsa-bangsa lain dan tidak pernah berteriak dengan suara nyaring.

6.  Yeremia 28:9, tentang nabi yang membawa damai.

7.  Kejadian 49: 1, 10 dan Matius 21: 42-43, nabi tersebut keturunan nabi Ismail.

8.  Yohanes 1: 19-25, datangnya setelah zaman Yahya dan Yesus.

9.  Yohanes 16:7-1 5, nabi yang mendapat julukan “Penolong yang lain” dengan ciri-ciri: manusia biasa, memiliki gelar ‘penghibur’ dan ‘al-amin/orang benar jujur terpercaya’, tidak berkata-kata dari dirinya sendiri dan memuliakan nabi Isa dengan alaihisalam.

10. Dan lain-lain.

AYAT-AYAT BUATAN MANUSIA :

Ayat-ayat Porno (cabul)

1 Yehezkiel 23: 1-21, ayat-ayat jorok tentang seksual.

Diceritakan di dalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, memegang-megang, birahi, dan lainlain.

2. Yehezkiel 16: 22-38, ayat porno yang bugil-bugil.

“….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang nendang dengan kakimu …. (ay.22). “…dan menjual kecantikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ay.25.”Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ay.26). “engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ay.28). “Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (ay. 30). “….engkau yang memberi hadiah 1 umpan kepada semua yang mecintai engkau sebagai bujukan, supaya mereka dari sekitarmu datang kepadamu untuk bersundal” (ay. 33). Aku akan menyingkap auratmu di hadapan mereka, sehingga mereka melihatseluruh kemaluanmu: (ay.37).

3. Ulangan 23: 1-2, Tuhan menyebut “Buah Pelir”.

4. Hosa 3: 1, nabi Hosea disuruh Tuhan untuk mencintai perempuan yang suka bersundal (pelacur) dan berzinah. Jika benar bahwa Tuhan pernah menyuruh nabi-Nya untuk mencintai pelacur, semua laki-laki akan rebutan menjadi nabi. Dan, semua wanita akan rebutan untuk menjadi pelacur, supaya dicintai oleh nabi Allah.

5. Kidung agung 4:1-7, puisi rayuan yang memuji kecantikan dengan menyebut buah dada dan susu.

6. Kejadian 38:8-9, kisah asal-usul onani (masturbasi) oleh leluhur Yesus.

7. Kidung Agung 7:6-13. Puisi Kenikmatan Cinta yang memuji kecantikan dan cinta yang memakai kata-kata seksual, yakni keindahan buah dada dan keinginan untuk memegang-megang buah dada. “Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dada gugusannya. Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan gugusannya.Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur.

Pelecehan Alkitab (Bibel) kepada Tuhan

1. Tuhan menyesal dan pilu hati? (Kejadian 6:5-6, Keluaran 32:14).

2. Tuhan mengah-mengah, megap-megap, dan mengerang seperti perempuan yang melahirkan? (Yesaya 42:13).

3. Roh Tuhan melayang-layang (terapung-apung) di atas permukaan air(Kejadian 1:1-2).

4. Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel 4:12-1 5).

5. Tuhan kelihatan alas kaki-Nya? (Keluaran 24:10).

6. Tuhan merasa jenuh/jemu/bosan? (Yeremia 15:6).

7. Tuhan petak umpet dengan Adam? ( Kejadian 3:8-10).

8. Tuhan besanan dengan manusia? (Kejadian 6:2).

9. Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).

10. Tuhan bersiul memanggil manusia? (Zakharia 10: 8).

11. Tuhan bersuit? (Yesaya 7: 18, Yesaya 5: 26).

12. Tuhan menengking? (Yeremia 25: 30)

13. Tuhan lelah kepayahan dan kecapaian? (Keluaran 31: 17).

14. Tuhan menyuruh mencintai pelacur? (Hosea 3:1).

15. Tuhan kelihatan punggungnya-Nya? (Keluaran 3 3: 23).

 

Pelecahan Alkitab (Bibel) kepada Para Nabi Allah

1 . Nabi Nuh mabuk-mabukan sampai teler dan telanjang bugil (Kejadian 9: 18-27).

2. Nabi Luth menghamili kedua putri kandungnya sendiri dalam dua malam secara bergiliran (Kejadian 19:30-38). Heboh … !!! Skandal seks ayah dan anak kandung oleh nabi??

3. Nabi Daud melakukan skandal seks dengan Batsyeba, istri anak buahnya sendiri. Setelah Batsyeba mengandung suaminya dibunuh oleh Daud, kemudian Batsyeba dinikahi Daud diboyong ke istana (II Samuel l l: 2-27).

4. Ketika sudah tua,Nabi Daud tidur dengan perawan yang masih muda (I Raja-raja 1:1-3).

5. Nabi Yakub bekerja sama dengan ibu kandungnya untuk membohongi dan menipu ayah kandungnya, supaya Israel diberkati (Kejadian 27: 1-46).

6. Yehuda (putra Nabi Yakub) menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38: 13-19). Skandal seksa ayah dan menantu dalam kitab suci!?

7. Absalom (putra Nabi Daud) memperkosa gundik ayahnya sendiri (11 Samuel 16: 21-23). Perselingkuhan anak dengan ibu (gundik ayah) dalam Kitab Suci?!

8. Amnon (putra Daud) memperkosa saudara perempuannya (II Samuel 13: 7-14). Incest antara anak nabi dengan saudaranya sendiri ?!?

9. Ruben (putra tertua Nabi Yakub) melakukan hubungan seks dengan Bilha, gundik ayahnya (Kejadian 35:22). Gundik ayah diperkosa anaknya sendiri ?!?

10. Nabi Sulaiman (Salomo) tidak taat kepada Tuhan karena lebih mencintai 700 istri dan menyimpan 300 gundik (I Raja-raja 11:3) Mustahil ada nabi yang rakus wanita..

11. Nabi Harun membuat dan menyembah patung emas (Keluaran 32:2-4).

12. Nabi Isa (Yesus) orang bodoh, idiot, dan emosional. Pada waktu bukan musim buah ara, Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Markus ll: 12-14; bandingkan: Yohanes 2:4 dan Yohanes 7:8-10).

Catatan :

Nama-nama pezinah tersebut ada dalam silsilah yesus (Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38).

Ayat-ayat yang tidak masuk akal (irasional)

1. Anak lebih tua 2 tahun daripada ayahnya pada waktu II Tawarikh 21:5,20, Yoram berusia 32 tahun jadi raja dan memerintah Yerusalem selama 8 tahun lalu meninggal (pada usia 40 tahun). II Tawarikh 22: 1-2, Setelah Yoram meninggal, dia digantikan Ahazia, anaknya pada usia 42 tahun. Jadi, Ahazia lebih tua 2 tahun daripada ayahnya.

2. Usia 11 tahun sudah tidak punya anak

Ahas berumur 20 tahun ketika naik dan memerintah kerajaan selama 16 tahun (II Raja-raja 16:2). Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (II Rajaraja 16: 20). Hizkia berusia 25 tahun waktu naik tahta menjadi raja (II Raja-raja 18: 2).

Jadi, dalam usia 11 tahun Ahaz sudah punya anak ??!!

3. Tuhan salah hitung

Kejadian 46: 8-1 5, disebutkan daftar nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir berjumlah 34 nama. Padahal pada ayat 1 5 disebutkan “Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah 33 jiwa”. Pakai Tuhan tidak pandai berhitung ??

Ayat-ayat yang mustahil dipraktekkan

1. Hukum Sabat

Hari Sabat (Sabtu) adalah hari Tuhan yang harus dikuduskan. Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah (lampu, kompor, dan lain-lain) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang bekerja pada hari Sabtu harus dihukum mati (Keluaran 20:8-11,31:15,35:2-3).

Ayat ini mustahil dipraktekan di jaman modem. Siapa yang sanggup mengamalkan ? Siapa yang mau dibunuh apabila melanggar hukum Sabat ?

2. Bunuh orang kafir dan musyrik!! (Ulangan 13: 6-9)

Ayat ini memeiintahkan kewajiban membunuh orang yang mengajak menyembah tuhan selain Allah. Ayat ini tidak bisa diterapkan. Buktinya umat Yahudi dan Kristen tidak pernah membunuh umat Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan lain-lain.

3. Dilarang memakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan (Imamat 19: 19).

Bila ayat ini diamalkan, maka manusia akan kembali kepada jaman primitif, ketinggalan jaman, ketinggalan gaya dan tidak modernis.

4. Cungkil mata yang menyesatkan orang untuk berbuat dosa (Matius 5:29).

Secara Letterlijk maupun Figuurlijk, ayat ini mustahil dipakai. Bila diterapkan, maka banyak orang Kristen menjadi buta.

5. Potong kaki dan tangan orang yang menyesatkan ke arah dosa (Matiusl8:8-9)

Secara Letterlijk maupun Figuurlijk, ayat ini mustahi dipakai. Bila diterapkan, maka banyak orang kristen menjadi pincang dan buntung.

6. Dilarang melawan penjahat (Matius 5: 39-44)

Ayat ini mustahil dipraktekkan di masyarakat manapun. Bila ajaran ini diterapkan, maka menghancurkan tatanan sosial dan keamanan masyarakat. Apa jadinya di masyarakat apabila suatu kejahatan tidak dilawan ? Tidak melawan kejahatan berarti mendukung kejahatan. Bila kejahatan tidak dilawan, berarti mendukung kejahatan.

Bila kejahatan tidak dilawan, maka kriminalitas akan meningkat dan subur berkembang.

7. Kasihilah musuhmu (Lukas 6: 27-29). Ajaran ini sangat menguntungkan penjajah.

8. Dilarang membawa perbekalan, dilarang membawa dua helai baju dan dilarang membawa kasur dalam pedalanan (Matius 10:9-10). Kenyataannya, umat Kristen sendiri tak ada yang bisa mengamalkan ayat ini.

 

Ayat-ayat takhayul (mistis)

Simson (Inggris: Samson) adalah utusan Tuhan yang sakti mandraguna selama rambutnya tidak dicukur. (Hakim-hakim 16:1-22).

Diceritakan dalam kitab Hakim-hakim 16:1-22 bahwa Samson adalah utusan Tuhan yang sakti mandraguna. Dia bisa mencabut kedua daun pintu gerbang kota beserta kedua tiang dan semua palangnya, Ialu semuanya diletakkan di atas kedua bahunya dan dipindahkan ke puncak gunung (ay. 3). Tapi sayangnya dia jatuh cinta kepada seorang pelacur (wanita sundal) yang bernama Delila. Mala Delila disewa oleh raja Filistin dengan bayaran 1100 uang perak untuk mencari rahasia Samson (ay. 5).

Di atas pangkuan pelacur Delila, akhimya Samson tergoda rayuan dan bujukan sehingga membuka rahasia kesaktiannya. Bahwa selama rambut kepalanya tidak dicukur, maka seluruh kekuatannya akan musnah dan dia menjadi orang lemah (ay. 17). Maka setelah nabi Samson tertidur di atas pangkuan pelacur Delila, rambutnya dicukur. Lalu musnahlah seluruh kesaktiaan dan kekuatan Samson. (ay.19). Kemudian kedua mata Samson dicungkil sehingga jadilah Samson buta mata akibat rahasia kesaktiannya dicukur (ay. 21).

Cerita ini adalah cerita takhayul (mistik) yang biasanya berkembang di masyarakat primitif.

Ayat-ayat Diskrimatif

Perbuatan riba (rente) dilarang dilakukan kepada Israel, tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23: 19-20).

Ayat ini jelas buatan orang Yahudi, sebab tidak mungkin Tuhan berlaku diskiiminatif dengan melarang mengambil bunga uang kepada bangsa Yahudi, sementara mengambil bunga kepada orang selain Yahudi diperbolehkan. Dan sangat bertentangan dengan kitab Keluaran 22: 25: “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang umat-Ku, orang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga kepadanya”.

Ayat-ayat Ramalan Bibel yang meleset tak terpenuhi

1. Ramalan Paulus tentang kedatangan Yesus (I Tesalonika 4: 16-17).

Dalam ayat ini Paulus meramalkan bahwa setelah kebangkitan Yesus dari kubur, dia dan seluruh pengikutnya yang masih hidup itu akan diangkat bersama-sama dengan Yesus dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Ramalan ini tidak terpenuhi bukan Yesus yang menjemput Paulus, tapi pedang kaisar Nero yang memenggal leher Paulus di Roma th 64 M.

Ramalan Paulus ini tidak akan terjadi, meski dia diberi waktu 2000 tahun lagi untuk menunggu kegenapan nubuatnya.

2. Ramalan kedatangan Yesus (Matius 10:23, 16:28, Markus 9:1 dan Lukas 9:27).

Yesus menubuatkan bahwa dia dan kerajaan Allah akan datang sebelum para muridnya selesai mengunjungi kotakota Israel. Ramalan ini meleset jauh, sebab sampai saat ini Yesus belum juga turun datang kembali ke dunia. Padahal para murid Yesus sudah mati semua 2000 tahun yang Ialu.

3. Hak keturunan Abraham (Kejadian 21: 12).

Dalam ayat ini Tuhan menubuatkan bahwa yang disebut keturunan Abraham adalah berasal dari Ishak. Nubuat ini meleset jauh besar, Sebab dalam I Tawarikh 1:28-30 Ismail juga disebut sebagai anak keturunan Abraham.

4. Ramalan Tuhan Meleset (Yeremia 34:4-5)

Dalam ayat Tuhan berfirman bahwa Zedekia, raja Yehuda tidak akan mati oleh pedang, melainkan akan mati dengan damai. Nubuat ini meleset jauh, dalam kitab Yeremia 52: 10-11 diceritakan bahwa pada dalam akhir hayatnya Zedekia tewas ditangan raja Babel. Sebelum meninggal, mata Zedekia dibutakan, lalu dibelenggu dengan rantai tembaga. Kemudian ditaruh dalam rumah hukuman sampai meninggal.

5. Nubuat Tuhan tidak terjadi (Yeremia 36: 30).

Dalam kitab Yeremia 36:30 Tuhan berfirman bahwa keturunan Yoyakim tidak ada yang naik tahta kerajaan Daud. Nubuat ini tenyata meleset. Diceritakan dalam kitab II Rajaraja 24: 6 bahwa sepeninggal Yoyakim, yang naik tahta menggantikannya adalah Yoyakin, anaknya.

 

AYAT-AYAT KONTRADIKSI :

Kontradiksi Perjanjian Lama

1. Siapakah anak Daud yang kedua ?

a. Kileab (II Samuel 3: 2-3).

b. Daniel (I Tawarikh 3: 1)

2. Di Yerusalem, Daud mengambil beberapa gundik atau tidak ?

a. Ya! Daud mengambil beberapa gundik dan istrei (11 Samuel 5: 13-16).

b. Tidak! Daud hanya mengambil beberapa isteri saja (I Tawarikh 14: 3-7).

3. Berapa anak-anak Daud dari gundik di Yerusalem ?

a. 11 orang (Samuel 5: 13-16).

b. 13 orang (I Tawarikh 14 3-7).

4. Di Kota mana Daud mengambil tembaga ?

a. Betah dan Berotai (II Samuel 8: 8).

b. Tibhat dan dari Kun (I Tawarikh 18: 8)

5. Siapa anak Tou yang diutus untuk mengucapkan selamatkepada Daud ?

a. Yoram (II Samuel 8: 10).

b. Hadoram (1 Tawarikh 18: 9- 1 0)

6. Dari orang bangsa saja Daud mengambil perak dan emas untuk Tuhan ?

a. Aram (II Samuel 8: 11-12).

b. Edom (I Tawarikh 18: 14-16).

7. Siapakah panitera (sekretaris) Daud ?

a. Seraya (II Samuel 8: 15-17).

b. Sausa (I Tawarikh 18: 14-16).

8. Berapakah tentara berkuda tawanan Daud ?

a. 1.700 orang (II Samuel 8: 4).

b. 7.000 orang (I Tawarikh 18: 4).

9. Berapa ekor kuda kereta yang dibunuh Daud ?

a. 700 ekor (II Samuel 10: 18).

b. 7.000 ekor (I Tawarikh 19:18).

10. Yang dibunuh Daud, pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki ?

a. 40.000 pasukan berkuda (II Samuel 10:8).

b. 40.000 pasukan berjalan kaki (I Tawarikh 19: 18).

11. Siapakah panglima musuh yang tewas di tangan Daud?

a. Sobakh (II Samuel 10: 18).

b. Sofakh (I Tawarikh 19: 18).

12. Daud memerangi Israel atas hasutan Tuhan atau atas bujukan iblis ?

a. Tuhan murka Ialu menghasut Daud (II Samuel 24: 1).

b. Setan bangkit Ialu membujuk Daud (I Tawarikh 21:1)

13. Siapakah kepala Triwira pengiring Yahudi ?

a. Isyabaal, orang Hakhmoni (II Samuel 23: 8).

b. Yasobam bin Hakhmoni (I Tawarikh 11:11).

14. Kepala Triwira Daud membunuh berapa orang ?

a. 800 orang (II Samuel 23:8).

b. 300 orang (I Tawarikh 11:11).

15. Berapakah angkatan perang Daud dari orang Israel ?

a. 800 orang (II Samuel 24: 9).

b. 1.100.000 orang (I Tawarikh 21:5).

16. Berapakah angkatan perang Daud dari orang Yehuda ?

a. 500.000 orang (11 Samuel 24:9).

b. 470.000 orang (I Tawarikh 21:5).

17. Berapakah kandang kuda milik Salomo (Sulaiman ?

a. 40.000 kandang (I Raja-raja 4:26).

b. 4.000 kandang (II Tawarikh 2:2).

18. Berapa mandor pengawas kerajaan Salomo (Sulaiman)?

a. 3.300 mandor (1 Raja-raja 5:16).

b. 3.600 mandor (II Tawarikh 2:2).

19. Berapa bat air di Bait Suci buatan Salomo ?

a. 2.000 bat air (I Raja-raja 7:26).

b. 3.000 bat air (II Tawarikh 4:5).

20. Berapakah jumlah keturunan Yakub seluruhnya ?

a. 66 jiwa (Kejadian 46:26).

b. jiwa (Keluaran 1:5).

21. Yang diharamkan, kelinci ataukah kelinci hutan ?

a. Kelinci (Imamat ll: 6).

b. Kelinci hutan (Ulangan 14: 6).

22. Yang haramkan, babi ataukah babi hutan ?

a. Babi hutan (Ulangan 14: 8, Imamat ll: 7).

b. Babi (Yesaya 66: 17).

23. Berapa lama Yoyakhim menjadi raja di Yerusalem ?

a. 3 bulan (11 Raja-raja 24: 8).

b. 3 bulan 10 hari (11 Tawarikh 36: 9).

24. Berapa lama Yesua dan Yoab yang pulang kembali ke Yerusalem dan Yehuda dari pembuangan Nebukadnezar ?

a. 2.812 orang (Ezra 2:6).

b. 2.818 orang (Nehemia 7:11).

25. Berapa anak-anak Benyamin ?

a. 10 orang (Kejadian 46:21).

b. 5 orang (Bilangan 26:38-39).

c. 3 orang (I Tawarikh 7:6).

d. 5 orang (1 Tawarikh 8:1-5).

Komentar Silsilah anak Benyamin itu, semuanya tidak sama baik nama maupun jumlahnya.

26. Berapa cucu Benyamin (anak-anak Bela) ?

a. 5 orang (I Tawarikh 7:7).

b. 9 orang (I Tawarikh 8:3-5).

c. 2 orang (Bilangan 26:40).

Buka dan bacalah ayat yang dimaksud. Terlihat jelas bahwa semua nama dan jumlah cucu Benyamin tidak ada yang sama.

27. Tuhan salah dalam batasan usia ?

a. Tuhan membatasi umur manusia hanya 120 tahun saja “Berfirman Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja” (Kejadian 6:3). “Maka berkatalah TUHAN,’Aku tidak memperkenankan manusia hidup selama-lamanya; mereka mahluk fana, yang harus mati. Mulai sekarang umur mereka tidak akan melebihi 120 tahun” (Kejadian 6:3, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

b. Batasan usia dari Tuhan itu salah besar, karena banyak orang yang usianya melebihi 120 tahun. Adam hidup selama 930 tahun (Kej. 5:3-5), Set hidup selama 912 tahun (Kej. 5:6-8), Enos hidup selama 905 tahun (Kej.9-11), Keenam hidup selama 9 1 0 tahun (Kej. 5:12-14), Mahalaleel hidup selama 895 tahun (Kej. 5:15-17), Yared hidup selama 962 tahun (Kej. 5:18-20), Henokh hidup selama 365 tahun (Kej. 5:21-23), Metusalah hidup selama 969 tahun (Kej. 5:25-27), Lamekh hidup selama 777 tahun (Kej. 5:28-32), Nuh hidup selama 950 tahun (Kej. 9:29), Sem hidup selama 600 tahun (Kej. 11: 10-11), Arpakhsad hidup selama 438 tahun (Kej. 11:12-13), Selah hidup selama 433 tahun (Kej. ll: 14-15), Eber hidup selama 464 tahun (Kej. ll:16-17). Peleg hidup selama 239 tahun (Kej. ll:18-19), Rehu hidup selama 239 tahun (Kej.11: 22-21), Serug hidup selama 230 tahun (Kej. 11: 24-25), Sara hidup selama 127 tahun (Kej. 23: 1-2), Ismael hidup selama 137 tahun (Kej. 25:17), Nahor hidup selama 148 tahun (Kej. ll: 24-25), Yakub hidup selama 147 tahun (Kej. 47: 28), Lewi hidup selama 137 tahun (Kej. 6:15), Kehat hidup selama 133 tahun (Kej. 6:19), Harun hidup selama 123 tahun (BH 33:39), Ayub hidup selama 140 tahun (Ayub. 42: 16-17).

28. Tuhan menyesal atau tidak ?

a. Tuhan tidak punya sifat menyesal (I Samuel 15:29, Bilangan 23:19).

b. Tuhan menyesal dan pilu hati karena telah menciptakan manusia yang akhimya cenderung berbuatjahat di muka bumi (Kejadian 6:5-6). Tuhan menyesal karena telah Saul sabagai raja di Israel (I Samuel IS: 10-11, 35). Tuhan menyesal setelah mengacungkan tangan ke Yerusalem (II Samuel 24:16).Tuhan menyesal karena telah merancang malapetaka (Yeremia, 26:3, Yeremia 42:10, Keluaran 32: 14).

29. Tuhan bisa dilihat atau tidak ?

a. Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar (Yohanes 5: 37,I Timotius 1:17, I Timotius 6:16, Keluaran 33: 20, I Yohanes 4:12).

b. Tuhan bisa dihhat dengan mata kepala (Keluaran 33:11), Kejadian 18:1, Yohanes 5:37), Keluaran 33:20; I Timotius 6:16, I Timotius 1: 17,I Yohanes 4:12, Kejadian 26:24).

c. Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24:9-10).

d. Tuhan kelihatan sedang duduk (Yesaya 6:1).

e. Tuhan bias dilihat dari jauh(Yeremia 31:3).

 

Sebenarnya masih ada ratusan lagi daftar kontradiksi dalam Perjanjian Lama. Tapi karena keterbatasan ruang muat, maka dalam indeks ini dicukupkan sampai disini daftar ayat kontradiksi dalam Perjanjian Lama. Untuk selengkapnya baca buku “Fakta Dan Data Kepalsuan Alkitab (Bibel)” yang akan segera terbit.

 

Kontradiksi Perjanjian Baru :

Silsilah Yesus dalam Alkitab bisa dilihat di dua kitab Injil yaitu Injil Matius 1:1-17 dan Injil Lukas 3: 23-38. sementara injil Markus dan Injil Yohanes diam seribu bahasa tak tahu menahu tentang silsilah Yesus.

 

1. Siapakah leluhur Yesus dari Adam sampai dengan Abraham?

a. Lukas menuliskan 21 nama dalam silsilah dari Adam sampai dengan Abraham.

b. Matius tidak menuliskan satu nama pun dalam silsilah dari Adam sampai dengan Abraham. Apakah Tuhan tidak memberikan inspirasi Yesus kepada Matius ? Apakah Tuhan pilih kasih terhadap Lukas ? Padahal Lukas termasuk dalam daftar murid Yesus di Injil Matius 10:2-4.

2. Berapa nama silsilah dari Abraham sampai dengan Daud ?

a. Lukas mencatat 15 nama dari Daud sampai dengan Yesus.

b. Matius hanya mencatat 14 nama dari Daud sampai dengan Yesus.

3. Dalam silsilah dari Abraham sampai dengan Daud, siapakah anak Hezron?

a. Anak Hezron adalah Arni (Lukas 3: 33).

b. Anak Hezron adalah Ram (Matius 1: 3).

4. Berapa nama silsilah Daud sampai dengan Yesus ?

a. Lukas mencatat 43 nama dari Daud sampai dengan Yesus.

b. Matius hanya mencatat 28 nama dari Daud sampai dengan Yesus.

5. Siapakah kakek Yesus ?

a. Yakub (Matius 1:6).

b. Eli (Lukas 3:31).

6. Siapakah anak daud yang menurunkan Yesus ?

a. Salomo (Matius 1: 6).

b. Natan (Lukas 3:31).

7. Yesus memasuki Yerusalem naik apa ?

a. Seekor keledai (Markus ll:7; Lukas 19:35).

b. Seekor keledai betina dan seekor keledai (Matius 21:7).

8. Ketika Yesus bertemu Yalrus, apakah anak perempuan Yairus sudah mati?

a. Ya! Sudah mati! (Matius 9:18).

b. Belum mati! Masih sakit dan hampir! (Markus 5: 23).

9. Bolehkah membawa tongkat dan kasut dalam pedalanan ?

a. Ya, boleh ! (Markus 6: 7-9).

b. Tidak, tidak boleh!! (Matius 10: 9- 1 0, Lukas 9: 1-3).

10. Kesaksian Yesus tentang dirinya, benar atau salah ?

a. Tidak benar (Yohanes 5: 31).

b. Benar (Yohanes 8:14).

11. Berapa jumlah orang buta yang bertemu Yesus di Yerikho?

a. Dua orang buta (Matius 20:29-30).

b. Hanya satu orang buta saja (Markus 10:46).

12. Dimana Yesus menemui orang kerasukan setan ?

a. Di Gedara (Matius 8:28).

b. Di Gerasa (Markus 5:1-2).

13. Berapa jumlah orang kerasukan setan yang ditemui Yesus ?

a. Ada 2 orang (Matius 8:28).

b. Hanya 1 orang saja (Markus 5: 1-2).

14. Apa yang diucapkan Yudas di hadapan Yesus ?

a. Salam Rabi (Matius 26: 49).

b. Rabi (Markus 14: 45),

c. Yudas tidak mengucapkan apa-apa/diam (Lukas 22:47).

15. Ketika Yesus berjalan di atas air, bagaimana respon para muridnya ?

a. Mereka menyembah Yesus (Matius 14:33).

b. Mereka tercengang dan bingung (Markus 6:51-52).

16. Jam berapa Yesus disalibkan ?

a. Jam sembilan (Markus 15:25).

b. Jam 12 Yesus belum disalibkan (Yohanes 19:14).

17. Yesus membawa damai dan keselematan atau onar ?

a. Yesus menyelamatkan dunia (Matius 5:9, Yohanes 3:17, Yohanes 10:34-36).

b. Yesus membawa onar, pedang dan kekacauan keluarga (Matius 10: 34-36).

18. Apa hukumnya bersunat ?

a. Sunat itu wajib (Kejadian 17:10-14, 17:14, Kejadian 21:4). Yesus tidak membatalkan sunat, (Matius 5: 17-20, Lirkas 2:21). Yesusjuga disunat (lukas 2: 21). Dan orang yang tidak disunat, tidak dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul IS: 1-2).

b. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting (Galatia 5:6, I Korintus 7:18-19).

 

19. Bolehkah makan babi ?

a. Babi haram dimakan (Ulangan 14:8, Imamat 11:7, Yesaya 66:17).

b. Kata Paulus, semua daging binatang halal dimakan, tidak ada yang haram (I Korintus 6: 12, I Korintus 10:25, Kolose 2:16, I Timotius 4-5, Roma 14:17).

20. Selain Yesus, adakah yang naik ke sorga ?

a. Tidak ada! Hanya Yesus saja yang pemah naik ke sorga (Yohanes 3: 13).

b. Henokh dan Elia telah naik ke sorga (Kejadian 5: 24, II Raja-raja 2. 1 1).

 

AYAT-AYAT TUHAN YANG RAGU-RAGU :

Tuhan ragu-ragu dalam ispirasi wahyu-Nya, sehingga memakai kata dugaan “kira-kira”.

Kira-kira jam 3 malam (Matius 14:25, Markus 6:48), kira-kira jam 3 (Matius 27:46), Kira-kira jam 3 petang (Kisah Para Rasul 10: 3) . Kira-kira jam 4 (Yohanes 1:39), Kira-kira jam 5 petang (Matius 20:6), Kira-kira jam 5 (Matius 20:9), Kirakira jam 9 (Kisah Para Rasul 23:23),

Kira-kira jam 9 pagi (Matius 20:3), Kira-kira jam 12 (Lukas 23:44, Yohanes 19:14), (irakira pukul 12 (Matius 20:5, Yohanes 4: 6, Kisah Para Rasul 10:9), Kira-kira 2 jam (Kisah Para Rasul 19:34), Kira-kira 3 jam (Kisah Para Rasul 5:7).

Kira-kira 12 orang (Kisah Para Rasul 19:7), Kira kira 20 orang (I Samuel 14:14), 1 Samuel 25:13, I Raja-raja 22:6, Kisah Para Rasul 5:36), kira-kira 600 orang (1 Samuel 14: 2,1 Samuel 23:13)

Kira-kira 1000 orang (Yudas 9:49), kira-kira dua atau tiga ribu orang (Yosua 7:3), kira-kira 3000 orang (Yosua 7: 4, Yudas 16:27), kira-kira 3000 jiwa (Kisah Para Rasul 2: 41), kira-kira 4000 orang (1 Samuel 4:2, Markus 8:9), kira-kira 5000 orang (Yosua 8:12), kira-kira 5000 laki-laki (Matius 14:21, Lukas 9:14, Yohanes 6:10, Kisah Para Rasul 4: 4).

Kira-kira 10.000 orang (Yudas 3:29), kira-kira lima belas ribu orang (Yudas 8:10), kira-kira 40.000 orang (Yosua 4:13).

Kira-kira 8 hari (Lukas 9: 28), kira-kira 10 hari (1 Samuel 25: 38), Kira-kira 3 bulan (Kejadian 38: 24. Lukas 1: 56), kirakira 12 tahun (Lukas 8: 42), kira-kira 30 tahun (Lukas 3: 23), kira-kira 100 tahun (Roma 4: 19), kira-kira 450 tahun (Kisah Para Rasul 13: 20).

Kira-kira 50 kati (Yohanes 19: 39), kira-kira 200 hasta (Yohanes 21: 8), kira-kira 2000 ekor babi (Markus 5: 13), kirakira 2 mil (Yohanes 11: 18).

 

KESAKSIAN PARA TEOLOG KRISTEN :

1. Dr.G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland :

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).

2. Dr. Mr D.C Mulder:

“Jadi benarlah Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya ? Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita suci menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang yang termasyhur ……. Oleh karena itu tentu tidak mustahil pengumpulan-pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau orang-orang yang hidup lebih kemudian) memakai nama Daud, karena raja itu termasyhur sebagai pengarang mazmur-mazmur. Dengan kata lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak mengikat” (Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 205).

3. Dr. Welter Lempp;

“Susunan semesta alam diuraikan dalam Kitab Kejadian I tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern” (Tafsiran Kejadian, hal 58). “Pandangan Kejadian I dan seluruh Alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan jaman” (Tafsiran Kejadian, hal, 65).

4. Dr. R. Soedarmo:

“Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci denganbentuk sekarang masih dapat diperbaiki” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47). “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49).

 

SOLUSI AKHIR

Karena Alkitab (Bibel) sudah terbukti kepalsuannya, maka seharusnya kita berpaling dari Alkitab (Bibel). Carilah kitab suci yang sudah teruji keasliannya sepanjang zaman. Ciri-ciri kitab suci tersebut adalah:

 

1. Keotentikannya dijamin langsung oleh Tuhan.

2. Masih ada bahasa ashnya sesuai dengan sewaktu kitab suci tersebut diturunkan kepada nabi yang menerimanya.

3. Mudah dihafal karena Tuhan memberikan kemudahan bagi umat-Nya untuk menghafalkan wahyunya.

4. Umat yang meyakininya banyak yang hafal kitab suci tersebut diluar kepala.

5. Tidak mengandung pornografi.

6. Tidak ada kontradiksi antar ayat.

7. Relevan sepanjang zaman.

 

Dari hari ke hari semakin banyak Intelektual Umat Kristiani / Katholik yang tersadar dan mereka akhirnya memeluk Agama Islam karena HIDAYAH dari ALLAH SWT, karena Kepandaiannya dan Kesadaran Intelektualnya. Mereka masuk Islam bukan karena iming-iming Mie Instan, Uang, Materi ataupun Pekerjaan yg dijanjikan, tapi karena mereka adalah orang-orang yang mau berfikir. Betapa selama ini mereka telah terpedaya & tertipu. Semoga kesadaran mereka bisa membawa dirinya dan keluarganya kearah Keselamatan Dunia dan Akhirat. Amiiin….

Anda ingin melihat siapa saja yang telah mendapat Hidayah dari ALLAH SWT, klik disini : http://mualafmualaf.tripod.com/

Setelah membaca semua uraian diatas, semoga anda mendapat hidayah dari ALLAH SWT untuk mulai mempelajari isi kandungan Alquran, Al hadist dan Agama Islam. Semoga anda dapat membuktikan Keagungan ajaran Islam, dan menerimanya sebagai agama yang akan membawa diri anda dan keluarga anda kedalam keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam mempelajari Islam, berpegang teguhlah hanya kepada Alquran dan Al hadist yang Shahih. Hindari bid’ah, karena semua bid’ah adalah sesat. Semoga amal ibadah kita diterima disisi Allah Swt, dan mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda di akhirat kelak. Amiiin.

 

walaqad dzara’naa lijahannama katsiiran mina aljinni waal-insi lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa walahum a’yunun laa yubshiruuna bihaa walahum aatsaanun laa yasma’uuna bihaa ulaa-ika kaal-an’aami bal hum adhallu ulaa-ika humu alghaafiluuna

[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (ALQUR’AN Surat AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 179)

 

1. Aisyah Bhutta (d/h Debbie Rogers) Islamkan Orangtua dan 30 Temannya

Terkesan dengan shalat

Namanya Aisyah Bhutta. Tapi hatinya tidak “buta”. Setelah mengenal Islam, ia membawa orangtua dan 30 temannya memeluk Islam.

Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang senantiasa mengingatkan Aisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat. Wajahnya kini terbungkus rapi oleh jilbab yang makin menunjukkan kesalehannya. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Tidak saja untuk keluarganya dan kerabat bahkan tetangga-tetangga juga tak luput dari dakwahnya. Alhasil, dia dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan 30 temannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.

Bagi seorang gadis Kristen taat seperti Debbie Rogers, masuk Islam lalu menikah dengan pria Muslim, adalah suatu hal yang luar biasa. Tak hanya itu, ia juga telah mengislamkan kedua orantuanya, beberapa orang saudaranya. Dan yang menakjubkan ia telah mengajak sedikitnya 30 orang teman dan tetangganya masuk Islam!

Debbie Rogers dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka, katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitasnya sebelum kenal Islam.

Tapi akhirnya dia “lelah” sendiri. Ia merasa tak mendapatkan apa-apa dari apa yang dipelajarinya. Bahkan banyak sekali daftar pertanyaan tentang paham Kristen yang tak berjawab. Debbie Rogers kemudian berkenalan dengan seorang pria keturunan Pakistan, Muhammad Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan dikemudian hari menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara jatuh cinta dengan Muhammad.

Terkesan dengan shalat

“Waktu itu saya masih kecil. Baru berumur 10 tahun. Kebetulan keluarga kami punya toko dan Muhammad adalah salah satu pelanggan tetapnya. Saya sering mengintip Muhammad kala shalat di belakang toko kami.

“Dari wajahnya saya melihat pancaran kedamaian. Tampaknya dia sangat ikhlas dan menikmati shalatnya. Kala saya tanya, dia bilang dia orangIslam. Apa itu Islam?” tanya Aisyah kecil heran.

Berselang beberapa lama, dengan bantuan Muhammad, Aisyah cilik mulai mendalami Islam lebih jauh. Sekitar lima tahunan ia pelajari kitab suci tersebut dan menariknya dia telah mampu membaca seluruh isi Al-Quran dengan bahasa Arab.

”Semua saya baca. Sungguh sangat menarik sekali. Serasa menancap di hati,” kenangnya.

Alhasil, di usianya yang ke-16 Debbie Rogers pun mengucap dua kalimah syahadat. ”Ketika saya mengucapkan kalimah itu, serasa seperti baru melepaskan beban berat yang lepas dari pundak saya. Luar biasa. Saya merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan,” ujarnya. Ia lantas mengganti namanya, Debbie Rogers menjadi Aisyah.

Meskipun Aisyah sudah memeluk Islam, namun bakal calon mertuanya –ayah kandung Muhammad– tidak setuju putranya menikah dengan wanita Barat. Orangtua Muhammad masih berpikiran tradisional yang menganggap perempuan Barat sulit menerima Islam. Dan, menurut mereka, malah nanti Muhammad yang dibawa ke jalan yang tidak benar. Mereka takut nanti nama keluarga menjadi jelek di mata masyarakat Islam. Namun tekad Muhammad sudah bulat. Iman Aisyah harus diselamatkan.

Muhammad melaksanakan pernikahan di mesjid setempat. Bahkan pakaian nikah yang dikenakan Aisyah dijahit sendiri oleh ibu kandung Muhammad dan saudaranya yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi. Sebab bapaknya menolak menghadiri acara sakral dalam hidup anaknya itu. Halnya Michael dan Marjory Rogers, orangtua Aisyah, turut hadir di pernikahan anaknya. Mereka mengaku terkesan dengan baju nikah Aisyah.

Hubungan hambar dengan bapaknya akhirnya mencair. Ceritanya, nenek Muhammad datang khusus dari Pakistan untuk menjenguk cucunya yang baru menikah. Bagi neneknya, pernikahan dengan perempuan Barat juga masih tabu. Namun, semuanya berubah tatkala nenek Muhammad berjumpa dengan Aisyah. Dia sangat takjub dengan perempuan Skotlandia itu yang sudah mampu membaca Al-Quran dan menariknya lagi Aisyah bisa bercakap dalam bahasa Punjab. Perlahan Aisyah telah jadi bagian dari keluarga besar Muhammad.

Islamkan orangtua

Enam tahun kemudian, Aisyah mulai menjalankan misi sulit, yakni mengislamkan kedua orangtua dan anggota keluarganya. Aisyah dan suaminya menceritakan apa itu Islam. Aisyah sendiri kini telah berubah banyak dan hal itu tentu bagian dari dakwah kepada kedua orangtuanya. Misalnya kini dia jadi anak yang sopan, tidak suka membantah kata-kata orangtuanya seperti dulu.

Kesan perubahan sikap dan tingkah laku sang anak rupanya merasuk ke hati sang ibu. Tak lama, ibunya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sumayyah.

“Bahkan ibu kini sudah mengenakan jilbab. Ibu shalat tepat waktu. Kini tak ada yang menarik baginya kecuali senantiasa berhubungan dengan Allah,” tuturAisyah bangga.

Akan halnya dengan ayah Aisyah, ternyata sangat sulit untuk diajak. Ibu Aisyah turut membantu mengenalkan sang ayah kepada Islam. “Ibu dan saya sering berdiskusi tentang Islam. Nah satu hari kami duduk-duduk di dapur. Lalu ayah berkata; Apa yang kalimat yang kalian ucapkan ketika masuk Islam? Spontan saya dan ibu melompat ke atasnya,” cerita Aisyah sumringah. Ayah pun memeluk Islam.

Lalu, tiga tahun kemudian, abang kandung Aisyah juga mengucap dua kalimah syahadah. Uniknya sang abang memeluk Islam melalui telepon, karena ia tinggal agak jauh. Aisyah makin bersemangat tatkala melihat istri abangnya, diikuti oleh anak-anaknya juga memeluk Islam. Bahkan keponakan istri si abang juga masuk Islam. Bukan main bahagianya Aisyah.

Membuka kelas Islam

“Saya belum mau berhenti berdakwah. Keluarga sudah, lalu saya beralih kepada para tetangga di Cowcaddens. Kawasan ini perumahannya sangat padat, bahkan bisa dikatakan kumuh. Tiap hari Senin selama 13 tahun saya membuka kelas khusus tentangIslam bagi wanita-wanita Skotlandia yang ada di situ,” kisah Aisyah mengenang. Sejauh ini dia sudah berhasil mengislamkan tetangga sekitar 30 orang.“Latar belakang mereka macam-macam. Trudy misalnya, dia seorang dosen di Universitas Glasgow. Trudy adalah seorang Katolik yang awalnya mengikuti kelas saya untuk mengumpulkan data penelitian yang sedang dikerjakannya. Namun setelah berjalan enam tahun Trudy memutuskan memelukIslam. Menurutnya Kristen sulit diterima akal dan membingungkan,” sebut Aisyah. Trudy sendiri mengaku masuk Islam karena terkesan dengan kuliah Aisyah yang mudah diterima dan masuk akal.

Disamping siswa non-Muslim, kelas binaan Aisyah juga dipenuhi oleh gadis-gadis Islam yang telah terkena polusi pemikiran Barat. Menurut Aisyah, justru mereka yang patut diselamatkan. Aisyah pun fleksibel dalam kuliahnya. Dia menerima secara terbuka setiap pertanyaan dan mengajak peserta berdiskusi.

Suami Aisyah, Muhammad Bhutta (43), tampaknya tidak begitu tertarik untuk berdakwah di kalangan warga asli Skotlandia. Dia konsentrasi pada usaha restorannya. Fokus suami Aisyah adalah keluarga dan usaha. Suami nya yang bertugas memberikan ajaran Islam kepada kelima anaknya. Tumbuh dengan akhlak dan nuansa Islam, itulah obsesi Aisyah dan suaminya akan anak-anak mereka. Bahkan Safia, anaknya tertua yang berusia 14 tahun menjadi sebab masuk Islamnya seorang wanita tua.

Ceritanya, suatu hari Safia melihat seorang nenek di jalan, dia tergerak untuk membantu si nenek dengan membawakan belanjaannya. Sang nenek rupanya terkesan. Tak berapa lama si nenek pun ikut kelas Aisyah Bhutta, dan beberapa waktu kemudian akhirnya bersyahadat.

“Muhammad orangnya romatis,” ujar Aisyah tersipu. “Saya seakan telah mengenalnya selama berabad-abad. Jadi tak mungkin terpisahkan. Dia bukan hanya kawan dalam hidup di dunia ini, tapi yang lebih penting lagi semoga juga kawan di surga nanti dan selama-lamanya. Itulah hal terindah,” tutup Aisyah. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

 

2. Perempuan Jerman Berbondong-Bondong Masuk Islam

Jerman Bertabur Mualaf

Meski Islam dan umatnya kerap dilecehkan dan mendapat terror di berbgai tempat, namun cahaya kebenaran tidak pernah redup. Di Jerman, sebuah sensus menyebutkan bahwa Islam menyebar pesat.

Di jantung kota Jerman, orang berbondong-bondong masuk Islam setiap tahunnya. Hal ini memunculkan rasa khawatir sebagian orang bila Eropa dalam beberapa tahun ke depan berubah menjadi benua yang didominasi oleh kaum Muslimin.

Menurut Laporan Lembaga Statistik Khusus umat Islam di Jerman, jumlah orang yang masuk Islam di Jerman bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah mereka yang menyatakan diri masuk Islam sekitar 4.000-an orang, sementara di tahun 2005, hanya sekitar 1.000 orang saja. Menurut Direktur Lembaga, Salim Abdullah, “Sedikitnya ada 18.000-an orang Jerman yang tercatat sudah masuk Islam.” (watch Many German Women Turning to Islam  )

Dalam penghitungan yang dilakukan lembaganya, di kota Sost Jerman, terdapat 1.240-an Muslim asli Jerman dari total 732 ribu orang Muslim dari berbagai latar belakang. “Kebanyakan para pemeluk Islam baru itu adalah kaum perempuan yang telah menetapkan diri masuk Islam, baik karena keyakinannya pribadi atau karena pernikahannya dengan sang suami yang beragama Islam, ujar Salim.

“Ini bukan hal yang aneh, karena umumnya kaum Muslimah Jerman juga orang-orang terpelajar yang memiliki predikat ilmiah cukup tinggi dari berbagai lembaga pendidikan, ” ujar Salim.

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa 250 hingga 300 orang perempuan Jerman memeluk Islam setiap tahunnya. (na-str/islmtm/eramuslim)

 

3. Jerman Bertabur Mualaf

Simak Pengakuan Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr

Perempuan Jerman Berbondong-Bondong Masuk Islam

Kelas menengah di Jerman ramai-ramai belajar Islam. Tak terpengaruh perang global melawan terorisme.

“Angst-Ridden German Mencari Jawaban dan Menemukannya di dalam Quran.” Demikian judul besar di Del Spiegel, harian terkemuka di Jerman, edisi 18 Januari 2007. Penulisnya, Lutz Ackermann, mengawalinya dengan mengisahkan pria perlente bernama Kai Luhr.

Dengan bercelana jins dan jaket abu-abu bermerek, pria berwajah bersih tanpa kumis dan janggut ini memasuki gerbang Masjid Berlin. Ackermann mengira dia menuliskannya dengan kalimat “publik Jerman pasti menduga” Luhr adalah utusan pihak gereja untuk hadir dalam dialog lintas agama yang kerap digelar di masjid itu.

Tapi, ups, dia salah. Luhr bergegas menanggalkan jaketnya, dan mengambil air wudlu. Dia merapatkan diri dengan barisan shalat — di sebelahnya pria bertampang Timur Tengah dengan janggut dan jubah putihnya.

Dalam catatan Ackermann, Luhr melakukan 33 gerakan dalam ibadahnya hari itu. “Bahasa Arabnya sangat fasih ketika memanjatkan doa,” tulisnya. Ia hanya mengucap satu kalimat dalam bahasa Jerman, “Allah mendengar siapa yang memohon pada-Nya, kabulkan doaku ya Tuhanku.”

Kai Luhr adalah seorang dokter. Ia dan istrinya menjadi Muslim sejak dua setengah tahun lalu. Seiring dengan pernyataan syahadatnya, ia mengganti namanya menjadi Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr.

Lelaki 43 tahun ini biasa mengikuti aktivitas keagamaan di sebuah masjid di Frechen, dekat Cologne. Di situ pula ia mengikrarkan Islam sebagai agama barunya. Bersama dengannya, seorang mantan petinju nasional Jerman dan seorang insinyur juga turut bersyahadat.

Saat dikuntit Del Spiegel, Luhr usai menunaikan shalat Jumat dan shalat sunah lain sebelumnya. “Anda akan menjumpai banyak Muslim kelahiran Jerman di beberapa masjid di Berlin pada hari ini,” ujar Luhr.

Luhr besar dalam tradisi Kristen yang ketat. Namun ia beruntung, keluarga yang membaptisnya saat dia kanak-kanak itu adalah keluarga yang demokratis. “Tak ada masalah saya memeluk agama ini,” ujarnya.

Baginya, Islam adalah agama yang benar-benar baru. Ketika kecil hingga remaja, ia yang besar di lingkungan kelas menengah di Berlin, mengaku tidak pernah mengenal atau bahkan mendengar ada agama bernama Islam.

Persinggungan pertamanya dengan Islam adalah saat ia masuk universitas untuk belajar ilmu kedokteran. Beberapa rekan kuliahnya adalah Muslim. Namun saat itu ia belum tergerak mempelajari Islam.

Usai kuliah, ia membuka praktik sambil mengambil spesialisasi pengobatan naturopatik di universitas yang sama. Saat penghasilannya mulai bagus, ia menikahi pacarnya, Katrin, seorang penari profesional.

Hingga suatu hari, kedua pasangan ini mengalami kegelisahan dalam hidupnya. Kejadian bermula saat suatu hari datang pasien dalam kondisi kritis ke ruang praktiknya, akibat terjatuh saat pemancangan sebuah pilar. “Tiba-tiba ada kekosongan dan keputusasaan dalam hidup kami,” ujarnya.

Ia dan istrinya memutuskan untuk kembali menekuni agama yang telah lama ditinggalkannya, Kristen. Bahkan, pasangan ini pun mempelajari Buddhisme dan ajaran Dalai Lama. Tapi ia tak kunjung menemukan jawaban kegelisahannya.

Ingin tampil beda

Menurut laporan Ackermann, proses penjalanan batin seorang Mualaf di Jerman umumnya sama; mereka adalah penganut Kristen, yang menemukan kebingungan tentang ajaran agamanya. Setelah mencari di banyak keyakinan, hati mereka tertambat pada Islam.

“Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu dengan kebenaran ajaran itu,” ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami kebuntuan pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979.

Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa lalu, jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang pertahun. “Kini jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya,” ujar Herzog. Sebagian penganut baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah ateis.

Muhammed Herzog – Imam Mesjid Berlin

Sebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya cukup mencengangkan. Kendati media “rajin” memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan.

Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut, jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. “Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak,” tulis laporan itu.

Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf adalah dari kalangan terpelajar. “Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter adalah wanita yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak juga kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi Muslim” tulis laporan itu.

Hasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia tak hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. Di dua negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 September.

Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya mengalami “krisis personal” dan menemukan kedamaian justru dalam Islam, agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya adalah pencarian agama yang lebih “pas” buat dirinya. “Dia ingin beda dari yang lain,” ujarnya.

Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian batin, namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. Hal ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang Muslim. “Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine alternative,” tambah Wohlrab-Sahr.

Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab-Sahr bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya menyatakan tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan hidup bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil Alfa Romeo GT terbarunya menyatakan, “Meski Islam dinilai mundur dari peradaban Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini.”

Islamic Fashion di Berlin

Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan budaya Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, dan ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya.

Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang berarti. “Tergantung bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran,” ujarnya. Menurut dia, para mualaf ini tidak menunjukkan “kerepotan” harus beribadah lima kali sehari.

Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam sangat “ruwet” ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah dengan memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari-hari. “Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki saja,” ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam justru lebih liberal.

Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang diceritakan Wohlrab-Sahr:

“Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih sering shalat seorang diri. “Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya,” ujar Ozkan, “Shalat pertama pukul 06.00, …itu terlalu pagi bukan?”

Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia mengundang dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah makan. Bergner menolak rumah makan pertama karena “menyajikan terlalu banyak bahan haram.”

Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang membawa desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, “Terima kasih. Dalam resepnya, memakai alkohol.” Ozkan mulai tak sabar dengan ulah sahabatnya. “Ayolah, jangan terlalu serius,” ujarnya sambil mengigit cake itu, “Makan saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma.”

Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, sampai mereka keluar dari rumah makan itu… n tri/del spiegel

(tri/RioL)

Pengakuan Kai Ali Rashid dan istrinya menjadi Katrin Aisha Lihr (youtube.com)

 

4. Film FITNA Ditampilkan: Mushaf Elektronik Malah Habis Di Pasaran, 3 WN BELANDA Masuk Islam!!

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali ‘Imran:54).

 

Sejumlah sumber di Belanda, Ahad menegaskan, perpustakaan Belanda dalam minggu-minggu lalu menyaksikan kunjungan yang luar biasa banyaknya terhadap buku-buku Islam di Amsterdam. Orang-orang Belanda membeli dalam jumlah besar mushaf-mushaf elektronik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga hampir habis di pasar dalam dua hari yang lalu. Sementara 3 orang menyatakan masuk Islam dalam seminggu ini. Sumber-sumber itu menyambut baik reaksi dingin kalangan komunitas Islam di Belanda, dan sikap bijakasana yang diambil generasi kedua umat Islam yang hidup di negara eropa itu.Hal ini menjadikan kasus yang menimpa mereka pasca ditampilkannya film anti Islam ‘Fitna’ yang dibuat seorang anggota parlemen Belanda bernama Geert Wilders mendapat simpati yang besar dari masyarakat.

Surat kabar ‘De Telegraaf’, berbahasa Belanda menampakkan propaganda anti film tersebut yang direpresentasikan melalui workshop dialog, bersama kalangan intelektual dan pers Belanda. Dialog itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar al-Qur`an al-Karim sebagai kitab ibadah dan hidayah, serta penjelasan bahwa apa yang dilakukan Geert dalam filmnya itu merupakan sesuatu yang telah keluar jalur.

Surat kabar itu itu dalam halaman intinya mempublikasikan poto walikota Amsterdam berdarah Yahudi, That Cohen saat ia menyalami seorang pemilik penerbitan sekaligus tokoh pers Arab Saudi, Isham Mudir setelah berakhirnya konferensi pers oleh komunitas Muslim yang diadakan di masjid al-Ummah, ba’da shalat Jum’at yang lalu. Cohen dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap yang objektif terhadap kaum Muslimin.

Pemuda Muslim dari generasi kedua di negeri itu juga mengadakan workshop dialog di pinggiran Mir, Amsterdam malam Jum’at untuk mengantisipasi implikasi film yang sempat mereka tonton tayangannya. Di tengah workshop tersebut, salah seorang warga Belanda menyatakan masuk Islam. Dengan begitu, ia menjadi orang Belanda ketiga yang melakukan hal yang sama (masuk Islam-red) sepanjang satu minggu ini. Ini mungkin sebagai reaksi atas sebuah ungkapan di akhir film itu yang berbunyi, ‘Hentikan Islamisasi Eropa.!’

 

Lembaga Para Imam di Belanda mengajak setiap Muslim, kalangan tua maupun muda untuk bersikap cerdas, tenang dan logis serta mengedepankan sikap hikmah dalam melakukan reaksi. Lembaga itu juga memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dampak buruknya akan menimpa diri mereka sendiri dan masyarakat secara umum.

Dalam keteranganya, lembaga itu mengatakan, reaksi keras apa pun pasti akan menguntungkan musuh-musuh Islam dan sesuai dengan target yang diinginkan Wilders, yaitu menciptakan perseteruan di tengah individu-individu masyarakat.

Sementara itu, sejumlah perusahaan Belanda mengancam akan menuntut anggota parlemen Belanda, Geert Wilders bila film anti Islamnya yang dipublikasikan di jaringan internet itu menyebabkan terjadinya boikot perdagangan dari sisi yang lain. Ketua Kamar Dagang Belanda, Bernard Ventes mengatakan, “Saya tidak tahu apakah Wilders sudah merasa cukup kaya atau memiliki asuransi yang baik. Yang jelas, bila kami menghadapi pemboikotan, maka kami akan melihat sejauhmana hal itu dapat menyeret pertanggungjawabannya.”

Ia menambahkan, “Boikot dapat merugikan komoditi Belanda dan perusahaan-perusahaan seperti Shell, Philips dan Unilever yang dikenal milik Belanda.”

Seperti diketahui, sebelumnya mantan PM Malaysia, Mahathir Muhammad menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk Belanda, setelah seruan serupa juga dimuat di sejumlah media massa Yordania.

Kepada para wartawan, Mahathir Muhamamd mengatakan, “Bila kita memboikot produk-produk Belanda, maka Belanda terpaksa akan menutup sejumlah perusahaan.” Ia menegaskan, bila 1,3 milyar Muslim di seluruh dunia bersatu dan menyatakan tidak akan membeli produk-produk Belanda tersebut, maka itu akan sangat efektif.

Sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura mengecam film Fitna yang berdurasi 17 menit dan ditampilkan di internet tersebut, hari Kamis lalu. (almkhtsr/AS/alsofwah)

 

5. KDNY ( Kabar Dari New York ) : “Jordie Rosenbaum, Putri Yahudi”

Sejak tragedi 9/11 banyak masyarakat AS memeluk Islam termasuk wanita yahudi

Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, ayahnya seorang pengusaha dan aktivis Yahudi. Begitu pula mamanya. Tapi ia lebih memilih Islam.

Siang itu the Islamic Cultural Center of New York agak sepi. Beberapa jamaah shalat zuhur sudah berdatangan, tapi adzan sendiri belum dikumandangkan. Saya masih menanda tangani beberapa berkas perkawinan untuk dikirimkan ke City Hall untuk mendapatkan “marriage certificate” bagi pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan di Islamic Center.

Tiba-tiba telpon saya berdering dan di seberang sana ada suara resesiionis menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang ingin ketemu dengan saya. “Who is she?”, Tanya saya. “Probably she wants to know about Islam,” jawabnya singkat.

“Let her sit in the conference room,” pintaku.

Saya kemudian segera menyelesaikan menandatangani berkas-berkas perkawinan itu, lalu menuju ruang rapat. Di sana sudah menunggu seorang gadis yang masih relative muda berambut pirang. Nampak seperti asli Eropa. Dengan ramah, saya mengucapkan “selamat siang!”. “Morning sir!”, jawabnya singkat. Rupanya memang belum siang karena jam masih menujukkan pukul 11:53 pagi.

“How are, and what I can do for you?”, Tanya saya memulai percakapan siang itu.

“Hi, I am sorry that I am coming without an appointment?”, katanya singkat.

“Oh no, not at all! You don’t need to take an appointment to come to our mosque,” jawab saya.

Dia kemudian seperti menarik napas, memperkenalkan dirirnya “my name is Jordie!”. Dia kemudian bercerita panjang. Dia mulai mengatakan bahwa orang tuanya adalah petinggi agama Yahudi di kota New York . “My father is a businessman, and a board member of many Jewish congregation institutions or synagogues” , katanya terus terang.

Sejak tragedi 9/11 banyak masyarakat AS memeluk Islam termasuk wanita yahudi

Ibunya sendiri adalah seorang philanthropist, dan menurutnya menjadi kontributor besar pada acara-acara pengumpulan dana komunitas Yahudi. Juga anggota pada berbagai organisasi sosial dan wanita di kota New York .

“And so, what makes coming here today?”, pancingku.

Sekali lagi, dia bercerita panjang. Saya menangkap darinya bahwa dia adalah seorang gadis “brilliant” dan pemberani. “I am a graduate student at the NYU”, and also a Jewish activist”, katanya.

Dia menceritakan bagaimana kegiatannya di kampus, termasuk kegiatan-kegiatannya dengan kelompok agama lain, termasuk dengan pelajar Muslim. Salah satu yang selalu dia ingat adalah ketika kelompok mahasiswa Yahudi dan Muslim melakukan kerjasama bakti sosial di New Orleans setelah terjadi musibah badai Katherina ketika itu. “I really enjoyed the accompany of my Muslim friends at that time”, jelasnya.

“Are U still connected with your Muslim friends?” tanyaku.

“Yes, in fact I learned a lot from them about Islam”, jawabnya.

“And so, who direct you to come to the Center?” tanyaku lagi.

Dia kemudian menjelaskan bahwa salah seorang teman kelasnya, sama-sama mengambil sosiology, bernama Katherine. Saya bercanda, asal bukan Katherine temannya “hurricane?” (badai).

Ternyata Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, masih non-Muslim dan saat ini belajar di Islamic Forum for non Muslims. Setelah mereka berdua terlibat perbincangan tentang Islam, dan keduanya banyak merasakan nilai positif dari agama ini, Katherine menganjurkan kepadanya untuk menemui engkau. “She is a big fan of you”, candanya.

“Oh no! I am just a regular guy, employed by this Center”, kata saya.

Saya kemudian menanyakan beberapa hal tentang agamanya, Yahudi. Setiap kali menyebutkan konsep-konsep ketuhanan, saya menimpali dengan ayat-ayat Al Quran. “Really? That’s amazing!”, serunya.Dia belum pernah membayangkan betapa Islam dan Yahudi hampir mirip dalam konsep ketuhanan. Sehingga setiap kali ada poin yang dikemukakan mengenai Tuhan, saya cuma membacakan ayat-ayat dari Al-Quran.

Saya katakan, Al-Quran itu salah satunya berfungsi sebagai “musoddiqan” (untuk menegaskan kitab-kitab suci sebelumnya.

Setelah berputar-putar dengan berbagai konsep ketuhanan, kami kemudian mendikusikan hubungan Ibrahim dengan kedua anaknya. Dalam benak dia, memang Ishak itu memiliki status sebagai Nabi, tapi Ismail tidak diangkat sebagai Nabi Tuhan. Diskusi cukup inten dan hangat, bahkan sesekali terlibat perdebatan yang dalam.

Alhamdulillah, pada akhirnya setelah kita sama-sama merujuk ke Kitab Suci tentang para Nabi, dia mengakui bahwa memang ada sikap “prejudice” (curiga) dan diskriminatif dalam ajaran Yahudi. Bahwa yang mulia dalam konsep Yahudi hanya satu kelompok manusia yang digelari “Israelis” (Israelites). Manusia lain tidak terhormat, dan seharusnya menjadi hamba-hamba Israel .

Tanpa terasa adzan zuhur dikumandangkan. Kami berhenti sejenak. Tapi tiba-tiba Jordie nampak tersenyum dan mengatakan, “Jujur saja, Islam adalah yang benar!”, akunya.

“Saya sudah aktif di sinagog semenjak masih kecil, tetapi saya tidak pernah melihat satupun orang berkulit non-putih datang ke sinagog, jelasnya”.

“If Judaism is really God’s religion, why it has to discriminate people on the basis of races?”, tanyanya.

Tanpa terasa, Jordie mempertanyakan berbagai hal mengenai agamnya.

“Jordie, how do you see the Prophets of God?” tanyaku.

“They must be the best people to receive and convey the revelation. Not only to convey, but they themselves lived by the revelation”, jelasnya.

Saya kemudian menjelaskan berbagai tuduhan Taurah terhadap Nabi-nabi Allah, termasuk Daud, Sulaeman, dll. Saya katakana, dalam Al-Quran tidak satupun Nabi dikisahkan dengan kisah-kisah yang menyakitkan. Justeru para nabi itu adalah orang-orang yang berjuang untuk meluruskan prilaku manusia. “Is it rational that the Prophet David slept with his neighbor’s wife, and plotted to kill him?”, tanyaku.

“Of course, not”, jawabnya.

“But Sister, it is there in Torah!”, jelasku.

Sejenak, nampak Jordie diam, memandang ke saya seperti terheran-heran.

“So, what do you think?”, tanyaku.

“Wow, I read those, but never realized that it’s so bad!” akunya.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang terkadang kita membaca Kitab Suci kita dan “we take it for granted”. Seolah semua sudah diterima begitu saja, dan tidak ada lagi keinginan untuk menyelami dan memahaminya. Selain karena sudah diterima sebagai “keyakinan” dan sudah menjadi “dogma”, juga karena keberagamaan kita bersifat turunan.

Jordie terdiam. Tiba-tiba saja dia angkat kepala dan tersenyum “Wow, I really did not realized that I have been trapped in that” (ikut membuta).

“So what do you think about Islam?” saya memancing kembali.

Dengan sedikit pelan dia mengatakan “I think this is the true religion”. Kali ini sepertinya dia tidak seagresif sebelumnya.

“Jordie, can I ask you something?” tanyaku.

“We are in the winter. You know what kind of cloth we need. If you have only on you, and in front of you a thick jacket, will you stay frozen or will you take the jacket to cover your self?”, tanyaku.

“Of course I must take the jacket”, jawabnya singkat.

“I know you have your religion. But your religion does not fit to save you, Jordie. Here Islam, the religion you believe as the true religion is to save you. Would you like to take it?”, tanyaku.

Dengan sedikit pelan, nampak agak ragu, tapi kemudian dengan tegas mengatakan “yes”.

Alhamdulillah! Tanpa saya sadari saya ucapkan itu. Rupanya Jordie juga sudah tahu betul tradisi itu.

Saya meminta agar Jordie berwudhu. Ditemani oleh seorang jamaah wanita Jordie mengambil wudhu, dan sebelum shalat dimulai (iqamah), Jordie yang nama akhirnya “Rosenbaum” itu saya bimbing mengikrarkan: “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah.”

Pekik takbir para jamaah dilanjutkan dengan iqamah, dan Jordie pun memulai shalatnya yang pertama kali. Allahu Akbar!

New York, Maret 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di http://www.hidayatullah.com

CBC Picture of the Week Sandra to Salma

 

6. Aminah Islam : Melalui Seorang Juru Masak, Profesor Austria Temukan Islam

Ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan taat. Namun ia mengenal Islam melalui seorang juru masa restoran

Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi.

Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka http://www.readingislam.com .

“Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria kala berusia 16 tahun,” ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.

Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.

Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya. Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.

Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian menikah dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari permenikahan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.

Diterima menjadi dosen

Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.

Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.

“Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen. Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,” tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai profesor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.

“Namun saya merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,” akunya.

Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.

“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang. Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.

Berkenalan dengan Islam

“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang saya tahu –melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.

Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.

“Kami booking penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,” ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.

“Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. Eh entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,” kisah Aminah lagi.

Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.

“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.

“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman.

Menikah diam-diam

Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.

“Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.”

Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.

“Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,” kenangnya.

Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu Muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.

Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku “Bible, Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam” karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka

“Al-Quran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,” ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan

Al-Quran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam. “Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, Al-Quran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi Al-Quran,” tegasnya.

Mengucap dua kalimah syahadah

Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).

“Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara terdekat, Muslim dan Muslimah. Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,” kenangnya.

Mulai saat itu Prof. Fatimah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.

Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.

“Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,” ungkapnya.

“Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.”

Profesor Fatimah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.

“Alhamdulillah, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,” tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah! [zulkarnain jalil (Aceh)/www.hidayatullah.com]

7. KDL : Let’s Taste Being Muslim

Oleh : Al Shahida

penulis rubrik Kabar Dari London

Gadis asal Czeckolovakia yang sebelumnya Katolik ini begitu kaget dan mengaku betapa nikmatnya bisa merasakan Islam. “Lets’s taste being Muslim…”, undangnya

Pengajian mingguan yang aku hadiri tidak seramai biasanya. Agak sunyi. Beberapa hari terakhir memang London tengah diguyur hujan hingga menyebabkan semua kegiatan rutin agak tersendat-sendat. Beberapa peserta banyak yang terkena sakit flue atau alasan lainnya.

Meski banyak yang absen, tapi hari itu ada keistimewaan tersendiri. Tiga diantara peserta yang hadir adalah dua brothers dan satu sister muallaf. (watch Converts to Islam:Islam Sweeping the west! )

Mereka adalah brother Gaffar (Jaffar) alias Gavin yang baru sembilan bulan menjadi Muslim, Jamal alias James dan sister Aisyah, gadis cantik asal Czeckolovakia.

Sebelum mengakhiri pengajian, kami memberi kesempatan kepada sahabat kami, seorang muallaf yang hadir hari itu untuk menyampaikan pendapat serta pengalaman spiritual mereka selama menjadi Muslim.

Mereka masing masing menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka selama menjadi Muslim. Tentu pendapatnya masing-masing berbeda. Namun satu yang pasti bahwa mereka tambah yakin akan kebenaran Islam, merasakan satu ketenangan dalam jiwa mereka. Tidak itu saja, Gaffar mengatakan bahwa sejak ia kembali dari umrah Ramadhan lalu, kini ia lebih terbuka dan berterus terang dengan para pegawai, baik tetang dirinya yang sudah Muslim. Kebetulan ia seorang direktur di perusahaannya.

Konon setiap hari, ujarnya, ada saja orang bertanya tentang Islam. Tak hentinya mereka bertanya, kebetulan yang bertanya adalah orang-orang ilmuwan. “I love talking Islam in science percepective,” ujarnya. Begitu juga Jamal dan Aisyah. Maha Besar Allah. Pesan dan kesan mereka membuat kami yang lahir Muslim jadi terpacu dan terpicu untuk meningkatkan keimanan kami. Pengajian ditutup lalu disambung dengan shalat maghrib dan diakhiri dengan makan.

Enam bulan….Saya mengenal cukup lama dengan Aisyah. Namun baru kali ini berjumpa lagi dengannya, bertepatan saat pengajian. Selama ini, sister Aisyah, begitu saya sering memanggilnya, begitu sibuk dengan kursus Arab-nya (mengaji Al-Quran) selain bekerja tentunya. Kali ini ada ada kesempatan untuk berbincang. Kita memang sudah berjanji untuk bisa berbincang soal perjalanan dan pengalaman spiritualnya menuju Islam. Akhirnya, dengan senang hati ia membolehkan saya untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk tulisan.

“ I let you to write my story, my journey to Islam sis, I hope it will be useful for other”, ujarnya.

Ia nampak lebih anggun hari itu. Percaya dirinya kian bertambah dengan busana Muslimnya yang kaffah serta jilbabnya yang sarat dan memenuhi syariat –padahal subhanllah ia adalah seorang muallaf alias “A new Muslim atau convert” dibanding kita yang lahir Muslim atau ‘born a Muslim’.

Kepadaku, ia menceritakan kisahnya. Sebelum jadi Aisyah nama asli nya adalah Yana. Ia datang ke London 3 ahun lalu. Gadis asal Czecklo ini datang di negeri Ratu Elizabeth untuk mengadu peruntungan dan mencari pekerjaan. Baru pertama kali itulah dalam hidupnya ia melihat Muslim. Menurutnya bahwa agama Islam itu agama yang eksotik, maksudnya eksklusif hanya cocok dan melulu untuk orang Arab saja, bukan untuk orang orang Eropa, baik Eropa barat atau timur , seperti dirinya, yang berasal dari Czecklovakia. Ia tahu betul bawa agama resmi dinegeriya adalah agama Kristen.

Sampai suaru hari ia berjumpa dengan seorang lelaki asal Pakistan. “Kami berteman,” ujarnya. Suatu petang mereka bercakap-cakap disuatu warung kopi atau café sambil makan sore. Kami terlibat dengan percakapan soal agama sampai percakapan tentang agama Islam dan Muslim. Diakhir percakapan itu Aisyah mengajukan pertanyaan yang membuatnya terkejut:

“He asked me if I would to convert to Islam. I answered”,

“Never! I can’t do something like this. It’s a really crazy idea!”.

“Nggak bakalan deh saya melakukan yang begituan. “Wah itu bener bener gila kalau saya masuk Islam, lalu ia bertanya lagi”.

“Why?“

“I answered,”Because I like to wear top, T-Shirt and jeans and I like to do sunbathing and swimming and so on and so on….” (Karena saya suka pakai baju blus biasa, T-shirt dan celana jeans, juga saya suka berenang dan berjemur di matahari).

“Saya heran kenapa temanku ini kok aneh banget? Ngajakin saya masuk Islam. Ganti agama?. Ah, yang bener aja, emang gampang?” itulah kira-kira yang ada dibenak Aisyah kala itu.

“Ketika kami berpisah, entah bagaimana si lelaki ini telah meninggalkan suatu kesan di hati saya. Sangat membekas. Cukup dalam. Tak hentinya saya memikirkan percakapan petang itu, baik tentang Islam, Muslim dan permintaan atau pertanyaan dia kalau saya mau masuk Islam. Saya tak paham, lalu saya berkata. “Ah, gila dia,” kenang Aisyah.

“Tapi… kenapa lantas saya tak hentinya memikirkan ini. Terus terang hal ini berputar-putar di benak saya. Tak ubahnya seperti korsel. Hati saya dibolak balik seperti juga saya membolak balikan tubuh saya ditempat tidur dimalam itu. Saya tak bisa tidur. Ya, Semalaman!”.

“Uh, rasanya saya tak sabar menanti hari esok, ingin rasanya matahari cepat datang dan terbit. Hmm saya dibuat penasaran oleh dia, si lelaki Pakistan itu. Ia telah membuat saya begitu interest sama agama ini hingga saya berbicara pada diri saya: “Ok it will be interesting to read something about this religion,” saya tertantang jadinya.

“Esoknya saya bergegas ke warnet lalu saya cari situs tentang Islam dalam bahasa Czech tentunya agar mudah saya pahami. Setelah saya baca secepatnya saya memilih artikel: “Posisi Wanita Dalam Islam”…dan betul betul membuat saya terperangah dan bahkan membuatku terpaku. Saya mikir.”

“Betapa tingginya peran dan posisi wanita dan berapa banyak haknya Wanita dalam Islam’. Itu kesan pertama saya,” ujarnya.

“Kemudian saya lanjutkan dengan membaca beberapa artikel lainnya. Ia bagai sebuah magis. Kekuatan magnitnya begitu menerpa jantung saya. Kuat sekali. Saya tertarik.”

“Dari yang saya baca saya menyimpulkan betapa agama ini begitu toleran terhadap agama lainnya, tidak memandang suku, ras dan warna dan mengumpamakan bahwa kita ini bersaudara, bagai satu tubuh, mengundang persatuan”.

“Saya kopi-paste artikel ini ke dalam USB, lalu saya print sehingga saya bisa membaca di rumah. Sejak itu saya terus membaca Islam. Ibaratnya saya seperti orang kehausan. Tambah banyak saya membaca Islam, betambah banyak saya ingin tahu. Sampai kepada satu kesimpulan bahwa secara filosofi Islam ini begitu penuh dengan kedamaian dan apapun yang ditawarkan oleh Islam sepertinya serba masuk akal dan sangat fitrah. “Islam is peaceful and every thing makes sense in Islam”, demikian kata Aisyah.

Suatu hari, Aisyah mengaku rindu akan keluarganya dan ingin memiliki Al-Quran dengan terjemahan dalam bahasa Czeck yang tidak ia dapatkan di London. Akhirnya ia pulang ke Czeck untuk mengobat rindu kepada keluarga sambil liburan. Di sana ia membeli kitab Al-Quran dalam dengan terjemahan bahasa Czeck. Ia baca kitab suci ini ini berulang-ulang, sungguh ia terpana dibuatnya. Salah satu ayat yang membuatnya terpana adalah ayat di bawah ini:

“The good deed and evil deed cannot be equal. Repel (the evil) with one which is better (i.e. Allah orders the faithful believers to be patient at the time of anger, and excuse those who treat them badly) them verily he, between whom and you there was enmity, (will become) as though he was a close friend.”

(Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. 41:34))

“Ayat ini telah betul-betul merasuk ke hati saya, sangat dalam”, ujarnya ketika ia membaca ayat 34 surat Fushilat.

Waktu terus berjalan. Kira-kira enam bulan. “Perasaan ini kian menguat bahwa saya ingin sekali mengikuti agama ini,” ujar Aisyah.

“Saya kembali ke Czeckoslovakia untuk liburan lagi sambil ingin mengatakan kepada kedua orangtua saya tentang agama Islam yang sedang saya pelajari dan saya cinta. Alhamdulillah, mereka berdua tidak keberatan sama sekali”.

“Kok bisa sis, mereka tidak kecewa, marah atau bersedih,” tanyaku. “Well, kami di Czecko, terutama di keluarga sama sekali hampir tidak pernah berbicara soal agama. Ke gerejapun, saya hampir tidak pernah melihat mereka pergi, walaupun mengaku beragama Katolik (Roman Catholic). Kami di Czecko memang di sana rata-rata Katolik,” ia menambahkan.

“Atas restu kedua orangtua saya akhirnya saya balik ke London dan mengikrarkan syahadat pada bulan Maret 2006. Ah ternyata tidak susah ya menjadi Muslim, hanya mengucapkan, “ ujarnya

“ASHHADU ANLA ILAHA ILLA-ALLAH WA ASHHADU ANNA MUHAMMADAN RASULAHH”. I witness that is not got except Allah and I witness that Muhammad is messenger of Allah.” (Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah)

Sejak bersyahadat Aisyah merasa berbahagia dan mendapatkan ketenangan, dan ia lebih intens belajar Islam serta belajar bahasa Arab. Di akhir pekan ia belajar bahasa Arab (maksudnya belajar mengaji). Meski ngaji nya masih rada alot kedengarannya. Namun ia berupaya keras menghafal surat-surat pendek untuk shalat.

“Islam menurutku, sangat mudah praktis,” ujarnya. “Bahwa Islam itu tidak cuma shalat lima waktu, pake jilbab.. tapi Islam adalah cara hidup atau ‘A way of life..ad-Dien, menurut saya bahwa Islam adalah apa yang kita kerjakan dari pagi hingga petang.”

 

Niqab Aisyah

Bulan September, enam bulan usadi bersyahadat, Aisyah menggunakan abaya atau baju Muslimah. Sebelumnya, untuk beradaptasi saat pulang ke Czeck dia cuma pake baju biasa. Rok panjang, blous tanpak jilbab. Itupun sudah membuat teman-temam di kampusnya terkejut melihat perubahan itu. Dia potong kukunya pendek dan tidak lagi mengenakan kutek. Saudara sepupunya yang seusia, bahkan sempat marah dan tidak suka saat ia tahu Yana masuk Islam. Bahkan beberapa saat mereka tidak saling menyapa dan bicara.

Lebaran 2006 lalu, saya terkejut. Sebab saya temukan ia memakai niqab (cadar). Lebih terkejut lagi setalah tahu bahwa ia telah melepas cadarnya. “Kenapa dilepas, “ bagitu tanyaku kala itu. Menurut Aisyah, dia tahu itu tidak diwajibkan dan banyak pendapat beberapa imam (scholar) yang berbeda.

Semenjak beralih memeluk Islam, Aisyah sangat rajin belajar agama dan mengaji. Kini, ia memiliki seorang guru asal Pakistan.

“Guru saya seorang Syeikh (baca ustadz), asal Pakistan, mengatakan bahwa Islam itu bukan sebuah agama kekerasan, opresi (opressed) menekan atau pemaksaan, tapi Islam adalah agama pertengahan dan mencari keseimbangan dalam segala aspek di dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam bukan agama hanya ibadah ritual saja, bukan pula agama ke-rahiban, atau sebaliknya mencari dunia saja dan melupakan Tuhan atau kematian. Dalam Islam ada waktu untuk menyembah Allah, waktu untuk keluarga, bermain dengan anak-anak, berinteraksi dengan manusia, berbuat kebaikan, bekerja atau studi dan bahkan kita diperintahkan untuk santai. Semua itu adalah ibadah.” Demikian ujarnya.

“Saya tengah meniti menjadi Muslim yang betul-betul akan berada pada tingkatan bahwa saya akan bisa merasakan melihat Allah, walau bukan dengan kasat mata. Artinya apapun yang saya lakukan saya tahu Allah menyaksikan perbuatan saya, saya mengutip ini dari apa yang Rasulullah sampaikan disalah satu hadits.

“Sis, jika ada orang bertanya, seperti apa rasanya menjadi seorang Muslim. Apa yang akan Anda jawab?”, begitu tanya saya pada Aisyah.

“Saya akan menganalogikan seperti makan buah apel deh. Saya akan katakan kepada mereka untuk merasakan buah apel, Anda harus mencicipi dan memakannya sendiri. Di situ Anda akan tahu seperti apa indah dan lezatnya buah apel. Rasa buah apel ini hanya bisa dirasakan dinikmati kalau Anda mau memakannya sendiri.”

Sebelum menutup pembicaraan, Aisyah mengundang bagi mereka yang belum tahu rasanya bagaimana menjadi seorang Muslim agar bisa merasakan bagaimana nikmatnya berislam.

“Let’s taste the feeling to be a Muslim”, undangnya.

London, 6 Januari 2006

 

8. Kaum Perempuan yang Memeluk Islam di Palestina

Keimanan telah mengetuk hati nurani mereka yang paling dalam. Mereka pun menyambut kedatangannya dengan penuh cinta. Seperti seseorang yang telah lama menanti kedatangan tamu yang dinanti lalu mengatakan, “Sudah lama kami menantimu dengan penuh rindu.”

Kalimat-kalimat di atas adalah pembuka berita tentang sejumlah wanita yang memeluk Islam di Palestina. Orang-orang itu telah membuang lembar lama hidupnya yang telah mereka lewati tanpa kejelasan keyakinan dan keimanan. Mereka lalu datang kepada Islam dengan wajah penuh bahagia. “Saya sangat yakin bahwa saya dilahirkan untuk menjadi seorang muslimah, ” demikian ungkap seorang perempuan asal Okrania yang bernama Erena dan tinggal di Palestina. “Nama saya sekarang Nur, Allah telah memuliakan saya dengan nikmat Islam.”

 

Tentang kisah masuk Islamnya, Nur sang muallaf, bercerita. “Saya dahulu tinggal di Okrania. Meski saya hidup di tengah lingkungan Nasrani tapi saya merasakan dalam hati bahwa saya adalah orang yang mencari kebenaran dari berbagai agama yang benar-benar saya yakini lahir dan batin. Saya bahkan kerap pergi ke sejumlah tempat ibadah dan sangat melelahkan hingga sakit, dalam pencarian itu. Di fase perkuliahan, seorang pemuda Muslim terkejut mendengar keinginan saya mencari agama yang benar. Ia lalu menikahi saya. Pemuda Muslim itu berasal dari Palestina, tepatnya, Ghaza….”

“Awalnya, keluargaku menolak aku menikah dengan seorang Muslim. Tapi saya tetap berkeras sampai akhirnya mereka setuju. Saya merasakan bahwa kehidupan saya benar-benar akan berubah. Setelah menikah, suamiku mengatakan, “Saya akan membiarkanmu menentukan pilihan sendiri untuk masuk Islam.” Saat kami sudah tinggal di Palestina, mulailah hidupku perlahan berubah. Dengan karunia Allah, suamiku ternyata seorang yang agamis. Saya banyak belajar bahasa Arab darinya. Dan itulah yang kemudian perlahan lahan mengantarkan saya meyakini Islam dan bahkan masuk Islam dengan penuh kesenangan.”

Soal alasan yang menjadikannya masuk Islam, Nur bercerita, ada beberapa peristiwa yang begitu mengesankan hatinya. “Ketika saya meminta suami untuk menerima tamu dan meminta izin dahulu kepada kami sebelum berkunjung, ini menegaskan pada saya bahwa Islam sejak dahulu telah memerintahkan soal perizinan.” Ia melanjutkan, ” Ada lagi yang tak kalah mengesankan yakni ketika saya mendengar hadits Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa ketika seorang suami menyuapi makanan ke mulut isterinya maka itu adalah shadaqah. Informasi itu membuat saya berpikir tentang agama mulia ini. Lalu suami saya berbicara tentang kenikmatan surga dan keindahannya, memberitahu banyak hal tentang kemukjizatan Al-Quran, sedikit demi sedikit sampai akhirnya saya sendiri yang ingin memeluk Islam. Dan setelah itu saya mengenakan pakaian yang diperintahkan Allah swt. Alhamdulillah atas nikmat iman ini.. “

Selain Nur, adapula perempuan di Palestina yang memeluk Islam di bumi yang diberkahi Allah tersebut. Nama sebelumnya adalah Roxena asal Roma. Namun kini namanya berubah menjadi Fatimah Az Zahra. Ia bercerita tentang proses keIslamannya, “Saat aku kecil di Roma, saya sudah merasa tidak tenag pergi ke gereja dan melakukan sejumlah aktivitas ritual. Perasaan saya menjadi sempit khususnya ketika saya mendengar sejumlah informasi yang saya tidak mengerti artinya. Saya bertanya, “Kenapa kami diciptakan?” Apa tujuan hidup ini?” Dan ketika saya memeluk Islam, saya dapati semua jawaban yang saya pertanyakan itu yang tidak dapat dijawab oleh keyakinan Nasrani secara memuaskan.

Proses masuk Islamnya Fatimah berawal ketika ia menemukan sebuah kaset di mobilnya. Kaset itu ia dengarkan dan dengan kehendak Allah ternyata kaset itu berisi dialog antara tokoh Muslim terkenal asal India, Ahmad Deedat dengan tokoh Nasrani. Ahmad Deedat benar-benar mampu memberi jawaban meyakinkan atas semua pertanyaan yang diajukan tentang bukti kebenaran Al-Quran dengan lancar. Berbeda dengan pemuka Nasrani yang justru tidak mampu menjelaskan apa yang mereka yakini sendiri. Dari situlah saya mulai ingin mempelajari lebih banyak tentang Islam.” (na-str/iol/eramuslim)

 

9. Wanita Yahudi Yaman Masuk Islam, Aparat Ancam Serangan

Seorang wanita Yahudi Yaman menyatakan memeluk Islam. Namun, aparat keamanan justru “mengepungnya” dan mengancam akan melakukan “serangan”

Di wilayah Ridah yang berada di propinsi Umran, yang berjarak 100 km dari ibukota Yaman, Shan’a, para laki-laki bersenjata terlihat tersebar di berbagai tempat sejak hari Sabtu lalu, untuk mengantisipasi tumbulnya konflik antara penduduk setempat dan pihak keamanan.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa para laki-laki bersenjata yang berasal dari kabilah-kabilah di Ridah menyebar di wilayah yang ditempati wanita Yahudi yang sudah masuk Islam satu pekan yang lalu, yang mana pemerintah setempat meminta agar wanita itu diserahkan kepada keluarganya.

Pihak kemanan juga meminta agar para pemimpin kabilah ikut serta dalam menyelesaikan persoalan ini, yaitu membujuk sang suami agar merelakan istrinya yang baru masuk Islam kembali kepada keluarganya. Karena keluarga wanita ini juga telah meminta bantuan kepada Kedutaan Amerika agar menekan pemerintah Yaman, supaya wanita ini kambali kepada keluarganya.

Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Gubernur Umran, Nu’man Dawid telah mengirim beberapa utusan dari para tokoh kabilah kepada wanita tersebut, untuk menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi si wanita telah menegaskan berkali-kali bahwa ia tidak mau kembali kepada keluarganya dan ia masuk Islam dengan sukarela, tanpa ada paksaan dan ia tidak mau melepas keyakinan

nya untuk murtad kembali kepada ajaran Yahudi. Begitu pula suaminya, ia tidak akan melepaskan istrinya untuk kembali kepada ajaran Yahudi.

Walau si wanita sudah menjelaskan kenginannya, pihak kemanan tetap mencoba memaksa agar wanita itu kembali, bahkan mengancam akan menyerang wilayah itu dan menangkapnya.

Peristiwa larinya anak-anak gadis Yahudi dari keluarga mereka agar mereka bebas memeluk Islam sudah puluhan kali di Yaman. Jika hal itu terjadi, pihak keluarga melakukan upacara kematian selama satu pekan penuh, karena anggota keluarga yang sudah keluar dari Yahudi mereka anggap telah mati. [Ar Riyadh/thoriq/www.hidayatullah.com]

 

10. KDNY : Dan Pendeta Yahudi itupun Bersyahadat

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Awalnya, kedatangan Shimon, seorang Rabbi Yahudi di Islamic Forum membuat curiga. Siapa sangka, Shimon justru tertarik Islam dan mengucapkan syahadat.

Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu ingin lebih mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku kenali sama sekali. Salah

satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut pendek yang terurus rapih. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak memperhatikan dengan seksama tapi terlihat cuwek.

Aku sangka bahwa orang ini adalah seorang Muslim karena wajahnya mengekspresikan persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan siang itu. Tapi, nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik dengan penjelasan saya itu.

Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum terdahulu. Merujuk pada kata-kata “kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum” (sebagaimana telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), saya kemudian merujuk kepada beberapa fakta sejarah puasa umat-umat terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat saya intens menjelaskan ayat ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.

“Yes Brother!” sapa saya. “Can I say something?” tanyanya. Tentu dengan senang saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena tiba-tiba masuk ke kelas ini tanpa permisi. “I feel I did some thing impolite”, katanya. “Oh no, this forum is open for every person, and doesn’t require any registration. You are in the right place on the right time”, jawabku.

“What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is your name?”, tanyaku. “Sorry, I am Shimon!”, jawabnya.

Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat lancar dan seolah berceramah dia bersungguh-sungguh menjelaskan sejarah dan makna puasa dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan penjelasan itu, hampir semua yang hadir terkejut. Melihat situasi itu, sayapun bertanya: “Sorry Brother, are you a Muslim or not? And why do you know a lot about Judaism?”.

Sedikit gugup dia kemudian mengatakan: “Imam, actually I am a Rabbi. I was ordained Rabbi two years ago”. Mendengarkan penjelasannya itu rupanya membuat banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the Forum for non Muslims ini ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). Apalagi dalam penjelasannya tentang puasa itu seperti mendakwahkan ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga kalau-kalau dia datang untuk sebuah misi.

Saya kemudian menyapah dengan ramah dan mengatakan: “Welcome to our class sir!”. Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan kepadanya bahwa saya sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-pendeta Yahudi, seraya menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New York . Mendengarkan nama-nama itu, rupanya cukup mengagetkan bagi dia. “All those are very respectful Rabbis!” katanya. “Yes, I am fortunate to have known them and be known by them!” kataku.

Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelasannya mengenai puasa di agama Yahudi. “It’s almost similar to ours. The only thing that you guys keep changing it throughout the history”. Mendengar itu, nampaknya dia setuju dan hanya mengangguk.

Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang ingin tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, penjelasan mengenai puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya tiba sesi tanya jawab.

Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan waktu masih ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan untuk menjelaskan agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Quran dan sejarah. Bahwa memang Al-Quran menyinggung secara gamblang sikap orang-orang Yahudi terdahulu, mulai sejak nabi Ya’kub hingga nabi-nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat nabi Musa A.S.

Sejarah pergulatan politik, agama, kultur dan budaya antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah S.A.W di Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum Kristen. Bagaiman penguasa Islam di Spanyol memberikan “kesetaraan” (equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian Yahudi dari pengusiran dan “inquisasi Spanyol” kaum Kristen di Spanyol.

Penjelasan-penjelas an saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh Shimon. Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan sebenarnya kebanyakan buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat Yahudi itu justeru ditulis oleh mereka yang non Muslim dan bahkan mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya bahkan mengutip pernyataan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara interfaith di PBB tahun lalu.

Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-tiba Shimon sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, mengangkat tangan. “Yes Brother, any comment?”, pancingku. “Yes, I think what you just said, for us Jews, are well known”, katanya. Dia kemudian berbicara panjang lebar mengenai upaya penyembunyian fakta-fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui bahwa bagi mereka yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya kepada risalah terakhir dan nabinya.

Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda: “If so, do you consider yourself a genuine Jew or not”. Dia sepertinya tertawa, tapi nampaknya karena kepribadian dia yang memang kurang tersenyum dan nampak seperti cuwek, dia menjawab: “To be honest with you, I believe that this is the religion of Moses”. He came with the same mission that Mohamed brought around 15 centuries ago”, tegasnya.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi: “So you believe that Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is the true teaching of God?”, tanya saya. Dengan tenang dia menjawab: “I am sure about that. But I really don’t know what to do”.

“Brother Shimon]”, basically you are a Muslim. What you need to do is simply you need to formalize your faith with the presence of witnesses”, jelasku.

Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum tapi melihat raut wajahnya dia sepertinya cuwek. Tapi karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti tidak serius, tapi memang itulah kepribadiannya. Tiba-tiba dia bertanya: “And how to do that?”. Saya menengok pada peserta lainnya yang juga ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab: “Brother, it’s very easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and Messenger. Are you ready?” tanyaku.

Setelah dengan mantap menjawab “yes”, saya kemudian mengatakan kepada peserta lainnya yang hampir semuanya muallaf, “be witnesses for Allah!”. Maka, dengan suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi mengucapkan “Syahadaaten”, diikuti kemudian oleh pekikan takbir para peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita itu. Dan Ramadan kemarin adalah awal Ramadan baginya dengan puasa penuh secara Islam.

Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon mendekati dan berbisik: “I don’t know if this is an appropriate question to ask”, katanya. “What is that?”, tanyaku. “Who was that lady sitting to your right side, and is she married?”, tanyanya. “Why is the question?” tanyaku lagi. “I think it is the time for me to be serious in my life. I need a wife”, katanya serius.

“Ok Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. But let me know next week”, jawabku. “Sorry Imam if that is considered inappropriate to ask”. “Oh not at all. It is in fact an important thing to ask. And believe me, it is also my responsibility to help you in this regard. We will talk next Saturday about it”, kataku sambil meninggalkan kelas.

Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan dijadikan da’I yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin!

New York , 29 Oktober 2007

 

11. KDNY : Imani, Gadis Srilanka

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Imani, wanita muda yang kini sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York ini akhirnya memeluk Islam

Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata “taqwa” yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:

“Dan bersegeralah ke magfirah Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu yang senantiasa memberi, baik dalam keadaan senang maupun susah, menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah dan mereka memohon ampunan dariNya atas dosa-dosa mereka…dst”.

Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna “takwa” dalam konteks “ihsan”. Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun “relasi spiritual” dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

Tanpa terasa penjelasan itu memakan waktu lebih 1 ½ jam. Sebagaimana biasa, saya kemudian memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar.

Beragam pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. “Nampaknya, Islam dan agama-agama lainnya tidak jauh berbeda”, komentar salah seorang peserta non Muslim. “I used to think that Islam is all about laws, do this, don’t do that…etc.” komentar yang lain.

Seorang gadis yang ada di ruangan itu, yang sejak awal diam dan juga jarang memperlihatkan senyum, tiba-tiba angkat suara. Suaranya pelan dan hampir tidak kedengaran. “Do you believe in the incarnation?”, tanyanya lembut. “Before I respond to your question, can you explain to me, what do you know about the incarnation?” kata saya.

Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan “in my belief…Buddhism”. Saya pun memotong langsung dan bertanya: “Sister, may I ask you a personal question?”. “Yes sir!” jawabnya. “Are you a Buddhist?”, tanya saya. “Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn’t really care about religion”, jawabnya.

Dia memang nampak canggung menjawab pertanyaan itu. Tapi nampaknya pula bahwa dia adalah seseorang yang berani. “So, when we talk about religion, what do you mean by that word (religion)?”, pancingku. “I really don’t know. But as far as I know, we Buddhists neither we believe in religion nor in god”, jelasnya. “So in what do you have faith?”, tanyaku lagi. “Basically the center of our faith is in the nature itself. And we the people are the center of the nature”, katanya lagi.

Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas “pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat”. Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

“Let me ask you a question”, saya memulai diskuis itu lagi. Dia mengangguk. “Do you pray or supplicate?”, tanya saya. “Yes, in fact my mother pray every day at home”, jelasnya. “Now, here is the point”, kata saya. “If you believe in the nature, worship the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?”

Dia mulai tersenyum sambil menengok ke teman-teman lain yang ikut tersenyum ketika itu. “I don’t know. But as I heard, we pray towards the nature itself. According to Buddhism, this nature has power”, jelasnya. “But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!”, jelas saya. “And if so, what is the point of asking to your own self? Iif you have that power, then what is the need to ask?”, tanya saya.

Para peserta nampak tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanya an saya tersebut. Sementara sang gadis itu nampak bingung dan hanya tersenyum mendengarkan semua itu. “Sister, in our religion God is the center of all issues”, lanjutku. Saya kemudian berusaha menjelaskan bahwa agama itu bukan sekedar pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat, melainkan konsep kehidupan. Bahwa spiritualitas memiliki tempat penting dalam agama, namun tanpa Tuhan, konsep spiritualitas seperti itu bersifat semu.

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar kehidupan Hollywood yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada akhir kehidupan para artis itu. Kalau tidak terjebak pada kehidupan “hedonistis” tanpa ujung, atau mereka akan terjebak kepada pencarian spiritualitas yang illutif.

Pada akhir penjelasan itu, tiba-tiba gadis itu berkata: “It does make sense!”. Saya menimpali: “True religion does make sense. And Islam does make sense!”, jelasku.

Kelas hari itupun bubar. Tapi tanpa terlupakan saya pinjamkan gadis itu sebuah buku perbandingan Islam dan Buddha tulisan Harun Yahya dan sebuah Al-Quran terjemahan.

Dua hari kemudian, hari Senin, ketika saya tiba di kantor di pagi hari, tiba-tiba gadis itu sudah berada di ruangan resepsionis.. “Hi, how are you?”, sapa saya. Tanpa memperlihatkan senyum sedikitpun, gadis tersebut menjawab: “Hi, I am fine!”. Rupanya resepsionis menimpali bahwa dia sudah menunggu dari pagi. Maka segera saya ajak dia masuk ke ruang pertemuan.

“What I can do for you this morning?”, tanyaku. “My mom took all my books”, katanya. “Why?” tanya saya. “She doesn’t want me to read those books, but I am really interested to know”, jawabnya. “It’s fine, that may cause you mom to study and know this religion too. I will give you some other books”, kata saya.

Tanpa panjang lebar, saya kemudian menjelaskan Islam kepadanya. Saya memulai dari hakikat kehidupan, kedudukan manusia, dan bagaimana kebutuhan manusia kepada Yang Maha Dzat, Allah SWT. Selama saya menjelaskan itu, beberapa kali saya harus mengulangi karena beberapa terminology yang sama sekali asing baginya. Tapi akhirnya, nampak wajahnya puas.

“Any thing else in your mind that you want to clarify or further to ask?”, tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. “So, what do you think about the religion?”, tanyaku lagi. Dengan sangat pelan, dia menjawab: “I feel that Islam is quite rational and it does make sense to me”, katanya. “I like it!”, lanjutnya.

Mendengar itu, saya segera memancing. “So, you are certain that the religion is the true one”. “I think so!”, jawabnya. “If you are still thinking that it’s true, it means you are not certain yet!”, kataku. Seraya tersenyum dia menjawab: “No, I am sure about it!”, tegasnya.

“Does it mean that you believe in Islam? Do you believe in God?”, tanya saya. “Yes, I am sure God does exist, and sure that we need Him in our life”, katanya. “Ok, if I say to you, are you willing to embrace Islam, are you ready?”, tanyaku. Dengan sedikit menunduk, nampak seperti ragu, namun dengan mantap dia mengatakan: “Yes!”.

Saya kemudian menjelaskan enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Juga sedikit saya jelaskan kaitan Islam dengan kehidupan nyata manusia. “Any question before taking your shahadah?”, tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepala.

Saya kemudian menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Maka disaksikan oleh dua saksi di pagi hari itu, gadis belia ini mengucapkan: “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diikti pekikan takbir kedua saksi itu.

Alhamdulillah, gadis yang kemudian memilih nama barunya “Imani” ini sudah mulai berpuasa Ramadhan lalu. Sayang, dia baru tahu kalau Ramadhan sudah masuk setelah 10 hari Ramadhan berlalu. Maka di bulan Syawal lalu, dia berusaha mengganti puasanya yang tertinggal ditambah puasa 6 hari Syawal.

Sekitar 2 minggu lalu, Imani silaturrahmi ke rumah kami pada acara “open house” kami. Tapi setibanya siang itu di rumah kami, dia tidak makan. Rupanya dia sedang berpuasa sunnah Syawal. Maka kami ajak dia untuk tinggal sampai berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, Imani pamitan pulang. Tapi karena sudah gelap dan akhir pekan yang biasanya subway tidak terlalu lancar, kami ajak Imani menginap di rumah kami.

Di saat silaturrahim itu, betapa gembira Imani ketika bertemu dengan keluarga Srilanka yang putranya menikah dengan wanita Indonesia. Imani merasa mendapatkan keluarga barunya. Dan pagi hari, selepas shalat subuh Imani meninggalkan rumah sambil berpesan kepada anak kami: “Tell your mom, dad, thank you so much for your hospitality and the delicious dinner!”.

Hari Sabtu lalu, dengan suara pelan Imani berbisik: “I hope I can find a husband who can teach me reading Arabic (Qur’an)”. “Insha Allah Sister! May Allah make it easy for you and we will do help you in any way possible!”, kataku. Baru ketika itu juga saya tahu kalau Imani sudah berumur 23 tahun dan sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York.

Semoga Imani akan selalu dilindungi dalam naungan iman hingga akhir perjalanan hidupnya menuju Rabbnya!

New York , 29 Oktober 2007

 

12. KDL : Akhirnya James Berikar…

Oleh : Al Shahida

penulis rubrik Kabar Dari London

“James yang kini namanya Zakariyya mengakui bahwa perjalanan menuju Islam ini cukup lama baginya, ‘sepuluh tahun’ dari sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim ditempat kerjanya hingga ia bershahadat. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama …?.

Disuatu petang Zakariyya datang memenuhi janjinya untuk memasang printer dan scanner dirumaku. Ditemani teh hangat ala Inggris, saya bertanya pada sahabat muallaf, yang begitu baik menolongku untuk urusan komputer dari virus sekaligus memasang scanner printer yang baru saja kubeli dari dikedai PCWorld Bromley. ‘Bagaimana perasaan kamu pada bulan Desember ini? Apakah suasana Natalan tahu ini masih ada pengaruh pada dirimu? tanya saya pada James alias Zakariyya. (  picture story)

‘Ada juga sih tapi justru sangat kontradiktif’, jawabnya. ‘Saya bahagia banget kali ini, tapi bukan bahagia karena natalan, malah sebaliknya, saya merasa senang dan bahagia banget karena…’! ujarnya diringi senyum, sambil berlari kearah komputer’ oops bentar saya cek dulu si komputer, ‘ ok, ayo lanjut kenapa ko sampe segitu senengnya?’ tanyaku penasaran.

‘Well I am happy because  I can get away this time, completely’ ia begitu cerianya. Lanjutnya lagi,’  No celebration, no pressure to buy presents, nor alcohol either, I am really free and this this the first time ever… I don’t celebrate christmas in my life !. Ia merasa terbebaskan dari semua tekanan perayaan natalan, menurutnya.

Ia bercerita bahwa tahun lalu, walau ia sudah segan dan wegah merayakan natalan namun karena James masih bercabang fikirannya antara  menghormati orang tuanya dan keraguan terhadap agamanya, namun karena ia masih ingin menghormati kebiasan dan tradisi keluarganya  ia masih merayakan natalan. Artinya datang berkumpul, merayakan dan menikmati makanan tradisi natalan.

Hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagaam Kristen tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang dilakukan ratusan tahun,  yakni acara keluarga berkumpul yang cuma terjadi sekali setahun. Sekarang sudah banyak ditemukan kalau ini tradisi  Pagan yang menyembah matahari, merayakan malam terpanjang dan sebagainya. Di Inggris rata-rata  disaat berkumpul mereka menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam oven lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan krismas puding yang begitu berat, plus ditambah  makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol dan puncak nya dari acara ini tentunya membagikan hadiah bagi keluarga..demikian ia bertutur.

Lalu katanya lagi:’  Ingat tidak sis dua pekan lalu, saya pergi mengunjungi ibu saya di utara Inggris sana, beliau kan ulang tahun yang ke 70. Disitu saya bilang kepada kedua orang tua saya bahwa tahun ini saya tidak akan datang ikutan merayakan natalan. ‘So don’t worry about chrismast pudding and Turkey Mum I just would not join the christmast this time ’ ujarnya.   ‘ ‘.. alhmdulillahh mereka  paham dan menghargai keputusan saya’ tukasnya.

‘Sebetulnya mereka membujuk saya untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para ponakan’ paparnya, ‘tapi…’ tambahnya lagi’  ibu saya khan tidak akan bisa dan tahu memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan pagan mereka, iya engga sis?  ‘Betul juga  sih..belum lagi nanti pada minum alcoohol, kamu  menonton mereka dan mereka akan mentertawakan kamu engga minum’, tambahku. Aku menyetujui. ‘Lalu bagaimana reaksi mereka tanyaku. ‘Well, masya Allah, mereka menyambut baik, memahami , menghargai keputusanku dan bahkan cukup supportif, dan mereka tahu ko sekarang saya muslim dan saya tunjukan sajadah, hmm bahkan saya bisa sholat dirumah ibuku..’ Alhamdulillah kataku. Well, begitulah, pokoknya saya  seneng bisa lepas dari beban ini dan yang penting ibu dan ayah saya tidak kecewa atau bersedih…’

Jadi mau ngapain atau mau kemana dihari natal nanti? Aku bertanya penasaran ‘ Oh..saya sudah booking tiket  tgl 20 Desember ini, mau kabur ke Spanyol, dengan teman muslim saya, pingin lihat Alhambra dan sejarah peninggalan Islam di Spanyol, ujarnya.

‘Lantas kedua anak remajamu gimana ? . ‘Mereka sama ibunya dan neneknya. ‘Biarkan tahun ini anak-anak sama ibu mereka, merayakan natal’ ujarnya,’nanti kalau saya sudah punya rumah sendiri saya ajak anak saya  pindah kerumahku,  and hey will follow me…’ sambil ia tertawa lebar, seakan yakin kalau anaknya  akan  mengikuti jejak ayahnya.

Demikian cerita brother Zakariyya yang  menyampaikan rasa leganya karena dia telah mampu memberikan pemahaman kepada kedua orangtuanya serta kedua anaknya bahwa tahun ini betu-betul tidak akan merayakan natalan.

Pertemuan Pertama

Saya ingat.. suatu Ahad, saat saya berjumpa  pertama kali dengannya James dipengajian ‘StepstoAllah, di Islington, London utara.  James saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari  dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, James berbisik kepada Hilaal ‘ I think now I would like to take shahadah…I like to do it in the mosque, what do you think?’ dengan serta merta Hilaal menyambutnya dan langsung memaklmuatkan keinginan James ini, kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya.

Dia pamit dan bergegas hendak pulang namun  sempat saya jegat, langsung, saya panggil brother walau James belum resmi Muslim, ’ Brother are sure you want to be Muslim? Tanyaku,  ‘

Well….hmm yesss’ begitu gaya James berbicara dengan santun dan pelan. ‘Are you sure though?  Cant you see how media always expose us as a very bad and extreemist and yet  you want to become Muslim ?’ saya cuma ingin mengetes keyakinan James. ‘Does not that put you off? tambahku lagi. Saya bombardir James dengan banyak pertanyaan.

‘Yes sister I know that but.. mmm I am very positif  and sure about it,  especially today, I have thought about this for quite  long time. It does not bother me what media say. I don’t trust  them. In fact its bit too long for me to decide’ tegasnya..’..but today Im  more confident’  ia meyakinkan dirinya.  Demikian James menambahkan bahwa mestinya ia sudah lama  bershahadat dan masuk Islam  namun ia terlalu banyak pertimbangan.‘ I am a very slow to decide’ ujarnya lagi. Akhirnya saya katakan padanya bahwa kami akan bantu dan support dia dalam banyak hal. Dari sejak itu Jamespun ikutan jadi anggota milis pengajian sehingga ia merasa kerasan, nyaman dan bisa komunikasi lewat email.

Bersyahadat di Masjid…

Akhrinya James mengumumkan sekalgus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat ini. Pada hari yang direncanakan kami ke Masjid.  Disuatu hari Sabtu, dimusim panas tahun 2007  kami bersiap-siap untuk hadir pada acara penting ini. Hilaal mengatakan bahwa acaranya usai/ba’da dzuhur. Siang itu kukebut  si maroon Reynold dengan kecepatan lumayan, dibagasi mobilku ada sepinggan besar Cheese cake, lengkap, serta beberapa piring kecil dan sendok plastik, sekedar untuk tasyakuran atau syukuran atau ‘celebration’ istilah lainnya.

Syukur ada tempat untuk parkir, langsung keruang lantai paling bawah (basement) Masjid Regent Park, London. Nampak beberapa orang yang saya yakin teman-temannya James yang datang menghadiri untuk menyaksikan acara ini, beberapa teman dari pengajian mingguan kamipun hadir. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan (kemeja sepanjang lutut), berwarna putih. Ia nampak tenang, begitu ia melihatku  ia menyambutku dan menyapa ‘Asalamualaiakum sister, thank you’. Akhirnya kami semua duduk lesehan ditikar rafia plastik menunggu kedatangaan pak Imam.

Tibalah pak Imam yang berasal dari Mesir, beliau menyalami James. Mereka duduk  berdekatan, nampaknya pak Imam tengah memberikan arahan sebelum pengikraran dimulai. Kami mendengarkan dan menyaksikan dengan penuh khidmat.  Semua perhatian terarah kepada mereka berdua,  akhirnya tibalah saat yang dinantikan:

‘Brother follow me: …La ilaha ilallah….’ Ujar pak Imam, dan Jamespun berupaya menirukan ‘La ilha ilallahilallah..’ dengan pelan dan susahnya ia mengikuti  pak Imam, …’ Muhammad dar Rasulullah….’ Dan Jamespun melengkapinya…’ ia mengulangnya untuk lebih afdhol. Whhuuus. nampak James terseyum riang lalu disalami oleh imam dan dipeluknya. ‘Alhamdulillah… you are Muslim now, all these brothers and sisters are witnessing you, so the angels in this room.’ ujarnya.  Kami bertakbir, pelan sekali.

Pak Imam berdiri meninggalkan kami semua, karena beliau harus memenuhi janji lainnya. Lalu kami datang mendekat James mengucapkan selamat  kepadanya ’Well Done, congratulation, Mabruk…hmmm mereka yang lelaki berjabat tangan dan berpelukan, tentunya, saya sibuk menjepret dengan sang digital.   Aku menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau sister dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja. karena kami tidak bersalaman. Lalu foto bersama. Usai itu kami ke kantin untuk bertasyakur,’ lets go to cantin to celebarte..’ undangnya.

Kami pesan minuman hangat teh atau kopi, beberapa orang pesan makan siang, karena mungkin belum makan. Kamipun duduk dengan bahagianya  Saya memilih duduk dekatnya agar bisa lebih banyak berbincang. ‘How do you feel now brother? tanyaku ‘Its great…alhamdulillah I feel so happy now feel just relief and its done!’ jawabnya. Tiba-tiba ia  mengatakan ‘ brothers and sisters…thank you for your coming, your are very supportive and really appreciate it’,  ujarnya. ‘I have chosen a Muslim name so call me from now ‘Zakariyya..no more James, please. Kami bertepuk tangan kecil.

Hadiah untuk brother Zakaria berdatangan. Ada yang  memberi kitab Al-Quran, buku tentang Islam, sajadah dll-nya. Kerlip  lampu camera bergantian mengabadikan peristiwa penting ini. Akhirnya kami menikmati  minuman dan makanan kecil berupa cheese cake. Ia tak hentinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, ia merasakan seperti mendapatkan keluarga baru. ‘New family’, Acara tasyakuranpun selessai, kami pulang.

Minggu depan kami berjumpa lagi dengan Zakariyya dipengajian. Lalu saya tanya bagaimana perasaan dia sejak ia menjadi Muslim. Konon ia merasa bahagia dan sepertinya saya betul-betul sudah muslim begitu lama, padahal baru seminggu.

Saat makan siang James turun kedapur lalu ia berbincang lagi tentang dirinya, tiba-tiba seorang ukhti muncul, lalu saya kenalkan. Ia bersegera mengeluarkan dompetnya lalu mencari secarik kertas dengan tulisan ‘ Zakriyya’. ‘I am trying to remember my new name..’ ujarnya, santun sekali ‘Yes my namae is Zakariyya with two wai (maksudnya y) ..’ ia memperkenalkan diri pada Nadia.  Di sms dia menyingkat menjadi Zak, atau bro  Zak..kadang lebih menyingkatnya menjadi initial Z. Itulah sekilas mengenai brother Zakariyya.

Ramadhan pertama

Ramadahn tahun 2007 adalah merupakan tahun pertama bagi brother kita ini melakukan shaum atau puasa dan baginya shaum merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa, walau katanya pada dua hari pertama ia rasakan amat berat. Dan ia bisa memahami seperti apa laparnya, mereka orang-orang miskin yang papa yang tak mampu membeli makan, sedang secara fisik ia merasakan pembersihan racun-racun yang bersemayam ditubuhnya. ‘I really enjoyed fasting , it is like de-toxed your body, and I felt so light on the third week’ kesannya.

Awalnya ia berminat pada Islam

Brother Zakariyya  menghitung dan mengenang kembali bahwa sejak pertama kali ia menyentuh dan membaca Al-Quran sampai saya bershahadat sudah berjalan 16 bulan. Tapi ko rasanya seakan saya sudah berIslam dan menjadi  Muslim seumur hidup. Ia  menafsirkan kalau begitu  secara fitrah saya sudah Muslim, karena dari dulu saya tidak pernah yakin tentang ajaran yang saya anut sebelumnya.

Zakaria bertutur bahwa: Orang tuanya  beragama Kristen tapi hampir tidak mempraktekan agamanya dan tidak ke gereja (they are not church goer). Saya selalu mengalami kesulitan menerima ajaran  kristen….’ kenangnya.’ Begitu banyak doktrin yang tidak mudah dicerna dan diterima oleh logika, tambahnya lagi. Hal ini telah menyisakan perasaan dan jiwa saya yang kosong (emptiness) bahkan saya merasakan secara fisikpun sepertinya diri ini tak punya arti apa-apa.  Ruang yang luas dan besar itu sepertinya betul-betul hampa untuk saya. Agama Kristen mengakui bahwa bahwa adanya Tuhan, maha Pencipta tapi saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan agama ini, ada sesuatu yang mengganjal dan saat itu saya tidak tahu apa.

Kemudian tambahnya lagi, ‘Saya berkenalan dengan seorang muslim sepuluh tahun lalu, seseorang yang setia dan tetap menjadi teman baik saya. Saya memiliki juga beberapa teman Muslim yang selalu membuat saya terkesan dengan  kebaikan, dan ketenangan teman Muslim ini. Mereka sangat rendah hati, santun  dan kemanusiawiannya sangat menonjol. Mereka selalu siap menolong, dan selalu siap menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam. Terus terang saja bahwa saya tidak pernah terlintas dan terfikir  bahwa saya akan menjadi pemeluk Islam. Ini luar biasa.!, ujarnya.

Pada musim semi tahun 2006, lanjutnya lagi, saya berjumpa seseorang yang memberi saya inspirasi  untuk menjamah  Al-Quran dan membacanya. Kebetulan saya tinggal dengan teman baik saya ini , dan hingga kini kami masih sahabat. Nah untuk menyentuh dan mengambil kitab Al-quran itu sebetulnya tidak susah dan tidak memerlukan waktu dan tenaga banyak yang mesti saya lakukan. Saya tinggal berjalan dari sofa ke rak buku yang cuma beberapa langkah untuk mendapatkan Al-Quran, mengambil  kitab itu dan membacanya.

 

Terjemahan pertama yang saya baca adalah yang dipublikasi oleh Penguin Books. Menurut saya  ini bukan sebuah translasi yang terbaik, karena setelah  saya cermati  si penerjemah  cenderung untuk menafsikan semaunya dan  tidak menerjemahkan secara benar atau dan tidak jujur tentang kebenaran.  Perasaan saya mengatakan seperti itu.  Namun ada satu hal yang baik dari penerjemah bahwa ia  menyarankan untuk membaca surat-surat  pendek dulu sebagai pemula dan  permulaan karena surat lainya yang panjang itu sangat kompleks. Ayat 55 dari surat Ar Rahman dan ayat-ayat pada surat-surat  At-Takwir (surat 81) itu saya kaitkan dan kesimpulan yang saya mabil  membuat saya termangu dan dan merenung yang membuat saya begitu takjub dengan Al-quran dan agama Islam…

‘           Saya ingat waktu pertama kali saya membaca Al-Quran,  saya merasakan getaran dan dorongan kuat dihati saya. Oh, ingin rasanya saya masuk Islam seketika. Agama Islam dan Al-Qur’an menawarkan ajaran  yang sangat alami, mudah dipahami dan diterima dan dicerna oleh logika dan hati sedang didalam Al-Quran juga banyak menceritakan kisah-kisah dan kehidapan para Rasul dahulu. Semua ajarannya seakan pas dengan kehidupan saya dan yang saya yakini. Al-Quran layaknya seperti keping-kepingan puzzle yang berserakan namun bisa digabung dan disatukan dan anehnya kepingan yang berserakan dan berbagai bentuk itu bisa disatukan dan menjadi sebuah gambar atau lukisan. Jelas, terang dan komprehensif. Saya melihatnya seperti itu, kata James.

Dalam waktu 2 bulan saya selesai membaca Al-Quran. Pada saat saya selesai membaca Alquran saya katakan kepada  teman-teman Muslim dan  keluarga tentang ‘Penemuan Baru’ saya ini, lalu saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin masuk Islam dan sekaligus saya katakan alasannya mengapa. Saya katakan kepada mereka bagaimana  dan apa itu Islam, juga makna untuk umum serta untuk kehidupan pribadi saya. Alhamdulillah keluarga saya mendukung dan paham akan perasaan saya.

Cukup banyak buku-buku dan literatur yang harus saya baca seperti: Kehidupan Muhammad saw yang ditulis oleh  Martin Lings dan beberapa buku yang ditulis oleh para muallaf (reverts). Saat ini saya sudah memulai membaca terjemahan Al-Quran lainnya dan membaca buku-buku Sejarah Rasulullah, Nabi Muhammad saw dari beberapa dimensi sambil mengunjungi beberapa mesjid disekitar London dengan beberapa teman, sekaligus mempraktekan sholat saya. Sekali seminggu, pulang bekerja saya belajar bahasa Arab ‘Arabic lesson’ (catatan penulis maksudnya belajar membaca Al-Quran dengan IQRO yang diajar oleh brother Hilaal) .

‘Pada detik-detik saya  akan melakukan shahadat  saya  berbicara lagi pada orang tua saya, sekedar meyakinkan dan mereka mengatakan bahwa mereka tetap tidak keberatan dan akan mendukung saya. Satu hal yang saya tidak bisa  pahami ‘kenapa keseluruhan proses ini begitu memakan waktu lama?’

Dibawah ini merupakan ayat dan surat favorite saya yang begitu kuat memberi saya inspriasi dan kekuatan hingga akhirnya saya berani berikrar untuk bershahadat:

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur:35)

 

13. KDL : Tidak Ada Kata Terlambat

Oleh : Al Shahida

penulis rubrik Kabar Dari London

Tidak ada kata terlamat bagi ‘Sarah Quinn’ pensiunan perawat (nurse) tinggal di Middlessex, UK yang mengikrarkan shahadatnya pada bulan Desember tahun 2006, seminggu menjelang ulang tahunnya yang ke 90’.

Rabu 25 Desember 2007 aku menerima ucapan selamat via telefon: ‘ Eid Mubarak sis…’ langsung kujawab’ Thank you and Eid mubarak to you too .’ lalu sambungnya ‘And merry bloody Chirstmast…! ucapnya. Aku sungguh terkejut menerima kata-kata bloody, entah apa maksudnya. Sindirankah?

“Hoosh…why do you say bloody? (bloody artinya sialan, slang. pen) tanyaku.

‘Well.. its true, its bloody christmast?

‘Lho emang  kenapa kamu kesel dan sebel nggak ngeraya-in natalan?

“Bukan sis…aku ikutan stress gara-gara krismasan, semua orang dibikin gila, panik, stress & kesurupan, mereka juga begitu agresif. Dimana-mana. Ditoko, disupermarket, dijalanan, semua penuh sesak, macet gara-gara ini, belum lagi yang mabuk..huh. Coba lihat sekarang, akhirnya mereka diam dirumah, merayakan festifal Pagan itu!, ujarnya. ‘Ooh…begitu’ kataku, lalu  ia menyelag,

“Jadi nggak sisi datang kerumah kami ? plis deh?  Biar rame, biar ibuku seneng ada yang mengunjungi, aku juga undang teman lainnya’ Syerif membujukku untuk datang kerumahnya di Eastcote, Middlessex pada hari libur yang bertepatan  pada tanggal 25 Desember pekan lalu.

Sebetulnya aku tidak bermaksud keluar, ingin menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda-tunda. Hebatnya sang brother merayuku kalau ia akan menolongku, menyelesaikan semua yang belum selesai, ujarnya: ‘Bring all your work, laptop, I will help you ,don’t worry” bujuknya.

Akupun berkemas menyiapkan laptop, USB, membawa beberapa draft surat dan laporan. ‘Ooops don’t forget  to bring Tiramisu,  Mum love it..’, pesannya.

Syerif alias Simon yang muallaf Inggris mengatakan bahwa ibunya merasa kesepian, karena biasanya dihari Natalan abangnya John, istri serta anak-anaknya datang merayakan natalan. Namun, karena Ibunya, telah memeluk Islam sejak Desember 2006, maka Natalan ditiadakan dirumahnya. Sementara Syerif ingin sekali membuat bahagia ibunya dengan mengundang kami untuk kumpul dan makan sore.

Ahad lalu Syerif tidak datang ke pengajian karena abangnya John datang berkunjung menjumpai ibunya, ‘ I cant go to the gathering sis because I want to make sure he doesnt give Mum wine..’ ujar Syerif via sms, padahal dia ingin sekali datang. Mereka datang membawa hadiah dan kartu natal untuk ibunya ‘kufikir sudah tradisi, gak bisa di stop sis, kubiarkan saja”, ujar Syerif.

Ke Eastcote, Middlessex

Alhamdulilah perjalanan ke Eastcote cuma memakan waktu 1½ jam, kalaupun ada trafik  tidak separah dihari-hari kerja. Karena aku lewat London city (atas saran Syerif) banyak kutemui pemandangan yang cukup merepotkan. Dijalanan kutemui beberapa  pengendara mobil yang rada riskan, tidak stabil, bahkan sangat pelan sehingga aku sering dikasih  lampu besar peringatan oleh pengendara mobil dibelakang. Disuruhnya aku mempercepat mobilku.

Mungkin akibat minuman alkohol yang berlebihan pada  malam sebelumny mereka membawa mobil begitu pelannya. Aku hampir  menabrak mobil sedan yang tiba-tiba  membelokkan mobilnya secara tiba-tiba tanpa memberi sinyal, yang rupanya mau berputar U-turn kekanan.  Untung aku sigap melempar  si mobil  kekiri  sehingga kecelakaan terhindar..dengan serta merta kuklakson dengan keras pertanda aku marah dan… maha besar Allah, aku masih terlindungi.

Begitu aku tiba mereka menyambutku. Aku langsung masuk dan nampak bunda Sarah sedang duduk diruang TV. Menyambutku.  Kusalami, sekaligus kupeluk hangat si ibu yang sedang menantiku. Lalu kukeluarkan bingkisan kecil, oh beliau nampak sumringah menerima  hadiah kecil, Sarah kemdian membuka hadiah itu.

“what is this? tanya beliau,

“Just something little for you..’ kataku.

Hadiah jilbab itu langsung menjadi bentuk segitiga.. ’Shall I put this in your head..? tanyaku. Yes please..’[i] jawabnya.. Subhanllah ia nampak ayu dan entahlah.. Syerif mengambil foto bundanya, klik..klik!  si ibu selalu mengucap kata-kata ‘cheese’ dengan senyum lepas.

[i]“Tapi Mum sudah engga wajib lagi khan pake jilbab, sis?” tanya Syerif.  Aku bilang ‘tidak’ karena beliau sudah lebih dari tujuh puluh, terserah beliau, tapiii, ujarku waktu sholat beliau wajib metutup kepalanya.  Syerif meng-iyakan. Saat kami sholat, si ibu hanya duduk di sofa, menggerakan tangannya sambil berusaha mengucap  lafadz ‘Allahu Akbar’ kami sholat dzuhur berjama’ah.

Berkelakar

Syerif mau meyakinkan ibunya tentang natalia  menggoda ’Mother remember no chrismast  today…’ si ibu menirukan, sambil menggelengkan kepalanya ’no Chrismas today, I know that Simon’ (ia masih memanggil Simon) . ‘You are not worried about Chrismast dinner either, are you mother? kelakarnya lagi. ‘No.. I am not hungry, anyway..’ jawab sang ibu. Akhirnya Syerif kedapur membuat teh untuk kita semua. ‘

Tahun ini ‘Sarah Quinn’ demikian nama lengkapnya tepat memeluk agama Islam dua tahun. Tepatnya pada tanggal 3 Desember 2006 (12 Dzul QAIDAH 1427) sepekan sebelum ulang tahunnya yang ke 90. Aku  ingat setahun lalu Syerif menel

fonku,  dengan gembiranya ia mengatakan bahwa ibuny sudah resmi bershahadat di Masjid Agung Regent Park Mosque, London , dan kamipun menyampaikan rasa bahagia ini lewat telefon, email atau sms. Kami semua berdoa dan mengucapkan selama untuk bunda Sarah Quinn.

Pertama kali menemukan Islam

Dengan agak terbata-bata, maklum sudah lanjut usianya beliau  bertutur bagaimana ia tertarik dengan Islam. Menurutnya pertama kali ia temukan Islam saat ia pergi mengunjungi anaknya Simon yang kini menjadi Syerif di Middle East. ‘Sepuluh tahun lalu’, imbuh Syerif.

“Saya dibesarkan dan dididik dengan cara Katollik dan selalu pergi ke gereja secara teratur.  Saya tidak pernah berfikir banyak tentang agama saya, juga saya tidak pernah bertanya apa-apa pokoknya saya terima apa adanya,  dan penuh.  Di Irlandia cuma ada dua  pilihan yakni agama Katolik atau Protestan. Itu saja. Tidak ada yang lain’ paparnya.

“Jadi memang saya termasuk yang patuh dan nurut, tidak pernah bertanya macam-macam, apalagi kritis dengan agama Katolik saya, walaupun ada satu hal yang membuat saya heran dan tidak paham dan selalu bertanya-tanya misalnya kenapa Pendeta di Katolik  tidak boleh menikah?”. Itupun baru muncul dibenak saya akhir-akhir ini saja.

“Soal Yesus..saya selalu percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi, dan saya selalu percaya bahwa  hanya ada satu Tuhan.  Terus terang saya tidak pernah paham Triniti  tapi juga tidak pernah merisaukan saya”, tegasnya lagi.

“Selama saya di Oman dimana anak saya Simon bekerja,  disitulah saya temukan ada agama lain selain Katolik dan Protestan. Disana saya berjumpa dengan berbagai Muslim yang begitu ramah, baik,  dan selalu menyambut hangat akan kedatangann saya.” kenangnya.

“Waktu itu saya tidak berfikir tentang Islam sama sekali”, ujar ibu Sarah sambil membenahi jilbabnya kebelakang, ‘…tapi saya betul-betul meresapi (absorbed) suasana yang begitu hangat, tenang dan penuh kedamaian yang akhirnya mungkin membuat saya mulai berfikir tentang Islam secara perlahan dan tanpa saya sadari.”

“Syerif memang sudah masuk Islam lebih dulu.  Saya cermati memang ada perubahan, misalnya dia tidak minum alcohol dan tidak lagi mau makan bacon. Namun yang lebih menonjol lagi ko anak ini lebih santun dan perhatian sama orang tua’ demikain ibu Sarah menjelaskan tentang anaknya Syerif. “Saya senang membaca, dia selalu membelikan saya buku-buku tentang Islam, yang mudah dipahami sehingga pengetahuan saya tentang Islam jadi bertambah, terutama beberapa tahun terakhir ini”

“Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya bisa jadi Muslim dan memeluk agama ini.  Selain membaca, kami selalu bercakap-cakap dan diskusi mengenai Islam, saya kira inilah kontribusi Syerif walau dia tidak pernah memaksa saya”.

“Namun…tambahnya lagi ‘ Satu yang sangat saya suka dan sangat beruntung, anak saya ini  begitu peduli mengurus dan menjaga saya, pada usia yang renta ini. Saya khan sudah tambah tua dan tidak begitu sehat. Mungkin dia banyak belajar dari Al-Quran dan Islam bagaimana sebaiknya sikap anak terhadap orang tuanya”.

Rupanya hal positif yang ia saksikan dan rasakan membuat perasaan ibu Sarah betul-betul ingin memeluk agama Islam.  Setelah difikir lama dan dipertimbangkan akhirnya bunda Sarah memutuskan untuk memeluk agama baru ini dan ia mengatakan  bahwa Islam adalah agama fitrah, lurus dan tepat untuknya.

“ Islam membuat saya merasa damai dan tenang’ bunda Sarah mengutarakan kesannya. Beliau mengatakan bahwa mereka (Muslim) kelihatannya  bahagia, tenang dengan kehidupan mereka walaupun kalau diukur secara materi kurang memadai, karena mereka tahu siapa Tuhannya dan percaya ada hari pembalasan.

“Itu lho teman-temannya Simo,  langsung menyambut dan menerima saya dengan hangat dan mereka semua tahu kalau saya masuk Islam dengan ikhlas dan tidak pura-pura, bukan karena pengaruh orang lain dan ini atas kehendak saya sendiri” sesekali saya pegang tangannya yang lembut, halus tapi dingin dan begitu rapih bentuk kukunya.

Bunda Sarah mengakui bahwa pengalamannya berkunjung ke Middle East telah berperan banyak ditambah percakapan dengan anaknya Syerif yang telah dengan sabarnya membimbing dan meyakinkan beliau tentang Islam. Ibu Sarah mengakui bahwa ketika ia memutuskan untuk masuk Islam ia tidak dipengaruhi oleh siapapun. “I made up my  mind’ ujarnya.

Tambahnya lagi : “Bayangkan my dear, seumur hidup saya menganut dan penganut Katolik..eh sekarang saya memeluk agama Islam, kadang saya bertanya bagaimana ko saya bisa jadi Muslim?.  Ini  merupakan tantangan baru untuk tahun yang baru  untuk saya sebagai seorang Muslim yang baru.  Alhamdulilllah, Allah masih memberi peluang kepada saya untuk menjadi hambaNya mengakui bahwa hanya Satu, bukan tiga, yaitu Allah serta pengikut Nabi Muhamda saw, padahal jarak ke kuburan untuk saya tinggal beberapa jengkal saja, bukan?. [i]‘Its never too late to change my religion’ . Tidak ada kata terlambat untuk berganti agama, walau saya sudah tua’. [/i]

Acara Ber-Lebaran dirumah

Percakapan kami sudahi, tak lama penganan siap dihidang bertepatan dengan kedatangan teman karib Syerif  yakni Mizan, Khalid dan Mahmoud. Kamipun duduk menikmati makan sore,  ‘ A High Tea atau Supper’ berupa Moussaka, makanan ala Yunani,  lengkap dengan nasi, salad, ditutup dengan non alkohol Tiramissu, cuci mulut ala Italy, home-made dan ditutup dengan kopi atau teh.  (Al Shahida)

 

14. KDNY : Direktur Itu Bersyahadat

Akhirnya, ”wanita menyebalkan” dengan tertawanya yang lepas dan bersuara keras itu mengucapkan dua kalimah syahadat dan memeluk Islam.

Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini cukup menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali tertawa lepas, bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan dirinya secara blak-blakan. Bahkan tidak jarang di tengah-tengah keseriusan belajar atau berdiskusi dia tertawa terbahak. Hal ini tentunya bagi sebagian peserta dianggap kurang sopan. Theresa, demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam menyampaikan pandangan-pandangannya. “From what I’ve learned I do believe Islam is the best religion”, katanya suatu ketika. (watch 1.5 million Americans converted to ISLAM in USA  )

“but why women can not express themselves freely as men?, lanjutnya.

Dalam sebuah diskusi tentang takdir dan bencana alam, tiba-tiba Theresa menyelah “wait..wait…what? I don’t think God will allow people to suffer”. Ternyata maksud Theresa adalah bahwa Allah itu Maha Penyayang dan tidak mungkin akan menjadikan hamba-hambaNya menderita. Dia menjelaskan bahwa tidak mungkin bisa disatukan antara sifat Allah Yang Maha Pemurah dan penyayang dan bencana alam yang terjadi di berbagai tempat.

Biasanya saya memang tidak terlalu merespon secara serius terhadap pertanyaan atau pernyataan si Theresa tersebut. Saya tahu bahwa dia memang memiliki kepribadian yang lugas dan apa adanya, dan sangat cenderung untuk merasionalisasi segala hal. Belakangan saya tahu bahwa Theresa dengan nama akhir (last name) Gordon, ternyata adalah direktur sebuah rumah sakit swasta di Manhattan. Kedudukannya itu menjadikannya cukup percaya diri dan berani dalam mengekspresikan dirinya.

Namun dalam tiga minggu sebelum Ramadan lalu, terjadi perubahan drastis pada sikap dan cara bertutur kata Theresa. Kalau biasanya tertawa terbahak apa adanya, dan bahkan tidak ragu-ragu memotong pembicaraan atau penjelasan-penjelasan saya dalam diskusi-diskusi di kelas, kini dia nampak lebih kalem dan sopan. Hingga suatu ketika dia bertanya: “Is it true that Islam does not allow the women to laugh loudly?” Saya mencoba menjelaskan kepadanya: “It depends on its context” jawabku.

“Some women or people laugh loudly for no reasons but an expression of bad attitude. But some others do laugh because that is their nature”, jelasku.

Maksud saya dalam penjelasan tersebut, jangan-jangan Theresa sering tertawa keras dan apa adanya memang karena tabiatnya. Bukan karena prilaku yang salah. Kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tabiatnya, tentu tidak mudah merubahanya. Sehingga kalau saya terfokus kepada masalah ketawa, jangan-jangan dia terpental dan lari dari keinginannya untuk belajar Islam.

Suatu hari Theresa meminta waktu kepada saya setelah kelas. Menurutnya ada sesuatu yang ingin didiskusikan. Setelah kelas usai saya tetap di tempat bersama Theresa. “I am sorry Imam” katanya. “Why and what is the reason for the apology?”, tanyaku. “I think I’ve been impolite in the class in the past”, katanya seraya menunduk. “Sister Theresa, I have been teaching in this class for almost 7 years. Alhamdulillah, I’ve received many people with many backgrounds. Some people are very quite and some others are the opposite”, jelasku. “But I always keep in mind that people have different ways of understanding things and different ways of expressing things”, lanjutku.

Saya kemudian menjelaskan kepadanya karakter manusia dengan merujuk kepada para sahabat sebagai contoh. Di antara sahabat-sahabat agung Rasulullah SAW ada Abu Bakar yang lembut dan bijak, tapi juga ada Umar yang tegas dan penuh semangat. Ada Utsman yang juga lembut dan sangat bersikap dewasa, tapi juga ada Ali yang muda tapi tajam dalam pandangan-pandangannya. “Even between themselves, they often involved in serious disagreement”, kataku. Tapi mereka salaing mamahami dan saling menghormati dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.

“Do you think I will be able to change?”, tanyanya lagi. Saya berusaha menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang perlu dirubah dari cara bersikap dan bertutur kata, dan itu adalah bagian esensial dari ajaran agama Islam. Tapi di sisi lain, saya ingin menyampaikan bahwa dalam melakukan semua hal dalam Islam harus ada pertimbangan prioritas. “I am sure, one day when you decide to be a Muslim, you will do so”, motivasi saya. “But don’t expect to change in one day”, lanjutku.

Hampir sejam kami berdialog dengan Theresa. Ternyata umurnya sudah mencapai kepala 4. Bahkan Theresa adalah seorang janda beranak satu wanita dan sudah menginjak remaja.

Hari-hari Theresa memang sibuk Sebagai direktur rumah sakit di kota besar seperti Manhattan, tentu memerlukan kerja keras dan pengabdian yang besar. Tapi hal itu tidak menjadikan Theresa surut dari belajar Islam. Setiap hari Sabtu pasti disempatkan datang walaupun terlambat atau hanyak untuk sebagian waktu belajar.

Sekitar dua minggu sebelum Idul Adha, Theresa datang ke kelas sedikit lebih awal dan nampak berpakaian rapih. Selama ini biasanya berkerudung untuk sekedar memenuhi peraturan mesjid, tapi hari itu nampak berpakaian Muslimah dengan rapih. “You know what, I’ve decided to convert”, katanya memulai percakapan pagi itu. “Alhamdulillah. You did not decide it Sister!”, kataku. “When some one decides to accept Islam, it’s God’s decision”, jelasku.

Beberapa saat kemudian beberapa peserta memasuki ruangan. Saya menyampaikan kepada mereka bahwa ada berita gembira. “A good news, Theresa have decided to be a Muslim today”. Hampir saja semua peserta yang rata-rata wanita itu berpaling ke Theresa dan menyalaminya. “So the big lady will be a Muslim?”, kata salah seorang peserta. Memang Theresa digelari “big lady” karenanya sedikit gemuk.

Menjelang shalat Dhuhur, saya meminta Theresa untuk mengambil air wudhu. Sambil menunggu adzan Dhuhr, saya kembali menjelaskan dasar-dasar islam secara singkat serta beberapa nasehat kepadanya. Saya juga berpesan agar kiranya Theresa dapat menggunakan posisinya sebagai direktur rumah sakit untuk kepentingan Islam. “Insha Allah!”, katanya singkat.

Setelah adzan dikumandangkan saya minta Theresa untuk datang ke ruang utama masjid. Di hadapan ratusan jama’ah, Theresa mempersaksikan Islamnya: “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah”. Allahu Akbar! [www.hidayatullah.com]

New York, December 24, 2007

 

15. Aku menjadi saksi atas ikrar Islamnya

oleh Indrayogi

Assalamu’alaikum wr wb, Hari itu tanggal 3 Oktober 2005. Saya sedang berada di masjid sedang rapat dengan remaja masjid lainnya untuk membahas rencana acara di masjid dekat rumah saya selama bulan ramadhan ini. Setelah isya, rapat dilanjutkan lagi dan selesai jam setengah 9. Pas ketika saya mau masuk mobil dan bersiap pulang, temen saya, Fatah memberi kabar bahwa salah satu rekan akhwat minta tolong ke Fatah dan ke saya untuk bisa mengantarkannya ke suatu tempat.

Ketika saya tanya, katanya temennya itu minta diantar ke rumah seorang ustadz karena temennya ada yang ingin masuk Islam malam itu juga. Subhanallah ! bergetar hati saya mendengar kabar itu. Tanpa dikomandoi lebih lanjut langsung saya nyalakan mesin mobil dan saya siap antar kemana saja. Setelah Fatah siap-siap dan saya memanaskan mobil, kami berangkat menuju universitas Bina Nusantara, karena kita janjian untuk bertemu disana. Sekitar 15 menit kemudian dia hadir bersama temen-temen Fatah yang lain.

Subhanallah ! ternyata yang ingin masuk Islam itu seorang wanita yang masih muda angkatan 2005 keturunan chinnese. Dia berasal dari Surabaya dan tinggal di Jakarta karena kuliah di Binus. Tertarik dengan Islam sejak dia di Surabaya tapi saat itu belum ada yang bisa membimbingnya untuk masuk Islam. Dia sempat bercerita sedikit bahwa dia kagum dengan Islam karena di Islam ada perintah untuk mengingat Tuhan sebanyak 5 kali sehari, sesuatu yang tidak dia dapatkan di agama sebelumnya, dan dia merasa hanya dengan Islam seorang hamba bisa dekat dengan Tuhan. Ya Allah, hati saya semakin bergetar dan ingin menangis rasanya mendengar pengakuannya yang jujur itu dan terlebih lagi ini adalah kali pertama saya menyaksikan seseorang yang akan mengucap syahadat.

Alhamdulillah prosesi itu bisa dilaksanakan di hadapan para ustadz, temen-temen RISMATA (remaja islam mesjid at taqwa) dan para hadirin lainnya. Di prosesi itu saya juga bertindak sebagai saksi dan ikut menandatangani surat pernyataan dari sang muallaf.

Ya Allah, betapa hebat cara Engkau memberikan hidayah kepada setiap hamba-Mu. Betapa Engkau memberikan suatu peristiwa yang sungguh indah di awal ramadhan tahun ini. Peristiwa bersejarah yang belum pernah aku saksikan secara langsung sebelumnya. Subhanallah….

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila seseorang masuk Islam, kemudian Islamnya menjadi baik, maka niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah dilakukannya. Setelah itu ia akan diperhitungkan ganjarannya, yaitu setiap kebaikannya akan diganjar sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sedangkan kejahatannya, hanya dibalas setara dengan kejahatannya itu, kecuali jika Allah memaafkannya”

[HR. An-Nasa'i, Ash-Shahihah no.247]

 

16. Anakku Dirampas karena “Aku Memilih Islam”

Kalau bukan karena kemurahan Allah, sudah gila aku menghadapi liku-liku perjalanan nasib. Murka keluarga, cacian sanak kerabat, cemoohan teman, memberondongku tanpa ampun. Bak anjing kurapan pembuat onar, ali disiksa sadis. Bahkan selembar selembar nyawa ini nyaris hilang. Muaranya satu, karena aku masuk Islam.

Mulanya memang aku seorang Katolik taat. Orangtuaku pimpinan dewan gereja. Mereka terpandang dan sangat dosegani. Bukan status sosialnya saja yg membuat pamor tersohor, tapi juga kekayaan yang kami miliki. Banyak orang menjuluki kami tuan tanah. Gemilang kemewahan membuat pribadiku keras hati. Apa saja mauku selalu ingin dituruti. Tapi, lama lama hatiku meradang. Tanpa tahu penyebabnya, aku kerap dilanda perasaan resah. Bosan. Tidak bersemangat.

Persaan tak karuan itu kontan berpengaruh pada seluruh kegiatanku. AKu jadi suka bolos sekolah dan malas kegereja, Sampai guru dan teman teman mencapku anak nakal. Padahal sebenarnya aku sering menyendiri. Ingin mencari jati diri.

Hingga suatu saat, aku disadarkan pada sebuah takdi yang harus kuterima. Aku seringkali didatangi mimpi mimpi aneh. Keanehan mimpi itulah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam hidupku.

HIDAYAH LEWAT MIMPI

Lelaki paruh baya berbaju dan bersorban putih dengan selendang hijau tiba tiba muncul dalam mimpiku. Dia menanti dipertigaan jalan yang biasa kulewati menuju gereja. “Nak, jalan kamu bukan kesitu!” tegurnya. Lalu dia tunjukkan sebuah jalan lurus yang bercahaya. Setiap kali mau melangkah, ada telapak tangan bertuliskan Lafaz Allah.

Ugh.. untung cuma mimpi. Sebagai orang Katolik, aku khawatir dengan mimpi ini. Namun ternyata malam malam berikutnya, mimpi yang sama terulang lagi. Sejak saat itulah aku dilanda perasaan aneh. Semacam dis-orientasi. Aku enggan bersekolah. Ke gereja pun tidak sama sekali. Anehnya aku malah penasaran terus mengenal Islam.

Mimpi senada terus mendatangi selama setahun lebih. Bahkan suatu ketika, setiap mau tidur, di dalam kamarku sering kudengar orang sholawatan, qasidahan, serta segala ritual lain yang biasa dikerjakan umat Islam. Penasaran, lalu kutanyakan pada orang seisi rumah, apakah mereka mendengar seperti yang kudengar. Ternyata tidak. Malah ketika kuceritakan mimpi-mimpi anehku, mereka mengatakan bahwa mungkin leluhurku yang beragama Islam sedang kangen padakui.

Aku tak digubris. Sementara mimpi anehku datang lagi. Kali ini aku dikasih jubah putih. “Pak, saya kan Katolik, bagaimana mungkin saya Shalat?” tanyaku. Lelaki itu lalu mengajakku ketanah lapang. Disana banyak sekali orang berpakaian serba putih. Oleh lelaki itu aku diajarkan membaca Al-Qur’an, dituntun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Herannya dengan pasrah kurelakan diriku melakukan semua itu.

“Pegang tongkat ini nak, bimbing orang-orang itu pergi Haji!”, pesanya. Hatiku dilanda ketakutan luar biasa. Tak lama kudengar azan. Badanku bergetar menggigil. Setelah azan, dalam mimpi itu kubaca surah Yaasin.

Apa sebenarnya maka mimpi itu? Dalam mimpi aku diajarkan membaca Al-Qur’an, begitu terjaga benar benar bisa kubuktikan bahwa aku bisa. Subhanallah… Hatiku yang lusuh kontan terang.

Ada perasaan pedih jika aku meninggalkan shalat. Sementara kalau tidak kegereja, hati ini biasa biasa saja. Perasaanku kini gampang melunak, mudah tersentuh, padahal sebelumnya sangat egois. Hati jadi lembut. Mengapa bisa hanya dengan mempelajari buku-buku Islam aku berubah seperti ini? Sekonyong konyong aku menjadi pribadi penuh santun dan menghormati orang lain.

BABAK AWAL PENYIKSAAN ITU

Sejak itu kudalami Islam. Kubeli buku buku tuntunan ibadah, beberapa kaset ceramah K.H. Zainudin MZ yang waktu itu jadi trend, serta sebuah jilbab. Tentu saja kegiatan baru itu ini kulakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sangat menikmatinya. Maka lama-kelamaan sudah bisa kulaksanakan sholat, puasa, bahkan berjilbab.

Syahdan aku menjadi muslim sebelum aku benar-benar sah sebagai seorang muslim. Inikah hidayah itu?

Interesku akan jilbab ini memicu tindakan yang lumayan ekstrim. Alu sering datang ke mesjid layaknya seorang muslimah. Aku ingin bertanya pada orang-orang disana tentang tata cara gerakan sholat. Aku tahu tindakan ku bakal menuai resiko besar. Kalau sampai penyemaranku sampai terbongkar, aku pasti dibunuh.

Tapi kawan, tidak bisa kugambarkan perasaan ini ketika aku telah mengenal Islam. Ketika aku membawa AL-Qur’an, Tasbih, Yaasin, hatiku tenang. Relung hatiku syahdu.

Untuk mempelajari Islam lebih lanjut, kudatangi sanak kerabat yang muslim. “Bisa gila aku kalau sampai tidak bisa masuk Islam, kak!” kataku kepada mereka. Malangnya, reaksi mereka diluar dugaanku. Tak satupun yang percaya bahwa aku ingin masuk Islam. Mungkin karena keluargaku termasuk keluarga Katolik berpengaruh, mereka tak mau ambil resiko jika harus menampungku.

Serapat rapat bangkai ditutup pasti akan tercium juga. Saat pembagian raport, ‘aktivitas baruku’ akhirnya terbongkar. Pasalnya pihak sekolah memberitahu orangtuaku bahwa aku nunggak bayar SPP berbulan-bulan. Belum lagi aku sering bolos sekolah. Aku di interogasi. Aku bersikukuh tidak menceritakan aktivitasku yang sedang mendalami Islam.

Hingga suatu ketika aku berpapasan dengan teman kakakku dijalan. Dia mengamatiku penuh selidik. Sebab waktu itu aku sedang berjilbab. Jujur aku gugup. Takut ketahuan. Ternyata benar firasatku. Saat tiba dirumah, aku langsung babak belur dihantam oleh kakakku yang kebetulan seorang tentara.

Masya Allah. Inilah awal petaka itu. Seperti orang kesurupan , tubuhku dihujani pukulan dan tendangan. Aku roboh. Sepatu laras dengan tubuh besarnya menginjak tubuhku yang tak berdaya. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh Tuhan. Sakit sekali. Darah bereceran. Aku pingsan. Bibirku robek. Badanku biru lebam.

Celakanya tidak satupun yang mau melindungiku. Malah mereka menggeledah kamarku. Mereka temukan semua “simpananku”, Al-Qur’an, buku-buku tuntunan ibadah, tasbih, sajadah. Mendapatkan itu semua, kakakku yang kejam makin blingsatan menyiksaku.

Allahui Akbar. Tubuhku tak kuat lagi. Tapi hei, anehnya nyaliku ini sama sekali tak ciut. Semakin keras sikasaan menimpaku, semakin aku merasa punya kekuatan.

“Ananda ingin masuk Isam…” pintaku lirih dengan suara parau.”Gila kamu! Sinting!! Otakmu sudah tidak waras!! teriak saudara saudaraku. Bak pencuri yang tertangkap basah, aku jadi bulan bulanan. Yaa Allah! Tolong aku!

MALAIKAT PENOLONG

Mereka menduga aku dipengaruhi oleh seseorang. Untuk anak sebayaku yang sedang ranum begini, jejaka mudalah yang jadi sasaran curiga mereka. Dikiranya aku sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda muslim. Padahal pacaranpun aku tidak pernah.

Sejak peristiwa itu aku dikurung. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, mereka menegorku, Pukulan bak suguhan makanan. Dalam satu minggu, kadang lebih dari 20 kali kakakku menyiksaku. Tapi masya Allah, semakin aku ditekan begitu, keinginanku masuk Islam malah semakin kuat. Ketenangan dan kedamaian yang kutemukan dalam Islam membuatku mudah berbesar hati.

Satu satunya cara agar aku lepas dari cengkeraman keluarga adalah keluar dari rumah. Kuutarakan pada keluarga bahwa aku ingin melamar kerja disebuah perusahaan besar. Padahal yang terpikir olehku adalah melamar jadi pembantu. Entah kenapa mereka membiarkan aku melenggang.

Jauh dari rumah kurasakan kebebasan nyata. Tapi aku belum juga melaksanakan niatku untuk masuk Islam. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria. Dia seorang Intel. Kayaknya bertemu kawan lama, kuceritakan keinginanku masuk Islam dan penyiksaan keluarga.

Dia sangat terkejut. Sadar akan bahaya yang mengintaiku setiap saat, dia menawarkanku untuk pergi kekapmpung halamannya. Disana aku ditempatkan disebuah pondok pesantren. Dan atas bombingan tokoh agama setempat akhirnya aku dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

MEREKA MERAMPAS ANAKKU

Rupanya lelaki yang menolong itu ditakdirkan Allah menjadi suamiku. Beberapa bulan kemudian kami menikah. Dan tak lama kami dikaruniai anak. Aku hamil. Melihat kebahagiaan ini, menyarankan agar aku silaturahmi mengunjungi orang tua dan sanak keluargaku. Mungkin dengan kehadiran anakku nanti hati mereka lunak.

Aku pulang seorang diri karena suami sedang ditugaskan keluar daerah. Begitu sampai dirumah, ternyata drama penyiksaan itu kembali disuguhkan. Aku dikurung hingga waktu melahirkan. Kondisiku yang berbadan dua ternyata tidak mengibakan hati mereka. Bahkan ketika aku berhasil melahirkan, anakku langsung direbut.

Kawan, hati ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya. Tak boleh aku berdekatan dengan anakku. Bahkan untuk menyusui sekalipun. Selama aku tidak mau ke gereja tak akan ada kesempatan menimang anakku.

“Apa kamu bisa besarkan anak padahal kamu kere!” Begitu jawaban saudara saudaraku jika aku meminta anakku. Hatiku remuk redam.

Mereka kembali mengejekku, menertawakanku. “Rasain, siapa suruh masuk Islam!” Kesalahan sedikit yang kubuat selalu dijadikan senjata oleh mereka untuk mengintimidasiku. Bahkan saat anggota keluarga yang lain yang melakukan kesalahan, tetap kesalahan dituduhkan padaku. Mereka ciptakan jarak, sepertinya aku ini tak pantas berada ditengah tengah mereka.

Sampai suatu ketika ada kesempatan untuk kali kedua, aku kembali berhasil kabur. Walau harus ku tinggal

kan anakku. Kelak jika Allah mengizinkan aku akan menjemputnya.

Saat itu sedang ramai ramainya orang mendaftarkan diri sebagai TKW. AKu ikut mendaftar dengan harapan bisa dibawa pihak perusahaan pergi jauh.

SUAMI SELINGKUH

Aku kembali ke kampung halaman suamiku. Namun mertuaku kecewa karena tak bisa melihat cucunya. Sementara suami yang sedang tugas di rantau tak juga kembali. Malah kudengar kabar suamiku selingkuh. Aku berusaha sabar. Apapun yang terjadi. Alhamdulillah, akhirnya rumah tangga kami selamat. Bahkan tak berapa lama kami dikarunai beberapa anak.

Namun itu tak lama. Suamiku kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Dia jarang pulang. Sering menginap dirumah kos wanita simpanannya. Padahal aku sedang hamil lagi. Ya Allah, semoga ujian ini menjadi jalan agar kau tambah sayang padaku!.

Aku jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Aku berusaha tak mau tahu walaupun tahu. Namun aku tak mau dibuat bimbang, apakah suami menceraikanku atau tidak. Akhirnya, kutemui suami ditempat simpanannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kudapati suami sedang tidak berbaju dengan perempuan itu. Dan teganya dia mengusirku sambil menjatuhkan talak.

Sempat kupikir, mungkin suami begini karena aku tak kerja (lantaran hamil). Memang penghasilanku cukup lumayan. Bahkan dari hasil kerja kerasku bisa kubangun rumah, beli kendaraan, tanah, ternak sampai menyekolahkan saudara-saudara iparku.

Aku tetap ingin mempertahankan rumah tanggaku. Subhanallah. Allah Maha Mendengar. Suamiku sadar kembali. Tapi inipun tak lama. Suamiku selingkuh lagi. Parahnya kini dia jadi tukang pukul. Tidak ada ujung pangkalnya, dia sering memukuliku. Dia tidak mau menyentuhku. Bahkan dengan tegas dia mau tinggal dengan simpanannya. Yang sangat menyakitkan, dia membawa anak anak kerumah kontrakan itu.

Dihadapkan pada persoalan sebesar in, beruntung kepalaku tetap dingin. Perasaanku tetap tenang. Tidak mudah tersulut emosi. Aku sendiri heran, mengapa aku bisa sekuat ini.

Ketika kuputuskan mendatangi suamiku, rasa cemburu dan amarah bisa kutekan. Malangnya, dia malah menjatuhkan talak, memaki dan menempelengku.

Yang kusesalkan, ulah suamiku kali ini didukung bapak mertua dan saudara-saudaranya. bahkan bapak mertua rela menceraikan ibu mertuaku gara-gara ibu mmebelaku.

Suamiku semakin gila. Kini dia berani membawa simpannnya kerumah. Bahkan berbuat mesum dikamar. Kutemukan suami sedang berzinah. Seketika itu juga aku pingsan. Dan disaat aku tak sadar, mereka sedang siap-siap kabur. Menyadari situasi yang membahayakan anaknya, bapak mertua membantu kabur sambil membawa anak-anakku. Aku heran, kenapa mertua mendukung anaknya dalam kemaksiatan?

Begitu siuman muka dan badanku dihantam ketembok. Sampai bibirku sobek. Saat itu juga dia jatuhkan talak tiga. Aku berusaha mengiba agar dia jangan menceraikanku. Namun ia menjawabnya dengan tendangan. Ya Allah, kuabdikan diri ini untuk mereka, suami dan keluarganya. Karena kuanggap orangtuaku telah tiada. Namun tak satupun peghargaan diberikan atas pengorbananku.

Tak kusangka tanpa sepengetahuanku rumah dan harta bendaku telah dibalik nama atasnama suami dan nama saudara saudaranya. Aku diusir. Setelah sebelumnya mereka mengeroyokku. Semua pintu rumah ditutup. AKu dicekik. Aku megap megap teriak minta tolong. Oh teganya mereka melakukan ini, padahal aku sedang hamil lagi. Mirisnya mertuaku tak percaya. Ia menuduhku bahwa itu bukan janin cucunya.

Aku bingung mau kemana. Untuk beberapa saat aku hidup dari belas kasihan orang lain. Hingga akhirnya aku lari kepondok pesantren.

Tak berapa lama kudengar kabar suami meninggal. Ia tewas tertembak saat sedang bertugas. Allah memisahkan kami saat kami belum berbaikan. Tapi sudah kuikhlaskan semua kelakuannya. Tidak ada kebencian sedikitpun terhadap dia. Kuanggap dia sedang tersesat dan harus dibimbing. Akupun berusaha berpikir positif. Kalau dia hidup hanya akan terus menerus berbuat dosa, lebih baik dia diambil Allah.

Masa melahirkan seakin dekat. Aku tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk pihak pesantren. Dengan berbagai pertimbangan, kucoba telpon kerumah. Tak diduga respon mereka baik. Bukan seperti yang kubayangkan. Mereka berjanji tidak akan menyiksaku jika aku pulang.

LEPAS DARI MULUT HARIMAU, KEMBALI KE MULUT BUAYA

Sambutan hangat benar-benar kurasakan saat kakiku kembali menginjak rumah. Terima kasih, ya Allah, mereka tulus menerimaku. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi belum genap sebulan, penyiksaan gila itu terulang lagi. Bahkan kini lebih sadis.

Aku tidak diberi makan, Kalaupun dusuguhi makanan, makanan itu makanan haram, seperti daging babi atau anjing. Dua anakku telah berhasil dibaptis. Sementara yang belum terus dibiasakan ke gereja.

Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. “Kakak dan adik saya nggak, sama mama?” tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. “Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita”.Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. “Ya Allah… ingin sekali kugenggam tanganMU..”. “Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!”

YA ALLAH TOLONG KAMI

Kabur sedari dulu kurencanakan. Tapi penjagaan ketat membuatku tak berkutik. Lagi pula aku bingung mau kabur kemana? Tetapi kalau tidak lari mereka akan membaptis anak anakku. Aku khawatir akidah anak anak akan terkikis.

“Allahu Akbar.. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat” membukakan jalan. Sehari sebelum dibaptis, hujan besar terus menerus. Dari pagi kemalam, hingga pagi lagi. Semua penghuni rumah terlelap. Biasanya mereka tidur diruang tengah sambil mengelilingi anak anakku. Tapi malam itu mereka masuk kamar masing masing.

Kuajak anakku tiga orang. Sementara yang dua tidak bisa. Tak mungkin mereka kubawa lari semua, berjalan selama berkilo-kilo menuju kerumah saudaraku yang Islam. Sayangnya tidak satupun yang mau menerima kami, karena mereka tahu kondisi pengawasan terhadapku semakin gawat. Mereka takut keluargaku yang terpandang dan punya pengaruh besar itu mengamuk.

Yang bisa mereka lakukan hanya memberi sumbangan ala kadarnya. Saat itu juga terkumpul dana 300 ribu rupiah. Aku disuruh kerumah saudara yang ada di pulau seberang.

Maka malam itu juga kami ke dermaga. Malangnya kapal baru berlayar dua hari lagi. Oh jadi selama itu kami harus bermalam di dermaga.

Perasaan haru dan bersalah tak bisa kututupi melihat ketiga buah hatiku. Yang kelas kelas 3 & 1 SD, serta yang berumur 1.5 tahun. Kami bertahan hidup dengan makan seadanya. Beruntung kedua anakku yang bersekolah sudah biasa puasa, sehingga dua bungkus nasi sudah cukup untuk makan sehari.

Pelarianku kepulau seberang ini ternyata tak bisa bertahan lama. Kabar tentang keluargaku yang tahu akan keberadaanku membuat saudaraku dipulau itu panik. Mereka tahu dari daftar nama penumpang. Apa susahnya bagi kakakku tang tentara itu menyelidiki keberadaanku??

Akhirnya kuputuskan untuk kembali kerumah mertua. Apapun resikonya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menyelamatkan aqidah anak-anakku. Meski mertua kejam kepadaku, tapi tidak kepada cucu-cucunya.

Adapun pekerjaanku disebuah LSM Internasional kini sudah berakhir. Rupanya atasanku dekat dengan tanteku yang Katolik. Bosku membujuk agar aku kembali lagi ke Katolik. Aku ditawari rumah mewah dengan wilayah domisili dibeberapa negara hebat didunia. Bahkan dia akan membuat asuransi pendidikan buat anak-anakku agar dapat bersekolah sampai level tertinggi.

Biarlah kesengsaraan menggelayutiku. Toh kedua tangan dan kakiku masih berfungsi. AKu akan cari kerja lagi. Aku ingin dapat tempat tinggal agar cepat bisa berkumpul dengan anak-anakku.

Nun jauh dilubuk dasar hatiku terselip perasaan rindu dapa orang tuaku. Demi Allah, aku masih menyayangi mereka meski aku disisihkan dan disampakkan. Yang aku inginkan hanyalah pengertian mereka akan keputusanku memilih islam.

Pernah kucuci kaki kedua orangtuaku dan kuminum air basuhannya. Tapi mereka bergeming. Dan akupun sama. Tak sejengkalpum kuubah pendirianku dan kembali keagama lama. Walau harus kehilangan segala-galanya, aku rela. Tapi aku tak rela jika Islam tercerabut dariku dan aku meninggal dalam keadaan murtad, tanpa menyebut nama Allah, tanpa zikir Laa Ilaaha Illa Allah… Aku tidak rela

 

17. Herman Halim ( d / h Lim Xiao Ming ), Mualaf dari Bank Maspion

 

Allah memang berhak untuk membuka hati siapa saja untuk menerima ajaran Islam secara kaffah. Begitu juga dengan Herman Halim, Presdir Bank Maspion ini terbuka hatinya dan memutuskan untuk menjadi Muslim. “Saya masuk Islam Tanggal 27 Agustus. Saya bersyahadat di Masjid Ceng Hoo Surabaya dan disaksikan oleh banyak orang,” tuturnya kepada NURANI saat ditemui di kantornya.

Ketertarikan Herman Halim akan Islam memang berangkat dari perenungan panjang. Namun, ia mengaku lebih banyak dipengaruhi Andrew anak keduanya.

Herman menerangkan bahwa saat dirinya bersyahadat, ia tidak disertai dengan keluarganya. “Saya berangkat ke sana sendiri. Untungnya, teman saya di PITI Masjid Ceng Hoo banyak. Jadi sudah dipersiapkan. Bahkan Pak Ali Markus, memberikan selamat ketika saya sudah bersyahadat,” terangnya sambil tersenyum.

Saat ditanya tentang tanggapan keluarga ketika dirinya menjadi Muslim, Herman Halim menerangkan bahwa pihak keluarga sebenarnya mengkritik, namun tidak berani secara frontal. “Setahu saya, mereka hanya berani mengkritik atau menyindir. Mereka tidak berani bertanya secara frontal. Mungkin karena saya saudara tertua. Jadi mereka segan dengan saya,” ungkapnya.

Ditanya soal ketertarikannya kepada Islam, pemilik nama Lim Xiao Ming ini mengatakan bahwa dirinya mengenal Islam sejak enam tahun lalu, dari kesukaannya membaca buku-buku agama. “Saya memang senang membaca segala buku agama, mulai dari agama Budha, Kong Hucu, Kristen, dan Islam,” terangnya.

Ayah dua anak ini mengatakan bahwa dari kesukaannya membaca buku-buku agama inilah dia mulai menyerap intisari dari agama. “Dari pembacaan dan perenungan semua intisari agama yang saya serap, bahwa semua agama itu benar dan mengajarkan kebaikan (namanya juga mualaf – amanah). Cuma penyampaiannya bermacam-macam,’ terangnya

Setelah merenung sekian lama, akhirnya pimpinan Bank Maspion ini memilih Islam menjadi keyakinannya setelah ia memeluk agama Kristen. “Saya melihat Islam adalah agama terakhir, dan ia mengambil dari semua intisari agamayang telah ada. Sehingga ajaran Islam begitu lugas dan mudah diserap secara kaidah,” terangnya.

Ketika ditanya tentang latar belakang agama keluarga Herman Halim, ia menjelaskan bahwa keluarganya memeluk beberapa agama. “Dalam keluarga saya tidak fanatik memeluk satu agama. Saya dulu agamanya Kristen. Sedangkan saudara saya ada yang Budha ada juga yang Kong Hucu. Malah, istri saya beragama Budha,” terangnya.

Sikap inilah yang dipegang teguh Herman Halim dalam membentuk karakter keluarganya. Bahkan soal menganut agama, ia tidak pernah memaksakan kepada kedua anaknya. “Anak saya, saya bebaskan dalam memilih agama. Saya tidak pernah melarang hal itu,” ujarnya.

Terpengaruh Anak

Ketertarikan Herman Halim akan Islam memang berangkat dari perenungan panjang. Namun, ia mengaku lebih banyak dipengaruhi Andrew anak keduanya. Awalnya Herman Halim keget dan menanyakan tentang keinginan anak keduanya memeluk agama Islam. Namun, Andrew bisa meyakinkan ayah dan keluarganya tentang niatnya menjadi Muslim.

“Apa perbedaannya dengan agama yang kamu yakini selama ini ?” tanya Herman Halim kepada Andrew saat itu. “Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. Namun Islamlah yang membuat saya lebih tenang dan pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran Islam daripada yang lain,” ujar Herman yang menirukan pendapat Andrew.

Dari diskusi antara anak dan ayah inilah, Herman terus mencari dan mencari jawaban atas argumen yang dikemukakan oleh Andrew. “Saya mengenal Islam lebih banyak setelah Andrew menerangkan kepada saya dan keluarga tentang ajaran Islam sesungguhnya,” ujarnya.

“Saya juga heran, padahal ia sejak kecil sudah ada di Australia. Namun ia begitu kuat saat menerangkan tentang bagaimana ajaran Islam,” tambahnya. Herman menerangkan, dalam menjelaskan agama Islam, Andrew Halim ini membawa Al Quran dan Injil. “Ia membandingkan antara ayat per ayat. Bahkan, beberapa dari paman dan bibinya tidak bisa menyela dan menjawab pertanyaan Andrew,” terangnya.

Dari pertemuan antara Andrew dan keluarga yang juga dihadiri oleh Herman Halim itulah akhirnya wacana tentang kebenaran Islam mulai terungkap. “Sejak itu saya jadi tekun belajar Islam. Saya baca Al Quran yang terjemahan dari Bahasa Inggris dan Tionghoa. Saya terus mencari apa yang dikatakan Andrew,” terangnya.

Menurut Herman Halim, Andrew bukan tipe orang yang mudah percaya dengan sesuatu. “Andrew itu, untuk percaya dan yakin biasanya sudah melalui penelitian dan perbandingan antara baik dan buruknya,” terangnya.

Makanya, Herman Halim yakin bahwa apa yang diyakini anaknya adalah suatu kebenaran yang pasti. “Saat saya beritahu saya menjadi Muslim, ia begitu senang. Ia menyebut lafal Allahu Akbar berulang-ulang. Ia begitu senang saya masuk Islam,” paparnya.

Lebih Tenang

Herman Halim saat ini mengaku lebih tenang batinnya setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat. “Pertama kali saya melaksanakan salat, hati saya rasanya tenteram dan damai. Tidak pernah saya merasakan hal seperti ini sebelumnya. Meski saya tidak fasih cara melafalkan Arabnya, namun saya tahu arti Bahasa Indonesianya,” paparnya sembari memejamkan mata.

“Saat shalat hati saya damai, sehingga bisa melepas kejenuhan dan stres saat bekerja. Saya lebih mantap dalam mengerjakan tugas-tugas kerja,” tambahnya.

Yang paling menarik bagi bagi pemilik nama asli Lim Xiao Ming ini dalam mempelajari Islam adalah cara menghafal bacaan salat. “Kalau salatnya sih sudah bisa dipelajari. Tapi kalau melafalkannya, ini saya masih kaku. Butuh waktu yang banyak,” ujarnya. “Kalau lupa bacaannya, bukunya saya baca, lalu saya kembalikan lagi. Lucu pokoknya kalau melihat saya belajar salat,” tambahnya sambil tertawa.

Namun, Bapak dari Albert Halim dan Andrew Halim ini tidak menyerah. Ia bertekad untuk bisa melafalkan bacaan Al Quran serta belajar membaca Al Quran. “Saya berencana mendatangkan guru privat Bahasa Arab. Dan saya ingin sekali bisa melafalkan bacaan salat,” niatnya. (Tabloid NURANI)

 

18. Hj Aga Aju Nitya D. SE MM : Kagumi Konsep Salat Lima Waktu

Berawal dari keinginan untuk membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama yang baik, membuat Hj Aga Aju Nitya D. SE MM tertarik pada Islam. Dia meninggalkan agama lamanya dan menjadi islam sebagai pedoman hidup. Berikut curhatnya pada wartawan NURANi, Rohmah Hidayati.

SEBENARNYA saya tidak pernah terbayang sedikitpun untuk memeluk agama Islam. Karena keluarga saya pemeluk agama Hindu yang taat. Dari kecil saya juga dididik untuk taat kepada agama nenek moyang saya itu. Hingga akhirnya ketika hidup saya berubah, saya bercerai dengan suami pertama. Saat itulah, saya berpikir untuk melirik Islam. Meskipun keluarga saya Hindu, namun lingkungan tempat tinggal saya banyak yang Muslim. Saya merupakan orang yang berpikiran praktis dan simpel. Saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang bermoral, maka saya meranggapan anak-anak tersebut harus memiliki dasar agama yang baik.

TERTARIK ISLAM

Sebagai single parent saya tidak mempunyai waktu untuk mendidik mereka secara langsung. Butuh orang lain yang harus mengajar anak saya itu. Tetapi di agama Hindu, saya belum menemukan seorang pemuka agama yang dapat diundang untuk mengajar secara privat. Berbeda dengan agama Islam, yang sangat mudah mengaksesnya.

Dengan dasar pemikiran yang simpel bahwa semua agama tentunya mengajarkan kebaikan, maka saya memilih Islam dengan alasan agama ini mudah sekali mengaksesnya. Mulai dari melihat pengajian di TV, mendengarkan radio, dari buku bahkan bisa membeli kaset maupun VCD. Tidak hanya itu banyak juga pengajian-pengajian yang mengupas tentang materi keagamaan. Karena hal itu belum saya temukan dalam agama yang saya anut sebelumnya.

Akhirnya saya dan kedua anak saya, Gede Rajendra Darma (15) dan Made Santrupti Brahmi (11) masuk Islam. Kontan saja keputusan saya ini sangat ditentang oleh keluarga besar saya. Mulai orang tua, kakak dan adik beserta saudara lainnya memusuhi tindakan saya tersebut. Karena dalam sejarah keturunana keluarga kami, tidak ada yang menjadi mualaf, kecuali bude saya, dan sekarang saya sendiri.

Meskipun mulanya hanya tertarik karena Islam mudah di akses, namun semakin mendalami agama ini, saya semakin jatuh cinta. Karena saya lebih dapat menerima ajaran-ajaran yang ada dalam Islam, seperti konsep ketuhanannya, yang menyembah satu Tuhan Allah. Sehingga akan saya benar-benar bisa menerima bahwa Tuhan inilah yang sesunguhnya saya harapkan, dengan tanpa niatan untuk merendahkan agama lain beserta konsep ketuhanannya. Saya orang yang menghormati kepercayaan orang lain. Meskipun saya menganggap Islam benar, namun saya tidak ingin menyalahkan ajaran lain.

KONSEP SALAT FARDU

Selain dari beberapa media massa serta buku, saya juga belajar Islam pada seorang ustadah. Darinya saya lebih mengenal Islam sehingga bertambah kecintaan saya pada agama samawi ini. Saya merasakan betapa beruntungnya orang yang memeluk Islam. Dia bisa bertemu dengan Tuhannya lima kali dalam sehari semalam.

Bayangkan saja, ketika dalam waktu antara Subuh dan Lohor melakukan dosa, maka pada waktu Lohor bisa menebusnya. Begitu juga bila melakukan kesalahan selepas salat Lohor, pada saat Asar bisa menebusnya, begitu seterusnya. Ternyata Tuhan orang Islam sangat baik, karena memberikan waktu yang demikian banyak kepada hamba-Nya. Belum lagi dengan salat-salat sunah lainnya.

Saya begitu kagum pada Islam. Hingga akhirnya saya bertemu dengan pria yang menurut saya memiliki latar belakang agama Islam yang baik. Karena keluarganya sudah bergelar haji semua, maka saya memutuskan menikah dengan dia. Namun, harapan saya itu tidak terwujud. Suami yang saya harapkan dapat membimbing saya, ternyata semakin menipiskan keimanan saya. Bagaimana tidak, dia tidak pernah menafkahi saya meskipun saya tidak mengharapkan uang darinya. Namun, sebagai istri saya juga menginginkan dinafkahi oleh suami. Yang lebih menyakitkan lagi, ketika suami hidup satu rumah dengan mantan istrinya, saya merasa hal ini tidak dapat ditolerir lagi.

Saya sudah menawari pada suami untuk berpoligami saja, saya siap dimadu dengan mantan istri pertamaya, namun hal itu ditolaknya. Karena kelakukan suami dan keluarganya yang kurang bisa menerima saya itu, keluarga saya semakin membenci Islam. Bahkan yang semula mereka sudah mulai menerima keputusan saya memlih Islam, semakin membenarkan anggapan mereka bahwa Islam bukanlah agama yang tepat untuk saya pilih.

BANYAK UJIAN

Saya begitu kecewa dengan suami dan keluarganya, bahkan saya pun sempat kecewa dengan Tuhan. Saya yang masih membutuhkan banyak bimbingan untuk lebih mengenal Islam, malah ditelantarkan. Saya sempat protes pada Allah dengan meninggalkan salat. Namun alhamdulillah akhirnya saya disadarkan kembali oleh ustadah yang membimbing saya itu.

Bukan Islam yang salah, tetapi sayalah yang salah, karena bertemu dengan orang-orang yang kurang tepat. Akhirnya saya bertekat untuk menggugat cerai suami, karena dia tidak mau mengakui Arinanda Kesuma (3) buah pernikahan saya dengan dia.

Saya kembali lagi pada ibu saya yang tinggal di daerah Kenjeran, saya sudah menantang suami saya itu untuk melakukan tes DNA, untuk membuktikan bahwa Nanda adalah anaknya. Namun dia tetap keukeu dengan pendirianya itu. Sehingga anak saya hingga saat ini tidak ada yang mengakui anak. Padahal ayahnya jelas-jelas mantan suami saya itu.

Saat ini saya masih berjuang agar hidup saya lebih settle, saya ingin segera menyelesaikan program S-3 saya yang di Malaysia. Dan juga segera menyelesaikan akademi kebidanan yang saya ikuti saat ini. Untuk menghidupi ketiga anak saya, saya rela bekerja apa saja, bahkan saya pernah menjadi pramugari, dosen, wartawan, dan lainya.

Saat inilah saya hanya berharap, semoga Allah memberikan kekuatan kepada saya, saya tidak ingin keimanan saya goyah lagi. Jika saya masih mendapat jodoh lagi, saya ingin memilki suami yang benar-benar bisa menjadi imam bagi saya dan anak-anak saya. Sehingga, saya dan anak-anak dapat memeluk Islam dengan aman dan utuh. 04/mah/Tabloidnurani

 

19. Jilbab Akhirnya Menghiasi Istana Cankaya

Jilbab akhirnya menjadi bagian dari Istana Cankaya di Istanbul. Adalah Hayrunnisa Gul yang mengenakannya. Istri Abdullah Gul, mantan menteri luar negeri yang Selasa (28/8) dilantik menjadi presiden ke-11 Turki, menjadi Ibu Negara Turki pertama yang berjilbab.

”Jilbab hanya menutupi kepala, bukan otak saya,” tegas Hayrunnisa (42), yang menikah dengan Gul pada usia 15 tahun. Perempuan yang dikenal cerdas, berpenampilan hangat, elegan, dan menghindari sorotan media massa ini menegaskan jilbab adalah pilihan pribadinya yang harus dihormati. Jilbab dan kepatuhannya pada ajaran Islam, tegas ibu tiga anak ini, tidak menghalanginya untuk menjadi modern. Jilbab Hayrunnisa memang sempat menjadi komoditas politik hangat di Turki. Jilbabnya menjadi sasaran tembak yang empuk bagi kubu sekuler, musuh politik suaminya, untuk menjegal pencalonan suaminya menjadi presiden oleh partai berkuasa AKP yang berbasis Islam.

Oposisi dan militer, yang merupakan pendukung sekularisme, menilai jilbab sebagai simbol Islam tak patut menghiasi Istana Cankaya yang dianggap sebagai simbol dan benteng sekularisme Turki. Ini, kata mereka, akan merusak nilai sekularisme yang diperkenalkan oleh pendiri Turki, Mustafa Kemal Attaturk.

Dalam beberapa kesempatan, Hayrunnisa mengatakan ia hanya menemukan masalah dengan jilbab yang dikenakan justru ketika berada di negaranya sendiri yang 90 persen penduduknya Muslim. Selama mendampingi Gul mengunjungi negara sahabat, katanya, ia sama sekali tidak menemukan masalah dengan jilbabnya.

Pada 2002, Hayrunnisa menjadi sorotan publik ketika ia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi HAM Uni Eropa (ECHR) setelah Universitas Ankara menolak pendaftaran dirinya semata-mata karena berjilbab. Ia kemudian menarik gugatannya setelah AKP memenangi pemilu.

Belajar dari pengalaman ibunya, Kubra, satu-satunya anak perempuan pasangan Gul- Hayrunnisa, menutupi jilbabnya dengan wig agar dapat masuk ke universitas tersebut.

Bagi kubu sekuler, yang diwakili oleh militer dan Partai Rakyat Republik (CHP), semua argumentasi Hayrunnisa tidak berarti. Bagi mereka, jilbabnya tetap mencerminkan satu langkah mundur bagi gerakan emansipasi perempuan yang dikenalkan Kemal Attaturk.

Pembelaan datang dari penganut paham liberal. Mereka mengecam pedas militer dan oposisi yang menjadikan jilbab dan latar belakang Islam pasangan ini sebagai senjata politik. Mereka mengatakan dua hal ini digembar-gemborkan oposisi karena tidak mampu menandingi pencapaian AKP.

Dukungan bagi ibu negara juga datang dari jajak pendapat yang dilakukan lembaga terkemuka, Konda. Hasil jajak pendapat yang dirilis harian Miliyet, Selasa (28/8), menunjukkan 72,6 persen responden menilai biasa jika ibu negara mengenakan jilbab. Hanya 19,8 persen responden yang mengatakan terganggu karena ibu negara Turki berjilbab, dan 7,6 persen menyatakan tidak mempunyai sikap.

Survey yang digelar pada 18-19 Agustus dengan 2.734 responden itu juga menunjukkan hanya 12,6 persen responden yang berpendapat presiden Turki harus sepenuhnya mengabdi pada prinsip sekuler. Sementara, hampir 53 persen responden mengatakan sikap tidak berpihak mutlak harus dimiliki presiden. Diikuti 28,4 persen responden yang mengatakan presiden harus loyal kepada nilai-nilai Republik, di dalamnya termasuk sekuler. (RioL)

(ap/afp/lan )

 

20. Dalam Sehari, 10 WN JEPANG Masuk Islam, Sekolah Islam Pertama Di Tokyo Bakal Didirikan!!

Dr Zakaria Ziyad, kepala Lembaga Kaum Muslimin (LKM), di Jepang mengungkapkan, Islamic Center yang terletak di ibukota Jepang, Tokyo tengah merintis pendirian sekolah Islam pertama di Jepang. Ia menambahkan, sebagian data statistik menunjukkan, dalam sehari, sekitar 10 WN Jepang masuk Islam.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar ‘Khaleej’ yang terbit di Emirat, Ziyad, mengatakan, saat ini telah dibeli sebidang tanah di dekat Masjid Terbesar di Tokyo. Rencananya akan didirikan sebuah sekolah di areal tersebut.

Ziyad, yang mengajar sebagai dosen di Tokyo University dan juga ketua Ikatan Mahasiswa Muslim (IMM) di Jepang menyiratkan, kaum Muslimin di Jepang selalu ragu-ragu untuk membangun masjid. Akibatnya, di seantero Jepang baru ada sekitar 50 buah masjid saja yang harus melayani ribuan kaum Muslimin.

Padahal, konstitusi Jepang menyatakan tidak ikut campur dalam permasalahan keyakinan agama. Sayangnya, kaum Muslimin masih tidak mampu untuk mendirikan masjid, yang sebetulnya merupakan pintu penting untuk menjaga identitas Islam dan kaum Muslimin di Jepang.

Ziyad menyebutkan, di antara masjid paling menonjol yang ada di negeri itu adalah masjid ‘Nagoya’ yang didirikan oleh Kementerian Wakaf, Uni Emirat Arab. Pendiriannya saat itu menelan biaya sebesar 1,5 juta Dolar AS yang didesain dengan gaya arsitektur tercanggih. Selain itu, ada juga masjid Besar Tokyo dan Osaka.

Sejumlah masjid dan mushalla yang ada di Jepang kekurangan imam dan para khatib yang seharusnsya dapat memberdayakan kaum Muslimin Jepang dan mengenalkan kepada mereka prinsip-prinsip agama. Kebanyakan Dai kaum Muslimin yang dikirim negara-negara Arab dan Islam tidak menguasai bahasa Jepang.

Zakaria mengingatkan, negeri Sakura tersebut amat memerlukan seorang Mufti yang bersedia tinggal di tengah kaum Muslimin di Jepang agar dapat memberikan fatwa agama yang benar kepada mereka. Ia mengatakan, semua orang akan mengenal seberapa besar problematika yang dihadapi manakala mengetahui bahwa jumlah imam yang ada saat ini di Jepang tidak lebih dari 5 orang saja.!!

Ia menyebutkan, salah satu organisasi Islam di Jepang telah membeli sebidang tanah di dekat ibukota Jepang, Tokyo. Di atas tanah itu, didirikan sejumlah pekuburan yang sedianya menjadi tempat kaum Muslimin yang meninggal dunia dikuburkan

secara gratis. Hal ini, mengingat harga tanah di Jepang amat mahal. Demikian pula, dapat menguburkan kaum Muslimin sesuai dengan syariat mereka. Sebab orang-orang Jepang membakar jenazah orang-orang yang meninggal dunia di kalangan mereka.

Zakaria mengimbau kepada negara-negara Arab dan Islam agar membantu kaum Muslimin Jepang dengan mengirimkan para Dai yang bekerja menyebarkan pengetahuan Islam. Dalam waktu yang sama, ia juga meminta yayasan-yayasan dakwah Islam besar untuk meningkatkan kerja kerasnya di Jepang. Hal ini mengingat negeri matahari itu dinilai sebagai ladang yang subur untuk penyebaran dakwah Islam.

Ziyad mengatakan, masyarakat Jepang tidak menyimpan rasa benci terhadap Islam ataupun kaum Muslimin. Belum pernah terjadi, ada seorang Muslim yang mengalami kesulitan atau masalah, baik ia seorang WN pribumi Jepang maupun warga pendatang. Ia menyiratkan, pemerintah dan rakyat Jepang memberikan kaum Muslimin kebebasan total dalam menjalankan syiar agama mereka.

Ia juga mengatakan, Islam masuk ke Jepang sudah sejak 200 tahun lalu melalui para pedagang Muslim. Sebagian WN pribumi Jepang yang masuk Islam di luar negaranya kembali ke sana menyebarkan Islam.

Jumlah kaum Muslimin dari WN pribumi Jepang ada sekitar 100.000 ribu orang. Sedangkan kaum Muslimin non WN asli Jepang dari kalangan pendatang yang tinggal di Jepang mencapai 150.000 orang Muslim.

Sedangkan mengenai aktifitas LKM dan IMM di sana, Zakaria mengatakan, lembaga itu didirikan untuk mengurusi permasalahan kaum Muslimin di Jepang. Sedangkan IMM didirikan tahun 1960 dengan tujuan memperhatikan para mahasiswa Muslim yang belajar di Jepang. Di samping itu, menyediakan buku-buku tentang pengetahuan Islam dan memberikan kemudahan bagi kaum Muslimin dalam menjalankan keseharian mereka. Begitu pula, berkat koordinasi dengan sejumlah lembaga-lembaga Islam, di antaranya Lembaga Kaum Muslimin, keduanya sama-sama mengawasi anak-anak generasi baru dari kalangan kaum Muslim.

Di samping itu, IMM juga menyediakan ‘Islam Guide’ untuk membantu para pemuda Islam mengenal lokasi-lokasi makanan halal dan menjalankan syiar-syiar dan ibadah-ibadah Islam.

Kehilangan identitas Islam merupakan problem paling krusial yang dihadapi generasi-generasi baru Islam Jepang. Demikian seperti diungkapkan Zakaria yang menjelaskan, bahwa penyebab hal itu adalah karena tidak adanya satu sekolah Islam pun di Jepang hingga saat ini.! (almkhtsr/AS/alsofwah.or.id)

Islam is Rahmatan Lil Alamin

 

21. Streaming Dewi Purnamawati : Tak Sanggup Kutolak Kebenaran Islam

Alhamdulillah, atas sumbangan pakdenono streaming ceramah mualaf muslimah Dewi Purnamawati telah kami tambahkan, artike lengkapnya pernah ditampilkan dengan jutul Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam. (redaksi)

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di

daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung. ( simak pengakuannya  )

Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam

Dewi Purnamawati nama saya, kelahiran Solo Th. 1962. Tahun 1971, Mase (panggilan saya kepada ayah) yang pegawai AURI pindah tugas ke P. Lombok sehingga saya besar di P. Lombok sampai lulus SLTA Th. 1981. Kemudian kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta sampai lulus Th. 1985. Sejak Th. 1986 saya kembali menetap di Solo dan mengabdikan diri sebagai guru listrik di STM Negeri 2 Surakarta yang saat ini nama-nya SMKN V Surakarta.

Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

Dia telah sukses mengkristenkan orang satu kampung melalui cara mengajarkan dan membantu masyarakat berusaha dengan mengelola tanaman hidrophonik, sementara adik saya perempuan, aktif penginjilan di P. Madura. Obsesinya mengkris-tenkan para kiai. Sebab peluang itu ada! Kalau malam minggu dia menga-mati kiai nyebrang ke Surabaya, pakaian kiai-nya ditanggalkan dan ganti pakai celana jeans dan T.Shirt lalu asyik dalam dunia hiburan!.

Saya sendiri, suami pertama adalah aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang telah berhasil saya kristenkan, tetapi akhirnya kami bercerai juga. Memang kristen mengajarkan “Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.” tetapi pendeta akhirnya mengijinkan kami bercerai, ia tidak punya solusi.

Anak saya sejak perceraian itu dipelihara ibu di Lombok, ia dididik ibu menjadi kristen militan. Tidak boleh saya ambil untuk saya didik di Solo, kecuali kalau saya balik ke kristen. Anak saya yang semata wayang itu, untuk mendapatkannya ibarat ‘toh nyowo’ hampir keguguran sampai 3 kali.

Tepatnya malam 27 Ramadhan th. 2004, dengan sadar & tanpa beban telah memutuskan hubungan ibu-anak dengan saya, karena meski-pun diiming-imingi, diancam dan menanggung resiko apapun saya tetap Islam tidak mau balik Kristen. Dengar-dengar sekarang ini ia kuliah di Jawa mengambil Pastoral Konseling di sekolah theologi, dalam rangka menjadi seorang pendeta … wallaahu a’lam.

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow…..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci… memandang rendah …. Ya!.

Namun yang namanya hidayah, kalau Allah menghendaki maka tidak ada seorangpun yang mampu menolaknya meskipun semula ia sangat membencinya.

Saya meragukan kesempurnaan Bible, pikir saya “Kalau buku sudah benar dan sempurna tidak usah direvisi, kalau kitab Injil sudah sempurna mengapa Allah masih menurunkan Al-Qur’an ?” Itulah yang mengusik logika saya dan meluluhkan ke-Kristen-an saya.

Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.

Saya juga mulai meragukan isi Alkitab sendiri, misalnya :

Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Imamat 10:9

Dalam ayat tersebut Allah melarang minum anggur dan mabuk tetapi kenapa dalam Injil karangan Yohanes 2:7-10 dikisahkan Mukjizat Yesus malah mengubah enam drum air menjadi anggur yang memabukkan ? Kenapa kisah porno dan cabul bertebaran di ‘Kitab Suci Bible’ misalnya di dalam kitab Kitab Kidung Agung misalnya :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!

Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur KA 1:2

 

Tangan kirinya ada di bawah kepalaku,

Tangan kanannya memeluk aku. KA 2:6

 

Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu

Seperti dua anak rusa buah dadamu,

Seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput

Di tengah-tengah bunga bakung. KA 4:3,5

 

Pusarmu seperti cawan yang bulat,

Yang tak kekurangan anggur campur.

Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.

Seperti dua anak rusa buah dadamu,

Seperti anak kembar kijang. KA 7:2-3

 

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan

Buah dadamu gugusannya.7

Aku ingin memanjat pohon korma itu dan

Memegang gugusan-gugusannya.

Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan

Nafas hidungmu seperti buah apel KA 7:7-8

 

Kenapa Allah Yang Maha Esa diakui terdiri dari 3 unsur tuhan tetapi dipaksakan dikatakan satu (trinitas/- tritunggal)? Seabreg kemusykilan dan seabreg masalah yang jauh dari akal sehat dan tidak selaras dengan nalar.

Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur’an dan ketika teman meminjami buku berjudul ‘Akhlahk Islam’ masya Allah saya begitu ta’jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.

Beberapa bulan berikutnya saya menikah untuk kedua kalinya dan yang mengantarkan saya pada Islam. Tetapi teman-teman saya yang mayoritas Islam tidak berusaha mendakwahi saya, entah karena tidak PD atau tidak paham bahwa Islam itu agama luar biasa, sempurna!. Tetapi justru saya yang getol menyampaikan Kristen kepada mereka.Setelah keislaman saya, beberapa ujian datang dari teman-teman/tetangga yang Kristen atau orang Islam yang mencurigai ke-Islam-an saya, usaha saya bangkrut ditipu kyai yang berkedok membimbing saya, saya sempat terperosok ke dalam aliran Islam sesat, suami saya yang staf manajer mengundurkan diri karena diskriminatif. Ketika semangat Islam saya baru bersemi suami meninggal dan saya sakit keras dan sedihnya uang di dompet tinggal Rp.10.000,-.

Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan “Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya” Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.

Inilah sekelumit perkenalan saya dan liku-liku hidup saya dalam menerima dan mempertahankan hidayah Al-Islam (al-islahonline)

Dewi Purnamawati : Tak Sanggup Kutolak Kebenaran Islam

intro “Jangan Tinggalkanku” (Sulis)

 

22. KDNY : CNN Sumber Hidayah?

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

“You know, Islam is well known”, ujar Dowan. Pria keturunan Afrika-Amerika ini akhirnya memeluk Islam setelah menyaksikan wawancara tentang Islam di CNN

Sabtu lalu, 9 Juni 2007, kelas the Islamic Forum the Islamic Cultural Center of New York dipenuhi peserta lebih dari biasanya. Rata-rata peserta per Sabtu adalah 15-20, tapi siang itu sekitar 25 peserta duduk berdesakan dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Selain peserta dengan wajah lama, rata-rata peserta yang telah mengikuti acara ini sekitar 2-5 bulan, juga nampak beberapa wajah baru. Topik yang saya sampaikan hari itu adalah “Islam dan Tantangan Hidup” (Islam and Challenges of life). Topik ini sengaja saya kemukakan, mengingat Paris Hilton baru saja diceploskan ke dalam penjara.

Bagi banyak non Muslim, Paris Hilton barangkali dianggap sosok yang sukses; cantik, kaya, popular, dll. Tapi kenapa seorang Paris Hilton bisa hidup semrawut seperti itu? Kenapa seorang Britney Spears bisa hidup menderita seperti yang kita saksikan? Kenapa dari hari ke hari semakin banyak penghuni Hollywood masuk rehabilitasi?

Kenyataanya terjadi banyak paradox dalam hidup manusia di abad 21 ini. Kemajuan material yang ditandai dengan kemampuan keilmuan dan teknologi yang tinggi ternyata tidak memberikan kepuasan dan kebahagiaan kepada manusia. Semakin banyak manusia menghasilkan semakin tinggi perasaan ketidak puasan itu. Di kota-kota besar manusia berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, tapi di satu sisi kehidupan semakin terasa gersang. Semakin banyak rumah sakit yang dibangun, obat-obatan dan vitamin yang diproduksi juga semakin banyak penyakit dan orang sakit yang memenuhinya.

Kesimpulan dari semua pembahasan yang memakan waktu hampir 3 jam itu adalah bahwa manusia abad 21 dijangkiti penyakit yang lebih berbahaya dari penyakit-penyakit konvensional yang kita kenal. Penyakit ini menjadi sumber banyak masalah yang dihadapi oleh manusia sekarang ini. Penyakit itu, yang dalam bahasa Al Qur’annya adalah “Al khauf wal hazan” (penyakit takut/khawatir dan sedih). Sedemikian besarnya rasa takut dan sedih menimpa manusia modern sekarang ini, sehingga untuk tidur saja di atas kasur yang empuk sangat susah. Menurut penelitian terakhir, tahun 2006 lalu sekitar $ 80 milyar obat pembantu tidur (sleep aid) terjual. Dan anehnya, mayoritas mereka yang membelinya adalah orang-orang kaya dan sukses.

Demikianlah pembahasan hari itu. Memang agak serius, tapi sesekali diselingi candaan dan gelak tawapun meledak. Apalagi jika memang contoh-contoh yang saya berikan biasanya adalah kejadian yang “real” dan memang menjadi gunjingan umum. Saya memang tidak memberikan contoh-contoh yang terkadang secara social dan budaya pendengar tidak bersambung. Secara social dan budaya, tentu orang-orang Amerika itu banyak berkiblat ke Hollywood misalnya.

Di penghujung diskusi tiba-tiba resepsionis masuk dan memberitahu kalau ada lagi satu peserta yang mau gabung. Tapi menurutnya lagi, “Dia ingin memeluk Islam”. Saya sedikit terkejut, sebab biasanya peserta yang datang akan bertanya atau menanyakan banyak hal sebelum menyataan kesiapan untuk itu. Setelah saya iyakan, masuklah seorang gadis separuh baya dengan wajah campuran Afrika dan Spanish. Nampaknya masih sangat muda.

“Welcome, what is your name?” sapa saya. “Hi, I am Down” katanya dengan sedikit menunduk. Mendengar nama itu, saya teringat kata Inggris yang berarti “fajar”, maka saya tanyakan “Down, does it mean early morning time?”. “Yeah, I think that’s what my parents wanted for me”, jawabnya.

Semua peserta melihat kepada peserta yang baru masuk ini. Apalagi pemberitahuan dari reseptionis bahwa dia akan masuk Islam. Bagi kebanyakan peserta, hal ini biasa. Hampir setiap Sabtu ada saja yang menyatakan “syahadah” di Islamic Center. Tapi bagi peserta baru non-Muslim hari itu, ini benar-benar sebuah pengalaman baru bagi mereka.

“What is your back ground? I mean you ethnic and religious back ground”. (apa latar belakangan suku mu). Saya menanyakan latar belakanag etnik karena biasanya dari etniknya akan dikenal agamanya. Misalnya, kalau dia seorang Spanish maka dia hampir pasti seorang Katolik. “My father is African American but my mother is native American”, jawabnya. Native American adalah sisa-sisa keturunan asli Amerika, suku Indian. Kulitnya agak putih tapi wajahnya lebih mirip “boyan” (Mexico).

“Tell me then how did you come to know Islam?” (ceritakan, mengapa tertarik pada Islam), saya memulai. Tiba-tiba dengan sedikit tersenyum dia mengatakan “I never met any Muslim before, but I studied it by my self”, jawabnya. “And how did you know about Islam in the beginning?” tanya saya. “You know, Islam is well known. I knew Islam for the first time from CNN when there was an interview by a woman….i think she was a leader of a Moslem organization.” (Islam sudah ternama. Saya dapat membedakan agama Islam pertama kalinya dengan CNN ketika ada wawancara dengan seorang wanita, yang saya pikir dia seorang pemimpin organisasi Muslim)” , jawabnya.

Belakangan saya ingat bahwa interview yang dimaksud adalah wawancara CNN dengan Dr. Ingrid Mattson, President ISNA (Islamic Society of North America) beberapa waktu lalu. Nampaknya Down sangat impressed dengan panampilan Ingrid yang tenang, bersahaja tapi sangat cerdik. Saya masih ingat dalam sebuah diskusi di Council on Foreign Relations baru-baru ini, di mana Ingrid menjadi salah seorang nara sumber. Pertanyaan para pesera sangat menyudutkan. Tapi dengan tenang dihadapi semuanya dan jawaban-jawaban yang diberikan mematahkan semua pertanyaan yang menyudutkan itu.

Saya kemudian bertanya kepada Down ‘Apakah baginya, meyakini, bahwa agama Islam adalah pilihan yang benar.’ “Are you really convinced that Islam is the right way for you?”. Dengan mantap dia manjawab “Yes sir”. “Do you have any further questions or any thing that you may need to clarify?” tanya saya. Dengan mantap, ia, bahkan menjawab, untuk “sementara tak ada pertanyaan, dan Saya benar-benar siap dan menyetujui konsep Islam”, katanya tegas.

Saya pun dengan segera memberikan nasehat singkat, termasuk menjelaskan makna berislam itu sendiri. Bahwa masuk ke Islam itu bukan sekedar berpindah formalitas, tapi berpindah hidup dari sebuah tatatanan (sistem) menuju tatanan hidup yang baru. Down nampak serius dan sesekali mengangguk.

Akhirnya dengan disaksikan oleh para peserta the Islamic Forum, termasuk beberapa non Muslim lainnya, Down secara resmi menerima Islam sebagai petunjuk hidupnya. Semoga Allah senantiasa menguatkanmu Down.

23. Perjalanan Ibu Dewi Ke Islam : Akhirnya Kutemukan Kebenaran

Saya terlahir dari keluarga Nasrani. Ayah saya yang tadinya muslim pun menjadi nasrani ketika menikah dengan seorang wanita kristen ibu saya. Keluarga saya termasuk kristen militan yang menuntut anak-anaknya untuk turut dalam misi penginjilan. Misi yang pertama dilakukan saat kita pindah di Lombok, itu sekitar tahun 1997.

Hidup itu tiada henti bertanya akan segala sesuatu. Tapi dalam Kristen, ketika benak penuh pertanyaan hal janggal, tak satupun terjawab kecuali dengan jawaban, “Ya” lalu kemudian “Amen”, kemudian “Amen” dan “Amen”.

Saya mengalaminya pertama kali saat saya SMP. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya-tanya dan mulut saya pun melontarkannya. “Yesus itu Tuhan, kan? Sedangkan Tuhan itu Maha Segalanya, tapi kenapa mata manusia mampu menangkapnya?”, tanya saya ke guru di sekolah Katolik tempat saya belajar. Pertanyaan-pertanyaan tak berhenti begitu saja. Saya juga menanyakan tentang kenapa Yesus muncul dalam berbagai versi dan wajah. Ada versi yang berwajah Barat, Nigeria, Indonesia bahkan India. Tapi tetap saja tak ada jawaban yang memuaskan. Bahkan bisa dibilang tak pernah ada jawaban. Sementara, hati kecil tetap tak mau berhenti berontak. Hingga saya menginjak dewasa, saya tetap tak bisa memasukkan dalam kotak nalar benak saya, tentang apa yang namanya misi penginjilan yang mengajak orang-orang beragama di luar Kristen agar masuk Kristen. Bahkan, saya pernah menolak untuk jadi penginjil. Di dalam Kristen, ada ajaran, “Jadilah kau pengail orang, kalau turutku (Tuhan Yesus)”. Saya lalu berdalih, bukan menentang ajaran ini, tapi menentang tafsiran bahwa mengailnya juga di kolam yang sudah terbentuk sementara lautan luas masih belum tunduk. Debat saya akan verse ini pun sia-sia. Saya masih harus tetap menjalankan ini semua mengkristenkan orang yang sudah beragama. Menjadi misionaris.

Saat hati bergejolak penuh pertanyaan, saat itu juga hati kagum dengan ketaatan orang-orang Islam yang berbondong-bondong ke masjid ketika ada panggilan Adzan. Ketika kita terlelap dalam tidur, mereka sudah bangun untuk mendirikan shalat menemui Tuhannya. Kemudian saya mulai bertanya-tanya tentang apa itu Tuhan?, Apa itu roh kudus?.

Masalah Trinitas pun tak luput saya tanyakan kepada seorang pendeta. Bahwa 3 dalam satu itu tidak mungkin. Bahwa sangat aneh ketika Tuhan menjelma dalam bentuk manusia, tapi masih ada lagi Tuhan di atas sana. Ini sama halnya ada 3 Tuhan. Meskipun Pendeta itu mengajariku beranalog bahwa Trinitas itu seperti menggambarkan seorang ayah. Bisa jadi, ayah itu adalah seorang ayah, seorang pekerja kantoran sekaligus ketua RT. Jika seorang ayah berada di tempat dan waktu yang berbeda maka ia akan menjadi orang yang berbeda. Padahal Tuhan tidak terikat waktu dan tempat. Itu semua tidak masuk akal, bentakku pada diri sendiri. “Kamu memang keras kepala!”, kata orang tua saya ketika saya mulai berdalih macam-macam tentang Trinitas. Sejak saat itu pula saya merasa bahwa saya memang beda.

Saya tertarik pada Islam sekitar tahun 1997. Saat itu saya bertemu seseorang yang mengubah imej saya tentang Islam dan pengikutnya. Bahwa tidak semua orang Islam itu manusia rendahan dan bodoh yang Tuhannya tuli karena butuh Adzan yang teriak-teriak untuk bisa mendengar. Bukan secara kebetulan saya bertemu dengannya. Ia menjelaskan Islam dengan alasan yang lebih masuk akal dari seorang pendeta yang tidak bisa menjelaskan masalah Trinitas hal paling mendasar dan utama dalam Kristen.

Dia menjelaskan bahwa kita sekarang hidup di era Muhammad, yang mana era Yesus (era Isa dalam Islam-red) sudah selesai dan diperbarui agar bisa relevan sepanjang masa hingga sekarang ini. Ia mengatakan bahwa akan sangat lucu karena kita tidak akan diterima dalam segala hal jika hidup dalam era yang salah. Perkataannya itu membuatku berpikir dan merenung setelah ia pula membuat saya tertegun dengan ajakan untuk menikahinya.

Bahkan Natal tahun 1998 saya sudah tidak lagi fokus dengan agama Kristen saya. Benak selalu menjerit,

“Tuhan…, dimana engkau? Kemana ketentraman saya sekarang ini? Kenapa saya jadi bimbang?”

Bahkan ketika saya mendapat insiden kecil saat mobil yang saya kendarai tidak beres, saya sempat berpikir,

“Kalau saya tadi mati, saya akan pergi kemana? Saya sudah bukan lagi Kristen karena tidak pernah ke Gereja, tidak baca doa, tidak pula baca Injil. Di Islam? Padahal saya belum Islam. Saya belum percaya dengan Islam. Saya mati akan kemana?” Saat itu pula, Adzan maghrib terdengar mengiringi pertanyaan dalam hati kecil. Saya ingat, saat itu bulan Januari, saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Mohon petunjuk agar mampu menyingkap kebenaran dengan doa dan kesungguhan. Kemudian, di malam ketiga saya melihat sosok wicaksana duduk dengan baju putih bersih di depan saya.

Bayangan ini terlihat beberapa kali hingga saya mengkonsultasikan kepada seorang kawan HMI tentang hal ini. Awalnya dia tidak percaya dan sempat curiga jangan-jangan ini sekedar permainan. Tapi ketika melihat kesungguhan diri saya, dia malah menganjurkan saya ke Masjid Nur Hidayah untuk menceritakan lagi hidayah yang saya dapat ke seorang ustadzah. Saya masuk Islam di Februari, dan Juni 1999 adalah bulan dimana saya menikah dengan pria yang mengenalkan saya dengan Islam. Beberapa tahun berselang, suami saya mendadak sakit dan akhirnya pergi menemui Allah SWT, tepatnya tanggal 18 Agustus 2003. Ketika itu, saya sangat pilu, sedih dan sendirian dalam menghadapi itu semua. Sejak perceraian dengan suami saya yang pertama, anak saya ikut dengan orang tua saya di Lombok. Saya ingin agar dia balik ke Solo dan hidup bersama saya dalam Islam. Tapi yang saya dapat hanyalah, “Kalau kamu tidak mau balik ke Kristen, maka segala yang telah saya berikan padamu adalah hutang, dan kamu harus mengembalikannya segera!” Anak saya disandera, dan saya dibebani dengan hutang yang seharusnya tidak saya bayar.

Alhamdulillah, saya bisa membayar sejumlah uang yang diminta orang tua saya, berkat bantuan seorang Ustadz – dosen perguruan tinggi Islam ternama di Solo dan beberapa rekan yang tergabung dalam Forum Arimatea. Tapi, anak saya tidak dikembalikan kepada saya.

Anak saya malah datang lewat telepon, di suatu malam bulan Ramadhan dan bertanya, “Mama berat ke Islam atau berat anak?” Saya terperanjat kaget. Saya katakan kalau saya memilih Islam. Dan ia menjawabnya lagi dengan jawaban yang menyayat, “Ohh, jadi Mama itu orang yang tega terhadap anaknya, dan memilih Islam daripada anak.” Setelah mengulangi pertanyaan yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula dari diri saya, maka ia memutuskan hubungan anak dan ibu diantara kami berdua. Telepon ditutup dengan kata-kata terakhirnya, “Semoga Ibu Dewi (bukan panggilan “Mama” yang selama ini ia memanggil ke saya) bahagia dengan agamanya yang baru itu!”

Malam itu saya menangis. Kesedihan bercampur dengan rasa lega dan gelo. Kenapa anak semata wayang yang tadinya ingin saya kembalikan ke Islam, kini lepas dari tangan saya. Saya malam itu hanya bisa berkata, “Jangankan lepas dari kamu, Nak. Kehilangan nyawa pun mama siap. Kamu, harta benda, buat mama itu tidak ada apa-apanya.” Saya masuk Islam karena saya melihat kebenaran di dalamnya. Ibu Dewi mengatakan bahwa keimanan itu seperti emas yang membutuhkan proses dan ujian yang akan ditempa sebelum menjadi perhiasan berharga. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan rohani Ibu Dewi dan perjuangannya menegakkan Islam yang mengingatkan kita akan perjuangan orang-orang terdahulu. [Na/fosmil ]

 

24. KDNY : Yuri, Putri Venezuela

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Namanya Yuri. Gadis berwajah Asia ini dulunya adalah penganut Katolik sejak lahir. Melalui beberapa kali diskusi, ia akhirnya kembali ke fitrah, memeluk Islam.

Ketika hadir pertama kali di Islamic Forum for non Muslims di Islamic Center of New York, gadis ini nampak lugu dan pemalu. Dia hanya diam, mengamati dan sesekali menganggukkan kepala. Senyumnya pun jarang terlihat. Mungkin karena pernah mendengar bahwa senyuman wanita di tempat umum bisa dianggap tidak etis. Yuri, itulah nama yang disebutkan di saat ditanya tentang namanya. “my parents are very strong Catholics” katanya suatu saat. “My father is Venezuelan, but my mother is an Irish origin”. Mungkin campuran itulah yang menjadikan Yuri lebih mirip gadis Asia.

Datang kedua kalinya, Yuri kini lebih agresif. Beberapa pertanyaan yangt diajukan sangat tajam dan mengena. Suatu kali dia menanyakan “if Muslims believe in Jesus and the Gospel, why don’t you guys accept him (Jesus) as Christians do”. Ketika saya jawab bahwa mengimaninya harus sesuai dengan Al-Qur’an dan bukan dengan apa yang disebutkan di Bible, dia berargumentasi “That for me means, you don’t really believe in the Bible that you claim”.

Dari pertemuan ke pertemuan, alhamdulillah, Yuri nampak serius dan banyak mengalami perubahan. Saya masih ingat, ketika pertama kali datang Yuri seperti tidak serius dan seolah acuh dengan ceramah yang disampaikan. Hingga suatu ketika, bersamaan dengan hari Paskah di kota New York, saya membahas kembali mengenai Isa A.S. Diskusi yang memakan waktu lebih 3 jam mengenai Isa itu ternyata awal perubahan drastis yang dialami oleh Yuri. Sejak itu, kerap kali meminta untuk direkomendasikan buku-buku yang dianggap “reliable” untuk dibaca.

Dua bulan terakhir Yuri nampak semakin bersemangat. Bahkan tidak jarang kini menyampaikan keragu-raguannya terhadap apa yang selama ini dia sebut sebagai “my father’s inheritance” (warisan ayah). Walhasil, seringkali dia sendiri mempertanyakan konsep-konsep dasar agama Katolik. Sebagai misal, suatu ketika ada pertanyaan dari seorang peserta tentang “Dosa asal dan karakter dasar manusia”. Menurutnya, secara umum manuswia itu cenderung untuk jahat. Kalau saja tidak ada “hukum” maka manusia akan lebih jahat dari binatang buas di hutan-hutan. Maka, dosa asal itu memang ada dan terbukti dari prilaku manusia.

Yuri yang sebenarnya pendiam itu segera menjawab: “What? I don’t think any rational human beings will accept that concept. From any human senses, that is simply irrational” katanya tegas tanpa penjelasan lebih jauh.

Saya seperti biasa, di saat diskusi sudah menghangat tinggal mengarahkan saja. Seolah moderator diskusi yang mengarahkan arah diskusi ke tujuan yang dinginkan. Tidak jarang memang diskusi-diskusi di kelas ini, khususnya jika telah menyentuh masalah-masalah teologis, menjadi panas. Tidak jarang pula, diskusi-diskusi panas inilah menjadi awal pijakan “introspeksi” bagi para peserta.

Yuri, yang hingga kini belum sempat saya tanyakan nama lengkapnya, sejak itu pula nampak seperti seorang Muslimah yang setiap saat siap membela berbagai miskonsepsi mengenai Islam. Saya masih ingat, seorang peserta lain mempertanyakan konsep kemurnian tauhid dalam Islam. Menurutnya, orang-orang Islam itu jika shalat dan tidak menghadap Mekah tidak diterima shalatnya. Menurutnya lagi, bangunan yang ada di Mekah (Ka’bah) itu dianggap oleh kaum Muslim sebagai sesuatu yang dihormati. “Isn’t it a kind of polytheism?” tanyanya.

Tiba-tiba saja Yuri yang pemalu itu mengangkat tangan dan mengatakan: “Don’t you know that Muslims do not worship any object beside God? That is a symbol of direction to God but Muslims do not worship it at all” jelasnya.

Demikianlah hari-hari Yuri bersama the Islamic Forum di Islamic Center of New York. Hingga pada awal bulan Mei ini, di mana bersamaan dengan persiapan “Matrimonial Match Makin” yang akan dilaksanakan di Jamaica Muslim Center dua minggu silam, saya mendedikasikan sebulan penuh (Mei) membicarakan mengenai “Perkawinan dalam Islam” dari berbagai sudut. Yuri yang masih belia itu ternyata punya perhatian besar terhadap keluarga dan konsep pernikahan itu. Sampai pada akhirnya, minggu kedua dari diskusi tentang nikah itu dia mengatakan “This is the most interesting to me. I was kind of confused about how will it be as a Muslim to marry”.

Alhamdulillah, tepat Sabtu keempat bulan Mei lalu, nampak Yuri tenang tapi sesekali memperlihatkan wajah yang sepertinya gusar. Diskusi yang biasanya memakan waktu sekitar 3 jam itu ternyata molor hingga 4 jam karena memang masalah yang didiskusikan adalah hak dan kewajiban suai isteri. Ternyata bagi kebanyakan peserta hal ini menarik karena asumsi mereka isteri selalu tunduk dan patuh kepada suami. Sebaliknya suami selalu berada pada posisi yang superior. Ternyata apa yang mereka dapat adalah sebaliknya, di mana Islam menempatkan suami dan isteri pada posisi yang “sederajat” sesuai kodrat masing-masing pihak.

Tapi yang paling menarik adalah konsep “poligami” versus pergaulan bebas di Amerika. Sedemikian serunya pembahasan ini hingga beberapa kali pihak security datang karena menyangka ada pertengkaran. Alhamdulillah, pada akhirnya semua pihak dapat memahami bagaimana sesungguhnya kedudukan poligami dalam Islam.

Yuri yang hari itu agak diam, hanya sesekali tersenyum jika mendengar argumentasi yang lucu. Hingga pada akhirnya kelas berakhir dan semua meninggalkan. Saya biasanya tidak langsung meninggalkan kelas, selain membenahi buku-buku rujukan, juga terkadang ada beberapa murid yang perlu konsultasi secara individu.

Tidak beberapa lama setelah kelas bubar, Yuri dengan nampak berlinang airmata dan malu-malu masuk kembali ditemani 3 orang temannya. Ketiganya adalah muallaf yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya langsung tanya “what’s happening?” Teman-teman itu hampir serentak menjawab “she is ready, Imam Shamsi”. Saya tidak sadar tentang Yuri dan kembali bertanya “ready for what?”. Yuri yang kini duduk sambil mengusap airmata mengatakan “I can not delay this any more. I want to be a Muslim right now!” katanya mantap.

Saya pun memulai dengan kembali mengingatkan Yuri ketika pertama kali datang ke kelas. Bagaimana dia pemalu, nampak lugu, dan kelihatannya nampak sangat belia. Mendengar itu, Yuri hanya tersenyum sambil mengusap air mata.

Saya kemudian memulai menuntun Yuri bersyahadah: “Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa-ash hadu anna Muhammadan Rasul Allah”. Dengan airmata berlinang diiringi pekik takbir teman-teman yang ada, Yuri secara resmi kembali ke pangkuan fitrah asalnya.

Saya hanya berpesan kepada Yuri bahwa “in fact this is the beginning of your journey. Be prepared and willing to sacrifice in the way to pursue the pleasure of your Creator”.

May Allah bless and strengthen you, Yuri!

New York, May 31, 2007

25. KDNY : Gadis Rusia Dapat Hidayah

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

“For me, Islam does make more sense,” ujar Alina. Dan akhirnya, gadis keturunan Rusia yang telah menetap di California ini mengikrarkan diri masuk Islam

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum kedatangan seorang peserta baru. Seorang gadis berkulit putih dan tinggi semampai memasuki ruang kelas itu dengan pakaian muslimah yang sangat rapih. Pada awalnya memang saya mengira bahwa dia adalah seorang Muslimah keturunan Albania . Bahkan sangkaan saya ini berminggu-minggu, hingga suatu ketika saya tanyakan “when did you convert?”. Dengan sedikit tersipu dia menjawab: “I am still learning. I really want to know more before taking any decision”. Saya tentunya terkejut dengan jawaban itu. Sebab selama ini dia menampilkan diri di kelas persis seperti Muslim.

Kata-kata “insya Allah”, “masya Allah”, dll., keluar dari mulutnya persis seorang Muslimah.

Bahkan dalam beberapa kasus, dia terkadang menyelah penjelasan saya dengan tambahan, atau beberapa kali mengoreksi poin yang dianggapnya kurang tepat. Setiap waktu pun shalat pasti ikut melakukan shalat dengan jama’ah lainnya.

Ketika seorang non Muslim menanyakan tentang gambar dalam Islam, apakah boleh atau tidak? Saya menjelaskan bahwa itu tergantung gambar apa dan bagaimana serta untuk tujuan apa. Dia kemudian seolah mengoreksi bahwa “pictures of living creatures are not allowed. I read about this in the hadith Imam”, selahnya. Dalam beberapa kesempatan terpaksa saya harus jelaskan bahwa menyampaikan Islam itu mutlak memakai “pendekatan” yang tidak sekaligus.

Alina, demikian dia memanggil namanya. Gadis ini berasal Rusia, tapi telah lama menetap di Amerika. Menurutnya, sejak kelas 3 SD dia sudah tinggal di California hingga tamat SMA bersama orang tuanya yang merupakan imigran dari Rusia. Setamat SD , Alina melanjutkan sekolahnya di New York City University dengan spesialisasi accounting. Sejak tamat dari universitas, Alina diterima bekerja pada sebuah Accounting firm yang cukup besar di kota New York .

Di saat menjadi mahasiswa itulah Alina mulai mengenal Islam lewat teman kuliahnya. Pergaulan dengan teman itulah yang membuatnya semakin tertarik untuk mendalami Islam. Hingga suatu ketika, menurutnya, dia sangat meyakini, “for me, Islam does make more sense”. Tapi menurutnya lagi, yang paling menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa mayoritas umat Islam “committed with the teachings”. Sementara dia sendiri beragama Yahudi tidak lebih dari sebuah “cultural inheritance” (warisan budaya). “In fact, we don’t really believe in God”, kenangnya.

Sekitar dua bulan Alina , mengikuti “Islamic Forum” di Islamic Center New York . Saya tidak melihat ada satu hal mendasar yang dia tidak ketahui atau ragukan di agama ini. Tapi nampaknya juga masih bersikap “dingin” untuk masuk ke agama ini. Biasanya saya tidak pernah mengajak langsung atau menanyakan “kapan seseorang akan pindah agama” walaupun orang tersebut suah menampakkan simpatik yang besar terhadap Islam. Tujuan saya adalah menjaga “image” the Forum bahwa itu ditujukan untuk “convert” orang ke agama Islam.

Membela Rasulullah SAW

Hingga sekitar sebulan lalu, Alina berkunjung ke Pasadena , salah satu bagian dari California , untuk menemui kedua orang tuanya. Menurutnya, suatu ketika di saat dia berjalan di kota tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak dengan microphone mencaci Rasulullah, Muhammad SAW. Tidak tahan melihat perlakuan orang tersebut, Alina mendatanginya dan berdebat dengannya mengenai Muhammad SAW. Tapi karena orang tersebut memakai pembesar suara, orang-orang di sekitar itu tidak mendengarkan pembelaan Alina terhadap Rasulullah. “I was so sad and crying” katanya.

Sejak kejadian itu, Alina nampak semakin kalem. Dalam beberapa saat ketika kelas dimulai Alina datang terlambat. Hingga suatu ketika saya tanyakan, “Why you always come late lately?”. Saya terkejut ketika dia menjawab: “I do my istikharah”. Saya tanyakan “Istikharah untuk apa?”. Saya justru menyangka, mungkin istikharah karena ada calon suami, dll. Ternyata menurutnya, “I do my istikharah to ask God, if the time has already come for me to be a Muslim”. Saya sempat tidak bisa menahan geli dan menjawab: “What you do itself (istkharah) is the best indication that Goad wants you to be a Muslim right away”.

Alhamdulillah, dua Minggu lalu Alina menelpon dan menyampaikan keinginan untuk bersyahadah. Saya sempat bercanda, “Are you going to take shahadah with me or with some one else”. Dia menjawab, “I will do take my shahadah only with you”. Saya tanyakan kapan dia ingin bersyahadah? Diapun menyebutkan hari Sabtu.

Sabtu kemarin, 31 Maret 2007, secara formal Alina menyatakan menerima Islam sebagai petunjuk hidupnya. Disaksikan oleh peserta “Islamic Forum” dan dengan mata yang berlinang, Alina menyaksikan, “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah peseruh Allah”. Allahu Akbar!

Semoga Allah menjagamu Alina, dan menjadikanmu pejuang di jalanNya!

New York , 2 April 2007

26. Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam

Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:

Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.

“Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.

“Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

 Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya

Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

“Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya.

Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.

Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.

27. KDL : Hidayah tak kenal warna, bangsa dan masa

Al Shahida *)

penulis rubrik Kabar Dari London

“Cahaya itu telah mampu menerpa celah relung hati mereka, menerobos tembus kedinding qalbu-qalbu mereka, cahaya yang yang tak kenal warna, bangsa, masa bahkan kendala”.

Akhir pekan ini sebetulnya aku berencana untuk diam dirumah. Rest atau rehat. Ingin mengendur regangkan tubuhku, rehat dari berinteraksi, sekaligus ingin bebenah rumah yang begitu lama tak terjamah tangan. Tiba tiba telefon berdering, tanya apa kabar dan menanyakan:

“Kak..hari ini kaka sibuk tak, boleh kita jumpa kalau tak pegi mana mana khan ?” begitu logat Melayu Singapore dari salah seorang adikku, disuatu Sabtu pagi. Kukatakan bahwa aku tidak ada rencana untuk keluar. ( Feat Nasyid : Sulis – Jangan Tinggalkanku  )

“Saya hendak menemani ‘orang-orang baru’ ke masjid besar di Regent Park Mosque. Usroh dimulai jam tigalah, dilantai bawah kak” demikian keterangan Hilaal.

Sambil aku berfikir bagaimana caranya merubah rencanaku dari rehat tapi bisa jumpa dengan adikku satu ini. Atau kuundangkah dia kerumah atau haruskah aku ke kota London? Sambil aku menghabiskan tehku sambil terus berfikir. Aku tengah berhitung, untung rugi, manfaat dan madharatnya. Aku ingin mengundangnya kerumah, namun sepertinya aku tidak siap untuk menjamu orang.

Aku tergiur dengan undangannya. Aku tahu disetiap pertemuan selalu membuahkan sesuatu. Aku sangat percaya kalau silaturachmi mendatangkan rejeki, memanjangkan usia, bikjin awat muda. Allhu alam.

” Kalau kita jumpa di Mawar restoran, gimana ? khan cukup sentral, kalaupun kita tak makan tapi bolehlah kita minum teh atau kopi saja, bukan ? aku menawarkan. Akhirnya kita sepakat untuk jumpa pukul 5.30 sore.

Mawar Restoran, adalah restoran Malaysia yang terletak disudut jalan, tepat dipersimpangan yang cukup strategis antara Edgward Road dan Sussex Garden, antara persimpangan ke Kilburn, Oxford Street, kawasan Paddington. Restoran itu sendiri terletak di lantai dasar, basement. Cukup memadai untuk ber-randevous baik untuk organisasi atau sesama teman, dengan menu cukup mewakili dan terjangkau.

Aku ditemani oleh salah seorang karibku juga kesana. Saat kami tiba direstoran, .mereka telah berada disana. Oh, ternyata mereka bertujuh, banyak sekali. Kami disambut hangat dan saling memperkenalkan diri.

” Kak kenalkan, ini Terry, James, Ismael, Norman.. Pak Cik dan brother Yunoos”, semua berdiri sambil menaruh tangannya di dada mereka, sekedar isyarat tanda hormat. Kami tidak bersalaman. Hilaalpun memperkenalkan namaku.

“This sister is from Indonesia..her father and my parents knew each other” tambahnya. Mereka mengangguk dan senyum. Iiih santun santun banget siih?. Aku dipersilakan duduk. Akupun memilih tempat yang sentral untuk memudahkan berbincang. Sementara temanku, Ridwan, pesan makanan dan minuman.

 

Aku tidak pernah mengira kalau Hilaal membawa teman barunya begitu banyak. Maksudku orang baru disini ‘new muslim atau muallaf” . Buatku ini adalah a nice surprise, kejutan bagus dan aku cukup terperangah menyaksikan wajah wajah baru, wajah bule pula yang betul betul anyar memeluk agama Islam. Aku sangat eksaiting dan mengharu biru menyaksikan ini.

Rasanya tak sabar ingin berbincang dengan mereka, semisal wawancara walau tidak resmi banget tentunya. Informal saja. Aku berceloteh dengan mereka. Sambil menunggu pesanan makanan, mulailah mereka kutimbuni dengan pertanyaan yang aku yakin mereka menikmatinya.

Kutanya satu persatu namanya lalu kuucapkan selamat datang pada mereka: “Welcome to Islam, welcome to the club ” mereka senyum bahagia mendapat sambutan.

“I am Terry, I live in Uxbridge. I work for Distributor company. I deliver the goods to supermarkets in the country..” ujarnya. Usianya baru 24 . Terry, nampak tinggi, tinggi sekali untuk ukuran pria Inggris. Itulah pria Inggris pertama yang ber’taaruf, memperkenalkan diri dan bercerita bagaimana dia masuk Islam. Lanjutnya:

” Saya baru empat bulan memeluk Islam dan saya seneng banget bisa bergabung dan ketemu Bang, brother Hilaal” ujar Terry sambil mereguk minumannya.

” Apa gerangan yang paling pertama kali menyentak hati anda yang membuatmu menoleh ke agama Islam” tanyaku pada Terry. Dia tampak bingung: “Maksud saya ada kejadian apa yang membuatmu berfikir untuk masuk Islam”, aku menjelaskan.

Terry diam sambil berfikir, lalu: ” Hmm I dont think I have…”. Ternyata Terry tidak memiliki kisah atau catatan sesuatu yang menyentak hatinya yang membuatnya memeluk Islam secara tiba-tiba, inilah keterangan Terry.

“Saya, mungkin seseorang yang mencari-cari kebenaran, the truth, sesuatu yang membuat saya tenang. Orang tua saya masuk tipe Agnostic barangkali. Mereka tak peduli dengan agama dan merasa tidak perlu dengan agama. Saya respek itu. Repotnya, dikatakan Atheispun bukan, tapi kalau natalan mereka merayakan. Katanya tradisi. Naah halnya dengan saya memang saya mencoba mencari sesuatu. Saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Lalu saya belajar agama Budha, kemudian ikutan meditasi, tapi koq saya masih tidak tenang”, tutur Terry.

Kemudian kutantang Terry dengan gencarnya media yang menyudutkan Islam, serta sikap kebanyakan terhadap Islam dan Muslim. “Does not that put you off to come close to Islam and become Muslim ?”, aku mau tahu jawabannya.

” No it does not, it is quite the opposite infact, justru malah sebaliknya, membuat saya bertanya-tanya dan bikin penasaran. Saya ingin tahu apa sih sesungguhnya Islam itu. Saya mencari dimana letak salahnya dan ingin membuktikan bahkan mencocokan dengan apa yang dikatakan media. Sambil saya terus belajar agama Budha” tambahnya.

Menurutnya gama Budha belum bisa memberikan ketenangan pada dirinya dan tidak mampu menjawab apa yang ia cari. Utamanya tentang keTuhanan. Saya tahu ada Pencipta, the Creator. Dia cuma ingin meyakinkan bahwa memang ada Sang Pencipta. Saya masih tetap merasa kosong, ujarnya.

” Saya iseng-iseng main ke google, mencari informasi tentang Islam disana, lalu saya klik ke Islamonline, di sanalah saya temukan info tentang Islam dan saya temukan jawaban-jawaban yang selama ini saya cari, straightforward, simpel, mudah, jelas koq “…demikian Terry.

Akhirnya kututup percakapan dengan Terry dan aku mendapat jawaban, diakhir percakapan ia mengatakan bahwa ia cukup groggi menghadapi Ramadhan. Kami semua meyakinkan bahwa tidak akan membuat kita madharat.

James

Giliran bincang dengan James, anak Abege usinya baru 20 tahun ini, lahir dan dibesarkan di Kilburn, London agak ke barat atau NW, mengaku bahwa kedua orang tuanya Atheis. Disekolah James berteman dengan anak-anak Asia seperti India, Pakistan dan Bangladesh. Dengan sendirinya James terbiasa mendengar istilah dan term-term Islam.

Dia memilih mata pelajaran Religion pada saat James menjalani ujian terakhir SMU, A level. James banyak membaca dan belajar berbagai agama yang multi itu sampai ia sempat belajar filosofi yang cukup berat dan serius.

Suatu hari James tersentak benaknya memikirkan kematian. Hal ini betul betul membuat James berfikir dan merenung tentang kematian. Kalau ia bertanya pada Daddy dan Mummynya tentu mereka akan mentertawakan. Sebaliknya James juga berfikir tentang kehidupan. Apa tujuan hidup ini sesungguhnya, lalu kenapa kita mati, setelah mati nanti ada apa. Hal ini terus merasuk dalam hati dan benak James, saat itu James baru menjelang usia 19 tahun.

Dari rasa ingin tahunya, James mencari buku berbagai macam agama, termasuk Islam lalu ia pelajari dengan seksama. James ingat dia memiliki teman Muslim lalu ia bertanya dan bahkan terjadi diskusi dengan teman teman ini.

Dengan mudahnya teman-teman Muslimnya menerangkan “Apa itu tujuan hidup dan kematian menurut Islam”, yang membuatnya terpana.Tak berkutik. Apalagi mengingkarinya. Seakan ada semburat cahaya menyentuh galbunya.

“You are so confident mates to give me that explanation, they are all answered ” responnya pada temannya yang menerangkan dengan penuh semangat dan mudah diterima oleh nuraninya. James memang tipe pemikir, serius dan cerdas.

“Well…dari kecil kita terbiasa membicarakan kematian, kemudian juga Al-Quran selalu membicarakan dan mengingatkan kita akan kematian, jadi kita tahu jawabnya” dengan pedenya si teman meyakinkkan James.

“Lalu…orang semacam aku ini mau diapakan, taruh dimana? Menurut Tuhan kalian tidak ada tempat buatku kecuali kalau aku percaya pada Tuhan kalian khan ? “. Bagaimana kalian bisa meyakinkan Tuhamu itu ? James lemparkan pertanyaan ini pada mereka sambil berfikir seribu kali.

” Its up to you, mate. Our duty is to give you infomation as you needed it – if you are not satisfy..yeah.. read the book about Islam and Alquran is the best reference’, saran sang teman yang bicara dengn aksen cogney, maklum Londoner.

Pesan sang teman membuatnya mempelajari Islam lebih dalam. Dia pergi ketoko buku Islam, terus dia gali sampai kepada hal-hal yang berkaitan dengan science..banyak disebutkan didalam Al-Quran tentang ini. Artinya Islam tidak bertentangan bahkan sejalan dan saling mendukung. James berfikir. Dia perlu waktu dan perlu memperdalam Islama hingga betul-betul yakin, sesuai dengan apa yang ia cari dan butuhkan.

“Tak lama James menyatakan dirinya masuk Islam, mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia ke mesjid dihari Sabtu untuk belajar Islam, disanalah ia bertemu dengan Hilal dan rekan lainnya, kini James merasa banyak saudara.

” Islam is so comprehensive and straightforward ” ujar James menyimpulkan pendapatnya.

Ismael

Pria berasal Polandia ini mengaku baru 8 bulan masuk Islam.Sebelumnya ia memeluk agama Katholik. Di London dia baru 2 bulan. Sengaja migrasi ke Inggris karena di Polandia dia betul betul merasa sendirian. Dia akan dikucilkan oleh teman dan keluarganya kalau mereka tahu bahwa ia memeluk agama baru, agama Islam.

“Disana hampir tidak ada Muslim ..mungkin cuma beberapa gelintir saja, bisa dihitung jari dan itupun sembunyi”, paparnya dengan aksen Polishnya.

“Untuk orang Polandia sendiri Islam dianggap sesuatu yang asing, agamanya orang Arab. Sukar saya mencari orang Polandia beragama Islam..entahlah” ujarnya tak yakin.

Ismael merasa betah dan senang bisa berada di UK karena kegiatan Da’wah di London begitu banyaknya, aktif, dinamis sekali dan mudah mencari teman disini. Disamping Inggris adalah negara yang paling toleran di Eropa, menurutnya.

Aku temui Ismael di gedung WAMY, disuatu hari Jum’at bersama sister Aaishah, sahabatku asal Afghanistan. Ismael tampak hanief..baik dan sangat santun.

“Ok brother Ismael kini giliranmu cerita tentang kenapa dan apa yang membuatmu tertarik dengan Islam..” aku mulai menggelitik dia. Is senyum. Nampak keningnya berkerut yang berusaha keras mengingat sesuatu.

“Karena saya katholik.. kita kan percaya dengan yang Trinitas itu…” ia memulai.

” Naah trinitas itu membuat saya bingung, membuat saya gerah dan galau..bayangkan saya dilarang bertanya apalagi berdebat. Seolah kalau kita diskusi menjadi dosa besar. Sedang trinitas tidak bisa menjawab pertanyaanku, kebingunganku” lanjutnya.

“Ada pengalaman yang menarik dan berkesan pada saat kamu mencari islam.. ?”, aku begitu penasaran.

“Ohh ada sis..saya sering main main ke perpustakaan, library, pergi ke bagian agama dan saya temukan kitab Al-Quran. Entahlah..saya begitu penasaran. Dengan hati hati saya sentuh sang kitab, sepertinya saya menyentuh kristal yang harus saya handle with care, dengan hati-hati sekali. Saya buka lembar demi lembar. Semula saya bingung, karena harus kita baca dari sebelah kanan..tiba tiba saya tergerak untuk membacanya. Surat pertama yang saya baca adalah surat An-Nahl, ayat 68 – 69 , tentang madu. Saya baca dan saya tekuni setiap kata dan makna yang sarat. Sangat fenomenal. Mengagumkan. Belum lagi yang lainnya, entah saya merasakan sesuatu usai membaca ayat ini..seakan saya jatuh cinta pada Al-Quran” Is bercerita dengan begitu terharu.

” Surat Al-Ikhlas sudah pasti menjawab tentang the Oneness of God, Ke-Esaan Tuhan ya sis..artinya trinitas yang membuat saya tidak bahagia terjawablah dengan surat ini” tegasnya. Ismael nampak merasa lega telah menyampaikan pengalaman spiritualnya. Pangalaman luar biasa dalam kehidpuan seseorang yang menemukan Tuhannya.

” Hemm”. Aku meng-iyakan dan setuju banget dengan pendapatnya.Kita semua tak bisa mengelak. Begitu paparan dari Ismael, James dan Terry yang memiliki latar belakang dan cerita berbeda dalam mencari kebenaran hingga ia temukan Islam yang menjadi pilihan mereka. Maha Besar Allah.

Baik Terry dan James belum memberitahu orang tua mereka tentang Islam dan agama baru yang mereka anut. Pikirnya pada saatnya mereka akan memberi tahu pada orang tua mereka. Kapan? Pada saat mereka cukup matang tentang Islam itu sendiri dan sampai mereka cukup confident, percaya diri untuk mendeklarasikan agama baru mereka, agam Islam. Usai sejenak sambil mereguk minuman kami.

” Kamu ada rencana merubah nama atau memiliki nama Muslim” aku iseng bertanya pada Terry.

” Hmm..terfikir siih..I think Terry will match with Tariq isn it kayanya suaranya senada dengan…Tariq ya sis” oh ternyata dia mulai berfikir tentang nama Muslimnya, diiringi senyum.

“Wow Tariq.. keren ya nanti sama dengan nama Professor Tarik Ramadan”! tambahnya. Tapi aku menyarankan untuk membiarkan surnamenya, nama keluarga, kalau tidak akan merepotkan. Masalahnya nama-nama yang berbau Islam tengah menjadi sorotan dan menjadi kendala pula. Maklum Islamphobic tengah mewabah paska sebelas September. Setiap kita sepakat. Keep you original name !

Bisa kutarik kesimpulan bahwa kendati media tetap gencar menjelekkan Islam ternyata hal ini tidak membuat mereka put off, mundur bahkan sebaliknya.

Lewat persahabatan, dibarengi contoh dan sikap yang menyejukkan, penuh persaudaraan..ternyata cahaya itu telah mampu menerobos, menerpa dinding qalbu para pemiliknya.

Aku sangat memahami edan mensupport penuh akan gerak langkah dan kerja sdr Hilaal yang masya Allah sangat bijak untuk memupuk terus para pemeluk baru yang butuh dukungan sepenuhnya. Dengan mudahnya, mereka yang ghirrohnya (semangat berIslam) sedang menggelora, akan dengan mudahnya terperangkap oleh mereka yang mengklaim paling taqwa, paling benar yang menurutku kadang berlebihan.

Sedang Allah melarang kita untuk berlaku dan bertindak berlebihan dalam mengaplikasikan agama dan dalam hal lainnya. Islam tidak memberatkan.

“We do our best sis..” tambahnya. Hingga Ahad kemarin grup ini sudah mencapai anggota sekitar 50 orang dengan latar belakang yang berbeda tentunya baik warna, ras dan kebangsaan. Untuk menghilangkan penyakit assobiyah group kita sepakat untuk tidak diberi nama apapun. Mereka duduk bersimpuh, menyatu karena ‘La illah ha illallah. Muhamamad dar Rasulullah”.

Cahaya itu telah mampu menerpa celah relung hati-hati mereka, menerobos tembus ke dinding qalbu mereka, cahaya yang tak kenal warna, bangsa, warna dan masa.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tapi Allah memberi pertunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lebih mengetahui orang orang-orang yang mau menerima petunjuk” ( Al Qashash ayat 56). Allahu alam bisawab

28. Peter Sanders : Tuhan Memilihkan Saya

”Assalamualaikum,” ucap Peter Sanders sembari menjabat erat tangan wartawan Republika. Senyumnya segera tertebar ke seantero ruangan Auditorium Universitas Paramadina Mulia (UPM), Jakarta, Rabu (21/2), pekan lalu. Siang itu tubuh rampingnya dibalut kemeja dan tutup kepala biru khas Timur Tengah. Tapi sang fotografer kawakan itu sebetulnya lahir di London, Inggris, 61 tahun silam.

Di situlah Sanders memulai karir profesionalnya pada pertengahan 1960-an. Ia berdiri di gigir panggung para superstar: Bob Dylan, Jimi Hendrix, The Doors, The Who, atau Rolling Stones. Tapi Sanders merasa jiwanya kering. Akhir 1970 ia melakukan perjalanan spiritual ke India. Pulang ke Inggris setahun kemudian, ia masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al-Adheem.

Sanders tak lagi merasa kering. Islam memberi ruh pada pekerjaannya. Islam juga mengilhaminya sebuah jalan baru. Tahun itu juga Sanders pensiun memfoto selebritis dan memulai pengembaraannya ke negeri-negeri Muslim. Pada 1971 ia memotret Ka’bah dan lautan jemaah haji dari jarak dekat. Foto-foto spiritualnya dimuat di media-media utama Barat untuk pertamakalinya, seperti The Sunday Times Magazine atau The Observer.

Sanders atau Abd al-Adheem kini dikenal sebagai fotografer dunia Muslim terbesar — mungkin satu-satunya. Dalam rentang 35 tahun ia mengarungi tak kurang dari 40 negara Islam, dari Jerussalem hingga Sudan. Lewat foto-fotonya ia menyodorkan jejak-jejak peradaban Islam yang agung, yang kerap membikin kita merasa kagum sekaligus masygul.

Pekan lalu Sanders datang ke Jakarta untuk menggelar pameran foto The Art of Integration Islam: In Britain’s Green and Pleasant Land di kampus Paramadina. Pameran serupa sudah digelar di 25 negara termasuk di Tel Aviv, Israel. Berikut petikan wawancara Sanders dengan Iman Yuniarto F dari Republika.

Setelah perjalanan ke India pada 1971, Anda masuk Islam. Bagaimana ceritanya?

Ketika usia 20 tahunan, saya bertanya tentang mati. Usaikah diri kita setelah mati? Pertanyaan itu terus menghantui saya. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan karir saya di musik. Saya pergi ke India. Saya belajar Hindu, Budha, Sikh dan Islam.

Mengapa Islam yang Anda pilih?

Saya tidak tahu persis. Tuhanlah yang memilihkan untuk saya. Tapi, ada peristiwa yang amat berkesan saat di India. Di suatu pagi saya menunggu kereta api di stasiun. Orang amat berjubel dan hiruk pikuk. Di tengah keramaian itu, seorang ibu tiba-tiba menggelar tikar di dekat saya. Ia lantas melakukan gerak shalat di situ. Ini mengejutkan. Saya belum pernah melihat ini sebelumnya.

Saya bertanya kepada seorang anak muda, ”Apakah ini?” Ia menjawab, ”Ini nenek saya. Dia seorang Muslim. Ia sedang shalat.” Barangkali ini sebuah petunjuk. Allah memberi momen fotografis tersebut agar saya terus merekamnya dalam ingatan.

Ketika saya kembali ke Inggris, teman-teman lama saya banyak yang terjerumus narkoba. Namun, beberapa teman ada yang menjadi Muslim dan tak ikut-ikutan terbelit. Dari sini saya seperti memperoleh petunjuk: inilah jalan yang harus saya tempuh.

Setelah itu saya menemukan titik balik. Tiga bulan setelah masuk Islam saya naik haji ke Mekkah. Hingga akhirnya saya pergi nonstop ke 40 negara Islam yang berbeda.

Belahan dunia Muslim mana yang paling menarik bagi Anda?

Itu pertanyaan yang sering saya peroleh. Jawaban saya selalu sama: Inggris.

Saya mengunjungi seluruh pelosok Inggris dan saya menyadari saya menyukai Inggris. Tentu saja saya menyukai tempat-tempat lain. Saya tiga kali pergi ke Cina. Saya akan pergi ke sana lagi tahun ini. Ya, seluruh dunia amat menarik. Setiap negara memiliki kekhasan masing-masing.

Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk sekali perjalanan pemotretan?

Sangat bervariasi. Saat masih muda saya bisa menghabiskan waktu hingga enam bulan di satu negara. Tapi saat ini saya membatasi hanya dua minggu. Terutama di daerah-daerah yang sulit.

Kesan Anda tentang peradaban Muslim di Indonesia?

Saya belum pernah melakukan sesi pemotretan di sini. Mungkin nanti. Tentunya saya tak bisa menilai Indonesia cuma dari Jakarta saja. Tapi satu hal, orang Indonesia sangat murah senyum. Ini membuat saya nyaman.

Anda pergi ke banyak negara. Pernah mendapat hambatan saat memfoto?

Ada beberapa lokasi di mana memfoto dilarang. Di Saudi Arabia misalnya. Tapi, fotografi telah menjadi bagian hidup saya. Anda bisa saja dilarang, ditangkap, tapi Anda lantas dibebaskan lagi, ha ha ha….

Apa tips Anda dapat berbaur dengan beragam penduduk di beragam negara?

Cukup dengan murah senyum. Saya berupaya membuat sebuah hubungan. Tapi, percaya atau tidak, manusia itu memang ajaib. Semakin miskin seseorang, semakin murah hati dia. Di Cina, saya bertemu dengan seorang nenek Muslim umurnya sekitar 90 tahun. Mengetahui saya Muslim, ia ingin mengundang saya ke rumahnya.

Saya datang ke situ. Tapi tidak ada apa-apa di rumahnya. Cuma ada selembar kasur tipis dan seekor kucing yang kurus. Namun Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu. Dalam keramahtamahan sejati seorang Muslim, ia tetap berusaha menghidangkan saya makanan. Di negara di mana saya dilahirkan, orang cenderung amat privat. Mereka takkan mengundangmu datang ke rumahnya di pertemuan pertama. Ini hal menarik yang kita temui pada orang-orang miskin di dunia ini. Mereka justru sangat murah hati, dengan kondisi yang mereka miliki.

Foto-foto dunia Muslim karya Anda dipublikasikan di banyak media Barat. Apa sebetulnya yang Anda harapkan dari pemuatan itu?

Banyak peristiwa yang menanam kebencian terhadap Islam. Peristiwa 11/9 di AS dan bom 7/7 di Inggris. Ini membuat orang takut. Tapi Anda harus tahu, bahwa mayoritas orang Islam di dunia ini cinta damai. Islam itu sendiri berarti damai. Mengasosiasikan Islam dengan kekerasan adalah keliru.

Saya berusaha membangun sebuah tali (hubungan). Saya orang Inggris, saya lahir di London. Saya respek terhadap Islam. Islam agama besar yang sangat mendalam. Saya bertemu dengan banyak orang Islam. Saya yakin yang terbaik di antara mereka adalah yang melaksanakan Islam dengan benar.

Saya bertemu dengan orang-orang yang beribadah dengan serius dan belajar keras tentang Islam. Dan, saya melihat mereka benar-benar mampu mengubah diri mereka. Mereka tidak picik, terbuka, dan murah hati. Inilah Islam yang sebenarnya.

Tapi, hal ekstrem terjadi, lalu dikait-kaitkan dengan Islam. Ini bukanlah Islam itu sendiri. Itu cuma politisasi atas Islam saja. Saat ini kita memiliki problem terhadap orang-orang yang mengambil sedikit saja dari Islam, tidak keseluruhannya.

Alquran menyatakan bahwa kasih sayang adalah yang utama. Bismillahirrohmanirrahim adalah yang pertama. Inilah wajah Islam yang harus tampak. Saya ingin menunjukkan sisi tersebut.

Anda lebih suka mengabadikan sisi indah dunia muslim atau mengatakan apa adanya?

Saya berusaha memotret gambar-gambar positif. Saya berupaya menonjolkan keindahaan dari orang-orang ini. Kita butuh keindahan dalam hidup ini. Tuhan juga menyukai keindahan. Saya sering berada di tengah-tengah masyarakat muslim yang miskin. Tapi saya yakin, tetap ada kemurahan dan keindahan di tengah orang-orang ini.

Setelah banyak bertualang, bagaimana pandangan Anda tentang masyarakat muslim?

Banyak budaya bisa hidup dalam Islam, Islam itu seperti air sungai yang jernih. Ketika ia mengalir di atas batu hitam, maka air itu akan berwarna hitam. Jika melewati batu berwarna kuning, maka ia pun akan berwarna kuning. Karena itu di Afrika, Islam adalah Afrika. Di Inggris, Islam adalah Inggris. Di Cina, Islam adalah Cina.

Salah satu proyek Anda adalah mendokumentasikan masyarakat Islam tradisional. Mengapa?

Saya bertualang 35 tahun. Saya menemukan bahwa Islam tumbuh subur dalam lingkungan tradisional menciptakan masyarakat yang khas. Tapi gambaran itu mulai pudar di zaman moderen. Mereka beranjak punah. Anda hanya akan menemui Islam tradisional di beberapa tempat. Di Mauritania atau Hadramaut misalnya. Amat banyak ulama di sana. Orang-orang saling menjaga dan terhubungkan dalam sense spiritual yang amat tinggi.

Hal itu tak saya dapati di Barat. Saya berusaha membawa anak-anak saya ke dalam suasana seperti itu. Tapi lingkungan memborbardir mereka. Apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa memaksa. Tidak ada paksaan dalam Islam. Kebenaran harus datang melalui pemahaman. Saya lihat di Indonesia terdapat keseimbangan antara yang modern dan yang tetap memegang nilai-nilai tradisional.

Sebagai salah satu fotografer legendaris, Sanders terbilang unik: ia tak pernah mengenyam pendidikan fotografi. Sanders belajar secara otodidak. Kursus fotografi pertama Sanders justru dilakukan akhir 1990 di Swiss, atau tiga dasawarsa setelah ia malang melintang di jagad fotografi. ”Itu pun karena saya mendapat projek di Arab Saudi yang menuntut penggunaan kamera format besar,” tutur dia. Sanders muda mengaku sering kesulitan uang. Tapi ia berani berspekulasi dengan menjadi seorang fotografer. Ia menjajakan karya-karyanya ke penerbitan, koran, majalah, atau sampul album musik. Sanders mengaku menuruti panggilan hatinya untuk terjun ke dunia fotografi. Lantaran hobi, ia merasa bakal mampu survive di situ tanpa harus memiliki titel mentereng. Saat ini Sanders memiliki Peter Sanders Photography Library. Ini semacam pepustakaan yang mendokumentasi karya Sanders sepanjang 35 tahun di dunia muslim. Ada lebih 250 ribu foto dalam bentuk digital di situ. Ia menjualnya untuk keperluan majalah atau buku-buku tentang Islam.

Anda tidak mencantumkan tahun lahir di website Anda. Kenapa?

Sengaja. Bukan rahasia jika umur saya sekarang sudah 60 tahun. Tapi saya tak ingin terlalu terobsesi dengan umur. Ini membuat saya selalu siap untuk melakukan apa saja. Saya tidak ingin membatasi diri saya sendiri. Ketika saya pergi ke Cina, seorang penumpang yang tengah duduk, tiba-tiba berdiri, dan memberikan kursinya pada saya. Saya sempat ragu (apa maksud dia sebenarnya). Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Lalu saya bertanya pada seseorang. Anda pikir umur saya berapa? Dia menjawab 80 tahun, ha ha ha….

Tahun ini Sanders akan meluncurkan sebuah album kompilasi berjudul /Meeting with the Mountain. Sebuah album tentang wajah para muslim dunia. Ada ulama, spiritualis, kebanyakan malah cuma orang-orang biasa yang belum pernah difoto. Mereka, kata Sanders, adalah orang muslim yang cinta damai, religius, sederhana, dan tersembunyi. ”Saya ingin memberi gambaran yang benar tentang Islam. Selama ini wajah Islam selalu dibayang-bayangi politik,” katanya.

Toh, Sanders juga menunjukkan bahwa Barat masih menyisakan ruang toleransi yang besar untuk Islam. Karya fotonya, Mass for Peace, adalah pesan yang kuat soal itu. Foto tahun 2005 itu menangkap pemandangan seorang imam mesjid bernama Imran Golding yang tengah melantunkan adzan. Uniknya adzan tersebut dilakukan di dalam sebuah katedral besar di Salisbury Inggris.Saat itu di katedral sedang digelar konser musik oleh komposer Karl Jenkins yang diiringi 150 penyanyi. Tapi Jenkins secara khusus mengundang Golding. Yang terasa menggetarkan, menurut Sanders, adalah suasana hening dan khusuk di katedral. Orang-orang mendengarkan Golding dengan khidmat. Salah seorang lalu berdiri dan menyalami Iman Golding seraya mengatakan bahwa lantunan adzan tadi sangat indah. (RioL )

 

29. Linda Widad Delgado : Perjalanan Panjang Memperoleh Hidayah Islam

LINDA DELGADO, adalah seorang anggota polisi berpangkat Sarjana di Arizona, Amerika Serikat. Beliau menerima hidayah Allah dan memeluk agama Islam ketika dunia digegarkan dengan isu terrorisme. Ikuti kisah beliau berikut ini dalam terjemahan bahasa malaysia.

LIMA tahun yang lalu, usia saya 52 tahun dan merupakan seorang Kristian. Saya bukannya ahli pada mana-mana gereja, tapi sepanjang hidup, saya sentiasa mencari kebenaran. Saya menghadiri banyak gereja dan belajar daripada guru-guru mereka.

Semuanya tidak lengkap dan saya menyedari tiada apa yang benar melainkan Allah. Sejak usia saya 9 tahun saya membaca Injil setiap hari. Tidak dapat dikatakan, sejak sekian tahun lamanya, kerap kali saya mencari kebenaran yang hakiki.

Bertahun-tahun lamanya sepanjang pencarian saya untuk kebenaran, saya mempelajari beberapa ajaran agama. Lebih setahun lamanya saya belajar dua kali seminggu bersama seorang paderi Katolik, tapi tidak boleh menerima kepercayaan Katolik.

Kemudian selama setahun saya mempelajari Kesaksian Jehovah dan juga tidak dapat menerima kepercayaan mereka.

Saya menghabiskan masa hampir dua tahun bersama Mormon dan masih tidak menjumpai kebenaran. Saya pergi ke beberapa gereja Protestan, sesetengahnya selama beberapa bulan, cuba mencari jawapan pada persoalan saya.

Hati saya mengatakan Jesus bukannya Tuhan tapi adalah merupakan Nabi. Hati saya mengatakan Adam dan Hawa bertanggungjawab atas dosa mereka, bukan saya. Hati saya mengatakan saya mesti menyembah Tuhan dan tiada yang lain.

Perasaan saya mengatakan saya bertanggungjawab atas usaha baik dan jahat saya dan Tuhan sesekali tidak akan menjelma menjadi manusia untuk memberitahu bukan saya yang dipertanggungjawabkan. Dia tidak perlu hidup dan mati sebagai manusia, kerana Dia ialah Tuhan.

Begitulah kedudukan saya, penuh persoalan dan memohon doa kepada Tuhan untuk pertolongan. Saya begitu takut menghadapi maut tanpa mengetahui kebenaran. Saya berdoa dan terus berdoa.

Saya menerima jawapan daripada paderi-paderi dan mubaligh-mubaligh mengatakan, “Ini ialah satu misteri”.

Saya merasakan Tuhan mahukan manusia masuk ke syurga jadi Dia tidak akan menjadikan ianya satu misteri untuk pergi ke sana, bagaimana untuk menguruskan kehidupan ini, dan bagaimana untuk mengenali Dia. Saya tahu hati saya menyatakan iaitu apa yang saya dengar selama ini tidak benar.

Saya tinggal di Arizona, Amerika Syarikat dan pada usia 52 tahun belum pernah bercakap dengan orang Islam. Saya seperti kebanyakan orang Barat, telah membaca banyak melalui media mengenai Islam sebagai agama fanatik dan teroris, jadi saya tidak pernah mengkaji apa-apa buku atau maklumat mengenai Islam. Saya tidak tahu apa-apa mengenai agama tersebut.

PENEMUAN SAYA

Empat tahun yang lalu, saya bersara setelah berkhidmat selama 24 tahun sebagai pegawai polis. Suami saya juga pesara polis. Setahun sebelum kami bersara, saya merupakan seorang sarjan polis dan penyelia. Anggota polis seluruh dunia mempunyai ikatan yang sama, kita panggil sebagai Persaudaraan Penguat kuasa Undang-Undang. Kita sentiasa membantu antara satu sama lain tidak kira polis dari jabatan mana atau negara mana sekalipun.

Tahun tersebut saya menerima satu risalah yang memerlukan bantuan daripada sekumpulan anggota polis dari Arab Saudi yang datang ke Amerika Syarikat untuk belajar bahasa Inggeris di universiti berdekatan dan mengadakan latihan di akademi polis di bandar tempat tinggal saya.

Anggota polis dari Arab ini sedang mencari rumah untuk mereka tinggal bersama keluarga angkat bertujuan untuk mereka mempelajari budaya Amerika dan mempraktikkan bahasa Inggeris yang mereka pelajari.

Anak lelaki saya membesarkan cucu perempuan saya sebagai bapa tunggal. Saya membantunya mencari rumah berhampiran rumah kami agar kami dapat menjaga cucu. Saya berbincang dengan suami saya dan kami bersetuju ada baiknya kita membantu anggota polis tadi. Ianya juga merupakan satu peluang untuk cucu saya mempelajari mengenai orang daripada negara lain. Saya diberitahu anak-anak muda tadi beragama Islam dan saya begitu tertanya-tanya.

Seorang jurubahasa dari Arizona State University membawa seorang pemuda Arab bernama Abdul untuk bertemu dengan kami. Kami menunjukkan kepada pemuda tadi bilik tidur dan bilik mandi yang dia akan guna apabila tinggal bersama kami. Saya terus sukakan Abdul. Perwatakannya yang baik dan menghormati orang memikat hati kami!

Kemudian Fahd dibawa ke rumah kami. Dia lebih muda dan pemalu, tapi seorang anak muda yang ceria. Saya menjadi tutor mereka dan kami berkongsi banyak pengalaman kerja kepolisian, mengenai Amerika Syarikat dan Arab Saudi, Islam dan lain-lain.

Saya memerhatikan bagaimana mereka saling bantu membantu antara satu sama lain dan juga 16 anggota polis Arab Saudi yang lain yang datang mempelajari bahasa Inggeris.

Sepanjang tahun mereka di sini, saya menghormati Fahd dan Abdul yang tidak membiarkan budaya Amerika mempengaruhi mereka. Mereka ke masjid setiap hari Jumaat, menunaikan solat pada setiap waktu walaupun mereka keletihan, dan sentiasa berhati-hati apa yang mereka makan dan seterusnya. Mereka menunjukkan kepada saya masakan tradisional mereka dan mereka membawa saya ke pasar dan restoran Arab. Mereka begitu baik dengan cucu saya. Mereka sentiasa memberi cucu saya hadiah, berjenaka dan bersahabat.

Mereka melayan saya dan suami saya dengan penuh hormat. Setiap hari mereka akan bertanya sekiranya mereka perlu membantu saya membeli barangan di pasar sebelum mereka pergi belajar bersama anggota polis Arab yang lain.

Saya mengajar mereka bagaimana menggunakan komputer, dan saya melanggani akhbar Arab online dan mula membuat carian di internet untuk mempelajari lebih mendalam mengenai mereka, budaya mereka dan agama mereka. Saya tidak mahu melakukan perkara yang boleh menyinggung perasaan mereka.

Satu hari, saya menanyakan mereka jika mereka ada Quran lebih. Saya hendak membaca apa yang diperkatakan didalamnya. Mereka membuat permohonan daripada kedutaan mereka di Washington DC dan mendapatkan saya Quran terjemahan bahasa Inggeris, kaset-kaset dan risalah-risalah. Atas kehendak saya, kami mula berbincang mengenai Islam (mereka terpaksa bercakap bahasa Inggeris dan ini menjadi fokus sessi pembelajaran).

Saya mula menyayangi anak muda ini, dan mereka memberitahu saya bahawa sayalah orang bukan Islam yang pertama mereka mengajarkan Islam!

Setelah setahun, mereka menamatkan pengajian mereka serta latihan di akademi polis. Saya telah dapat membantu mereka dalam pengajian kepolisian, kerana saya pernah menjadi jurulatih polis.

Saya mengajak ramai kawan-kawan polis mereka ke rumah saya untuk menyiapkan projek universiti dan mempraktikkan bahasa Inggeris. Seorang daripada mereka membawa isteri ke Amerika, dan saya diajak ke rumah mereka. Mereka begitu baik dan saya berbicara dengan isterinya mengenai pakaian Islam, wudhu dan perkara lain.

Seminggu sebelum “anak-anak angkat” saya pulang ke Arab Saudi, saya merancang untuk mengadakan jamuan makan malam dengan hidangan tradisional mereka (saya membeli separuh daripadanya kerana tidak tahu memasaknya). Saya membeli hijab dan baya (gaun panjang). Saya hendak mereka pulang mengingati saya memakai pakaian wanita Islam yang sempurna.

 

Mengucap dua kalimah syahadah

Sebelum kami mula hendak makan, saya mengucapkan dua kalimah syahadah. Anak-anak muda tadi menangis dan ketawa dan ia sungguh istimewa sekali. Saya percaya dalam hati saya, Allah telah menghantar anak-anak muda ini sebagai membalas jawapan saya dalam doa-doa saya selama ini. Saya percaya Allah telah memilih saya untuk melihat kebenaran pada cahaya Islam. Saya percaya Allah telah menghantar Islam ke pintu rumah saya. Saya memujiNya atas sifat keampunan, penyayang dan pengasihNya kepada saya.

 

PENGEMBARAAN SAYA DALAM ISLAM

Anak-anak angkat Arab saya pulang ke kampung halaman mereka seminggu selepas saya memeluk agama Islam. Saya amat rindukan mereka, tapi masih terasa gembira. Saya telah menghadiri masjid berdekatan tempat tinggal saya sebaik sahaja saya memeluk agama Islam dan mendaftarkan diri saya sebagai seorang Islam. Saya menjangkakan sambutan yang baik daripada masyarakat Islam tempatan. Saya menyangkakan semua orang Islam adalah seperti anak-anak angkat saya yang telah bersama saya setahun yang lalu.

Keluarga saya masih dalam keadaan terperanjat! Mereka menyangkakan saya akan berpegang pada agama baru ini hanya untuk sementara waktu, menjadi tidak ketentuan, dan beralih ke agama lain, seperti mana yang saya lakukan sebelum ini. Mereka begitu hairan dengan perubahan pada kehidupan harian saya. Suami saya seorang yang serba boleh, jadi dia membeli makanan halal apabila saya katakan kita akan makan makanan halal dan menjauhkan makanan haram, dia setuju.

Perubahan seterusnya ialah mengalihkan semua gambar manusia dan gambar haiwan daripada semua bilik di rumah kami. Satu hari apabila suami saya pulang kerja dia mendapati gambar-gambar yang digantung di dinding sebelum ini, telah disusun dalam album. Dia hanya melihat tanpa sebarang komen.

Seterusnya saya menulis surat pada keluarga saya yang bukan Islam dan memberitahu mereka keadaan saya dan menjelaskan bagaimana ianya tidak akan mengubah hubungan kekeluargaan. Saya menerangkan sedikit asas Islam. Keluarga saya tetap dengan pendirian mereka, dan saya meneruskan usaha belajar sembahyang dan membaca Quran. Saya menjadi aktif dalam kumpulan wanita Islam melalui internet dan ini memudahkan pembelajaran saya.

Saya juga menghadiri kelas asas Islam di masjid apabila saya tidak bekerja. Saya masih seorang sarjan polis ketika itu dan ianya adalah sukar – sebenarya mustahil untuk bertudung. Ini begitu menggusarkan saya dan amat saya bimbang. Hanya lapan bulan lagi dan saya boleh bersara, jadi saya membuat permohonan, lalu dibenarkan untuk bekerja tiga hari seminggu untuk saya membuat perancangan dan projek penyelidikan.

Enam bulan berlalu, muslimah di masjid tidak begitu mengendahkan saya. Saya merasa kecewa. Saya terasa seperti orang luar. Saya jadi keliru. Saya cuba bergiat aktif dalam komuniti bersama segelintir muslimah yang baik dengan saya. Saya tercari-cari mereka yang baik hati, setia kawan dan sikap yang baik yang ditelah ditunjukkan oleh anak-anak muda polis Arab pada setiap hari.

Saya melakukan banyak kesilapan di masjid, seperti bercakap di tempat sembahyang. Saya pergi ke majlis komuniti dan makan dengan menggunakan tangan kiri; saya menggunakan ‘nail polish’ dan telah dimarahi. Saya mengambil wudhu dengan cara yang salah dan dipandang serong. Saya menjadi lemah semangat.

Pada satu hari saya menerima bungkusan daripada kawan muslimah saya yang saya kenal melalui internet. Dalam bungkunsan tersebut terdapat beberapa abayas, hijabs, stokin sutera dan sekeping nota yang mengalu-alukan kemasukan saya ke dalam agama Islam. Wanita ini daripada Kuwait.

Seterusnya seorang muslimah yang baik hati mengirimkan telekung dan sejadah yang dia buat sendiri. Wanita baik ini tinggal di Arab Saudi.

Saya menerima e-mel yang saya sentiasa ingat apabila saya terasa seperti orang asing. Nota dalam e-mel tersebut berbunyi : ” Saya merasa gembira anda memeluk agama Islam, sebelum saya menemui ramai orang Islam”. Ini bukanlah penghinaan. Ianya adalah peringatan iaitu Islam itu sempurna dan kita sebenarnya orang Islam yang tidak sempurna. Sepertimana diri saya sendiri yang mempunyai kelemahan, begitulah juga saudara-saudara Islam saya yang lain.

Saya juga mula memahami apa yang saya percaya sebagai anugerah Allah pada umat Islam : iaitu persaudaraan dalam Islam.

Empat tahun berlalu, kehidupan saya berubah dengan begitu ketara. Keluarga saya telah menerima dengan rasa baik dan toleran yang saya adalah seorang Islam dan akan sentiasa berada dalam keIslaman. Segala puji bagi Allah yang telah menguji saya yang memeluk Islam dan berhadapan dengan keluarga yang berusaha untuk mengeluarkan saya daripada Islam.

Beransur-ansur, saya mendapat kawan setempat dan melalui ruangan siber, ramai kawan-kawan muslimah saya telah menjadi keluarga Islam saya yang membantu, mengasihi dan menjalinkan persahabatan. Penghujung tahun pertama saya memeluk Islam, saya telah jatuh sakit dengan penyakit yang membahayakan. Saya berpegang teguh pada tali Islam dan bersyukur dengan pemberian teh biji hitam dan air zam-zam serta doa daripada sahabat saya serata dunia.

Setelah keadaan kesihatan saya bertambah teruk saya menjadi lemah. Saya terpaksa memberhentikan kerja komuniti dan terpisah daripada komuniti Islam setempat. Saya berusaha keras dalam solat saya, menghadapi kesukaran untuk menyebut perkataan Arab, tapi tidak pernah putus asa.

Guru yang mengajar Islam membuat beberapa kaset, dan sahabat saya membawanya ke rumah saya. Setelah dua tahun, saya telah belajar empat surah daripada Quran. Ini mungkin nampak sedikit pada kebanyakan orang Islam, tapi untuk saya ianya adalah satu pencapaian yang besar. Saya belajar memahami ayat-ayat yang diucapkan didalam solat, perjuangan selama dua tahun.

Tahun ketiga keIslaman saya, saya terkena serangan sakit jantung dan terpaksa melalui pembedahan jantung. Ianya waktu yang begitu sedih untuk saya, kerana saya tahu saya tidak akan dapat menyentuh dahi saya ke lantai ketika solat, tapi akan selamanya terpaksa duduk atas kerusi untuk menunaikan solat. Pada masa inilah saya memahami kemudahan yang Allah berikan dalam ibadah. Bersembahyang secara duduk diatas kerusi adalah dibolehkan; tidak berpuasa apabila keuzuran adalah dibolehkan. Saya tidak merasakan keIslaman saya kurang apabila saya melakukannya dalam keadaan yang demikian.

Setelah menziarahi beberapa buah masjid, ianya adalah seperti Mini Bangsa Bangsa Bersatu, saya dapat melihat beberapa kumpulan kecil di masjid yang terhasil mengikut bahasa dan budaya bukannya disebabkan oleh suka atau tidak suka pada seseorang. Saya merasa senang walaupun terdapat banyak perbedaan, saya sentiasa boleh mendapatkan ucapan “Assalamualaikum” dan senyuman.

Kemudian, saya mula berkenalan dengan mereka yang memeluk Islam seperti saya. Terdapat banyak persamaan antara kita – kami menghadapi ujian yang sama, seperti ahli keluarga yang bukan Islam, kesukaran menyebut perkataan Arab, terasa kesunyian pada hari perayaan Islam, dan tidak mempunyai ahli keluarga untuk berbuka pada bulan Ramadhan.

Adakalanya keIslaman kami akan mengakibatkan sahabat lama kita yang tidak boleh menerima perubahan pada diri kita, atau disebabkan oleh aktiviti yang kita tidak dapat bersama dengan mereka yang bukan Islam seperti menari serta pergaulan bebas lelaki dan perempuan.

Apabila saya tidak berupaya melakukan khidmat komuniti, saya berusaha dengan cara lain untuk kebaikan komuniti Islam. Saya berterusan memohon pertolongan Allah dalam hal ini.

Pada satu hari, cucu saya mencadangkan agar saya menulis buku mengenai anak-anak angkat saya daripada Arab Saudi, Islam dan pengalaman keluarga saya dengan Islam. Saya membuat keputusan untuk menulis buku dan termasuk juga cerita mengenai sekumpulan gadis, Islam dan bukan Islam. Cerita tersebut termasuklah masalah yang dihadapai oleh anak gadis di sekolah dan di rumah dan saya akan menggunakan pengetahuan saya dalam Islam sebagai panduan untuk karektor dalam buku tersebut.

Saya mula menulis beberapa siri buku yang dipanggil “Islamic Rose Books”. Saya membentuk kumpulan penulis wanita Muslim dan penulis aspirasi dan seterusnya terhasillah persatuan Islamic Writers Alliance (Persekutuan Penulis Islam). Persekutuan ini ialah organisasi antarabangsa yang memberi sokongan untuk penulis wanita Islam dan penulis aspirasi. Matlamat utama kami ialah untuk mempromosi hasil kerja kami kepada para pembaca dan penerbit.

Saya juga membuat keputusan untuk membantu dua Tabung Makanan Islam dengan cara membantu mereka membuat pangkalan data yang digunakan untuk tujuan inventori, pelanggan, dan untuk menghasilkan lapuran yang diperlukan untuk tujuan penajaan serta pembiayaan.

Saya juga membuat keputusan iaitu saya akan membelanjakan sebahagian besar keuntungan hasil jualan buku tersebut untuk membeli buku dan ditempatkan di perpustakaan kanak-kanak. Saya dapati banyak perpustakaan yang mempunyai banyak ruangan kosong ditempat buku kanak-kanak Islam.

Banyak lagi yang saya perlu pelajari mengenai Islam. Saya tidak pernah jemu membaca Quran dan saya gemar membaca kisah-kisah mengenai tokoh-tokoh Islam yang unggul.

Apabila saya merasa ragu-ragu dalam sesuatu perkara, saya akan merujuk pada sunnah Rasul saw. Saya akan melihat bagaimana Baginda saw akan bertindak dalam sesuatu situasi dan saya akan menjadikannya sebagai panduan.

Pengembaraan saya dalam Islam akan berterusan, dan saya sentiasa mengharapkan pengalaman-pengalaman baru. Saya bersyukur pada Allah atas sifat keampunanNya dan sifat penyayangNya – zs

 

30. Hilary Saunders : Aku Bahagia dalam Islam

 

Keputusan paling besar yang pernah kulakukan dalam hidupku ternyata juga merupakan suatu hal yang luar biasa sederhana. Mengucapkan dua kalimat syahadat ini, kulakukan setahun lalu di depan dua orang saksi. “Aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah RasulNya” Ucapku, dan mulai saat itu, aku menjadi seorang Muslim.

Antara yakin dan sedikit tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya, Hilary Saunders berusaha untuk menjajaki kembali keputusannya. Mualaf asal Inggris dan wartawati Al-Jazeera itu berada dalam kegamangan. Negeri Yordanlah yang akan menjadi saksi keteguhan iman yang telah menjadi pilihannya. Hingga detik saat mengucapkan syahadat itu, ia masih belum sepenuhnya yakin bahwa itulah yang ingin ia lakukan.

“Bagaimana kalau suatu pagi aku terbangun dan berubah pikiran? Mungkinkah aku akan merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar?”

Tetapi nyatanya dia merasakan betapa telah berubah hidupnya. Dia tak tahu bagaimana harus menggambarkannya, tetapi saat dia mengucapkan kata-kata itu, dia merasakan kebahagiaan dan rasa cinta memenuhi seluruh relung hatinya dan baru empat hari kemudian dia berhenti merasa seakan-akan tengah melayang-layang.

“Aku hampir saja menggambarkan pengalaman batinku itu sebagai coming out, keluar, karena untuk pertama kali suatu bagian penting namun sangat rahasia dari diriku, kini muncul dan diketahui orang lain.”

Prosesi keislamannya barangkali tidak lebih dari sekadar beberapa menit, tetapi itu adalah puncak dari sebuah pencarian yang telah dijalani sepanjang hidupnya. Kedua orangtuanya agnostik (mereka tidak percaya akan adanya Tuhan), dan membesarkannya bersama kedua saudara perempuannya tanpa agama supaya mereka bisa memutuskan sendiri bila dewasa nanti.

Sejak kecil, dirinya sudah menyadari bahwa dia tengah mencari sesuatu, entah apa. Pada saat-saat tertentu dia bahkan merasa seakan-akan seperti sebuah kapal tanpa kemudi di laut yang bergolak, tak tahu ke mana harus berlabuh. Saat mulai kuliah, Hilary muda mulai meneliti berbagai kepercayaan yang ada. Misalnya, sebuah sistem falsafah yang dikenal sebagai The Work, yang ternyata banyak menyontek Islam, meskipun dia belum tahu ketika itu. Hilary juga meneliti berbagai filosofi new-age, mencoba meditasi Budha, dan membaca berbagai buku pengembangan diri.

Di masa lalu pun hubungan dengan lawan jenis seringkali bermasalah. Suatu kali, sesudah putus dari seorang pacar, dia baca buku karya Robin Norwood yang berjudul Wobel Who Love Too Much. Sebenarnya, Hilary sudah pernah membacanya dan dia berpikir buku itu hanya cocok untuk perempuan-perempuan yang terlalu tergantung kepada pacar atau suami yang justru senang memukuli mereka. Tapi kali ini Hilary berpikir. Jangan-jangan, dia pun sama dengan semua perempuan yang diceritakan oleh Robin Norwood itu, maka dia pun mengerjakan semua hal yang disarankan penulisnya.

Buku itu mendorong perempuan untuk mengembangkan spiritualitasnya, mencoba lebih menghargai diri sendiri, dan barangkali juga mengikuti konseling. “Ini sebuah titik penting dalam perjalanan hidupku karena aku, saat itu, juga sedang mempelajari konsep reliji yang mengajari orang tentang kasih sayang. Benakku penuh dengan pergulatan konsep ketuhanan. Aku terus mencari ke mana seharusnya aku melangkah secara spiritual.”

Seiring berjalannya waktu, kemudian Hilary mendapatkan pacar seorang pria Muslim. “Sebenarnya sama sekali tidak ada niatku berpacaran dengan seorang Muslim.” Kenang Hilary. Ironisnya, kebetulan saja hal ini terjadi sesudah mereka mabuk-mabukan (bisa dibilang, pria itu adalah seorang muslim yang saat itu tengah khilaf dan melakukan kesalahan).

“Pada saat itu, pengetahuanku nol tentang Islam. Aku tidak pernah punya teman muslim di masa kecil dan remaja, dan hampir semua citra yang kumiliki tentang agama ini negatif. Pada pandanganku, Islam itu kuno, peninggalan jaman kegelapan, sangat menindas, dan otoriter terhadap perempuan. Persepsiku bahwa Islam itu sangat anti perempuan menjadi salah satu sumber perdebatan kami. Aku menantang pacarku ketika itu untuk menjelaskan mengapa Islam demikian anti feminis? Aku keluarkan semua argumentasi yang biasa dikemukakan orang di Barat tentang Islam, seperti, “Islam itu mengajari laki-laki untuk merendahkan perempuan. Kalau tidak, kenapa Islam mengizinkan pria memiliki empat orang istri?” Serentetan hujatan nyaris tak bisa dipatahkan pacarnya.

“Jujur saja, semua perdebatan soal Islam inilah yang membuat kami bertahan pacaran selama empat tahun. Dia selalu berusaha mencoba menjawab semua pertanyaanku, dan memberiku rujukan dari Al-Qur’an dan Hadits. Aku mulai membacanya sendiri, dan perlahan-lahan semua pertanyaanku mulai terjawab, sampai aku tersadar bahwa banyak sekali pandanganku yang keliru tentang Islam. Karena sedikitnya pengetahuanku, misalnya tentang laki-laki boleh beristri empat, aku keliru menyimpulkan.” Hilary mencoba meyakinkan diri.

“Salah satu hal yang juga kalau kusadari adalah bahwa dalam Islam, poligami bukannya didorong dan dipromosikan, melainkan ditoleransi. Kadang-kadang memang poligami menjadi kebutuhan. Tetapi selalu ada rambu-rambu penjaganya. Kalau seorang pria menikah namun istrinya tak bisa memberinya anak, maka ia boleh mengambil istri kedua dengan kesepakatan dari istri pertama. (di lain pihak, bila seorang pria tidak bisa memberi anak, maka si istri dapat meminta cerai). Bagiku, ini cara yang lebih baik daripada yang terjadi di barat, yang memungkinkan si suami menceraikan istri tanpa tunjangan apa pun.” Terang Hilary makin mantap.

“Doktrin tentang poligami ini sebenarnya adalah untuk melindungi wanita. Bukan untuk mendorong kaum pria mengumpulkan sekian istri untuk berbangga-bangga. Inilah jenis pertanyaan yang aku lontarkan sendiri, lalu aku perdebatkan sampai kehabisan jawaban sendiri. Misalnya, mengapa perempuan membutuhkan perlindungan pria? Mengapa perempuan tak boleh memiliki lebih dari satu suami? Aku tersadar bahwa seorang perempuan tidak mungkin memiliki empat suami karena tentu akan sulit menentukan siapa ayah anak-anaknya, dan para ayah itu bisa saja lalu berkelahi soal siapa yang harus menunjang kehidupan anak-anak tersebut.” Hilary lalu tersadar, betapa sangat masuk akalnya Islam.

Beberapa waktu kemudian, Hilary dan pacarnya pisahan. Hilary lalu pergi berlibur ke Yordania. Di sanalah dia akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Entah bagaimana caranya dia sampai pada keyakinan itu, yang jelas tiba-tiba saja dia yakin sepenuhnya. Di tempat yang sungguh indah itulah Hilary menyaksikan bagaimana cara sesama muslim berinteraksi, seperti apa rasanya mendengar adzan (dia tersentuh karenanya).

Sekembalinya ke Inggris, dia mendaftar ke sebuah kursus mengenal Islam selama tiga hari di Masjid Agung di Regent’s Park, di utara London. Di penghujung hari yang ketiga itulah Hilary memutuskan bahwa sudah tiba waktunya dia bersyahadat.

Pada saat mengikuti kursus itu Hilary mendapat sejumlah teman baik. Tentu saja, sebagian besar sahabat muslimnya ada juga yang mualaf. Tentu, banyak sekali orang masuk Islam di Inggris (sekitar 10.000 dari 1.8 juta Muslim di Inggris adalah mualaf berkulit putih atau Afrika Karibia).

Salah satu masalah yang mereka hadapi adalah, karena mereka tidak tumbuh besar di tengah-tengah masyarakat Muslim, sulit bagi mereka untuk membangun hubungan antar manusia. Islam tidak mengizinkan pacaran. Islam memerintahkan masyarakat untuk membantu menikahkan orang-orang yang belum menikah.

“Aku sendiri merasa akan ada kendala teknis dari pendekatan ini secara pribadi. Tetapi aku sendiri sangat sangat ingin menikah dan aku yakin pada akhirnya aku akan mendapatkan seorang suami yang baik, insya Allah.” Ungkap Hilary penuh harap.

Sejak memeluk Islam, Hilary memutuskan untuk berpakaian Islami dan mengenakan Jilbab. Di balik jilbab ada konsep mengenai perlindungan diri dengan berpakaian secara sopan, tidak untuk memamerkan diri atau menarik perhatian lawan jenis, serta mencegah iri hati. Islam menasihati kedua pihak, bukan hanya perempuan, untuk berpakaian sopan.

“Saat pertama kali hendak mengenakan jilbab, aku sempat merasa cemas, bertanya-tanya dalam hati apa kiranya reaksi orang melihatku.” Itulah bayangan yang selalu muncul di hadapannya. Namun Keyakinan Hilary telah mengikis semua bayangan kelam itu.

“Kuingatkan diriku sendiri bahwa aku sudah mengambil sebuah komitmen, dan jilbab adalah tanda lahiriah komitmen tersebut. Sesudah mengenakannya, aku merasa sangat aman dan terlindungi. Aku merasa lebih menghargai diriku sendiri. Aku merasa telah menemukan tempatku yang sesungguhnya di dunia.” Allahu Akbar. [dakwatuna.com]

 

31. KDNY : Bocah 14 Tahun Memeluk Islam

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Lahir beragama Kristen, Justin Hudson tak pernah merasa terikat dengan Kristen. Ia pun bersyahadat dan mengganti namanya ‘Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam’

Pagi itu, Senin 19 Maret, seperti biasa saya hadir di Islamic Center of New York sekitar pukul 11:00 pagi. Suasana Islamic Center masih sepih dan hanya terlihat beberapa orang sedang shalat sunnah di ruang bawah. Penjaga (security) menyapa dan menyampaikan bahwa saya sudah ditunggu oleh dua remaja di ruang receptionist. Saya pun bersegera masuk dan sebelum sempat menyampaikan salam, salah seorang dari remaja putra tersebut mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, saya berlalu, tapi kemudian dipanggil oleh receptionis bahwa ada yang ingin masuk Islam. Saya sepertinya tidak percaya karena yang ada di tempat tersebut hanya dua anak remaja, dan keduanya nampak seperti anak-anak Muslim.

Bahkan dari wajahnya, salah satu dari mereka adalah keturunan Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh). Saya meminta waktu untuk ke kantor saya dan meletakkan beberapa buku yang saya bawa.

Setelah istirahat beberapa saat, saya menelpon receptionis agar kedua remaja itu dipersilahkan masuk ke kantor. Tapi berapa lama, masuklah kedua remaja itu ke kantor dengan wajah ceriah tapi sedikit nampak khawatir. Untuk menjadikan suasana lebih bersahabat, saya ulurkan tangan dan mengucapkan salam kepada keduanya. Ternyata anak yang berwajah Asia Selatan itu adalah anggota jama’ah Jamaica Muslim Center, di mana saya diamanahi sebagai Direktur.

“I’ve seen you many times, but you don’t know me” sapanya. Saya Tanya “where did you see me?” “At JMC” jawabnya singkat.

Lalu saya berbalik tanya “why you are here?” kedua remaja itu saling memandang, lalu menjelaskan bahwa keduanya adalah anak SMA Hunter (Hunter High School) di kota New York. High School ini adalah sekolah SMA Special (Special High School) dan hanya mereka yang lolos test atau memiliki nilai di atas rata-rata yang bisa diterima. Menurutnya, sejak awal mereka diterima disekolah itu, mereka sudah bersahabat.

Saya kemudian bertanya lebih lanjut “what then brings you here?”. Tiba-tiba saja, yang satunya lagi menyelah “I wanted to be a Muslim?”. Saya kemudian baru yakin bahwa memang pagi itu ada seseorang yang ingin masuk Islam. Saya lalu tanyakan nama dan agama yang dianutnya.

“I am Justin Hudson”. Kemudian dia terdiam. Saya kemudian tanya lagi “what it you current belief?”. Dia seperti ragu menjawab, lalu secara diplomatis dia mengatakan “I was born a Christian but never felt attached with my Christianity”. Lebih dia menjelaskan bahwa dia memang yakin akan adanya Tuhan, tapi secara formal dia belum pernah merasa terikat dengan agama Kristen. “Since I studied Islam I feel really connected with it” tambahnya.

Remaja keturunan African American ini nampak lugu, walaupun terdengar kata-kata cerdas dari ucapannya. Segera saya memulai menjelaskan bahwa sebenarnya secara informal dia sudah Muslim karena sudah meyakini bahwa Islam ini adalah agama yang benar (true religion). “Your personal faith is the real thing that turns you to this religion. What you need right now is formalizing your faith by declaring it in front of some witnesses”.

Oleh karena Justin memang sudah menghapal 5 rukun Islam, saya cuma menjelaskan rukun Iman yang harus diyakini. Tentunya dengan sedikit penjelasan lebih jauh mengenai pergaulan remaja dalam konteks masyarakat Amerika. Justin nampak memperhatikan dengan seksama dan sekali-sekali menganggukkan kepala. “Do you have any further question?” tanya saya. Dia cuma menggelengkan kepala pertanda bahwa dia tidak ada pertanyaan mengenai Islam saat itu.

Saya kemudian segera menuntun dia untuk mengucapkan syahadah, tapi dia segera menyelah “can I tell you my Islamic name?”. Saya pun segera menjawab “of course! Do you have your Islamic name even before your shahadah? What’s your name?”. Dia menyebut namanya dengan cepat dan hampir saja saya tidak mengerti. “It’s too long” kata saya setelah mendengar nama tersebut.

Karena tidak jelas penyebutan itu, saya sekali lagi, “can you tell me your name once again?”. Kali ini dengan pelan tapi seolah sangat familiar dengan penyebutan nama tersebut. “Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam”, jawabnya mantap. Saya katakana sama dia, biasanya nama panjang itu cukup dengan tiga kata. Tapi nama dia ini sedemikian panjang, itupun belum dengan last name-nya “Hudson”. Tapi nampaknya dia sudah mantap dengan penamaan itu. Bahkan sudah paham betul dengan makna nama tersebut.

Lalu saya ingatkan bahwa syahadah ini adalah awal langkah memasuki Islam. Tentu ketika memasuki sesuatu, sudah seharusnya dilakukan dengan hati yang mantap. Hati yang mantap yang saya maksudkan adalah “be sincere, because this is your pledge to your Lord the Creator”. Si Justin sedikit dan mangangguk.

Disaksikan oleh temannya, Ali, dan seorang jama’ah, pagi itu dengan mantap mendeklarasikan imannya: “Ash-hadu an laa ilaa illa Allah-wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”. Lalu dilanjutkan dengan ucapan selamat dan pekikan takbir oleh dua orang yang menyaksikan.

Sebelum meninggalkan Islamic Center untuk kembali ke sekolahnya, saya wasiatkan Nasir Islam, demikian ia menyingkat namanya, untuk selalu menambah ilmu keislaman. Sayang ingatkan bahwa betapa ni’mat Allah ini yang telah memberikan kesempatan kepadanya mendapatkan hidayah pada saat masih belia.

“You have a wide opportunity to a better Muslim than many of us”, kata saya. Juga tak lupa saya nasehatkan untuk tetap berprilaku baik kepada kedua orang tua, bahkan lebih baik lagi. Tentunya tidak lupa saya ingatkan bahwa iman ini adalah amanah untuk juga disampaikan kepada teman-teman yang lain. Nampak Nasir serius mendengarkan nasehat-nasehat itu.

Pada akhirnya dia meninggalkan Islamic Center dengan doa, semoga Nasir selalu dijaga di jalanNya. Amin! [hidayatullah.com]

32. Yasmin : Beranjak dari titik nol

 

Cerita ini kisah dari salah seorang teman mualaf saya. Tulisan lama dan tadinya ditulis untuk sebuah majalah wanita milik teman eks Tsukuba. Sarat dengan hikmah… ada baiknya menjadi sarana pembelajaran buat kita semua. Selamat menyimak… (tarik nafas… jangan lupa sedia minuman & snack, karena yg dibaca bakal puanjaang..!!

Saat itu bulan November 2004, muslimin dan muslimah dari berbagai negara berdatangan untuk menjalankan sholat Ied. Melihat seorang ibu yang tengah sibuk membenahi perlengkapan dua orang anaknya yang menggunakan jilbab kecil ala Indonesia, saya bersama beberapa teman memberanikan diri untuk bertanya dalam bahasa Indonesia kepadanya. “Yasmin…”, begitu muslimah ini memperkenalkan dirinya pada saat pertama kali kami bertemu di

satu-satunya musholla di Tsukuba, Ibaraki, Jepang. Ternyata Yasmin ini bersuamikan orang Indonesia dan tinggal tidak jauh dari Tsukuba.

Nama “Yasmin”, ia dapatkan dari orang tua suaminya yang merasa kesulitan untuk mengucapkan nama jepangnya, Yasuyo. Sudah 6 bulan saya mengenal Yasmin. Kesan saya, dia orang yang mandiri, dan tegas. Kelugasannya dalam berbicara, membuat saya menilai dia mempunyai sifat dasar yang berbeda dengan orang Jepang pada umumnya, yang selama ini saya kenal.

Pertanyaan Yang Mengusik Masa Kecil

Dilahirkan pada tahun 1973 di Tokyo, Satou Yasuyo, merupakan anak pertama dari dua bersaudara di keluarga Satou. Sejak berumur 4 tahun, Yasuyo kecil pindah ke Chiba, sebuah propinsi yang bersebelahan dengan Tokyo. Seperti anak-anak Jepang pada umumnya, Yasuyo tidak mengenal adanya kekuatan Yang Maha Kuasa.

Ayah dan ibu, sekolah maupun lingkungannya tidak memberi ruang untuk hal-hal yang tidak terlihat oleh mata. Walaupun demikian, di dalam pikiran Yasuyo kecil yang gemar dengan permainan puzzle dan menggambar ini, kerap muncul sebersit pertanyaan, “ Mengapa saya bisa hidup? Mengapa saya menjadi perempuan?……” Seiring dengan waktu, pertanyaan demi pertanyaan begitu saja berlalu, tanpa jawaban.

Memasuki dunia sekolah menengah, semakin banyak pertanyaan yang lebih kompleks, berdesakan di dalam pikiran Yasuyo. “ Apabila di dunia ini ada orang yang berbuat baik dan ada yang jahat, lalu apakah berarti dalam kehidupan ini tidak ada keadilan? ”.

Pertanyaan ini dipicu oleh gencarnya kasus ijime (dalam bahasa Inggris “bullying”) di tingkat sekolah dasar hingga menengah di Jepang pada saat itu. Dia melihat bagaimana seorang yang di-ijime ini menjadi tersiksa, tidak mempunyai teman, tidak berani melaporkan kejahilan temannya kepada orang tua apalagi guru di sekolah, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak kuat memikul beban sendiri.

Namun, kembali tidak ada jawaban atas pertanyaan yang muncul di pikiran Yasuyo.

 

Kejenuhan

Lepas dari sekolah menengah atas, Yasuyo memutuskan untuk mendalami bidang fashion. Masuklah ia di sebuah sekolah mode di Tokyo, selama 4 tahun. Lepas dari sekolah tersebut, dia langsung bekerja pada sebuah perusahaan garmen.

Kesibukan pekerjaan, membuat dia harus tinggal menetap di Tokyo, mengikuti perputaran roda kota besar yang penuh sesak dengan kesibukan pekerjaan. Tiada hari tanpa memikirkan pekerjaan.

Setiap langkah selalu berorientasi usaha untuk meningkatkan hasil penjualan pakaian di perusahaan tempatnya bekerja. Suatu hal yang tidak menghasilkan uang, menjadi sia-sia di mata kebanyakan masyarakat bisnis di Jepang.

Di tengah kejenuhan dengan rutinitas tersebut, hati Yasuyo kembali berteriak, “ Bodoh sekali kehidupan seperti ini… Orang-orang hanya memikirkan uang dan uang..”.

Ketidakadilan kehidupan yang menjadi pertanyaannya semasa duduk di bangku smp, kembali mengganggu pikirannya. “ Apabila anak yang dilahirkan dari keluarga yang kaya bisa menikmati hidup dengan mudah, apakah berarti tidak ada keadilan buat anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang miskin ?”.

Apabila pada masa kecilnya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya ini tidak pernah diungkapkan kepada orang lain, tetapi kali ini dia mendiskusikannya dengan beberapa teman dekat.

Walaupun kebanyakan teman diskusinya meng-iya-kan pendapat Yasuyo, tetapi diskusi hanya sebatas diskusi. Mereka serasa berada di jurang yang dalam. Mereka tahu kalau keadaan yang mereka jalani tidak baik, tapi mereka tidak kuasa untuk mendaki tebing jurang tersebut. Dan akhirnya, mereka tetap berputar-putar di dalamnya. Apabila kejenuhan datang, pelampiasan sekejap seperti menegak bir dan ke diskotik; itu yang mereka lakukan.

 

Beranjak dari Titik Nol

Tiga tahun lamanya Yasuyo bertahan dengan pekerjaannya sebagai desainer. Hingga akhirnya dia menyerah kelelahan, dan keluar dari pekerjaannya. Yasuyo menikmati masa-masa yang senggang, bekerja paruh waktu di sebuah department store, hanya sekedar mendapat uang untuk biaya hidup sehari-hari.

Namun, kembali Yasuyo dihadapkan pada kenyataan bahwa waktu yang senggang dan uang yang cukup tidak dapat memberikan “arti” buat kehidupannya. Dia merasa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencapai sebuah “arti” kehidupannya. Perasaan jengah, jenuh, keinginan untuk keluar dari kehidupan yang tengah dijalaninya menjadi semakin kuat.

Yasuyo serasa berada di titik “nol”. “Saya sendiri merasa jenuh dengan keadaan waktu itu, tetapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan… Tidak ada jalan keluar.”, begitu yang diungkapkan Yasmin (Yasuyo) mengenai perasaannya saat itu.

Pada saat itu yang ada dalam pikirannya hanyalah, ia merasa harus membuka lembaran baru, memulai segala sesuatu dari awal. Tetapi bagaimana ?

Ketika Yasuyo dan ibunya berlibur ke Bali, ia dipertemukan dengan calon suaminya saat itu. Belum ada perasaan untuk menikah dengan pemuda yang baru saja dikenalnya itu.

Barulah beberapa bulan kemudian, pada kunjungan ke Bali berikutnya, Yasuyo diminta untuk menjadi istri pemuda tersebut. “Saya sedikit terkejut. Tetapi, saya melihat bahwa Helmi (red: nama suami Yasuyo) adalah pemuda yang baik. Dan saat itulah, saya melihat jalan keluar yang selama ini saya mimpikan… .“, dan Yasuyo pun diperkenalkan dengan orang tua Helmi.

Tidak ada sesuatu yang memberatkan. Bahkan, Yasuyo serasa mendapat apa yang selama ini dia nantikan, untuk memulai kehidupan baru. Begitu yang ia rasakan, ketika orang tua calon suaminya mensyaratkan Yasuyo untuk ber-Islam, sebelum menikah.

Yang menarik adalah, beberapa aturan dalam Islam yang sempat disampaikan oleh orang tua calon suaminya tersebut, seperti sholat 5 waktu, puasa dan menutup aurat; sama sekali tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan Yasuyo.

Ia bahkan beranggapan, seorang yang beragama, memang sudah seharusnya mentaati aturan dalam agamanya, dan berkomunikasi dengan Tuhan-nya.

Pada bulan April 2000, Yasuyo mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai langkah awalnya ber-Islam, kemudian pada akhir April di tahun yang sama ia resmi menikah dengan Helmi Masadi, suaminya saat ini. Dan Yasuyo pun, di dalam keluarga barunya di Indonesia, lebih akrab disapa dengan nama Yasmin.

Menjadi seorang mualaf baginya bukan hal yang memberatkan, karena ia saat itu masih menetap di rumah orang tua suaminya di Bali. Beribadah, sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mereka jalankan bersama-sama, sehingga Yasmin merasakan hal tersebut sebagai sesuatu yang rutin dan biasa dilakukan.

Ditunjang dengan tekadnya sejak awal untuk memulai kehidupan yang baru, sehingga betapa banyak yang harus ia pelajari, seperti bahasa Indonesia, berbagai aturan dalam Islam, menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya; bukan hal yang menyurutkan langkahnya.

Menjalankan Kehidupan Sebagai Muslimah

Setelah anak pertamanya, Aisya berusia 1 tahun, pada tahun 2001, keluarga Yasmin Mashadi meninggalkan Bali, kembali ke Jepang. Kemudian, tiga tahun kemudian lahirlah anak kedua, Sakina, yang saat ini berusia 1 tahun 3 bulan. Kehadiran dua orang anak dalam kehidupannya benar-benar ia syukuri.

Kedua putinya ini juga yang membuatnya semakin terpacu untuk menjalankan Islam dengan bersungguh-sunguh. Walaupun Yasmin merasa tidak mempunyai bekal yang cukup untuk mendidik buah hatinya secara islami, tetapi dengan bantuan suami dan sesama mualaf yang dikenalnya, ia mulai mendalami Islam setahap demi setahap.

Amat sulit mendapatkan buku berbahasa Jepang yang mengupas Islam, sedangkan membaca tafsir Al Quran yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang pun, masih sulit buat Yasmin.

Sehingga, tidak jarang di sela-sela waktu luangnya bersama suami, Yasmin banyak bertanya tentang hal-hal yang ingin diketahuinya. Dan semakin ia mendapat jawaban dari pertanyaannya itu, semakin ia bersyukur atas hidayah Allah s.w.t. kepada dirinya. Ia merasa sangat beruntung dan sedang menapaki jalan kehidupan yang benar.

Saat ini pun Yasmin masih ingin lebih banyak mengetahui pengalaman hidup sesama mualaf di Jepang, terutama bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan sanak saudara dan teman-teman yang non Islam, tetapi jarak dan waktu menjadi kendala untuk lebih sering berkomunikasi dengan mereka.

Dari ungkapan Yasmin, tersirat dan tersurat bahwa beberapa kendala tersebut tetap jauh lebih kecil dibandingkan dengan hasratnya untuk semakin mendalami Islam.

Pengalaman masa lalunya, menjadi cermin bagi Yasmin untuk memberi yang terbaik untuk kedua buah hatinya. Ia mengungkapkan bahwa pendidikan (sekolah) di Jepang tidak banyak memberi sentuhan moral dan agama bagi anak-anak.

Mereka pesat dalam mempelajari ilmu pengetahuan tetapi tidak ada pengisi jiwa/hati, sehingga apabila sesuatu terjadi di luar kemampuan mereka, anak-anak itu tidak mempunyai pegangan dan terlempar ke keterpurukan jiwa; seperti apa yang dialami Yasmin dahulu.

Oleh karena itulah, ia berpendapat, sedini mungkin ingin mengenalkan anak-anaknya kepada Allah. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan orang-orang yang melakukan ibadah dan bermasyarakat yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak-anak itu merasa beribadah kepada Allah adalah hal yang biasa, yang memang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Begitu besar keinginannya ini, hingga Yasmin dan suaminya sepakat untuk membesarkan anak-anak mereka di Indonesia.

“Biarlah anak-anak yang masih kecil ini belajar mengenal penciptanya secara natural, dengan tinggal di lingkungan masyarakat yang beragama dan menjalankan perintah agamanya dengan baik.

Saya sendiri belum bisa memberi contoh nilai-nilai keislaman yang banyak pada mereka. Bahkan, bisa jadi saya akan belajar bersama anak-anak saya… membaca Al Quran, misalnya. Dan apabila kelak mereka sudah menjadi dewasa, saya berharap mereka sudah mempunyai bekal iman yang kuat, untuk kemudian memperluas ilmu pengetahuan maupun pergaulan mereka. Mereka boleh belajar tentang apa saja, di mana pun.” .

Mata Yasmin menerawang jauh ke depan saat mengucapkan kalimat tersebut, seakan sebuah titik terang sudah terlihat di depan matanya, dan ia siap melangkah setapak demi setapak menuju titik itu. Di akhir perbincangan dengan penulis, Yasmin juga mengungkapkan keinginannya untuk menekuni kembali bidang keahliannya dulu, sebagai desainer. Ia bercita-cita untuk membuka sekolah mode busana muslim di Indonesia nantinya. Insya Allah. (mualaf.com)

Gambatte (berusahalah dengan sungguh-sungguh), Yasmin san ! (oleh Serindit Indraswari)

 

33. Ayesha : Oh Tuhan, tunjukkanlah bagaimana menemukan-Mu

 

Ayesha lahir di sebuah kampung nelayan kecil, di Sussex, Inggris. Ayesha terkenal aktif di sekolahnya. Nilai-nilai pelajarannya cemerlang, namun ada hal yang membedakan dengan anak-anak lain.

Bila rekan-rekan sebayanya sibuk dengan boneka, dia lebih sering mencorat-coret membuat puisi, merenung, mencari keberadaan Sang Pencipta.

“Kalau anda seorang gadis kecil berumur tujuh tahun tapi sudah mempelajari Hinduisme,dan agama-agama lain, lantas berdebat dengan orang-orang dewasa, tentu itu aneh sekali“, ujarnya. Meskipun kedua orang tuanya atheis dia selalu yakin akan kebenaran agama. Dia percaya akan adanya Tuhan. “Tapi……, Nak cari susah“, katanya dalam dialek melayu.

Boleh dibilang bookaholic (kegemaran akan buku) mengalir dari kedua orang tuanya, Alan Scoot dan Carol Ann, serta paman dan bibinya yang rata-rata berpendidikan tinggi. Sejak kecil Ayesha dan dua adik prianya telah terbiasa dengan tumpukan buku di rumah mereka.

Ketika mendengar tentang Islam, Ayesha berniat mempelajarinya. Tapi sulit sekali menemukan informasi tentang Islam. Bahkan di perpustakaan tak ada buku-buku tentang Islam, apalagi Al-Quran. Gurunya, yang diharapkan dapat memberikan informasi tentang Islam, ternyata hanya memberi jawaban ngawur. Satu-satunya yang dikatakan gurunya tentang Islam adalah orang-orang Islam telah membunuh tentara-tentara Kristen dalam perang Salib. Islam memiliki Nabi yang sangat lucu, yaitu Muhammad dan pedoman hidup mereka adalah Al-Quran. Ayesha tak tahu harus kemana dia bertanya. Apalagi Sussex jarang ditemui pendatang Muslim Timur Tengah atau Asia.

Ditengah rasa putus asa yang melandanya itu, suatu malam di usianya yang ke 13, dia berdoa, “Oh Tuhan, siapapun atau apapun Engkau, tunjukkanlah bagaimana menemukan-Mu”.

Esoknya secara kebetulan Ayesha bertemu dengan tiga mahasiswi Muslim asal Malaysia yang sedang belajar di Sussex. “Mereka tidak pernah membujuk saya untuk masuk Islam. Kami hanya berteman. Saya perhatikan mereka masuk kamar dan melakukan shalat, Saya tanya, “Mengapa mereka shalat? Jawab mereka, “itu salah satu ajaran agama kami”, kenang Ayesha.

Salah seorang dari mereka memberikan Ayesha sebuah buku Al-Quran terjemahan dan beberapa buku tentang Islam. Khawatir ketahuan orang tuanya, Ayesha menyembunyikan Al-Quran dan buku-buku itu di bawah kasur. “Waktu itu saya tidak tahu bahwa Al-Quran seharusnya tidak boleh disimpan dibawah kasur,” ujarnya terkekeh.

Pada tahun 1975, diusianya yang ke-15, dia mengambil langkah berani dalam hidupnya. Suatu malam, saat kedua orang tuanya tidur, Ayesha membasuh dirinya dalam kamar mandi. Saya berkata dalam hati; “Tuhan , saya tahu bahwa saya mandi, menyucikan diri dan berharap Engkau dapat memaklumi kebodohan saya.”

Setelah itu, dia kembali ke kamar tidur. Dengan harapan disaksikan Allah, Malaikat dan Nabi Muhammad SAW, dia mengucapkan kalimat Syahadat.

Sepintar-pintar Ayesha menyimpan rahasia, toh akhirnya terbongkar juga. Orang tua Ayesha marah besar hingga menjadi pertengkaran yang hebat. Puncaknya, dia harus keluar rumah. Ini terjadi pada musim dingin 6 Desember 1976. Di tengah salju tebal, “Saya keluar rumah menjinjing kopor ditangan dan uang lima pound di saku”, kenangnya.

Bila ingin mendapat cinta Allah, maka kita akan mendapatkannya melalui cobaan. Tiap kali lulus ujian, Dia akan menganugerahkan ilmu, pengertian dan kedamaian hati.

Ketika berusia 25 tahun, dia menikah dengan seorang mahasiswa muslim asal Malaysia, Muhammad Zaid bin Haji Sani, Beruntung, pengetahuan suaminya cukup luas sehingga dia banyak belajar darinya. Di Malaysia, Ayesha sering sibuk memenuhi undangan berceramah dikampung-kampung dan kantor pemerintah.

Namun baginya, suami dan anak-anak prioritas utama. “Anak-anak adalah titipan Tuhan yang tak bernilai harganya”, ujarnya. Bila doa seorang anak yang shaleh dan shalehah dapat menyelamatkan kedua orang tuanya dari api neraka, siapa yang tidak ingin punya anak?”, Lanjutnya. Bicara soal keluarga, Ayesha lebih lanjut memaparkan, “Tugas kita membimbing dan menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk dalam pandangan Islam, dan akhirnya memberi pilihan untuk memutuskan.”

“           Perempuan harus menjaga keluarganya, bukan dirinya sendiri. Bila suatu unit keluarga utuh, keluarga itu akan selamat. Bila tidak, maka akan hancur. Hancurnya keluarga adalah awal penyebab kehancuran masyarakat,“ tandasnya. Dan anak-anak adalah yang terpenting. Bila sejak dini orang tua tidak dapat mendampingi anak-anak untuk memberikan pemahaman tentang Islam, mereka akan jauh dari Islam dan sulit nantinya membentuk mereka menjadi muslim yang baik. Memberi pemahaman keislaman sejak usia muda itu yang penting,“tandas Ayesha menutup pembicaraan. (Sumber: Ummat)

 

34. Are You Happy To be Muslim?

 

Al Shahida

“Are You Happy to be Muslim?” adalah pertanyaan yang paling terakhir yang dilemparkan oleh salah seorang guru, dari sejumlah 12 pertanyaan yang telah disiapkan disebuah sekolah SD di Mottingham Primary School, Bromley, Kent, Engand.

” Tolong deh mbak..mereka minat banget sama Islam. Saya engga bisa ngomongnya, apalagi tentang Islam, wah pake bahasa Inggris lagi”, pinta mbak Adila disuatu petang. Ah, dengan serta merta kusambut undangannya yang cukup menantang ini. Ini kesempatan baik, kufikir, untuk berda’wah, dengan senang hati, saya bersedia memenuhi undangan dan pinta Adila .”Bener nih mbak, bisa ya.makasih banget lo ?”Adila meyakinkan dirinya.

Demikian, suatu pagi, dihari Kamis yang cerah, dengan izin Allah, saya berdiri didepan sebuah kelas untuk memperkenalkan apa itu Islam.

Acara tsb dijadawalkan sekitar jam 9.15 pagi disebuah sekolah ‘Mottingham Primary School’ setara dengan SD, dikota kecil Mottingham, Bromley, Kent.

Kami naik kelantai atas dan nampak anak-anak sekitar usia 8-9 tahun serta 4 orang guru tengah menanti kedatangan kami. Kami disambut hangat. Anak-anak murid dari kelas sebelah dipanggil untuk bergabung, katanya ada sekitar 39-40 jumlahnya. Mereka masing masing mengambil tempat duduk. Mayoritas memang anak-anak berkulit putih. Anak-anak Inggris. Ada dua anak lelaki berkulit coklat, satu berkulit hitam dan satu perempuan berkulit coklat sawo matang. Ada pula satu anak, sepertinya turunan Arab yang ternyata ayahnya orang Iraq dan satu anak Indonesia yang bernama Rania.

Salah seorang guru membuka acara dan mengatakan bahwa anak-anak sudah menyiapkan pertanyaan tentang Islam… the children have already prepared some questions for you ‘ ujarnya dengan senyum yang begitu sumringah. Di papan putih, terpampang 12 pertanyaan yang terpantul dari laptop yang mereka gunakan.

Kitab Al-Quran yang cukup besar dan kecil, ukuran pocket size saya keluarkan dari tas, kemudian 1 tulisan kaligrafi hiasan dinding yang terbuat dari kayu hitam atau ebony yang saya beli di Poso, bertuliskan “Allah”, sejadah, semuanya ditaruh di meja sedang poster berupa Pilar Islam saya lekatkan dipapan putih dengan perekat

‘Good morning children…’ujarku, dengan senyuman yang saya obral semurah-murahnya, merekapun membalas kembali sapaan saya.. Lalu memperkenalkan diri, siapa, dari mana asalnya serta dimana tinggal. Sebelum saya menjawab pertanyaan mereka saya ingin memperkenalkan dulu apa itu Islam, ‘Let me intoduce what is Islam first before I answer all your question? Is that ok? “Yeeeees..!” serempak, mereka setuju. Mereka nampak antusias sekali. .

.’Islam..artinya damai dan penyerahan total’ saya memulai. ‘Islam means peace, submission and obidience…” Muslim percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang dinamakan Allah. Muslims believe that there is only one God, whose name in the Arabic language is Allah, sambil saya meminta mereka untuk menyebutkan kata-kata ‘Allah’, serempak mereka menyebut kata-kata A L L A H… saya minta mereka mengucapkan kurang lebih 2 atau 3 kali, subhanallah, mereka menirukan dengan susah payah namun penuh semangat. (Duuh saya berharap dan berdoa agar nur ini masuk menyelinap ke qalbu mereka). Huruf Arab yang dalam bentuk kaligrafi itu saya tunjukan.

” Islam melarang menggambar atau mengimijinasi bentuk Allah” hal ini kami yakinkan kepada mereka, ‘kalaupun ada kubus hitam yang bernama Ka’bah itu hanya sebagai patokan untuk sholat ke satu arah, bukan berarti kita menyembah kubus hitam itu” tambah saya. Alakadarnya pula kita terangkan dimana Islam lahir, kapan, berapa jumlah pemeluk Islam sedunia dan berapa pemeluk Islam di London, Scotland, Wales, Irlandia Utara dan Uk secara keseluruhan.

Lalu saya lanjutkan bahwa Tuhan memiliki nabi yang sangat spesial yaitu nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as dan Muhammad saw, God had special messengers or prophets Abraham, Moses, Jesus and Muhammad (peace be upon them all) were God’s prophets. Sempat saya selipkan bagaimana Muslim menambahkan kata sallalhu ‘alaihi wassalam, peace be upon him tatkala kita menyebut nama nabi Muhammad.

Bertutur tentang Muhammad saw, tentang keyatiman beliau sambil juga membandingkan betapa mereka beruntung yang memiliki kedua orang tua, sekaligus memaparkan kesantunan dan kejujuran Rasulullah, tatkala beliau remaja. Kita berupaya untuk menyisakan kesan bahwa Rasul kita adalah semata-mata manusia biasa’ yang tidak perlu di kultuskan dan perTuhankan. Muslim tidak membolehkan menggambar Rasulullah karena pesan yang bernama hadith dan sunah Nabi Muhammada lebih penting. Begitu pula kami sampaikan tentang nabi Isa as, yang dikenal sebagi Yesus serta pengakuan kita akan kenabian Nabi Isa as.

Disaat memaparkan mengenai Al-Quran, kapan dan berapa ayat dan berapa lama ayat-ayat Al-Quran ini diturunkan dan berlangsung, kami sampaikan bahwa dari seusia dini anak-anak Muslim sudah belajar membaca Al-Quan bahkan untuk menghafalnya.

Ibu guru menginterupsi, mengatakan bahwa Rania sudah memberikan contoh dan mengajar kami untuk menyebutkan kata kata : ‘Bismillahirakhmanirrahiim..’ ujarnya ‘ Oh really…that is good, saya sangat terkesan. Rania tanpa malu tersipu mendapat pengakuan dan pujian seperti itu didepan kelas. ‘Well Done Rani! saya memberikan pujian atau kredit kepada Rania yang duduk dibelakang bersama teman-temannya.

Diam sejenak, memandang wajah setiap anak. Saya bisa menangkap sesuatu. Kita semua tahu bahwa berbicara didepan anak-anak sesungguhnya tidak mudah, saat saya menangkap wajah yang kelihatannya mengantuk dan mulai menguap, lantas kita lemparkan pertanyaan kepada mereka. ‘Are you bored with me atau am I boring? hah, tiba2 mereka menjawab serentak ‘Nooooo…’ merekapun jadi terbangun lagi dari rasa kantuknya.

Untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk ini segera saya lemparkan pertanyaan tentang agama apa saja yang ada didunia dan yang mereka ketahui tentang Islam. Sang ibu guru mendorong anak-anak muridnya agar mengatakan apa yang mereka tahu dan baca tentang Islam:: “Come on children tell us what you have learnt about Islam, you have read a lot…” . Mereka mengangkat tangan ingin menyampakan apa yang mereka tahu.Yang lucunya mereka tidak bisa membedakan antara Christian dan Chatolic (Kristen dan katolik)dianggap sebagai dua agama yang berbeda. Itulah yang mereka ketahui.

“Do you have Muslim friends at all..? Secara serempak mereka menoleh ke Rania. Betul-betul Rania mendapat perhatian penuh, ia nampak tersipu malu. ‘Only one? tanya saya agak heran. Ah, betul saja ternyata Muslim disitu amat langkanya, begitu super minoritas.

Ibu guru pun memerangkan bahwa Rania telah banyak menunjukan bagaimana dia menghafal surat-surat Al-quran dan bahkan menunjukan kepada kami bagaimana sembahyang. Saya merasa kagum dan bangga terhadap sigadis kecil Indonesia ini.

‘Now Rani can you show us that you can recite Al-Quran, so everybody can hear it ? pinta saya. Mamahnya Rani meminta: ‘Ayo Rani baca surat yang pendek, jangan malu-malu dong. Apa mau baca Al-Fatihah saja ya?’ Rani tanpak ragu, tapi akhirnya ia bersedia, dengan pelan ia melafadzkan surat Al-Fatihah, semua diam, suasana begitu hening, mendengarkan Rania. Begitu selesai, anak-anak bertepuk tangan untuk Rania.

Kini giliran menjawab semua pertanyaan. Subhanallah, mereka berebut untuk bertanya (ah dasar anak Inggris, mereka begitu berani dan sangat pede banget). Sakingan begitu banyaknya yang mengangkat tangan ingin bertanya, terpaksa Ibuguru memilih mereka untuk membacakan pertanyaan yang sudah terpampang dipapan putih.

 

Sesi Tanya Jawab

Dari sekian banyaknya pertanyaan seperti : ‘Apakah Muslim mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan? Kenapa Muslim harus puasa? Bagaimana puasa dan seperti apa menahan lapar serta lemahnya badan kalau kita puasa. Apakah Muslim harus puasa dikala bekerja? Itulah pertanyaan yang mereka ajukan.

Kenapa sembahyang lima kali? Kalau sembahyang kenapa menghadap kubus hitam itu. Do you worship the black cubical ? Why? Kalau kamu bekerja bisakah kamu melakukan sholat ditempat bekerja, berapa lama? Subhanallah, pertanyaan ini menggelitik. Akhirnya kuberikan keterangan kenapa kami sholat limakali sehari ‘ It is a must also to thanks Allah and to remember Him as our creator, sekaligus menggambarkan bagaimana kalau sholat ini tidak mengganggu aktifitas keseharian kita, bahkan menjadi pengobat lelah selain memenuhi kewajiban, dan sholat adalah fardhu.

‘ Bahkan saya tambahkan bahwa sejak peristiwa 11 September Islam dan Muslim banyak mendapat perhatian. Perhatian itu sendiri ada dua macam tentunya. Yang berminat begitu banyak terhadapa Islam atau sebaliknya ‘Yes…infact since the 11 September, I am afraid Muslim and Islam received attention, either many people are interested or many of disliked Islam or Muslim but there are more more pople become Muslim. Sambil menambahkan bahwa ‘We are hamless people, we are normal like others, like you all, we love peace and harmonious… only those idiots has done something against humanity..and media exposed it, make people believed it’, eiiih koq tiba tiba saya meloncat bicara soal politik.

Kami menambahkan bahwa justru akhir-akhir ini kami diberi kemudahan bahkan kami ditawarkan ruangan untuk sholat sebelum kami memintanya. Misalnya salah seorang teman kami yang diinterview (kebetulan ia seorang muslimah berjilbab), usai interview ‘Do you need room for praying? ” . Bahkan disetiap gedung besar seperti di gedung Canary Warf, pegawai Muslim yang ratusan jumlahnya mendapat fasilitas ruangan besar untuk sholat dan sholat Jumat di gedung bergengsi di London : http://www.canarywharf.com/mainfrm1.asp

Begitu pula di universitas, siswa Muslim yagn tergabung dalam ISOC (Islamic Society) disediakan satu ruangan sebagai mushola untuk sholat , dan sholat Jumat berjamaah, jadi kehadiran Islam dan Muslim di UK tak bisa dipungkiri .Berkembang pesat. Para guru nampak agak terperangah mendengar keterangan ini, maklum merekaa tinggal di pinggiran London, kota Mottingham yang mayoritas Inggris.

Kota kecil Mottingham ada dibawah naungan Borough of Bromley adalah bagian dari London borough yang berpenduduk mayoritas Inggris putih sekitar 91% sedang sisanya adalah Asia dan mungkin dari Afrika atau Afrika. Jarak antara London pusat dan Bromley, tidak jauh, cuma 1/2 jam dengan kereta api yang berada di zona 5

Disaat salah satu murid bertanya mengapa lelaki dan perempuan terpisah pada waktu sholat…ah pertanyaan ini mengingatkan saya pada anak remajaku pada usia yang sama dengan protesnya. Jawabnya tentu harus sesuai dengan daya tangkap mereka: ‘You know when we pray, we have to concentrate, focus only to our God Allah, only Him’ Imagine if man and women mix together, next each other, you boys will distract to the girls thinking ‘ wow she look pretty or she got lovely leg…or eyes’ hah tiba-tiba tawa mereka memecah kelas. Akhirnya mereka bisa memahami pemaparan saya dengan kapasitas cara fikir pada seusia mereka.

Ibu guru mendorong mereka untuk bertanya lagi, salah seorang mereka mengangkat tangan: ‘Why Muslim are not alowed to eat pork?” , saya senyum setengah shock tak tahu apa jawabnya, sambil berfikir, saya lempar kembali’ Why do you think Muslim are not alow to eat pork, do you know why? saya beri waktu untuk menjawab, “Hemmm..because they are dirty animal” jawabnya. “Anymore..? tanya saya. ‘Because they are naughty animal… binatang nakal, ada yang menambahkan.

Akhirnya saya menyimpulkan bahwa Muslim hanya dibolehkan memakan hewan yang makan rumput dan hewan yang tidak bertaring. Sedang babi makan segala macam, apa saja dimakan, tidak peduli. Sepertinya mereka puas dengan jawaban itu.

“Well I hope you are all happy and now you know what is Islam, but if there is more question you like me to answer please ask me while I am here”. Ibu guru yang begitu cermat mendengarkan bertanya’ “Are you happy to be Muslim” lalu saya jawab. ” ” Thank you..yes, I am happy ” Saya ulang kembali ‘ Yes…I am happy and am contented to be Muslim, and even proud to be Muslim too, do you know why?. Because I know why I am coming from, why I am here for, and I know where I am going to when we die, insya Allah, (sakingan terbiasa mengucapkan kata kata ini akhirnya saya terangkan apa arti insya Allah).

Akhrnya saya tutup dan mengucapakana terima kasih atas undangan dan perhatian mereka. Ah, lucu.. secara serempak mereka bertepuk tangan,,, rasa rasanya kami sudah taka terbiasa mendengar applause macam ini.

Ibu guru mendekat dan mengucapkan terima kasih, bahkan sangat menghargai juga bahwa saya menyebut masalah tragedy 11 September. I was going to ask you that, but you have said and clarified it, thank you’ ucapnya. Kemudian ia bertanya kalau ia dibolehkan memajang Al-Quran di stand yang terbut dari kayu. Saya katakan boleh, asal jangan ditaruh di lantai.

Dengan segera anak murid berkulit hitam datang mendekat: “Can you leave that Poster for us?” . Allahu Maha Besar!. ‘ Yes with pleaseure you can have and hang it on the wall’ adalah poster Five Pilar of Islam yang saya dapatkan dari kedai buku di Regent Park Mosque, London, satu-satunya dan dengan harga diskon £1 saja.

Luapan perasaan senang dan terima kasih disampaikan oleh para guru yang hadir, juga anak-anak. Mereka berharap akan mengundang lagi untuk mendengarkan tentang Islam lebih banyak. Saya katakan bahwa yang akan datang akan saya presentasikan dengan PowerPoint yang tentu akan lebih menarik. Akhirnya kami tinggalkan sekolah ini dengan sebongkah rasa bahagia bahwa setidaknya Risalah Islam telah kita sampaikan dan berharap mampu menyelinap dibenak dan qalbu anak-anak dan para guru yang asli Inggirs, yang begitu ramah dan santun bahkan sangat Islami, menurut saya.

Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda berda’wah? Disekitar kita, keluarga, sahabat, tetangga, walau hanya satu ayat? Bukankah setiap kita punya kewajiban untuk menyampaikan da’wah dengan kapasitas dan kemampuna kita.

Da’wah sebuah keharusan yang harus dilaksanakan oleh setiap kita sebagai Muslim. Tanpa da’wah, Islam akan segera lenyap dari permukaan bumi ini. Imam Khalifa di Masjid Regent Park, London, mengatakan bahwa minimal 3/4 orang, setiap hari, mengucapkan Syahadat, melakukan testimony, memeluk agama Islam.Allah alam bisawab. (Al Shahida)

Katakanlah (wahai Muhammad!):” Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh (hujjah/ ilmu)yang nyata. MahasuciAllah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musryik”. (QS. Yusuf / 12:108)

35. Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam

 

Dewi Purnamawati nama saya, kelahiran Solo Th. 1962. Tahun 1971, Mase (panggilan saya kepada ayah) yang pegawai AURI pindah tugas ke P. Lombok sehingga saya besar di P. Lombok sampai lulus SLTA Th. 1981. Kemudian kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta sampai lulus Th. 1985. Sejak Th. 1986 saya kembali menetap di Solo dan mengabdikan diri sebagai guru listrik di STM Negeri 2 Surakarta yang saat ini nama-nya SMKN V Surakarta.

Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

Dia telah sukses mengkristenkan orang satu kampung melalui cara mengajarkan dan membantu masyarakat berusaha dengan mengelola tanaman hidrophonik, sementara adik saya perempuan, aktif penginjilan di P. Madura. Obsesinya mengkris-tenkan para kiai. Sebab peluang itu ada! Kalau malam minggu dia menga-mati kiai nyebrang ke Surabaya, pakaian kiai-nya ditanggalkan dan ganti pakai celana jeans dan T.Shirt lalu asyik dalam dunia hiburan!.

Saya sendiri, suami pertama adalah aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang telah berhasil saya kristenkan, tetapi akhirnya kami bercerai juga. Memang kristen mengajarkan “Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.” tetapi pendeta akhirnya mengijinkan kami bercerai, ia tidak punya solusi.

Anak saya sejak perceraian itu dipelihara ibu di Lombok, ia dididik ibu menjadi kristen militan. Tidak boleh saya ambil untuk saya didik di Solo, kecuali kalau saya balik ke kristen. Anak saya yang semata wayang itu, untuk mendapatkannya ibarat ‘toh nyowo’ hampir keguguran sampai 3 kali.

Tepatnya malam 27 Ramadhan th. 2004, dengan sadar & tanpa beban telah memutuskan hubungan ibu-anak dengan saya, karena meski-pun diiming-imingi, diancam dan menanggung resiko apapun saya tetap Islam tidak mau balik Kristen. Dengar-dengar sekarang ini ia kuliah di Jawa mengambil Pastoral Konseling di sekolah theologi, dalam rangka menjadi seorang pendeta … wallaahu a’lam.

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow…..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci… memandang rendah …. Ya!.

Namun yang namanya hidayah, kalau Allah menghendaki maka tidak ada seorangpun yang mampu menolaknya meskipun semula ia sangat membencinya.

Saya meragukan kesempurnaan Bible, pikir saya “Kalau buku sudah benar dan sempurna tidak usah direvisi, kalau kitab Injil sudah sempurna mengapa Allah masih menurunkan Al-Qur’an ?” Itulah yang mengusik logika saya dan meluluhkan ke-Kristen-an saya.

Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.

Saya juga mulai meragukan isi Alkitab sendiri, misalnya :

Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Imamat 10:9

Dalam ayat tersebut Allah melarang minum anggur dan mabuk tetapi kenapa dalam Injil karangan Yohanes 2:7-10 dikisahkan Mukjizat Yesus malah mengubah enam drum air menjadi anggur yang memabukkan ?

 

Kenapa kisah porno dan cabul bertebaran di ‘Kitab Suci Bible’ misalnya di dalam kitab Kitab Kidung Agung misalnya :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!

Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur KA 1:2

 

Tangan kirinya ada di bawah kepalaku,

Tangan kanannya memeluk aku. KA 2:6

 

Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu

Seperti dua anak rusa buah dadamu,

Seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput

Di tengah-tengah bunga bakung. KA 4:3,5

Pusarmu seperti cawan yang bulat,

Yang tak kekurangan anggur campur.

Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.

Seperti dua anak rusa buah dadamu,

Seperti anak kembar kijang. KA 7:2-3

 

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan

Buah dadamu gugusannya.7

Aku ingin memanjat pohon korma itu dan

Memegang gugusan-gugusannya.

Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan

Nafas hidungmu seperti buah apel KA 7:7-8

 

Kenapa Allah Yang Maha Esa diakui terdiri dari 3 unsur tuhan tetapi dipaksakan dikatakan satu (trinitas/- tritunggal)? Seabreg kemusykilan dan seabreg masalah yang jauh dari akal sehat dan tidak selaras dengan nalar.

 

Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur’an dan ketika teman meminjami buku berjudul ‘Akhlahk Islam’ masya Allah saya begitu ta’jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.

Beberapa bulan berikutnya saya menikah untuk kedua kalinya dan yang mengantarkan saya pada Islam. Tetapi teman-teman saya yang mayoritas Islam tidak berusaha mendakwahi saya, entah karena tidak PD atau tidak paham bahwa Islam itu agama luar biasa, sempurna!. Tetapi justru saya yang getol menyampaikan Kristen kepada mereka.

Setelah keislaman saya, beberapa ujian datang dari teman-teman/tetangga yang Kristen atau orang Islam yang mencurigai ke-Islam-an saya, usaha saya bangkrut ditipu kyai yang berkedok membimbing saya, saya sempat terperosok ke dalam aliran Islam sesat, suami saya yang staf manajer mengundurkan diri karena diskriminatif. Ketika semangat Islam saya baru bersemi suami meninggal dan saya sakit keras dan sedihnya uang di dompet tinggal Rp.10.000,-.

Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan “Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya” Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.

Inilah sekelumit perkenalan saya dan liku-liku hidup saya dalam menerima dan mempertahankan hidayah Al-Islam (al-islahonline)

 

36. KDNY : Berawal Benci, Berakhir Cinta

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Meski awalnya “membenci” Islam, gadis IOWA yang tinggal di Connecticut ini pun akhirnya ‘jatuh cinta’ pada Islam. Ia, akhirnya melafazkan syahadat.

Sekitar awal September 2006 lalu, kelas Islamic Forum for non Muslims kedatangan seorang gadis bule bermata biru. Duduk di salah satu sudut ruang dengan mata yang tajam, hampir tidak kerkedip dan bahkan memperlihatkan pandangan yang tajam. Beberapa kali lelucon yang saya sampaikan dalam kelas itu, tidak juga menjadikannya tersenyum. Ketika sesi tanya jawab dimulai, sang gadis itu mengangkat tangan, dan tanpa tersenyum menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan sebagian peserta ternganga, dan bahkan sebagian menyangka kalau saya akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“If Muhammad is a true prophet, then why he robbed and killed?”, tanyanya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Why he forced the Jews to leave their homes, while they have been settled in Madinah a long time before Muhammad was born?”, lanjutnya.

Sambil tersenyum saya balik bertanya, “Where did you get this information? I mean, which book did you read”. Dia kemudian memperlihatkan beberapa buku yang dibawanya, termasuk beberapa tulisan/artikel yang diambil dari berbagai sumber di internet. Saya meminta sebagian buku dan artikel tersebut, tapi justru saya tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaannya.

Saya balik bertanya, “Where are you from and where do you live?”. Ternyata dia adalah gadis IOWA yang sekarang ini tinggal di Connecticut.

Sambil memperkenalkan diri lebih jauh saya memperhatikan “kejujuran” dan “inteligensia” gadis tersebut. Walaupun masih belum bisa memperlihatkan wajah persahabatan, tapi nampaknya dia adalah gadis apa adanya.

Dia seorang “saintis” yang bekerja di salah satu lembaga penelitian di New York. Tapi menurutnya lagi, dan sinilah baru nampak sedikit senyum, “I am an IOWAN girl”. Ketika saya tanya apa maksudnya, dia menjawab: “a very country girl”.

Oleh karena memang situasi tidak memungkin bagi saya untuk langsung berdebat dengannya perihal pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan, saya mengusulkan agar pertanyaan-pertanyaannya dikirimkan ke saya melalui email, untuk selanjuntnya bisa berdiskusi lewat email dan juga pada pertemuan berikutnya. Kelas sore itupun bubar, tapi pertanyaan-pertanyaan gadis IOWA ini terus menggelitik benak saya.

Di malam hari, saya buka email sebelum tidur sebagaimana biasa. Gadis IOWA ini pun memenuhi permintaan saya. Ia memperkenalkan diri sebagai Amanda. Ia mengirimkan email dengan lampiran 4 halaman penuh dengan pertanyaan-pertanyaan –khususunya– mengenai Rasulullah SAW. Saya sekali lagi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi mengajak untuk datang ke kelas Islamic Forum pada Sabtu berikutnya.

Ternyata, mungkin dia sadari sendiri bahwa beberapa peserta Forum pada Sabtu tadi kurang sreg dengan pertanyaan-pertanyaannya yang dianggap terlalu “polos dan tajam”. Maka dia mengusulkan kalau saya bisa menyediakan waktu khusus baginya untuk diskusi. Sayapun menerima usulan itu untuk berdiskusi dengannya setiap Kamis sore setelah jam kerja di Islamic Center.

Kita pun sepakat bertemu setiap jam 5:30 hingga 7:00 pm. Satu setengah jam menurut saya cukup untuk berdiskusi dengannnya.

Tanpa diduga, ternyata bulan Ramadhan juga telah tiba. Maka kedatangannya yang pertama untuk berdialog dengan saya terjadi pada Kamis ketiga bulan September 2006, di saat kita sedang bersiap-siap untuk berbuka puasa.

Dia datang, seperti biasa dengan berkerudung seadanya, tapi kali ini dengan sangat sopan, walau tetap dengan pandangan yang sepertinya curiga.

Kita memulai diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikirimkan lewat email itu. Ternyata, baru satu masalah yang didiskusikan, sesekali diselingi sedikit perdebatan yang emosional. Adzan buka puasa telah dikumandangkan. Maka dengan sopan saya minta izin Amanda untuk berbuka puasa, tapi tidak lupa menawarkan jika ingin bergabung dengan saya. Ternyata, Amanda senang untuk ikut makan sore (ikut buka) dan nampak menikmati hidangan itu.

Setelah berbuka puasa, karena harus mengisi ceramah, saya sampaikan ke Amanda bahwa diskusi kita akan dilanjutkan Kamis selanjutnya. Tapi jika masih berkenan hadir, saya mempesilahkan datang ke Forum hari Sabtu. Dia berjanji untuk datang.

Sabtu berikutnya, dia datang dengan wajah yang lebih ramah. Duduk nampak lebih tenang, tapi seolah masih berat untuk tersenyum. Padahal, diskusi saya itu terkadang penuh dengan candaan. Maklumlah, selain memang dimaksudkan untuk tidak menampilkan Islam dengan penuh “kaku” saya ingin menyampaikan ke mereka bahwa Muslim itu juga sama dengan manusia lain, bisa bercanda (yang baik), tersenyum, dan seterusnya.

Amanda nampak serius memperhatikan semua poin-poin yang saya jelaskan hari itu. Kebetulan kita membahas mengenai penciptaan Hawa dalam konteks Al-Qur’an. Intinya menjelaskan bagaimana proses penciptaan Hawa dalam prospektif sejarah, dan juga bagaimana Al-Qur’an mendudukkan Hawa dalam konteks “gender” yang ramai diperdebatkan saat ini. Keseriusan Amanda ini hampir menjadikan saya curiga bahwa dia sedang mencari-cari celah untuk menyampaikan pertanyaan yang menyerang.

Ternyata sangkaan saya itu salah. Kini Amanda sebelum menyampaikan pertanyaan justeru bertanya dulu, “Is it ok to ask this question?”. Biasanya dengan tegas saya sampaikan, “Nothing is to be hesitant to ask on any thing or any issue in Islam. You may ask any issue range from theological issues up to social ones”.

Amanda pun menanyakan beberapa pertanyaan mengenai wanita, tapi kali ini dengan sopan. Hijab, poligami, konsep “kekuasaan” (yang dia maksudkan adalah qawwamah), dll. Saya hampir tidak percaya, bagaimana Amanda paham semua itu. Dan terkadang dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan itu disertai bukti-bukti yang didapatkan dari buku-buku –yang justeru– ditulis oleh para ulama terdahulu.

Saya berusaha menjawab semua itu dengan argumentasi-argumentasi “aqliyah”, karena memang saya melihat Amanda adalah seseorang yang sangat rasional. Alhamdulillah, saya tidak tahu, apakah dia memang puas atau tidak, tapi yang pasti nampak Amanda mengangguk-anggukkan kepala.

Demikian beberapa kali pertemuan. Hingga tibalah hari Idul Fitri. Amanda ketika itu saya ajak untuk mengikuti “Open House” di rumah beberapa pejabat RI di kota New York.

Karena dia masih kerja, dia hanya sempat datang ke kediaman Wakil Dubes RI untuk PBB. Di sanalah, sambil menikmati makanan Indonesia, Amanda kembali menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. “If Islam respects religious freedom, why Ahmadiyah in Indonesia is banned? Why Lia Aminuddin is arrested?”.

Saya justeru terkejut dengan informasi yang Amanda sampaikan. Saya pribadi tidak banyak membaca hal ini, dan tidak terlalu mempedulikan. Maka saya jelaskan, dalam semua Negara tentu ada peraturan-peraturan yang perlu dipatuhi. Ahmadiyah dan Lia Aminuddian, jelas saya, bukan mendirikan agama baru tapi mendistorsi agama Islam. Oleh karena mereka merusak agama yang diyakini oleh masyarakat Muslim banyak, pemerintah perlu menertibkan ini. Kelihatannya penjelasan saya kurang memuaskan, tapi diskusi kekudian berubah haluan kepada makanan dan tradisi halal bihalal.

Singat cerita, beberapa Minggu kemudian Amanda mengirimkan email dengan bunyi sebagai berikut, “I think I start having my faith in Islam”. Saya hanya mengatakan, “All is in God’s hands and yours. I am here to assist you to find the truth that you are looking for”. Cuma, Amanda mengatakan bahwa perjalanannya untuk belajar Islam ini akan mengambil masa yang panjang.

“When I do some thing, I do it with a commitment. And I truly want to know Islam”. Saya hanya menjawabnya, “Take you time, Amanda”.

Alhamdulillah, setelah mempelajari Islam hampir tujuh bulan, dan setelah membaca berbagai referensi, termasuk tafsir Fii Zilalil Qur’an (Inggris version) dan Tafhimul Qur’an (English), dan beberapa buku hadits, Amanda mulai serius mempelajari Islam.

Minggu lalu, ia mengirimkan email ke saya. Isinya begini, “I have decided a very big decision..and I think you know what I mean. I am very scared now. Do you have some words of wisdoms?”.

Saya menjawab, “Amanda, you have searched it, and now you found it. Why you have to be scared?. You believe in God, and God is there to take your hands. Be confident in what you believe in”.

Tiga hari lalu, Amanda mengirimkan kembali emailnya dan mengatakan bahwa dia berniat untuk secara formal mengucapkan “syahahat” pada hari Senin mendatang (tanggal 5 Maret 2007 kemarin). Saya bertanya, kenapa bukan hari Sabtu atau Ahad agar banyak teman-teman yang bisa mengikuti? Dia menjawab bahwa beberapa teman dekatnya hanya punya waktu hari Senin.

Alhamdulillah, disaksikan sekitar 10 teman-teman dekat Amanda (termasuk non Muslim), persis setelah adzan Magrib saya tuntun ia melafazkan “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah-wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diiringi pekik takbir dan tetesan airmata beberapa temannya yang ikut hadir. Amandapun melakukan shalat pertama sebagai Muslim sore itu diikuti dengan doa bersama semoga Allah menguatkan jalannya menuju ridho Ilahi.

Amanda, selamat dan semoga Allah SWT selalu menjagamu dan menjadikanmu “pejuang” kebenaran! [ hidayatullah]

 

37. 37 Tentara Korsel Memeluk Islam Sebelum ke Iraq

 

Sebanyak 37 tentara Korea Selatan memeluk agama Islam menjelang keberangkatnnya ke Iraq di akhir Juli tahun lalu. “Islam lebih humanistik, ” ujarnya

Umat Islam Korea Selatan kini memperoleh tambahan jamaah baru setelah sekitar 37 tentara dari Negara itu menyatakan telah memeluk Islam menjelang keberangkatannya menuju Iraq.

“Saya menjadi seorang Muslim karena saya merasa Islam lebih humanistik dan damai ketimbang beberapa agama lainnya. Dan jika anda ingin berkomunikasi dengan penduduk setempat lewat pendekatan agama, saya kira ini akan sangat membantu dalam upaya mewujudkan misi perdamaian kita,” kata Son, seorang tentara Korsel . So, Jumat lalu menyebutkan sejumlah tentara Korsel itu memeluk Islam menjelang akhir Juli 2006 sebelum mereka diberangkatkan ke Kota Irbil, kota Kaum Kurdi di wilayah utara Iraq.

Pada Jumat siang — ke 37 personel tentara yang berada dalam group “pasukan Zaitun” itu, termemeluk Letnan So-Hyeon-ju yang berasal dari “Brigade” 11 pasukan khusus, berangkat menuju sebuah masjid di Hannamdong, Seoul dan mengikuti upacara “pengucapan dua kalimat syahadat” (syarat memeluk Islam).

Kapten Son Jin-gu dari unit Zaitun pada kesempatan itu mengucapkan sumpah sebagai tanda bahwa dia telah memeluk Islam di sebuah masjid di Hannam-dong, Seoul, Jumat.

Tentara, yang membasahi seluruh tubuhnya secara Islam atau “mandi besar” tersebut, mengucapkan “dua kalimah syahadat” menjelang shalat Jumat di masjid itu yang (pengucapannya) dituntun oleh Imam sholat.

Kecuali Imam shalat, seluruh warga Muslim dan para tentara Korea berdiri dalam suatu “shaf” (barisan) sholat yang melambangkan bahwa semuanya sama di hadapan Allah dan kemudian mengikrarkan “Dua Kalimah Syahadat”, dengan membaca “Asyhadu an La ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah.”

Para tentara dari pasukan “Zaitun” itu usai upacara peng-Islaman, mereka menunaikan sholat Jumat di masjid tersebut.

Selanjutnya ketika menghadap Ka`bah (Kiblat) di Mekah, semua umat Islam menegaskan mereka adalah bersaudara, demikian laporan yang dikutip dari english.chosun.com.

Bagi tentara Korsel, yang telah menganut kepercayaan Islam, kesempatan yang disediakan oleh pasukan “Zaitun” untuk mengadakan kontak dengan kalangan Muslim menjadi kenyataan.

Dengan pertimbangan mayoritas penduduk Irbil adalah Muslim, pasukan tersebut mengirim anggotanya yang tidak memiliki paham keagamaan ke Masjid Hannam-dong supaya mereka mengerti Islam. Namun, sebagian di antara mereka tertarik untuk memeluk Islam dan memutuskan untuk menganut agama tersebut.

Seorang perwira mengatakan, para tentara tersebut terilhami oleh betapa pentingnya kebersamaan (kehidupan berjamaah) dalam dunia Islam.

“Jika anda se agama (sesama Muslim) anda diperlakukan bukan sebagai orang asing, tapi sebagai penduduk setempat (lokal). Muslim laki-laki tidak boleh menyerang Muslimah (perempuan) sekalipun dalam pertempuran.

Anggota pasukan Zaitun, Kopral Paek Seong-uk (22) dari Divisi-11 Angkatan Darat Korsel mengatakan “Saya banyak mempelajari Bahasa Arab di kursus dan setelah membaca Al-quran, saya sangat tertarik untuk memeluk Islam dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim berdasarkan pengalaman agama tersebut.

Ketika mengungkapkan aspirasinya, dia mengatakan, “Kalau kami dikirim ke Iraq, saya akan berpartisipasi dalam berbagai acara keagamaan bersama penduduk setempat agar mereka bisa merasakan kasih sayang dari saudara mereka dan yakin bahwa tentara Korea Selatan bukanlah tentara yang datang untuk menjajah, tapi satu pasukan yang dikirim untuk menyediakan bantuan kemanusiaan.

Korea Selatan merupakan rumah bagi 35.000 umat Islam, terutama dari Asia Tenggara. Korea Selatan, di mana agama Budha menjadi dan agama terbesar, Islam merupakan salah satu agama minoritas yang tumbuh sangat cepat. Pasca invasi AS ke Iraq, Negeri ini berjanji untuk mengirimkan 3.000 pasukan untuk membantu rekonstruksi dan mengirim sekitar 650 insinyur dan dokter selama masa satu tahun. [dailytimes.com.pk/ant/cha/Hidayatullah.com]

38. KDNY : Emanuael Fihmen

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Sekitar dua bulan lalu, saya didatangi oleh seorang anak muda dengan perawakan gemuk dan berjanggut tipis yang hampir tidak terurus. Mungkin karena kondisi fisiknya yang gemuk, atau karena memang baru saja masuk ke Islamic Center setelah berjalan kaki cukup jauh, sang pemuda itu nampak berkeringat. Nampak sedikit kaku, bimbang, tapi berusaha melempar senyum.

Sambil menyodorkan jabatan tangan, anak muda ini memperkenalkan diri sebagai “Emanuael”. Tentu dengan ramah kusambut jabatan itu sambil memperkenalkan diri. Dia sepertinya ingin menenangkan diri sehingga berusaha untuk lebih “confident” dalam ekspresi wajahnya. Tapi saya menangkap seolah ada sebuah kekhawatiran di benaknya.

Ternyata memang betul. Ketika saya tanyakan hal itu, dia menjawab: “This is my first time to a Mosque and I am worried how to behave in an appropriate mannerâ.”

“Emanuel, feel at home! Mosque is the most public place on earth. Every body is welcome regardless their status, including their

religious affiliation”, jawab saya menenangkan. Saya pun memulai bertanya, kenapa tertarik untuk datang ke mesjid? Dia menjawab: “I am a Graduate from Cornell University, Upstate New York, and still remember my class on Middle Eastern Studies.”

Saya tanyakan: “What did you study?” Dia menjawab bahwa dia sebenarnya belajar Islam. Bahkan menurutnya, dia sendiri sejak belajar di Cornell itu diam-diam sudah membaca Al-Quran, dan hingga saat ini masih terus. Menurutnya lagi “the more I read the Quran, the more I feel being attracted to read more” Bahkan, menurut dia, Al-Quran itu memberikan “peace in mind”. “I used to read it even before sleeping,“ lanjutnya.

Tanpa bertanya panjang lebar, saya mulai menjelaskan Islam seperti biasanya. Cuma menghadapi seseorang seperti Emanuael ini memerlukan pendekatan yang sedikit rasional dan ilmiyah. Rupanya tanpa saya sadari dari namanya, dalam benak saya ketika itu Emanuel adalah seorang Kristen atau Katolik. Karena memang mayoritas mereka yang datang belajar Islam adalah Kristen atau Katolik. Maka penjelasan-penjelas an saya kepadanya banyak menekankan mengenai kedudukan Isa dan ibunya dalam Islam.

Setelah sekitar setengah jam menjelaskan Islam, baru saya bertanya, ”What is your back ground? I mean, your religion”. Dia dengan sedikit tersenyum mengatakan, “I am a Jewish, but originally from Puerto Rico”. Saya hampir menyesal dengan penjelasan-penjelasan panjang lebar mengenai Isa dan ibunya, padahal kaum Yahudi tidak percaya kepada ketuhanan Isa, bahkan tidak mempercayai Isa sebagai Nabi.

“I am sorry”, saya sampaikan. “I think you were completely disconnected from my talk, since you dont believe in Jesus at Allah”. Dengan sopan Emanuel menjawab: “It’s fine. I love to learn and I enjoyed your talk”.

Tiba-tiba saja Emanuel menyela: “I am actually willing to embrace Islam. But I don’t know what to do”. Saya segera menjawab: “to convert to Islam is very easy. Probably the most difficult part of that, is to make sure that you are really convinced that Islam is the truth and the right way to follow”.

Dia dengan mantap menjawab: “I am very much sure about that, but I have something to ask before doing it. Saya tanya: “What is that?. Dia bilang: “I am an actor. I used to perform live show in different places here in the City. Can I still be an actor after becoming a Muslim?”

“O yes, sure!”, jawab saya tegas. “What you need to do after becoming a Muslim is learning some Islamic regulations concerning the arts. Islam is a practical religion and it provides clear guidance on what to do and not to do”. Mendengar jawaban saya itu, Emanuel sepertinya sangat puas dan senang.

Menjelang azan shalat Zhuhur saya minta seseorang untuk mengajarkan wudhu. Setelah berwudhu kembali saya ajarkan beberapa hal, termasuk kalimah syahadah yang sebentar lagi akan diucapkan di hadapan jamaah shalat Zhuhur. Saya juga mengajarkan cara shalat secara ringkas, hingga azan berkumandang. Nampak Emanuel khusyu’ mendengarkan azan pertama kali siang itu.

Menjelang shalat dimulai saya ajak Emanuel ke depan jamaah dan menuntungnya: ”Asy-hadu al laa ilaaha illa Allah, wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”. Dengan khusyu’ Emanuel mengikuti saya mengucapkan Kalimah itu, disusul pekik takbir para jamaah yang hadir. Iqamah untuk shalat dikumandangkan, dan Emanuel melakukan shalat pertama kalinya.

Semoga Allah menguatkan iman dan Islamnya saudara kita, Emanuael Fihmen!

New York, 8 Pebruari 2007

39. Seorang Walikota di AS Memutuskan Masuk Islam

 

Setelah masuk Islam, Walikota Macon, negara bagian Georgia, AS, Jack Ellis mengganti namanya menjadi Hakim Mansur Ellis. Ellis yang awalnya beragama Kristen ini, mengaku memutuskan masuk Islam setelah melakukan pencarian selama bertahun-tahun.

“Mengapa seseorang menjadi Kristiani? Anda melakukannya karena merasa Kristen benar. Bagi saya itu, itu tidak jadi soal. Tapi yang orang ingin tahu, apa sebenarnya yang anda yakini, ” ujar Ellis pada surat kabar Boston Herald, edisi Jumat (3/2).

Menurutnya, ia sudah mempelajari al-Quran selama bertahun-tahun dan ia merasa menemukan tujuan hidupnya dalam Islam. Apalagi setelah ia melakukan perjalanan ke Senegal, salah satu negara di benua Afrika. Ellis mengaku bahwa nenek moyangnya dulu sudah

menganut agama Islam, sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara untuk dijadikan budak.

“Saya benar-benar pindah ke agama Islam pada bulan Desember, akhir tahun kemarin di Senegal, ” tulis Ellis dalam pernyataannya yang disiarkan stasiun televisi lokal WMAZ, di Columbia, Carolina Selatan.

Setelah masuk Islam, bapak lima anak itu mulai menjalankan salat lima waktu dan secara rutin datang ke Islamic Center di Bloomfield Road. Meski sudah masuk Islam, Ellis menyatakan ia tidak pernah meremehkan agama lain dan untuk itu ia mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS.

“Saya tidak mengatakan bahwa agama yang satu lebih baik dari agama yang lain. Kami sangat meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai nabi, ” tuturnya.

Ellis mengungkapkan, ia seperti kembali pulang ke rumah ketika memeluk Islam. “Saya seperti kembali ke akar saya, ” katanya.

Sebagai seorang tokoh masyarakat, Ellis mengatakan, warga yang telah memilihnya berhak tahu atas keputusannya masuk Islam, meski keputusan itu urusan pribadinya.

“Saya tetap orang yang sama meski saya sudah mengganti nama saya. Sekarang, saya berbagi dengan ke luarga besar saya, warga Macon yang mendukung saya ketika saya masih beragama Kristen dan percaya mereka akan tetap mendukung saya, ” kata Ellis optimis.

Ellis lahir pada 6 Januari 1946 dengan mendapatkan gelar sarjana muda di bidang sastra dari St. Leo College di Florida. Dari situs pribadinya diketahui, ia pernah bertugas sebagai pasukan paramiliter selama dua tahun dalam perang Vietnam. Kala itu ia bergabung dengan Divisi Penerbang ke-101, dengan pangkat Sersan.

Selama pengabdiannya, Ellis berhasil mendapatkan perhargaan tiga bintang perunggu, medali Army Commendation for Valor dan Heroism serta penghargaan Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam.

Ellis akan mengakhiri jabatannya sebagai walikota Macon pada bulan Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai walikota, karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Namun Ellis mengatakan, kemungkinan ia akan ikut serta dalam pemilihan anggota Kongres tahun 2008, mewakili wilayah Georgia distrik ke-8.

Ellis pertama kali diangkat jadi walikota Macon pada 14 Desember 1999. Ia menjadi warga kulit hitam AS pertama yang terpilih sebagai walikota, sepanjang 176 tahun sejarah AS. Dan ia menjadi walikota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut. (ln/iol/eramuslim)

 

40. Hersince Kristina Yosephania : agama Islam lebih suci

 

Terlahir dalam keluarga beda agama bukanlah keinginan dara manis ini. Namun, setelah lama hidup di antara dua agama; Katolik dan Islam, akhirnya Titik Kristina (21) menentukan pilihan. Wanita jebolan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel ini memilih Islam karena menurutnya agama ini lebih suci.

TIDAK ada orang yang menyangka kalau gadis mungil berkacamata ini seorang mualaf. Dalam berbagai diskusi di kampus IAIN Fakultas Tarbiayah dia tergolong mahasiswi yang aktif, baik dalam kajian keagamaan maupun kajian umum lainnya. Titik Kristina nama lengkapnya.

Dia dibesarkan dari keluarga beda agama. Ayahnya, Bambang She Suwito Hadi (45) keluarga gerejawan dari Banyuwangi. Sedangkan Turini (40), ibu kandung gadis yang mempunyai nama asli Hersince Kristina Yosephania ini beragama Islam tulen.

Menurut wanita yang akrab disapa Kristin ini, kedua orang tuanya nekat menikah meskipun ditentang kedua belah pihak keluarga terlebih keluarga dari ayahnya. “Nenek dari ayah sangat marah ketika ayah memutuskan untuk menikahi ibu, karena ayah digodong (diharapkan) untuk meneruskan gereja yang ada di Banyuwangi,” ujar Kristin menceritakan asal terjadinya perbedaan agama itu.

 

GEREJA & MASJID

Akibat pernikahan dua agama ini, Kristin hidup di antara keduanya. Ketika ibunya ke masjid, Kristin ikut. Begitu pula jika ayahnya ke gereja dia pun ikut serta dengannya. Bahkan Kristin pun mendapatkan nama baptis. Sebagai seorang anak, Kristin belum bisa membedakan kedua agama ini. Saat itu Kristin kecil hanya bisa ikut-ikutan saja. Setiap minggu dia ikut kebaktian di gereja, sedangkan pada hari lain dia ikut mengaji di masjid bersama teman-temannya yang mayoritas muslim.

Bagi Kristin kecil di gereja ataupun di masjid baginya sama saja, hanya saja ketika pergi ke masjid dia merasa ada sesuatu yang harus dia persiapkan terlebih dahulu. “Aku selalu terkesan bila ke masjid. Karena kalau mau ke masjid harus dalam keadaan bersih,” ujar Kristin mengenang masa kecilnya.

Namun, perasaan nyaman ketika akan pergi ke masjid itu tidak dirasakanya ketika pergi ke gereja. “Kalau pergi ke gereja, kapan pun aku bisa, bahkan bangun tidur tanpa cuci muka pun tidak masalah,” tuturnya.

Karena perasaan itulah akhirnya Kristin memutuskan untuk masuk Islam. Dia merasa memang selayaknya untuk menghadap Dzat yang maha segalanya harus dalam keadaan terbaik.

Pergi ke sekolah saja kita harus rapi, masak menghadap Tuhan seenaknya?” ujar wanita kelahiran 11 Januari 1984 ini.

 

PRIA MISTERIUS

Setelah balig, saat itulah Kristin merasa ditemani oleh seorang kakek tua berbaju putih. Pria berjanggut panjang seperi dalam dongeng itu benar-benar dirasakan kehadirannya oleh Kristin. Namun anehnya, Kristin tidak merasa takut, bahkan sebaliknya merasa terlindungi.

“Kalau aku melakukan kesalahan atau hal yang kurang benar, aku seperti ditegur oleh kakek itu Mbak,” cerita Kristin saat ditemui NURANi di rumah kontrakan seorang temannya.

Lama Kristin tidak menceritakan hal itu kepada orang tuanya. Namun, pada suatu hari, Kristin keceplosan menceritakan kepada ibunya. Mendengar cerita anaknya itu, Turini merasa khawatir dan memutuskan untuk membawa Kristin kepada seorang ustad di daerah Pasuruan. Setelah itu Kristin mendapatkan bimbingan yang lebih intensif dan karena itulah dia memilih masuk Islam.

Setelah memutuskan untuk masuk Islam, Kristin dibimbing oleh Ustad Mustaji. Dia digembleng di Pesantren Wahid Hasyim. Di pesantren inilah Kristin yang kemudian dipanggil Titik ini mendapatkan cobaan yang hampir saja menggoyahkan keimanannya.

 

KULIAH DI IAIN

Meski tidak ada seorang santri pun yang tahu latar belakang Titik, namun entah kenapa ada beberapa santri yang memusuhinya. “Pernah suatu kali, aku dikunci di dalam kamar mandi,” cerita Titik mengenang pengalamannya di pesantren.

“Terlintas juga dalam pikiran saya, beginikah wajah orang Islam sesungguhnya?” ujarnya.

Apa yang dia alami di pesantren sangat bertolak belakang dengan pengalamannya ketika belum memilih islam.

“Dulu teman-temanku selalu mengajak dan merayu aku untuk salat ataupun mengaji di masjid, namun di pesantren sebaliknya seolah aku dihalangi untuk belajar,” imbuhnya.

Namun, pikiran seperti itu terhapus di kala menyadari betapa sabar dan telatennya Ustad Mustaji membimbing dia dan mengajari dia untuk lebih mengenal Islam. Keinginan untuk mendalami Islam tidak pernah pupus dari dirinya. Meskipun nilainya cukup untuk masuk perguruan tinggi umum, namun Titik lebih memilih IAIN sebagai kampus tempat menimba ilmu.

 

AYAH MASUK ISLAM

Keinginannya untuk berbagi dengan orang lain menggiringnya untuk memilih Fakultas Tarbiyah. “Saya ingin menjadi seorang guru agama, Mbak,” ceritanya.

Saat ini cita-citanya untuk menjadi guru benar-benar terwujud. Dia kini menjadi tenaga pelajar di sekolah dasar swasta terkemuka di Surabaya. Titik pun dapat membagi ilmu yang dia dapatkan. Setelah Titik masuk Islam, akhirnya sang ayah memilih Islam demi ketentraman keluarganya. Neneknya, Tyas Arum, salah satu tokoh Katolik yang sangat disegani di daerahnya, sangat marah. Mereka pun tidak mau menerima kunjungan anak dan cucunya.

Sumber : Nurani 229, 12-18 Mei 2005

41. Mihai Brescaro : Mualaf Romania Damai Setelah Berhaji

 

“Seperti mimpi yang menjadi nyata”. (Mihai Brescaro, menjadi Muslim sejak 2004)

Seperti menemukan tempat teduh setelah melalui pencarian yang panjang. Begitu Istan Liliana, mualaf asal Bucharest, Romania, menggambarkan kedamaian hatinya setelah menganut agama barunya, Islam. Maka dengan tekad bulat, dara yang menyatakan keislamannya 18 bulan lalu itu medaftar sebagai calon jamaah haji Romania.

Tak sia-sia ia menguras seluruh tabungan yang dikumpulkannya sejak empat tahun lalu. “Bagi saya, haji adalah pengalaman spiritual yang sangat menakjubkan,” ujarnya. “Damai tak tergambarkan saat berada di tengah lautan jamaah di Tanah Suci Makkah.” Apalagi saat berziarah ke makam Rasulullah SAW. Tak terasa air matanya jatuh. “Ini makam manusia agung yang membuat saya jatuh hati pada ajarannya dan memutuskan untuk menganut Islam,” ia mengisahkan.

Bagi Liliana, tak gampang untuk menjadi seorang Muslimah. Ujian berat menghadangnya begitu mengumumkan niatnya untuk berislam. Ia diusir oleh keluarganya. Sahabat-sahabatnya satu persatu meninggalkannya. Satu pukulan yang dirasakan sangat berat

adalah, ia dipaksa menandatangani surat pengunduran diri dari kantor tempatnya bekerja.

Namun tekadnya sudah bulat. Sempat menjadi gelandangan, Liliana akhirnya diterima bekerja di sebuah lembaga Islam. Ia pun kemudian berjilbab. “Pergi ke Makkah rasanya seperti mendapat solace (penghiburan,red) dari Tuhan,” ujarnya. Ia mengaku mendapatkan ketenangan batin.

Liliana menjadi bagian dari 320 jamaah haji asal Romania. Sebagian lebih dari jumlah itu adalah mualaf. Jumlah itu adalah jumlah jamaah terbanyak sepanjang sejarah Romania setelah lepas dari cengkeraman rezim komunis tahun 1989.

Mihai Brescaro, mualaf berusia 21 tahun, mengatakan ia meniatkan berhaji sebagai penyempurna keislamannya. “Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ujarnya, yang berislam sejak dua tahun lalu.

Ketertarikan Brescaro pada Islam berawal saat ia menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di Belgia. Saat itu, dunia dikejutkan dengan runtuhnya menara kembar WTC di Amerika Serikat yang kemudian menempatkan Muslim sebagai tertuduh. Penasaran dengan berbagai pemberitaan tentang Islam, ia mencari langsung ke sumbernya, para ulama Islam.

Ia menjadi tamu tetap Islamic Center di Belgia. Enam bulan kemudian, ia bersyahadat. “Sejak itu saya meniatkan diri untuk menunaikan ibadah haji,” ujarnya.

Suatu hari di bulan September, ia mengikuti kontes tanya-jawab seputar masalah agama yang diadakan International Tiba Charity (ITC) di Constanta. Tak diduga, ia keluar sebagai salah satu pemenangnya. “Hadiahnya hampir membuat saya pingsan: pergi haji!” matanya berbinar-binar saat menceritakan kisahnya kepada IslamOnline.

Bersamanya, ada 30 peserta muda lainnya yang juga mendapatkan hadiah sama. Mereka semua adalah mualaf. “Ini memang hadiah kejutan bagi mereka,” ujar Kareen Anjin, representatif ITC di Constanta.

Tahun ini, ITC mendapatkan 50 tiket haji gratis dari raja Arab Saudi. Selain untuk memberangkatkan para pemenang kontes, tiket gratis itu diberikan kepada takmir masjid setempat.

Selain memberikan tiket gratis, ITC juga memberikan subsidi bagi mereka yang ingin menunaikan ibadah haji namun biayanya belum mencukupi. Besarnya subsidi yang diberikan adalah 1.700 euro bagi masing-masing calon jamaah. “Sebanyak lima puluh orang mengajukan subsidi dan langsung kami setujui,” tambahnya. Asal tahu saja, biaya haji di Romania adalah sebesar 2.200 euro atau setara dengan Rp 25,96 juta (untuk kurs 1 euro setara Rp 11.800).

Menurut Anjin, salah satu amal ITC adalah menangani penyelenggaraan ibadah haji. Beberapa bulan sebelum musim haji, pihaknya mencetak seribu kopi majalah haji setebal 48 halaman. Majalah ini dibagikan secara gratis ke masjid-masjid dan Islamic Center seantero Romania.

Lembaga ini merupakan lembaga Muslim terbesar di Romania. Tahun lalu, ITC sukses menyelenggarakan Konferensi Internasional mengenai Islam se-Eropa. Saat itu, organisasi Muslim dari 40 negara Eropa menghadiri pertemuan di Romania yang digelar pada bulan Oktober.

Di Romania saat ini terdapat 70 ribu kaum Muslim, atau 2 persen dari seluruh populasi. Sebagian besar dari mereka berasal dari Albania dan Turki. Namun sejak tahun 2000-an, banyak penduduk setempat yang menjadi mualaf.

 

Satu Eropa Sejuta Mualaf

Mengapa makin banyak saja publik Eropa yang menganut Islam? Media populer The Christian Science Monitor (CSM) pernah mencari jawabannya melalui sebuah survei yang digelar di beberapa negara Eropa tahun lalu. Hasilnya, sungguh bertentangan dengan anggapan orang selama ini.

Misalnya, banyak media melansir kebanyakan mualaf adalah kaum wanita yang berpindah agama karena mengikuti agama suaminya (Islam). Kenyataannya, banyak juga kaum pria yang menjadi mualaf. Alasan perkawinan juga merupakan faktor terkecil sebagai daya tarik pindah agama.

Jawaban yang paling sering diucapkan tentang alasan berpindah agama adalah: “Mencari kedamaian batin dan jawaban dari rusaknya tatanan moral di Barat”. Survei itu juga menyebutkan, sedikitnya 1.000 Muslim baru mencatatkan namanya di tiap negara Eropa setiap tahunnya. Tak perlu menunggu hingga satu dasawarsa untuk mencatat sejuta mualaf di Eropa.

Para mualaf itu juga umumnya mengaku semakin mantap berislam setelah menemukan kenyataan islam berbeda jauh dengan justifikasi media. “Bagi saya, Islam penuh pesan kasih, toleransi, dan perdamaian,” ujar Mary Fallot, yang berislam sejak tiga tahun lalu, seperti dikutip CSM.

Selain itu, jauh dari apa yang gembar-gemborkan media di Barat bahwa kebanyakan mualaf bergabung dengan kelompok Islam radikan, survei CSM justru menyodorkan data sebaliknya. Hanya segelintir saja dari para mualaf itu yang menjadi radikal. “Tak banyak yang mengikuti jejak Richard Reid, seorang shoe bomber dan John Walker Lindh yang menyempal dan bergabung dengan mujahidin Afganistan.

Laporan survei CSM ditutup dengan kecemasan beberapa pejabat pemerintahan. “Fenomena ini (pindah agama) memang tengah booming dan ini mencemaskan kami,” ujar seorang intelijen Prancis, seperti dilansir CSM dari sebuah media Prancis, Le Monde. (RioL)

(tri//scm/islamonline)

 

42. Muhammad Ramadan (Stendly Delon), Masuk Islam Karena Tertarik Azan

(Pemain Film & Sinetron Terkenal)

Di usianya yang ke-49, Stendly Delon, akhirnya menemukan jalan kebenaran. Pria kelahiran Makassar ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada 1 Oktober 2006. Bukan hanya itu, Stendly juga mengubah namanya menjadi Muhammad Ramadan. Berikut penuturannya?

SAYA lahir di Makassar sekitar 49 tahun silam. Lingkungan saya adalah muslim yang taat, saya tumbuh di Makassar sejak kecil. Teman-teman saya adalah muslim semua, ketika saya bermain dengan mereka, saya sering tertegun melihat mereka salat. Waktu itu, usia saya masih sekolah dasar kelas lima. Sejak saat itu, di hati saya

sebenarnya saya punya keinginan untuk menjadi muslim, tapi keinginan itu belum terlaksana. Kerinduan saya terhadap Islam sudah lama. Dalam hati saya bertanya-tanya, kapan saya menjadi mualaf? Sampai akhirnya saya lulus SMA.

Bukan hanya itu, saya dibesarkan di sekolah Islam, saya masuk SMP negeri Makassar dan SMA Makassar. Murid dan gurunya juga banyak yang muslim. Setelah lulus dari SMA, saya putuskan untuk merantau ke Jakarta karena cita-cita saya waktu itu adalah ingin menjadi bintang film (aktor) terkenal.

Bayangan saya waktu di Makassar, orang jadi bintang film itu kaya raya dan terkenal. Untuk itu saya ingin melakukan itu. Tahun 1970-an baru saya hijrah ke Jakarta sendiri. Setelah saya tiba di Jakarta saya bertemu dengan Pak Firman Bintang. Waktu itu beliau aktif jadi wartawan.

JADI BINTANG FILM

Sementara saya menekuni cita-cita menjadi aktor, mulai pertama kali jadi figuran, model sinetron, hingga akhirnya saya dipercaya menjadi bintang film ternama. Saya berteman dengan Pak Firman Bintang, yang sekarang dia sebagai direktur Bintang inova Picture, kurang lebih 15 tahun silam. Setiap saya bertemu dengan dia, saya selalu tanya soal Islam. Saya juga utarakan niat awal saya untuk menjadi mualaf. Tapi, beliau menyarankan agar saya belajar lebih dulu soal Islam.

Selain bertanya kepada Pak Firman Bintang, saya terlebih dahulu mempelajari ajaran Islam melalui buku dan bertanya kepada temen-teman saya di lokasi syuting. Bahkan, Pak Firman sering menjadi guru saya soal Islam. Setiap kali saya bertemu Pak Firman, saya utarakan terus menerus untuk menjadi mualaf.

Tapi, Pak Firman menjawabnya dengan bijaksana. Dia bilang, “Jangan karena dekat dengan orang muslim, lantas ikut-ikutan muslim. Kamu harus yakini Islam, sebagai jalan yang benar dan terakhir,” demikian katanya.

Hingga akhirnya hidayah Allah itu datang pada 1 Oktober 2006. Pak Firman mengadakan acara syukuran dan buka puasa bersama anak-anak yatim dan kru film Bintang Inova Citra Picture. Karena kebetulan saya bermain sinetron di bawah asuhan Pak Firman, saya langsung menemui beliau. Saya utarakan kembali niat saya untuk menjadi mualaf dan ternyata Pak Firman merespon niat saya.

 

MENJADI MUALAF

Dari situlah proses mualaf saya terjadi. Sekitar pukul 06.00 Wib, di bawah Asuhan Dr Husen Shihab, saya baca dua kalimat syahadat disaksikan oleh keluarga besar bintang dan jamaah. Begitu saya menjadi muslim, saya lalu melakukan hal-hal yang diwajibkan oleh Islam, semisal khitan, dan lain sebagainya.

Saya menjadi muslim ketika usia 49 tahun. Ini sungguh luar biasa karena meski sejak sekolah dasar mengenal Islam, tapi baru sekarang merasakan hidayah dan kesempatan menjadi muslim. Bisa dibayangkan berapa tahun sisa hidup saya diperuntukkan untuk Islam.

Namun alhamdulillah, ternyata Allah meridai langkah saya. Saya bangga telah menjadi muslim.

Meski agak terlambat karena usia, saya tetap semangat seperti anak muda. Saya seperti anak yang baru lahir kembali, apalagi hari ini bulan Ramadan, saya juga ikutan puasa.

Sekarang saya bersemangat sekali belajar salat dan baca buku, bahkan saya membandingkan alkitab dengan Alquran. Menurut saya, islam sangat baik dan agama yang lurus. Karena Islam mempunyai aturan yang jelas terhadap umatnya. Meski saya dulu beragama Kristen, tapi saya jarang sekali ke gereja. Alasannya, gereja di lingkungan rumah saya tidak ada, tempatnya sangat jauh sehingga membuat saya malas untuk pergi.

Sementara di lingkungan tetangga kanan kiri adalah muslim, saya dan keluarga satu-satunya yang non-Muslim. Itulah sebabnya mengapa saya dari dulu tertarik Islam, karena sejak saya bangun tidur, saya selalu mendengar azan sampai waktu malam.

 

TERTARIK AZAN

Kali pertama saya tertarik Islam karena suara azan. Di usia yang masih kecil, saya sudah senang dengan suara azan. Bahkan saya sampai hapal azan, kebetulan letak rumah saya dekat masjid. Ketika mendengar suara azan rasanya hati ini damai sekali, saya nggak tahu kenapa ketika mendengar azan, saya teringat dan seperti terpanggil itu. Rasanya damai sekali mendengar kalimat Allah.

Jadi, suara azan dengan saya sudah akrab, seperti layaknya diri, sendiri. Waktu saya mengucapkan kalimat syahadat, temyata banyak teman-temah banyak yang mendukung, baik dari kalangan film maupun dari artis, mereka memberi ucapan selamat kepada saya. Bahkan keluarga besar saya juga seperti itu.

Kebetulan orang tua saya moderat, mereka mengajarkan agama dengan baik, mereka bilang tujuan semua agama baik dan agama tidak pernah mengajarkan kejelekan seperti mencuri dan membunuh. Mereka semua percaya, keyakinan adalah datangnya dari dalam hati, makanya ketika saya jadi mualaf, dia hanya menyarankan agar melaksanakan ajaran agama dengan sungguh-sungguh.

“Kalau kamu sudah pilih Islam, maka jalanilah dengan baik dan sungguh-sungguh,” katanya. Termasuk kakak saya yang muslim, dia mengucapkan seperti itu, karena dalam keluarga saya semua demokrasi.

 

DIPROTES SAHABAT

Namun, jauh dari dugaan saya penolakan kali pertama datang dari sahabat dekat saya yang non-Muslim. Ketika mendengar saya masuk Islam, mereka langsung telepon saya, mereka bilang, “Apa kamu nggak salah pilih pindah ke Islam? Kamu sudah gila!” Padahal saya sadar dan tidak gila. Mereka bilanglah macam-macam yang intinya mereka kurang setuju dengan tindakan saya ini.

Tapi saya sadar, saya orangnya suka mengalah, saya menghindar ketika ditanya macam-macam soal islam. Karena saya takut terjadi konflik fisik, dan itu rasanya akan menyulitkan saya. Apalagi ini bulan puasa, saya tidak ingin terjadi konflik.

Sekarang saya sudah punya jawaban, saya bilang sama mereka, keluarga saya tidak ada yang menentang apalagi sahabat saya. Ya, itulah perjalanan hidup saya soal Islam. Saya bangga dengan keadaan sekarang ini.

Sumber : Nurani 305 (Minggu ke 2 November 2006)

 

43. Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

 

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor

Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)

berikut penuturan beliau :

Nama saya Genne Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin

tahu tentang bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam.

 

Masa kecil dan mencari tuhan

Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru (New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya pindah ke Selandia Baru.

Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia Baru.

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.

Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya.

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?

Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua pertanyaan saya.

Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar.

Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.

Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis lagi.

Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak ada!

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!

Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.

Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah satu tahun.

Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling tinggi.

Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah fakultas pada akhir tahun pertama.

Dia menyatakan “Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali.”

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas.

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor

Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia bertanya “Kamu Gene, ya?” Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang teman. “Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?” Saya jelaskan bahwa memang ada mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. “Apakah kamu juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!”

Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!

 

Masuk Islam

Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang beragama Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu apakah agama ini benar-benar masuk akal atau tidak.

Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya (sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang apa yang dia lakukan dan kenapa.

Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah Bachelor of Arts, saya mengambil kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (Australian Vice Chancellors Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia.

Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu tahun di Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas Pendidikan, Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti waktu saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam.

Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya.

Selama satu tahun itu saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal atau serius, tetapi dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di TV, dari Kyai Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya mendengarkannya dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya mendapatkan ilmu agama dari berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu saya sudah merasa sulit untuk menolak agama Islam lagi.

Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?

Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup di luar negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus menetap di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menetap di Indonesia dan masuk Islam.

Saya kembali ke Australia dan pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka bahwa saya mau kerja di Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: “Silahkan kembali ke Indonesia, tapi jangan masuk Islam, ya?”

Dari pandangan orang barat, Islam tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh saya untuk menjahui sesuatu yang dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya saya memberitahu orang tua bahwa saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, saya sudah kembali ke Indonesia, mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah mulai sholat, sebelum saya memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap bahwa saya kehilangan akal. Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik kepada saya.

Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)

Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur’an di rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang diciptakan oleh manusia di negara ini.

Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang bertanya “Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?” Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus dari mereka.

Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan kepada saya?

Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat bagi kita semua (mualaf.com)

Beliau sekarang ini aktif dalam kegiatan “Pengajian Mualaf Bule di daerah Kuningan”

yang bersangkutan Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, saat ini telah menjadi anggota milist mualafindonesia@yahoogroups.com bergabung dengan yang lainnya dalam membantu mualaf dan calon mualaf … Blogs ybs http://genenetto.blogspot.com

 

Saat ini Gene Netto sedang membuat sebuah buku kisah perjalanannya hingga dirinya menerima Hidayah Islam.

 

DAFTAR ISI

01. SAYA

02. INGIN MELIHAT TUHAN

03. KEBENARAN ISLAM

04. KEBETULAN

05. TUHAN TIDAK PUNYA NAMA

06. LEBIH DARI SATU TUHAN

07. BERDOA KEPADA TUHAN (WALAUPUN TIDAK PERCAYA)

08. PERUBAHAN DARI AGAMA SEBELUM ISLAM

09. MENGIKUTI YESUS

10. PENGIKUT YESUS, PENGIKUT MUHAMMAD

11. PENEMBUSAN DOSA

12. AL KITAB BAHASA INDONESIA DARI MANA?

13. SELAMAT NATAL

14. AGAMA YANG MASUK AKAL

15. KESATUAN DI DALAM ISLAM

16. MENUTUP AURAT

17. PAKAIAN

18. KENAPA KITA HARUS SHOLAT SETIAP HARI

19. ORANG YANG TIDAK SHOLAT TETAPI MENGAKU ISLAM

20. TINGGALKAN SHOLAT

21. PENDIDIKAN

22. SINETRON

23. ADAT DAN BUDAYA

24. SHOLAT JUMAT

25. KEBERSIHAN MASJID

26. TANDA DARI TUHAN

27. KEKUATAN UMMAT ISLAM

28. KALAU AKU JADI PRESIDEN

29. HOTEL

30. SYIRIK

 

44. KDNY : A China Town Lady

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Senin akhir bulan Oktober 2006, usai mengikuti ceramah, profesor Antropologi di City College, sebuah universitas negeri kota New York itu menyatakan memeluk Islam.

Pertama kali wanita ini datang ke kelas Islamic Forum for non Muslims (Forum Islam untuk non-Muslim) saya sangka sekadar iseng. Dia datang tapi hanya duduk sebentar, lalu meninggalkan ruangan. Minggu selanjutnya datang lagi. Akhirnya saya bertanya padanya dalam bahasa Inggris, “Siapa Anda dan apakah tertarik belajar Islam?” Dia menjawab, “Ya, saya merasa disconnection.”

Ia mengaku disconnected (tidak nyambung) karena menganggap saya selalu berbicara tentang Islam dan agama lain, tapi agamanya tidak pernah disebutkan.

Saya baru paham bahwa ia adalah seorang penganut Budha. Sementara dalam kelas, biasanya saya lebih berkonsentrasi pada agama Kristen, Katolik, dan Yahudi.

Sejak itu, setiap kali dia hadir di kelas, saya selalu menyebutkan beberapa kaitan diskusi dengan agama-agama lain, termasuk Budha. Misalnya bagaimana agama Budha menitikberatkan ajarannya pada “alam” dan “spiritual”, yang sesungguhnya Islam lebih jauh memperhatikan hal-hal tersebut tapi dengan pendekatan yang balanced (imbang). Secara khusus, saya sempat memberikan hadiah sebuah buku milik Harun Yahya berjudul Islam and Budhism.

Sejak itu perhatiannya ke kelas semakin konsentrasi. Bahkan setiap kali selesai belajar, dengan sopan (adat China ) meminta agar saya bisa berbicara khusus dengannya. Anehnya, sebelum memulai pembicaraan, biasanya dia sudah meneteskan airmata.

“Apa yang sesungguhnya membuat Anda menangis?” tanya saya.

Katanya, hatinya cenderung ke agama Islam, tapi ia mengaku terlalu banyak dosa yang telah diperbuatnya. Ia mengaku selama ini merasa menyembah berhala (patung-patung)–yang menurutnya– unforgivable (tak termaafkan) dalam Islam.

Rupanya ia masih terkenang dengan penjelasan saya bahwa semua dosa diampuni kecuali dosa “syirik”. Kepadanya saya jelaskan bahwa dosa syirik yang dimaksud adalah ketika sudah menjadi Muslim/Muslimah lalu tetap melakukan berbagai kesyirikan. Barulah ia merasa senang. Bahkan sejak itu, setiap kali ke kelas–dengan bahasa Inggris logat kental China —ia sangat bersemangat untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah praktis dalam Islam, seperti shalat.

***

Perempuan enerjik itu bernama Eirine. Itulah nama yang selama ini saya kenal. Perempuan berpenampilan sederhana, seorang profesor Antropologi di City College , sebuah universitas negeri di up town (bagian atas) kota New York .

Ia mengenal Islam dari murid-muridnya yang Muslim di kolese tersebut. Bertepatan dengan malam Nuzul Al-Qur`an, di Masjid Al-Hikmah, New York –masjid yang dimiliki masyarakat Muslim asal Indonesia —tatkala itu mengadakan open house ifthar (acara buka puasa bersama) dengan tetangga-tetangga non-Muslim. Itulah yang membawa Eirine hadir dalam acara tersebut. Secara kebetulan, saat itu, saya menjelaskan kepada non-Muslim mengenai Islam. Eirine nampak serius mendengarkan.

Setelah berbuka puasa, saya terkejut. Tidak seperti biasa, Eirine langsung mendekati saya sebelum memberikan isyarat. Biasanya dengan mengangkat tangan atau isyarat yang lain. Setelah selesai makan kue, persis di saat akan dilaksanakan shalat Maghrib, dia mendekat dan mengatakan, “Saya piker, saya tidak lagi punya alas an untuk menundanya lebih lama.”

 

Saya tanya, “Menunda apa?”

Dia bilang, “Saya ingin menjadi seorang Muslimah malam ini.”

Dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera saya umumkan kepada jamaah yang memang membludak malam itu bahwa seorang sister akan mengucapkan dua kalimah syahadat.

Sebelum Maghrib, saya memintanya mengucapkan syahadat. Namun karena mengaku masih merasa gugup, saya memutuskan memberikannya waktu hingga Isya’.

Alhamdulillah, di hadapan jamaah shalat Isya’ Masjid Al-Hikmah, wanita China Town ini mengucapkan dua kalimah syahadat diiringi linangan airmata dan pekik takbir seluruh jamaah. Allahu akbar!

***

Semenjak menjadi Imam di Islamic Center of New York sejak Desember 2001 –terutama ketika Amerika sedang dilanda phobia Islam– saya merasa ada seseorang yang bisa menjembatani antara warga Amerika dan Komunitas Muslim.

Tentu saja sudah kehendak Allah, setelah 11 September, antusias masyarakat Amerika untuk tahu Islam sangat luar biasa. Saya tidak bisa menyebutkan berapa, tapi yang terdaftar setiap tahunnya, tidak kurang dari 130-an orang yang masuk Islam. Mungkin bisa dikali 5 tahun.

Sekitar 2-3 orang perminggu yang masuk Islam. Tidak jarang secara berombongan setelah shalat Jum’at. Pernah saya mengislamkan 8 orang sekaligus dalam sebuah acara Jum’at an di Islamic Center. Harap tau, banyak warga non-Muslim menonton acara Jum’at an, sehingga setelah mendengar khutbah mereka biasanya tertarik pada Islam. Ada yang langsung, ada pula yang meminta informasi di mana bisa belajar lebih lanjut.

Banyak yang bertanya, femomena apakah ini? Setahu saya, hanya dua. Pertama, memang orang Amerika itu senang mencari. Kedua, memang ajaran ini (Islam) sangat menarik. Terutama pasca 11 September semakin membuka pintu itu karena Islam diekspos sedemikain rupa oleh media massa AS. Alhamdulillah, meski 11 September menyisahkan kepahitan kaum Muslim, tapi manisnya bisa pula kita rasakan.

***

Senin akhir bulan Oktober 2006 lalu, Eirine menyempatkan diri mengikuti ceramah saya tentang “Why Al-Qur’an?” di Pace University. Di universitas ini beberapa waktu lalu ditemukan Al-Qur`an di WC dua kali, dan sempat menjadi berita besar. Oleh karena itu, Muslim Students Association menggelar forum publik untuk menjelaskan kepada komunitas Pace University tentang Al-Qur`an dan kenapa Al-Qur`an itu begitu disucikan.

Saat itu Eirine hadir sudah lengkap dengan menggunakan penutup kepalanya.

Bu Prof, selamat dan doa kami menyertai!

 

45. Molly Ingin Menjalani Hidup Sebagai Muslimah

 

I love Scotland … but I love Islam more. I don’t want to be a Christian

Molly Campbell, gadis kulit putih asal Skotlandia, mendapati dirinya terperangkap dalam pertempuran hak asuh antarnegara. Niatnya untuk menjalani hidup sebagai seorang Muslimah di negara ayahnya berasal, Pakistan, tak bisa terlaksana.

Rabu (29/11) lalu, Pengadilan Tinggi Lahore, Pakistan, memerintahkan agar gadis berusia 12 tahun itu dikembalikan ke pangkuan ibunya di Skotlandia. ”Molly Campbell akan diserahkan kepada Komisi Tinggi Inggris dalam beberapa hari, untuk kemudian dipulangkan ke Skotlandia,” ungkap Mian Saqib Nisar, hakim di Pengadilan Tinggi Lahore.

Kedua orang tua Molly memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Ayahnya yang beragama Islam, Sajjad Ahmed Rana, merupakan warga negara Pakistan. Sedangkan ibunya, Louise Campbell, warga Skotlandia, Inggris.

Rana kembali ke kampung halamannya di Pakistan setelah pasangan ini memutuskan cerai pada 2001. Ia meninggalkan Molly bersama ibunya di Stornoway, sebuah kota kecil di wilayah barat Skotlandia.

Agustus lalu, Molly menghilang dari rumah ibunya. Ia kemudian diketahui berada di Pakistan bersama ayahnya. Mengetahui hal tersebut, Lousie mengklaim Molly diculik oleh mantan suaminya dan dibawa paksa ke Pakistan. Ia juga mengklaim Molly dipaksa untuk menjalani perkawinan secara Islam.

Tudingan Louise dibantah Rana yang menyatakan Molly, yang memiliki nama Muslimah Misbah Iram Ahmad Rana, datang ke Pakistan dengan sukarela. Ini karena remaja tersebut sejak dulu memang ingin memeluk Islam. Setibanya di Pakistan, Molly sendiri yang mengatakan dirinya ingin tinggal di Pakistan, dan membantah berada di bawah tekanan untuk menikah.Perang perebutan hak asuh berlanjut ke meja hijau. Louise, melalui pengadilan

setempat, menggugat Rana dengan tuduhan melakukan penculikan. Louise mengirimkan petisi melalui pengacaranya kepada pemerintah Pakistan untuk mengembalikan putrinya.

Dalam persidangan September lalu, Pengadilan Pakistan memenangkan Rana atas gugatan terhadap dirinya. Molly dipersilakan untuk tetap tinggal di Pakistan bersama dengan ayah dan saudara kandungnya, dan melarang pemerintah untuk mengembalikannya ke Skotlandia.

Tidak terima dengan putusan tersebut, Louise mengajukan banding, yang kemudian dimenangkan oleh Pengadilan Tinggi Lahore melalui keputusan yang keluar Rabu lalu. ”Saya merasa terpukul. Saya akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung dalam beberapa hari,” ungkap Rana. ”Molly merasa sangat kecewa.”

Saksi mengatakan Molly, yang hadir di persidangan mengenakan pakaian Muslim dan penutup kepala, hanya bisa menangis usai pembacaan keputusan. Anggota keluarganya yang lain terlihat menghapus air mata.

Ibu Molly tak hadir di persidangan karena alasan keuangan dan kesehatan. Pengacaranya, Nahida Mehbub Elahi, mengatakan keputusan ini merupakan sebuah tonggak. ”Ini sebuah tonggak karena terdapat sekitar 60 ribu warga Pakistan yang mengawini wanita Inggris dan mungkin akan menghadapi kasus yang sama,” ujarnya.

”Bagi Molly, ini merupakan kemungkinan terburuk. Dia bilang akan lari lagi dari ibunya,” kata Rana.

46. Keith Ellison : Jalan Panjang Sang Mualaf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengincar kursi yang ditinggalkan Martin Sabo di DPR AS, dalam kampanyenya Keith Ellison mengusung ide tentang perdamaian, layanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta masa depan yang lebih baik.

Melalui surat terbuka yang dipasangnya di http://www.keithellison.org, Ellison juga menyatakan tekadnya untuk mengupayakan penyegeraan penarikan tentara AS dari Irak serta usaha rekonstruksi internasional. ”Dengan dukungan Anda, saya akan mewujudkannya,” ujar pria berusia 43 tahun itu.

Pemikiran Ellison memang bukan hal baru. Namun, track record-nya yang mengesankan mampu mengantarkan Ellison yang menjadi mualaf selepas lulus SMU ke kursi DPR. Ellison pun mengukir sejarah. Dialah Muslim pertama yang bisa menduduki posisi penting tersebut.

Didukung oleh Minnesota DFL –yang berafiliasi dengan Partai Demokrat– Elisson juga menjadi keturunan Afro-Amerika pertama dari Minnesota yang menjadi salah satu dari 435 anggota DPR AS. Sebelumnya, sejak 1943 cuma ada tiga orang yang pernah mewakili distrik Minnesota di DPR. Keanggotaan di DPR didapatnya setelah jumlah suara yang didapatnya melampaui kandidat kuat lainnya dari Partai Demokrat.

Mantan senator Ember Reichgott Junge, anggota Dewan Kota Minneapolis Paul Ostrow, dan kepala staf Sabo, Mike Erlandson, rupanya tak begitu mendapat tempat di hati akar rumput. Buktinya, pilihan lebih banyak dijatuhkan kepada Ellison. Ia menang dengan selisih 30 poin.

Sebelum Ellison, sebetulnya sudah banyak Muslim Amerika yang mencoba menduduki posisi serupa. Hanya saja, kurangnya pengalaman di dunia politik, lemahnya kampanye, serta kecurigaan berkelanjutan terhadap Islam, kerap menjegal usaha mereka. Bagi Ellison, sukses diraih setelah menapaki jalan panjang di dunia pelayanan masyarakat.

Sebagai warga pendatang, Ellison, yang pindah dari Detroit ke Minnesota pada 1987, paham benar kehidupan masyarakat Minnesota. Keragaman latar belakang penduduk justru dianggapnya sebagai kekuatan. Pria yang beristrikan guru matematika ini lantas membangun jaringan dengan seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di sekitar tempat tinggalnya, di pusat kota, hingga di lingkar utara.

Ellison memang bukan politikus dadakan di Minnesota. Pria kelahiran 4 Agustus 1963 ini pernah delapan tahun mengudara di radio komunitas, membantu warga Minnesota menyalurkan unek-uneknya. Berkat jasanya pula Minnesota pada 1990-an memiliki Police-Civilian Review Board, dewan yang mencermati hubungan kepolisian dengan masyarakat.

Pada tahun 2002, Ellison terpilih mewakili House District 58B di daerah pemilihan Minnesota. Ini merupakan kawasan bisnis potensial yang demografinya beragam dan dihuni oleh warga rasis. Di Minnesota, Ellison juga tergabung dalam keanggotakan Dewan Keamanan Publik, Komite Kebijakan dan Keuangan, serta Komite Pemilihan dan Hukum Publik.

Sebelum terjun ke dunia politik, Ellison bekerja sebagai pengacara. Ayah dari Amirah, Jeremiah, Elijah, dan Isaiah, itu lantas memanfaatkan pengetahuannya untuk membantu kaum papa yang terjerat masalah hukum. Ia melakukannya di bawah naungan Legal Right Center. Ellison bertindak sebagai executive director di organisasi nirlaba tersebut.

Selagi masih menjadi mahasiswa, Ellison menemukan keyakinan baru. Ellison muda yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik Roma lantas mengucapkan syahadat. Ketika itu, usianya masih 19 tahun.

Di bangku kuliah, Ellison kerap menulis kolom di koran kampusnya, Minnesota Daily, dengan nama Keith E Hakim. Salah satu tulisannya yang diterbitkan pada 1989 sempat menjadi kerikil yang memengaruhi perjalanan Ellison menuju kursi DPR. Tulisan tersebut memuat opini Elisson tentang kiprah Louis Farrakhan, tokoh Nation of Islam.

Diterpa masalah tersebut, Ellison menegaskan dirinya tak pernah menjadi anggota Nation of Islam. Namun, ia tidak mengingkari kedekatannya dengan Farrakhan. Ia mengaku terlibat dalam kegiatan Million Man March di Washington DC. ”Di pertengahan 1990-an, selama 18 bulan, saya memang pernah bekerja sama dengan personel Nation of Islam,” ujarnya.

Ellison mengungkapkan dia bukanlah orang yang anti-Semit. Ia bahkan menolak segala bentuk perlakuan yang bersifat anti-Yahudi. Terlepas dari masa lalunya itu, Ellison malah pernah mendapatkan dukungan dari The American Jewish World, koran lokal Minneapolis.

Ujian buat Ellison tak berhenti di situ. Saingan dari Partai Republik, Alan Fine, menuding Ellison menerima dana kampanye dari pimpinan Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi yang oleh Fine dicap memiliki hubungan erat dengan jaringan teroris. ”Pendiri CAIR, Nihad Awad, adalah kenalan saya. Organisasi ini mengutuk terorisme,” kata Ellison yang juga sempat dihantam isu penunggakan pajak.

Terlepas dari latar belakang etnis dan agamanya, Ellison merupakan pribadi yang mengesankan. Walikota Minneapolis, RT Rybak, berpendapat demikian. ”Ellison mampu mempersatukan orang. Dia adalah satu dari segelintir orang yang dapat membuat pihak-pihak yang berbeda paham di utara Minneapolis menjadi rukun,” komentar Rybak.

Mantan jaksa Amerika, B Todd Jones, juga menaruh simpati pada Ellison. Ia berpendapat Ellison yang dikenalnya sejak masih menjadi mahasiswa University of Minnesota Law School mendapat perlakuan yang tidak adil dengan berembusnya isu-isu tersebut. ”Saya bisa memahami ketertarikan Ellison pada Nation of Islam. Yang jelas bukan lantaran anti-Semitisme,” ucap Jones seperti dikutip Star Tribune.

Setelah berhasil mendapatkan kursi DPR dari 5th District, Ellison kembali menegaskan komitmennya. Sedari awal, ia selalu menekankan program yang diusungnya merupakan perjuangan bersama. ”Secara individu, kami berkomitmen pada diri sendiri untuk membangun dunia yang lebih baik, negara yang lebih baik. Kami akan memulainya dari sini, dari 5th District, mulai dari sekarang,” tegasnya seperti dilansir http://www.kare11.com

Sejumlah suporter Muslim berharap Ellison dapat membantu menjembatani jurang antara Muslim dan non-Muslim di AS. Sementara itu, tokoh Islam asal Philadelphia yang selalu mendukung kampanye Ellison, Adeeba Al-Zaman, menilai Ellison bisa berbuat lebih dari sekadar sumbangsih untuk agamanya. ”Yang jelas, saya mendukung dia bukan karena dia orang Islam. Saya bangga pada citra, visi, dan platform Ellison,” kata Al-Zaman. (RioL)

(reiny dwinanda )

47. Kesaksian Yvonne Ridley di Bekas Gereja Yang Menjadi Mesjid

 

London (ANTARA News) – Di bekas komplek bangunan Gereja Christian Priory yang kini menjadi Mesjid Sultan Selim, Yvonne Ridley (48), mantan wartawan Sunday Express yang pernah menjadi tawanan Taliban, menceritakan kisah perjalanan rohaninya dan akhirnya memutuskan memeluk Islam.

Pengalaman Yvonne Ridley disampaikan kepada peserta pertemuan silaturahmi musim gugur Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR) Gathering yang digelar di Mesjid Sultan Selim, dekat markas kesebelasan Spurs atau yang dikenal dengan Totenham Hotspur, selama dua hari Sabtu dan Minggu (4/5) November.

KIBAR Gathering yang menjadi ajang silaturahmi dan sekaligus acara halal bihalal keluarga Islam Indonesia yang berada di Britania Raya dan Skotlandia itu diikuti sekitar 200 peserta dan dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia, Dr Marty M Natalegawa.

Di bangunan bekas komplek gereja yang masih terdapat mimbar dan jendela tinggi khas dan besar yang berubah fungsi menjadi tempat ibadah umat Islam, Yvonne Ridley, yang mengenakan habaya warna hitam dan jelana panjang serta dipadu blus warna merah hati dilengkapi dengan jilbab modern yang diikat, berbagi pengalaman menjadi seorang Muslimah.

Bersama dua wanita muallaf lainnya, Bernadette dan Elizabeth, Yvonne Ridley yang wajahnya selalu terpancar keramahtamahan seorang Muslimah memutuskan untuk memeluk Islam setelah ia mendalami kitab suci Al-Quran.

Sebagai jurnalis dan aktivis perempuan yang tergabung dalam kelompok feminis, Yvone berharap akan menemukan perintah-perintah Tuhan yang memperlakukan wanita sebagai warga kelas dua, yang boleh saja disakiti, sehingga niqap atau jilbab dapat menutupi luka memar bekas kekerasan dalam rumah tangga.

Justru Yvonne merasa terkejut bahwa tidak ada satu pun ayat yang menyatakan tentang hal tersebut. Malah sebaliknya ia menemukan ajaran luhur bahwa sesungguhnya wanita diletakkan dalam derajat tertinggi di rumah tangga, ujar Yvonne yang senyuman selalu tersungging di bibirnya.

“Ternyata Islam memanjakan wanita untuk tak perlu dipaksa bekerja agar dapat memdidik anak-anaknya, agar terhindar dari minum-minuman keras, pornografi dan hal-hal lain yang dapat menghambat pertumbuhan remaja seperti yang tengah dikhawatirkan pemerintah Inggris,” ujarnya.

Bahkan ditegaskan di dalam Islam, wanita merupakan tiang negara dan sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki ibu, ujar Yvonne yang kini aktif berdakwah.

Dalam diskusi yang dipandu Andrew Williams, muallaf yang berganti nama Waraqah, dua warga Inggris lainnya yang baru kembali kepada fitrah memeluk Agama Islam berbagi cerita mengenai pengalaman rohaninya sampai memutuskan pilihan terbesar dalam perjalanan hidup mereka dengan mengucapkan dua kalimah syahadah.

Seiring dengan perjalanan waktu, Yvonne berhasil meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa Islam bukanlah seperti yang digambarkan oleh media.

 

Pengalaman ibadah haji

Pengalaman cukup berkesan dari politisi Partai Respect ini, terjadi ketika dia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekkah beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika ia terlambat datang ke Masjidil Haram.

Mantan wartawan Al Jazeera ini akhirnya berlari menuruni bukit dari tempat ia menginap. Beberapa ratus meter dari halaman masjid ia bersama puluhan ribu jamaah lainnya dihambat Askar untuk tak melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram, dan kekacauan pun terjadi.

Keluh-kesah dalam beragam bahasa, memerotes keputusan Askar yang tak memperkenankan mereka menuju halaman utama Masjid, yang memang telah dipenuhi jutaan ummat manusia yang ingin menunaikan shalat wajib.

Namun betapa takjubnya ia, ketika suara takbir tanda dimulainya shalat Ashar, serentak kekisruhan itu pun lambat laun berubah menjadi keheningan. Masing-masing langsung membentangkan sajadahnya, membentuk barisan baru. Semua larut mendengarkan sang Imam mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran, dalam satu bahasa. Yvonne pun mengambil pelajaran berharga sesungguhnya Allah telah mengajarkan shalat berjamaah sebagai suatu simbol agar umat tak mudah terpecah-belah bila ia mengikuti pemimpinnya yang shaleh dan alim.

 

Islamphobia

Wanita yang murah senyum itu berjuang membebaskan belenggu Islamophobia yang melanda dunia Barat melalu tulisan-tulisannya yang cukup berani. Ia berhasil memaksa petisi agar Blair segera lengser tahun depan, dan menuntut hengkangnya pasukan Inggris dari tanah-tanah Muslim di Irak dan Afganistan.

Yvonne juga mengajak warga Indonesia bergabung bersama warga Inggris lainnya, Muslim maupun non-Muslim secara aktif menuntut dihentikannya peperangan di berbagai belahan dunia.

Sementara itu Elizabeth (68) mengucapkan syahadah di usianya yang ke-62 tahun, setelah pencariannya yang panjang sampai ia pun pasrah kepada Tuhan untuk dicarikan pegangan hidup yang sesungguhnya.

Kedekatannya dengan keluarga Muslim mengantarkannya sebagai umat Islam dan selalu menyarankan agar sebagai seorang Muslim ‘kita’ harus terbuka terhadap warga non-Muslim.

Sementara itu, Bernadette asal Irlandia masuk Islam sejak bertemu dengan suaminya orang Indonesia di atas kapal pesiar di New Zealand. Setelah mengucapkan dua kalimah syahadah tantangan dari dalam keluarga dan teman-temannya cukup membuatnya khawatir.

Sebaiknya ‘kita’ harus menjelaskan tentang tata cara hidup ‘kita’ sebagai Muslim, dengan demikian mereka akan mengerti mengapa kita menjalankan ritual, kenapa tidak makan makanan yang diharamkan, katanya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) London, Muslimin Anwar, menilai Yvonne Ridley sebagai motor penggerak perlawanan terhadap propaganda media Barat yang cenderung bias terhadap Islam dan para penganutnya.

Menurut Muslimin Anwar yang tengah menyelesaikan Phd di Brunel University, kemampuan jurnalistik Yvonne selama menjadi wartawan Sunday Express, BBC, CNN dan Al Jazeera sangat mencerahkan umat Islam di Eropa, untuk selalu secara kritis menanggapi setiap berita yang diusung oleh media Barat.

Dikatakannya umat Islam maupun mereka yang anti perang serta yang ingin mencari pembandingan segala kebijakan kelompok ‘neo-conservative’ dengan kehadiran Yvonne Ridley dapat dijadikan referensi yang tingkat kesahihannya cukup tinggi.

Sementara itu, Hamiyah Panama, wanita kelahiran Engrekang, Sulsel, yang bersuamikan muallaf Dominique Bodart asal Belgia mengatakan Yvonne Ridley mendapatkan hidayah justru dalam situasi sulit dan setelah memeluk Islam pun dia mendapat banyak tantangan dari keluarga dan kawan-kawannya.

Menurut wanita yang aktif dalam pengajian para muallaf, pelajaran bagi kita-kita yang Islam sejak lahir yang menganggap agama Islam hal biasa, sedangkan orang-orang semacam Yvonne, Bernadette dan Elizabeth banyak tantangan yang mereka hadapi sebelum cahaya Islam datang dan menerangi hati mereka.

“Harusnya kita patut cemburu karena mereka langsung melaksanakan kewajiban-kewajiban agama Islam secara serius, dan pengalaman mereka harus kita jadikan pelajaran bahwa memang Allah itu Maha Kuasa,” demikian Miya.

Acara Kibar Gathering yang digelar setiap musim menjadi ajang silatutahmi umat Islam Indonesia yang berdomili di Kerajaan Inggris itu digelar acara diskusi dan telekonference dengan ustad Syamsi Ali, warga Indonesia yang menjadi Imam Mesjid di New York, mengetengahkan topik “Kembali kepada fitrah” dengan moderator Muslimin Anwar, Ketua ICMI-London. (Oleh Zeynita Gibbons)

 

48. Bulan Sabit di Atas Patung Liberty : Perjalanan Hidup Pencari Hidayah

 

Selalu saja mengesankan catatan hidup para pencari jalan kebenaran. Mereka senantiasa menempuh jalan yang begitu berliku. Tak cuma itu, batin mereka pun harus teraduk-aduk tak menentu sebelum hidayah turun untuk mengantarkannya menggapai kebenaran.

Inilah buku yang merekam lika-liku para mualaf untuk menemukan Islam. Mereka berangkat dari hati gersang. Agama yang mereka yakini sebelumnya, tak banyak memberi jawaban atas kegersangan itu. Akibatnya, mereka pun terus bergerak untuk menemukan pintu-pintu hidayah sebagai jalan menuju Islam. Setelah berhasil menemukan Islam, mereka pun menemukan jabawan yang sempurna atas segala persoalan hidupnya.

Yang cukup mengherankan adalah, para mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini adalah mereka yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat (AS). Seperti kita tahu, AS adalah negara yang sebenarnya tidak begitu ramah terhadap Islam. Kebijakan politik pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Presiden George W Bush, banyak sekali merugikan Islam.

Runtuhnya menara kembar WTC menjadi monumen penting bagi pencanangan kampanye melawan teroris. Secara gencar, isu terorisme pun dijadikan agenda penting dunia. Media-media besar yang didukung dunia Barat, dijadikan agen untuk terus menggelembungkan isu terorisme itu. Pada perkembangannya, kemudian terlihat begitu jelas bahwa isu terorisme dimanfaatkan Bush dan sekutunya untuk menekan dan menghancurkan Islam.

Skenario untuk menghancurkan Islam pun terus dikembangkan. Islam terus-menerus didekatkan dengan aksi-aksi teror dan kekerasan. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, terus dicurigai. Masyarakat Muslim di dunia barat pun banyak mengalami penghinaan serta penganiayaan. Tak terkecuali mereka yang tinggal di AS.

Namun skenario penghancuran terhadap Islam yang disusun manusia itu tak mampu menyaingin skenario Allah SWT. Semakin Islam ditekan oleh dunia Barat, perkembangan jumlah pemeluk Islam di Barat pun melesat. Saat ini, Islam menjadi agama yang pertumbuhan jumlah pemeluknya paling pesat dibanding agama-agama lain. Islam seperti menciptakan kebangkitan baru di dunia Barat.

Buku ini memang disusun sebelum menara WTC runtuh pada 2001. Muzaffar Haleem, menghimpun tulisan dan wawancara dalam buku ini sejak awal tahun 1990-an. Setelah materi terkumpul semua, barulah pada 1999 buku ini diterbitkan pertama kali dengan bahasa Inggris. Tujuh tahun kemudian, yakni pada 2006, terjemahan bahasa Indonesia buku ini bisa hadir ke hadapan pembaca.

Ada 14 mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini. Mereka mengisahkan awal mula berkenalan dengan Islam. Umumnya, mereka memerlukan waktu yang cukup panjang untuk kemudian memutuskan mengucap kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Maklumlah, keluarga mereka telah memeluk agama Kristen yang sudah mereka peluk secara turun-temurun.

Selain itu, pemahaman tentang Islam di kalangan warga AS memang tidak menggembirakan. Diana salah seorang mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini menggambarkan pemahaman tersebut. Saat bertemu dengan ketua kajian Injil di sekolahnya, dia sempat mendengar pernyataan negatif tentang Alquran. Ketua kajian itu menganggap Alquran sebagai alat setan untuk menggoda manusia menjadi kafir. Saat ditanya lebih jauh, ternyata Sang Ketua ini belum pernah membaca Alquran, meski telah berani membuat cap negatif terhadap Kitab Suci tersebut.

Buku ini begitu menggugah kita dalam menjalani Islam. Umumnya kita yang tinggal di Indonesia, bisa menemukan Islam dengan mudah. Sejak lahir, kita telah dikenalkan dengan kenikmatan Islam. Sementara, mereka yang berkisah dalam buku ini, diharuskan menempuh perjalanan yang cukup keras untuk bisa menggapai Islam. Untuk mereka yang belum menemukan Islam, buku ini juga memberi inspirasi untuk mencoba memasuki pintu-pintu kebenaran. irf

 

Judul                : Bulan Sabit di Atas Patung Liberty

Penulis            : Muzaffar Haleem dan Betty (Batul) Bowman

Penerbit           : Mizania

Cetakan           : I (pertama)/Juni 2006

Tebal               : 165 halaman

 

SINOPSIS BUKU

Amerika dewasa ini adalah salah satu negara yang dipandang paling tidak ramah terhadap Islam dan kaum Muslim. Invasinya ke Afghanistan dan Irak, dukungannya yang tanpa henti kepada Israel, dan tekanannya kepada Iran dalam isu nuklir adalah sejumlah citra yang paling mengemuka tentang Amerika di mata kaum Muslim.

Namun, di balik itu, tidak semua orang Amerika mewakili gambaran stereotipikal negaranya. Ada sejumlah orang Amerika yang dengan sukarela memeluk Islam setelah melakukan pergulatan intens. Mereka bisa membedakan antara Islam yang dicitrakan di media-media Barat (sebagai agama kekerasan, anti kesetaraan gender, diskriminatif, anti-demokrasi, dst.) dan Islam yang sebenarnya.

Buku ini memotret pengalaman-pengalaman unik para mualaf Amerika dalam perjuangannya menuju Islam. Bagaimana mereka menghadapi keluarga yang tak seiman. Bagaimana mereka menanggapi kecurigaan keluarga dan teman-teman dekat. Bagaimana menjalankan kehidupan agama di tengah masyarakat Amerika yang umumnya awam tentang Islam. Bagaimana menghadapi pelbagai sikap dan perbedaan kecenderungan di kalangan masyarakat Islam di Amerika, yang umumnya imigran dari berbagai negara Muslim. Bagaimana membangun komunitas Muslim di salah satu negara paling majemuk di dunia ini.

Buku ini merekam kisah-kisah mualaf Amerika secara menarik, ringan, dan mengalir. Anda akan melihat sisi lain Amerika, sisi-Islam Amerika!

 

Tahukah Anda?

• Islam merupakan agama paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat dan agama terbesar kedua di bawah Kristen dan di atas Yahudi.

• Jumlah Muslim di AS sekitar 5-7 juta.

• Jumlah masjid di AS lebih dari 1.200 buah.

• Beberapa tokoh Muslim terkenal di AS: Hakeem Olajuwon (atlet basket), Muhammad Ali (mantan petinju), Jeffrey Lang (matematikawan), James Yee (mantan kapten US Army), Jermaine Jackson (penyanyi, mantan anggota Jackson Five), Ice Cube (rapper), Bernard Hopkins (pemegang 4 gelar juara tinju dunia).

***

“Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat.”

—New York Times

49. KDNY : Jessica, Putri Suriah

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Bersamaan dengan buka puasa Jessica mengucapkan “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasulullah”. Gadis keturunan Suriah itu akhirnya memeluk Islam

Hari Sabtu, 14 Oktober lalu, dilakukan buka puasa dengan mengundang tetangga-tetangga non Muslim di Jamaica Muslim Center, salah satu mesjid yang saya pimpin di kota dunia ini. Acara ini kami namai “Open House Iftar”. Memang unik, karenanya asumsinya buka puasa itu adalah mengakhiri puasa yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tapi sore itu, justeru hadir bersama di antara lima ratusan Muslimin di Jamaica Muslim Center puluhan non Muslim dari kalangan tetangga. Menjelang buka puasa itu saya tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang murid saya yang baru masuk Islam seminggu menjelang bulan puasa. Namanya Carissa Hansen. Beliau yang telah saya ceritakan proses Islamnya terakhir kali.

Bersama beliau juga datang seorang gadis belia yang nampak sangat muda. Dengan jilbabnya rapih, saya menyangka dia seorang gadis Libanon atau Palestina.

Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, gadis tersebut memperkenalkan diri dengan malu-malu. “Hi, I am Jessica”. Tentu dengan ramah saya balas sapaannya dengan “Hi, how are you? Welcome to our event!”.

Tiba-tiba saja Carissa menyelah bahwa Jessica ini ingin sekali tahu Islam. Rupanya Jessica bekerja merawat orang-orang “handicapped” (cacat) di kota New York. Dalam salah satu kelas khusus bagi orang-orang cacat inilah, Jessica bertemu dengan Carissa yang baru sekitar 2 minggu masuk islam. Carissa yang memang bersemangat itu menjelaskan kepadanya siapa dia dan Islam yang dianutnya.

Setelah berkenalan beberapa saat saya ketahui kemudian bahwa Jessica ini berayah seorang Muslim keturunan Suriah tapi beribu Spanyol. Namun demikian, selama hidupnya belum pernah belajar Islam. Menurutnya, ayahnya memang orang Suriah tapi dia tidak pernah mengajarnya bahasa Arab (barangkali dimaksudnya Islam). Bahkan (maaf) dia menggelari ayahnya “Cassinova”, yang awalnya saya sendiri tidak tahu artinya. Ternyata dia menjelaskan bahwa “cassinova man” itu adalah seseorang yang “dating many women at the same time”. Menurut Jessica lagi, ayahnya kini sakit keras. Punya lima anak dari 5 ibu yang berbeda.

Oleh karena memang ayahnya tidak melakukan ajaran agama, apalagi mengajarkan anaknya agama Islam, Jessica sendiri merasa lebih Katolik mengikuti agama ibunya. Oleh karenanya, walaupun tidak ke gereja, dia merasa ada ikatan dengan agama Katolik ibunya.

Sore itu, setelah bertanya beberapa hal, tiba-tiba saja dia menyelah “I think this is the right religion to follow”.

Saya kemudian menjelaskan lebih detail mengenai islam dan dasar-dasar Iman. Alhamdulillah, bersamaan dengan acara buka puasa hari itu saya tuntun Jessica mengucapkan syahadah “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasulullah” diringi pekik takbir kaum Muslimin yang sedang mencicipi buka puasa.

Beberapa hari kemudian saya tanya “did you tell your family regarding your Islam? “ Dian menjawab “not yet, but studying doing my prayer secretly”. Ketika saya tanya apakah Bapaknya juga belum tahu kalau dia Muslim? Dia mengatakan bahwa “my father does not want to know that”. Saya tanya kenapa? Dia bilang “If he knows he will be embarrassed being a Muslim but never told us about his religion”. Saya hanya mengatakan “astaghfirullah”.

Kini Jessica rajin mengikuti acara-acara ceramah atau pengajian saya. Pada hari Raya yang lalu Jessica ikut kami sekeluarga keliling silaturrahim ke berbagai rumah. Begitu senangnya hingga berkata: “I never experienced such a wonderful day”.

Jessica termasuk anak yang gagal sekolahnya. Ketika berumur 16 tahun terpaksa menikah karena hubungannya dengan seorang pemuda. Dia tidak menamatkan SMA sekalipun. Setelah menikah ternyata dia menjadi bulan-bulanan suami yang pemabuk dan bahkan pengkonsumsi narkoba. Perkawinan itupun tidak berumur panjang. Sejak itu pula, ayah Jessica mengalami penyakit jantung kronis dan kesehatannya semakin menurun. Maka dengan sendirinya hanya ibunyalah yang mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Inilah yang mendorong Jessica kemudian untuk bekerja membantu sang ibu.

Kini Jessica bertekad untuk kembali belajar dan bercita-cita untuk menjadi perawat. Alasannya karena dia senang membantu orang lain. Dua hari lalu Jessica menelpon saya memberitahu bahwa dia berjuang untuk shalat di rumahnya. “I feel it’s not clean, and my brother is laughing at me when he sees me doing it”. Saya terkejut karena saya kira Islamnya masih dirahasiakan. Ternyata menurutnya, semua sudah tahu kecuali ayahnya. Dia masih sungkan memberi tahu ayahnya karena menurutnya jangan sampai tersinggung sedangkan dia sekarang ini sakit keras.

Saya ingatkan Jessica “jika kamu berhasil menyadarkan ayahmu sebelum meninggal, maka itu pemberian yang paling berharga dari seorang anak kepada seorang ayahnya”. Jessica hanya tersenyum secara berucap “I hope so. Pray for me!”

 

50. Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam : bermimpi bertemu Rasululah SAWW

 

“Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-‘Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)

51. Lim Pei Chuan : Menelusuri Sungai-sungai Hidayah

 

Namaku Lim Pei Chuan, seorang keturunan Tionghoa bersuku Han dan masih satu kampung dengan KhongCu sang pembawa agama Khong Hu Cu, Shan Tung. Dua puluh dua tahun lalu, nama itu aku sandang dari seorang ahli nujum keluarga. “Aliran Sungai besar dari Utara”, nama yang tidak terlalu buruk aku kira.

Kehidupanku di negeri ini bermula dari terdamparnya kakekku, Lim Man Ie, di pesisir pantai Sumatera Utara tahun 1945. Saat itu, ia sedang melarikan diri dari negerinya, Tiongkok, karena peperangan besar yang terjadi di sana.

Di Sumatera, kakek mengenal seorang gadis desa yang manis lagi baik bernama Tan Gek Nai yang kemudian ia persunting jadi istrinya. Dari hasil pernikahan itu, lahirlah papa dan pamanku.

Sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena nenekku meninggal setelah melahirkan pamanku, saat itu papa baru berumur tujuh tahun. Pada saat papa berumur delapan tahun, kakek pun menyusul isterinya karena sakit diabetes dan cidera pinggang yang dideritanya.

Dalam keadaan yatim piatu, papa harus berusaha menghidupi dirinya sendiri. Saat itu, ia numpang dengan pamannya di Simpang Tiga. Di sana ia dipekerjakan sebagai pembantu hingga menikah dengan seorang penjaga toko kelontongan.

Papa dan mamaku dibesarkan dengan pendidikan yang kurang. Papa seorang lulusan SMA dan mama hanya bersekolah sampai kelas tiga SD sekolah Cina, karena sekolah itu akan dibongkar paksa karena peristiwa GestOk (PKI-red).

Aku dibesarkan dalam budaya TiongHoa yang cukup kental. Dari kecil, aku sudah diajak oleh papa untuk belajar berdagang dan diajarkan berbagai ilmu tentang dagang serta semua keahlian pendukungnya. Papa seorang perokok dan peminum. Meski demikian, ia tidak pernah ngamuk-ngamuk seperti kebanyakan peminum. Jadi, sejak umur tujuh tahun aku sudah cukup sering minum bir bersama papa, atau pernah satu sempat aku diajak nonton tarian setengah bugil bersama-sama orang tua. Namun, semua itu tidak pernah aku lakukan tanpa orang tua. Hal yang paling dilarang saat itu oleh papa adalah berjudi, merokok dan main perempuan.

Saat kelas dua SLTP, ada kegundahan yang tak dapat kujelaskan tentang sesuatu yang mengganjal dalam dadaku. Prinsipnya, aku hanya ingin benar-benar meyakini bahwa my religion is the true way of life dan bukan seorang penganut agama keturunan.

Aku memulai perjalanan ruhaniku dari agama Buddha Theravada (Buddha Thailand), Mahayana (Buddha Tiongkok), Tantrayana (Buddha Tibet), Ekayana (Buddha campuran), Buddhayana, Tridharma (Perpaduan agama Buddha, Khonghucu, dan Taoism). Karena rasa yang mengganjal itu belum terlunaskan, maka aku mempelajari ilmu Taoism Tiongkok dan Taiwan, lalu Hindu Bali dan Hindu India. Masa pencaharian diwarnai suatu tragedi di keluargaku, mamaku menderita Hipertensi dan harus masuk rumah sakit.

Pada saat mama diperiksa, aku mulai putus asa dengan keadaannya. Saat itu aku hanya teringat, bahwa aku harus memohon kepada yang bernama Tuhan, agar mama disembuhkan. Selang beberapa saat, sakit mama mereda. Yang aku panggil saat keadaan terjepit itu adalah Tuhan, bukan nama dewa-dewi yang kukenal ataupun yesus. Fitrah asalku mengatakan bahwa aku butuh Tuhan, tempat aku memohon dan berlindung dalam setiap keadaan.

Sakit yang dialami mama sudah sekitar setengah tahun. Hampir sepuluh juta, uang yang terkuras demi pengobatan mama. Keadaan keluarga semakin morat-marit, tapi mama tak kunjung sembuh. Sejak mama di rumah sakit, akulah yang tinggal di rumah melayani papa dan adikku, dari mulai memasak, membereskan rumah, dan semua yang biasa dilakukan mama.

Saat itu, datanglah tetanggaku yang beragama Nasrani menawarkan untuk refresh ke Gadog Puncak. Tawaran itu aku sambut dengan baik. Kami berangkat jam 4 sore dan sampai di sana sekitar jam 10 malam. Di sana, kami tidur dahulu sampai jam 00.00. Kemudian dibangunkan untuk mendengarkan kotbah malam seorang pendeta dari Sulawesi. Saat itu, kami yang tidak semuanya Kristen pun ikut kebaktian malam. Di villa itu ada yang beragama Khatolik, Buddha, Khonghucu, dan kalau tidak salah adapula yang beragama Islam.

Si pendeta memulai khotbahnya malam itu selama dua sesi. Sesi pertama adalah kesaksian, ia mengakui bahwa dia tadinya beragama Islam namun ia tidak menemukan kedamaian di sana. Anak dan Istrinya pun bergantian bicara tentang keadaan mereka yang buruk ketika beragama Islam. Sesi kedua, ia berusaha agar kami yang di sana berucap “haleluya” bersama-sama.

Setelah sekian lama mengikuti kegiatan mereka, termasuk mencoba untuk mengkristenkan kedua orang tua saya dengan dalil-dalil gerejawi, timbul sebuah pertanyaan yang paling mendasar dalam diri saya, mengapa aku semakin ragu terhadap Yesus. Keraguan itu aku tanyakan kepada gembala gereja, tapi yang kudapat hanyalah doktrin-doktrin gerejawi.

Aku semakin tidak percaya lagi dengan doktrin-doktrin gerejawi tentang Yesus. Aku berusaha menghilangkan gambaran Yesus dari pandanganku dengan mengatakan bahwa aku tidak mencintainya lagi. Di kemudian hari, aku baru sadar bahwa hampir saja aku menjadi korban Kristenisasi dengan metode hipnotis diri dan jin.

Setelah itu, aku kembali pada agama semula, Khonghucu. Lagi-lagi Allah memberikan hidayah kepadaku melalui pengalaman gaib.

Ketika itu aku sedang sembahyang di sebuah kelenteng, seperti biasanya, aku mulai mengambil Hio atau dupa panjang, menyalakannya dan mulai menancapkannya di setiap dewa-dewi yang telah ditentukan sambil berdoa. Ketika sampai di dewa terakhir, ada sebuah suara yang berbicara di telinga kananku. Dia bertanya tentang apa yang sedang aku sembah. Aku menjawab, bahwa yang aku sembah itu adalah Buddha. Lalu ia bertanya lagi tentang yang mana Buddha itu. Aku menunjuk patung Buddha untuk menjawab pertanyaan itu. Ia bertanya lagi tentang yang aku tunjuk itu. Dengan sedikit merasa salah aku mengatakan bahwa itu patung. Ia bertanya lagi tentang siapa yang menciptakan patung? Aku menjawab, manusia! Ia bertanya lagi siapa yang menciptakan manusia? Aku mengatakan Tuhan! Sayup tapi pasti, suara itu mengatakan. “Itulah yang kamu cari. Carilah Tuhanmu, Tuhan Yang Menciptakan kamu dan aku, Tuhan Pencipta semesta alam ini, Tuhan Yang Membuat semua yang tiada menjadi ada. Ia Yang Pertama dan Terakhir.

Ketika aku bekerja sebagai pencuci diesel, dari stasiun Poris, naik sekeluarga Muslim yang terlihat taat agamanya. Betapa harmonis dan hangatnya keluarga mereka. Semuanya itu membuatku penasaran, hingga aku memberanikan bertanya pada bapaknya tentang resep membina keluarga seperti itu. Jawabannya sangat menakjubkan, “Allahlah yang telah membentuk keluarga seperti ini”.

Allah terus membimbingku untuk kembali kepada-Nya lewat berbagai peristiwa yang memberikan hikmah mendalam pada diriku. Semuanya membuatku semakin merasa perlu mencari obat kegelisahan hatiku. Hidayah terakhir yang terjadi padaku adalah sebuah perjalanan ruhani. Aku mengalami empat hal yang membuatku tidak lagi dapat berpaling dari kebenaran Islam dan kerinduanku untuk segera menghampiri agama Allah itu.

Perjalanan pertama adalah aku mati suri selama enam jam. Di perjalankan, rohku sampai di suatu tempat yang sangat putih bersih yang disana aku memakai sorban putih, gamis putih dan memegang tasbih putih serta mulai berjalan menuju sajadah yang berwarna putih. Sayup-sayup terdengar bacaan Yasin dari seorang laki-laki, ketika aku sudah mulai duduk di atas sajadah putih itu. Akupun mulai mengucapkan satu kata yang belum pernah aku ucapkan sebelumnya, “Subhanallah”, aku bertasbih terus sampai adzan subuh sayup-sayup berkumandang.

Perjalanan kedua, aku terbang di kegelapan malam. Aku melihat sebuah cahaya keemasan yang setelah aku dekati ternyata sebuah musholla kecil yang terbuat dari kayu cendana. Setelah aku masuk musholla itu, aku mulai membaca Quran yang sebelumnya belum pernah aku mengerti.

Perjalanan ketiga, ketika mau tidur ada sebuah bayangan memakai gamis dan sorban putih masuk lewat jendelaku. Selama kurang lebih lima menit, ia mengatakan Laa Ilaaha illa Allah. Pada pertemuan selanjutnya, ia memakai sorban dan jubah hitam serta masih melafalkan kalimah Thayyibah.

Perjalanan keempat, aku diperjalankan melihat padang Mashyar, di mana aku melihat samudera manusia berkumpul. Akhwat di sebelah kananku dan yang ikhwan di sebelah kiriku. Mereka semua berpakaian jilbab putih-putih dan kebaya bagi yang akhwat dan sorban atau peci putih bagi yang ikhwan.

Aku berjalan menembus milyaran manusia itu dan sampai di sebuah masjid. Aku masuk ke dalamnya, dan di sana terlihat pula jutaan manusia. Ketika aku hendak berkumpul dengan orang-orang itu ada seorang nenek-nenek yang memanggil ke depan dan meminta aku membaca Yasin, tetapi aku tolak karena aku tidak dapat membacanya. Alhasil, aku dikurung di suatu tempat di dalam masjid itu. Tidak begitu lama, aku dikeluarkan dari tempat itu dan diminta untuk membaca Yasin sekali lagi. Aku menolaknya kembali. Setelah itu, nenek tersebut tertawa dan mengatakan “Sejak kamu dilahirkan di atas dunia ini, kamu telah ditidurkan di atas sajadah” seketika itu aku bangun dan langsung pergi ke musholla SMU-ku dan berwudhu sekedarnya dan memohon kepada Allah, jikalau memang ini yang Allah inginkan maka aku memohonkan agar Dia mudahkan jalanku untuk memeluk Islam. Alhasil, beberapa hari setelah itu, tepatnya 28 Ramadhan 1420 H, di Masjid Lautze, pasar baru Jakarta, aku ber-Islam. [MQMedia.com]

52. KDNY : “Carissa Margaret”

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Diiringi linangan airmata, Carissa meminta semua mendoakannya agar dikuatkan menjalani Islam. Alhamdulillah, seminggu sebelum memasuki bulan Ramadhan, Carissa mengucapkan kalimat “syahadat”

Sabtu lalu wanita baya ini dengan resmi dan pasti menerima Islam sebagai jalan hidupnya. Diapun rupanya diam-diam telah mempersiapkan nama baru yang singkat “Nur” (cahaya) dengan harapan semoga dengan Islam hidupnya akan semakin bersinar. Nur adalah asli wanita Amerika putih. Setiap minggu sejak sekitar 4 bulan lalu tanpa mengenal lelah, baik di saat hujan ataupun panas, wanita cacat itu selalu datang tepat waktu di Islamic Forum for non Muslims dengan kendaraan orang cacat (Wheel chair). Walaupun Carissa adalah wanita cacat (lumpuh) namun penampilannya melebihi sebagian wanita karena memang dia adalah wanita yang berkecukupan.

Sejak memulai belajar islam di Islamic Forum, dia sudah memakai pakaian Muslimah, bahkan memakainya setiap kali keluar dari rumahnya. Justru suatu ketika dia pernah berkata: “Saya merasa lebih terlindungi dengan jilbab dan pakaian saya ini”.

Selain itu, bagi Carissa, belajar Islam bukan sekedar untuk tahu. Dia belajar dan sekaligus mempraktekkannya. Seringkali sampai kepada hal-hal yang kecilpun dipertanyakan, misalnya bagaimana kalau dia mengambil wudhu dan susah mencuci kaki karena keadaannya. Atau suatu ketika mempertanyakan bagaimana kalau naik ke bus dengan kereta orang cacat dan disentuh oleh sopir bus pria (di saat dibantu menaiki bus), dll.

Bahkan sejak belajar Islam, segala hal-hal yang menjadi praktek kaum Muslimin menjadi perhatiannya, seperti makanan, minuman, pakaian, dll. Ternyata belakangan saya tahu kalau Carissa belum melakukan “syahadat” karena khawatir setelah shahadah dia gagal melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan. Dia bahkan pernah berkata: “I really believe strongly that this is the truth, but worried not to be able to carry out what Allah wants me to do”.

Sejak belajar Islam Carissa juga telah memperlihatkan “trust” (kepercayaan) yang tinggi kepada saya, sehingga terkadang hal-hal yang pribadi juga dikonsultasikan. Suatu ketika ada seorang lelaki mendekatinya. Semua hal ditanyakan, misalnya bolehkan saya bicara lewat telpon, bolehkan saya ketawa jika berbicara dengan pria tersebut, dll. Bahkan, walaupun belum mendeklarasikan imannya, dia sudah bertekad untuk tidak akan menikah kecuali jika orang tersebut benar-benar punya komitmen dengan Islam.

Carissa juga memiliki keingin tahuan yang sangat tinggi. Terkadang karena dia mendominasi kelas dalam melakukan pertanyaan, saya bercanda: “Kamu saja mewakili yang lain bertanya”. Memang sebagian besar peserta forum, khususnya yang pendatang baru masih ragu-ragu bertanya. Boleh karena memang masih malu, boleh juga karena khawatir menanyakan sesuatu yang dianggap sensitive dan menyinggung. Padahal, seringkali setiap memulai kelas itu, khususnya jika ada pendatang baru saya menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada yang perlu disakralkan untuk ditanyakan.

 

Pengaruh Huda

Carissa sangat mengagumi salah seorang peserta Islamic forum yang juga baru masuk Islam. Dia adalah Huda (Saya tulis di media ini sebelumnya berjudul “I am a second wife” ). Hudalah yang ternyata diam-diam selama ini selalu melakukan da’wah infiradi (da’wah secara individu) kepada Carissa, sehingga dia seolah menjadi mentor pribadinya.

Maka setiap kali Huda absen dari kelas, sudah pasti Carissa meminta agar ceramah yang disampaikan bisa dirangkum dalam tulisan untuk dia sampaikan ke Huda. Tidak jarang juga dia singgah di tokoh buku Islamic Center untuk membelikan buku yang dia tahu disenangi oleh Huda. Seringkali pula ketika Carissa menyampaikan pertanyaan yang mungkin dianggap kurang sesuai oleh Huda, biasanya Huda memberikan tanda untuk menghentikan pertanyaan tersebut.

Huda pulalah rupanya yang meyakinkan Huda bahwa setelah belajar Islam dan yakin bahwa inilah jalan benar, jangan lagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Huda menasehatkan Carissa untuk mendeklarasikan iman (syahadat) sebelum Ramadhan. Alhamdulillah, seminggu sebelum memasuki bulan Ramadhan Carissa mengucapkan “syahadat”. Diiringi linangan airmata, Carissa meminta kepada semua yang menyaksikan untuk mendoakannya agar dikuatkan menjalan Islam setelah resmi masuk ke dalamnya.

Sabtu lalu, hari pertama puasa, Carissa datang lebih awal dari waktu biasanya. Rupanya dia datang membawa setumpuk pertanyaan, mulai dari masalah-masalah puasa, sahur, dll. Carissa juga menceritakan bagaimana dia berusaha melaksanakan shalat secara benar. Dia meletakkan buku penuntun shalat di depan kursi rodanya dan membacanya. Dia juga meminta saya untuk merekam bacaan-bacaan shalat sehingga memudahkan bagi dia menghafalnya.

 

53. Rendra Penderma Pikiran yang Pernah Kesepian

 

‘Si Burung Merak’ tak lagi muda. Rezim telah berganti-ganti, namun orang masih melihat Rendra sebagai sosok dengan karakter yang sama: Rendra tahun 1960-an, penyair terbaik Indonesia itu.

Pengakuan terhadap Rendra sebagai pribadi yang berkarakter kuat masih begitu mengakar. Setidaknya dibuktikan dua bulan lalu, ketika Mas Willy –begitu Rendra akrab disapa– dianugerahi Ahmad Bakrie Award 2006 untuk bidang sastra. Empat dasawarsa sudah, namun sajak Rendra masih saja dianggap fenomenal. Panitia Ahmad Bakrie Award menilai puisi-puisi naratif Rendra sebagai anomali di tengah dominasi sajak lirisme kala itu dan membuka kesadaran kolektif masyarakat.

Di usia yang ke-71, vitalitas Willibrordus Surendra Broto Rendra –nama lama Rendra– sebagai penyair dan dramawan belum kendor. ”Jadi penyair itu enggak ada pensiunnya. Kita tetap berkarya selama ada inspirasi,” kata Rendra yang berencana mementaskan kembali ‘Oemar Bakrie’ bersama Bengkel Teater-nya. Menjadi penyair, bagi Rendra, adalah jalan hidup, bukan tugas dari jawatan, tugas dari yayasan, tugas dari organisasi.

Kepada wartawan Republika, Iman Yuniarto F, Rendra berbicara banyak hal seputar perjalanan hidupnya. Wawancara dilakukan lepas tengah malam hingga menjelang sahur di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Kamis (19/10) lalu.

Saat menerima Ahmad Bakrie Award, Mas willy juga menyinggung soal kasus lumpur PT Lapindo, perusahaan milik keluarga Bakrie.

Memang itu terjadi kok. Masak saya pura-pura tidak tahu. Enggak bisa dong. Penyair itu intelektual. Ia tidak boleh melakukan kebohongan pemikiran, kebohongan kesadaran. Saya bukan teknokrat. Kalau teknokrat mungkin boleh berbohong. Sayang, sekarang banyak akademisi menjadi teknokrat.

Kok ada perbedaan antara pidato di buklet dengan pidato sambutan saat menerima Ahmad Bakrie Award?

Pidato yang di buklet memang cuma untuk buklet. Tetapi, saya juga diminta untuk membuat pidato sambutan yang berbeda.

Penghargaan itu diberikan karena puisi-puisi Mas willy dinilai lebih naratif, melawan arus puisi Indonesia yang dikuasai lirisme.

Alhamdulillah, ada yang menilai seperti itu. Ini adalah salah satu dari banyak penilaian. Yang menilai lebih kritis dari itu harus saya hargai juga. Ya terima kasih kepada para juri yang telah menilai sajak-sajak saya penuh dengan kedermawanan pikiran.

 

Bagaimana panitia memberitahu bahwa Mas Willy akan memperoleh penghargaan?

Saya ditelepon. Lalu saya bilang, ”Oh, ya, terima kasih.” Karena waktu penyerahan masih lama, mereka meminta saya bikin pidato sambutan. Isinya soal proses kreatif saya. Tapi Arief Budiman (sosiolog, juga penerima Ahmad Bakrie Award) tidak membuat pidato sambutan ya. Saya juga kaget kok Arief tak nulis pidato sambutan.

Apa yang Anda alami ketika diberitahu mengenai hal itu?

Saya sedang sibuk sekali saat itu. Kebetulan ada syuting di Bandung. Saya bilang terima kasih. Tapi, saya kurang mendalami kenapa (memperoleh hadiah). Hingga kemudian mereka datang ke Bandung. ”Oh, iya, iya,” jawab saya. Saya ternyata lupa kalau saya dapat penghargaan. ”Jangan lupa loh, Mas,” kata panita mengingatkan saya untuk membuat naskah pidato.

Ketika memberi sambutan, Mas Willy menggunakan kata ‘pasti’ bahwa keluarga Bakrie akan mengerahkan segenap upayanya mengatasi lumpur Lapindo.

Saat ini orang berspekulasi. Saya pilih spekulasi yang paling baik mengingat mereka itu adalah keturunan almarhum Ahmad bakrie. Ahmad Bakrie itu bukan orang sembarangan. Orangnya amat saleh dan berdisiplin tinggi. Dia itu suksesnya sukses tekun. Tidak pakai permainan yang aneh-aneh.

Apakah itu diungkapkan sebagai sindiran?

Saya tidak ada hasrat untuk menyindir. Anaknya Ahmad Bakrie masak enggak kayak bapaknya. Apalagi ibunya masih ada. Ibunya pasti tak akan memberi nasihat-nasihat yang jelek. Nama hadiah ini juga kan hadiah Ahmad Bakrie.

Puisi Anda dinilai membuka kesadaran kolektif. Sebagai penyair, apa memang ingin membangun kesadaran kolektif bangsa?

Ya..ya.. menjaga standar akal sehat kolektif.

Bagaimana proses untuk mencapai kesadaran itu?

Kita harus manjing ing kahanan, masuk ke dalam konteks realitas, lalu meraih kehendak-Nya. Bagaimana mungkin saya akan meremehkan standar akal sehat kolektif. Sebab, kalau diingkari, itu bisa merusak kemanusiaan. Manusia kan punya akal sehat. Jangan sampai seperti zaman Nazi. Banyak orang pintar, tetapi akal sehat kolektifnya rendah sekali.

Meraih kehendak Allah ya. Bagaimana cara meraihnya dalam kehidupan sosial-politik kita?

Kita punya pegangan kitab suci. Tapi kalau secara umum, kita bisa berorientasi terhadap standar moral universal atau standar moral internasional. Ada pengajaran mana yang baik buruk, benar salah, adil tak adil di situ.

Sebagai penyair, bagaimana memainkan peran untuk meraih kehendak Allah itu?

Penyair adalah jalan hidup. Baik sedang berkarya atau tidak. Seorang penyair masuk dalam konteks realitas karena kepedulian akan panggilan kharismatik dari alam sekitarnya, dari debu, kerikil, lava, angin, pohon, kupu-kupu, margasatwa. Dari yatim piatu, orang-orang papa, lingkungan kampung halamannya, lingkungan bangsanya, lingkungan kemanusiaannya. Ia harus selalu peduli. Tetapi tidak cukup cuma peduli, karena harus dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah. Kita buat, misalnya, sajak mengenai pelacur, mengenai singkong, atau mengenai perahu. Itu juga religius selama dikaitkan dengan meraih kehendak Allah.

Tentang proses memperoleh inspirasi berkarya. Apakah ada treatment khusus agar tetap terjaga?

Wah, itu misteri. Iya loh. Sebetulnya dalam hidup itu, waktu untuk menulis cuma 2-3 persen. Beberapa jam selesai. Selebihnya menyiapkan diri untuk hidup secara kreatif, menjaga daya cipta dan daya hidup. Pada saatnya harus menulis ya kita siap.

Sedikit bernostalgia. Tahun 1995 ketika akan membacakan puisi di acara yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Mas Willy dilarang aparat. Lalu Mas Willy melakukan yoga di detik-detik yang kritis…

Jika perasaan sudah mulai dominan, tidak boleh saya melakukan sesuatu. Kesadaran kita harus harmonis. Seimbang berdampingan dengan kesadaran rohani, naluri, dan hati nurani. Melalui yoga, kita keluar dari kebudayaan, masuk ke dalam kesadaran alam. Ini meditasi orang Jawa, diajarkan saat saya umur empat tahun oleh ibu pengasuh saya. Sehingga saat marah kita sudah ditemani kesadaran pikiran dan kesadaran hati nurani. Tidak perasaan mentah.

Waktu itu, ketua panitia –perempuan– menangis membujuk Mas Willy tampil di panggung mengumumkan bahwa tak bisa baca puisi karena dilarang aparat. Lalu Mas Willy bilang, ”Jangan menangis, sebab tak ada seorang pun ibu yang rela anaknya menangis.” Apa makna seorang ibu bagi Anda?

Jangan lupa, habitat pertama setiap manusia adalah kandungan. Lalu lingkungan dunianya. Ini kamarku, ini desaku, ini kampungku, ini negaraku. Sembilan bulan kita disadarkan bahwa habitat kita yang pertama adalah rahim ibu.

Betapa tanpa ibu kita tiada. Ibu yang mengandung lalu bertanggung jawab pula kepada kita. Kalau dengan bapak, hubungannya cuma sayang dalam hati atau pikiran saja. Tetapi dengan ibu, ada hubungan secara badani. Ada hubungan somatik. Seorang ibu kalau kangen sama kita tidak cuma kangen pikiran, tetapi juga kangen secara badani. Pada anak yang disusuinya.

 

Saat berjuang melawan Orde Baru, apa pernah menangis?

Tidak. Menghadapi kekuasaan politik saya tidak pernah menangis. (Rendra sempat dijebloskan ke penjara pada 1978, selain mendapat represi pelarangan tampil di berbagai tempat). Saya menangis untuk masalah-masalah lain. Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan Asmaul Husna.

 

Kebun ini sudah bisa menyokong ekonomi bengkel?

Dalam pengertian memperoleh untung, belum bisa. Tapi cukuplah untuk lauk-pauk, meski belum bisa mengatasi ongkos listrik dan telepon. Mungkin bisa satu atau dua tahun mendatang, kalau diproses secara alami. Tanah ini dijual kepada saya murah sekali karena sudah rusak. Tanahnya retak-retak, mungkin kebanyakan dipupuk urea. Tapi, coba-coba saya perbaiki. Saya tanami kacang, padi, ketela rambat yang berarti memupuk tanah. Saya ingin menata kembali kebun. Kebetulan ada bantuan bibit-bibit dari Sulawesi Selatan.

 

Mas Willy juga mengajak anak-anak permukiman kumuh kemari?

Ya. Tapi, nanti ada program baru. Selain RS TBC, kita akan menggabungnya dengan taman kanak-kanak. Saya juga pengen bantu anak-anak kecil sekolah. Berobat TBC di sini gratis, termasuk dengan TK-nya.

 

Anda selama ini sibuk. Bagaimana menjaga kesehatan?

Meditasi, olahraga ringan, termasuk berzikir. Berzikir itu bisa menyembuhkan. Saya dapat pengetahuan di Belanda. Ini yang mengajarkan bukan orang Islam. Zikir ternyata bagus untuk menyembuhkan sakit pada hipotalamus (otak tengah). Repetisi (membaca berulang-ulang) itu baik untuk otak tengah. Saya zikir kapan saja. Kalau ke Jakarta sewaktu jalan macet, saya bawa tasbih. Waktu sangat melimpah. Tapi, saya enggak mau zikir kelihatan di muka umum.

 

Memasuki usia uzur ini Mas Willy lebih memperdalam agama Islam ya?

Itu bukan pilihan sekarang saja, tetapi dari dulu. Tidak ada hubungannya dengan usia. Saya harus mendalami agama saya. Saya harus mendalami keadaan masyarakat saya, keadaan bangsa saya, dan kemanusiaan. Lalu mengapa saya tidak mendalami hal-hal yang menyangkut iman saya?

 

Apa obsesi yang belum terwujud?

(Terdiam sebentar). Saya ingin hidup dengan baik. Menghindari larangan Allah itu gampang, bisa diniatkan. Tapi melakukan anjuran Allah itu sulit. Contoh kecilnya jangan berprasangka. Meski begitu, kita tidak boleh putus asa. Allah menganjurkan kita untuk terus melakukan perbaikan. Terus berpikir. Sebab Allah tidak akan ngomong sama saya, ”Rendra kamu harus begini, tidak boleh begitu.” Tidak. Kita harus berpikir. Untuk selamanya kita harus meraba-raba.

Dulu waktu kelas 2 SMA, saya kecewa tidak masuk Bagian B. Cita-cita saya masuk akademi militer tidak mungkin terlaksana. Saya lantas kehilangan cita-cita. Dulu memang saya pengen jadi tentara. Kayak kakek saya panglima zaman dulu. Ya, daripada berkelahi tak menentu lebih baik masuk militer.

Lantas saya pergi ke satu bukit di selatan Klaten. Saya puasa mulai jam 12 malam sampai jam 12 malam. Makan cuma tujuh kepal nasi. Saat itu saya belum Islam. Saya berdoa, ”Ya Tuhan tunjukkan apa yang Kau kehendaki terhadap saya. Apa saja. Suruh jadi tukang kayu atau apalah.” Tapi kok sampai detik terakhir, saya enggak dapat mimpi. Saya tutup mata, lalu mencari tanda-tanda di bintang. Ternyata tidak ada jawaban apa-apa. Saya marah. Barangkali Tuhan enggak ada. Setan? Hantu? Juga enggak ada. Sebuah kesepian yang mutlak. Sampai akhirnya ketemu seorang tukang arang. Dia bilang Tuhan itu tak pernah berbicara kepada orang.

 

Apa yang membuat Mas Willy tertarik Islam, lantas memeluknya?

Kalau tertarik dengan Islam saya tahu sebabnya. Tetapi kalau memeluk Islam, saya sendiri enggak ngerti. Saya sebetulnya takut sekali terhadap masyarakat Islam. Tapi saya sudah lama tertarik kepada Alquran. Lihat saja. Apa ada kitab suci yang menjelaskan konsep ketuhanannya dalam kalimat yang singkat seperti Alquran? (Rendra lalu membacakan surat Al-Ikhlas).

Kapan mulai tertarik Alquran?

Sewaktu saya di Amerika Serikat (kuliah teater). Coba simak surah Al-Ashr. Sebagai orang modern, saat itu sedang populer-populernya filsafat eksistensialisme, lalu ada kalimat seperti ini: Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Enggak ada loh kitab suci yang mengatakan bahwa kamu akan selalu merugi dalam perkara waktu. Lihat. Apa pun bisa kita budayakan, termasuk ruang. Tetapi kita tidak bisa membudayakan waktu. Apa bisa kita menghentikan hari? Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak bisa kita membuat hari Rabu tidak menjadi Kamis. Termasuk, saya tidak bisa menolak kelahiran saya. Saya tidak bisa memilih untuk lahir pada abad ke-22 atau lahir zaman majapahit. Menurut Alquran, kita akan selalu merugi soal waktu. Tapi, Alquran juga menyodorkan solusi. Disebutkan hanya orang-orang tertentu yang akan selamat. Yakni yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kesabaran dan kebenaran. Alquran tidak menyebut yang selamat adalah orang yang Islam, orang yang kaya, orang yang pintar atau orang yang sehat.

Hubungannya dengan puisi-puisi Anda?

Intinya kita berwasiat dalam kebenaran. Mudahan-mudahan. (RioL)

54. Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal

 

Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai “dedengkot” Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak–perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.

 

Pergi Haji

Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.

Lirih, saya memohon. “Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah.” Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, “Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!” Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi. (Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

 

Tujuh Dasawarsa Sang Burung Merak

Jakarta – Senin (28/11) semua kursi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, penuh terisi. Meski panggung hanya didominasi satu warna, hitam, gairah pengunjung tetap terasa. Ya, malam itu merupakan malam penghormatan bagi sang pemilik usia, sastrawan besar Indonesia, Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Rendra, yang telah menginjak usia ke-70.

Tujuh puluh tahun memang bukanlah sebuah rentang usia yang pendek. Apalagi bila sang pemilik usia adalah orang besar seperti Rendra yang mengisi hidupnya untuk mewarnai kehidupan banyak orang.

Tak ada kue ulang tahun mewah, apalagi pesta yang ingar-bingar malam itu. Namun, orang-orang yang pernah disentuh hidupnya oleh pemimpin Bengkel Teater ini berusaha merangkai acara istimewa bagi budayawan kelahiran 7 November 1935 yang kerap dijuluki si Burung Merak tersebut.

Tak pelak, pembacaan karya-karya monumental sang maestro menjadi sebuah hidangan nikmat bagi para pengagum, sahabat, dan keluarga dekatnya. Karya-karya yang dipilih merupakan cermin pemikiran kritis serta pergolakan panjang batin Rendra selama 50 tahun lebih perjalanan kesastraannya. Dipandu oleh aktor kawakan yang juga jebolan Bengkel teater, Adi Kurdi, acara dibuka dengan pembacaan puisi Nyanyian Orang Urakan yang dibawakan oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta, Ratna Sarumpaet.

Kemudian sebuah cerita pendek Gaya Herjan karya Rendra ditampilkan oleh aktor dan penyair Jose Risal Manua. Dengan gayanya yang khas, Jose mampu menampilkan kepekaan Rendra terhadap kehidupan manusia sehari-hari seperti yang ia tunjukkan pada cerpen tersebut.

Sementara itu, kegelisahan Rendra pada kehidupan politik rezim Orde Baru yang ia tuangkan dalam Panembahan Roso ditampilkan secara apik oleh Butet Kertaradjasa. Ia membawakan monolog dari sekelumit bagian karya tersebut. Monolog yang ia bawakan tak berdiri sendiri, tapi bersanding dengan pembacaan dramatic reading oleh Amak Baldjun, Syu’bah Asa, Chaerul Umam, dan Jose Rizal Manua, para alumni Bengkel teater.

Esai bertajuk Keseimbangan yang dibawakan Adi Kurdi dan sebuah cerpen yang dibuat pada 1956 berjudul Ia Punya Leher yang Indah dibacakan oleh pemimpin Teater Koma, N. Riantiarno, pun mengakhiri keseluruhan acara malam itu. Namun, interpretasi baru Putu Wijaya pada cerpen lama Rendra, Wascha Ah Wascha, menjadi puncak acara malam itu. Gelak tawa pengunjung tak henti-hentinya mewarnai pembacaan Putu yang nyleneh. Selamat ulang tahun, Mas Willi. (Koran tempo / Sita)

Rendra dimata N. Riantiarno (Pendiri Teater Koma) : Rendra, Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang.

Pertama kali saya bertemu langsung dengan W.S. Rendra pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan membawa oleh-oleh yang bagi aktivis teater Indonesia boleh dibilang asing. Geger tentu saja. Goenawan Mohamad menyebutnya teater minikata. Itulah latihan-latihan dasar teater yang memang minim kata, nyaris hanya terdiri atas gerak dan bunyi.

Waktu itu saya mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dan anggota Teater Populer. Teguh Karya, guru kami, ikut pentas teater minikata. Belakangan, Rendra mengakui, Teguh Karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya sehingga dia semakin bergiat dalam dunia teater.

Pentas teater minikata digelar di Jakarta pada April 1968. Nomor-nomor yang disajikan, Bip Bop, Piip, Di Manakah Kau Saudaraku, Rambate-Rate-Rata, dan Vignet Katakana, sangat memukau. Rendra menjadi bintang yang menawan. Begitu juga Putu Wijaya, Chaerul Umam, Amak Baldjun, dan Syubah Asa.

Beberapa hari kemudian, Rendra berkenan mengunjungi Teater Populer. Grup kami sering dicap sebagai teater borjuis, mungkin karena kami berlatih di Hotel Indonesia. Padahal kami sama miskin dengan seniman-seniman teater lain. Makan siang terpaksa bantingan. Dan jatah kami hanya sebuah bacang ketan isi daging sapi. Minumnya air putih, langsung dari keran wastafel hotel.

Dalam pertemuan pada 1968 itu, Rendra mengajak kami melatih gerak kalbu atau gerak indah. Intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak karena dorongan jiwa. Gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa juga oleh suara jiwa kita sendiri. Sama sekali tak ada pola gerak. Seluruh gerak terjadi secara spontan. Tapi konsentrasi harus penuh dan hati jujur. Itulah metode latihan tubuh dan jiwa yang ternyata sangat efektif bagi aktor.

Setelah pementasan Bip Bop, Rendra pulang ke Yogyakarta dan berkiprah bersama Bengkel Teater. Tapi teaternya kemudian dicap oleh penguasa, yang mulai cemas, sebagai kegiatan berbobot politik dan membahayakan stabilitas nasional.

Sebelum ke Amerika Serikat, pada 1963, Rendra berhasil mementaskan karya Eugene Ionesco, The Chair, yang dia sadur menjadi Kereta Kencana. Dia juga menggelar Odiphus karya Sophocles. Yang menarik, setelah Bip Bop, Rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. Dia menggelar Isteri Yahudi, Informan, dan Mencari Keadilan, terjemahan karya Bertolt Brecht. Dan dia menggelar sandiwara yang sarat teks pula, antara lain pentas ulang Oidipus, Hamlet karya Shakespeare dan Menunggu Godot karya Samuel Becket.

Bentuk pementasan Bengkel Teater baru mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah Barzanzi, Macbeth, Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama pergelarannya. Dan kekentalan “warna lokal” semakin memancarkan daya tariknya ketika Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan Kasidah Barzanzi dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.

Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat, ketoprak, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja Rendra menjadi ikon. Living-legend dan trendsetter yang berhasil memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra, teater menjadi lebih prestisius, “berharga”, dan milik masyarakat luas. Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik dan penting. Dan kepada Rendra, saya berguru.

Dalam penulisan, saya berguru kepada Asrul Sani, Arifin C. Noer, dan Goenawan Mohamad. Guru teater saya adalah Teguh Karya dan Rendra. Memang saya belajar langsung kepada Teguh Karya, yang mengajari cara mempertahankan daya kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif. Saya memetik dasar pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. Tapi cara bagaimana membangkitkan daya hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam pemerintahan yang otoriter, secara tak langsung, saya banyak menyerap dari Rendra.

Pelarangan pentas Teater Koma Suksesi dan Opera Kecoa, juga pelarangan pentas puisi Rendra, mendorong para seniman pergi ke DPR RI untuk memprotes pada 1991. Dalam hearing di ruang sidang pleno DPR RI, para seniman bergiliran bicara. Dan Rendra membaca puisi dengan sangat-sangat bagus. Indah. Memukau. Itulah pembacaan puisi terbagus yang pernah saya saksikan.

Rendra kini 70 tahun (lahir di Solo, 7 November 1935). Berbagai tindakan bermakna dan inspiratif telah dia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan pula. Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang.

Rendra, seniman besar. Milik Indonesia. Permata mulia. Pikiran-pikirannya tajam. Dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa jengah, tanpa rasa takut. Dengan sikap seperti itu pula dia dicekal dan dipenjara. Tapi dia tak pernah jera. Rendra adalah empu yang mumpuni. Hingga kini dia terus memberi kontribusi atas berbagai pikiran yang bernas. Kita seharusnya bersyukur memiliki dia. (Koran Tempo).

 

Data Diri          :

 

Nama              : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA

Lahir                : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935

Agama             : Islam

Pendidikan      :

-SMA St. Josef, Solo

-Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada

-American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967)

Karir                :

-Pendiri/Pemimpin dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel Teater, Yogya (1967 — sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia menghasilkan antara lain: -Sekda

-Perjuangan Suku Naga (drama)

-Ballada orang-orang tercinta (1957)

-Blues untuk Bonnie (1970)

-Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi)

-Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979

-State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop

-Oedipus Rex

-Khasidah Barzanji

-Perang Troya tidak akan Meletus

Kegiatan Lain  :

-Pemain Film. Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)

-Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969)

-Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Alamat Rumah            :

Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor

 

55. Nur Setia Ningrum Perjalanan Panjang Menuju Hidayah

 

Dari lahir hingga dewasa, Nur Setia Ningrum menganut agama Kristen Katholik. Nama depan sebagai tambahan saat dibaptis juga tersandang di depan namanya, yaitu Maria Margareta Nur Setia Ningrum. Namun diusianya yang ke-25 hidayah Allah datang, hingga ia mengambil keputusan untuk masuk ke dalam agama Islam. Berikut sekilas kisah kehidupan dan keislaman Mbak Nur Setia Ningrum.

Nur Setia Ningrum lahir pada 26 Juni 1975 dari pasangan almarhum Bapak Suradhi dan Ibu Emiliana Suwarni. Bapak Suradhi penganut Islam sedang Ibu Suwarni penganut Katholik. Pada mulanya Ibu Suwarni menganut agama Islam, kedua orang tuanya Islam dan seluruh saudaranya juga Islam, namun karena saat SMP bersekolah di Saverius, akhirnya ia berpindah agama menjadi Katholik.

Saat melangsungkan pernikahan dengan Almarhum Bapak Suradhi dengan tata cara Islam, namun tak lama kemudian Ibu Suwarni tetap menganut Katholik hingga kini. Dari perkawinan di atas dikaruniai 3 orang anak yang ketiganya menganut Katholik. Namun Alhamdulillah kini Mbak Nur telah menjadi muslimah.

Sejak lahir hingga menamatkan pendidikan di SMEA, Nur termasuk penganut Katholik yang taat. Ia juga sempat mengikuti krisma, sejenis “pendidikan” untuk menguatkan keimanannya dalam Katholik.

Selepas dari SMEA, dalam usia 19 tahun ia memberanikan diri untuk merantau ke Batam. Di sana ia bekerja di sebuah perusahaan elektronik yang menyediakan asrama bagi para pegawainya. Dan dari asrama inilah Nur mengenal dan pertama kali tertarik dengan Islam.

Para teman asrama yang beragama Islam sering mengadakan acara pengajian, ia tak berani untuk hadir, namun sering membantu mengurus konsumsi pengajian. Dan saat sibuk menyiapkan minuman dan hidangan itulah ia mengenal tentang Islam.

Setelah sekitar dua tahun di Batam, pada bulan September 1996 ia mendapat kabar bahwa ayah tercinta (yang menganut agama Islam) telah tiada. Kabar tersebut sangat membuatnya sedih. Sebagai anak wanita satu-satunya dan sekaligus anak tertua, ia sempat shock dengan cobaan tersebut.

Di saat sedang dirundung kesedihan, pada suatu hari sepulang dari kerja ia melihat banyak orang sedang berkumpul hingga memacetkan jalan. Dengan penasaran ia mencoba mendekati, untuk mengetahui penyebabnya. Ternyata saat itu dai kondang Zainuddin MZ sedang menyampaikan ceramah di sebuah masjid, dan hadirin yang mengikuti meluber hingga memacetkan jalan.

Saat mendekati lokasi, secara kebetulan Mbak Nur mendengar apa yang disampaikan oleh Zainudin tersebut. Dan kata-kata yang sangat menusuk hati hingga selalu diingatnya adalah, “Orang tua yang sudah meninggal bisa saja masuk ke dalam surga bila di doakan oleh anaknya yang sholeh. Anak yang sholeh adalah anak yang menganut agama Islam, taat, menjalankan sholat dengan baik …… bukan hanya sekedar Islam KTP”.

Saat itu juga hidayah Allah masuk ke dalam lubuk hatinya, ia merasa bahwa jika ingin ayahnya masuk surga, maka ia harus menjadi anak yang sholehah yang selalu mendoakan ayahnya. Sebelum itu ia jarang berdoa dan kalaupun berdoa, ia merasa doanya tak dikabulkan Tuhan.

Ia sangat tertarik untuk masuk Islam, namun ia kebingungan bagaimana caranya dan kepada siapa ia akan bertanya? Saat dia mengutarakan keniatannya untuk masuk Islam kepada teman seasrama, mereka malah membuatnya takut. “Islam itu berat, kamu sudah siap belum”. “Masuknya mudah, tetapi kamu harus menjalankan kewajiban-kewajiban, bukan hanya masuk Islam …….” Dan kata-kata sejenis yang membuatnya berkesimpulan, bahwa ia belum siap untuk memeluk agama Islam.

Sebenarnya keniatan yang ada di hatinya telah mantap, namun karena ucapan teman ia justru merasa belum siap. Padahal ia pernah bermimpi selama 3 malam berturut-turut. Di dalam mimpinya ia akan pergi ke gereja, namun sampainya justru ke masjid. Mulai saat itu ia juga merasa sangat syahdu apabila mendengar lantunan qashidah, bahkan sering sampai bulu romanya berdiri.

Pada awal tahun 2000, setelah enam tahun bekerja di Batam, Mbak Nur kembali ke Sragen. Saat di Sragen inilah ia merasa mendapatkan kejelasan dari apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Berkat bimbingan Ustad Naim Mustafa, yang masih pamannya sendiri, akhirnya ia mengetahui dan merasa siap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Akhirnya pada bulan Pebruari 2001, bertepatan dengan diadakannya acara selapanan di desa Siwalan, Mbak Nur mengikrarkan keislamannya di hadapan Al-Habib Syekh Asseqaf, Ustad Naim Mustafa, Ustad Thoyib dan para hadirin yang mengikuti acara selapanan.

Sebulan setelah memeluk Islam, Alhamdulillah Mbak Nur mendapatkan jodoh dan melangsungkan pernikahan, tepatnya pada tanggal 10 Maret 2001. Bapak Suparto, suami Mbak Nur termasuk jamaah Fosmil yang berprofesi sebagai petani melon.

Dari perkawinan pasangan di atas, kini mereka telah dikaruniai seorang putri yang bernama Falia Fitriyatin Nisa’ yang telah berumur 8 bulan. Semoga perkawinan dan keluarga mereka serta keluarga kita semuanya diberkahi oleh Allah SWT.

“Setelah masuk Islam saya merasa tentram dan bisa mendoakan ayah saya’, ucap Mbak Nur. Semoga ketentraman dan keislaman menyertai kita semua hingga akhir hayat. Dan khusus bagi ayah Mbak Nur, semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa dan kesalahannya, melapangkan kuburnya, melipatgandakan pahalanya dan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab tanpa azab, amiiin.

56. Kathy, Wanita Amerika Yang Dapat Hidayah Melalui al-Qur’an Terjemahan!!

 

Setelah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah Amerika, saya bekerja sebagai direktur salah satu sekolh-sekolah Islam yang ada di distrik Washington. Di sana, ada pemandangan yang menggugahku, yaitu prilaku seorang wanita asal Amerika yang bekerja sebagai sekretaris. Ia merupakan contoh wanita yang pemalu, anggun dan bersungguh-sungguh bagi wanita-wanita Muslimah. Lalu saya ceritakan hal itu kepada isteri saya sembari memperbandingkan prilakunya dnegan kebanyakan wanita yang dilahirkan sebagai Muslimah tetapi tidak komitmen terhadap hijab dan etika Islami dalam berinteraksi dengan laki-laki asing

Ketika saya tanyakan kepada isteri saya, ia menceritakan kepada saya kisah keislaman si wanita Amerika yang sungguh aneh. Berikut penuturan wanita Amerika itu seperti yang diceritakannya kepada isteri saya. Ketika masih belajar di SD, ibuku sering menemani ke perpustakaan umum terdekat. Dan, sudah menjadi tradisi perpustakaan-perpustakaan umum, bahwa ketika terdapat beberapa set buku yang sama, maka minat terhadapnya berkurang.

Atau kalau ada beberapa set buku yang rusak, maka ia tidak dibuang begitu saja tetapi dijual dengan harga obral yang sangat murah. Suatu kali, ketika perpustakaan menawarkan buku-buku seperti ini, aku membeli salah satunya dengan harga 5 atau 10 Cent yang aku ambil dari kocek khususku. Ini aku lakukan karena rasa ingin memiliki buku dan mendapatkan sesuatu yang spesial. Ketika itu, aku belum tahu apa isinya. Aku hanya meletakkannya di perpustakaan khususku di kamar kemudian dimasukkan ke dalam salah satu kardus dengan buku lainnya yang sudah jelek dan terlupakan. Hari demi hari pun berlalu dan tak terasa aku sudah menamatkan SD, SLTP dan SLTA. Aku beruntung karena diterima kuiah di salah satu fakultas. Dan, adalah sebuah hikmah dan rahasia dari Allah bahwa aku memasuki fakultas Sastra dan memilih spesialisasi di bidang ilmu perbandingan agama di mana lebih memfokuskan pada tiga agama besar; Yahudi, Nashrani dan Islam. Manakala di jurusan tersebut tidak terdapat seorang dosen yang beragama Islam, maka yang kentara dibicarakan adalah gambaran Islam yang sudah tercoreng. Karena itu, aku tidak begitu interes dengannya. Selanjutnya, aku tidak menemui kendala apa pun untuk melewati kurikulum-kurikulum studi sehingga berhasil lulus dan memperoleh gelar sarjana.

 

Buku Yang Amat Berkesan!

Setelah lulus kuliah, mulailah tahap mencari pekerjaan. Berhubung spesialisasiku termasuk spesialisasi yang sedikit mendapatkan tawaran kerja, ditambah secara umum memang lowongan kerja juga tidak banyak di kawasan yang aku tinggali, maka dengan cepat aku dicekam rasa kecewa dan bosan dalam mencari lowongan kerja tersebut. Akhirnya, sebagian besar waktu, aku habiskan di rumah alias menjadi pengangguran!! Selanjutnya untuk mengisi kekosongan waktu, aku membongkar dan membuka-buka kembali buku-buku yang dulu pernah aku beli. Saat itulah, aku menemukan buku yang telah aku beli sejak kecil dan nampak sudah tertimbun debu. Karena dibeli sejak masih kecil dari kocek pribadi, tentu ia begitu mengesankan dan istimewa bagiku seakan sekeping peninggalan berharga.

Aku ambil buku itu, lalu aku bersihkan. Selanjutnya, aku mulai membacanya…Ternyata ia adalah kitab al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggeris. Mulailah aku membacanya dengan penuh perasaan dan keseriusan. Aku betul-betul tertarik dengannya. Setelah agak banyak membacanya, rupanya sama sekali berbeda dengan opini dan pendapat yang selama ini aku dapatkan di kampus mengenai Islam. Gambaran Islam di dalamnya juga amat berbeda dari gambaran yang dikatakan para dosen di fakultas mengenai agama ini dan al-Qur’an. Aku mulai bertanya-tanya: sedemikian bodohkah para dosenku di kampus? Ataukah mereka sengaja berbohong ketika menyinggung tentang Islam dan al-Qur’an? Aku terus mengulangi dan membacanya dengan penuh rasa puas dan ingin tahu mengenai apa ajaran dan petunjuk yang dikandungnya. Dan begitu menyudahinya, aku langsung memutuskan; selama Islam itu begini gambarannya, maka aku harus segera memeluknya dan menjadi seorang Muslimah.!

Setelah itu, aku menghubungi salah seorang Muslim dan bertanya kepadanya bagaimana cara masuk Islam. Setelah mendengar penjelasannya, aku kembali tercengang karena demikian gampang dan mudah prosesnya. Alhamdulillah, aku pun masuk Islam dan menikah dengan seorang pemuda Muslim asal Afghanistan.

Sekarang kami sudah menjadi salah satu keluarga di kota ini (Washington-red). Kami memohon kepada Allah agar menerima amal kami dan memantapkan kami dalam dien-Nya… (Alsofwah)

 

57. Enny Beatrice, Hidup Bahagia dalam Hidayah Islam

 

ENNY Beatrice dikenal sebagai pemain film panas pada 1980-an. Namun siapa yang menyangka, Eny kini menjadi istri Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor. Perempuan yang kini berpakaian lebih santun ini pun sibuk dalam organisasi sosial yang beranggotakan istri menteri dan wakil menteri Malaysia.

Walau tak lagi terjun di dunia film, Enny mengaku masih aktif di dunia seni. Datuk pun sangat memahami latar belakang sang istri. “Saya ikut aktif menari,” kata pendukung Perkawinan Nyi Blorong.

Menurut Enny, pertama kali bertemu dengan Datuk pada 1988. Saat itu Datuk yang masih menjadi pengusaha menyumbang dana untuk film laga kerja sama Indonesia-Malaysia yang dibintanginya. Keduanya berkenalan dan saling jatuh cinta. Saat duda beranak empat itu melamarnya pada 1989, Enny pun menerimanya. “Dia sayang pada orang tua saya, hormat kepada bapak ibu saya,” Enny beralasan.

Hubungan Enny dan Datuk juga direstui. Begitu pula saat Enny memutuskan menjadi mualaf, mengikuti agama yang dianut sang suami. Apalagi, ayah Enny seorang haji. Pengorbanan cinta Enny kepada Datuk juga ditunjukkan dengan berpindah warga negara ke Malaysia pada tahun 2003.

Kini, setelah hampir 18 tahun berrumah tangga, Enny dan Datuk memiliki enam anak dengan empat perempuan dan dua laki-laki. Anak terbesar berusia 16 tahun dengan mengambil kuliah kedokteran. Sedangkan anak terkecil berusia 18 bulan. Mereka hidup bahagia. (Dp-041006/SCTV)

58. Ditengah hujatan terhadap Islam, Mr. Toshiro Kobi mendapat hidayah Allah

 

Ditengah hujatan terhadap Islam, Mr. Toshiro Kobi mendapat hidayah Allah SWT, berikut petikannya :

Alhamdulillah, telah kembali kepada islam, Presiden Direktur Pengelola Kawasan MM 2100 Mr. Toshihiro Kobi. Beliau masuk islam dihadapan Ketua MPR DR. Hidayat Nur Wahid, MA., Lc. dan jamaah masjid AHM (Astra Honda Motor) plant-3.

Mr. Toshihiro Kobi ini terhitung baru menjabat sebagai Predir PT. MMID (Pengelola kawasan MM2100 Cibitung) baru kurang lebih 1 tahun, namun beliau sangat lancar berbahasa Indonesia.

Ketertarikan Beliau terhadap Islam juga terbilang baru, menurut cerita dari yang kerja disitu.

Beliau juga yang mendorong dan memberikan dukungan penuh atas pembangunan Masjid Raya Baitul Mushafa ini setelah sempat direncanakan 16 tahun yang lalu namun karena dukungan dari Managementnya kurang maka tertunda.

Syahadat Beliau dilakukan di Masjid PT AHM didepan Pak Hidayat,sebelumnya Pak Hidayat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dan kemudian menjadi Khotib Jum’at di Masjid AHM.

Rencana masuk Islamnya sendiri sebenarnya tidak dijadwalkan saat itu, namun ternyata Pintu Hidayah Allah datang lebih cepat menyelamatkan beliau. Sesaat setelah selesai Sholat Jum’at, melalui seorang Direkturnya yang juga Ketua Panitia Pembangunan Masjid tsb, Beliau meminta untuk segera mengucapkan Syahadat didepan Pak Hidayat.

Subhanallah, Allahuakbar, orang-orang yang hadir begitu kaget karena tentunya masuk Islamnya orang nomor 1 dikawasan dengan 100 lebih perusahaan asing (Jepang terutama) yang berada dikawasan ini tentunya menjadi sebuah nilai kondusif yang baik terhadap perkembangan Islam, ditengah-tengah gencarnya serangan terhadap Islam.

KeIslaman Mr.Toshihiro Kobi ini disambut gembira oleh para Direktur beserta karyawannya serta rekan-rekan Jepangnya yang sebelumnya telah memeluk Islam.

 

59. Mohamad Lorand : Dedikasi Mualaf Bule Rumania untuk Anak Kurang Mampu

 

Mohamad Lorand, pria Rumania mendidik anak-anak kurang mampu di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Ratusan anak dari pelosok Indonesia dibiayai hidupnya dan disekolahkan hingga ke universitas.

Berbuat kebaikan tak mengenal suku atau kewarganegaraan. Inilah yang menjadi falsafah hidup Mohamad Lorand. Lelaki asal Rumania ini sudah 17 tahun mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Lorand bahkan membiayai hidup dan memberi mereka pendidikan gratis hingga ke tingkat universitas.

Lelaki bule ini mengaku tak membayangkan akan beraktivitas sosial di Indonesia.

Mulanya Bang Lorand–demikian ia disapa–datang pada 1974 untuk bekerja di sebuah hotel di Medan, Sumatra Utara. Saat hijrah ke Jakarta, ia kemudian tergugah untuk mendirikan sebuah panti asuhan. Pada 1989, Lorand lantas mendirikan Panti Asuhan Nusantara.

Di panti ini ia mendidik dan merawat ratusan anak hingga mandiri. Anak-anak yang datang dari penjuru Tanah Air diajar dengan penuh disiplin. Bang Lorand juga mendidik anak-anak asuhnya agar mampu membaca Alquran. Membaca Alquran, menurut Bang Lorand, adalah salah satu bekal si anak menjalani hidup selepas dari asuhannya.

Lorand mengaku kesulitan menghidupi anak-anak asuhnya karena banyak pihak yang menitipkan si anak tak memberi bantuan finansial. Untuk mencukupi kebutuhan, ia pun rela berkeliling Ibu Kota untuk mengajar bahasa Inggris. “Kebingungan saya bagaimana menghadapi anak dari hari ke hari,” cerita pria 55 tahun ini.

Sikap disiplin dan penuh kekeluargaan Lorand ternyata membekas di hati anak asuh Lorand. Sang anak selalu teringat untuk dapat berbuat sesuatu bagi panti.

Kini Lorand harus dibantu Monika, keponakannya, untuk mengajar anak-anak asuhnya. Namun Lorand tak pernah jenuh membantu anak-anak yang kurang mampu. Sebab baginya cinta kasih tidak mengenal suku ataupun kewarganegaraan. “Indonesia sama dengan Rumania. Kita ramah tamah, gotong royong,” ujar dia.(MAK/Satya Pandia/Liputan6.com)

 

Abang Lorand dan Istana Anak

Jakarta – Sosok pria bule paruh baya ini, memang sering mengundang tanya. Dirumahnya dikawasan Karet, Jakarta Selatan, tinggal bersamanya puluhan anak-anak usia sekolah dari berbagai daerah. Hampir setiap hari, Abang Lorand, panggilan akrabnya, berkeliling Jakarta mengendarai sepeda motor untuk mengumpulkan sumbangan bagi anak-anak asuhnya. Tuduhan miring pun masih sering menyapanya.

Derajat, 17 tahun, asal Majenang, Jawa Tengah. Satu dari 75 anak penghuni Panti Asuhan Nusantara, di daerah Karet, Jakarta Selatan. Bangunan tua 4 lantai diatas tanah 85 meter persegi itu, memang terasa sempit dan pas-pasan bagi penghuninya. Namun bagi seorang Abang Lorand, berkewarga negaraan Rumania, bangunan dan penghuninya, memiliki makna besar dalam kehidupannya.

Disinilah tempat ia mencurahkan segala perhatian, menolong anak-anak putus sekolah tanpa memandang latar belakang budaya. Puluhan tahun ia berkeliling dunia, sampai akhirnya hatinya terpaut dengan alam Indonesia.

Mengurus 75 anak asuh, dengan usia antara 9 hingga 22 tahun, tentu bukanlah pekerjaan yang mudah. Dengan suasana penuh keakraban dan saling menghargai satu sama lain, menjadi modal utama Abang Lorand, seorang mualaf ini, dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak asuhnya. Pola hidup sederhana, disiplin, selalu menjaga kebersihan dan sikap pantang menyerah, menjadi santapan sehari-hari anak asuhnya.

Sejak berdiri tahun 89 lalu, persoalan dana untuk membiayai operasional panti asuhannya memang menjadi kendala utama. Dengan sepeda motor tua yang sedikit dimodifikasi inilah, Abang Lorand sehari-hari berkeliling Jakarta mengumpulkan sumbangan untuk operasional panti asuhan. Meski mengumpulkan dana dengan susah payah, tuduhan miring masih kerap terdengar.

Beruntung dengan tekad dan ketulusan Abang Lorand menyantuni anak-anak yatim piatu dari keluarga tak mampu yang direkrutnya dengan mendatangi mereka ke daerah asalnya, Panti Asuhan Nusantara, setelah 15 tahun berdiri hingga kini masih survive.(Idh/Indoesiar)

60. G.M. Sudarta (kartunis oom pasikom) : Pengalaman Spiritual menghantar kepada Hidayah islam

 

Islam bagi saya adalah Agama yang memiliki toleransi tinggi

Nama saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada 20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan Sumirah.

Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik.

Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja, saya pernah berujar, “Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya seperi mendengar Adzan.”

Walaupun saya sudah dibaptis dan sering diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan saudara-saudara ibu, juga berasal dari keluarga muslim, jadi dapat saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.

Ketika saya di SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII. Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam).

Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya ARifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah. Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater Akbar menjadi juara pada festival seninya.

Akibat kemenangan ini, sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran. Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.

Bagi saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya. Muslim atau bukan, yang penting bagus.

Selain aktif di dunia teater, saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.

Saya hidup untuk apa ? apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan ada atau tidak ada, tidak menjadi soal.

 

Sering Ziarah

Untuk menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus, bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari terutama hal-hal yang musykil.

Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang Tuhan.

Dari perjalanan mengunjungi makam para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.

Selanjutnya orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak ketemu.

Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya sebagai seorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).

Dari perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan. Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.

Dari semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.

Agama, inilah jawaban yang saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya sebuah pegangan hidup; Agama – yang menjadi pegangan mengarungi lautan kehidupan.

 

Masuk Islam

Dari apa yang telah dititipkan Tuhan pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia tiga bulan sampai sekarang, bila ada azan Magrib di televisi, ia tidak mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis, ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana dan mempunyai kekuatan adalah Agama.

Akhirnya, saya putuskan untuk menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih Sunnah karya Saayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.

Selain itu, banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan untuk menjadi seorang muslim.

Islam bagi saya adalah agama yang memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama . Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya. (Hamzah, mualaf.com)

Karikaturis GM Sudarta (kiri, duduk) melakukan acara tanya jawab mengenai buku terbarunya berjudul: Reformasi: Sejak Tumbangnya Orde Baru sampai Lahirnya Reformasi dalam Kartun, terbitan Penerbit Kompas, Selasa (29/8), dalam acara Pesta Buku Gramedia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat. Selain melakukan demo menggambar, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh pengunjung pameran, mulai dari yang bersifat teknis sampai dengan pengalaman tentang suka dan duka saat gambar karikatur termuat di koran. Beberapa pengunjung juga terlihat meminta tanda tangan GM Sudarta untuk dibubuhkan ke dalam buku yang dibelinya.

OOM PASIKOM YG MELEKAT DIMASYARAKAT

 

61. Pengakuan Nakata Khaula

 

Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin.

Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam.

Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala.

Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela.

Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan.

Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam.

Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur?

Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

62. Dikecam Karena Muslimah

 

Pemerintah Tiongkok mengecam pencalonan Rebiya Kadeer, seorang aktivis politik dari etnis Uighur, sebagai penerima Nobel perdamaian 2006. Rebiya ditolak kemungkinan karena dia Muslimah

Pemerintah Tiongkok mengecam pencalonan Rebiya Kadeer, aktivis politik dari etnis Uighur, sebagai penerima Nobel perdamaian 2006. Menurut pemerintah negara komunis tersebut, perempuan tersebut tidak pantas dicalonkan. Alasannya, karena dianggap memiliki kaitan dengan kelompok “teroris” yang mengganggu perdamaian di Tiongkok. Alasannya seperti ini mirip yang terjadi di banyak negara Barat.

“Dia pernah ditangkap karena mengganggu keamanan nasional,” tegas Jubir Deplu Tiongkok Qin Gang kemarin. Qin menambahkan kalau saat ini Rebiya menjalin hubungan dengan kelompok Islam di luar negeri untuk mengendalikan gerakan separatis.

Gerakan itu, menurut Qin, bertujuan memisahkan wilayah otonomi khusus Xinjiang –yang didominasi Muslim Uighur- – dari pemerintahan Tiongkok.

Rebiya, yang kini berusia 59 tahun itu, pernah ditahan selama lima tahun di Tiongkok dengan dakwaan membocorkan rahasia negara. Maret tahun lalu, dia dibebaskan dan dibuang ke AS.

Sebelum ditangkap, dia dikenal sering memberi kredit lunak bagi perempuan etnis Uighur yang ingin berusaha. Aset ketua Asosiasi Pengusaha Perempuan itu pernah mencapai CNY 270 juta (sekitar Rp 309,2 miliar). Kini terus berkurang akibat tekanan pemerintah Tiongkok.

Dua tahun lalu, ibu sebelas anak itu mendapatkan Rafto Prize di Norwegia atas sikapnya yang memperjuangkan HAM etnis Uighur di Tiongkok. Rebiya merupakan satu-satunya kandidat yang diajukan parlemen negara lain. “Rebiya Kadeer memperjuangkan hak perempuan etnis Uighur dan perempuan Tiongkok pada umumnya,” tulis Annelie Enochson, anggota parlemen Swedia yang mengajukan namanya.

Saat ini, Rebiya tinggal di Washington D.C, AS. Namun empat anaknya masih berada di Tiongkok. Menurut rebiya, dua putranya ditangkap dan dipukuli kepolisian Tiongkok karena dianggap tidak membayar pajak Juni lalu. Salah satu putranya hilang dan putrinya dijadikan tahanan rumah. “Mereka bisa menangkap tapi tidak bisa menghukum anak saya,” cetus Rebiya.

Meski sulit, Rebiya bertekat untuk memperjuangkan hak perempuan dan anak-anak Uighur. “Saya siap menerima apa pun risikonya. Semakin keras usaha pemerintah Tiongkok melenyapkan saya, semakin besar pengaruh saya pada rakyat Uighur,” tegas perempuan yang akan meluncurkan biografinya berjudul “A Woman’s Struggle against the Dragon” (Seorang perempuan Melawan Naga) di Jerman tahun depan itu.

Tak lelah berharap

Muslim Uighur (masuk wilayah otonomi khusus Xinjiang) sejak lama menerima perlakuan represif dari pemerintah Cina. Pemerintah Komunis sejak lama berusaha menghilangkan identitas Islam dan budaya mereka.

Laporan Human Rights Watch dan Human Rights in China, beberapa saat lalu mengatakan, pemerintah Cina tengah melakukan kampanye menghancurkan Muslim Uighur dengan dalih memerangi terorisme. Peking, menurut laporan setebal 114 halaman itu, sengaja menempuh kebijakan penghancuran terhadap Muslim Xinjiang.

Menurut Direktur Eksekutif Human Rights in China, Sharon Hom, tindak kekerasan terhadap kaum Muslim Uighur terjadi di Xinjiang Barat. Ada delapan juta warga Muslim yang hidup di bawah penindasan. Dann kenyataannya, “terorisme” adalah tuduhan paling ampuh melemahkan Muslim Xinjiang. [afp/rtr/jp/cha/Hidayatullah.com]

63. Astrid A. Nurhamzah : Bacaan Basmalah Menuntun Menuju Islam

 

Astrid A. Nurhamzah, seorang dokter yang bekerja pada sebuah klinik pengobatan masyarakat di Cikini-Jakarta Pusat, sangat terkesima dengan bacaan basmallah. Ada kekuatan dan pengalaman lain di balik ayat tersebut yang membuat wanita berkaca mata minus itu untuk memeluk agama Islam sebagai pegangan hidupnya.

Menuju jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT memang didambakan semua umat manusia. Segala amal upaya akan dilakukannya untuk menuju jalan kebenaran tersebut, yaitu jalan yang lurus untuk menuju kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan yang seperti itulah yang di inginkan oleh Astrid A Nurhamzah (28). Pada hari selasa (14/12) pada pukul 15.30, di masjid At-Taqwa PP Muhammadiyah Jakarta, dengan disaksikan para jamaah shalat Ashar, atas rahmat Allah SWT, dara keturunan Makassar Sulawesi-Selatan ini dengan tulus ikhlas mengikrarkan dua kalimah syahadah dan meninggalkan agama Katolik yang selama ini ia peluk.

Sebelum melangsungkan pembacaan syahadat di masjid , siang harinya Astrid datang ke Majelis Tabligh dan Dakwah (MTDK) dengan diantar oleh ayahnya Alfred Hamzah, yang sebelumnya juga masuk Islam pada tahun 1999, dan tunangannya. Saat masuk ke kantor MTDK, nampak rasa keceriaan pada raut mukanya. Perasaan penasaran dan keingintahuan tentang ajaran agama Islam secara mendalam serta ingin merasakan benar-benar menjadi seorang muslim yang sejati terbayang dalam benak dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini.

 

Mengapa Astrid merasakan seperti itu?

Ia menuturkan, sepanjang perjalanan hidupnya dia melihat keanehan tersendiri tentang agama Islam dan itu yang membuat dirinya tertarik. Sebagai seorang yang berprofesi dalam bidang kesehatan, ia menyadari betul, bahwa betapa hebatnya seorang dokter, belum tentu bisa menyembuhkan penyakit pada diri manusia. Masih ada kekuatan yang ada diluar jangkauan pengobatan dokter yang mampu menyembuhkan pasien. Yaitu kekuatan dan kebesaran Allah SWT, Astrid sadar, Dialah kekuatan penyembuh dari segala macam penyakit. Ini yang menjadi landasan awal bagi Astrid. Selain itu, ada keanehan pada dirinya, mengapa setiap akan melakukan sesuatu seorang pasien harus membaca kalimat basmallah. Astrid pun ikut mempraktikkannya kala ia memberikan pengobatan pada seorang pasien yang berobat padanya. Diucapkannya kalimat basmallah setiap kali dia melakukan pengobatan. Anehnya pasien yang diobati itu lekas cepat sembuh. ‘Pengalaman itu saya lakukan berulang-ulang pada setiap pasien dan saya mendapatkan kemudahan dari Allah untuk menyembuhkannya dan saya berterima kasih kepada-Nya, ‘kata Astrid dengan senyum khasnya.

Setiap manusia memiliki pengalaman tersendiri untuk merasa terpanggil dan hijrah pada agama Allah, di mana agama Islam merupakan agama yang paling sempurna. Proses kesadaran akan kebenaran ajaran Allah tak bisa dipaksakan begitu saja. Semua itu melewati tahapan dan proses waktu yang sangat panjang pada diri manusia. Begitu pula yang dialami oleh Astrid dan keluarga Alfred. Ternyata tidak semuanya dalam keluarga Alfred Hamzah itu memeluk agama Islam. Istri Alfred dan anak-anaknya yang lain masih menganut agama Katolik sebagai keyakinannya. Seiring dengan perjalanan waktu, Alfred selaku ayah dari Astrid mengharapkan seizin Allah SWT suatu saat nanti istri dan anak-anaknya yang lain akan mengikuti jejak nya dan jejak Astrid yang sudah dulu memeluk agama Islam. Pintu Allah akan selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin berbuat kesalihan.

Buya Risman Muchtar selaku pengasuh Konsultasi Agama MTDK, dalam memberikan bimbingan kepada Astrid, mengatakan bahwa sebuah rahmat Allah dan hidayah-Nya yang sangat besar, telah memberikan jalan yang terang kepada Astrid untuk masuk Islam. Untuk masuk Islam, kata Buya Risman ada rukun yang harus dilakukan. Di antaranya adalah rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim yang terdiri dari membaca syahadat, shalat, puasa, zakat dan melakukan ibadah haji jika mampu. ‘Bila semua rukun Islam itu dikerjakan oleh seorang muslim, maka sempurnalah muslim tersebut dalam menjalankan agama Islam, tutur Buya Risman..

Menjalankan agama Islam, lanjut Buya Risman, tidak sulit asalkan dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas. Begitu pula untuk Astrid yang baru masuk agama Islam tidak sulit untuk belajar dan memahami ajaran Islam seperti yang digariskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Apalagi dengan tingkat pengetahuan dan pendidikan yang tinggi, Buya Risman yakin, insya Allah Astrid bisa cepat menguasai agama Islam. Untuk itu kami akan berusaha untuk terus memberikan bimbingan, dan MTDK selalu terbuka jika ada pertanyaan tentang ajaran Islam, katanya.

Menurut Buya Risman, saat ini ada metoda singkat dan cepat untuk belajar membaca Al-Qur’an. Tidak kurang dalam tempo seminggu, orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an atau baru masuk Islam seperti Astrid ini, akan mampu menguasai bacaan Al-Qur’an.

Setelah Astrid membacakan kalimat Syahadat dengan menyatakan bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka pada saat itu pula Astrid mencatat sejarah baru dalam hidupnya, ia telah berubah menjadi seorang muslimah dan akan patuh menjalankan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Sebagai bekal awal dalam memahami Islam, MTDK menghadiahkan mushaf Al-Qur’an, buku cara melakukan shalat dan buku-buku pengetahuan keagamaan yang berisikan tentang tuntunan untuk menjadi seorang muslim yang berahlaqul-kharimah. Selamat untuk menjadi muslim yang baik Astrid! Agus Yuliawan (Majalah Tabligh)

64. Pernikahan Mengarahkan Wanita Kepada Islam

 

Sebagian wanita Jepang memeluk Islam karena pernikahan. Tapi umumnya, mereka tertarik kepada Islam karena menginginkan adanya kebebasan dan Islam memberi mereka kemerdekaan

“Aysha” Abid Choudry adalah nama yang dipilihnya sejak Harumi memutuskan untuk memeluk Islam 4 tahun silam. Ia memeluk Islam pada usia 26 tahun, ketika wanita Jepang ini menikah dengan seorang lelaki asal Pakistan.

Dua tahun kemudian, sama seperti wanita Jepang lain yang menikah dengan lelaki Muslim yang tinggal di Jepang. Sejak itulah Harumi mempelajari Islam. Dari apa yang sudah dia pelajari, Harumi mengetahui bahwa Islam artinya memiliki hubungan personal dengan Allah SWT. Dia beribadah menurut tata cara Islam untuk pertama kalinya. Suaminya sendiri tidak pernah memaksanya untuk buru-buru mengamalkan ajaran Islam namun setiap saat berdoa agar Harumi dibukakan pintu hatinya.

Islam memang sangat asing di Jepang, namun telah menarik perhatian banyak wanita muda Jepang. Diantara mereka banyak yang masuk Islam setelah menikah dengan para lelaki Muslim yang datang ke Jepang untuk bekerja. Mereka umumnya berasal dari Iran, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia.

Hukum Islam memerintahkan barangsiapa yang bermaksud untuk menikah dengan orang Muslim maka dia harus masuk Islam dulu, kata R.Siddiqi, Direktur Islamic Center Jepang.

Sebuah pusat aktivitas Islam di Tokyo, Islamic Center di Setagay-ku tiap tahun menerima pendaftaran lebih dari 80 anggota baru, mayoritas wanita Jepang. Meskipun beberapa wanita Jepang masuk Islam tanpa jalur pernikahan, banyak juga wanita Jepang yang masuk Islam karena jalur pernikahan.

Islamic Center melaporkan, bahwa tiap tahun ada 40 pernikahan antara orang Muslim yang berasal dari luar Jepang dengan wanita Jepang.

“Wanita tertarik kepada Islam karena mereka menginginkan kebebasan. Islam memberi mereka kemerdekaan sebab mereka tidak akan menjadi budak lelaki manapun. Islam melawan agresi moral yang menyerang wanita. Kesucian dan kehormatan wanita dilindungi. Islam melarang hubungan haramm/gelap. Semua ini menarik perhatian para wanita Jepang,” kata Siddiqi.

Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi. Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi.

Jika ditanya mengapa wanita tidak boleh memiliki lebih dari satu suami, Siddiqi menjelaskan, “Karena si wanita tidak akan bisa memutuskan anak siapa yang dikandungnya. Hal ini akan membingungkannya.”

Sekarang ini perkembangan Islam di Jepang menunjukkan grafik yang terus naik seiring dengan makin globalnya dunia. Jepang terbuka untuk siapa saja, termasuk orang Muslim. [Kartika, diolah dari tulisan Lynne Y. Nakano berjudul “Marriages lead women into Islam in Japan”/Hidayatullah.com]

 

Muslim di Jepang Tantangan Bagi Perempuan Mualaf

”Suamiku terharu. Ia meneteskan air mata ketika melihatku melakukan shalat. Ia melihat kesungguhanku menjalankan agama yang baru aku anut.” (Aysha Abid Choudry) Harumi, demikian namanya sebelum diganti menjadi Aysha. Memang, sebetulnya ia tidak perlu menggantikan namanya. Tapi baginya, tak ada kebahagiaan melebihi bahagianya mendapatkan hidayah, berada dalam naungan Islam.

Maka, ia dengan penuh suka cita pun menempelkan nama Aysha di depan namanya. Keislaman Harumi, pada awalnya memang karena pernikahan. Ia tertarik dengan pria Muslim asal Pakistan. Beberapa bulan menjelang pernikahan dilakukan, Harumi memeluk Islam. Agar ada satu keyakinan dalam bahtera rumahtangganya. Tahun 1987 menjadi titik balik hidupnya. Dari seorang yang tak beragama, ia menjadi seorang muslimah. Dan sejak awal memang telah bertekad untuk menjadi Muslimah sejati; belajar tentang Islam, menghindari makanan yang haram, dan mengenakan jilbab untuk menutupi auratnya.

Ia lakukan dengan sepenuh hatinya. Namun ada satu yang belum sepenuhnya dijalankan, ibadah shalat. Ia masih belum melakukan ibadah lima waktu itu, pun ketika pemuda Abid Choudry menyuntingnya. Sampai suatu saat datang pencerahan, dan ia menceritakannya seperti penggalan kalimat di atas. Kini, Harumi tak canggung lagi melaksanakan ibadah shalat di tempat kerjanya. Ia juga berjilbab. Lima tas pakaian lamanya telah dihibahkan kepada orang lain. ”Saya menjadi sosok yang berbeda sekarang,” ujar sekretaris yang dulu gemar memakai rok mini ini. Ritual shalat dari Subuh hingga Isya, memberikan tantangn berat bagi wanita Jepang seperti Harumi. Ia harus mampu menyesuaikan dengan jadwal kerjanya dan mendapatkan tempat yang cocok untuk menjalan shalat. Seperti kata Harumi, mereka yang baru memeluk Islam juga harus melakukan perubahan dalam pola makannya.

Muslim yang selalu mengacu pada Alquran tak boleh mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan produk daging yang tak halal. Jus bisa saja mengandung alkohol meski dalam kadar rendah. Coklat, es krim, kue, dan makanan lainnya kemungkinan mengandung lemak hewan dan gelatin yang dibuat dari tulang hewan. Beruntung, kini telah bermunculan toko halal, kendati status halal produknya juga belum tentu terjamin. ”Pada awalnya kami tak mengetahui makanan mana saja yang boleh kami kondumsi. Kemudian kami mendaftarnya kemudian menyebarkan informasi tersebut ke saudara Muslim lainnya,” ujar Harumi. Tantangan lainnya bagi wanita Jepang yang memeluk Islam adalah keluarganya. Seringkali, keluarga seperti ‘membuang’ anaknya yang menjadi Muslim.

Mereka pun dikucilkan dari pergaulan teman-temannya. Memeluk Islam memang membutuhkan perubahan yang mendasar dalam setiap aspek kehidupan mereka. Namun dari waktu ke waktu, jumlah mualaf di Jepang — terutama kaum wanita — semakin banyak. Selain karena pernikahan, mereka justru tertarik mempelajari Islam setelah Tragedi 11 September. Namun alasan utama wanita berpindah ke Islam umumnya karena pernikahan. Muslimah lainnya, Noureen, dosen keperawatan di sebuah universitas di Saitama, juga menjadi Muslim karena menikah. Namun sebelum berislam ia telah mencoba beberapa kepercayaan lain. Kemudian ia bertemu pria Pakistan dan menikah dengannya. Sebelum acara pernikahan, ia telah menganut Islam. Noureen pun menjalankan Islam dengan tekun. Baik dalam makanan maupun berhijab.

Di sisi lain, lingkungan di mana ia bekerja juga memberikan pengaruh. Ada intervensi dari mereka ketika ia menjalankan Islam. Maka suaminya menyarankan agar dirinya mencari alternatif pekerjaan lainnya. ”Ia menyatakan keyakinan (Islam) adalah hal yang utama dalam hidup, dan pekerjaan adalah masalah berikutnya,” ujarnya. Kisah Monica Suzuki lain lagi. Dengan penuh perasaan ia menyatakan bahwa dirinya dipandu oleh hati dan emosinya ke dalam Islam. Sejak kecil ia telah akrab dengan ritus Budha. Umumnya keluarga di Jepang yang menganut Budhisme. Namun interaksinya dengan ajaran tersebut tak begitu kental. Dan telah lama telah banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tentang alam dan isinya, eksistensi dan putaran hidup manusia.

Hingga ia menamatkan sekolahnya dan bekerja sebagai staf penerbangan, ia terus merasakan kekosongan jiwa. Tahun 1988 ia mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai penerjamah bagi delegasi Jepang untuk agen wisata di Mesir selama setahun. Melalui kolega barunya, ia mulai mengenal Islam. Sekembalinya ke Jepang, minat belajar Islam semakin menggebu. Dengan mempelajari Islam, ada satu sisi dalam jiwanya yang merasa terisi. Sayangnya, informasi tentang Islam baik dari sekolah maupun televisi sangat terbatas. Dan sering mengalami distorsi. Saat kembali ke Jepang, ia kemudian mendatangi Islamic Center di Tokyo dan mendapatkan terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang. Ia juga selalu ketagihan untuk berkunjung ke Islamic Center. Di tempat ini, ia belajar Islam pada ulama yang juga mualaf. Hingga suatu saat, ia merasa yakin dengan Islam setelah mempelajari mengenai posisi wanita dalam agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini.

”Dalam Islam, muslimah dilindungi dan dihormati,” ujarnya. Hijab lebih dipandangnya sebagai pelindung kehormatan wanita, ketimbang simbol fundamentalisme agama seperti yang digembar-gemborkan banyak kalangan. Tahun 1991, ia kembali melakukan perjalanan ke Mesir. Namun kali ini bukan untuk menjadi duta kantornya. Ia bersyahadat di Universitas Al-Azhar untuk mengikrarkan keislamannya. Di kota ini ia mendapatkan pekerjaan baru dan menikah dengan Muslim Mesir. Kini Minica tinggal di Tokyo, membesarkan putri semata wayangnya, Maryam. Lain pula kisah milik Sunaku. Ia menyatakan semakin ia membaca tentang Islam semakin meningkat pula rasa percaya dan pemahamannya terhadap Islam. Ia mengungkapakan sejak kecil tak merasa bahagia. Dan merasa kewalahan dengan perasaan bersalah. Hingga dirinya sekolah di Inggris untuk belajar bahasa. Saat musim liburan tiba, ia diajak oleh temannya ke Jordan. Dan tinggal bersama keluarga Muslim.

Ia melihat bahwa keluarga ini begitu sederhana dan juga terorganisasi. Rumahnya begitu bersih. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Suami mencari nafkah demi keluarga. Istrinya juga melakukan tugas rumahnya dengan perasaan gembira. Ia merasa bahwa kebahagiaan seperti itulah yang hilang selama ini. Dan menyadari bahwa citranya terhadap Islam sangat salah selama ini. Ia hanya mendengarnya dari televisi. Ia menilai Muslimah adalah korban dari ketidakadilan gender. Yang dilakukan suami, tentunya. Setelah kepergiannya ke Jordan ia mulai tertarik mempelajari Islam. Ia pun bertandang ke Islamic Center Tokyo. Di bawah bimbingan ulama asal Jepang dan Pakistan, ia belajar Islam. Direktur Islamic Center Tokyo, R Siddiqi mengakui banyaknya wanita muda berpindah agama memeluk Islam. Biasanya adalah mereka yang menikah dengan seorang pria Muslim yang merantau ke Jepang, baik untuk bekerja atau sekolah.

Mereka datang dari negara-negara yang mempunyai tradisi Islam seperti Iran, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia. ”Mereka yang akan menikahi Muslim semestinya pula memeluk Islam. Dengan demikian mereka berada dalam satu keyakinan,” ujarnya. Ia menyatakan tidak semua wanita Jepang memeluk Islam karena alasan menikah, namun sebagian besar karena alasan pernikahan. Banyak juga yang terbuka matanya setelah mempelajari Islam. ”Islam menghendaki wanita menjadi manusia merdeka. Islam memberikan kebebasan kepada wanita dan tak harus menjadi budak kaum pria. Kehormatan wanita itu terpelihara,” tambah Siddiqi. Namun, banyak pula orang Jepang yang bertanya mengenai Islam yang mengizinkan seorang pria boleh menikah dengan wanita lebih dari satu. Biasanya, yang dilakukan pihaknya adalah menceritakan alasan mengapa hal itu diperbolehkan.

”Menikah hingga empat kali diizinkan jika dalam keadaan yang tak terhindarkan. Misalnya si wanita mengalami impotensi atau tidak subur,” ujarnya menyebut jawaban yang dilontarkannya bila menghadapi pertanyaan semacam itu. Dengan hukum semacam ini, katanya, tak ada prostitusi dalam Islam. Jika seorang laki-laki membutuhkan wanita lain, maka nikahilah. Dan lindungi pula anak-anak mereka. Menurut Siddiqi, hukum di Jepang juga menggunakan dasar logika yang sama dengan hukum Islam dalam soal perkawinan. Misalnya, adanya larangan wanita menikah kembali selama enam bulan setelah perceraiannya. Mungkin karena itu pula, mereka tertarik belajar islam. (fer/islamonline )

65. Yusuf al-Islami GIAT MENGHALAU KRISTENISASI

 

Yusuf al-Islami adalah sosok ustadz yang disegani di Lampung. Meski usianya terbilang masih relatif muda, namun pria keturunan Tionghoa dengan nama lahir Yusuf Hadi Pranata ini dikenal giat berdakwah. Sehari-hari, ia aktif mengisi pengajian ibu-ibu dan remaja.

Dengan metode penyampaian yang tegas, mudah dan gamblang, banyak umat Islam mendatangi tabligh-tabligh yang disampaikannya. Selain gamblang, isi ceramah-ceramahnya pun sangat lugas dan enak didengar sehingga mudah dicerna masyarakat.

Laki-laki yang terlibat dalam sejumlah organisasi ini juga dikenal aktif merajut ukhuwah Islamiyah antar-ormas Islam. Dalam setiap ceramahnya, Yusuf tak pernah bosan mengingatkan umat agar bersatu dan bersama-sama membangun ukhuwah.

Yusuf pun sering mengingatkan bahwa maju-mundurnya Islam bergantung dari sikap umat Islam sendiri. Jika umat Islam bersatu, maka kemenangan akan segera datang. Namun jika sebaliknya, umat Islam akan selalu berada pada posisi sulit dan terpuruk.

Dakwah tampaknya sudah mendarah daging di tubuh Yusuf. Bersama teman-temannya di Gerakan Mubaligh Islam (GMI) Lampung, ia giat membina akidah umat dari serangan gerakan kristenisasi yang makin gencar mengepung Lampung.

Untuk membentengi umat dari serangan kaum kuffar itu, Yusuf menerbitkan buku-buku kristologi, antara lain: “Apa Kata al-Kitab Tentang Agama Kristen” dan “Mengungkap Fakta Penyimpangan Agama Kristen”. Isi kedua buku itu mudah dipahami dan kini menjadi referensi yang efektif untuk menangkis gerakan Kristenisasi diLampung. Rencananya tak lama lagi, Yusuf pun akan merampungkan sebuah buku yang masih terkait dengan Islam dan Kristen. “Ke depan, insya Allah saya akan mendirikan Lembaga Dakwah Kristologi di Lampung,” katanya.

Yusuf lahir di Gedungtataan, Kabupaten Lampung Selatan, 15 Desember 1972. Anak pasangan Tan Sin Nio dan Lie Cun Bi ini mulai mengenal Islam sejak kecil. Tepatnya tahun 1979, ketika Yusuf pertama kali ikut pamannya yang sudah lebih dulu masuk Islam. “Alhamdulilah paman saya sudah lebih dulu masuk Islam,” katanya. Karena itulah, Ke-Islamannya sudah dimulai sejak berada di rumah pamannya. Di Teluk Betung, tempat tinggal pamannya, Yusuf ‘kecil’ sering mengikuti ibadah ritual sang paman, seperti shalat, puasa dan ibadah lainnya. Ia juga sering merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bersama keluarga pamannya.

Kendati secara resmi saat itu belum masuk Islam, namun pada identitasnya tercantum agama Islam. Saat menulis biodata di rapor, pamannya mencantumkan Islam dalam kolom agama rapor Yusuf. Walau demikian, waktu itu Yusuf masih mengikuti kebaktian agama Kristen di gereja.

Secara resmi, Yusuf memeluk Islam saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Tak beberapa lama setelah itu, Yusuf dikhitan. Suami Sumiati (alm) yang menikah tahun 1999 ini, baru tergerak hatinya dan mantap mendalami Islam saat duduk di kelas satu SMA. Awalnya, Yusuf mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya, Rasulullah saw memberitahukan kepada Yusuf bahwa Islam adalah agama yang benar dan harus jadi pegangan seluruh umat manusia di dunia.

Hal serupa dialami Yusuf ketika mimpi bertemu Nabi Isa as. Dalam mimpinya Nabi Isa menyatakan kepada Yusuf, bahwa setelah kedatangannya sebagai utusan Allah SWT, akan ada lagi nabi terakhir yang akan menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya. “Sejak mimpi bertemu Nabi Muhammad dan Nabi Isa, saya mulai mantap meyakini kebenaran Islam,” tegasnya.

Di SMA, Yusuf terlibat aktif di organisasi Kerohanian Islam (Rohis). Rohis ini menjadi organisasi Islam pertama yang dia ikuti. Bersama teman-teman Rohis, Yusuf giat mengadakan berbagai kegiatan ke-Islaman, termasuk program yang disebut Studi Islam Berkala (SIB).

Untuk menambah pengalaman organisasi, Yusuf aktif pula di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), baik di kota Bandar Lampung maupun di tingkat wilayah. Jabatan terakhir Yusuf di PII adalah sebagai Koordinator Brigade Kota Bandar Lampung.

Atas usulan teman-temannya, ke-Islaman Yusuf ‘dilegalkan’ di Kantor Urusan Agama (KUA), pada 18 November 1994. Saat itu juga ayah dari M Habiburrahman al-Islami ini kembali mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan syarat utama masuk Islam.

Seperti dialami para mualaf umumnya, ke-Islaman Yusuf pun tak berjalan mulus. Reaksi keluarga besarnya saat tahu dia memeluk Islam, terbelah. Pihak keluarga besar ibu sangat mendukung ke-Islaman Yusuf, sebab sebagian besar keluarga besar dari pihak Ibunya memang sudah banyak yang masuk Islam. Tantangan sangat keras datang dari pihak keluarga besar ayah. Mereka menentang keras, karena berpendapat semua agama, baik Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lainnya adalah sama. Sama-sama menyembah Tuhan yang menciptakan manusia.

Saat ini komunikasi dan silaturahim dengan keluarga besar memang belum bisa berjalan secara teratur karena kesibukan masing-masing keluarga. Apalagi kebanyakan tempat tinggal mereka di luar Lampung. Namun Yusuf masih terus berhubungan, minimal melalui telepon atau surat. “Silaturahim masih terus dijalankan, minimal bertelepon dan berkirim surat,” katanya.

Pengalaman berorganisasi di SMA tampaknya menjadi bekal penting Yusuf di kemudian hari. Kini selain aktif di organisasi ke-Islaman, seperti di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Lampung, ia juga terlibat di Gerakan Mubaligh Islam (GMI) Lampung. Kedua organisasi ini termasuk yang paling kencang menghadang gerakan kristenisasi di Lampung.

Di Lampung, jika dulu kristenisasi banyak menyerang masyarakat pedesaan, terutama desa-desa terisolir, kini sudah masuk ke wilayah perkotaan. Bahkan kristenisasi juga menyerang kampus-kampus yang mayoritas mahasiswa, dosen dan karyawannya Islam, seperti di Universitas Lampung (UNILA).

Cara pemurtadan yang dilakukan pun beraneka ragam. Di samping merancukan akidah Islam, seperti mengatakan bahwa semua agama adalah sama, juga menggunakan black magic, hipnotis dan penyerangan dengan meminta bantuan jin.

Bersama teman-teman di GMI, Yusuf membuat program pembinaan masyarakat hingga ke pelosok desa. Program ini bertujuan untuk menangkis gerakan pemurtadan yang belakangan kian gencar di Lampung.

Sama halnya saat memutuskan diri memeluk Islam, kegetolan Yusuf berorganisasi pun tak luput dari sorotan keluarga besarnya. Sebagian besar keluarga Yusuf menentang kiprahnya di organisasi Islam karena berpendapat Islam cukup dengan shalat, puasa, membayar zakat dan naik haji. “Meski perlu cukup lama untuk menjelaskan ini semua kepada keluarga, namun alhamdulillah akhirnya mereka dapat menerima dan memahami betapa pentingnya ikut berbagai organisasi, di samping menambah pergaulan dan teman, juga dapat mendatangkan kebaikan,” katanya.

66. Tan Lip Siang (H.M. Syarif Siangan Tanudjaya, S.H.) : Tentang Dosa Warisan

 

SEGALA puji bagi Allah SWT karena siapa yang mendapat petunjuk-Nya, maka tidak ada yang bisa menyesatkan. Juga sebaliknya, bagi mereka yang disesatkan oleh Allah SWT, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. “Aku bersaksi tidak ada tuhan melainkan Allah, Allah Maha Esa, tidak ada sekutubagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, penutup segala nabi, dan tidak ada nabi lagi sesudahnya.”

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ini, saya memberikan pernyataan resmi masuk agama Islam di hadapan kelompok pengajian yang dipimpin oleh guru Erwin Saman.

Tepatnya pada tahun 1975. Kini, nama saya bukan lagi Tan Lip Siang. Nama saya sekarang lengkapnya H.M. Syarif Siangan Tanudjaya, S.H.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, menjelang usia saya ke-55, tidak ada salahnya dalam kesempatan baik ini, saya manfaatkan untuk bercerita tentang kisah hidup saya menuju jalan yang diridhai Allah SWT. Saya adalah pejabat notaris yang diangkat oleh pemerintah untuk wilayah kerja Kodya Bekasi, Jawa Barat.

Dalam kisah ini, saya tidak bermaksud untuk mencela, atau menghina agama (kepercayaan) yang saya anut sebelumnya. Berawal dari hati yang selalu resah, disebabkan penderitan hidup — dari hidup yang biasa senang, berbalik menderita. Saya mulai dari agama Kristen, yang saya imani pada saat itu.

Pada ajaran agama Kristen, saya temukan dan saya ketahui adalah ketentuan-ketentuan akan dosa warisan. Maksudnya, akibat dosa Adam dan Hawa, mengakibatkan manusia menanggung “dosa warisan”. Artinya, sekalipun bayi yang baru dilahirkan, sudah harus dianggap tidak suci lagi, akibat “dosa warisan” Adam dan Hawa itu.

Namun, apabila kita menyimak dengan lebih teliti pada ayat-ayat Alkitab selanjutnya, setelah saya baca, ada hal yang sulit dipahami menyangkut “dosa warisan”. Misalnya, ketika Yesus ditanya oleh seorang Farisi, “Apakah yang menyebabkan anak tersebut menjadi cacat? Mungkinkah karena dosa kedua orang tuanya atau dosa siapa?”

Yesus menjawab kepada orang Farisi tersebut, “Anak ini menjadi cacat, akibat dosa ibu-bapaknya dan bukan dosanya sendiri. Tetapi karena Allah akan memperlihatkan kasih-Nya.”

Dua ketentuan dalam kandungan Alkitab ini, sungguh membuat saya bingung. Sehingga pada saat itu saya sempat berpikir, mengapa Tuhannya orang Kristen membuat umatnya menjadi resah, hingga saya merasa kesulitan untuk menyimpulkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alkitab?

Demikianlah, yang saya temukan dan saya ketahui mengenai ketentuan-ketentuan pokok dalam ajaran agama Kristen yang saya imani. Hakikat permasalahan hidup juga saya temukan adalah bagaimana caranya saya menghadapi dan lepas dari permasalahan hidup.

Saya tidak berkonsultasi lagi kepada pendeta, karena menurut saya, pendeta tidak pernah mampu memberikan solusi untuk permasalahan hidup saya. Pada akhirnya, iman saya kepada Yesus sirna, sebab belum mampu membuat hati saya tenteram dan mantap.

 

Kembali ke Budha

Cerita selanjutnya, saya berbalik kepada agama Budha dan Konghucu. Mulailah saya bersembahyang di vihara, lalu belajar meditasi, dan tidak makan daging atau yang bernyawa pada waktu-waktu tertentu (Cia-Cay), sembahyang penghormatan kepada arwah leluhur, kemudian sembahyang ke klenteng Toapekong (tempat penyembahan atau tempat ibadah kepada Tian, dewa-dewa orang Cina), untuk memohon Popi Peng An (keselamatan) dan hoki (peruntungan yang baik).

Sudah sedemikian jauh saya melangkah, ternyata petualangan saya menuju prinsip keimanan yang sesungguhnya, belum juga saya temukan. Sementara, perjalanan hidup saya saat itu, dari waktu ke waktu makin terasa sangat mencekam. Sebagai leveransir bahan bangunan, alat tulis kantor (ATK), dan pemborong, ternyata relasi saya banyak yang beragama Islam.

Dari mereka, saya mulai mengenal tata cara ibadah Islam. Misalnya, sebelum menunaikan ibadah shalat, seseorang harus terlebih dulu mengambil air wudhu (bersuci). Dan, yang lebih menarik perhatian saya adalah tentang kewajiban umat Islam menunaikan ibadah puasa, zakat, dan tentang pokok ajaran (akidah) ketuhanannya, yakni tauhid (mengesakan Allah), yaitu Allah itu Maha Esa (tunggal). la tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

 

Mimpi Berkelahi

Sebelum saya menyatakan diri masuk agama Islam, lebih baik saya ceritakan pengalaman saya yang sungguh unik ini melalui mimpi.

Dengan penuh rasa takut saya berlari, dikejar oleh lima orang bersenjata yang hendak membunuh saya. Saya terpojok di suatu sudut. Para penjahat itu makin mendekat ke arah saya, dan tanpa saya sadari, tangan saya terasa menggenggam senjata sejenis keris. Lalu, dengan satu dorongan, entah mendapat kekuatan dari mana, saya berteriak, “Allahu Akbar” tiga kali. Sungguh menakjubkan, kelima penjahat bersenjata itu, semuanya musnah dan hangus bagaikan lembaran-lembaran kertas terbakar. Apa makna mimpi tersebut?

Tahap selanjutnya dan yang sangat utama, setelah membulatkan pendirian dan keyakinan, saya ingin memeluk agama Islam. Hal ini saya rundingkan terlebih dulu dengan kekasih saya. Keputusannya, Vera, kekasih saya itu, tidak keberatan saya memilih agama Islam.

Sejalan dengan perjalanan saya sebagai mualaf, dengan tuntunan taufik dan hidayah Allah SWT., Vera, pada tahun 1983 mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. la menjadi muslimah dengan kesadarannya sendiri.

Kini, lengkap dan utuhlah sudah keluarga saya sebagai keluarga muslim, sebagai awal perjalanan hidup kami untuk mengukuhkan serta memantapkan pengabdian dan ibadah kami kepada Allah SWT, sebagaimana doa iftitah dalam shalat yang berbunyi : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah seru sekalian alam. ” (Yusuf Syahhbudin Maramis/Albaz) (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

 

Catatan Redaksi : H.M. Syarif Siangan Tanudjaya, S.H. saat ini merupakan salah satu Pengurus DPP PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) sebagai Sekertaris Jenderal untuk Periode 2000-2005. Dirumah beliau, di bilangan Tegalan, Jakarta Timur, digelar pengajian walaupun tidak untuk rutin membahas dan mengkaji tentang Islam dan bertukar penglaman ber Syariah Islam bagi mualaf dan calon mualaf, dan yang ingin mengikuti pengajian tersebut dapat menghubungi redaksi di redaksi@mualaf.com untuk disampaikan kepada beliau.

 

SEKILAS TENTANG PEMBINA IMAN TAUHID ISLAM d/h PERSATUAN ISLAM TIONGHOA INDONESIA

Oleh : HM Syarif Tanudjaja, SH.

 

Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang didirikan di Jakarta, pada tanggal 14 April 1961, antara lain oleh almarhum H.Abdul Karim Oei Tjeng Hien, almarhum H. Abdusomad Yap A Siong dan almarhum Kho Goan Tjin bertujuan untuk mempersatukan muslim Indonesia dengan Muslim keturunan Tionghoa dan muslim keturunan Tionghoa dan etnis Tionghoa erta umat Islam dengan etnis Tionghoa. PITI adalah gabungan dari Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dipimpin oleh Alm H.Abdusomad Yap A Siong dan Persatuan Tionghoa Muslim (PTM) dipimpin oleh Alm Kho Goan Tjin. PIT dan PTM yang sebelum kemerdekaan Indonesia mula-mula didirikan di Medan dan di Bengkulu, masing-masing masih bersifat lokal sehingga pada saat itu keberadaan PIT dan PTM belum begitu dirasakan oleh masyarakat baik muslim Tionghoa dan muslim Indonesia. Karena itulah, untuk merealisasikan perkembangan ukhuwah Islamiyah di kalangan muslim Tionghoa maka PIT yang berkedudukan di Medan dan PTM yang berkedudukan di Bengkulu merelakan diri pindah ke Jakarta dengan bergabung dalam satu wadah yakni PITI. PITI didirikan pada waktu itu, sebagai tangapan realistis atas saran Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah almarhum KH Ibrahim kepada almarhum H. Abdul Karim Oei bahwa untuk menyampaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa yang beragama Islam. Kita turut bersyukur dan berbangga bahwa karena jasa-jasanya kepada Nusa dan Bangsa, salah satu pendiri PITI, almarhum H. Abdul Karim Oei Tjeng Hien, pada tanggal 15 Agustus 2005 yang lalu, telah dianugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Republik Indonesia. Visi PITI adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam). Misi PITI didirikan adalah untuk mempersatukan muslim Tionghoa dengan Muslim Indonesia, muslim Tionghoa dengan etnis Tionghoa non muslim dan etnis Tionghoa dengan umat Islam. Program PITI adalah menyampaikan tentang (dakwah) Islam khususnya kepada masyarakat keturunan Tionghoa dan pembinaan dalam bentuk bimbingan, kepada muslim Tionghoa dalam menjalankan syariah Islam baik di lingkungan keluarganya yang masih non muslim dan persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaannya serta pembelaan/ perlindungan bagi mereka yang karena masuk agama Islam, untuk sementara mempunyai masalah dengan keluarga dan lingkungannya. Sampai dengan saat ini, agama Islam tidak dan belum menarik bagi masyarakat keturunan Tionghoa karena dalam pandangan mereka, agama Islam identik dengan kemunduran, kemalasan, kebodohan, kekumuhan, pemaksaan dan kekerasan (radikal dan teroris). Padahal agama Islam sudah masuk ke Tiongkok sebelum agama Islam masuk ke Indonesia dan saat ini sudah dianut oleh lebih kurang 80-100 juta umat. Sesuai dengan visi dan misi serta program kerjanya, PITI sebagai organisasi dakwah sosial keagamaan yang berskala nasional berfungsi sebagai tempat singgah, tempat silahturahim untuk belajar ilmu agama dan cara beribadah bagi etnis Tionghoa yang tertarik dan ingin memeluk agama Islam serta tempat berbagi pengalaman bagi mereka yang baru masuk Islam. Dalam perjalanan sejarah keorganisasiannya, ketika di era tahun 1960-1970 an khususnya setelah meletusnya Gerkan 30 September (G-30-S)/PKI di mana di saat itu negara kita sedang menggalakkan gerakan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, “Nation and Character Building”, simbol-simbol/identitas/ciri yang bersifat dissosiatif (menghambat pembauran) seperti istilah, bahasa dan budaya asing khususnya Tionghoa dilarang atau dibatasi oleh Pemerintah, PITI terkena dampaknya yaitu nama Tionghoa pada kepanjangan PITI dilarang. Berdasarkan pertimbangan keperluan bahwa gerakan dakwah kepada masyarakat keturunan Tionghoa tidak boleh berhenti, maka pada tanggal 15 Desember 1972, pengurus PITI, merubah kepanjangan PITI menjadi PEMBINA IMAN TAUHID ISLAM. Singkatan PITI harus dipertahankan/dilestarikan, apakah Pembina Iman Tauhid Islam atau Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau bahkan kepanjangan nama lainnya, untuk umat Islam tidak menjadi persoalan. Karena identitas PITI sudah memasyarakat di kalangan umat Islam. PITI adalah Muslim Tionghoa, Muslim Tionghoa adalah PITI. PITI adalah panggilan/sebutan kesayangan umat Islam terhadap Muslim Tionghoa. Konsekwensinya, umat Islam menghendaki “motor-motor penggerak” sebagai wajah PITI adalah mereka yang berasal dari keturunan Tionghoa. Jika demikian apakah itu menunjukkan masih ada unsur eksklusif (tertutup) sekalipun sudah menjadi muslim ? Sejak didirikan sampai dengan saat ini, keanggotaan dan kepengurusan PITI bersifat terbuka dan demokratis, tidak terbatas (eksklusif) hanya pada Muslim keturunan Tionghoa tetapi juga berbaur dengan Muslim Indonesia. Ibarat sesosok tubuh manusia, maka “wajahnya adalah muslim keturunan Tionghoa”, bagian/ komponen tubuh lainnya adalah muslim Indonesia. Jika pada satu saat, karena kesepakatan anggota, kepanjangan PITI kembali menyandang/mempergunakan nama etnis Tionghoa pada nama organisasi ini, itu semata-mata sebagai strategi dakwah dan kecirian organisasi ini bahwa prioritas sasaran dakwahnya tertuju kepada etnis Tionghoa. Dalam hal kepengurusan, sejak didirikan ketentuan organisasi khususnya tentang penyelenggaraan musyawarah tingkat nasional yang terkait pula dengan pergantian masa bakti kepengurusan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), belum dijalankan/dilaksanakan secara konsekwen, yakni setiap lima tahun. Tahun 1987, tahun 2000, diselenggarakan musyawarah tingkat nasional di Jakarta. Dan insya Allah, tanggal 2-4 Desember 2005, akan diselenggarakan kembali musyawarah nasional PITI ke III di Kota Surabaya. Musyawarah nasional PITI tahun 2000 di Jakarta, menetapkan kepenguruan DPP PITI masa bakti 2000-2005, sebagai Ketua Umum alternatif, terpilih bapak HM Trisno Adi Tantiono. Dan dalam perjalanan selanjutnya bapak HM Trisno Adi Tantiono mengundurkan diri, dan sejak tanggal 2 Oktober 2002, sebagai Pejabat Ketua Umum diangkat/ ditunjuk bapak HM Jos Soetomo. Pada kepengurusan masa bakti ini, program utama PITI, terbatas pada rekonsolidasi kepengurusan wilayah dan daerah-daerah yang pada masa lalu, kepengurusannya sudah ada di seluruh propinsi di Indonesia dari Aceh sampai Papua. Saat ini baru terrekonsolidasi Koordinator Wilayah untuk Propinsi-propinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, Lombok, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Yang masih dalam proses persiapan, Propinsi-propinsi Sumatera Barat, Jambi dan Jawa Barat. Tahun 2005 ini, geliat gerakan dakwah di daerah-daerah mulai nampak yakni dengan mulai banyaknya pembangunan masjid-masjid berarsitektur Tiongkok mengikuti jejak pendirian masjid H.Mohamad Cheng Ho di Kota Surabaya, seperti di Purbalingga, Masjid Ja’mi An Naba KH Tan Shin Bie, di Purwokerto, di Kota Palembang Masjid Cheng Ho Sriwijaya dan Kota Semarang, Masjid Cheng Ho Jawa Tengah dan Islamic Center di Kota Kudus. Apapun dan bagaimanapun kondisi organisasinya, PITI sangat diperlukan oleh etnis Tionghoa baik yang muslim maupun non muslim. Bagi Muslim Tionghoa, PITI sebagai wadah silahturahmi, untuk saling memperkuat semangat dalam menjalankan agama Islam di lingkungan keluarganya yang masih non muslim. Bagi etnis Tionghoa non muslim, PITI dapat jadi jembatan antara mereka dengan umat Islam. Bagi Pemerintah, PITI sebagai komponen bangsa yang dapat berperan strategis sebagai jembatan, penghubung antara suku dan etnis, sebagai perekat/lem untuk mempererat dan sebagai benang yang akan merajut persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Muktamar Nasional III PITI di Kota Surabaya ini, tanggal 2-4 Desember 2005, untuk periode 2005-2010, memilih kembali sebagai Ketua Umumnya, bp HM Trisno Adi Tantiono.

67. Franck Damai dalam Islam

 

Ribery hanya diketahui berpindah agama setelah dia bermain untuk klub Galatasari di Turki. Usai pembukaan Piala Dunia 2006, nama Franch Ribery menjadi buah bibir. Bukan tentang kehebatannya menggiring atau menendang bola, bidang yang membesarkan namanya. namun tentang kebiasaannya menengadahkan tangan saat berdoa, khas Muslim. Saya berharap dia berpikir lurus dan kembali ke agamanya yang lama, tulis seorang penggemar fanatiknya di papan dialog situs Islamonline.net.

Ribery sendiri tidak menyangka tindakannya menadah tangan memohon kepada Tuhan, dinilai miring sebagian orang. Bagi pria berusia 23 tahun ini, kepercayaan barunya itu adalah hal pribadi dan bukan konsumsi publik. Itu sebabnya, dia selalu menolak wawancara yang menggiringnya pada pertanyaan mengapa dia berpindah agama. Bahkan ia pernah agak keras memperingatkan paparazzi untuk tidak mendesaknya dengan pertanyaan menyangkut hal yang paling pribadi itu.

Ribery memang seorang mualaf. Pria kelahiran 1 April 1983 ini menjadi Muslim setelah menyunting Wahiba Belhami, Muslimah asal Maroko yang telah mengahdiahinya seorang putri yang manis, Hizya, yang lahir 18 Juli tahun lalu. Ribery hanya diketahui berpindah agama setelah dia bermain untuk klub Galatasary di Turki selama setahun dan membantu klub itumemenangi Piala Turki pada 2005. Ia mempunyai nama hijrah Bilal.

Berita mengenai Ribery memeluk Islam pertama kali dibedah oleh Majalah Express awal tahun ini. Majalah inipun tidak menyebut namanya dan hanya menyatakan seorang pemain sepak bola kebangsaan Perancis. Si pemain, tulis majalah ini, sering dilihat pergi ke masjid, di selatan Marseille.

Di Prancis sendiri, jumlah Muslim memang terus membengkak. namun kebanyakan mereka menyembunyikan jati diri kemuslimannya karena kentalnya stereotip yang melekatkan Muslim dengan terorsime.

Sebetulnya, bukan Franck Ribery saja Muslim yang turut berlaga di Piala Dunia 2006 lalu. Selain para pemain Arab Saudi, Iran, dan Tunisia, rekan sepasukannya, Zinedine Zidane juga beragama Islam.

Swedia pula mempunyai dua pemain Muslim dalam timnya, yaitu Zlatan Ibrahimovic dan Rami Shaaban. Zlatan lahir dalam keluarga imigran Bosnia-Herzegovina yg berpindak ke Malmo, Swedia, dan Rami adalah campuran Mesir dan etnik Finland.

Belanda juga memiliki dua pemain beragama Islam, Robin van Persie dan Khalid Boulahrouz. Persie. Robin menjadi Muslim setelah menikahi wanita cketurunan belanda-Maroko, Bouchra.

Pantai Gading juga memiliki dua pemain kakak beradik yang beragama Islam, yaitu Kolo Toure dan Yaya Toure. Kolo bermain di posisi pertahanan dan Yaya di tengah. Yaya kini bermain untuk klub Greece, Olympiakos, dan prestasinya mencuri perhatian beberapa klub bergengsi, antara lain Manchester United, Chelsea, dan AC Milan.

Media Islam, antara lain Islamonline, menduga, kebiasaannya berdoa itulah yang dicibir publik. Padahal sebagai seorang Muslim, dia hanya tengah berdoa sebagaimana seharusnya, tulis mereka.

Kapten Zinedine Zidane atau Zainuddin Yazid Zidane juga seorang Muslim. Begitu juga bekas pelatih Prancis dan Jepang, Philippe Troussier, yang memeluk Islam setelah menikahi seorang Muslimah bernama Dominique. Namun mereka tidak menunjukkan keislamannya seperti Ribery menunjukkannya.

Namun bagi Muslim Prancis, Ribery menjadi ikon baru. Steve Bradore, aktivis Muslim Pransic, mengaku salut padanya. Menurut dia, sudah sepatutnya publik Prancis berbangga padanya. Dia adalah contoh yg membanggakan kami berdasarkan persembahan unik dan kesederhanaannya katanya kepada IslamOnline.net .

Ribery sendiri mau sedikit membuka muluttentang pilihan keyakinannya itu. Media lokal, Paris Match, menyebut bukan asal untuk menikahi pujaan hatinya dia berpindah agama. Kehidupannya turut berubah setelah dia menjadi penganut Islam. Salah satunya ditunjukkan dengan cara dia berdoa itu.

Islam adalah sumber kekuatan saya sama ada diluar atau di dalam padang permainan, katanya. Saya menghadapi masa-masa sulit dalam membina karier, dan saya mencari kedamaian jiwa dan akhirnya saya menemukan Islam. (tri/islamonline/Riol)

68. Dartje Herlina Susianthy : Mimpi Disuruh Wudhu dan Shalat

 

Saya lahir di Jakarta, 17 Juni 1970. Saya dibesarkan di lingkungan penganut Katolik. Sejak kecil, saya diperkenalkan dengan ajaran agama itu. Saya pun sekolah di SD Katolik. Namun, saat duduk di bangku sekolah lanjut pertama {SMP), saya mulai bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam. Mereka sangat baik dan toleran. Sikap mereka ini membuat saya dekat dengan mereka.

Secara perlahan-perlahan, saya memperhatikan ajaran agama dan tata cara ibadah mereka. Sepertinya ada perasaan yang menarik saya untuk terus mengikuti ajaran agama yang mereka anut. Dengan sengaja saya ikut pelajaran mereka. Teman-teman saya yang beragama Islam tidak keberatan. Bahkan, mereka senang. Lambat laun saya mulai meninggalkan pelajaran agama Kristen yang diberikan setiap hari Jumat. Entah mengapa itu bisa terjadi. Dan, saya begitu senang mengikuti pelajaran agama Islam.

Saya masih mengikuti pelajaran agama Islam sampai saya duduk di kelas dua SMP. Ketika pelajaran itu, saya oleh guru disuruh membaca surah dalam Al-Qur’an. Saya bingung. Saya terdiam. Guru itu terus menyuruh saya membaca ayat suci itu. Sambil terputus-putus karena saya diajari oleh teman di balik kaca-saya mencoba membaca ayat suci itu.

“Kamu tidak bisa baca Al-Qur’an, Lina?” tanya guru agama. Saya diam. Akhirnya, guru itu tahu mengapa saya membaca terputus-putus. Guru itu segera menegur teman yang mengajari saya. “Kamu ngapain di situ?” tegur pak guru. Teman saya menjawab bahwa dia sedang membantu saya membaca Al-Qur’an.

“Memangnya Lina tidak mengaji?” tanya pak guru lagi. “Tidak,” jawab saya spontan. Kemudian, guru itu pun bertanya apa agama saya yang sebenarnya. Saya menjawab, Katolik. Guru itu heran mengapa saya ikut pelajaran agarna Islam, sedangkan saya beragam Katolik.

Saya segera menyadari bahwa saya belum Islam. Tapi saya begitu senang mengikuti pelajaran itu. Saya mohon agar saya tetap diizinkan mengikuti pelajaran agama Islam. Lambat laun pengetahuan saya tentang Islam makin dalam. Artinya, saya mulai meninggalkan ajaran agama saya sendiri. Saya malas mengikuti pelajaran agama Kristen setiap hari Jumat.

Untuk dapat mengikuti pelajaran agama Islam, saya minta kepada teman saya untuk membantu mengajarkan saya mengaji Al-Qur’an. Mereka sangat senang. Dengan agak malu, saya mulai belajar dari dasar atau dari alif-ba-ta. Saya menangis, sudah sebesar ini baru belajar alif-alifan. Namun, saya sadar bahwa ini adalah permulaan bagi saya untuk menggapai Islam.

Bukan belajar mengaji saja yang saya lakukan, tetapi saya juga belajar tata cara ibadah, berwudhu, dan shalat. Teman-teman saya terus mengajari, walaupun saya tidak tahu makna dari ibadah itu. Saya begitu senang melakukannya.

Setelah diajari tata cara ibadah itu, saya berpikir bahwa agama Islam itu sangat menekankan kebersihan dan kesucian Bagai mana tidak, sebelum kita melakukan shalat atau menghadap Tuhan (Allah), kita diharuskan untuk bersuci, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Sungguh hal yang menakjubkan. Ini tidak ada dalam tata cara ibadah agama saya: Katolik.

 

Mimpi disuruh Shalat

Suatu malam, saya bermimpi. Dalam mimpi itu, saya dituntun dan disuruh mengambil air wudhu dan shalat oleh seorang bapak dan ibu yang tidak saya kenal. Untuk melakukan shalat, saya diberinya mukena. Pada tangan kanan saya diberikan Al-Qur’an serta tasbih yang dikalungi pada tangan itu juga. Jari-jemari tangan saya digenggam erat oleh mereka. Saya bertambah bingung. Saya berpikir ibadah ini sangat berbeda dengan ibadah agama Katolik.

Pagi harinya, saya ceritakan mimpi itu kepada ibu saya. Setelah mendengar cerita itu, ibu bertanya apakah saya ingin masuk Islam? Saya pun mengiyakan. Tekad saya sudah bulat. Akhirnya, ibu mengatakan agar saya harus membulatkan tekad untuk pindah keyakinan. Katanya, itu hak saya karena saya sudah dewasa dan bebas menentukan pilihan dalam agama.

Niat untuk pindah keyakinan sudah bulat. Keluarga saya tidak menghalangi niat saya. Bahkan, mereka menyuruh saya memanggil guru mengaji ke rumah Saat pengajian dilakukan, mereka ikut mendengarkan. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, atas taufik dan hidayah-Nya, kami sekeluarga akhirnya masuk Islam.

Upacara pengislaman kami sekeluarga berlangsung tepat dua hari menjelang Ramadhan. Pengislaman diri dan keluarga saya dilakukan di rumah dengan dibimbing oleh seorang ustadz. Saya bersuka cita dan gembira karena niat saya sudah terkabul. Dan, bahkan diikuti oleh keluarga saya.

Dengan menjadi seorang muslimah, saya yakin Islam adalah agama yang benar dan baik. Dalam agama Islam saya yakin bahwa apa yang saya minta selalu dikabulkan oleh Allah.

Saya punya kenangan yang membuat saya yakin bahwa Allah itu selalu mendengar doa hamba-Nya. Suatu ketika, saat saya berangkat kuliah, hujan turun deras. Saya nekat akan menerobosnya karena saat itu akan ujian. Saya nekat sambil terus berdoa. Alhamdulillah, doa yang saya baca walaupun hanya bahasa Indonesia, ternyata didengar oleh Allah. Hujan pun seketika langsung berhenti.

Setiap menjelang ujian, saya berdoa agar dapat nilai baik. Alhamdulillah, doa saya terkabul. Sejak saat itu, saya yakin bahwa doa kaum muslimin selalu didengar oleh Allah.

Saya begitu senang menjalankan semua perintah yang diajarkan oleh agama Islam. Puasa, shalat, baik sunnah maupun wajib–adalah ibadah rutin saya. Puasa di tahun pertama keislaman saya sangat berkesan. Saya begitu menikmati ibadah puasa itu.

Untuk mendalami Islam, saya mengikuti berbagai pengajian. Khusus hari Minggu pagi, saya pergi mengaji ke Majelis Taklim Ahad pagi di Masjid Al-A’raf T.B. Walisongo. Setiap mendengar ceramah agama, hati saya bagitu tersentuh, tenteram, dan tenang. Siraman rohani itulah yang menjadi makanan jiwa saya.

Setelah menjadi seorang muslimah, terkadang saya suka membandingkan dengan agama saya yang dulu. Jika di Katolik, saya hanya satu kali dalam satu minggu berdoa di gereja. Tapi, dalam Islam saya bisa lima kali dalam setiap harinya. Dan, itu bisa dilakukan di mana saja. Sebab, masjid dan mushalla ada di mana-mana. Tidak seperti gereja.

Saya bersyukur menjadi seorang muslimah. Selain mudah beribadah, saya juga mendapat saudara baru yang seakidah dan seagama. Saya bertekad untuk terus memegang ajaran agama Islam dan mergalankan semua perintah agama. Saya yakin Allah selalu mengabulkan permohonan dan doa hambaNya.

Mimpi yang menyuruh saga berwudhu dan shalat serta ikut pelajaran agama Islam di sekolah merupakan rahmat yang patut saya syukuri. Sebab, keduanya mengantarkan saya kepada agama yang bertauhid; yang mengajarkan kebaikan dan kebenaran

 

69. Misi Rohani Ulama Penjara Texas Amerika

 

Ulama penjara di Texas, Amerika Serikat, memperjuangkan Islam dengan caranya sendiri. Kini jumlah mualaf di 23 penjara di negara bagian itu kian berlipat.

Imam Omar Shakir melintasi ruang sinder bercat putih dengan tergesa-gesa. Di ujung lorong, sekelompok wanita dengan jumpsuit putih sudah mulai gelisah menunggunya. Rupanya ini yang membuatnya berjalan setengah berlari.

Assalaamu alaikum, damai untuk Anda sekalian, ujar Shakir dengan senyum hormat. Mereka menjawab salam dengan tak kalah takzim. Setelah menyebut alasan keterlambatannya – masalah klasik: kemacetan lalu lintas – Shakir memulai tausiyahnya. Temanya kali ini adalah Menuju Ketenangan Hati dengan Berzikir. Tak menunggu hitungan menit, tausiyah berubah menjadi dialog interaktif. Masing-masing peserta seolah sudah menyiapkan deretan pertanyaan untuk Shakir.

Satu jam waktu yang disediakan seperti kurang. Ia menutup diskusi itu dengan kalimat pendek, Simpan pertanyaan Anda untuk pengajian bulan depan.

Menjangkau kelompok ini bukan hal yang gampang bagi Shakir. Ia harus menempuh perjalanan sejauh 161 km dari San Antonio tempatnya bermukim menuju penjara khusus wanita Halbert Unit di Burnet, timur laut Austin. Shakir sudah hampir tiga tahun menekuni profesi ini, menjadi ulama di penjara. Bersama empat koleganya, dia bergabung dalam program Islamic Faith di 110 penjara di Texas.

Program ini memastikan semua narapidana Muslim mendapatkan hak-hak atas pelayanan rohani sama seperti mereka yang berada di luar penjara. Kini kerjanya mungkin sedikit mudah, setelah sebuah tim relawan yang sebagian besar adalah mualaf bersedia tanpa dibayar untuk membantu mereka.

Di penjara-penjara di seluruh Texas kini terdapat kurang lebih 7.500 Muslim. Banyak di antara narapidana itu menjadi Muslim setelah berada di dalam penjara. Bagi mereka, penjara seperti ladang pencerahan, karena sinar Islam justru ditemukannya di tempat itu.

Bagi Shakir, program ini merupakan cara efektif untuk turut menekan bertambahnya angka penjahat kambuhan di Texas. Kita tengah menghadapi sebuah wabah penyakit sosial, agama menurut saya adalah salah satu obat penyembuhnya, kata dia. Tanpa dasar agama, kata dia, orang akan mati rasa dan kehilangan moralitasnya.

Dia menganggap apa yang dilakukannya – mengajarkan agama kepada mereka yang belum beragama — adalah jihad. Saya senang mengajarkan agama dan melihat sinar teduh memancar dari mata mereka, ujarnya.

Shakir adalah nama hijrahnya. Ia terlahir sebagai Kirk Spencer, lahir di Lima, Ohio, tahun 1958. Menjelang ulang tahunnya yang pertama, orang tuanya meninggalkan kota itu dan bermukim di Schenectady, New York.

Tahun 1974 adalah kali pertama ia bersinggungan dengan paham Islam. Usianya baru 15 tahun saat ia mengenal Islam dari guru seninya yang seorang Muslim.

Dia sempat lari dari rumah karena orang tuanya tidak setuju dia pindah agama. Namun tekadnya sudah bulat, maka di ulang tahunnya yang ke-17, dia menjadi seorang Muslim dan mengganti namanya menjadi Omar Quadir Adib Shakir. Tak harus mengganti nama sebetulnya, tapi saya melakukannya sebagai simbol dari kelahiran kembali diri saya, ujar ayah dari tiga anak umur 23, 21, dan 16 tahun ini.

Pindah agama mengubah hidupnya. Islam bukan agama yang penuh ritual, tapi serangkaian jalan hidup yang menyeluruh, ujarnya. Keinginannya untuk menebarkan damai Islamlah yang membuatnya menjadi chaplain (ulama dengan spesifikasi khusus) dan mengabdi di penjara-penjara di Texas.

Ia bekerja untuk dua dari 23 penjara di Texas, yaitu di penjara El Paso dan Rio Grande Valley. Dua atau tiga kali setahun ia memberi tausiyah di penjara-penjara lainnya.

Di luar tugas itu, ia menjadi imam di Masjid Bilal di kotanya. Masjid ini dimotori oleh 19 keluarga Muslim San Antonio dan menjadi salah satu rujukan warga setempat mempelajari Islam.

Kehadiran ulama penjara sangat penting bagi narapidana Muslim. Seperti dikatakan Curtis Elliott, tak mudah menjadi sorang Muslim di penjara. Banyak ujian, dan kita harus kuat demi iman kita, ujarnya.

Elliott, 29 tahun, tumbuh dalam keluarga Kristen Baptist. Namun ia tak pernah merasakan sentuhan agama masuk ke dalam relung batinnya.

Tahun 1994, karena suatu sebab, ia harus meringkuk di penjara Cotulla untuk waktu 10 bulan. Ia tinggal satu sel dengan seorang tahanan Muslim.

Sama seperti warga Amerika Serikat lainnya, ia memandang miring rekan sepenjaranya itu. Namun, stereotip Muslim makin luntur setelah melihat keseharian sosok rekannya itu. Dia tak pernah menyakiti orang atau menghujat orang. Dia sangat bersih dan santun, Elliot menceritakan kesan pertama tentang rekannya itu.

Sampai di suatu titik, ia ikut sang teman mengaji. Dua tiga kali hadir di pertemuan pengajian, ia yakin memilih Islam. Ini agama yang tanpa keraguan. Agama ini memang buat saya, ujarnya.

Sebelum menyatakan kesilamannya, ia melakukan semua ibadah layaknya seorang Muslim, termasuk shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Tak seperti yang kita bayangkan sebelumnya, puasa tidak membuat kita mati kelaparan, ujarnya tergelak. Ia pun bersyahadat di depan teman-temannya, dengan bimbingan ulama penjara.

Kini ia tak hanya shalat, puasa, dan zakat saja, tetapi menjadi relawan untuk membantu ulama penjara. Di dalam selnya, ia berdakwah dengan caranya sendiri. Ada kebimbangan di awalnya, tapi Anda hanya memerlukan sedikit waktu untuk reevaluasi hidup dan menemukan apa yang telah ditempuh belakangan ini adalah langkah yang keliru, ujarnya.

 

Dibutuhkan tapi Dicurigai

Jumlah penganut Islam di penjara-penjara di Amerika Serikat memang terus bertambah. Sebuah penelitian berskala nasional bahkan pernah dilakukan untuk membuktikan hipotesa ini. Angka paling dramatis diperoleh di kompleks penjara Rikers Island di New York, dimana sebagian besar penghuninya kini telah menjadi Muslim.

Penyebaran Islam di penjara dilakukan oleh para narapidana sendiri. Umumnya adalah di kalangan penghuni kulit hitam, yang diilhami oleh semangat Elijah Muhammed dan Malcolm X, tokoh Muslim kulit hitam AS. Namun belakangan, narapidana etnis Hispanik dan kulit putih juga banyak yang berpindah agama.

Imam Omar Shakir bukan satu-satunya ulama penjara yang namanya banyak dikutip media. Sebelumnya, beberapa nama mencuat sebagai bumbu tulisan berbau pendiskriditan Islam, menyusul temuan meningkatnya angka pertumbuhan Muslim di penjara. Ulama penjara turut berperang melipatkan jumlah ekstemis Muslim jebolan penjara, begitu berita utama beberapa media papan atas Barat menulis.

Banyak ulama penjara dilabeli guru teroris. Atau, berkomplot dengan narapidana teroris. Kasus terakhir adalah apa yang menimpa ulama militer James Yee yang pernah bertugas di penjara Guantanamo.

Biro Lembaga Pemasyakatan AS(US Bureau of Prisons) pernah dikritik habis Mei lalu terkait dengan seleksi ulama penjara yang dinilai lemah sehingga berpotensi menumbuhkan benih-benih terorisme di penjara. Perlu dilakukan langkah penting untuk mengoreksinya, begitu bunyi tajuk utama The Washington Post.

Departemen Kehakiman bertindak sigap menjawab hal itu. Melalui ispektor jenderalnya, Glenn A Fine, mereka menyatakan menerima 13 rekomendasi baru terkait penerimaan ulama penjara baru, termasuk dalam proses screening hingga supervisi mereka. Proses yang sama juga diberlakukan bagi para kontraktor dan relawan yang membantu tugas mereka.

Fine menyatakan, ulama penjara sangat dibutuhkan untuk menyampaikan layanan rohani bagi narapidana Muslim sekaligus meredam mereka. Tanpa ulama penjara, kata dia, layanan rohani akan dipimpin oleh narapidana sendiri dan hal itu justru sangat potensial menimbulkan distorsi dan memunculkan ekstremitas beragama. Dibutuhkan tapi juga dicurigai.tri/wahingtonpost.com

 

70. Willibrordus Romanus Lasiman : Apa Agama Yesus?

 

Ketika beragama Katolik, Lasiman bernama babtis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi. Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.

Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980, Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin berdakwah dari kampung k kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok kampung di kaki Gunung Merapi.

Untuk memenuhi nafkah keluarganya, Willi mengajar di sebuah SMP Negeri di kota Gudeg. Sedangkan ilmu Kristologi yang dimilikinya sejak jadi misionaris, membuatnya menjadi rujukan jamaah untuk bertanya tentang perbandingan Islam dan Kristen. Ustadz Wahid alias pak Willi, adalah mubaligh tangguh yang mahir dalam Kristologi.

Untuk memuluskan dakwahnya, Willi menyusun buku-buku dan VCD untuk kalangan sendiri, berisi kisah nyata perjalanan rohaninya. Hal ini membuat agama lain cemburu pada dakwahnya yang agresif. Tabloid Sabda, media milik Katolik di Jakarta, pernah menyorot Willi di rubrik utama dengan judul cover “Gereja katolik Kembali Difitnah Mantan Misionaris Willibrordus Romanus Lasiman (Ustadz Drs Wachid Rasyid Lasiman)”.

Yang dimaksud Sabda adalah uraian Pak Willi dalam buku Yesus Beragama Islam. Dalam bukunya itu, Willi menyatakan, Yesus sebenarnya bukan beragama Kristen atau katolik, melainkan seorang Muslim. Pemred Tabloid Sabda, Peter, menulis artikel berjudul “Kok berani-beraninya Ustadz Wachid Rasyid Lasiman Meng-Islamkan Yesus”.

Kemarahan Peter dalam tulisannya ini, tampak nyata. Sang Pemred ini menggunakan kata-kata kasar dengan menyebut Willi sebagai orang “ngawur, konyol, naif, melancarkan fitnah dan lainnya. Sementara, di akhir tulisan, Peter mengimbau pembacanya, “Bagi umat Kristian, menghadapi fenomena seperti ini sebaiknya dengan kepala dingin saja. Tidak usah emosi karena tidak ada manfaatnya sama sekali.”

Sementara itu, dalam menghakimi pendapat Willi, peter menulis, “Kalaupun diperbolehkan menyebutkan Yesus itu agamanya Apa? Maka tentu lebih masuk akal mengatakan Yesus beragama Katolik atau Kristen daripada mengatakan Yesus beragama Islam. Tapi, Yesus sesungguhnya bukan pengikut atau penganut agama Kristen Katolik atau Kristen Protestan, melainkan dialah Kristus sang juru selamat manusia dan dunia. Itulah iman orang Kristen,” (hlm 4).

Jadi, apa agama Yesus? pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi yang hangat dan menarik. Jika dijawab Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia, maka dia tak perlu agama dan tak beragama. Maka, pernyataan ini bisa dipahami bahwa Yesus tak beragama, artinya Yesus itu ateis. Menurut Yossy Rorimpadel, dari Sekolah Tinggi Teologi “Apostolos”, Yesus itu beragama Yahudi. Lalu, mengapa pengikutnya tak beragama Yahudi?

Jika Yesus beragama Katolik, mana dalilnya? kapan Yesus memproklamirkan dirinya beragama Katolik? Jika dinyatakan, Yesus beragama Kristen Protestan, lebih tidak masuk akal lagi, Sebab, Protestan lahir pada abad ke-16, saat bergulirnya pergerakan Reformasi gereja yang dimotori oleh Martin Luther dan John Calvin.

Pendeta Yosias Leindert Lengkong dalam buku Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan menyebutkan, istilah “Kristen” muncul di Antiokhia pada 41 Masehi. Dan, yang mengucapkan kata “Kristen” atau “Kristianos” bukan murid Yesus atau orang terpercaya, tapi justru orang-orang luar (hlm.77). Pendapat ini cukup beralasan, karena dalam Alkitab, Yesus tak pernah bersinggungan dengan kata “Kristen”.

Kata ini, muncul pertama kali di Antiokhia setelah Yesus tidak ada. (Lihat Kisah Para Rasul 11:26). Jelaslah, Yesus tak beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Riwayat penyebutan “Kristen” tidak mempunyai asal-usul dan persetujuan dari Yesus. Label dan penamaan Kristen diberikan pada pengikut (agama) Yesus, setelah bertahun-tahun Yesus tidak ada.

Tudingan Peter bahwa Willi “meng-Islamkan” Yesus pun tidak tepat. Karena, yang menyatakan Nabi Isa beragama Islam itu bukan Pak Willi alias Ustadz Wachid, melainkan Allah SWT sendiri. Dalam al-Qur’an disebutkan, satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah ISlam (QS Ali Imran: 19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya disebut muslim (QS Ali Imran:84). Islam telah diajarkan oleh paran Nabi terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pub beragama Islam (QS al-Maidah:111, Ali Imran :52).

Semua Nabi beragama dan berakidah sama, yakni Islam. Perbedaan mereka hanya pada syariatnya (QS al-Hajj:67-68). Rasulullah saw bersabda: “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia dan akhirat. Dan semua Nabi itu bersaudara karena seketurunan, ibunya berlainan sedang agamanya satu (ummahatuhum syattaa wa dinuhum wahid),” (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).

Islam tak mengklaim sebagai agama baru yang dibawa Nabi muhammad ke Jazirah Arabia, melainkan sebagai pengungkapan kembali dalam bentuknya yang terakhir dari agama Allah SWT yang sesungguhnya, sebagaimana ia telah diturunkan pada Adam dan Nabi-nabi berikutnya.

Satu-satunya kitab suci di dunia yang mengungkapkan agama Yesus, hanya al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan, Nabi Isa sebagai Muslim, sedangkan Bibel tidak menyebutkan Yesus beragama Kristen atau Yahudi. Kok, berani-beraninya Peter menuduh Willi ngawur. Lalu, mengatakan lebih masuk akal, jika Yesus beragama katolik atau Kristen daripada Yesus beragama Islam. (sabili/al-islahonline.com)

 

Dari Pesantren ke Pesnatren : PP AL HAWAARIYYUN, Terapkan Diklat Sistem Paket

PONDOK pesantren selama ini identik dengan tempat pendidikan agama Islam dan para santri mondok di lingkungan pesantren. Di Ponpes Al Hawaariyyun, kelaziman tersebut ternyata tidak terjadi. “Kami menerapkan pendidikan kilat sistem paket. Peserta dikelompokkan dalam satu paket dan pelajaran diberikan dengan metode singkat,” kata ustadz Drs H Willibrordus Romanus Lasiman, pengasuh PP Al Hawaariyyun.

Tujuan utama dari pesantren ini adalah membentuk sikap dan wawasan dasar tentang Islam, serta menanamkan ajaran agar santri tidak terpengaruh untuk masuk ajaran agama lain. Misi tersebut sebenarnya sangat berat. Rasanya tidak mungkin diberikan dalam waktu singkat. Namun, karena ustadz Willi sebelum menganut Islam dan kemudian mendirikan pesantren adalah penganut agama lain, sehingga dia mempunyai strategi penguatan aqidah Islam yang praktis dan efektif.

“Cukup dengan pertemuan intensif selama sepuluh jam, saya bisa meyakinkan dan menguatkan kepercayaan santri akan kebenaran ajaran Islam. Tetapi, tidak sedikit santri kurang puas hanya bertatap muka sepuluh jam. Sehingga, rata-rata proses diklat berlangsung tiga hari,” tambah Willi yang setelah menganut Islam bernama H Wakhid Rosyid Lasiman ini.

Selama diklat, rombongan santri tinggal di komplek pesantren yang terletak di dusun Cakran Wukirsari Cangkringan Sleman. Jumlah peserta per paket sangat variatif. Dua santri pun dilayani. Tapi, rata-rata tiga puluh orang. Tingkat usia dan pendidikan tidak menjadi soal. Kebanyakan, santri diklat berasal dari luar daerah, seperti Magelang, Surabaya, Bogor dan Jakarta.

Justru santri dari lingkungan sekitar pesantren jumlahnya minim. Mungkin, mereka belum terbiasa dengan sistem pendidikan kilat. Namun bukan berarti masyarakat sekitar tidak peduli dengan keberadaan Al Hawaariyyun. “Setiap kami menyelenggarakan kegiatan, masyarakat selalu berpartisipasi. Termasuk ketika membangun gedung pesantren,” katanya lagi.

Beberapa santri Al Hawaariyyun merupakan penganut Islam baru. Ini barangkali dilatarbelakangi perjalanan sang ustadz yang sebelumnya non muslim.

Tidak ada semacam standar biaya diklat. Santri diminta untuk menghitung, apa saja yang menjadi kebutuhannya selama diklat. Misalnya kebutuhan konsumsi. Mereka boleh memasak sendiri atau menyerahkan ke pengelola pesantren. Lalu jika santri ada kelebihan dana, boleh berinfak untuk membantu membayar rekening listrik. “Tidak ada ketentuan untuk honorarium ustadz,” aku guru SMP 15 Yogya ini.

Biaya operasional pondok termasuk pembangunan gedung, sebagian besar diambilkan dari hasil penjualan buku karya Willi. Setelah masuk Islam, ia berhasil menerbitkan empat buku. Juga, sebagian gaji Willi dan isterinya sebagai pegawai negeri serta uang transpor yang diperoleh jika berceramah ke luar kota, disumbangkan untuk mendanai operasionalisasi pesantren.

Pesantren ini didirikan sekitar tahun 1987. Berarti tujuh tahun setelah Willi mendalami Islam dan sempat nyantri ke beberapa kiai dan PP Jaga Satru, Cirebon asuhan KH Ayib Muhammad. Selain menyelenggarakan diklat, Al Hawwariyyun juga mengkoordinir penyaluran zakat dan hewan kurban di wilayah Kaki Merapi. Juga, mengkoordinir kegiatan 15 Taman Pendidikan Al Qur’an.

Metode pendidikannya dengan ceramah, diskusi dan latihan memecahkan masalah melalui metode taktis dan praktis. Selama pertemuan, dibiasakan metode dialogis.

Jumlah santri peserta diklat telah mencapai angka ribuan orang. Selain menyelenggarakan pendidikan di lingkungan pondok, pesantren ini juga sering menggelar diklat di luar pondok. Bahkan ke luar kota, seperti Bogor dan Jakarta. “Tidak sedikit pula sekelompok masyarakat mengundang kami datang ke rumah salah satu peserta dan proses diklat dilangsungkan di sana,” tambahnya.

Willi mengaku, sebelum menganut Islam, dia seorang petualang agama. Pernah dibaptis, beberapa kali mengikuti aliran kepercayaan serta nyantrik ke dukun untuk meguru ilmu kanuragan sudah tidak terhitung. “Dari petualangan itu, saya hanya mendapat kehampaan. Tidak ada ketenangan, bahkan yang ada hanya rasa cemas dan takut. Tapi, setelah mendalami Islam, hidup ini jadi tenang dan indah!” tuturnya.(Daryanto)

 

71. Christian Science Monitor: Mereka Memilih Menjadi Mualaf Karena Merasa Damai dengan Islam

 

Populasi warga Muslim di Eropa cenderung meningkat dengan makin banyaknya warga Eropa yang beralih memeluk agama Islam. Christian Science Monitor (CSM) seperti dikutip Islamonline menyebutkan, meskipun tidak diketahui berapa jumlah pastinya, para pengamat yang mengamati komunitas warga Muslim di Eropa memperkirakan ada ribuan wanita dan laki-laki Eropa yang masuk Islam setiap tahunnya.

Para peneliti baik Muslim dan Non Muslim mengungkapkan, ajaran-ajaran agama Islam telah menarik minat banyak warga Eropa yang ‘mencari kedamaian dalam hatinya dan bereaksi atas ketidakpastian moral di kalangan masyarakat Barat.’

Mary Fallot yang masuk Islam tiga tahun yang lalu mengatakan, “Buat saya, Islam adalah pesan cinta, toleransi dan perdamaian.”

Meski demikian, para peneliti pada CSM mengakui ada mualaf yang tertarik dengan aliran Islam yang radikal, tapi jumlahnya tidak banyak. Beberapa diantaranya dihukum karena dituding melakukan aksi teroris seperti Richard Reid yang dikenal sebagai ‘pelaku bom sepatu’ dan John Walker Lindh, warga AS yang ditangkap di Afghanistan.

Kepala intelejen dalam negeri Perancis, Pascal Mailhos dalam wawancara dengan harian yang terbit di Paris, Le Monde sempat mengungkapkan kekhawatirannya atas fenomena itu. Namun ia menyatakan,”Kita harus menghindari untuk menyamaratakan setiap orang.”

 

Lebih Banyak Mualaf Perempuan

Lebih lanjut CSM mengungkapkan, para pakar mengakui hasil penelitian bahwa jumlah mualaf di Eropa lebih banyak dari kaum perempuan ketimbang laki-laki. Meski demikian ada yang berpendapat bahwa hal itu terjadi akibat perkawinan dengan laki-laki Muslim.

“Hal semacam itu sudah biasa, tapi belakangan ini makin banyak kaum perempuan yang memiliki pendirian sendiri,” ujar Haifa Jawad, dosen di Universitas Birmingham, Inggris. Menurutnya, banyak juga laki-laki yang masuk Islam karena menikah dengan seorang Muslimah.

Ditanya soal apakah kehidupan cintanya berkaitan dengan keputusannya memeluk Islam, Fallot yang sejak kecil beragama Katolik hanya tertawa. “Ketika saya bilang pada kolega saya di kantor bahwa saya sudah masuk Islam, reaksi pertama mereka adalah menannyakan pada saya apakah saya punya pacar orang Islam,” kisah Fallot.

“Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas keinginan saya sendiri,” tambah Fallot. Ia menyatakan, ketertarikannya pada Islam karena Islam memerintahkan umatnya untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Alasan-alasan seperti itulah yang menurut para ahli, menjadi fenomena bagi makin banyaknya wanita Eropa yang memilih masuk Islam. “Banyak kaum perempuan yang bereaksi atas ketidakpastian moral yang berlaku di kalangan masyarakat Barat. Mereka menyukai rasa memiliki, kepedulian dan kebersamaan yang diajarkan dalam Islam,” kata Dr. Jawad.

Yang lainnya, menyukai Islam karena ide-idenya tentang masalah-masalah kewanitaan maupun kaum laki-laki yang diatur dalam”Islam memberikan penghormatan pada keluarga dan kaum perempuan, perempuan bukanlah objek seks,” kata Karin van Nieuwkerk,pakar yang mempelajari tentang mualaf dari kalangan perempuan.

Sarah Joseph, mualaf sekaligus pendiri majalah gaya hidup Muslim “Emel” mengatakan, para mualaf di kalangan kaum perempuan mencari sebuah gaya hidup yang indah, jauh dari ekses-ekses feminisme Barat yang kadang tidak akurat.

Sementara itu, Profesor Stefano Allievi dari Universitas Padua Italia mengungkapkan, beberapa mualaf mengemukakan alasan politik atas keputusan mereka memeluk Islam. “Islam menawarkan semangat spiritual dalam berpolitik, menawarkan ide sebuah tatanan yang suci. Alasan ini lebih cenderung diungkapkan laki-laki dan hanya sedikit mualaf perempuan yang mengungkapkan alasan seperti ini,” papar Allievi.

 

Masa-Masa Sensitif

Diluar alasan itu semua, CSM dalam laporannya menuliskan, para mualaf mulai menjalani kehidupannya sebagai Muslim dan Muslimah baru pelan-pelan, mengadopsi kebiasaan Islam sedikit demi sedikit. Fallot misalnya, meskipun sekarang ia sudah mengenakan pakaian yang panjang dan longgar, tapi ia belum siap mengenakan jilbab.

Batool al-Toma yang mengelola program “New Muslim” di Yayasan Islam Leicester, Inggris mengungkapkan, tahap-tahap awal seseorang yang baru masuk Islam adalah tahap yang sensitif.

“Anda tidak percaya diri dengan pengetahuan anda, anda seorang pendatang baru dan bisa saja menjadi mangsa dari berbagai orang baik secara individu maupun organisasi. Pada saat yang sama, orang yang baru masuk Islam harus meninggalkan kebiasaan hidupnya yang lama,” kata Al-Toma.

“Mereka yang mencari jalan yang ekstrim untuk membuktikan keIslaman dirinya bisa menjadi mangsa empuk dan akan mudah dimanipulasi,” tambah Dr. Ranstop. Ia mencontohkan Muriel Degauque, seorang mualaf asal Belgia yang melakukan bom syahid dengan menyerang pasukan AS di Irak.

Meski jumlah mualaf di kawasan Eropa makin meningkat, namun masih banyak negara-negara Eropa yang bersikap diskriminatif dan membuat aturan ketat terhadap warga Muslim. Baru-baru ini, Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) menyampaikan keprihatinannya akan makin meningkatnya sikap tidak toleransi pemerintah Belanda terhadap warga Muslim sehingga menimbulkan ‘iklim ketakutan’ di kalangan warga minoritas.

Laporan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Helsinki Federation for Human Right (IHF) juga menyatakan bahwa Muslim minoritas di seluruh Eropa telah mengalami diskriminasi, dicurigai sikap permusuhan yang makin meningkat. (ln/iol/Eramuslim)

 

72. Natalie Sarah : Penuh Cobaan Menjadi Mualaf

 

Simak Proses Keislamannya : Bagaimana Allah SWT telah memberikan Hidayah memperoleh ‘Keteduhan Islam’

Keinginannya untuk memeluk Islam dating dari hati yang paling dalam. Cobaan demi cobaan dating silih berganti, yang terberat dirasakan ketika harus berhadapan dengan opung (nenek) dan mengakui Islam pilihannya. Atas pertolongan Allah semua dapat dilalui dengan baik, termasuk ketika ia menjalani ibadah umroh untuk pertama kali.

“Aku menjadi mualaf ketika masih sekolah, terus terang aku masih ragu, apakah aku siap dengan segala resikonya. Terutama berbicara dengan mama mengenai status agamaku. Ada perasaan takut diusir oleh keluarga, mengingat mereka adalah Protestan yang taat banget,” tutur Sarah yang pernah bermain dalam sinetron Cintaku Di rumah Susun.

Terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara, memang dirasakan berat oleh Sarah. Selain harus menjadi teladan bagi adik-adiknya, ia pun menjadi tempat curhat dari setiap persoalan Nurmiaty, sang mama.

Tidak mengherankan jika Sarah lebih dewasa dibandingkan dengan anak seusianya. Terbukti Sarah yang menghabiskan masa remajanya di kota Bandung, yang kita ketahui anak mudanya senang dengan pesta dan dunia malam, malah mendapatkan hidayah di kota Kembang tersebut.

Perkenalan Sarah dengan Islam terjadi karena teman-teman sering mengajaknya ke Daarul Tauhid. Menurut Sarah, dalam menyampaikan syiar A’a Gym tidak pernah menyinggung agama manapun, dia lebih sering menyoroti perilaku kehidupan manusia. Itulah yang membuat Sarah tertarik, dirinya bahkan sempat menangis mendengar isi ceramah yang disampaikan. “Lama-lama aku sering ikut ke Daarul Tauhid dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Bulan Juni 2001 dibimbing oleh Ust Aldo di Bandung, aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Selama duatahun aku masih belum berani terang-terangan menjalani ibadah yang diwajibkan dalam Islam,” kenang Sarah yang masih memiliki garis keturunan Aceh dan Batak ini.

Setelah lulus dari SMKK tahun 2001, Sarah balik Ke Jakarta, Ia sempat goyang dengan keyakinannya yang baru, karena tidak punya teman untuk berdiskusi. Hari Minggu jika disuruh ke gereja Sarah selalu kabur, setiap Natal pun ia tidak pernah ada di rumah. Keluarga mulai curiga dengan kelakuan Sarah. Mama adalah orang pertama yang tahu bahwa Sarah telah memeluk Islam. “Untungnya dia demokratis, aku harus yakin dengan pilihanku, jangan pindah-pindah agama,” kata Sarah meniru nasihat mamanya.

Kabar Sarah telah masuk Islam sempat terdengar oleh Opung dan bibi, namun mereka tidak yakin apakah itu benar. “Aku dijauhi oleh keluarga, selama puasa aku jarang ada di rumah, lebaran pun dirayakan sendiri. Aku belajar sholat sampai bisa, itupun aku pelajari dari buku yang dibeli di pasar. Bacaan-bacaan ketika sholat aku tempel di tembok, kalau ruku’ doanya ada di sajadah. Setelah sholat aku sering nangis, mungkin Allah melihat kesungguhanku. Mukena yang aku pakai, dibeli dari hasil kerja menjadi figuran sinetron. Karena setelah lulus sekolah aku tidak pernah minta uang I sama mama,” ujar gadis yang suka mendesain baju ini.

 

Kemudahan Berbicara

Tahun 2004, Sarah mengaku sudah lancar sholat bahkan ia mulai melakukan sholat-sholat sunat, dan dirinya yakin bahwa Islam adalah agama yang mudah serta fleksibel. Di tahun yang sama Sarah bernazar, jika tabungan yang dimiliki terisi karena rejeki yang Allah berikan maka ia akan berangkat umroh, ternyata Allah mendengar doanya. Semua keluarga kaget mendengar keinginan Sarah, opung pun yang selama ini paling ditakuti langsung turun tangan. Dalam situasi yang agak tegang, Sarah memohon kepada Allah kemudahan berbicara. “Di depan opung dan keluarga, aku ngaku telah memeluk Islam dan sampai mati tetap Islam. Seandainya aku mati nanti, aku ingin dikubur secara Islam. Jika keluarga tidak bisa menguburkan, kasih saja jasadku kepada teman-teman, biar mereka yang mengurusnya. Dengan berangkat umroh semoga keyakinan aku kepada Islam bertambah kuat. Akhirnya semua terdiam, karena opung sudah nyerah dengan keputusanku,” tutur Sarah dengan mata berkaca-kaca. Karena begitu beratnya cobaan yang diterima Sarah selama ini, ketika di tanah suci ia tidak mengalami kejadian yang aneh-aneh, malah dirinya mendapatkan banyak kemudahan dalam melaksanakan setiap ibadah di sana. “Setiap hari aku selalu berdoa untuk mama dan adik-adikku agar diberi hidayah oleh Allah, aku ingin mereka masuk Islam tanpa paksaan,” kata Sarah yang telah menjadi jamaah pengajian Syamsul Rizal bersama Ineke Koesherawati.

 

Kurang pede

Sarah yang telah bermain disepuluh sinetron sebenarnya bercita-cita menjadi desainer. Honor yang diterima selama ini mulai diputar untuk modal usaha, seperti membeli mesin jahit dan mesin obras. Ilmu yang didapatkan selama di bangku sekolah tidak terbuang percuma. “Mama sangat senang dengan ideku membuka usaha baju muslim, berarti aku tidak menghambur-hamburkan uang,” katanya yang baru dua bulan menjalankan usaha ini di rumah.

Menurut Sarah, pesanan baju buatannya telah datang dari Ineke dan istri ust. Jefry Buchory, namun ia masih kurang pede membuatnya, takut salah selera. Kebanyakan baju yang diproduksi Sarah modelnya casual, seperti yang dipakai ketika menjadi bintang tamu di beberapa stasiun televisi selama bulan ramadhan kemarin.

Sekitar dua puluh model baju telah dibuat Sarah, harganya pun tidak terlalu mahal. Mulai dari motif dan bahan Sarah yang mencari sendiri. Untuk satu baju ia hanya membutuhkan waktu satu hari. Bahkan Sarah pernah membuat baju yang akan dipakai adiknya pada lomba tujuh belasan hanya dalam waktu satu malam. Mengenai merek baju, Sarah belum menemukan nama yang pas. Ia tidak ingin mencantumkan nama sendiri pada setiap baju yang dibuatnya. (amanah)

Proses Keislaman Selebritis Natalie Sarah

Simak Pengakuannya – Bagaimana Allah SWT telah memberikan Hidayah merubah dirinya ’Menuju ‘Keteduhan Islam’

 

Proses Keislaman Natalie Sarah

AWALNYA sekadar ingin menyenangi hati teman-temannya yang mengajaknya ikut hadir dalam pengajian dan mendengar ceramah Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat.

Akhirnya, pertengahan tahun 2001 Natalie Sarah tertarik untuk memeluk agama Islam. “Saya masuk Islam karena faktor keluarga, diajak temen hadir dalam pengajian Daarut Tauhid, dengar ceramah Aa Gym, sampai akhirnya mungkin mendapat hidayah untuk memeluk Islam,” jelas Sarah.

Ketika pertama kali memeluk Islam, Sarah menganggap agama ini sangat berat. Ini dikarenakan dia merasa kaget saat mengetahui surat-surat yang ada di Alquran harus dihafalnya dalam bahasa Arab bukan Indonesia.

Berkat kemauan dan bantuan dari teman-temannya, Sarah akhirnya bisa menghafal. “Kalau hati kita ikhlas, belajarnya gampang,” ungkapnya.

Namun, menjadi seorang muslimat tak semudah membalikkan telapak tangan. Sarah sempat terjerumus dalam kehidupan malam ketika baru terjun ke dunia hiburan. Tahun 2004, wanita kelahiran 1 Desember 1983 ini kembali memperdalam agama Islam. “Aku senang kalau bisa baca Alquran,” tutur Sarah yang telah bisa membaca Alquran mesti belum lancar.

Saat ini, wanita berhidung bangir ini berharap bisa membaca Alquran hingga khatam. Tidak hanya itu, jika memiliki rezeki, Sarah ingin menunaikan ibadah haji. “Tapi sebelum naik haji, aku ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi mama dan adik-adikku, tutur Sarah.

 

Mualaf Ngumpet-Ngumpet

Tahun ini, Sarah mengaku pengalaman kerohaniannya makin dalam. “Alhamdulillah, meski soal ilmu agama aku belum punya banyak, tetapi dalam hal keimanan, aku merasakan kemajuan yang sangat besar,” ujar Sarah yang kini rajin mengikuti pengajian.

“Sekarang, aku aktif ikut pengajian setiap Kamis malam. Selain itu aku juga selalu ikut I Like Monday di tempat Ustaz Jeffry, tiap Senin malam,” ujar Sarah yang pertama kali mengenal Islam, saat bersekolah di Bandung.

“Pertama kali, karena diajak teman ikut ke pengajian Daarut Tauhid. Kata temanku itu, ‘Sar, kamu dengarin ceramah ustaz Aa Gym, deh. Dia itu pasti bisa menenangkan hati kamu yang kayak sekarang.'”

Saat itu, Sarah memang sedang dalam keadaan labil dan bingung. “Keluargaku sedang dilanda banyak sekali masalah. Kacau sekali, buntutnya bikin kami broken home.” Mengikuti saran sang teman, Sarah yang kala itu masih duduk di bangku SMKK pun pergi mendengarkan ceramah Aa Gym. “Saat itu hati ini rasanya tersentuh banget. Ceramah Aa bagus sekali.”

Tiga kali Sarah mengikuti sang teman ke pengajian. “Yang ke -4, malah aku yang merengek-rengek mengajak mereka.” Yang unik, “Aku selalu datang setelah salat Isya. Soalnya aku takut ketahuan belum bisa salat,” cerita Sarah yang kala itu harus pinjam kerudung sana-sini setiap mau ke pengajian. “Sejak itu, aku merasa sreg dengan agama Islam.”

Sempat timbul kekhawatiran di hati Sarah. “Aku mikir, kalau aku masuk Islam, pasti nanti keluarga dan teman akan menjauhi.” Tapi, “Makin hari keinginan itu rasanya makin mantap. Jadi aku berusaha menguatkan diri dan memilih menjalani apa yang aku rasakan di hati ini,” cerita Sarah yang resmi memeluk Islam sejak Juli 2001.

 

Rajin Istikharah

Kini, 5 tahun menjadi mualaf, Sarah berharap dirinya bisa menjadi muslimah yang baik. “Aku ingin membenahi hati ini, jadi orang yang lebih baik,” ujar Sarah yang setahun belakangan serius belajar baca Al-Quran.

Di bulan Ramadan ini, Sarah bertekad memantapkan pelajaran mengajinya. “Sebisanya aku ingin setiap hari mengaji. Lumayan repot juga sih, mengatur waktu. Soalnya aku juga harus syuting sinetron religi dan jadi presenter acara Ramadan, Jamaah Syamsu Rizal yang tayang di TVRI,” kisah Sarah yang 4 hari pertama puasa kali ini, selalu berbuka puasa di lokasi syuting.

Setiap waktu berbuka, cerita Sarah, “Seluruh pemain dan kru diharuskan makan makanan kecil. Setelah itu kami salat berjamaah, baru kemudian makan bersama. Habis itu, enggak langsung syuting, lo. Pak sutradara malah mengajak kami Tarawih bersama. Benar-benar ini syuting ternikmat yang pernah aku rasakan. “

Untuk sahur? “Aku selalu makan lengkap, nasi dengan lauk pauk. Setiap hari, Mama selalu masakin aku menu yang enak-enak dan bergizi. Maksudnya supaya staminaku tetap oke, dan pekerjaan lancar meski puasa,” cerita Sarah yang juga bergantung pada sang ibu soal urusan bangun subuh untuk makan sahur. “Wah, di rumah, yang bisa bangun subuh kan, cuma Mama seorang,” cerita Sarah yang juga sering ditemani adik-adiknya kala makan sahur ini. “Kadang mereka suka ikut-ikutan sahur juga.”

Satu yang mengganggu benak Sarah, “Membayangkan Lebaran sendirian. Sudah 4 Lebaran ini aku sendirian.

Sedih aja.” Untunglah 2 tahun belakangan ini Sarah sudah punya tambatan hati yang bisa menghibur kesedihannya, Abdullah Rizal. Dengan pengusaha muda yang memiliki darah Arab ini Sarah memang sudah menjalin hubungan nyaris 2 tahun lamanya. “Kami pacaran sejak Januari 2004.”

Diakui Sarah, hubungannya dengan Rizal memang serius. Kapan akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan?

“Wah, kalalu aku sih, sudah ingin sekali menikah, karena nikah itu kan, ibadah. Rizal juga begitu. Pemikiran ke sana sudah ada. Keluarganya juga sudah sering bilang sama aku. Mamaku sendiri juga sudah memberi dukungan untuk aku menikah.”

Lalu, tunggu apa lagi, Sar? “Kami ingin lebih siap lagi secara materi. Bukannya aku merasa kurang dengan apa yang sudah kumiliki saat ini. Bukan. Hanya saja, saat ini aku merasa masih punya banyak pe-er. Masih ada 3 adikku yang harus aku biayai sekolahnya,” ujar gadis yang menjadi tulang punggung keluarga sejak sang ayah pergi meninggalkan keluarga mereka ini. Jadi? “Doakan saja ya, semoga aku enggak harus menunggu lama lagi untuk menikah,” bisik Sarah yang diam-diam kini sering melakukan salat istikharah ini. (tabloidnova)

73. Moh Haryanto Masin (d/h Liem Tjeng Lie) : Mengembalikan Keranda ke Masjid

 

Saya adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga seorang muallaf, sebelum kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama Islam. kami adalah seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah Ketua Mudika (Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami dipertemukan disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di Gereja.

Pergantian agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui pertimbangan yang cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998.

Awal perkenalan saya dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda Kakak ipar saya ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk mendoakan almarhum kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf, satu-satunya anggota keluarga istri saya yang masuk Islam karena pernikahannya dengan seorang gadis Minang)

Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz yang memimpin doa saat itu menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan agar suatu saat kelak ada keluarga dari almarhum yang akan mengikuti jejak almarhum untuk menjadi muslim, untuk membantu mendoakan almarhum. Kata-kata yang diucapkan oleh Pak ustadz, menggetarkan hati saya seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke saya, walaupun saat itu hadir anggota keluarga lain yang non muslim.

Singkat cerita, ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama Islam semakin hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang Islam dan menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang muslim walaupun hanya dalam mimpi.

Suatu hari saya utarakan keinginan saya untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya ” kamu mau menikah lagi apa ? “, saya jelaskan bahwa keinginan saya untuk masuk islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak hati yang terus mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama katholik yang saya yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa saya.

Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan akhirnya ia berkata ” ok kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu anak-anak sudah besar jadi tunggu pensiun dan tinggal di kampung, kalau dikucilkan keluarga sudah tidak masalah lagi “.

Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT, Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan berbunyi “Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun” jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )

Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan “Bintang”, di salah satu cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu menyampaikan kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan : ” Coba kamu puasa Nabi Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga menjadi muslimah”, lalu saya tanya: “Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?” istri lalu menerangkan bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan secara berselang, sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.

Dan karena tekad saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena saya pernah membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman, maka bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.

Alhamdulillah 1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya pun tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak terlintas dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara Islam dengan menggunakan mukenah.Dan keesokan paginya istri saya langsung menceritakan kejadian malam itu dan mengatakan kepada saya untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi warga keturunan Cina yang ingin masuk Islam. Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga keturunan yang ingin masuk Islam.

Akhirnya saya dan istri berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl Lautze Pasar Baru. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif Tanudjaya (sekarang Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA). Ada satu statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk segera bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan ” saya mau masuk islam tapi saya mau belajar dulu” dengan bijaksana Pak Syarif mengatakan ” Proses belajar di Islam itu tidak pernah akan habis, bahkan kita berkewajiban untuk terus belajar hingga kita ke liang lahat, kalau diwaktu anda belajar dan anda belum menjadi Islam, alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam keadaan belum memeluk agama Islam” . Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1 April 1998) akhirnya kamipun bersahadat di Masjid Lautze.

Betapa besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah yang telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin sekali mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang agama Islam yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang sangat lengkap bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di akhirat.

Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti saya menghapus seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik), tetapi kepindahan ini merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama yang lalu, dan merupakan penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa yang telah di putar balikan oleh pengikutNya.

Semoga kisah singkat saya ini dapat membuka mata hati bagi calon mualaf yang sedang menunggu dan untuk menerima Hidayah Allah SWT, dan jika ada hal yang masih ingin ditanyakan dan ingin tukar pikiran saya bersedia untuk membantu dan bisa hubungi saya pada alamat e-mail ini, atau Hp xxxx-xxx-xxxx atau ; 021-xxx-xxxxx Wassalammualaikum wr. wb., Moh Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie).

Seperti yang diutarakan Bpk Moh Haryanto Masin di Milis mualaf indonesia, jika anda berminat berdiskusi dengan beliau dan rekan-rekan lainnya yg turut membantu calon mualaf dan mualaf silahkan bergabung dalam milis mualafindonesia@yahoogroups.com atau hubungi kami di Mualaf Center Online untuk mendapatkan email dan nomor HP Bpk. Moh. Haryanto Masin. ( http://www.mualaf.com )

 

74. Fenomena Trend Masuk Islam di Kalangan Pemuda Perancis

 

Islam menjadi trend baru dan fenomenal di kalangan pemuda sejumlah kota kecil di Perancis. Para pemuda yang baru masuk Islam tampak semakin bangga dan menunjukkan afiliasinya pada Islam, sekaligus mendorong mereka untuk mewujudkan persamaan dan memerangi tekanan sosial yang mereka alami. Meskipun, belum semua kalangan yang baru masuk Islam itu mendirikan ibadah wajib, tapi semangat mereka menunjukkan diri sebagai Muslim, tetap penting disyukuri.

Secara khusus, fenomena menyenangkan itu terjadi di kalangan masyarakat Prancis asal Afrika, Portugal, Spanyol dan Italia yang tinggal di lokasi mayoritas Muslim, sebelah utara Paris khususnya wilayah 93, yang sebelumnya diguncang demonstrasi besar dari warga imigran.

Steve Brodwer, salah seorang mualaf baru sekaligus ketua Organisasi Syahadat yang khusus menangani para mualaf mengatakan, “Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas dan terkadang begitu mencolok tergantung dengan berbagai sebab. Tapi saya yakin bahwa nilai-nilai yang diserukan Islam itu menjadi motif pertama kebanyakan para pemeluk Islam baru di sini.”

Kepada Islamonline, ia menambahkan, “Mereka memandang Islam sebagai agama yang menolak sekte sosial. Ini merupakan simbol revolusi menghadapi sistem sosial yang zalim terhadap kebanyakan kaum Muslim baru yang menolak rasisme, sektarianisme, yang mereka rasakan di sejumlah kota di Perancis.”

Meski anggota organisasi Syahadat yang dipimpin Brodwer, sering merasakan mereka sebenarnya juga belum disiplin melakukan ibadah wajib harian agama Islam seperti yang diinginkan, tapi mereka sangat respek dengan nilai-nilai Islam.

Nicola,22, mengatakan, “Fenomena Islam saat ini sudah terlihat di masyarakat kami. Sejumlah teman saya memeluk Islam meski tidak begitu disiplin dengan ibadah hariannya. Tapi karena Islam telah menjadi tanda perlawanan terhadap sektarianisme dan kezaliman di dunia, mereka menjadi pemeluk Islam.”

Kaitan kondisi sosial dengan bertambahnya pemeluk Islam juga diakui oleh Ghofra, yang juga baru memeluk Islam. “Arus baru memeluk Islam memang sangat terkait dengan latar belakang sosial yang dipandang oleh kaum Muslim baru bahwa Islam memperjuangkan jalan keluar dari kondisi isolasi sosial yang banyak terjadi,” katanya.

Simbol-simbol Islam juga banyak digunakan oleh kalangan pemuda Perancis. Di antara mereka kini sudah kerap terdengar penggunaan kata “Insya Allah”, “Ya Akhi…” dan semacamnya. Sampai musik Perancis beraliran Rap juga memunculkan nama Hamas Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap Israel. Dalam sejumlah lagunya, mereka menyebut nama Usamah bin Ladin, sebagai simbol melawan hegemoni Amerika, tanpa mengaitkannya dengan pemikiran Usamah.

Seorang pemuda berkata pada koresponden Islamonline, “Saya bukan Muslim, dan saya juga belum tahu apakah saya akan menjadi Muslim di waktu mendatang. Tapi saya kagum dengan sikap yang dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang tegas menentang hegemoni Amerika terhadap dunia.”

Dalam sebuah penelitian, terdapat 17% pemeluk Islam Baru di Perancis yang berusia muda, antara usia 18-35 tahun. Muslim Perancis, menurut sensus terakhir berjumlah 5 jutaan orang dari total penduduk Perancis yang jumlahnya 60 juta jiwa. (na-str/iol/eramuslim)

75. dr H J Hadikusuma, Direktur RS Grestelina: Lihat Kedamaian Dalam Islam

 

Semua manusia di hadapan Tuhan sama, yang membedakan adalah keyakinan dan ketaatannya. Serta apapun yang dijalaninya, baginya atas dasar rasionalitas. Inilah yang menjadi pandangan hidup dari seorang dokter keturunan Kediri, dr H J Hadikusuma, juga menjadi direktur RS Grestelina Makassar, yang sudah sekitar 30 tahun memeluk agama Islam.

Ketertarikannya dalam melakukan ‘hijrah’ agama, ke agama Islam, semata-mata karena dia melihat adanya kedamaian dan kesederhanaan dalam ajaran Islam, yang harus diaplikasikan manusia dalam kesehariannya. Walau pun pengakuan dokter ini, Istri dan keluarganya berbeda agama, tapi mereka saling akur dan saling menghargai keyakinan masing-masing.

Dia mencontohkan dalam pelaksanaan ajaran Islam sehari-hari seperti salat lima waktu. Dalam salat, katanya manusia tidak dipersulitkan. “Kita bisa salat di mana saja asal bersih, baik di rumah atau masjid.

Walaupun memang lebih baik jika dilaksanakan berjemaah di masjid. Dan ada satu hal yang saya kagumi, katanya. Alquran, di seluruh dunia sama, tidak ada yang membedakan dengan umat muslim lainnya. Betul-betul sebagai kitab penyempurna,” urai dr Hadi, sapaan bapak lima anak, yang sejak usia 35 tahun menjadi muslim.

Selain Alquran yang membuatnya kagum, dan segera bertafakur kepada Allah swt, adalah kesederhanaan Islam. Dia melihat saat di masjid, semua manusia duduk melantai dan sederajat. Pejabat, orang berduit dan fakir miskin, menjadi sama saat mereka berkumpul dalam mesjid. Itu pertanda katanya, bahwa derajat manusia memang sama, Allah tak pernah membedakannya.

Diakuinya bahwa menjadi muallaf itu, sangat berat tantangannya. Di antaranya harus bisa berseberangan pemikiran dengan orang-orang sekitarnya. “Awalnya memang saya sangat susah beradaptasi dengan lingkungan. Tapi Alhamdulillah, dengan perjuangan yang panjang dan pantang urungkan niat untuk beribadah, maka Allah pun memudahkan jalan saya. Akhirnya keluarga dan lingkungan saya bisa menerimanya,” tutur bapak yang kini berusia 65 tahun ini.

Yang namanya perjuangan, katanya pasti banyak tantangan. Tapi saya tidak urung semangat, tetap berjalan saja. Dia juga memahami Islam tidak hanya sekadar menimbun harta, tapi harta-harta itu wajib disedekahkan pada fakir miskin. Karena katanya, ada hak orang miskin di dalamnya.

“Saya bukan orang yang terlalu pintar soal agama Islam, tapi inilah hal-hal kecil yang saya pahami, kemudian saya coba terapkan dalam keseharian saya. Semua butuh kesabaran dan kebesaran jiwa menghadapi tantangan hidup. Satu yang penting katanya, teguh dengan prinsip. Saya memilih Islam, karena dasar rasionalitas saya terhadap agama ini,” tuturnya dengan ritme yang merendah.

Dia melakukan ‘hijrah’ saat sedang bertugas di daerah Pinrang. Ungkapnya sangat sederhana, katanya. Saya memegang prinsip harus berlandaskan rasio. Itulah yang saya bisa paham, dan kemudian menyeret saya menentukan pilihan untuk hijrah ke agama Islam.

Saat Ramadan, istrinya sangat membantunya. Bahkan sampai menyediakan buka puasa dan sahur. Dia tetap menghargai saya, begitu pula saya. Meskipun sekarang mereka berbeda keyakinan, istrinya memeluk agama Budha.

Intinya, bagi dr Hadi sebagai umat Islam, dia harus tetap mendekatkan diri pada Allah, untuk mencapai rida-Nya, dengan cara seperti yang dilakukan Rasulullah, menegakan salat, puasa dan mengeluarkan zakat. “Apapun yang dilakukan harus dimulai dari niat yang tulus, harus ada dasarnya dan punya tujuan yang jelas. Prinsip ini saya terapkan juga pada anak-anak,” tuturnya kepada Fajar, di ruang kerjanya. (Hapsa Marala)

 

76. KDNY : “I am a Second Wife”

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Masa SMU wanita Amerika itu hancur tatkala dirinya hamil diusia 17 tahun. Ia terpaksa menjadi ‘single mother’ diusia muda. Namun hidupnya merasa nyaman setelah menjadi istri kedua seorang pria Muslim

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata-kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

“I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika. “I did not even finish my High School and got pregnant when I wan only 17 years old”, katanya dengan suara lirih. Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai ‘a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan ‘respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apa tinggal dengan keluarga, dll.

Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut ‘reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

“Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak komunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.

 

Kejamnya Poligami

Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya hanya biasa berfikir kalau Huda ini sangat terpengaruh oleh etike Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

“I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai. “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi. Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”. Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu.

Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diskusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife”. Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak. “I am happier since then“, katanya mantap.

Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya. Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu.

“I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true“, katanya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang istri rela suaminya beristri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbananya bagi kepentingan masyarakat dan agama.

Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam. Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?” Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”. Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhir dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

“Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!

77. Tawina (Sarah): Bergerilya dalam Ibadah

 

KEINGINAN untuk pindah keyakinan adalah cita-cita saya sejak lama. Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga Kristen Katolik. Namun, kami tinggal di lingkungan masyarakat muslim. Ayah saya dulunya penganut Islam, kemudian masuk Kristen karena menikah dengan ibu. Kedua orang tua menginginkan saya menjadi penganut Kristen Katolik yang taat. Tapi, hati nurani saya mengatakan tidak. Sebaliknya, saya malah ingin menjadi umat Nabi Muhammad saw.

Keinginan untuk masuk Islam itu, berawal sejak kecil saat saya melihat umat Islam di sekitar rumah saya menjalankan ibadah keseharian, seperti shalat lima waktu, belajar mengaji, serta merayakan peringatan hari-hari besar Islam (PHBI). Saya sangat senang melihat kaum muslimin menjalankan perintah agamanya yang dilakukan secara rutin. Dalam menjalankan ibadah, mereka tidak merasakan beban yang berat, walaupun sehari semalam harus shalat lima waktu dan ditambah lagi dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Saya bertekad untuk bisa seperti mereka. Saya ingin ibadah setiap hari, bukan seminggu sekali. Dengan ibadah setiap hari, saya yakin Tuhan akan dekat dengan kita.

Menurut mereka, saat kutanyakan tentang ibadah-ibadah itu, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jika seorang muslim melalaikan shalat lima waktu itu, ia berdosa. Setiap muslim juga diharuskan untuk belajar mengaji karena dengan belajar mengaji ia akan dapat memahami isi kitab suci A1-Qur’an. Peringatan hari besar Islam merupakan suatu peringatan atas setiap kejadian atau peristiwa, dengan harapan melalui peringatan tersebut kaum muslimin dapat meningkatkan kualitas ketakwaannya.

Keterangan ini semakin membuat saya tertarik kepada Islam. Dorongan untuk beranjak ke arah itu semakin besar. Saya tidak bisa membohongi hati nurani saya sendiri. Saya berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling sempuma dibanding agama lainnya, khususnya agama yang saya anut. Saya mulai meragukan ajaran-ajaran agama saya sendiri. Saya mulai jarang pergi ke gereja dan bahkan sangat jarang membuka dan membaca Alkitab.

Keinginan memeluk agama Islam rasanya ingin saya segerakan. Tapi, saya takut kepada keluarga saya, terutama ayah. Jika mereka tahu, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya terima. Saya mungkin tidak boleh tinggal di rumah lagi. Keinginan itu, untuk sementara, saya simpan dalam-dalam.

Terus terang, saya tidak bisa membohongi nurani saya sendiri. Saya sangat terkesan pada ajaran Islam. Saya selalu bingung dan terkadang merinding, saat mendengar suara alunan azan dan zikir. Di tengah kebingungan itu, saya merasakan kesejukan dengan suara-suara itu.

Suara-suara itu seakan-akan memanggil diri saya untuk segera memeluk Islam. Menurut saudara-saudara saya dari pihak ayah yang muslin, azan merupakan seruan atau panggilan bagi kaum muslim untuk segera menunaikan shalat. Dan, zikir adalah amalan yang dilakukan setelah shalat, biasanya berbunyi Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar.

 

Mimpi didatangi Bulan.

Selain itu, saya juga pernah bermimpi didatangi empat buah bulan yang bersinar terang dan bermacam-macam coraknya, menghampiri diri saya dan seakan-akan mengajak saya untuk menggapainya. Saya tidak tahu apa makna mimpi itu. Menurut saya, itu mungkin suatu pertanda atau hikmah yang sangat besar yang akan saya terima. Semua kejadian itu saya sembunyikan sendiri agar keluarga tidak tahu. Tapi, saya juga butuh penyelesaian atas semua kejadian itu. Akhirnya, saya cerita kepada saudarasaudara ayah yang muslim. Mereka dengan rasa gembira menyambut keingian saya. Mereka berjanji untuk tidak menceritakan kepada ke1w rga di rumah. Atas saran mereka, saya harus belajar sendiri agar tidak timbul adanya pemaksaan atas perpindahan keyakinan saya itu. Selain kepada mereka, mimpi itu juga saya ceritakan pada bapak guru agama di sekolah.

 

Masuk Islam

Alhamdulillah, taufik dan hidayah Allah SWT akhirnya datang menghampiri diri saya. Dengan dibimbing oleh Bapak Saleh Abu Bakar, saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah di mushala sekolah pada tanggal 15 April 1997. Dua kalimat syahadat saya ucapkan perlahan-lahan. Saya terharu. Mata saya berkaca-kaca saat ikrar syahadat itu berlangsung. Teman-teman yang menyaksikan pun larut dalam keharuan itu. Setelah proses pengucapan syahadat selesai, saya mendapat bimbingan rohani. Bapak Saleh Abu Bakar menjelaskan perihal agama Islam. “Semua teman-tenanmu yang seagama adalah saudaramu, ” katanya. “Dan semua aktivitas hidup jika diniatkan ibadah, maka akan berpahala,” jelasnya panjang lebar.

 

 

Gerilya Beribadah

Terus terang, saya tidak dapat menyembunyikan rasa gembira. Saya gembira dengan wejangan dan nasihat guru agama di sekolah saya itu. Segera saya minta beliau untuk mencarikan nama pengganti boat saya. Oleh beliau diberikan nama Sarah. Kegembiraan ini segera saya ungkapkan dengan sujud syukur. Keinginan untuk menjalankan dan meyakini kata hati nurani telah terwujud. Pindah keyakinan yang meryadi cita-cita saya sejak kecil, terlaksana sudah.

Islam yang kini saya yakini segera saya jalankan. Saya mulai belajar tentang ajaran-ajaran Islam dari orang-orang terdekat, selain dengan guru agama. Mereka sangat mendukung dan membantu serta membimbing saya. Saya belajar shalat, membaca Al-Qur’an, dan aktivitas keagamaan lainnya. Agar tidak ketahuan, saya terpaksa bergerilya untuk beribadah.

Misalnya, shalat lima waktu. Saya terkadang shalat di rumah tetangga atau di sekolah atau tempat-tempat yang jauh dari rumah. Mengapa ini saya lakukan? Karena saya takut ayah tahu dan saya belum siap untuk berterus terang. Ayah saya sangat ketat dalam menerapkan peraturan di rumah. Walaupun begitu, saya tetap bertekad, sekali Islam tetap Islam.

Walau menjalankan ibadah secara “gerilya”, saya ingin menjadikan dm saya seorang muslimah yang salehah Saya bertekad untuk menjalankan semua perintah agama secara balk. Mimpi yang pernah saya alami, akhirnya saya temukan maknanya, yakni ajakan dan dorongan untuk masuk Islam. Keputusan yang saya ambil nil adalah keputusan yang terbaik bagi diri saya

78. Geliat Muslim Tionghoa di Kota Pahlawan

 

Islam untuk semua, juga untuk etnis Tionghoa. Tidak percaya, datanglah ke Surabaya

Mendengar kata etnis keturunan Tionghoa, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang umumnya adalah mereka pasti non-Muslim dan eksklusif. Hanya bergaul dengan kelompok mereka sendiri dan kurang bisa berbaur dengan lingkungan sekitar. Padahal, orang-orang yang biasanya sukses dalam bidang ekonomi ini juga ada yang Muslim dan mempunyai komunitas sendiri.

Komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia terkumpul dalam sebuah wadah organisasi bernama Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI). Dulu, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pergantian nama dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia menjadi Pembina Iman Tauhid Islam itu terjadi pada masa Orde Baru.

Menurut Sekretaris DPP-PITI, H.S. Willy Pangestu, pergantian nama itu terjadi karena ada ketakutan terhadap hal-hal yang berbau Tionghoa. ”Anda bisa lihat sendiri di kartu nama saya, “ ujar Willy sambil memberikan kartu namanya. Dalam kartu nama tersebut memang tertera nama PITI yang lama yang kemudian diganti dengan yang baru, yakni Pembina Iman Tauhid Islam.

PITI merupakan organisasi wadah komunitas Muslim Tionghoa dari seluruh nusantara. Organisasi ini memiliki tujuan mempersatukan kaum Muslimin Tionghoa di Indonesia dalam satu wadah, sehingga lebih berperan dalam proses persatuan bangsa.

Willy juga menolak persepsi sebagian orang selama ini yang menganggap bahwa etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim. ”Tidak benar kalau etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim dan cenderung eksklusif. Itu adalah produk kolonial Belanda yang diteruskan oleh pemerintah RI. Dan paradigma atau stigma itu dibawa terus sampai sekarang,” katanya.

Stigma semacam ini merupakan akibat jangka panjang dari penerapan politik devide et impera yang dilakukan Belanda. Akibatnya kalangan non-pribumi menjadi kelompok terpisah dari kalangan pribumi. Hal tersebut dapat dilihat dalam Regeringsreglement tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).

Selama ini komunitas Muslim Tionghoa tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah bahkan cenderung diabaikan. Dari kalangan Islam yang lain juga kurang mendapat perhatian karena terlanjur tertanam stigma bahwa etnis Tionghoa itu eksklusif dan sulit didekati.

Sebenarnya, kata Willy, kalau mau didata secara akurat, jumlah Muslim Tionghoa di tanah air ini cukup besar. “Namun, pemerintah sekarang ini kan hasil didikan Belanda. Jadi keberadaan PITI ini sengaja tidak diekspos dan diawasi terus. Apalagi sejak pertama kali didirikan, PITI dipimpin oleh orang militer non-Tionghoa. Jadi secara nasional bisa dikatakan PITI habis, kecuali DPW PITI Yogyakarta dan Jatim. Sebab di kedua tempat ini pimpinannya masih getol untuk terus memperjuangkan PITI,” paparnya.

Di Surabaya, komunitas Tionghoa sudah menetap sejak zaman kolonial Belanda. Surabaya merupakan salah satu kota penting di Jawa dan salah satu kota tertua di Indonesia. Di masa kolonial, kota ini berkembang dan menjadi salah satu kota modern. Sebagai salah satu kelompok masyarakat yang datang dan menetap di Surabaya, jumlah orang Tionghoa semakin meningkat. Jika dibandingkan dengan kelompok imigran lain, Arab dan India, masyarakat Tionghoa menempati jumlah terbesar. Hal ini dapat dilihat dari data pada 1920, penduduk Tionghoa di Surabaya berjumlah 18.020 orang, Arab 2.539 orang, dan kelompok etnis Timur Asing lainnya 165 orang.

“Menurut data resmi DPW PITI Jatim, jumlah Muslim Tionghoa di Surabaya sekarang sekitar 600-an. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak dari itu. Hal ini disebabkan selama 30 tahun etnis Tionghoa jarang berorganisasi sehingga menjadi lemah dalam berorganisasi,” ujar Willy, yang juga merangkap sebagai sekretaris DPW PITI Jatim ini.

PITI sendiri sebagai sebuah organisasi, bisa dikatakan masih berjalan tertatih-tatih. Sejak berdiri pada 1961 hingga sekarang, PITI baru menyelenggarakan muktamar sebanyak tiga kali. Pada Muktamar Nasional III yang dilangsungkan di Surabaya, Desember 2005 yang lalu, HM Trisnoadi Tantiono terpilih sebagai Ketua DPP PITI. Sedang H. Mohammad Gozali menjadi Ketua DPW PITI Jatim. Dalam muktamar yang diselengarakan untuk ketiga kalinya itu, PITI menekankan pada pemantapan konsolidasi organisasi yang solid. Semua itu menjadi penting untuk lebih meningkatkan amal ibadah dengan ikut berperan serta aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.

Program utama PITI diarahkan untuk menyampaikan dakwah Islam, khususnya kepada masyarakat Tionghoa. Caranya dengan melakukan pembinaan dalam bentuk bimbingan menjalankan syariat Islam di lingkungan keluarga yang masih non-Muslim. Kemudian persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta pembelaan dan perlindungan bagi mereka yang karena masuk Islam, namun bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

PITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

 

Lukisan Cheng Ho

Yayasan ini berfungsi memayungi aktivitas PITI. YHMCH juga menerbitkan majalah KOMUNITAS serta buku lainnya. Salah satunya adalah buku yang berjudul Prasasti Masjid Laksamana Cheng Hoo yang berisi sejarah hidup Laksamana Muhammad Cheng Hoo. Semua itu menjadi sarana komunikasi dan informasi serta sosialisasi PITI kepada sesama warga Tionghoa. Upaya sosialisasi PITI tersebut setidaknya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Setiap hari Jumat minimal ada satu orang dari etnis Tionghoa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Cheng Hoo.

 

Mesjid Cheng Hoo Surabaya

PITI Jatim bertekad membangun jembatan komunikasi dengan warga sekitar yang terlihat dalam ragam kegiatannya. Setiap Jumat PITI Jatim membagikan buku serta alat tulis kepada anak-anak kecil yang berada di sekitar sekretariat PITI. Warga sekitar juga dilibatkan dalam kegiatan sosial lainnya seperti pembagian sembako murah, perayaan Nuzulul Qur’an, perayaan ulang tahun Masjid Cheng Hoo, Gema Ramadhan PITI, donor darah serta pengobatan tradisional akupunktur Tiongkok.

Pusat aktivitas PITI, selain dilakukan di gedung sekretariat PITI yang beralamat di Jalan Gading No. 2 Surabaya, juga dipusatkan di Masjid Cheng Hoo. Masjid berarsitektur Tiongkok ini mulai dibangun pada 10 Maret 2002 dan selesai 13 Oktober tahun 2002 dengan biaya sebesar Rp 700 juta. Muhammad Cheng Hoo dipilih untuk nama masjid sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee (Cheng Hoo) atau dikenal dengan nama Ma Zheng He.

 

Mesjid Cheng Hoo Semarang berbentuk Replika Perahu

Bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih popular dengan sebutan Sam Poo Kong. Bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang. Ekspedisi Laksamana Muhammad Cheng Hoo (1405-1433 M) yang berkeliling dunia untuk membuka “Jalur Sutera dan Keramik’’, selalu melintasi Indonesia (Nusantara).

Masjid ini bernaung di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 jamaah ini, terletak pada arsitekturnya. Arsiteknya adalah Ir. Aziz dari Bojonegoro, kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasan dan Pembangunan masjid dari PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Ustadz Drs. H. Burnadi dipilih menjadi Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo.

Masjid ini memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan. Karena, Islam adalah agama fitrah yang cocok untuk semua. Kartika Pemilia (Surabaya) / ( Sabili )

 

79. Muhammad Syawaludin (d/h Adrie Oral Lolowang) : Islam agama terakhir dan pelengkap

 

Nama lengkap saya Adrie Oral Lolowang, saya dipanggil Adrie tetapi lebih banyak orang memanggil saya Oral karena nama tersebut adalah nama kesayangan. Saya dilahirkan di Tompasa Baru, sebuah desa di daerah kabupaten Minahasa Selatan – Manado – Sulawasi Utara pada tanggal 5 -10-1972. Saya lahir dari keluarga Pendeta atau keluarga Pelayan Rumah Tuhan yang sering disebut Keluarga Lewi, ka-rena bapak saya pendeta, kakek saya pendeta dan buyut saya-pun Pendeta.

Setamat SMA th. 1991, saya melanjutkan belajar di Sekolah Alkitab di kota Malang- Jawa Timur, dan setelah tamat dari Sekolah Alkitab saya langsung ditugaskan di daerah Cileungsi sebagai Pengerja atau Pembantu Pendeta. Selama bertugas di Cileungsi, saya tinggal di Kenari Mas hingga saat ini. Pada tahun 1997 saya melanjutkan belajar ke Sekolah Alkitab di Cianjur-Jawa Barat., Pada tahun 2003, saya melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah tinggi Theologia di Jakarta untuk mendapatkan kesarjanaan dibidang theologi – S1/Sth- namun tidak sampai selesai. Pada tahun 2005 saya kembali melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Theologia di Lampung cabang Bekasi.

Pada tahun 1995 saya menjadi Pengajar Pendidikan Agama Kristen di SMA Negeri 1 – Cileungsi dan telah mengikuti Penataran Guru-Guru Agama Kristen tingkat Propinsi sebanyak tiga periode yaitu pada tahun 1995, 1999 dan 2003 yang dilaksanakan oleh Bimas Kristen Jawa Barat, dan berhenti menjadi penga-jar setelah memeluk agama Islam. Setelah menjadi guru honorer selama 10 tahun, seharusnya pada tahun 2006 ini, saya akan mengikuti pengangkatan PNS sebagai guru agama Krsiten tetapi batal karena memeluk agama Islam.

Pada tahun 2003, saya dipercaya memimpin Badan Kerja Sama Gereja yaitu gereja-gereja di tingkat Kecamatan sebagai Sekretaris untuk periode 2003-2007, namun pada tahun 2004 saya memutuskan untuk tidak aktif dalam Badan Kerja Sama Gereja tersebut. Jabatan terakhir saya adalah sebagai Gembala atau Pimpinan salah satu Jemaat sebuah Gereja dan berhenti setelah memeluk agama Islam.

 

Islam agama terakhir dan pelengkap

Selama dua sampai tiga tahun saya memendam dan mengubur gejolak dan pemberontakan dalam batin saya, saya merasakan bahwa pemahaman yang saya dapatkan dalam agama Kristen, sepertinya harus ada sesuatu yang melengkapi semua yang aku yakini. Semakin menyelidik kebenaran tentang Alkitab dalam pelajaran Theologia semakin saya mendapatkan kemungkinan kekeliruan dalam Alkitab. Semakin saya belajar tentang Alkitab semakin saya mendapati Islam agama yang dapat menyempurnakan keyakinan yang selama ini saya pelajari dalam Perbandingan agama.

Dan akhir dari semua gejolak dan pemberontakan yang ada dalam batin saya adalah saya menyadari dengan sendirinya bahwa saya merasa yakin dan menyimpulkan Islam sebagai Agama Terakhir dan Agama Penyempurna.

Namun, apakah lantas saya langsung memutuskan untuk memeluk Islam dan meniggalkan agama kebanggaan saya, bapak saya, kakek saya dan buyut saya ?

 

Itu tidak mungkin…….

Kata hati kecil saya : ‘Lihatlah jabatanmu dan lihatlah keluargamu, yang telah memberikan kecukupan dan kebanggaan hidup selama ini, apakah kamu akan meninggalkan semua itu untuk memeluk agama Islam ? Apakah Islam dapat mengganti pekerjaan dan jabatan untuk masa depan kamu ?’

Betul apa kata hati kecil saya, apakah setelah memeluk Islam saya dapat memperoleh kecukupan hidup atau bahkan kebanggaan, apakah saya bisa mendapatkan pekerjaan setelah saya masuk Islam, atau siapkah saya mengambil semua resiko yang mungkin terjadi karena memutuskan untuk masuk Islam ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bergejolak, melahirkan keraguan dan pemberontakan dalam batin saya, walaupun saya telah mengetahui kebenaran Islam, tetapi, saya tidak berani mengambil resiko untuk keluar dari Kristen dan melepaskan apa yang telah saya dapat selama ini.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi saya mulai melakukan perlawanan dan pemberontakan yang sebetulnya tidak perlu, mulai dari melawan pimpinan gereja yang menurut saya beliau keliru dalam mengambil kebijakan hingga pemberontakan yang saya lakukan dalam keluarga, misalnya saya sering tidak di rumah hingga berbulan-bulan hanya untuk menyembunyikan gejolak kebenaran dalam batin dan saya sering melakukan hal yang tidak baik, misalnya saya pernah mendekati seorang perempuan muslim yang tidak mungkin akan diterima oleh Gereja karena jabatan Pendeta dan Guru Agama. Kristen tidak bisa dikotori dengan pergaulan dengan wanita yang bukan istrinya. Saya sering mengambil barang milik keluarga sebagai pelampiasan ketidak puasan dalam beberapa hal yang saya temui dalam keluarga saya.

Namun, saya masih tetap melakukan tugas sebagai Pendeta dan Guru Agama seperti sebelumnya, dan apa yang saya lakukan pasti semua itu dapat dikatakan penuh dengan kemunafikan. Hingga pada akhirnya, sebagai Pimpinan Jemaat dan seorang guru, saya mulai melakukan hal-hal yang tidak benar karena saya mulai ragu terhadap apa yang selama ini saya yakini dan tidak dapat menyembunyikan sikap keraguan saya tersebut.

 

Keputusan masuk Islam

Jumat 18-11-2005 sekitar jam 15.00 WIB, seusai mengajar Pendidikan Agama Kristen dan mengarahkan Panitia Natal Pelajar Kristen 2005 yang saya pimpin, dengan pikiran dan batin berkecamuk, yang seharusnya selesai tugas itu saya langsung pulang ke rumah, tetapi saya justru berbalik arah untuk mencari masjid dan seorang ustadz atau kiai yang bisa memberi jawaban terhadap apa yang saya cari selama ini dan setidaknya mengislamkan saya.

Sampai di sebuah masjid, saya masuk lihat kanan-kiri sambil menunggu orang yang bisa saya temui untuk menyelesaikan pergolakan hidup ini. Ternyata sudah hampir 2 jam saya di masjid itu, tidak ada seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira bisa memberi petunjuk bagi saya. Lalau saya memutuskan keluar dari masjid tersebut untuk mencari masjid yang lain dengan harapan dapat menjumpai seseorang yang dapat memberi petunjuk kepada saya.

Tidak terlalu lama akhirnya nampak menara masjid yang tingi, maka langsung saya langkahkan kaki menuju masjid tersebut dan melakukan hal sama seperti pada masjid yang pertama, yaitu tengok kanan-kiri sambil menunggu seseorang yang dapat diharapkan bisa memberikan petunjuk atas permasalahan yang saya alami. Rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan saya untuk mendapatkan jawaban kebenaran, karena hingga beberapa jam tidak seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira bisa memberikan petunjuk bagi saya.

Karena tidak mungkin saya terus menunggu, maka saya coba menuju ke warung samping Masjid dan memberanikan diri bertanya kapada penunggu warung tersebut apakah ada kiai atau ustadz di sekitar masjid ini.

Tetapi, rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan usaha saya, karena ternyata penunggu warung tersebut baru sebulan bekerja di tempat itu sehingga tidak dapat memberikan jawaban seperti yang saya inginkan, bahkan nama daerah tempat dia tinggalpun tidak tahu.

Akhirnya, saya teringat bahwa di depan jalan ada plang sebuah yayasan dan terdapat nomor Telepon Yayasan Pengobatan. Karena yayasan tersebut berada dekat dengan masjid, pikir saya, tentulah orang yang ada dalam yayasan tersebut mengetahui ada tidaknya kiai atau ustadz di sekitar masjid tersebut. Maka saya beranikan untuk menelpon yayasan tersebut dan langsung menanyakan tanpa basa-basi apakah ada kiai atau ustadz yang dapat membimbing saya untuk masuk Islam.

Dari seberang telepon yang saya hubungi memberi jawaban bahwa kebetulan pemilik yayasan itu sudah biasa meng-Islam-kan orang. Akhirnya dengan diantar oleh penerima telepon tadi, saya menemui pimpinan yayasan itu untuk mau meng-Islam-kan saya. Kata hati saya, untuk sementara saya akan merahasiakan ke-Islam-an kepada orang lain, cukup diri saya telah meyakini Islam.

Rupanya Allah SWT masih memperpanjang tekad saya untuk sampai kepada Islam, karena ternyata, setelah saya kemukakan keinginan saya, pimpinan Yayasan tidak langsung mau menerima niat baik saya, padahal menurut prasangka saya dan mungkin juga menurut prasangka kebanyakan orang, saya akan langsung diterima dengan sambutan hangat bagai orang yang baru lahir bahkan seperti raja baru yang dihormati dan dihargai, tetapi justru tidak.

Mereka mengintrogasi saya seperti seorang tersangka, bertanya tentang indentitas, latar belakang dan banyak hal tentang saya secara detil dan teliti, mereka tidak langsung meng-Islam-kan saya seperti yang saya harapkan, tetapi mereka mempersilahkan saya untuk datang kembali besok hari untuk di-Islam-kan.

Sabtu 19-11-2005 saya kembali ke tempat itu, dan karena saya belum di khitan, sebagai bagian dari jalan saya untuk memeluk agama Islam, hari itu juga saya dikhitan, dan pada hari Minggu 20-11-2005 jam 18.30 WIB saya dibimbing membaca dua kalimat syahadat dan sekaligus memakai nama Islam Muhammad Syawaludin.

Sampai kisah ini ditulis, pihak gereja telah mengetahui ke-Islam-an saya, saya masih tinggal di gereja bersama istri yang juga pimpinan jemaat, tentu saja saya tidak bisa selamanya tinggal di dalam gereja, karena geraja tersebut adalah rumah dinas saya dari ke-gereja-an dan gereja hanya diperuntukkan bagi orang-orang Kristen, dan saya harus siap terusir dari gereja tersebut yang berarti saya akan terpisah dengan keluarga saya untuk menempuh jalan yang lain yaitu jalan menuju keselamatan dunia-akhirat.

Doa dan dukungan dari saudara-saudaraku sesama muslim, sangat saya harapkan, agar saya tegar berada di jalan Islam hingga matiku. ( al-islah )

Untuk Bapak Syawaludin yang dikasihi Allah SWT….,

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

80. KDNY : “Rahasia Elizabet”

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Mantan juara renang se Amerika Serikat selama dua kali berturut-turut itu akhirnya masuk Islam. Liz , begitu ia akrab dipanggil, bahkan bercita-cita memiliki kolam renang khusus untuk sisters

Setahun lebih sudah, Liz, demikianlah kami biasa memanggilnya, memeluk agama Islam. Aku masih ingat di suatu siang hari, dia datang ditemani oleh teman-temannya dari Columbia University dan menyatakan tekad untuk menjadi Muslimah. Umurnya kala itu masih beliau, kurang dari 22 tahun. Dengan uraian air mata dan diiringi pekikan “Allahu Akbar” gadis cantik dan tinggi semampai itu dengan nama lengkap Elizabet Stwouwart akhirnya mengucapkan “kalimah syahadah.” Sejak itu, keislamannya belum pernah dibuka ke orang tuanya yang tinggal di New Haven, sebuah kota kecil di negara bagian Connecticut Amerika Serikat.

Bapaknya seorang keturunan Belanda dan telah menetap di Amerika sejak ratusan tahun. Sementara ibunya adalah keturunan Ukraina yang juga telah lama turun-temurun di Amerika. Alasan Elizabeth tidak membuka keislamannya kepada orang tuanya, menurutnya, karena dia masih muda dan masih membutuhkan uluran tangan orang tuanya untuk sekolah.

Elizabeth adalah mantan juara renang se Amerika Serikat selama dua kali berturut-turut (tahun 2003 dan 2004). Sebelum masuk Islam, Liz masih menjadi pelatih renang profesional di salah satu klub renang di New York. Dia bahkan bercita-cita untuk mempunyai kolam renang khusus bagi sisters.

Pertengahan tahun lalu, Liz berhasil menyelesaikan sekolahnya pada Economic School Columbia University. Dengan mudah juga dia diterima bekerja pada sebuah perusahaan konsultan di bidang telekomunikasi, Sprint. Dalam melakukan kerjanya sebagai konsultan, Elizabeth harus melakukan perjalanan setiap Minggu ke berbagai kota, dan harus pulang ke New York di akhir pekan. Salah satunya, untuk tetap bisa belajar Islam di Islamic Forum for New Muslims di Islamic Center.

Satu hal yang menarik dari Elizabeth ini adalah, karena punya teman-teman dari berbagai negara, termasuk Saudi Arabia di Columbia, yang, seringkali jika datang ke kelas selalu memakai cadar. Biasanya saya menggoda dengan bercanda, “Sejak kapan jadi princess Liz?” Anak pendiam ini biasanya hanya menjawab dengan senyum. Idul Fitri lalu Elizabeth bersama para muallaf lainnya kami ajak ‘berhalal bihalal’ ala Indonesia ke berbagai rumah pejabat Indonesia di New York. Liz, nampaknya sangat senang dengan makanan-makanan Indonesia.

 

Maryam Kembali ke Bumi

Bulan Maret lalu, Elizabeth turut diundang sebagai peninjau dalam konferensi ulama Islam dan Yahudi di Seville, Spanyol. Alhamadulillah, dengan pakaian Muslimah yang sangat rapi, Elzabeth menjadi pusat perhatian berbagai kalangan di berbagai tempat yang kita singgahi di Spanyol. Ketika mata-mata membelalak melihat Elizabeth itu, saya bercanda “Anda dan pakaian Muslim anda jauh lebih memikat ketimbang wanita-wanita yang tengah telanjang itu.” Gadis rendah hati ini biasanya hanya menjawab “thank you Imam Shamsi”.

Di konferensi itu sendiri, banyak orang yang hampir tidak percara kalau Elizabeth adalah orang Amerika asli. Kebanyakan menyangka kalau dia adalah Muslimah dari Lebanon. Sheikh Atuwajiri, orang Saudi yang juga Direktur Unesco, di suatu saat pernah mengatakan kepada Elizabeth “I thought you are one of our princesses.” Tentu Elizabeth hanya tersenyum seraya berkata “Thank you so much”.

Pada saat istirahat biasanya terjadi interaksi dengan peserta-peserta lainnya. Salah seorang isteri Rabbi Yahudi dari Jerman mendekati Elizabeth “Are you married?” Liz menjawab “No!”. Isteri Rabbi itu bertanya kembali, “Why then you cover your head?” Dengan tegas Elizabeth menjelaskan bahwa dalam Islam kewajiban menutup rambut dimulai sejak seseorang mencapai umur baligh. “And I think I am matured enough to wear it”, candanya.

Saya yang kebetulan dekat dari mereka berdua menyelah “Mom, why then you dont wear your scarf, while you are a married lady and a wife a Rabbi?”. Dengan senyum ibu itu menjawab bahwa dia memakainya, tapi tidak dengan kain, melainkan menutup rambut aslinya dengan rambut palsu. Saya dan Elizabeth hanya tersenyum mendengar penjelasan isteri Rabbi itu.

Di saat akan berpisah, isteri Rabbi tiu kembali lagi ke Elizabeth. Entah serius atau bercanda dia mengatakan “Since your parents are Catholics, you are a Muslim, what do you thin if you marry a Jewish?”. Elizabeth dengan serius menjawab “We Muslim girls are not allowed to marry non Muslim men”. Sang ibu meninggalkan Elizabeth dengan senyum kecut.

Satu lagi peristiwa menarik di Seville. Ketika kami dibawa keliling kota untuk melihat-lihat dari dekat kota klasik itu, Elizabeth tentunya ikut dengan hijab dan pakaian Muslimah yang rapi. Sekali lagi, para turis dan masyarakat di pinggir-pinggir jalan pasti tertarik untuk memandang Elizabeth. Entah itu karena kecantikannya, atau karena pakaiannya yang unik. Saya yang melihat kejadian itu biasanya bercanda, “Liz, probably they think Mary has come again to give birth to Jesus”. Elizabeth kembali tersenyum seperti biasa.

 

Membuka rahasia

Beberapa hari sekembali dari Spanyol, Elizabeth mengirim emai dan meminta buku-buku yang kiranya cocok untuk ibunya. Menurutnya, kalau bisa mengenai “parenting in Islam”. Dengan sigap saya jawab “You have it next Saturday”. Saya kira Elizabeth sudah mulai mendekati orang tuanya untuk memberitahu keislamannya.

Tapi rupanya kepergian Elizabeth ke Spanyol menjadi awal terbukanya rahasia keislamannya ke orang tuanya. Saat di Spanyol, ibunya senantiasa berkirim email dan bertanya kegiatan apa yang anaknya itu. Mau tidak mau, Liz, tentunya tidak ingin menyembunyikan bahwa yang dia ikuti adalah pertemuan ulama Islam dan Yahudi.

Mendengar “Yahudi dan Islam” sang ibunya terkejut. Namun menurut Elizabeth, dia tidak “shocked” dan juga tidak marah. Tapi, bapaknya belum tahu karena ibunya tidak memberitahukan perpindahan agama anaknya. Di awal pemberitahuan Elizabeth rupanya tidak jelas, sehingga ibunya menyayangkan anaknya berpindah agama ke Yahudi. Tapi sepekan sekembali dari Spanyol, di saat bapaknya berulang tahun, ibunya membuka rahasia itu. Bahwa sang anak telah berpindah ke agama Yahudi. Elizabeth hanya terdiam dan geli.

Setelah perayaan selesai, Liz mendekati ibunya dan menjelaskan bahwa dia tidak pindah agama ke Yahudi tapi ke Islam. Ibunya dan bapaknya tambah bingung (confused). Bahkan adik perempuannya menampakkan rasah marah. “You will not find a husband here. You must go to the Middle east”.

Hari Sabtu kemarin, 22 April, cerita terbukanya rahasia ini diceritakan oleh Elizabeth kepada teman-teman mualaf. Matanya nampak bening, mengingat relasi dengan orang tuanya menjadi renggang. “Saya kira mereka mulai berusaha untuk memutuskan hubungan dengan saya”.

Saya hanya memberikan nasihat padanya, “Teruskan saja komunikasi Anda dengan orang tua dan adik kamu. Saya yakin, semua akan berlalu dan segera pulih seperti semula”. Saya kemudian menceritakan pengalaman-pengalaman yang lebih pahit bagi mereka yang menerima hidayah Allah. Dan saya ingatkan, “ujian yang menghadang memang bukan mudah, tapi justru itu yang akan semakin menempa keimanan dan keislaman kamu”.

Percakapan itu diiringi dengan minum air zamzam dan makan kurma yang kami bawa dari tanah haram. Harapan kami, semoga minuman air zamzam itu menjadi pelicin jalan yang akan ditempuh oleh Elizabeth di masa depan. Doa kami menyertaimu, Liz!

81. R. Erna R.S. : Salam dan Kesucian Islam Membukakan Hati Saya

 

SAYA dilahirkan dari keluarga Kristen Protestan yang taat. Kedua orang tua saya adalah orang yang sangat tekun menjalankan ibadah, baik ke gereja maupun ibadah yang diadakan di lingkungan masyarakat. Berkat ketelatenannya itu, ayah saya dipercaya sebagai penatua. la memimpin gereja di suatu distrik atau wilayah di tempat tinggal kami. Tak heran, jika kami–anak-anaknya–mengikuti jejak beliau, aktif di lingkungan yang sarat dengan aktivitas kerohanian itu.

Sebagai anak tertua, saya lebih menonjol dalam bidang kerohanian. Sejak kecil, saya biasa mengikuti Sekolah Mingguan. Saya selalu menjadi panutan bagi yang lain. Saya selalu terpilih sebagai duta atau wakil teman teman dari gereja untuk mengikuti pertandingan atau perlombaan perlombaan yang diadakan gereja secara rutin setiap tahun.

Hingga dewasa dan sampai saya pindah ke kota Jakarta, kemampuan saya dalam berorganisasi di bidang kerohanian di lingkungan gereja maupun kantor-sangat diperhitung kan. Di sini, saya pun selalu dipercaya memegang kepengurusan.

Walaupun banyak kegiatan yang saya ikuti di gereja, bahkan sampai menyita waktu, baik malam maupun siang hari, sejauh itu saya hanya senang dan gembira pada saat kegiatan itu berlangsung. Tetapi jika kegiatan itu berakhir, maka yang tinggal hanyalah penat, bosan, dan capek. Demikianlah kehidupan rutinitas saya yang selalu monoton tanpa ada perasaan lega atau bahagia, sehingga ada rasa rindu menanti kegiatan kegiatan gereja lainnya.

Karena hal-hal ini tidak membuat saya merasa berarti, suatu ketika saya coba-coba non aktif dari kegiatan, namun tidak ada bedanya. Maksudnya, meskipun saya tidak aktif, tetapi kerinduan ingin kembali bergabung dengan teman-teman atau kegiatan gereja, sama sekali tidak ada. Karena hal inilah, saya mulai berpikir dan koreksi diri mengenai masa depan saya. Apakah saya bisa hidup tanpa arah yang pasti? Sehingga pada suatu waktu saya tertegun dan merenungi hidup, mengapa kehidupan saya hanya sebatas senangsenang sementara, tanpa ada kedamaian atau kebahagiaan dalam sanubari.

 

Kabur dari Rumah Paman

Sampai suatu hari terjadi peristiwa yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hidup saya. Saya pergi meninggalkan rumah (pada waktu itu saya tinggal bersama paman). Saya melakukannya karena ada hal yang tidak bisa saya terima atas perlakuan keluarga paman kepada saya. Selanjutnya, saya mengontrak rumah sendiri.

Pada saat seperti itu, tak satu pun teman-teman seiman menolong saya. Mereka malah mencemooh saya dengan praduga yang tidak berujung pangkal. Tapi, saya merasa bahagia di saat saya jauh dari keluarga, saya menemukan suatu contoh yang arif di lingkungan tempat tinggal saya yang baru dengan warganya yang mayoritas beragama Islam.

Di sini, kaum muslimin setiap bertemu atau berkunjung tidak lupa mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.” Sepengetahuan saya, pengucapan salam yang menjadi wajib bagi seorang muslim itu, tidak dikenal di lingkungan Kristen. Bagi umat Kristen tidak ada salam khas yang wajib diucapkan jika saling bertemu.

Selain itu, masalah kebersihan dan kesucian bagi umat Islam sangatlah dijunjung tinggi. Maksudnya, meskipun kita sedang kotor (bagi wanita haid) itu tidak menjadi masalah untuk masuk ke dalam gereja menjalankan ibadah dan memegang Alkitab. Saya pun tidak pernah mendengar yang namanya bersuci atau hadas.

Maka dan sanalah saya mulai tertarik mempelajari agama Islam, walaupun secara sembunyi-sembunyi karena takut diketahui oleh orang lain, terutama oleh adik saya yang kebetulan tinggal bersama saya. Ternyata, sepandai-pandainya saya menyimpan niat, toh akhirnya tercium juga oleh adik saya. Terjadilah percekcokan. Meskipun demikian, saya tidak menyerah.

Saya mulai belajar menjalankan ibadah shalat, meskipun saya belum masuk agama yang saya pelajari ini. Sampai akhi nya teman saya mengusulkan agar saya berdialog tentang agama Islam dan Kristen, untuk lebih membuka wawasan saya mengenai agama Islam. Setelah melakukan dialog itu, rasanya tempat saya yang hakiki, memang di agama Islam.

 

Masuk Islam

Ternyata, teman saya mengetahui kegundahan saya itu. la pun menyarankan, jika memang sudah mantap, masuklah ke agama Islam. Jangan setengah-setengah. Berkat bantuannya, saya diantar ke Pondok Masjid Pondok Duta, Cimanggis. Pada tanggal 10 September 1994 setelah shalat magrib, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, disaksikan anggota remaja Masjid Pondok Duta, karena bertepatan dengan pengajian remaja.

Alhamdulillah, sejak saat itu saya merasa seperti baru dilahirkan dan hidup ini terasa berarti, ditambah wejangan pak ustadz dan teman-teman remaja masjid. Dan yang paling saya kagumi, ada seorang ibu yang menghadiahkan saya benda berharga yang belum pernah saya miliki. Dan sampai sekarang ibu itu adalah figur yang saya kagumi. Saya ingin seperti beliau yang selalu bertindak sabar dan arif.

Sejak itu kehidupan saya berubah dan yang drastis adalah sikap keluarga dan teman-teman di lingkungan kerja saya. Mereka mengucapkan tuduhan-tuduhan yang sangat menyakitkan dan bahkan sampai teror pun datang. Tapi meskipun demikian, berkat pertolongan Allah SWT dan doa teman-teman seiman, teror dan tuduhan pun berangsur-angsur hilang seiring bergulirnya waktu.

Alhamdulillah, setelah saya menjadi muslimah, ridha Allah tak henti-hentinya datang. Saya diberi jodoh, dan kini telah dika runia dua orang anak, putra dan putri. Semoga anak-anak kami ini menjadi anak yang saleh dan salehah yang setia pada agamanya.

 

82. Alexandra Gottardo : Cinta mendorongnya menjadi Mualaf

 

CINTA bisa mengalahkan segalanya. Kalimat itu agaknya layak ditujukan kepada pasangan Tio Nugros dan Alexandra Guttardo. Bagaimana tidak, demi melanggengkan jalinan cinta yang sudah dirajut setahun belakangan itu, Alexandra yang kerap disapa Sandra, siap menjadi mualaf.

“Saya bukan kiai atau romo yang sangat kaku dalam masalah ini. Bagi saya, apapun agama itu, tujuannya pasti baik,” papar Sandra beralasan.

Langkah Sandra untuk menjadi seorang muslim bisa dimaklumi. Dengan keyakinan yang sekarang dia anut, kekasihnya yang penggebuk drum grup musik Dewa itu langsung mengajak Sandra menuju tahap hubungan yang lebih serius.

Itu bisa dilihat dari sebuah cincin pertunangan yang kini menghiasi jari bintang sinetron ini. Yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga, dukungan keluarga terus menguat atas keputusan yang dia ambil.

“Keluarga memang membebaskan semuanya pada saya. Karena sudah besar, semua keputusan ada di tangan saya. Tidak ada satu pun dari pihak keluarga yang memaksakan keinginannya. Bahkan, mereka selalu berdoa bagi kebahagiaan saya,” jelas Sandra kepada tim Hot Shot belum lama berselang.

Jadi, tidak heran kalau saat ini Sandra punya kesibukan baru, yaitu mengumpulkan serta membaca literatur tentang agama Islam. Uniknya lagi, semua literatur itu didapat gadis ini dari keluarga sendiri. “Sebagian dari keluarga saya memang muslim, sebagian lagi ikut Papa yang Katolik. Jadi saya tinggal pinjam dari keluarga Mama,” terang Sandra. (Ad-110905/SCTV)

83. H. Burhan Napitupulu : Cinta mendorongnya masuk Islam

 

Cinta itu buta, kata orang. Tapi buat Burhan Napitupulu, karena cinta, hidup menjadi sebuah pilihan. Karena cinta pula, keyakinan lamanya terguncang hingga cintanya pada Islam mengalahkan segala-galanya. Bukankah ini skenario Tuhan juga?

Sejak lahir, saya sudah diberi nama oleh orang tua saya dengan nama Islam: Burhan. Di belakang nama saya ada marganya: Napitu-pulu. Orang biasa menyapa saya dengan panggilan Burhan. Meski saya beragama Nasrani, saya belum pernah dibaptis oleh pastur.”

Begitu lelaki kelahiran Medan, 2 Agustus 1956 ini, memulai percakapan. Di Tapanuli Utara, tempat ia dibesarkan, mayoritas masyarakatnya beragama Nasrani. Sejak kecil, Burhan memang dibesarkan dalam lingkungan tradisi dan adat istiadat Batak yang kuat. Karenanya, ia harus mentaati adat-istiadat masyarakat setempat.

Walau ayah-ibunya penganut Kristiani “(Protestan) yang taat, Burhan jarang ke gereja. Seperti anak muda lainnya, ia lebih suka nongkrong dengan kawan-kawannya di pinggir jalan ketimbang ke gereja. Burhan sendiri mengaku, ia bukan seorang penganut Kristiani yang taat. “Sejak muda saya memang sudah koboi. Artinya kurang bimbingan dalam hal agama. Saya matangnya justru di perantauan,” ujarnya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Beranjak remaja, Burhan sudah bertekad merantau ke kota besar, seperti Surabaya, Jakarta, hingga Ujung Pandang. Selama di perantauan, ia menemukan seorang gadis cantik asal Sulawesi Selatan bernama Any, yang kini menjadi istrinya.

Kenapa ia tertarik dan mencintai lawan jenisnya yang jelas-jelas berbeda keyakinan? “Karena sejak semula, saya memang tidak begitu tertarik dengan agama saya sendiri. Dalam Islam, saya merasakan kemudahan untuk menikah. Berbeda, bila saya harus mengikuti adat saya, terlalu banyak syarat-syaratnya. Bahkan harus dilihat asal-usulnya. Tegasnya, Islam itu simple, mudah, tidak bertele-tele, dan tidak ada keraguan di dalamnya,” ungkap Burhan dengan logat Bataknya yang kental.

Sejak pacaran, Burhan sudah menge-tahui, kekasihnya itu adalah seorang Mus-limah. Kedua orang tuanya, juga Muslim yang taat. Meski dari segi akidah berbeda, mereka sama-sama mencintai dan me-nyayangi. “Kesamaan lainnya, kami juga sama-sama orang susah. Bayangkan, sampai kami punya anak empat, rumah pun masih ngontrak. Tahu sendiri, nasib orang kontrakan, kalau sudah masuk tanggal 20, pasti bingung. Karena uang hasil bekerja sudah menipis, terlalu banyak kebutuhannya. Tapi, Tuhan memang Maha Adil, saya selalu diberi kucukupan untuk memenuhi nafkah keluarga. Alhamdulillah.”

Semasa pacaran, Burhan memang sudah membuat pilihan bila ia harus menikah dengan gadis yang berlainan akidahnya. Cintalah yang mendorong ia membulatkan tekad untuk memilih Islam. Di depan penghulu dan disaksikan oleh masing-masing keluarga, Burhan mengucapkan syahadat. Ia bukan hanya resmi menjadi suami yang sah, tapi juga resmi menjadi seorang Muslim.

Begitu mengetahui putranya telah menjadi Muslim, orang tua Burhan menerimanya dengan tangan terbuka. Ayahnya hanya mengatakan, “Itu terserah pribadi kamu. Saya tidak bisa mewakili kamu dan kamu juga tidak bisa mewakili saya.”

“Cintalah yang mendorong saya masuk Islam. Ketika itu, saya memang bukan cinta Islamnya, tapi karena wanita yang hendak saya nikahi. Yang pasti, walaupun saya sudah menjadi Muslim, hati saya belum Islam. Meski KTP saya Islam, saya tidak pernah menjaiankan shalat lima waktu ketika itu. Jangankan shalat, ke masjid pun hamper nggak pernah.”Sebagai ayah, saya jarang di rumah, karena sering ke luar kota. Ditambah lagi, dengan lingkungan tempat saya bekerja, di mana saya sering berhubungan dengan orang Chinese” ujarnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

 

Hidayah Allah

Dalam kesehariannya mengarungi kehidupan berumah tangga, suatu ketika Burhan memperhatikan anak-anak dan istrinya sedang shalat. “Ketika itu, saya melihat anak saya sembahyang, sedangkan saya sendiri tidak. Lama kelamaan, saya merenung, mau kemana sebetulnya hidup saya ini. Apa sebetulnya yang saya cari. Bukankah kebahagiaan dunia tiada yang abadi. Semua pasti akan ada akhirnya. Sejak itulah, saya seperti mendapat hidayah. Saya pun berpikir, apalah gunanya harta, kalau tak membuat hati ini menjadi tenang.”

Dari perenungan itu, ia mulai beranjak mempelajari Islam, tepatnya baru tahun 2000 yang lalu, sejak ia tinggal di Pasir Jambu, Kampung Lima, Kabupaten Bogor. Di kampung inilah, Burhan merasakan lingkungan dan masyarakat Islamnya yang kental. Mereka bukan hanya ramah, rukun, tapi juga membawanya pada suatu perubahan. Ia mulai menjalankan shalat lima waktu. Tahun 2003 Burhan pun berangkat haji.

Melihat perubahan itu, istrinya sangat terharu, begitu juga anak-anaknya. “Yang pasti, saya tidak disuruh-suruh. Shalat yang saya lakukan ini adalah karena kesadaran saya sendiri. Lagipula, saya bukan tipe orang yang suka dipaksa-paksa. Murni, saya shalat karena panggilan hati saya. Tak ada yang lain. Yang saya rasakan, semakin saya melanggengkan shalat, batin saya terasa makin tenang, makin tenteram. Saya menyadari, bahwa shalat bukan lagi sekedar meng-gugurkan kewajiban, melainkan menjadi kebutuhan manusia sebagai hamba Tuhan. Dengan shalat, saya tambah bersyukur. Karena Allah selalu memudahkan jalan keluar dan menambahkan nikmatNya kepada kami sekeluarga.”

Burhan tidak menganggap shalat hanya membuang-buang waktu saja. Shalat justru membuat dirinya menjadi disiplin. Shalat membuat ia semakin mencintai keluarganya. “Saat ini, kalau saya tidak shalat, rasanya seperti ada yang kurang. Bahkan, saya seperti punya utang saja. Karena itu, sesibuk apa pun, saya harus tetap shalat. Karena bagi saya, shalat itu menjadi kenikmatan tersendiri. Ada semacam kesadaran, tidak melulu dunia yang dicari, tapi bekal untuk di akhirat juga harus dicari.”

Sepuluh hari menjelang puasa Ra-madhan, Burhan diundang warga masyarakat setempat untuk menghadiri rapat pembangunan masjid. Tak dinyana, semua warga menunjuknya sebagai ketua panitia pembangunan masjid, ia pun dengan spontan menyatakan kesanggupannya. Padahal, ia merasa kurang dalam hal agama, bahkan butuh bimbingan. “Berbekal semangat tinggi, saya berhasil menggalang dana sebesar Rp. 10 juta dalam kurun waktu seminggu. Sejak itu saya semakin dipercaya oleh masyarakat, sehingga saya diangkat menjadi Ketua Masjid Babussalam, Pasir Jambu, Bogor,” ujarnya.

 

Buah Merantau

Kesuksesan Burhan selama merantau tak membuatnya menjadi angkuh dan sombong. Ia justru semakin bersyukur. Ayah dari enam anak ini menyadari bahwa masa lalunya adalah masa-masa yang sulit. Untuk mengubah hidupnya itu, ia bekerja apa saja. Yang penting halal, begitu prisipnya.

“Pertama kali merantau, saya bekerja sebagai serabutan. Mulai dari tukang panggul, makelar atau menjual mesin pabrik, hingga wiraswasta. Saya memang sering berpindah-pindah tempat kerja. Terakhir ini, saya bekerja di sebuah pabrik sandal Swallow, dan vulkanisir ban.”

Tekad Burhan memang ingin maju, ia tidak takut hidup sengsara selama di perantauan. layakin Allah melihatnya. Prinsip hidupnya, selalu berbuat baik pada orang lain. Karena itulah ia sukses. Tiga tahun yang lalu misalnya, ia mengangkat anak asuh yang baru berusia 5 hari.

“Suatu malam, ada yang ngetok-ngetok pintu rumah saya. Seorang nenek menyerahkan bayi itu kepada saya. Dia mengaku tidak punya biaya untuk merawatnya. Saya tidak tahu darimana datangnya nenek itu. Yang pasti, dia tidak mau anaknya dibunuh seperti berita di media massa, karena aborsi,” cerita Burhan.

“Sejak saya belajar bersyukur, Allah menambah nikmat kepada saya, Saya merasakan hidup yang berkah. Kalau dulu saya ngontrak, sekarang saya punya 40 pintu kontrakan. Kenikmatan itu saya yakin, bukan karena saya pintar atau semata keringat saya, tapi semua berkat karunia Allah. Saya yakin benar itu. Saat ini saya malah khawatir, semakin banyak rumah kontrakan, saya jadi takut nggak kuat menahan godaan. Kalau lihat teman-teman saya, semakin maju mereka semakin berantakan hidupnya. Mudah-mudahan saja saya tidak kufur nikmat.”

Kini, Burhan aktif sebagai pengurus Pondok Pesantren AI-Kariman, Bogor. Banyak hal yang ia lakukan untuk membangkitkan kesadaran umat agar menyisihkan sebagian rezeki mereka demi memelihara agama Allah. Menurut Burhan, umat Islam ini sebetulnya kaya. “Karena agama Islam mengajarkan agar setiap Muslim yang punya harta mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %. Nah, kalau setiap orang yang punya harta mengeluarkan rezekinya sebesar Rp. 10 ribu saja, ini sudah menjadi aset yang sangat besar. Sayang aset ini sulit direalisasikan, karena masalah kesadaran yang kurang.”

Kini, sudah 24 tahun Burhan hidup bebahagia bersama istri dan anak-anak tercinta. Sebagai orang Batak, ia membantah anggapan bahwa orang Batak kalau gagal tak akan balik ke kampung halamannya. Yang benar, menurut dia, adalah bila sudah berhasil, pasti akan pulang ke kampungnya. “Hanya saja, sejak saya merantau 12 tahun yang lalu, baru sekali saya pulang kampung.” (amanahonline)

 

84. Oey Kiam Tjeng : Islam, Jalan Terbaik untuk Kami

 

Siapa sangka kalau pada akhirnya jalan Islam juga yang menjadi pilihan hidup saya, sekian lama batin saya terasa kering dan rindu akan sentuhan rohani, seperti yang saya dapat dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. ini. Saya merindukan Islam, agama yang insya Allah akan memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada saya dan keluarga. Sava lahir di Cirebon, 18 Mei 1950 dengan nama Oey Kiam Tjeng. Meski terlahir sebagai WNI keturunan Cina, saya bersyukur karena masih diterima di lingkungan tempat tinggal saya, yang tentu saja didominasi kaum pribumi.

Mereka, orang-orang Cirebon, sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya, adalah pemeluk agama Islam yang taat. Saya yang ketika itu masih kanak-kanak, sedikit-banyaknya jadi tahu apa itu Islam, lewat apa yang dikerjakan oleh teman-teman sepermainan, juga orang-orang Islam dewasa yang berada di sekeliling saya. Masa kanak-kanak adalah bagian terindah dalam hidup saya, karena pada masa itu saya tidak pemah merasakan ada perbedaan di antara manusia.

Saya tidak peduli kalau kulit saya kuning bersih dan bemata sipit, sementara teman-teman saya yang lain berkulit sawo matang atau kehitam-hitaman, dengan mata dan bibir yang besar dan juga termasuk soal agama yang kami anut.

Saya yang saat itu beragama Budha, sesuai agama keluarga kami, seringkali pula duduk di pengajian, karena teman-teman saya hampir semuanya ada di sana saat selesai shalat magrib, sampai menjelang isya. Saya merasa, apa yang saya lakukan saat itu adalah hal yang wajar-wajar saja, sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya yang lain. Apa yang saya anggap biasa-biasa itu, temyata tidak demikian di mata orang tua saya. Mama sempat menegur saya ketika saya dengan polos menirukan gerakan orang shalat, seperti yang pemah saya lihat saat bermain di rumah teman yang beragama Islam. Mama bilang saya tidak boleh sembarangan melakukan gerakan itu.

“Itu gerakan ibadah yang dianggap suci dalam agama Islam. Jangan sembarangan” Teguran mama saya patuhi. Saya tidak lagi sembarangan meniru gerakan orang shalat, karena saya mulai tahu kalau itu adalah semacam pelaksanaan ibadah yang suci dalam agama Islam, yang harus dihormati.

 

Dianggap Orang Luar

Pada akhirnya, apa yang selama ini saya khatiwatirkan terjadi juga, yang membuyarkan impian masa kecil saya tentang indahnya arti hidup tanpa ada perbedaan lahir maupun batin. Saat sekolah di SMU, saya mulai dianggap sebagai “orang luar”, karena saya memang sedikit berbeda dengan mereka, orang-orang Indonesia ashi. Namun, saya tetap berkeyakinan kalau semua itu cuma berlaku sebagai ejekan teman-teman belaka. Tekad yang ada dalam hati saya saat itu cuma satu, meski cuma WNI keturunan Cina, tapi saya juga punya semangat dan rasa cinta tanah air Indonesia, seperti pribumi lainnya.

Pada masa-masa itu pula, status keagamaan nyaris tak pernah mendapat perhatian saya. Saya memang beragama Budha, cuma sebagai syarat agar tidak dicap sebagai orang yang tak beragama. Hal itu berlangsung terus, sampai saya lulus SMU, kuliah di Akademi Pelayaran, dan bekerja beberapa tahun lamanya.

Tahun 1979, saya bertemu seorang gadis cantik yang juga ketutunan Cina, beragama Kristen. Namanya Thio Loan Kiok. la tipe gadis idaman saya. la cantik, pintar, dan berasal dari keluarga baik-baik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981, kami resmi menikah sesuai agama calon istri saya, Kristen Katolik. Meski demikian, saya menolak untuk dibaptis dan diberi nama baru. Saya bilang, “Saya mau menikah dengan calon istri Katolik, tapi tidak untuk dibaptis.” Waktu itu kami menikah di Cirebon, dan selanjutnya menetap di sana.

Setelah menikah dan punya anak, seharusnya saya merasa puas. Apalagi usaha yang saya jalani di Cirebon cukup berhasil dan membuat kehidupan kami cukup, bahkan berlebih. Tapi, tidak demikian kenyataannya. Kadangkala saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam diri saya, yakni status keagamaan saya. Entah mengapa, perasaan itu datang dalam hati dan mengganjal pikiran saya. Tapi saya berusaha untuk tidak terlalu larut dalam keadaan itu dengan jalan menyibukkan diri pada pekerjaan.

 

Menerima Islam

Tahun 1985, saat saya memutuskan untuk pindah ke Plered, Jawa Barat. Bisa dikatakan ini sebagai awal pertemuan saya kembali ke Islam dan itu terjadi lewat kejadian tidak disengaja dan unik. Ceritanya bermula saat istri saya yang mengurusi KTP mendapatkan status keagamaannya (tak disengaja) tertulis Islam, padahal ia beragama Kristen Katolik. Tapi istri saya anehnya tidak merasa keberatan dengan kesalahan itu. la yang memang sudah tidak terlalu aktif dengan kegiatan di gereja, yang terletak di kota Cirebon, bahkan terlihat senang-senang saja dengan ketidak sengajaan petugas kecamatan itu.

Saya pun jadi iri, hingga saya katakan pada pengurus kecamatan untuk mencantumkan agama Islam dalam KTP saya. Permintaan saya itu disambut antusias oleh pegawai kecamatan itu, hingga akhirnya jadilah kami berstatus agama Islam, meski hanva dalam KTP.

Selanjunya, istri saya jadi semakin tertarik pada agama Islam. Begitu pun saya. Dari peristiwa KTP itu, saya merasa seolah-olah itu adalah jalan kami berdua untuk menjadi seorang muslim. Jalan menuju Islam antara saya dan istri saya memang sedikit beda. Kalau istri saya barangkali lebih menggunakan perasaan, terutama seperti yang is ceritakan betapa is merasa ingin sekah mengenakan mukena yang biasa dipakai wanita muslimah saat shalat, maka saya ‘lebih menggunakan rasio atau akal’.

Saya coba mencari tahu apa itu Islam lewat buku-buku secara diam-diam. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun lamanya mencari-cari, pada 10 November 1991, saya dan isteri resmi menjadi pasangan muslim, lewat bimbingan Drs. H. Salim Badjri. Proses pengislaman yang berlangsung di Cirebon itu adalah awal kebahagian yang sava dapati saat ini. Setelah masuk Islam nama saya berganti menjadi H.M. Andaka Widjaya.

Meski pada tahun-tahun pertama keluarga dari pihak istri saya, yang kini bernama Hj. Siti Aisyah Kristanti, kurang bisa menerima hal itu, tapi kami berdua menganggap itu sebagai bagian dari perjalanan keislaman kami.

Kini, saya dan istri serta anak-anak, hidup bahagia di Plered, membuka usaha yang bisa dibilang berhasil. Saya bahkan segera bergabung dengan Yayasan Karim Oey, sebuah lembaga yang anggotanya adalah orang-orang peranakan Cina yang masuk Islam. Kantor pusatnya di Jakarta.

Dan, saya dipercaya untuk menjabat sebagai kepala perwakilan Cirebon. Dan, yang paling membuat sava bahagia adalah bahwa saya dan istri sudah menunaikan ibadah haji yang kami laksanakan pada tahun 1995. Sungguh nikmat Allah SWT tiada terkira kepada kami sekeluarga. Dalam hati saya berkata, inilah jalan hidup terbaik untuk sava. Insya Allah saya tidak akan pernah lagi lepas dari jalan Islam ini.

Oleh Dian dan Yusuf/Albaz dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

85. KDNY : Shalat di Stasiun Menggetarkan Hatiku!

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Diiringi gema “Allahu Akbar!”, siang itu pria cokelat asal Trinidad itu resmi menjadi Muslim setelah mengucapkan syahadat menjelang shalat Ashar.

Pemuda berkulit cokelat asal Trinidad itu terpana melihat pemandangan di depannya. Mata Dion, yang berusia 26 tahun itu, tak henti-henti mengarah ke sekelompok Muslim yang sedang shalat dengan khusyu’nya di tengah riuh-rendah stasiun kereta di sebuah kota di Belgia. Dion seperti tersambar petir. “Saya nggak tahu, tiba-tiba karena melihat mereka shalat di stasiun hati saya bergetar,” katanya.

Seusai mereka shalat, Dion memberanikan diri bertanya, siapa mereka dan apa gerangan yang mereka baru lakukan? Setelah mendapatkan jawaban dari mereka, pemuda yang bekerja sebagai akuntan di Stamford, Connecticut, itu tidak pernah habis berpikir. Ada pikiran yang berkecamuk keras, antara percaya dengan perasaannya sendiri dan apa yang dia kenal selama ini tentang Islam.

Tiga minggu sesudah kejadian itu, Dion bertemu saya di the Islamic Forum for non Muslim New York yang saya asuh. Rambutnya panjang. Gaya berpakaiannya membuatku hampir tidak percaya kalau hatinya begitu lembut menerima hidayah Ilahi. Biasanya ketika menerima pendatang baru di kelas ini, saya mulai menjelaskan dasar-dasar Islam sesuai kebutuhan dan pengetahuan masing-masing peserta. Tapi hari itu, tanpa kusia-siakan kesempatan, saya jelaskan makna shalat dalam kehidupan manusia, khususnya dalam konteks manusia modern yang telah mengalami kekosongan spiritualitas.

Hampir sejam saya jelaskan hal itu kepada Dion dan pendatang baru lainnya. Hampir tidak ada pertanyaan serius, kecuali beberapa yang mempertanyakan tentang jumlah shalat yang menurut mereka terlalu banyak. “Apa lima kali sehari tidak terlalu berat?” tanya seseorang. “Sama sekali tidak. Bagi seorang Muslim, shalat 5 waktu bahkan lebih dari itu adalah rahmat Allah,” jawabku. Biasanya saya membandingkan dengan makan, minum, istirahat untuk kebutuhan fisik.

Setelah kelas bubar, Dion ingin berbicara berdua. Biasanya saya tergesa-gesa karena harus mengisi pengajian di salah satu masjid lainnya. “Saya rasa Islam lah yang benar-benar saya butuhkan. Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Muslim?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Saya diam sejenak, lalu saya bilang, “Saya bukannya mau menunda jika kamu benar-benar yakin bahwa ini jalan yang benar untuk kamu. Tapi coba pastikan, apakah keputusan ini datang dari dalam dirimu sendiri.”

Dengan bersemangat Dion kemudian menjawab, “Sejak dua minggu lalu, saya mencari-cari jalan untuk mengikuti agama ini. Beruntung saya kesini hari ini. Kasih tahu saya harus ngapain?” katanya lagi.

Alhamdulillah, siang itu juga Dion resmi menjadi Muslim setelah mengucapkan syahadat menjelang shalat Ashar. Diiringi gema “Allahu Akbar!” dia menerima ucapan selamat dari ratusan jama’ah yang shalat Ashar di Islamic Center of New York.

Sabtu lalu, 8 April, Dion termasuk salah seorang peserta yang mengikuti ceramah saya di Yale University dengan tema “Islam, Freedom and Democracy in Contemporary Indonesia”. Pada kesempatan itu saya perkenalkan dia kepada masyarakat Muslim yang ada di Connecticut, khususnya Stamford. Sayang, belum ada tempat di daerahnya di mana dia bisa mendalami Islam lebih jauh. Hingga kini, dia masih bolak balik Stamford-New York yang memakan waktu sekitar 1 jam, untuk belajar Islam.

 

86. Jaw Mei Hwa : Ancaman dan Siksaan Tak Menggogahkan Keislamanku

 

SAYA dilahirkan dari keluarga Nasrani yang fanatik, 23 April 1977 di Palembang, Sumatra Selatan. Tetapi sebagai anak sulung, saya telah dipersiapkan menjadi pewaris ajaran agama nenek moyang kami, yaitu Budha. Oleh karenanya, sejak dini saya dididik dan ditempa dengan ajaran-ajaran Sidharta Budha Gautama

Sebaliknya, lingkungan masyarakat tempat tinggal kami didominasi penduduk pribumi yang notabene kaum muslim. Mereka cukup konsisten dengan agamanya. Itu dapat saya saksikan dengan aktivitas kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di masjid dekat rumah kami. Masjid menjadi pusat kegiatan mereka. Dari anak-anak, remaja, kaum ibu, dan kaum bapak, menggunakan masjid itu sebagai tempat pembinaan. Pokoknya, tiada hari tanpa kegiatan. Ini amat berbeda dengan yang saya saksikan di wihara (rumah ibadah umat Budha). Wihara tampak amat lengang dan sepi dari aktivitas kemasyarakatan. Entah dari mana asal mulanya, saya jadi sering membanding-bandingkan antara Budha dan Islam.

Saya lihat kaum muslimin tampak begitu gembira setiap kali berada di masjid. Dan yang paling berkesan buat saya, setiap kali mendengar mereka membaca Al-Qur’an, hati saya seperti terang dan damai. Bahkan, dari bilik hati saya seperti ada bisikan, “Mengapa kamu tidak mengikuti ajaran mereka. Pandanglah Islam secara keseluruhan dan objektif.”

Semakin saya bandingkan, saya semakin memahami kesempurnaan dan kebesaran Islam. Sementara itu, orang tua saya tidak tahu pergolakan yang terjadi di dalam hati saya ini, karena saya terlihat oleh mereka masih aktif pergi ke wihara. Padahal, pada saat itu saya sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap ajaran Sang Budha. Contohnya, Tripitaka sebagai kitab suci umat Budha, menurut nalar saya, tidak mampu menjawab persoalan-persoalan yang menjadi ganjalan saya secara tuntas, seperti persoalan yang menyangkut konsepsi ketuhanan dan kehidupan sesudah mati.

Berbeda dengan Al-Qur’an yang pernah saya baca terjemahannya dari pinjaman teman saya. Kitab suci kaum muslimin itu, menurut saya, mampu menjawab semua persoalan kehidupan dan kemanusiaan secara tuntas. Bahasanya mudah dipahami dan dapat diterima akal. Meskipun hati saya diliputi kebimbangan terhadap ajaran Budha, tetapi saya tetap aktif ke wihara. Tekad saya, sebelum melepaskan keyakinan lama, saya hares terus menggali dan mencari keutamaan agama Islam.

Dari konsepsi ketuhanannya, agama Islam dengan konsep tauhidnya mampu menjelaskan kemahaesaan Tuhan dengan bahasa yang sederhana, namun lugas dan tuntas. Terjemahan Al-Qur’an surat al-Ikhlas ayat 1-5 benar-benar membuka mata hati dan nalar saya. Sementara, menurut agama Budha, Sidharta Gautama sebagai pembawa ajaran Budha juga dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Ini kan rancu, manusia dianggap Tuhan, begitu pikir saya.

Satu lagi, umat Budha percaya terhadap peristiwa reinkarnasi. Misalnya, jika seorang manusia selama hidupnya berbuat jahat maka ketika ia mati rohnya menitis ke dalam jasad hewan. lni menurut saya, sesuatu yang amat mustahil dan tidak masuk akal.Tapi apabila saya masuk Islam, saya akan mendapat siksaan.

Proses pencarian itulah yang menyebabkan saya mengerti keutamaan Islam. Kesimpulan saya, Islam memang agama yang paling sempurna dibandingkan agama-agarna lainnya di muka bumi. Setelah itu saya menetapkan diri dan bertekad menjadi pemeluk Islam yang sejati, walaupun harus mendapat tantangan dari orang tua dan keluarga. Entah bagaimana, timbul keberanian saya untuk mengungkapkan kegelisahan dan keinginan memeluk Islam kepada orang tua saya.

Demi mendengar keinginan saya itu, papa saya marah besar. Mulailah penderitaan ini saya jalani. Siksaan demi siksaan fisik harus saya terima. Papa mengancam akan mengusir saya, bahkan membunuh saya, apabila saya berani masuk Islam. Saya tak bergeming dangan ancaman itu. Tekad saya sudah bulat, walaupun harus mati, saya rela asal matt dalam kepastian selaku seorang muslim.

Alhamdulillah, akhirnya niat yang suci itu terkabul juga. Singkat cerita, pada bulan Desember 1992, secara resmi saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di depan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Maryana, Plaju, dengan saksi Dra. Yunimularsi dan Dra. Sri Astuti. Kedua orang akhwat itu adalah aktivis remaja masjid dekat rumah saya.

Plong, rasanya. Saya seperti orang yang baru dilahirkan. Begitu perasaan saya saat itu. Hari itu juga saya langsung pulang dan memberitahukan keislaman saya kepada orang tua tanpa ada keraguan dan perasaan takut sedikit pun.

Mengetahui hal itu, papa semakin murka dan kembali menyiksa saya. Sedangkan, mama diam tanpa bisa berbuat banyak. Siksaan fisik terus saya jalani, tapi saya tetap tabah. Saya tak ingin menceritakan bagaimana bentuk penyiksaan yang saya terima itu. Tetapi cukuplah, semua itu saya anggap sebagai ujian iman.

Akhirnya, papa mengalah atas keteguhan hati saya. Rupanya, papa sudah putus asa melihat kesungguhan dan ketabahan hati saya. Padahal, waktu itu usia saya baru 15 tahun. Setelah memeluk agama Islam saya makin giat mendalami Islam dan banyak bertanya kepada para kiai. Sewaktu saya masih sekolah di SMEA Negeri 11 kelas 2 jurusan Akuntansi banyak teman-teman dan guru-guru terutama guru agama banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada saya.

Hanya satu yang masih mengganjal, orang tua dan adik-adik saya belum lagi tergugah untuk masuk Islam. Oleh karenanya, dalam setiap shalat senantiasa saya mohonkan doa, semoga Allah SWT membuka pinto hati orang tua dan saudara-saudara saya agar mereka mengikuti jejak saya memeluk agama Islam. Amiin Allahumma Amin. (Taufik lisman/Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) – Mualaf.com

87. Naoko Kasai : Mengenal Islam Lewat Perrgaulan

 

Saya lahir di Jepang pada tanggal 25 Maret 1970. Orang tua saya memberi saya nama Naoko Kasai. Sebagaimana orang tua, mereka mendidik saya dengan baik. Tugas saya hanya belajar dan belajar, setelah itu bekerja. Karena demikian tegasnya sikap orang tua, saya akhimya dapat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Meiji. Setelah lulus saya bekerja sebagai wartawan pada sebuah penerbitan khusus bidang pertanian.

Dari pekerjaan sebagai wartawan itulah, saya mulai banyak bergaul dengan beragam karakter manusia dari berbagai bangsa, mulai mahasiswa yang sedang belajar sampai para pekerja asing yang bekerja di kota-kota Jepang.

Suatu ketika saya datang ke Universitas Tokyo. Di sana saya bertemu danberkenalan dengan seorang mahasiswa yang berasal dari Turki. Awal perkenalan itu hanyalah berbincang-bincang soal biasa. Karena hampir setiap minggu kami bertentu, pembicaraan pun kian melebar ke hal-hal yang serius, seperti masalah agama.

Mahasiswa Turki tersebut adalah seorang muslim. Sedangkan, saya anak seorang penganut Shinto (sebuah sekte agama Budha yang berkembang di Jepang). Karena saya seorang wartawan maka rasa keingintahuan saya pada Islam begitu kuat. Di dalam negeri saya sendiri, Islam tidak begitu dikenal. Yang ada hanya Shinto sebagai kepercayaan dan Kristen sebagai agama. Itu pun tidak begitu taat dianut masyarakat.

Saya ingin mahasiswa Turki itu bercerita banyak mengenai Islam yang sesungguhnya. Sebab, saya dan kaum muda Jepang lainnya, sangat menggandrungi kebudayaan Amerika. Dari kebudayaan Amerika yang merasuk pada berbagai sektor kehidupan, tersebar informasi yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama kaum teroris dan masyarakat yang terbelakang.

Mahasiswa Turki itu bercerita tentang Tuhan, yang oleh umat Islam disebut Allah, dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya, serta pokok-pokok ajaran Islam lainnya. “Apakah benar Tuhan itu ada?” tanya saya menggebu-gebu. Mahasiswa Turki itu menjawab, “Tuhan itu ada.” la sangat meyakininya. Sebagai seorang muslim, ia pun melaksanakan ibadah shalat di mana pun ia berada. la pun meluruskan pandangan saya yang negatif tentang Islam akibat propaganda orang-orang Barat.

 

Tertarik Kepada Islam

Dari cerita mahasiswa Turki itu, saya makin tertarik. Terus terang, masyarakat Jepang jarang bercerita tentang agama. Dan informasi mengenai agama lain pun kurang terdengar, apalagi Islam. Justru yang selalu mereka dengungkan adalah belajar, belajar, dan bekerja. Agama bukanlah hat yang pokok. Shinto hanya sebuah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jepang yang dijadikan kepercayaan negara. Oleh sebagian kaum tua Jepang, kepercayaan Shinto masih tetap hidup. Misalnya, ketika panen melimpah, mereka melakukan upacara untuk mengucapkan terima kasih pada Dewa Inori (dewa pertanian). Tapi kini, kepercayaan Shinto sudah dianggap keno dan tergusur oleh kemajuan zaman.

Islam yang diceritakan oleh teman Turki saya itu, telah menimbulkan rasa simpati dalam diri saya. Saya kagum dan terkejut. Katanya, Islam sudah mendunia (dianut oleh masyarakat dunia) dan Islam berbicara melintasi alam dunia (akhirat). Dari sinilah saya tak bisa tidur, Saya gelisah.

Akhimya saya putuskan belajar untuk mengetahui tentang Islam lebih lanjut. Lalu, saya mendatangi Islamic Center of Japan. Di sana Saya membaca buku terjemahan dari bahasa Arab mengenai hal-hal yang mendasar dalam Islam, seperti shalat, puasa, dan sebagainya. Oleh pengurus Islamic Center, saya diberi buku-buku secara gratis.

Tapi, itu pun kurang memuaskan rasa ingin tahu saga tentang Islam. Saya pun mulai bergaul dengan para pekerja asal Indonesia, yang rata-rata beragama Islam. Pergaulan saya dengan para pekerja Indonesia inilah yang membuat saya mulai tertarik datang ke Indonesia. Saya ingin tahu masyarakat Islam di Indonesia. Tapi, saya masih perlu belajar lebih jauh tentang Islam.

Tidak terasa, sudah tiga tahun saya mengenal Islam. Hati kecil saya menvatakan agar saya memeluk agama Islam. Namun timbul keraguan, karena pengetahuan saya tentang Islam masih kurang.

 

Masuk Islam

Alhamdulillah, taufik dan hidayah Allah itu akhirnya datang juga kepada saya. Pada bulan Mei 1997, di sebuah masjid di daerah Jakarta Timur, saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya pun mengganti nama menjadi Naoko Nani Kartika Sari.

Perihal keislaman saya, sengaja tidak saya beritahukan kepada prang tua. Karena sava khawatir, informasi mengenai Islam yang negatif masih mempengaruhi ibu saya. Tapi akhirnva beliau saya beritahu juga. Syukurlah, sikap ibu tidak seperti yang saya duga. Ibu tidak terpengaruh pada informasi itu. la juga tidak marah. Ia menanggapinya biasa-biasa saja.

Setelah menjadi seorang muslimah, saga mulai belajar shalat dan ibadah lainnya. Pertama kali shalat, sava merasakan kedamaian dan ketenangan. Islam membuat jiwa saya tenang dan damai. Apalagi kini saya berada di negara yang mayoritas beragama Islam.

Saya menikah dengan warga negara Indonesia dan kini tinggal di Indonesia. Dari pernikahan ini, saya mengakui tidak dapatbelajar banyak mengenai Islam dari suami sava. Untuk mendalami ajaran Islam dengan segala aspeknya, sava belajar dari ibu angkat sava, Ibu Maini namanya.

Dari beliaulah saya merasakan ketenangan beragama. Beliau sangat sabar membimbing saya. Saya dibimbingnya berpuasa pada bulan Ramadhan, shalat tarawih, dan shalat Idul Fitri, dan ibadah-ibadah lainnya. Misalnya, pada Idul Adha kemarin, saya dibimbing untuk berkurban dengan satu ekor kambing.

Inilah kegiatan keagamaan yang terasa dalam hati sanubari sava. Saya bersyukur, walau jauh dari tanah kelahiran, namun pengamalan nilai-nilai ibadah mendapat bimbingan dari saudara-saudara seiman. Lewat pergaulan antarumat manusialah yang membuat mata batin sava terbuka dan menemukan Islam sebagai agama.

 

88. Muhammad Mu’min : Muallaf dan Aktivis Antipemurtadan

 

Fisiknya tinggi besar dengan kulit sawo matang yang mencolok, sekilas membuatnya cepat dikenali. Muhammad Mu’min namanya. Ia adalah salah satu orang yang ikut memperjuangkan gerakan antipemurtadan yang terjadi di Bandung dan Jawa Barat.

Mu’min adalah dosen tetap di STIE YPKP Bandung yang sehari-hari diamanahi sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ulil Albab, STIE YPKP. Sejak memperistri Evi Afianti pada 1986, Mu’min sudah bertekad mengikis secara bertahap aktivitas pemurtadan yang ada di wiayah Bandung raya.

Karenanya, ketika diamanahi menjadi komandan Barisan Anti Pemurtadan (BAP) Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), ia berusaha menjalankannya dengan baik. ”Setiap kali BAP melakukan operasi ke lapangan, saya selalu turun secara langsung,” ujar ayah dari dua anak itu.

Banyak pengalaman rohani yang muncul dari sosok yang juga pernah menjadi atlet karate Jawa Barat ini. Di antaranya adalah proses pencarian keyakinan yang dijalaninya sejak masih berusia delapan tahun. Mu’min mengakui, keluarganya sejak lama telah menjadi penganut Kristen Katolik yang taat. ”Karena itu, sejak kecil saya sering ke gereja ikut orang tua,” ujarnya.

Namun, ketaatan keluarganya pada agama yang dianut, tidak memberikan jaminan dalam keyakinan yang dipegang lelaki koordinator Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan (AGAP) itu. Menurut dia, sejak usia delapan tahun, dirinya sudah mencari keberadaan Tuhan melalui komik bernuansa Islami yang diperolehnya.

Penelusuran akan keyakinan terhadap keberadaan Tuhan itu, kata Mu’min, berlanjut ketika masuk ke jenjang sekolah lanjutan pertama di SMP Margaluyu. Selama di sekolah, seringkali ia membantah apa yang diajarkan guru agama katolik di sekolahnya. ”Padahal, saat itu saya masih penganut Katolik,” kata lelaki kelahiran Cimahi, 12 Januari 1965 itu.

Dari kegemarannya membaca buku-buku, membawa lelaki yang menghabiskan pendidikan menengahnya di perguruan kristen itu, menuju pada penelusuran keberadaan Tuhan di agama lain. Buku-buku filsafat, ketuhanan, dan ajaran Budha, adalah bagian dari prosesnya dalam pencarian Tuhan. Dalam penelusurannya yang bersumber dari buku bacaan itu, Mu’min kecil kemudian berpindah menjadi penganut Budha. ”Kira-kira kelas tiga SMP saya menjadi penganut Budha,” tuturnya.

Namun, keyakinannya akan ajaran Budha ini tidak membuatnya bertahan lama. Setahun sejak menganut Budha, ia kembali bimbang akan keyakinannya terhadap Tuhan. ”Dari situ, kemudian saya menjadi penganut atheis hingga 1986,” kata dosen yang saat ini sedang menyelesaikan tesis S2 di Program Magster Manajemen Pascasarjana, Universitas Padjajaran Bandung.

Sejak 1986, Mu’min akhirnya resmi berstatus muallaf. Status tersebut didapatnya di KUA Cipaganti, ketika ia mengucapkan ijab kabul pernikahan bersama istrinya sekarang. ”Sejak saat itu, perasaan saya tenang sekali. Karena telah menemukan dua hal sekaligus, Islam dan istri,” cetusnya.

Salah satu kegiatan yang berkesan bagi Mu’min adalah ketika bersama AGAP berhasil mengungkap keberadaan 13 gereja liar di kawasan Kompleks Perumahan Permata, Cimahi. Selain itu, ia juga bangga ketika bersama timnya berhasil menggagalkan rencana pembaptisan seorang bayi di Baleendah, Kab Bandung. ”Bayi tersebut kemudian saya angkat menjadi anak,” tuturnya.

Mu’min merasa prihatin dengan aktivitas pemurtadan yang sampai saat ini tidak bisa dihentikan. Bersama timnya, ia mengaku hanya bisa mengurangi aksi pemurtadan itu seminimal mungkin. ( mus )

 

89. Philippe Troussier ‘Sang Dukun Putih’ Itu Memeluk Islam

 

Puluhan koran Maroko pada hari selasa (21 /03) memberitakan mantan pelatih tim Maroko, Philippe Troussier dan Isterinya Dominic Matteo resmi memeluk Islam

Setelah kedua pasangan itu mengucapkan kalimah syahadat, Troussier kemudian mengubah namanya menjadi Umar sedangkan isterinya Dominic menjadi Aminah.

Mohammed El Homrani, petinggi club sepak bola El Fathi Riyadi-Rabat yang juga merupakan salah satu sahabat karibnya mengatakan, bahwa Troussier pernah mengontaknya dan mengatakan bahwa ‘saya telah mengucapkan syahadat’. Hal tersebut terbukti dengan adanya dua saksi resmi dari Pengadilan Agama di rumahnya yang diminta Troussier untuk membimbing dalam belajar Laa Ilaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasullah. Adapun syahadat yang dipelajari oleh dia adalah Asyhadu An Laa Ialaha illah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Rasullah.

El Homrani mengomentari bahwa kedua ucapan tersebut adalah bentuk syahadat yang benar dan memiliki arti dan tujuan sama.

Dengan masuk Islamnya Troussier dan Isteri bagi El Homrani merasa gembira dan berita itu baginya bukanlah sebuah suprise karena El Homrani tahu pasti bahwa selama ini Troussier memiliki keinginan yang untuk mempelajari kewajiban dan ajaran pokok agama Islam.

“Dan sayalah yang mengajari dia pengucapan dua kalimat syahadah sehinga dia hapal di luar kepala walaupun dia masih belum fasih dalam pengucapannya.”

El Homrani mengatakan bahwa perubahan nama pangilan dari Troussier ke Umar dan Dominic ke Aminah sangat disenangi kedua muallaf tersebut.

Sekarang. Umar Troussier sekarang tinggal di district Souissi salah satu district yang dihuni orang-orang kaya di Rabat-Maroko. Setelah ‘sang dukun putih’, begitu julukan terkenal bagi Troussier, dia juga mengadopsi dua anak yatim-piatu warga negara Maroko dan dia mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Troussier merupakan pemain sepak bola ternama di Maroko. Ia pernah menjalani operasi lutut kaki sebelah kiri dia menyempatkan untuk melihat latihan tim yunior kesebelasan Maroko di Rabat senin (20/03) dimana sebelumnya La Fédération Royale Marocaine de Football –FRMF (Persatuan Sepak Bola Maroko) membatalkan kontrak dengan Troussier karena alasan finansial.

Philippe Troussier sempat membawa Jepang menjadi juara Asia tahun 2000 dan berhasil mengantarkan Jepang melaju hingga ke putaran kedua Piala Dunia 2002 hingga Zico, mantan pemain terkemuka Brasil mengantikannya sebagai pelatih Timnas Jepang.

‘Dukun putih’ ini juga sukses melatih sekitar satu dekade beberapa tim-tim nasional antara lain Pantai Gading, Burkina Faso, Nigeria, Afrika Selatan dan Qatar.

Sebelum melatih tim Atlas Lion Maroko, Troussier banyak mendapat tawaran, antara lain dari Cina, Aljazair dan dari negaranya Prancis untuk menggantikan Roger Lemerre.

Namun, dia lebih tertarik bekerja di Maroko, terutama karena dia memiliki rumah musim panas di Casablanca. Pilihan Umar tinggal di Maroko bersama Aminah rasanya tidak salah karena di negara Ibnu Batutah-lah dia menemukan petunjuk Allah yang dia idamkan bertahun-tahun lamanya. (Arief Rahman A Muchtar, Maroko/hidayatullah.com)

90. KDNY : Lady and Souly Rodriguez

 

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

Lady Rodriguez berumur sekitar 20 tahun dan adiknya bernama Souly (menurutnya dari kata Soul) berumur sekitar 17 tahun. Kedua pelajar Amerika itu kemudian memilih masuk Islam. Alhamdulillah

Sekitar pukul 5 sore Senin kemarin, 13 Maret 2006, The Islamic Cultural Center of New York sebenarnya agak sepi. Saya juga sebenanrnya sudah bersiap-siap untuk pulang dan kembali ke kantor perwakilan RI untuk PBB New York. Resepsionis juga telah pulang sehingga kantor di Islamic Center memang telah kosong.

Tiba-tiba security datang ke kantor dan memberitahu jika ada dua orang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya katakan, “Tunggu karena saya sudah bersiap-siap untuk berangkat.” Saya pun keluar ke ruang tunggun menemui mereka.

Ternyata keduanya adalah gadis belia, kakak beradik. Yang tua bernama Lady Rodriguez berumur sekitar 20 tahun dan adiknya bernama Souly (menurutnya dari kata Soul) berumur sekitar 17 tahun. Keduanya adalah pelajar.

Sambil mempersilahkan duduk dengan tenang, saya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Biasanya menanyakan nama, keluarga, sekolah, dll. Lalu dari mana mengenal Islamic Center dan juga pernahkan mendengar Islam sebelumnya, atau buku apa yang dibaca tentang Islam. Yang mengejutkan, ternyata keduanya mengenal Islam hanya dari internet. Bahkan ketika saya Tanya, apakah sudah punya Al Qur’an? Keduanya mengatakan bahwa mereka belum memilikinya, hanya sudah membacanya juga lewat internet.

Yang mengejutkan juga, di saat saya menjelaskan dasar-dasar keimanan (rukun Iman), tiba-tiba mata si Lady berkaca-kaca dan mengucurkan airmata. Ketika saya Tanya, apa gerangan yang menjadikannya menangis? Dijawabnya dengan terbata, “I feel happy.” Saya tanya lagi, “Why?.”� Dijawabnya: “Because I have what I am looking for, my God.”. Sementara adiknya hanya tersenyum mendengarkan penjelasan saya dan sekali-sekali mangguk-mangguk.

Saya menjelaskan rukun Iman, rukun Islam, tentu dengan membandingkan konsepsi iman dan ibadah antara Islam dan Katolik. Selain itu juga saya jelaskan tentang konsepsi Islam itu sendiri dalam kehidupan nyata manusia. Bahwa Islam itu adalah kehidupan kita. Dengan aturan Islam itulah kita hidup dengan lebih sehat dan bahagia. Beberapa hal memang saya rincikan, sepertyi pelarangan makan babi, minum Khamar, judi, hubungan tanpa nikah, dll. Tentu saya juga jelaskan bagaimana menjaga hubungan silaturrahim dengan semua pihak, khususnya dengan orang tua dan sanak keluarga.

Tanpa terasa, hampir sejam saya menjelaskan Islam kepada kedua gadis belia ini. Pada akhirnya saya tawarkan jika ada pertanyaan atau hal-hal yang perlu diklarifikasi. Keduanya menggelengkan kepala. Sayapun katakana, “Thank you for coming. Hopefully your have learned something about Islam.” Tidak lupa saya katakan: “I will give you some reading materials. Read them carefully, and if you feel that Islam is the right way for you, come back again.”

Tapi saya terkejut tiba-tiba Lady sekali lagi meneteskan airmata dan mengatakan, “I am ready.” Hampir tidak percaya karena belajar Isalam dari internet tentu banyak misleading. Saya tanyakan jika orang tuanya tahu mengenai niatnya untuk masuk Islam. Lady menjawab, “My mom knows and she respect my decision.” Segera saya mencari seorang Muslimah di masjid untuk mengajarnya mengambil wudhu. Rencanya syahadat akan saya bimbing menjelas didirikan shalat magrib sekitar pukul 6 sore itu.

Setelah selesai berwudhu, lebih mengejutkan lagi, ternyata adiknya juga ikut mengambil air wudhu dan menyatakan tekad mengikuti kakaknya masuk Islam. Alhamdulillah, setelah azan magrib sore kemarin, dengan memuji kebesaran Ialhi saya tuntun kedua gadis ini mengucapkan, “Ash-hadu an Laa ilaalah illaLLAH wa Ash-hadu anna Muhammadan rasulullah” disaksikan oleh ratusan jama’ah magrib di Islamic Center dan disambut dengan pekik ALlahu Akbar!

Iqamah untuk shalat magrib dikumandangkan. Lady dan Souly kini menjalankan shalat pertamanya sebagai Muslimah. Doaku mengiringi, semoga kalian berdua dikuatkan dan dituntun selalu ke jalan yang diridhaiNya.

New York, 14 Maret 2006.

 

91. Jeni Suhardani : Suara Takbir Memberikan Ketenangan Jiwa

 

Nama baptis saya, Maria Magdalena Jeni Suhardani, berasal dari keluarga Kristen Katolik yang kental. Saya lahir di Malang (Jawa Timur), 28 Juli 1964. Ayah dan ibu saya pengurus gereja yang cukup disegani di daerah itu. Maka, tak heran pendidikan agama merupakan prioritas utama bagi saya. Bayangkan, dari TK hingga SMA, selalu di lembaga pendidikan Katolik, sehingga pengetahuan dan keyakinan saya mengenai agama Katolik, tidak diragukan lagi.

Doktrin-doktrin ajaran Bibel yang saya pelajari sejak saya bisa membaca itu, membuat saya berpikir untuk meneruskan perjuangan Yesus Sang Juru Selamat. Tak ada waktu lagi untuk berteman, pacaran, bahkan saya tak pernah berpikir untuk berumah tangga. Selepas SLTA, saya memutuskan untuk menjadi biarawati. Selama dua tahun itulah saya menekuni profesi menjadi “pelayan” Tuhan.

 

Menjadi Biarawati

Saya juga bertekad untuk mengabdi kepada Tuhan Sebab, kata suster pada waktu itu, saya adalah orang yang berjiwa religius, suka hidup sunyi, dan tidak terbius oleh gemerlap duniawi.

Profesi biarawati membuat saya lebih mantap menjadi seorang Kristen, sehingga waktu itu, saya kurang hormat dan bahkan sangat benci kepada agama lain, terutama Islam. Bagi saya, kegiatan keislaman, khususnya di sekitar tempat saya tinggal, sangat mengganggu. Bunyi azan, shalawatan yang dilantunkan dengan memakai pengeras suara dari masjid, membuat bising dan gaduh, sehingga sangat mengganggu. Apalagi ketika mereka shalat, saya selalu bertanya, “Buat apa orang susah-susah sujud, nungging, dan lain lain?” Bagi saya, waktu itu, ini sangat lucu dan tak masuk akal.

 

Menikah

Tetapi, sesuatu itu memang bisa berubah, itulah sebuah misteri kehidupan dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya yang sudah mantap menjadi biarawati, tak sengaja berkenalan dengan seorang pemuda muslim yang bertempat tinggal di sekitar asrama saya. Tanpa saya sadari, saya menaruh hati padanya.

Kebekuan hati dan kerelaan untuk “melayani” Tuhan Yesus pun, pupus sudah. Memang berat untuk meninggalkannya. Tetapi keinginan dan kebahagiaan bersama pemuda itu mengalahkan semuanya. Hingga akhimnya, saya memutuskan untuk menikah dengannya.

Walau demikian, saya tidak meninggalkan agama kecil saya seratus persen. Bahkan, akad nikah itu kami laksanakan di gereja. Memang, keluarga suami saya tak pernah mempersoalkan masalah agama. Buktinya, di keluarganya ada yang Islam, ada juga yang Kristen.

 

Hijrah ke Jakarta

Setelah menikah saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, dan kami mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan ini. Saya hidup bahagia bersama suami dan dikaruniai dua anak. Kegiatan keagamaan saya tetap seperti biasa, pergi ke gereja dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Kedua anakku itu ikut dengan saya, beragama Kristen Katolik.

Tetapi, selama 16 tahun saya melakukan kegiatan keagamaan, tak membuat saya bahagia. Tak ada rasa kebahagiaan di sana. Apalagi menyambut hari Natal, bagiku bukan hal istimewa. Semuanya biasa saja. Tetapi anehnya, pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam takbiran, saya merasakan keharuan dan kebahagiaan yang mendalam. Bahkan, saya merinding mendengar asma Allah itu. Ada getaran tersendiri di hati. Tanpa sadar, saya mengeluarkan air mata. Padahal setiap tahun nadanya sama saja. Hal ini juga saya rasakan ketika saya menyimak renungan Ramadhan di televisi, saya sangat menikmati dan memberikan ketenangan batin.

 

Masuk Islam

Akhirnya, saya mencoba untuk mendekati majelis taklim ibu-ibu setiap malam Jumat yang ada di dekat rumah saya di Bojong Gede, Jawa Barat. Kedatangan saya di sana membuat kaget ibu-ibu tersebut, karena mereka memang mengetahui saya penganut Kristen.

Saya katakan bahwa saya ingin memeluk agama Islam. Spontan, ibu-ibu pengajian itu menyambut saya dengan rasa haru. Bahkan ada yang menangis. Inilah kebahagiaan yang tak pernah saya rasakan Dua hari setelah mengikuti pengajian, kemudian saya masuk Islam dibimbing oleh ustadz setempat.

Seminggu berselang, kami juga melangsungkan perniikahan (ulang) secara Islam. Dan kini, saya mengubah nama menjadi Nur Azizah. Suami saya sangat bangga atas sikap saya yang memilih Islam. Bahkan ia yang tadinya kurang tekun menjalankan ibadah, terutama shalat, sejak saya masuk Islam, ia jadi sangat rajin.

Kini, kami hidup bahagia bersama keluarga. Alhamdulillah, anak-anak kami sudah diislamkan dan Hidup kami saya rasakan lebih bermakna dan lebih berkah. Untuk menambah pengetahuan agama Islam, saya selalu menyempatkan din menkmuti pengajian-pengajian yang ada di lingkungan tempat saya tinggal. Mudah-rnudahan, berkat doa kaum muslimin, kehidupan keluarga kami selalu diberkati Allah SWT, amin.

92. Eugene Francis Netto : Tuhan Aku ingin Melihatmu

 

Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota komunitas para mualaf bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan, mereka berdiskusi bukan untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam akan tetapi untuk mempelajari Islam secara Kaffah

Suatu ketika, pria bule Ini ingin “bertemu’ dengan Tuhan namun gagal. Ia melanjutkan pengembaraan rohaninya mencari Tuhan antara lain lewat studi banding kitab suci agama lain. Akhirnya hanya ada satu jawaban yang dapat memuaskan hatinya : Islam.

Eugene Francis Netto – yang akrab disapa Gene (baca: Jin) – pagi menjelang Zuhur itu tampak bersemangat membina sejumlah mualaf di bilangan Kuningan, Jakarta. Tema yang dibahasnya saat itu adalah tentang bagai-mana berwudhu yang baik dan benar. Gaya mengajarnya yang komunikatif membuat dirinya disukai kaum ibu. Selain humoris, wajah Gene yang boleh dibilang cukup lumayan handsome itu, juga banyak meng-undang hadirat ngefans. Tapi pria kelahiran 28 April 1970 itu hingga kini masih betah bertahan hidup single.

Sehabis Isya, Gene berkenan menuturkan perjalanan rohaninya.

 

Bingung

Gene lahir di Selandia Baru (New Zealand) dan dibesarkan dalam Keluarga Katolik. Tapi orang tuanya jarang ke gereja dan tidak pernah membaca Al Kitab, bahkan kurang suka jika Gene sering-sering bertanya tentang agama. Ketika Gene tinggal dan sekolah di Australia, hampir semua temannya mengaku beragama Kristen. Ada juga yang mengaku ateis dan agnostik. Yang disebut terakhir ini tidak mau menyatakan Tuhan itu ada, atau tidak ada. Biasanya, mereka menunggu bukti tentang adanya Tuhan, baru mereka percaya. Karena sejauh ini tidak ada bukti yang memuaskan mereka, maka mereka tidak mengikuti salah satu agama tertentu.

“Saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan mengenai Tuhan. Karena memang tidak ada bukti yang memuaskan hati saya ketika itu. Tak jarang saya mempertanyakan agama saya. Akibatnya, saya malah jadi bingung,” tandas Gene.

“Saya merasa lucu ketika pendeta di gereja menyatakan dapat mengampuni dosa seseorang. Saya menganggap hal itu tidak masuk akal. Saya bertanya pada ibu saya, apakah pendeta itu berbicara benar dan berhadap-hadapan dengan Tuhan? Jawab ibu ringkas, Tidak!”

Dari kegelisahan dan kebimbangan yang bergayut dalam otaknya, Gene kemudian mencari tahu dan mencoba mempelajari agama-agama lain lewat berbagai buku. Karena masih belia, ia menemui kesulitan mencerna penjelasan dari buku-buku yang dibacanya, malah tambah bingung.

Tapi ada satu yang memancing rasa ingin tahunya ketika ia membaca tentang agama Islam. Buat apa umat Islam melakukan shalat lima kali sehari? Mengapa tidak cukup sekali saja dalam seminggu? Sayangnya, pertanyaan kritis itu, lagi-lagi tidak ia peroleh jawabannya.

“Menurut kesimpulan saya waktu itu, jika kita memeluk suatu agama maka ajaran agama itu seharusnya bisa dicerna oleh akal. Kalau memang Tuhan itu ada, tentu Tuhan tahu pikiran kita seperti apa, karena Dia yang memberikan akal pada kita. Kalau Dia memberi agama, agar kita percaya dan menerimanya, maka agama tersebut harus bisa dipikir dengan logika. Kalau hanya diterima dalam hati dan tidak masuk otak, makin lama orang pasti akan mempertanyakannya.”

 

Ingin Bertemu Tuhan

Suatu malam, ketika semua anggota keluarga tertidur lelap, Gene yang masih usia belasan tahun itu duduk sendiri di atas ranjang tidurnya dalam posisi bersila serta kedua tangan terlipat ke dada dan mata menatap jendela. Dalam keheningan itu, ia berdoa: “Tuhan, aku minta Engkau datang menampakkan diri ke kamarku. Aku ingin melihatMu. Kalau aku bias melihatMu, aku berjanji akan percaya padaMu.”

Setelah lama menunggu, tak satu pun tanda ia bertemu Tuhan. Malam berikutnya, ia tetap berdoa menanti hingga larut malam. Hasilnya, tetap nihil. Tuhan tak juga muncul. Akhirnya Gene menyatakan putus hubungan dengan Tuhan. “Sejak itu saya tidak mau lagi mengenai Tuhan, apalagi mengikuti kebaktian di gereja. Kendati setiap Natal saya masih ikut merayakannya, tapi jujur, hati saya kosong dan tidak ada kegembiraan sedikit pun.”

 

Meyakini Tuhan

Minat Gene mencari Tuhan kembali muncul saat ia studi di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Gene terkejut, ketika tahu sebagian besar teman di kampusnya itu ternyata adalah Muslim. Sejak bergaul dengan temannya yang Muslim itu, Gene terdorong untuk kembali belajar agama. Setelah lulus, ia kembali ke Australia untuk melanjutkan kuliah di sana. “Sekembali di Australia, saya bertemu dengan seorang Muslim asal Indonesia. Kawan saya itu tahu, saya sedang belajar agama Islam.”

Tanpa diduga, kawannya mengucap-kan pernyataan yang mengejutkan, “Kamu tahu nggak Gene, dalam Islam itu dosa hanya bisa diampuni oleh Allah. Dalam Islam tidak dikenal system kependetaan. Karena itu, orang Islam selalu berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara,” ujarnya.

Hanya saja, ia masih belum yakin, apakah Islam itu agama yang paling benar. Saat ia kuliah lagi di Fakultas Sastra “Universitas Indonesia selama satu tahun dan kos di rumah seorang keluarga Muslim ditambah lagi iingkungannya yang Islami, Gene makin intens mempelajari Islam.

Ia merasa tercengang setelah mem-bandingkan Al Qur’an dengan kitab suci agama lain, isi Al Qur’an tidak sedikit pun mengalami perubahan, padahal usianya telah mencapai 1.400 tahun. Sementara kitab suci agama lain sering berubah-ubah, karena bahasanya berbeda-eda. “Tapi lagi-lagi saya belum mantap, lantas membayangkan, ajaran Islam adalah agama yang berat dan banyak pantangan-nya. Bayangan saya, kalau nanti masuk Islam, apakah saya bias menjalankan ajaran Islam dengan benar, seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan haji, dan ajaran moralitas lainnya.”

Untuk memantapkan hatinya, Gene berdoa selama satu minggu dengan harapan Tuhan memberi petunjuk dan jalan yang benar. Entah bagaimana, tiba-tiba saja ia tergerak untuk mencoba shalat, meski hati kecilnya bertanya, kenapa harus shalat? Apa gunanya shalat? Namun, setelah tekun mempelajari Islam, dari hari ke hari, jiwanya terasa tenteram.

Tahun 1996, Gene resmi memeluk Islam atas kesadarannya sendiri. Setiap kali shalat, Gene merasakan betapa dekat dirinya dengan Tuhan. la seperti bicara langsung denganNya. Dalam hal memohon ampun pun, ia tak perlu perantara. Kini hatinya baru terpuaskan dengan kehadiran Islam sebagai jalan hidupnya. “Meski saya menghadap Tuhan ketika shalat, saya tidak lagi ngotot untuk melihat Allah pada saat saya masih di dunia ini. Terpenting, Allah ridho dan mengampuni seluruh dosa-dosa saya. Itu saja,” katanya.

 

Sikap Toleran Mama

Apa reaksi mama dan papanya di Australia ketika Gene mengabarkan tentang keislamannya, dua minggu kemudian? “Mereka kayaknya tidak terkejut. Sekalipun saya menceritakan semuanya, Mama, khususnya, sangat memahami saya. Karena beliau sudah mengira, cepat atau lambat, saya pasti akan memeluk Islam,” kenangnya.

Sebelumnya, ketika Gene hendak kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan bekerja di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris terkenal di Jakarta, ia teringat dengan pesan mamanya. “Kamu boleh ke Indonesia, asal jangan masuk Islam,” pesan mama.

Seperti asumsi kebanyakan non-Muslim lainnya, mamanya juga meng-anggap Islam itu agama kuno, ajarannya terbelakang dan tidak manusiawi, penuh intrik, teroris, serta penuh dengan hal-hal negatif lainnya. “Padahal, seperti yang saya amati dari ajaran Islam tentang shalat berjamaah, sesungguhnya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, yakni mendorong persatuan dan persaudaraan. Manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Tak peduli kaya ataupun miskin, semua sama. Siapa yang datang lebih dahulu berada di saf terdepan, tak ada yang berhak melarang. Begitu pula, saat berjamaah, seluruh makmum berada di bawah satu komando. Bahkan jika imam batal, ia bisa diganti dengan yang lain. Simple sekali Islam itu,” ungkap Gene.

“Alhamdulillah, keluarga saya cukup toleran kendatipun sesungguhnya mereka tidak suka dengan keputusan saya memilih Islam. Malah kalau saya pulang ke Australia, Mama yang selalu mengingatkan waktu shalat. Misalnya, ketika kami akan bepergian, lalu tiba saat shalat Zuhur, mama mem-beri kesempatan pada saya untuk menunaikan shalat lebih dulu.”

Yang lebih membuat Gene menaruh hormat dan haru pada,mamanya, adalah sikap dan perlakuannya pada Gene yang mualaf ini. Mamanya tahu apa yang tidak boleh ia makan dan minum sebagai seorang Muslim. Bahkan mamanya selalu memisahkan masakan buatnya. “Bila saya ada di rumah, Mama tidak pernah memasak makanan yang mengandung unsure babi. Jujur, saya bangga punya mama yang punya sikap toleran dan pengertian pada anaknya yang telah memeluk Islam.”

Agama Kasih dan Damai

Setelah memeluk Islam, Gene meng-aku jiwanya semakin tenteram, pikirannya semakin arif dan lebih menghayati Islam sebagai ajaran kasih, damai, mencintai sesama. Satu hal yang membuat Gene bersyukur adalah bahwa agama ini tidak kaku, dan memberikan ruang gerak yang longgar dalam hal kebebasan untuk menentukan sebuah pilihan.

Selama Ramadhan yang lalu, Gene selain berpuasa, memanfaatkan waktunya dengan belajar membaca Al Quran, la mengakui sempat mengalami kesulitan. Tapi karenaterus belajar, akhirnya bisa juga mengeja bacaan Al Quran.

Pada Ramadhan sebelumnya, tiap malam, saat semua anggota tempat kosnya sudah lelap tertidur, ia menonton acara Shalat Tarawih di televisi yang disiarkan langsung dari Makkah. Saat itu Gene mengaku terpesona ketika menyaksikan lebih dari satu juta orang pada saat bersamaan melakukan gerakan yang sama, shalat dan thawaf bersama.

“Di depan pesawat televisi, saya terbengong-bengong menyaksikan betapa manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Terus terang saya kagum, sehingga setiap malam saya selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan shalat Tarawih. Sebelum Muslim, saya tidak pernah menjumpai di mana pun sebuah massa besar berkumpul dalam satu bangunan melakukan gerakan yang sama, teratur, tertib, dan penuh ritmik. Sambil melihat gerakan-gerakan itu, saya mencocokkannya dengan buku panduan .shalat. Di depan telivisi, saya coba mengikuti gerakan shalat, sekaligus menghafal bacaannya yang ada dalam buku panduan shalat yang saya miliki.”

Dengan cara begitu, akhirnya, Gene sedikit demi sedikit mulai bisa mengerjakan shalat. Dalam satu minggu, ia telah hafal beberapa gerakan shalat termasuk doanya. “Surat Fatihah, saya baca ber-ulang-ulang hingga hafal. Setelah itu saya pelajari dan pahami makna surat tersebut. Dan ternyata, saya dapat merasakan, kedalaman Islam setelah menghayati indahnya gerakan shalat. Selain membuat hati menjadi tenteram, shalat juga dapat membuat jasmani menjadi sehat.”

Tidak cukup puas dengan shalat, Gene kemudian membuka tafsir Al Qur’an. la merasa takjub dengan keindahan rang-kaian firman Allah yang mirip puisi, tapi bukan puisi, juga bukan dongeng. Bagi Gene, Al Qur’an itu bisa menjadi petunjuk, bila dibaca disertai memahami maknanya. Tanpa mengerti maknanya, tidak mungkin Al Qur’an menjadi petunjuk. “Itulah sebabnya, saya begitu asyik dan larut kalau sudah mendengar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Hanya saja, tak ba-nyak umat Islam yang menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al Qur’an tersebut. Sangat disesalkan lagi, bila masih banyak umat Islam yang belum bisa mem baca Al Qur’an.”

 

Menururt Gene, kalau : membaca saja tidak bisa, bagaimana mungkin memahami maknanya, menghayati isinya, apalagi mengamalkannya. Ini terjadi, karena Al Qur’an hanya dijadikan pajangan di rumah. Al Qur’an belum sepenuhnya menjadi ruh di hati kaum Muslimin. Akibatnya, Islam tak lebih sekadar formalitas, status, padahal membaca Al Qur’an saja tidak bisa, shalat saja tidak.

“Tentu saya berharap pada saudara-saudara saya yang Muslim akan menjadi Muslim yang sejati, jangan jadi Muslim yang setengah hati. Saya saja yang mualaf, selalu ingin belajar, belajar dan belajar, maka sangat aneh, bila umat Islam yang sudah tujuh turunan, ogah mempelajari dan mendalami agamanya sendiri,” pesan Gene mengakhiri perbincangan sambil tersenyum lebar. (amanah online)

Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota komunitas para mualaf bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan, mereka berdiskusi bukan untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam akan tetapi untuk mempelajari Islam secara Kaffah

 

93. Fenomena baru di Amerika Serikat, Wanita Hispanik Mencari Islam

 

Berbeda dengan warga Amerika Latin yang kental dengan nuansa kekristenannya, wanita keturunan Hispanik di Amerika Serikat justru berlomba-lomba mencari Islam. Tak ada yang menyangka keputusan Melissa Matos untuk bermukim di Amerika Serikat membawanya kepada sebuah pengembaraan spiritual baru. Berada di tempat yang jauh dari negeri asalnya, Republik Dominika, hatinya tertambat pada agama yang semula asing baginya, Islam.

Agama ini ditemukannya melalui pencarian yang panjang. Dari kecil hingga dewasanya dalam keluarga Kristen Advent yang taat. Namun ia justru menemukan kedamaian dalam Islam. Tak perlu waktu lama untuk berpikir ulang, ia memutuskan menjadi Muslimah. Hal yang sama juga terjadi pada Jameela Ali. Wanita asal Peru ini memutuskan menjadi Muslimah setelah bermimpi berdoa di sebuah masjid yang diterangi oleh cahaya lilin. Di negeri barunya, Amerika serikat, ia bersyahadat.

 

Fenomena baru di Amerika Serikat

Kini, jumlah wanita Hispanik di AS yang memeluk Islam semakin banyak. Seiring waktu, jumlah mereka kini mencapai ribuan hanya dalam hitungan bulan. Meski tidak mudah dan banyak mendapat tentangan dari keluarga, para muslimah asal Amerika Latin yang kini menetap di Amerika Serikat ini tetap bertahan dengan keyakinannya.

Menurut mereka, kesulitan terbesar adalah meyakinkan keluarga bahwa pilihan yang mereka ambil merupakan sesuatu yang benar. Matoz misalnya, ia mengaku merasa terasing di tengah keluarga dan teman-temannya. ”Saya merasa sangat jauh dengan mereka,”ujarnya. Namun Matoz yang menemukan keindahan dalam Islam mengaku pengorbanannya sepadan dengan kedamaian dan kebahagiaan yang ia temukan dalam Islam. ”Mereka berpikir aku telah menolak jalan keselamatan karena tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai putera Tuhan,”ujar Matos.

Sementara Roraima Aisha Kanar yang berasal dari Kuba mengaku kesulitan meyakinkan orangtuanya dengan apa yang ia pilih sebagai kepercayaannya. ”Sangat sulit mengetahui bahwa ibuku sendiri tidak menghargai apa yang aku percayai,”ujarnya. Bahkan orangtuanya meminta Kanar dan sang suami tidak membesarkan anak-anaknya sebagai seorang Muslim. Ia menolak mentah-mentah permintaan itu.

Cristina Martino, yang berasal dari Venezuela menyebut dirinya acap kali disangka berasal dari Iran dengan pakaian menutup aurat yang kini dikenakannya. ”Banyak orang menyangka saya berasal dari Iran setelah mereka melihat pakaian saya,”jelasnya. Keanehan orang dengan pemeluk Islam dari Amerika Latin memang biasa terjadi di Amerika Serikat. Pasalnya, masyarakat hispanik memang biasanya identik sebagai pemeluk kristen yang taat. Tak heran banyak orang yang tidak percaya jika beberapa di antaranya adalah seorang Muslim.

Mereka yang beralih ini biasanya orang yang ragu pada kepercayaan mereka selama ini. Felipe Ayala, misalnya, selalu mempertanyakan konsep trinitas yang ada dalam agamanya. ”Saya selalu percaya Yesus bukanlah Tuhan melainkan seorang pembawa pesan,”ujarnya.

Jumlah penduduk Amerika Latin yang berubah keyakinan mereka di Amerika Serikat memang semakin lama semakin berkembang. Menurut data dari Islamic Society of North America, diperkirakan saat ini ada sekitar 40 ribu muslim hispanik di Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka menetap di New York, Texas, Los Angeles, Chicago, dan Miami. Di kawasan Amerika Utara sendiri, Islam menjadi agama dengan perkembangan jumlah pemeluknya yang paling cepat.

Menurut Sofian Abdul Aziz, direktur The American Muslim Association of North America di Miami, komunitas yang dipimpinnya seringkali mendapat permintaan Alquran dalam bahasa Spanyol. Beberapa tahun belakangan, jelasnya, ia sudah memberikan lima ribu terjemahan Alquran berbahasa Spanyol ke masjid-masjid dan penjara di selatan Florida. Uniknya, jumlah terbesar pemeluk Muslim di kalangan masyarakat latin justru didominasi oleh kaum hawa. Meski tidak ada catatan pastinya, namun diperkirakan dari 40 ribu muslim hispanik, 60 persennya merupakan wanita.

Menurut Juan Galvan, Direktur LADO (Latino American Dawah Organization) kawasan Texas, Islam berkembang pesat di kalangan masyarakat Amerika Latin melalui berbagai cara. Ada yang mengenal Islam karena mereka berkenalan atau menikah dengan seorang Muslim, ada juga yang melalui proses pencarian panjang dan akhirnya menemukan kedamaian dalam Islam.

Sebagian lagi mempelajari Islam pasca peristiwa 11 September yang kemudian menyudutkan para pemeluk Islam. Dari keingintahuan tentang Islam, mereka kemudian tertarik dan akhirnya menjadi seorang Muslim. Tak sedikit pula yang merasakan kehampaan dalam agama mereka sebelumnya, dan menemukan apa yang mereka cari dalam Islam. ”Agama Katolik Roma tidak pernah berhasil dengan saya. Setiap beribadah saya merasa tengah berdoa kepada malaikat dan patung. Sekarang saya benar-benar beribadah kepada Tuhan,”ujar Missy Sandoval. Ada raut bahagia di wajahnya.

 

Muslim Hispanik di Amerika Serikat

Tidak jelas diketahui bagaimana awalnya para pendatang asal Amerika Latin menganut Islam di Amerika Serikat. Namun Islam berkembang pesat sejak lima tahun sejak keberadaan organisasi dakwah Amerika Latin yang bernama Latino American Dawah Organization (LADO), sebuah komunitas muslim di New York City yang dimulai oleh Samantha Sanchez bersama lima kawannya.

Sanchez, yang saat itu tengah mengambil studi doktoral di bidang antropologi budaya, menjadi seorang Muslim dan tertarik untuk mencari data tentang komunitas Muslim hispanik di negara adidaya tersebut. Dengan cepat, organisasinya berkembang dan melakukan promosi untuk memperkenalkan Islam lewat pembagian Alquran dan pamflet tentang Islam. Sekarang LADO telah memiliki cabang di Austin, Illinois, Massachusets, dan Arizona.Seiring dengan perkembangan organisasai tersebut, semakin lama penganut Islam asal Amerika Latin ini terus berkembang, terutama sejak lima tahun belakangan. ”Fenomena ini sebenarnya sudah cukup lama terjadi di seluruh Amerika Serikat,”ujar Sheikh Zoubir Bouchikhi, imam Masjid Raya Houston.

Sebuah studi tentang masjid yang dilakukan di tahun 2001 oleh Ihsan Bagby, professor di University of Kentucky, menyebutkan enam persen dari seluruh penduduk Amerika yang berpindah keyakinan berasal dari komunitas Amerika Latin. Sedang 27 persennya berasal dari masyarakat kulit putih, dan angka terbesar yaitu 64 persen, berasal dari kalangan kulit hitam.

Namun meski jumlahnya terbilang sedikit, keberadaan Muslim hispanik ini memberikan pengaruh tersendiri, terutama di dalam komunitasnya. Pasalnya, bukan hanya memeluk agama Islam, mereka juga aktif melakukan kegiatan untuk memperkenalkan Islam, dan menggelar pengajian serta belajar bahasa Arab. ”Angka stastistik sulit diterka, namun yang pasti, kaum hispanik menjadi minoritas yang cukup membawa pengaruh dalam perubahan keyakinan masyarakat Amerika,”jelas Bagby. ( uli/berbagai sumber/Mualaf Center Online )

 

94. Islam Booming di Eropah, Mualaf Perancis Menepis Paranoid

 

Seorang gadis berkulit putih tampak sedang berbicara melalui telepon genggamnya. Wanita berwajah khas Prancis itu tak ada bedanya dengan wanita muda lain yang sedang mencicipi kopi di sebuah kafe di pinggir jalan Paris.

Mary Fallot adalah gadis berkebangsaan asli Prancis. Ia lahir dan dibesarkan di negara yang dikenal sebagai kiblat mode dunia itu. Yang berbeda, Fallot ternyata beragama Islam. Terlihat jilbab mungil menyelimuti kepala wanita yang telah memeluk Islam tiga tahun lalu itu.Namun, fenomena berbondong-bondongnya wanita kulit putih berkebangsaan Prancis yang masuk Islam, justru menggusarkan sejumlah kalangan. ”Fenomena ini sedang booming dan itu mengkhawatirkan kami,” kata Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Prancis, Pascal Mailhos.

Pandangan Mailhos ini ternyata banyak penganutnya. Badan yang khusus menangani kegiatan antiteroris di negara-negara Eropa, melihat fenomena maraknya penduduk Eropa masuk Islam, membuat mereka bekerja ekstra mengawasi wanita seperti Fallot. Sebab, di mata polisi Eropa, sosok seperti Fallot merupakan figur yang berpotensi membahayakan keamanan.

Kalau sebelumnya polisi hanya perlu mengawasi kemungkinan ancaman dari orang muda berparas Timur Tengah yang memang selama ini kerap diidentikkan sebagai pelaku bom manusia, kini mereka juga harus mengawasi wanita berparas Eropa. ”Sangat mungkin bagi teroris memanfaatkan lengahnya pengawasan terhadap wanita Eropa itu,” kata Magnus Ranstrop, peneliti teroris dari Universitas Pertahanan Nasional Swedia.

Memang, ketakutan berlebihan yang tak beralasan sedang menjangkiti sebagian besar warga Eropa. Mereka khawatir cara kematian Muriel Degauque, warga Belgia yang masuk Islam, karena meledakkan dirinya dalam serangan ke tentara Amerika Serikat (AS) di Irak, akhir tahun kemarin, akan ditiru. Bom manusia oleh Degauque ini, mereka generalisasi bahwa mualaf –sebutan bagi yang baru masuk Islam– berpotensi melakukan hal serupa. Sementara, sebagian besar dari mualaf di Prancis adalah wanita. Bagaimana Fallot menanggapi paranoid pihak keamanan Prancis itu? Wanita muda ini menolak semua anggapan tak berdasar tersebut. Ia masuk Islam bukan karena keterpaksaan. Tak adanya penjelasan rinci atas beberapa pertanyaan mendasar dari agama yang dianut sebelumnya, membuat ia tertarik masuk Islam. ”Bagi saya, Islam menyampaikan cinta, toleransi, dan kedamaian,” katanya tulus.

Meski Fallot mengakui ada di antara mualaf yang berpola pikir radikal. Tapi, dari mereka itu yang kemudian melakukan tindakan kekerasan, bisa dihitung dengan jari. Ia menyebut seperti Richard Reid dan John Walker Lindh, warga AS yang tertangkap di Afghanistan.

Terlepas dari itu, pemeluk Islam di Eropa tumbuh bak jamur di musim penghujan setelah peristiwa ledakan World Trade Center (WTC). Meski, tidak ada peneliti yang menghitung berapa jumlah pasti penduduk Eropa yang beralih ke Islam setiap tahunnya.

Data PBB menunjukkan, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat 100 persen pada 1999 dibanding tahun sebelumnya, menjadi 13 juta atau dua persen dari seluruh penduduk Eropa. Sebanyak 3,2 juta di Jerman, dua juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan sisanya tersebar di negara Eropa lainnya, terutama kawasan Balkan.

Dan tak dapat disangkal, lebih banyak wanita yang masuk Islam ketimbang pria. Pandangan selama ini, wanita Eropa masuk Islam karena menikah dengan lelaki Muslim. ”Kenyataan wanita lebih banyak masuk Islam tak terbantahkan lagi,” kata Haifa Jawad, dosen di Universitas Birmingham, Inggris. Fallot sendiri hanya tertawa ketika teman-temannya mengatakan, ia masuk Islam karena kekasihnya orang Islam. ”Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas kehendak sendiri,” terang Fallot.

Ia merasakan sangat dekat dengan Tuhan setelah masuk Islam. Islam itu sederhana, lebih teliti, dan mudah karena semua ajarannya telah dijelaskan secara eksplisit. Di Islam, ia menemukan suatu pola pikir hidup, aturan yang dapat diikutinya.

Alasan itu menjadi dasar bagi banyak wanita yang pindah ke Islam. ”Banyak dari wanita itu mengeluhkan atas rusaknya moral masyarakat Barat,” kata Jawad. ”Mereka merasa memiliki atas apa yang ditawarkan Islam.” Mereka juga tertarik atas pola hubungan antara pria dan wanita. ”Ada lebih banyak ruang untuk keluarga dan peran ibu dalam Islam. Dan ternyata wanita tidak menjadi objek seks belaka,” kata Karin van Nieuwkerk yang mempelajari perilaku masuk Islamnya wanita Belanda.

Sarah Joseph, pendiri majalah gaya hidup Emel, mengatakan hal senada. Ia juga menolak anggapan wanita yang masuk Islam karena tidak ingin terpengaruh gerakan feminis Barat, tak sepenuhnya benar. Prof Stefano Allievi, pengajar di Universitas Padua, Italia, mengatakan, keputusan mereka masuk Islam mempunyai arti politik. ”Islam menawarkan spiritualitas politik, ide tentang misi suci,” katanya.

Setelah memutuskan masuk Islam, mereka melaksanakan ajarannya secara bertahap. Semisal Fallot, ia merasa belum siap langsung mengenakan jilbab. Ia mengenakan pakaian yang lebih panjang dan longgar di awal keislamannya. Para mualaf ini, lebih taat dari yang terlahir dalam keadaan Islam.

Di awal keislaman seorang mualaf, menjadi momentum yang sangat sensitif. ”Mereka sangat ingin dan siap melaksanakan semua yang diajarkan,” kata Batool al-Toma, pelaksana program ‘Muslim Baru’ di Islamic Foundation Leicester, Inggris.

”Mereka ingin membuktikan sesuatu atas keyakinannya itu dengan sebuah pengorbanan,” tambah Ranstorp yang bisa jadi pengorbanan itu dalam bentuk aktivitas di luar kewajaran. Ia mencontohkan Degauque yang sebelumnya adalah pengguna narkoba, telah menjadi korban dari orang yang memanfaatkan semangat pembuktian dirinya itu. ( has/berbagai sumber/Mualaf.Com)

95. Gold Fret mantan Pendeta : “Eli, Eli, lama sabakhtani?” mengantarnya kepada Hidayah Islam

 

AYAH saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama. Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan Kristen lainnya. Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab, antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.

Misalnya, Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14 menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan menanggung akibat kefasikannya.

Sementara, pada Matius 19 ayat 14 Yesus berkata, “Biarlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang padaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga.”

Dengan semua itu saya merasa bimbang. Injil mana yang harus saya ikuti, sedangkan semuanya kitab suci? Dan apakah ajaran gereja yang harus saya ikuti, sedangkan ajarannya bertentangan dengan Alkitab ?

Saya ragu dengan keautentikan Alkitab, karena kalau Injil yang ada sekarang ini asli, tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan. Saya juga ragu dengan kebenaran ajaran gereja karena kalau ajaran gereja itu benar, tidak mungkin bertentangan dengan kitab sucinya.

Karena mendapatkan kejanggalan dalam Alkitab dan pertentangan ajaran gereja dengan kitab sucinya, saya menjadi enggan membaca Injil dan buku buku agama (Kristen), karena saya yakin tidak akan mendapat kebenaran dalam Kristen.

 

Mendengar Bacaan Al-Qur’an

Pada suatu hari saya berjalan di dekat masjid. Tiba-tiba saya gemetar dan tidak bisa berjalan disebabkan mendengar suara dari dalam masjid. Setelah saya pulang ke rumah, saya bertanya pada teman-teman tentang suara yang saya dengar itu. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang suara itu.

Setelah keesokan harinya saya bertanya pada teman sekolah yang beragama Islam, dia menjelaskanbahwa “suara” yang saya dengar di dalam masjid adalah suara orang membaca A1-Qur’an. Kemudian saya bertanya, “Apa sih, Al-Qur’an itu?” Dia menjawab, “Al-Quran itu kitab suci umat Islam.” Kemudian saya meminta Al-Qur’an padanya. Tetapi dia tidak memberikan dengan alasan saya tidak punya wudhu.

Setelah saya pulang dari sekolah, saya langsung mencari orang yang beragama Islam untuk meminjam A1-Qur’an. Akhirnya saya berjumpa dengan orang Islam yang bernama Abdullah. Ia keturunan Arab. Lalu saya pinjam Al-Qur’an padanya dan saya jelaskan padanya bahwa saya beragama Katolik dan ingin mempelajari Al-Qur’an. Dengan senang hati ia meminjamkan saya terjemahan Al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi Muhammad saw..

Saya baca Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat. Saya pahami kalimat demi kalimat dengan seksama. Akhirnya saya berkesimpulan, hanya Al-Qur’anlah satu-satunya kitab suci yang asli dan hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Al-Qur’an membahas persoalan ketuhanan dengan tuntas, bahasanya mudah dipaharni, dan argumentasinya rasional. Di samping itu, Al-Qur’an juga membahas tentang Nabi Isa (Yesus) sejak sebelum dikandung, dalamn kandungan, waktu dilahirkan, masa kanak-kanak dan remaja, mukjizatnya, dan kedudukannya sebagai Rasul Allah, bukan anak Allah.

Sejak mendapatkan kebenaran Islam, saya mempunyai keinginan yang kuat untuk memeluk agama Islam. Singkat cerita, kemudian saya datang menjumpai Abdullah dan saga jelaskan keinginan saga padanya.

la menyambut hasrat saya itu dengan hati ikhlas, dan ia membimbing saya membaca dua kalimat syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, nama saya diganti menjadi Dzulfikri. Kemudian saya belajar pada Abdullah tentang hal-hal yang diwajibkan dan yang dilarang dalam Islam.

Setelah itu saya mondok di sebuah pesantren. Di situ saya belajar agama selama satu tahun. Kemudian saya pindah ke kota Malang, Jawa Timur. Di kota ini saya terus menuntut ilmu agama sambil kuliah.

96. Christiana Adriana (Supriantini): Ragu terhadap Ajaran Kristen

 

Christiana Adriana adalah nama pemberian orang tua. Sesuai nama saya yang berawalan Christiana, orang sudah mafhum dengan agama saya. Saya memang pengarut agama Kristen Katolik. Sejak kecil, kedua orang tua kami selalu menanamkan ajaran Kristen dalam mendidik kami, anak-anaknya. Bersama kedua orang tua, saya pun aktif dalam setiap kegiatan gereja. Bahkan, ibu saya adalah seorang aktivis gereja yang bertugas memberi makan para pendeta. Sebagai penganut agama Kristen Katolik yang taat, saya sangat rajin membaca Alkitab. Selain itu, saya juga banyak membaca kisah-kisah Nabi Isa. Saya juga sangat kagum dengan gambar Bunda Maria yang saya tempel di banyak sudut rumah.

Bersamaan dengan rasa kagum kepada agama yang saya anut itu, sebagai anggota masyarakat, saya juga perlu bergaul dengan sesama. Kebetulan, saya tinggal di wilayah Yogyakarta yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Di lingkungan yang berbeda agama inilah saya menyempatkan diri untuk bergaul. Ini saya lakukan sejak kanak-kanak hingga dewasa. Saya sangat senang bergaul dengan mereka, sebab mereka tidak pernah mempersoalkan perbedaan agama.

Pergaulan saya yang luas dengan kalangan Islam ini membuat kedua orang tua saya waswas. Mereka kemudian melarang saya bergaul dengan orang-orang Islam. Karena sudah terlalu dekat dengan teman-teman itu, maka saya secara sembunyi-sembunyi menjumpai mereka. Lama-kelamaan tingkah laku saya itu diketahui juga oleh ayah Saya didamprat habis-habisan. Bukan itu raja, Saya juga mendapat hukuman.

Tahun 1971, selepas dari Sekolah Guru Agama (SGA), saya secara resmi menyandang gelar biarawati. Sebagai biarawati, saya diharuskan tinggal di dalam asrama. Tugas saya yang pertama adalah mengajar di taman kanak-kanak. Setelah itu, tugas saya adalah sebagai misionaris yang meliputi wilayah garapan Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai seorang misionaris, saya berusaha mengajak pemeluk agarna Islam untuk menjadi penganut agama Kristen. Dan itu berhasil. Ternyata banyak orang Islam yang pindah ke agama Kristen. Umumnya mereka berasal dari kalangan orang yang kesusahan. Mereka berani menggadaikan imannya karena merasa berutang budi kepada misionaris.

Setelah tiga tahun menjadi misionaris, saya mulai risih dengan ajaran-ajaran agarna saya sendiri. Saya sering membandingkan ajaran Kristen dengan ajaran Islam. Karena sering membandingkan, akhirnya saya berkesimpulan bahwa agama Islamlah yang mempunyai ajaran dan hukum yang sangat jelas, seperti halal, haram, mubah, dan makruh. Bukan itu saja, Saya terkadang bertanya tentang ketuhanan Yesus. Mengapa Yesus sebagai Tuhan bisa disalib dan tidak berdaya?

Selain itu, saya juga bertanya mengenai sikap umat Kristen yang seharusnya taat pada perintah Alkitab, tapi malah percaya kepada dogma dogma Paulus. Misalnya, pada Imamat: 11 yang mengharamkan babi, tapi umat Kristen malah memakannya. Selain itu, umat Kristen juga melalaikan perintah sunat atau berkhitan.

Dari pertanyaan yang ditunjukkan umat Kristen ini, membuat saya ragu akan kebenaran agama yang saya anut sejak kecil itu. Pertanyaan dan sikap penganutnya ini yang menjadi awal keraguan saya terhadap agama Kristen.

 

Hal-hal Aneh

Dan keraguan iniiah, saya mengalami hal-hal aneh yang belum pernah terjadi dalam hidup saya selama ini. Pertama, saya berdoa kepada Tuhannya orang Islam. Dalam doa itu, saya minta agar ditunjukkan kekuasaan-Nya sehingga dengan itu akan menambah keyakinan saya.

Kedua, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, saya melihat orang orang yang suci bersih berbaris dengan rapi. Tiba-tiba muncul gumpalan-gumpalan awan yang memayungi orang-orang suci itu.

Ketiga, di saat subuh, ketika saya bersiap untuk melakukan doa, tiba-tiba ada yang memegangi tangan saya dari belakang. Mulut saya juga dibekap hingga tak bisa bicara. Pikir saya saat itu, saya sedang dirampok. Karena kondisi demikian, saya berusaha untuk berteriak. Namun, saya malah berteriak Allahu Akbar dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah berteriak seperti itu, pegangan tangan itu pun mengendur dan lenyap. Kemudian, saya tak sadarkan diri. Dalam keadaan seperti itu, saya mengalami halusinasi. Saya merasa dibawa entah oleh siapa ke sebuah padang yang sangat luas. Di hadapan saya terdapat gumpalan bara sebesar gunung. Semua rumput bersujud. Kemudian secara sayup-sayup saya mendengar kumandang suara azan. Lantunan suara suci itu begitu menyayat hati. Saya merasa begitu bersalah selama ini. Keempat, setiap kali saya mendapat kesulitan, muncul seseorang memakai sorban yang berdiri tegar di hadapan saya. Orang itu kemudian mengatakan, “Apa yang engkau inginkan? Apa belum cukup kebesaran yang Aku tunjukkan?”

Masuk Islam

Setelah mengalami kejadian aneh itu, saya berkeinginan secara ikhlas untuk memeluk agama Islam. Niatan itu saya sampaikan kepada kepala suster. Bukan sambutan hangat yang saya terima, malah kemarahan yang saya dapatkan. Kepala suster marah dan melarang saya.

Namun, tekad saya sudah bulat untuk pindah agama. Untuk mewujudkan itu, saya hengkang dari asrama. Keinginan itu juga didengar oleh orang tua saya. Saya dimarahi dan diobati oleh paranormal. Mereka mengancam untuk tidak mengakui saya sebagai anak. Namun yang keluar dari mulut saya hanya kalimat tauhid. Karena tidak mempan, akhirnya orang tua saya membawa saya ke rumah sakit jiwa dengan alasan kena sihir.

Akhirnya, saya dapat mewujudkan keinginan itu. Berkat usaha seorang teman, saya berhasil dibimbing untuk memeluk Islam di sebuah pondok pesantren di Jakarta Timur. Nama saya segera saya ganti menjadi Supriantini.

Setelah pindah agama, saya lebih memfokuskan belajar mendalami Islam. Saya juga tidak bosan-bosan mendoakan kedua orang tua saya agar mereka segera diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT. (Maulana/Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

97. Bernard Nababan mantan Pendeta : Ragu pada isi Alkitab

 

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya.

Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.

Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.

Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

 

Berdialog

Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.

 

Kabur dari Asrama

Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.

Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.

Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.

 

Masuk Islam

Dari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.

Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.

Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.

Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.

Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

 

98. KDNY : “Matthew Sanches”

 

Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York

“Saya merasa hidup saya seperti mesin. Bangun pagi, pulang sore, atau sekalian saya habiskan masa di bar-bar untuk minum.” Kejenuhan hidup, akhirnya membuat Matt memeluk Islam

Matt, demikian ia biasa dipanggil, baru saja memeluk Islam sepekan lalu. Dia datang ke kelas saat diskusi hampir berakhir, di the Islamic Forum for non Muslim. “Saya datang terlambat. Maaf, tadinya masih pikir-pikir apakah akan datang atau tidak,” mengawali diskusinya.

Pemuda berusia 27 ini nampak lebih tua dari umurnya. Dengan pakaian seadanya, jeans and baju kaos, nampak dahinya berkerut. Kumisnya pun nampak kurang terurus, bahkan terlihat dengan jelas bahwa sang pria keturunan Hispanic ini kurang memperhatikan kebersihan dirinya.

Ketika saya tanyakan, apa yang menjadikannya tertarik untuk bergabung dengan the Islamic Forum? Dia sendiri agak bimbang menjawabnya. Tapi pada akhirnya dia jelaskan bahwa sebenarnya dia termasuk pemuda yang beruntung. Tamat sekolah dari New York City University pada fakultas teknik, dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan Jepang di kota yang sama. “Tapi saya tidak tahu, kenapa saya merasa hidup ini tidak berarti,” keluhnya.

Ketika didesak oleh salah seorang peserta mengani hidup yang tidak berarti itu, dia menjawab dengan suara lirih, “Saya merasa hidup saya seperti mesin. Bangun pagi, pulang sore, atau sekalian saya habiskan masa di bar-bar untuk minum.” “Saya merasa selama ini bekerja keras, tapi setiap akhir bulan atau akhir tahun saya tidak melihat atau merasakan sebuah hasil,” katanya lagi.

“Saya capek!” serunya dengan nada meninggi.

Sambil kembali menyalami Matt, saya menyela, segera ambil alih kendali diskusi hari Sabtu lalu itu. Saya mulai menjelaskan, bahwa “manusia sengaja diciptakan dengan penciptaan yang termulia dan untuk tugas yang termulia pula. Diciptakannya manusia bukan untuk sebuah kesia-siaan. Bahkan semua makhluk lainnya diciptakan untuk mendukung manusia dalam mencapai tujuan mulia dalam hidupnya”.

Matt, nampak tenang mendengarkan penjelasan saya. Tapi sesekali gelisah dan mengerutkan dahinya. Saya kemudian menjelaskan, manusia diciptakan pertama kali, ditempatkan di syurga. Tapi syurga bukan tujuan penciptaan. Syurga hanyalah konsekuensi dari tujuan penciptaan manusia. Jika manusia berhasil melakukan tugasnya secara baik, maka syurga akan kembali diraihnya.

Matt sepertinya tidak sabar menunggu makna dari penjelasan saya. Sehingga dengan sigap kembali bertanya, “Jadi saya harus bagaimana? Saya butuh ketenangan, saya butuh kebahagiaan.”

Saya kemudian berpanjang lebar menjelaskan makna hidup, bahwa hidup dunia ini memang penuh dengan tantangan. Tapi di balik tantangan itulah manusia diharapkan mampu menemukan ketenangan dan kebahagiaannya.

“Kebahagiaan yang sebenarnya, bukan apa pekerjaan dan berapa gaji yang kita dapatkan, tapi pada hati sikap hati dalam menerima realita tantangan di depan mata,” kata saya.

Oleh karena kelas memang sudah hampir berakhir, saya berjanji untuk diskusi lebih jauh dengan Matt. Sebelum meninggalkan kelas, seperti biasanya, saya berikan terjemahan Al- Quran dan beberapa buku ringan tentang Islam. Tidak lupa nomor HP saya yang bisa dihubungi 24 jam. Saya juga ingatkan Matt untuk membaca Al-Quran secara perlahan-lahan, dan jika ada hal-hal yang tidak difahami agar dicatat untuk didiskusikan pada pertemuan selanjutnya.

Tiga hari selanjutnya, hari Senin lalu, Matt menelpon Islamic Center untuk berbicara dengan saya. Pertayaan lumrah dari seseorang yang nampaknya sudah tertarik untuk bersyahadat, “Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Muslim?”

Saya tanyakan apakah sudah mempelajari Islam? Apakah sudah membaca Al-Quran yang saya berikan? Jawabannya, “Sedikit, tapi saya sudah merenungkan apa yang Anda sampaikan tempo hari itu.”

Setelah saya jelaskan bagaimana cara untuk menjadi seorang Muslim, dengan mantap Matt mengatakan akan datang. “Anda punya waktu hari ini? Bisakah saya melakukannya hari ini?” tanyanya. Saya balik bertanya seolah tidak percaya kalau Matt yang datang dan sedikit “bingung” kini yakin ingin masuk Islam. “Anda yakin Islam cocok untuk Anda?” tanyaku. “Ya,” jawabnya.

Saya menyuruh mandi dan bersih diri, lalu datang menjelas jam 12:00 siang. Tak berselang lama datanglah Matt. Kini ia nampak bersih dan berpakaian cukup rapi.

Menjelang azan, saya menyuruh Matt untuk ke kamar mandi ditemani oleh seorang Muslim lainnya dan berwudhu. Setelah wudhu dan di saat jama’ah telah berkumpul, saya menuntun Matt mengucapkan Kalimah “Laa ilaah illah Allah-Muhammadan Rasul Allah”, diikuti gema takbir para jama’ah. Dilanjutkan dengan shalat Zuhur berjama’ah, shalat pertama bagi Matthew Sanches.

 

99. Hj.Irene Handono : Perayaan NATAL 25 Desember antara Dogma dan Toleransi

 

Prakata Penulis

Alhamdulillah segala puji syukur hanya kepada Allah SWT. Limpahan rakhmat dan barakah-Nya, membuat Saya mampu menyelesaikan penulisan buku ini.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Teladan beliau yang menggugah semangat saya untuk senantiasa menyampaikan kebenaran, meskipun mengandung resiko yang pahit.

Buku yang Anda baca ini adalah buku kedua saya, menyusul buku pertama “Mempertanyakan Kebangkitan & Kenaikan Isa al Masih”. Meskipun sederhana, kedua buku tersebut saya maksudkan sebagai aktualisasi jihad saya dalam memerangi “kebodohan” umat, khususnya “kebodohan” yang disebabkan oleh dominannya paham-paham non-Islam.

Sebenarnya, jika kita mau kritis, paham-paham dominan tersebut tidak selayaknya mempengaruhi umat Islam, sebab sebagian besar hanyalah dogma-dogma. Padahal umat Islam telah dididik oleh ajaran-ajaran mulianya untuk mampu melihat sesuatu dengan sebuah dasar pijakan.

Berkaitan dengan dogma dan anti dogma itulah, saya “mencoba” menerjuni dakwah. Saya senantiasa berusaha untuk memberikan penyadaran pada umat agar tidak begitu saja membenarkan sebuah dogma apalagi mengikutinya.

Tentu saja, saya bukanlah apa-apa. Semua peran dakwah yang saya lakukan, termasuk lewat buku ini tak lepas dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Dengan tidak bermaksud mengecilkan peran yang lain, pada kesempatan ini saya perlu menyampaikan secara khusus ucapan terimakasih kepada yang terhormat; H Junus Jahya, Dr. M. Roem Rowi, K.H. Kosim Nurzeha, S.Ag, H. Bisri Ilyas, H. Tamat Anshari Ismail, Dr. Ir. H. Joko Sungkono, Ust. Drs. Abdus Syakur Thawil, Ust. Khairul Yunus, dr. H. Yunus, H. Suhadi, H. Harianto, dan Hj. Sumindro. Juga kepada Muhammad Syafi’I Antonio, MSc, yang berkenan memberikan pengantar buku ini. Atas dorongan dan bantuan beliau-beliau, saya mampu menyelesaikan buku ini. Semoga Allah SWT menerima dan memberi balasan yang setimpal.

Terakhir, mudah-mudahan buku yang sangat sederhana ini mampu memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

 

Pengantar

Dr. Imaduddin Abdurrahim

 

Menjadi seorang muslim yang baik, sekaligus menjadi warga negara dan anggota masyarakat yang baik, tidaklah terlalu mudah. Terlebih bila harus berinteraksi dengan penganut agama lain yang harus kita sikapi dengan “bijaksana dan benar”. Sebagai konsekuensi dari aqidah kita, demikian juga perwujudan kerukunan umat beragama dalam masyarakat Bhinneka Tunggal Ika.

Jurus “bijaksana dan benar” tampak harus menjadi kata kunci dan pedoman utama. Bahkan keberadaannya harus digabungkan bersama-sama, tidak boleh salah satu ditinggalkan demi mengejar kepentingan yang lain. Bila penggabungan ini gagal, tidak mustahil interaksi hubungan antar umat beragama (khususnya Islam – Kristen) akan terjadi dalam format yang salah dan terdistorsi.

Pengalaman sejarah menunjukkan “ofisialisasi” perayaan Natal bagi bukan pemeluknya (Muslim – Hindu – Budha) telah menimbulkan polema yang cukup besar antara umat Islam yang diwakili MUI dengan pemerintah di satu sisi, dan antara umat Islam dengan umat Kristiani di sisi lain. Jelas bangsa Indonesia tidak menghendaki terulang tragedi yang tidak bijaksana dan tidak benar ini. Apatah lagi kalau harus mengorbankan putra terbaik seperti Buya HAMKA pada saat bangsa Indonesia membutuhkan satu kesatuan dan kepaduan dalam memasuki PJPT II dan menghadapi era globalisasi.

Menghadapi fenomena ini Saudari Irena Handono – melalui buku kecilnya ini, Perayaan Natal 25 Desember antara Dogma dan Toleransi – mencoba mengundang segenap pembaca untuk merenung sejenak menganalisa aspek kebenaran dalam memahami suatu ajaran atau informasi atau dogma demikian juga bijaksana dalam bertindak.

Melalu studi literatur dan catatan sejarah terus mencoba mengajak kita untuk menelusiri kondisi sosial dan spiritual kaum bani Israel yang kelak kemudian hari Isa Al Masih turun di tengahnya. Secara tajam Irena mengajukan suatu tesis bahwa Juru Selamat bukanlah hak monopoli dari Jesus Chrits saja karena hal tersebut merupakan suatu “amanah” yang juga disandang oleh tokoh-tokoh lain.

Dengan penuh objektivitas, Irena mencoba mempertanyakan, bahkan mendobrak tradisi-tradisi, apakah benar kelahiran Jesus Chrits itu terjadi pada 25 Desember tahun I. Apakah tidak ada unsur-unsur luar yang mempengaruhi penetapan 25 Desember tersebut seperti unsur politis, kepercayaan terhadap Dewa Matahari atau paganisme lainnya.

Buku kecil ini juga menguji keabsahan silsilah Jesus Chrits hingga Nabi Daud dengan peran sosok Yusuf sebagai bapak biologis. Secara umum buku kecil ini sangat menantang intelektualitas kita untuk mengkaji dan memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur kita anggap benar, padahal masih banyak yang harus “dibenarkan”. Adalah jiwa besar dan objektivitas kita yang dibutuhkan untuk melihat suatu yang benar itu benar dengan menerimanya secara konsekuen serta bertanggung jawab.

Semoga Fatwa MUI yang disertakan dapat memberikan arah dan pedoman agar kita dapat berinteraksi dengan agama lain secara bijaksana tanpa mengorbankan nilai kebenaran. Atau dengan kata lain, mudah-mudahan setelah membaca buku kecil ini kita semua akan lebih objektif dalam menganalisa suatu informasi atau ajaran, serta bijaksana dalam berinteraksi dengan pemeluknya. Amin.

Jakarta, 12 Desember 1997

 

Pengantar Penerbit

Apa yang ada dalam benak anda sebagai orang Islam bila ada seorang saudara kita sesama muslim, atau bahkan seorang tokoh dalam komunitas masyarakat Islam ikut merayakan natal pada tanggal 25 Desember di gereja?

Sebagian dari kita ada yang memahami atau memaknai fenomena itu sebagai solidaritas untuk kerukunan umat beragama. Artinya, sampai pada batasan tertentu umat Islam boleh berinteraksi dengan umat Kristiani, apalagi perayaan natal adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus, yang notabene dalam Islam adalah Isa Al Masih, yang diyakini termasuk salah seorang Nabi. Jika kemudian saudara kita sesama umat Islam ikut merayakan Natal, tentunya tidak apa-apa. Bukankah kita juga harus selalu mensuri tauladani peri hidup para Nabi dan Rasul.

Tetapi ada pemahaman lain, diluar kerangka doktrin yang sudah tertanam selama berabad-abad, bahwa kelahiran Yesus Kristus tanggal 25 Desember, ternyata sama sekali tidak didukung oleh data yang otentik. Bibel sebagai kitab suci umat Kristiani, yang seharusnya memperkuat doktrin umat Kristiani, ternyata juga tidak bisa membuktikannya. Yang ada hanya catatan sejarah, bahwa perayaan Natal baru disahkan pada abad ke-4 Masehi.

Pertanyaan yang muncul pun bisa bermacam-macam sifatnya. Penetapan perayaan tersebut bisa jadi terpengaruh oleh ajaran-ajaran lain. Dengan mengingat bahwa pada abad-abad tersebut “Paganisme Politheisme” sangat berpengaruh pada masyarakat saat itu. Ujungnya, tentu saja sinkretisme yang terjadi, agar perayaan tersebut bisa diterima dan dimeriahkan oleh masyarakat.

Demikianlah, setiap fenomena yang kita temui pada skala realitas pada dasarnya selalu bersifat multi wajah sehingga melahirkan beraneka pemaknaan, pemahaman dan penyikapan. Maka dibutuhkan; Pertama, sifat intelektual. Untuk supaya dapat memahami suatu fenomena secara menyeluruh, informasi yang penuh perlu dimiliki. Tidak ada harapan untuk memahami sesuatu tanpa adanya informasi itu. Kedua, yaitu diperlukan kondisi emosional yang cukup, untuk bisa berlapang dada menerima suatu kebenaran. Ketiga, adalah kemauan untuk menerima realitas tersebut, yang diorientasikan ke arah tujuan yang konstruktif.

Tujuan kami, semoga buku kecil ini, bisa memberikan informasi yang menyeluruh, bagi kepuasan intelektual para pembaca, sehingga para pembaca sekalian dapat berlapang dada untuk lebih arif dalam bersikap pada perayaan Natal 25 Desember.

… لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنٌ ….

“….Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku ….”

Kami berharap agar penerbitan buku ini bermanfaat bagi kita semua; sekaligus menambah khazanah dan intelektualitas keislaman kita. Amin.

 

Pendahuluan

Perayaan Natal, sungguh wah dan gemerlap; dengan pohon-pohon cemara lengkap digantungkan hiasan-hiasan, kerlap-kerlip lampu, dan hadiah-hadiah dibawahnya. Malamnya, tepat pukul 24.00 dilakukan misa (kebaktian). Rumah-rumah pun dihias pohon cemara, juga toko dan plasa, gedung dan kantor. Acara-acara televisi marak oleh nuansa Natal. Instansi-instansi juga secara resmi merayakannya.

Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: pertama, perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua, perayaan Natal telah mencapai “maqam” gengsi -simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang turut “berpartisipasi”. Sebaliknya mereka yang tidak “menyambut” perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga, seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah mereka tak lebih dari 15 persen.

Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan – termasuk kaum Kristen sendiri- yang paham tentang sejarah perayaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.

Langkanya literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika jawabannya adalah ya, apa dasar hukumnya? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?

 

Yesus dalam sejarah bangsa Yahudi

Sebelum membahas tentang perayaan Natal dan segala kontroversi yang menyertainya, terlebih dahulu perlu saya jelaskan latar belakang kesejarahan Yesus itu sendiri. Bahwa Yesus memang lahir dan hidup di kalangan bangsa Yahudi. Oleh karena itu, untuk bisa memahami sosok Yesus, harus paham terlebih dahulu bangsa Yahudi.

Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa mereka adalah “bangsa pilihan” Tuhan. Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kepentingan dan kesejahteraan mereka. Dan mereka merasa sebagai subjek, sedangkan bangsa lain cukup sebagai pelengkap penderita. Lebih lanjut hanya diri mereka yang dianggap “manusia”, sedangkan bangsa lain hanyalah pembantu, budak, bahkan anjing. Keyakinan seperti itulah yang membuat mereka lebih dari bangsa lain, sombong, pongah, keras kepala, bahkan kejam.

Pernyataan-pernyataan seperti tersebut diatas, bukan sebuah dramatisasi belaka, melainkan bersumber dari Bibel sendiri, diantaranya:

“Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan iman dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:6).

“Engkau akan diberkati lebih daripada segala bangsa” (Ulangan 7:14).

“Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahhmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka….” (Ulangan 7:16).

“Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro Fenesia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dan anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. “Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. “Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” (Markus 7:26-29).

Pernyataan-pernyataan Bibel tersebut di atas menjelaskan betapa bangsa Yahudi menganggap diri mereka istimewa yaitu “bangsa pilihan Tuhan”. Oleh karena itu mereka boleh berbuat apa saja terhadap bangsa lain, termasuk membantai (melenyapkan). Dan semua itu dilakukan atas nama Tuhan.

Namun adakah suatu bangsa yang rela terus menerus ditindas, dijajah, ataupun diperbudak? Demikian pula dengan bangsa Filistin (Palestina), penduduk asli negeri itu, yang setelah melalui perjuangan berat akhirnya bangsa Filistin menang. Kemenangan bangsa Filistin tersebut membuat keadaan menjadi terbalik. Bangsa Yahudi – sang penindas- kini dalam bayang-bayang tertindas. Maka mereka memohon agar Yahwe (Tuhan Israel) segera mengutus seorang Al Masih (Juru Selamat) agar mereka jaya dan berkuasa lagi.

 

Sederetan Al Masih

Dari Bibel, khususnya dalam Perjanjian Lama, akan kita dapatkan bahwa Al Masih itu bukan hanya Yesus. Mereka antara lain:

1. Saul Al Masih

Saul yang berhasil mengalahkan Filistin diangkat sebagai Al Masih,

“Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umatNya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas milikNya sendiri (I Samuel 10:1).

2. Harun Al Masih

Setelah Saul menjadi Al Masih, maka Harun (saudara Musa) juga diangkat sebagai Al Masih.

“Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya.” (Imamat 8:12).

3. Elisa Al Masih

Kehadiran seorang Al Masih untuk masa ini ternyata tidak cukup, maka setelah Harun menjadi Al Masih, Elisa pun diangkat menjadi Al Masih.

“Juga Yehu, cucu Nimzi, haruslah kau urapi menjadi raja atau Israel, dan Elisa bin Safat dari Abel Mehola, harus kau urapi menjadikan Nabi menggantikan Engkau.” (I Raja-raja 19:16).

4. Daud Al Masih

Setelah Saul meninggal dunia, maka sesepuh suku-suku Israel mengangkat Daud sebagai Al Masih.

“Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan Tuhan; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel.” (II Samuel 5:3).

5. Salomo Al Masih

Setelah Daud meninggal dunia, maka Salomo putra Daud diangkat sebagai Al Masih. Sebagaimana tercantum dalam I Raja-raja 1:39.

“Imam Zadok telah membawa tabung tanduk berisi minyak dari dalam kemah, lalu diurapinya Salomo. Kemudian sangkakala ditiup, dan seluruh rakyat berseru “Hidup Raja Salomo.”

6. Koresy Al Masih

Raja Syrus penyembah berhala ini diangkat sebagai Al Masih setelah meninggalnya Salomo.

“Beginilah firman Tuhan: Inilah firmanKu kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresy yang tangan kanannya kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu gerbang tidak tinggal tertutup.” (Yesaya 45:1).

Ayat ini dialamatkan kepada Raja Syrus yang pagan, untuk memenuhi kerinduan akan datangnya penyelamat, walaupun pada kenyataannya ayat tersebut adalah nubuat dari nabi Yesaya akan datangnya seorang Koresy (Quraisy) sebagai nabi akhir, yaitu Muhammad Saw. Amatlah mustahil jika Tuhan menyayangi seorang kafir untuk diurapi. Apalagi ternyata bahwa belum lama bangsa Yahudi dipimpin oleh Al Masih yang kafir, situasi keamanan dan politik berubah kembali dengan datangnya serbuan pasukan Romawi. Maka kembali lagi seperti pada peristiwa sebelumnya, yakni ketika bangsa Israel menangis, meraung, dan memohon kepada Yahwe untuk diberi Al-Masih atau seorang Juru Selamat untuk membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi. Maka mereka berangan-angan dan menyusun kriteria Al Masih.

Orang-orang Israel akhirnya mengadakan kesepakatan bahwa Al Masih adalah seorang yang merupakan:

1. Raja-raja terdahulu yang dianggap “bangkit” dari kuburnya, antara lain: Daud Yesekhiel, Yosafat, atau.

2. Nabi yang “dibangkitkan”, misalnya Elia atau Elisa.

3. (Harus) Keturunan Daud dan Sulaiman.

Disamping tiga kriteria tersebut, bangsa Israel juga mempunyai penghayatan bahwa kelahiran seorang pahlawan (Juru Selamat) haruslah lahir dari seorang perawan, sebagaimana pahlawan-pahlawan bangsa terduhulu yang juga terlahir dari seorang perawan.

 

Yesus Keturunan Daud?

Bibel selalu mengatakan bahwa Yesus adalah anak Daud. Nubuat tentang keturunan Daud yang akan berkuasa antara lain: II Samuel 7:12-13 dan I Tawarikh 17:11-12:

“Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan tahta kerajaanya untuk selama-lamanya.”

Demikian pula Kisah Para Rasul 2:30

“…. Bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas tahtanya”

Padahal, dengan garis keturunannya (silsilah), terbukti bahwa Yesus bukan keturunan Daud, karena Maryam bukan keturunan Daud. Yang merupakan keturunan Daud adalah Yusuf, yang oleh Bibel disebut sebagai tunangan Maria (Maryam), Silsilah itu sendiri juga mengandung perbedaan. Matius (1:6-16) menurut 28 orang sedangkan menurut Lukas (3:23-31) 43 orang. Jadi terdapat selisih 15 generasi. Perhatikan silsilah Yesus pada lampiran.

Lantas mengapa Bibel membuat kekeliruan seperti itu? Sejarah menyatakan bahwa bangsa Israel merasa dirinya sebagai “bangsa pilihan” telah berabad-abad mengalami penindasan dan penjajahan bangsa-bangsa Babilonia, Yunani, siria dan Romawi. Oleh karena itu mereka selalu terkenang pada jaman keemasan di bawah kepemimpinan Daud dan berharap datangnya “Raja Israel” dari keturunan Daud yang akan melepaskan mereka dari kesengsaraan.

Jelas bahwa pengikatan Isa-Yusuf-Daud adalah rekayasa untuk melegitimasi bahwa Yesus adalah keturunan Daud, Al Masih yang dinanti-nantikan sebagai Juru Selamat.

 

Yesus dan Kontroversi kelahirannya

Yesus dalam tradisi sejarah umat Islam sebenarnya adalah Isa Al Masih putra Maryam. Sebutan “Isa” (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Ibrani dari kata “Esau”. Dalam bahasa Latin nama itu menjadi “Yesus”. Munculnya nama Yesus terjadi pada peristiwa pengadilan Isa Al Masih oleh mereka yang hadir dengan menambahkan huruf “J” pada awal dan “S” pada akhir kata “Esau” sehingga menjadi Yesus. Nama Yesus baru populer pada abad ke-2. Populernya nama Yesus akhirnya menenggelamkan nama asli Esau di kalangan Kristen. Sedangkan Al Qur’an dan umat Islam tetap mempertahankan nama Esau (Isa dalam dialek Arab).

Sedangkan kata Masyiakh, Messiah, atau Mesyah berasal dari bahasa Arab dari kata masaha dengan tiga huruf mati yang dikandungnya yaitu: m-s-h yang berarti mengusap. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani mengubah sebutan Messiah bagi Isa menjadi Kristos yang berarti yang disiram dengan minyak (diurapi). Oleh orang Eropa, Yesus disebut Christus atau Kristus, yaitu Sang Penyelamat atau Sang Penebus Dosa.(Bersambung)

http://www.irena-center.org/index.php?action=fullnews&id=12

 

Perdebatan Seputar “Ayah” Yesus

Keajaiban kelahiran Yesus ke dunia menjadi bahan aktual dalam diskusi. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Yesus itu darah daging Yusuf tunangan Maria (Maryam). Oleh karena itu -seperti sudah saya jelaskan (kekeliruannya) di depan -Yesus memiliki silsilah dari Yusuf, dengan nenek moyang Daud. Bibel sendiri rupanya masih bingung terhadap status “ayah” Yesus.

Pada suatu kesempatan Yusuf itu diakui sebagai tunangan Maryam (Matius 1:18), tapi dilain kesempatan juga diakui sebagai suami Maryam (Matius 1:19). Terhadap persoalan ini, sebagian orang Yahudi sangat ekstrem dengan menuduh bahwa Yesus adalah anak haram, hasil hubungan gelap Maryam dengan Yusuf.

Sebagian lagi ada yang berpendirian bahwa Yesus itu dilahirkan secara murni suci, tanpa campur tangan (unsur jantan) manusia. Oleh karena itu Yesus adalah “anak Tuhan”. Tetapi pihak yang berpendapat demikian juga bertentangan dalam memahami dan menafsirkan kata “anak Tuhan” tersebut. Di satu pihak memahaminya secara harfiyah (literal), bahwa Yesus adalah anak secara “biologis”, yakni anak yang kejadiannya memerlukan campur tangan Tuhan secara langsung kepada Maryam melalui ruh yang suci. Pemikiran tersebut nantinya melahirkan konsep ketuhanan “Trinitas”: Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Suci. Akan tetapi sebagian pihak memahaminya secara kiasan (metafora). Bahwa anak, bukan dalam pengertian “biologis” atau nasab, melainkan kiasan saja. Pendapat seperti ini didasarkan oleh adanya penyebutan anak yang bukan hanya kepada Yesus, sebagaimana penjelasan Bibel di bawah ini:

“Maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. ” (Kejadian 6: 2).

“Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka.” (Kejadian 6:4).

“Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: “AnakKu engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini.” (Mazmur 2:7).

“Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, dimana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel. Efraim adalah anak sulungku.” (Jeremia 31:9).

“Anak Eros, anak Set, Anak Adam, Anak Allah, “(Lukas 3:38).

“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:14).

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9).

“Aku sendiri telah berfirman;”Kamu adalah Allah, dan anak-anak yang Maha Tinggi kamu sekalian.” (Mazmur 82:6).

Dari paparan ayat-ayat tersebut diatas, jelaslah bahwa istilah “anak Alah” adalah ungkapan khas orang Yahudi kepada umatnya, dan jumlahnya banyak, bukan hanya Yesus.

Islam Tentang Isa dan Maryam

Islam dengan tegas menolak semua tuduhan yang tidak benar mengenai Maryam dan putranya. Islam bahkan menjunjung tinggi keduanya. Marilah kita telaah penjelasan Allah SWT dalam Al Qur’an:

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata; Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa. Ia (Jibril) berkata: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina. Jibril berkata: Demikianlah, Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh. ” ( Maryam/19:16-22 )

“Dan ( ingatlah ) ketika Malaikat (jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Ali Imron/3-42)

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah, maka jadi ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam/19:27-36).

Sejarah Natal

Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – yang mereka sebut Tuhan Yesus.

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April, atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

 

Kelahiran Yesus Menurut Bibel

Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).

Lukas 2:1-8:

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing dikotanya sendiri.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.

Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.

Didaerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

 

Menurut Matius 2:1, 10, 11

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem.

Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka kedalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.

Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM-4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al-Qur’an telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihissalam).

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Surat Maryam: 23-25)

Jadi menurut Al Qur’an Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Buah kurma yang masak gampang rontok, maka wajar jika hanya digoyang saja buah itu akan gugur. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus – September.

Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:

There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Berhlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so low in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted abaut A.D. 300.

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Bethlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi).

(bersambung)

100. Taubatnya sang Penginjil

 

Setelah 2 Tahun Murtad, dipandu oleh ustadz Abu Deedat, ayat Injil kitab Ulangan 4:35-39 mengantar Gunawan kembali bersyahadat La ilaha illallah – Muhammadar Rasulullah.

Shalat tarawih baru saja usai, Kamis (6/10). Jarum jam menunjuk angka 21.30 Wib, tiba-tiba telepon Ustadz Abu Deedat berdering. Setelah diangkat, terdengar suara, “Ustadz, ada pemuda lulusan madrasah tsanawiyah (MTs) jadi penginjil. Tolong selamatkan.” Si penelepon adalah pengelola Klinik dan Rumah Sakit Bersalin Ratna Komala, Bekasi, Ustadz Ahmad Yani.

Pemuda yang bernama Gunawan (19) ini, diketahui murtad setelah mengalami kecelakaan dan dirawat di klinik miliknya. Malam itu juga, pemuda asal Lampung ini dibawa ke FAKTA. Gunawan bercerita, setelah ayahnya meninggal, ia mondok dan sekolah di sebuah MTs di Leuwiliang, Bogor, atas biaya pamannya. Setelah lulus tahun 2003, ia berkenalan dengan Ferdinand, laki-laki Batak. Gunawan diajak ke Bekasi dan dikenalkan pada pendeta, juga asal Batak. “Diajak ke gereja saya nurut,” tutur Gunawan yang sudah mulai menjadi penginjil.

Meski hatinya berontak, Gunawan tak kuasa menolak ajakannya. “Mungkin, ini pengaruh minuman, seperti minyak urapan, yang diberikan pada saya,” ujarnya menebak. Kemudian, ia memperlihatkan foto copy ijazah tsanawiyah miliknya.

Ustadz Deedat keheranan. Betapa tidak, nilai pendidikan Agama Islamnya sangat bagus, tapi kenapa murtad?

“Ibu tahu, jika Anda sudah Kristen?” tanya Deedat menelisik.

Ia mengatakan keluarganya sudah tahu. Ibunya pun berkali-kali menasihati agar bertaubat

dan kembali ke Islam, tapi ia malah marah-marah.

“Apa aktivitas Anda di gereja?”

Ia mengaku mengajar gitar di sekolah Kristen dan melakukan pelayanan dengan cara menyampaikan kesaksian di gereja dan KKR.

“Apa ajaran pendeta tentang Islam?” selidik Ustadz Deedat.

“Islam tak menjamin keselamatan. Nabinya saja belum selamat karena masih didoakan dengan shalawat. Jika nabinya tak selamat, bagaimana dengan umatnya?”

jawabnya polos.

“Apa lagi doktrin pendeta tentang Islam?” lanjut Deedat.

“Islam itu teroris yang suka ngebom gereja dan mengajarkan poligami,” jawabnya.

Setelah itu, Abu Deedat mulai melakukan terapi.

“Jika Kristen menjamin keselamatan, coba baca Kisah Para Rasul 13:23.”

Gunawan pun membaca ayat itu, Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juru selamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.

“Asal Anda dari mana?” tanya Deedat.

“Lampung!” jawabnya singkat.

“Menurut ayat itu, Anda tak diselamatkan Yesus, karena Yesus hanya menyelamatkan orang Israel,” jelas Deedat.

Gunawan menganggukkan kepala tanda petuju.

Deedat menambahkan beberapa dalil. “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel,” (Matius 15:24). Bahkan, Roh Kudus pun melarang penginjilan ke Asia: “Karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia,” (Kisah Para Rasul 16:6).

Gunawan diam saja, pandangannya terpaku pada Alkitab di pangkuannya.

“Apakah Anda masih meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat?” tanya Deedat.

“Ya!” jawabnya mantap.

“Jika begitu silakan baca Injil Markus 12:29.”

Gunawan membacanya: “Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”

“Jelas, kan? Di ayat itu Yesus mengakui dirinya bukan Tuhan, karena ia bertuhan pada Allah. Karena Yesus punya Tuhan, maka ia bukan Tuhan. “Silakan baca Injil Lukas 6:12,” pinta Deedat.

Dengan cepat ia menemukan ayat itu, nampak jelas ia terbiasa mengkaji Bibel. “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.”

“Makin jelas, kan, bahwa Yesus bukan Tuhan, bukan Juruselamat dan penebus dosa. Sebab, Yesus sendiri berdoa pada Allah. Dalam Lukas 22:42 dan Matius 6:13 Yesus minta keselamatan pada Allah. Jika Yesus Juruselamat, seharusnya ia tak minta keselamatan pada siapapun,” tegas Deedat.

Pemuda itu terperangah, pandangannya kosong.

Tanpa membuang waktu, Deedat melanjutkan, “Memang, di Alkitab ada ayat yang menyatakan, Yesus mati dan hidup kembali supaya menjadi Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus. Silakan baca kitab Roma 14:9.”

Ia pun membacanya, “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”

“Ayat inilah yang jadi landasan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus, melainkan tulisan Paulus pada jemaatnya di Roma. Ayat ini bertentangan dengan sabda Yesus dan firman Allah. Coba baca firman Allah dalam kitab Ulangan 4:35-39,” lanjut Deedat.

Gunawan membacanya: “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia…. Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”

“Perhatikan baik-baik. Allah berfirman bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Inilah syahadat La ilaha illallah.

Mendengar kalimat tauhid, Gunawan tak kuasa menahan air matanya. Begitu kalimat La ilaha illallah diulang, tangisnya makin menjadi.

Ustadz Yani dan beberapa orang yang hadir menyarankan, agar Gunawan mengikrar ulang dua kalimat Syahadat. Sambil menjabat tangan Gunawan, Abu Deedat menuntun ikrar dua kalimat syahadat. Jum’at (7/10) dini hari, hari ketiga Ramadhan, Gunawan kembali ke pangkuan Islam setelah dua tahun murtad.

Abu Deedat terus melanjutkan terapinya. Keraguannya terhadap Islam hasil indoktrinasi pendeta, dipatahkan satu persatu. Deedat juga menjelaskan makna dan hakikat al-Islam.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Deedat berpesan, “Selama ini, Dik Gun sudah berbuat dosa pada Allah, durhaka pada ibu dan bermusuhan dengan saudara kandung. Adik harus istighfar mohon ampun pada Allah. Besok harus minta maaf pada ibu di Lampung!” Ia pun hanya menangis menyesali dosanya.

Sekitar jam 01.15 dinihari, pertemuan berakhir. Wajah Gunawan nampak sumringah. Sebagai kenang-kenangan, ia menyerahkan Surat Baptisnya di Gereja Bethel pada Tim FAKTA. Semua yang hadir memeluk pemuda yang berbadan tinggi gempal, seraya berpesan, “Cukup dua tahun berpisah dengan Islam. Jaga iman, jangan lepas lagi. Semoga istiqamah di jalan Allah.”

 

101. Yvonne Ridley from captive to convert

 

Anda masih ingat Yvonne Redley ?Bekerja sebagai wartawan Sunday Express, koran terbitan Inggris, Ridley pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Namun penyamarannya terbongkar dan menjadi tawanan Taliban yang pada akhirnya mengantar beliau kepada hidayah Islam. Dengarkan streaming pengalaman spiritualnya “From Captive to Convert”.

Hidayah Islam telah menumbuhkan Ghirah Jihadnya membela para korban imperialisme AS dan sekutunya di Afghanistan, Irak, Palestina dan negara negara Islam lainnya, Anda bisa melihat disitusnya http://www.yvonneridley.com yang banyak mengungkap kejahatan pasukan Salibis khususnya foto foto yang memperlihatkan kebencian tentara Salib terhadap Islam. Perang Salib Modern yang tengah dilancarkan Bush bukanlah basa basi, masihkah kita umat Islam diam saja

 

FROM CAPTIVE TI CONVERT

Yvonne Ridley, seorang wartawati Inggris mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi oleh pasukan Taliban. Sosok yang selalu digambarkan ‘kejam’ oleh media AS

Apa perasaan Anda jika tertawan dan ditangkap musuh?. Mungkin susah untuk membayangkan nasib anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi jika menghadapi tuduhan mata-mata. Yvonne Ridley, wartawati Sunday Express, Inggris, ditangkap pasukan Taliban yang oleh media massa AS digambarkan sebagai kelompok kejam.

Tetapi pengalaman Yvonne di Afghanistan saat ditangkap Taliban justru membuatnya masuk Islam bahkan menyebutnya sebagai keluarga terbesar dan terbaik didunia. Alkisah, mantan guru sekolah Minggu yang juga mantan peminum itu masuk Islam setelah membaca Al-Qur’an usai di lepas oleh Taliban.

Menurutnya, kaum Taliban mendapat liputan media massa yang tidak adil

Bekerja sebagai wartawan Sunday Express, koran terbitan Inggris, Ridley pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik.

Tetapi penyamarannya justru terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai di dekat Jalalabad persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh.

Yang ada di benaknya ketika tentara itu dengan marah mendatanginya adalah: ”Luar biasa tampan.”

”Bola matanya hijau, khas bola mata dari daerah itu dan dengan jenggot yang tebal.”

”Tetapi kemudian ketakutan mulai merayapinya. Saya sempat melihatnya lagi dalam perjalanan ke Pakistan setelah saya dibebaskan. Ia sempat melambaikan tangannya dari mobil.”

Ridley diinterogasi selama sepuluh hari tanpa diperbolehkan menggunakan ponsel maupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulangtahun ke 9.

Ridley mengatakan ia tak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percaya sebagai kebenaran.

Tetapi menurutnya anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster jauh sekali dari realitas.

Ia mengatakan, orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan ramah.

Banyak yang mengatakan perempuan berusia 46 tahun ini terkena Sindrom Stockholm, dimana sandera malah kemudian memihak penyandera.

Tetapi ia membantahnya: ”Saya membenci mereka yang menangkap saya. saya meludahi mereka, kasar terhadap mereka dan menolak makan. Saya tertarik Islam hanya ketika saya sudah bebas.”

102. Islam : Jalan Lurus Johny Indo

 

Johny Indo, mantan bintang film terkenal, dan pernah dibui karena terlibat dalam perampokan toko emas di Cikini kini menjadi mubalig. Johny yakin jalan hidup yang dilalui adalah bagian dari mengenal Sang Pencipta.

Jakarta: Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Masa lalu yang kelam tak serta-merta membuat masa depan juga gelap. Johny Indo, misalnya, mantan bintang film yang pernah di penjara, kini menjadi mubalig. Sekilas, tak ada yang menyangka pria sederhana yang telah memasuki usia uzur ini adalah sosok yang dulu terkenal, Johny Indo! Johny Indo alias adalah salah satu anggota gerombolan yang merampok toko emas di Cikini, Jakarta Pusat, pada 1979. Perampokan ini menjadi berita yang menggemparkan karena gerombolan membawa lima pistol, satu buah granat, dan puluhan butir peluru. Buah dari aksinya, Johny Indo dijatuhi hukuman penjara 14 tahun. Namun baru tiga tahun menjalani hukuman, ia dan gerombolan berjumlah 34 orang berusaha melarikan diri. Menurut Johny, ia melarikan diri semata-mata mengikuti naluri.

Setelah memperoleh remisi, Johny hanya menjalani masa tahanan selama sembilan tahun. Kehidupan penjara yang pahit membuat ia lebih dekat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Keluar dari penjara, ia mulai mendalami agama. Pada pertengahan 90-an, ia menjadi mualaf dengan nama Haji Umar Billah [baca: Tobat Total Johny Indo].

Sekarang di lingkungan rumahnya di Cicurung, Sukabumi, Jawa Barat, Johny dikenal sebagai orang yang aktif di berbagai bidang kemasyarakatan, terutama dalam kegiatan rohani. Hari-harinya diisi ceramah di berbagai tempat. Gaya bicara yang lugas dan sederhana menjadi ciri khas saat memberi penyegaran rohani.

Pria yang dulu pernah menjadi bintang film terkenal ini bertekad menjalani hidup lurus. Kini Johny ingin menikmati masa tua bersama istri dan kedua anaknya. Johny yang lalu berbeda dengan Johny sekarang yang taat beribadah mencari rida-Nya. Ia yakin perjalanan hidup adalah lembaran-lembaran yang harus dilalui dan bagian dari proses mengenal Sang Pencipta.(Liputan6.com/06/11/2005)

 

Tobat Total Johny Indo

Johny Indo yang bekas perampok legendaris, kini menjadi ustad. Kendati demikian, pemilik nama baru Umar Billah ini masih mengingat nasib bekas narapidana.

Sukabumi: Hidayah telah mengubah Johny Indo, dari penjahat kelas kakap menjadi mubalig yang didengar petuahnya. Setelah menjadi muslim, Johny yang kini bernama Haji Umar Billah menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk Islam [baca: Johny Indo, dari Bui Menjadi Dai].

Untuk menjadi Umar Billah tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Belum lama berselang, SCTV berkesempatan mengorek latar belakang kehidupan mantan gembong perampok spesialis emas ini di rumahnya di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Bekas biang perampok era 70-an ini harus melalui jalan berliku untuk meraih Islam.

Mendengarkan penuturan dan kisah hidup Johny Indo bak adegan dan setting sebuah film. Lantaran itu pula, kisah bekas terpidana 14 tahun kurungan penjara di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan itu menarik minat PT Tobali Indah Film. Kisah itu diangkat ke sebuah filam layar lebar berjudul Johny Indo, Kisah Nyata Seorang Narapidana. “Saya menjadi bintang utamanya atas rekomendasi Harmoko dan Menteri Kehakiman saat itu Ismail Saleh,” kata Johny Indo yang mempunyai nama Belanda Johanes Hubertus Eijkenboom.

Setelah sukses main film, popularitas Johny Indo sebagai foto model, bintang iklan, figuran film yang sebelumnya digeluti, kembali terkuak. Saat itulah karirnya kembali meroket. Saat itu pula Johny kembali terbelit “penyakit” klasik: harta, tahta, dan wanita.

Namun sepertinya, Tuhan masih sayang kepada Johny Indo. Di saat itu, anak bekas Tentara Belanda (KNIL) itu teringat masa-masa di Nusakambangan. “Rekan-rekan yang beragama Islam di penjara itu kayaknya luntur kekerasannya. Mereka melakukan ibadah puasa dan ketika takbir mereka menangis. Itu menandakan bahwa kejahatan yang dilakukannya adalah suatu kekhilafan,” tutur Johny Indo, mengenang.

Islam kemudian menjadi pilihan hidup kendati harus mengorbankan keluarga. Keputusan itu sangat pahit sehingga harus bercerai dengan istri pertama yang telah memberinya lima anak. Kini blasteran Belanda-Pandeglang, Banten, ini hidup tenang bersama istri keduanya yang telah memberi dua anak di Sukabumi.

Kendati demikian, Johny Indo tetap masih peduli dengan nasib para napi. Menurut dia, nasib napi bukan hanya tanggung jawab mereka sendiri tetapi juga pemerintah. Bahkan, Johny bisa menjamin 99 persen bekas napi akan kembali hidup wajar dan tak kembali ke bui bila pemerintah membeli modal atau keterampilan. “Selama ini pemerintah hanya memberi surat izin mengemudi bagi yang berminat, tetapi itu tidak cukup, seharusnya modal usaha juga,” kata Johny Indo.

Di sebuah senja di Cicurug, tepat selepas Magrib. Umar Billah yang mengidolakan Umar bin Khatab karena sama-sama bekas preman, masih tegar berdiri di mimbar sebuah masjid. Itulah kehidupan rohani Johny Indo yang bekas garong, memberikan ceramah agama dari masjid ke masjid hingga merambah ke luar Kota Sukabumi. Sang istri, Vonny Soraya, bangga. ” Pokoknya saya hanya mau tahu Bang Johny yang sekarang. Abang yang sudah lempeng,” kata Vonny.(Liputan6.com/08/12/2002)

 

Johny Indo, dari Bui Menjadi Dai

Johny Indo alias Haji Umar Billah dikenal sebagai bekas perampok spesialis emas yang ditakuti pada era 70-an. Kini mantan perampok itu menjadi mubalig.Sukabumi: Masih ingat kisah pelarian 35 narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada 1982? Bila masih, tentu Anda tak lupa dengan tokoh utamanya yang legendaris Johny Indo. Bekas garong yang paling ditakuti ini sekarang tobat total dan menjadi mubalig alias dai. Ketika ditemui SCTV di rumahnya di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, belum lama berselang, bekas perampok yang kini bernama muslim Umar Billah ini bercerita panjang lebar seputar kehidupannya yang penuh petualangan. Johny Indo muda bernama asli Johanes Hubertus Eijkenboom. Nama tambahan “Indo” muncul kemudian ketika ia berurusan dengan polisi. Dalam Berita Acara (BAP) pemeriksaan sebuah kasus, tiba-tiba saja polisi memberikan nama tambahan itu. “Jadi sebenarnya nama Indo itu adalah anugerah dari polisi,” kata Johny, yang memang blasteran Belanda-Pandeglang, Banten.

Secara berkelakar, Johny menjadi perampok atau penjahat sebenarnya “tak disengaja”. Selain lantaran kemiskinan yang menjerat, menurut dia, saat itu seseorang sangat mudah mendapatkan senjata api. “Awalnya main-main. Ketika itu saya coba-coba menembakkan senjata dan orang ketakutan. Bahkan ada orang yang meninggalkan hartanya. Setelah itu menjadi keterusan,” tutur Johny mengenang. Johny dikenal sebagai spesialis perampok toko emas. Daerah operasinya di Ibu Kota, antara lain Sawah Besar, Jatinegara, Tanahabang, dan Roxy. Total jenderal, sembilan toko yang dirampok menghasilkan 120 kilogram emas. Hasil rampokan, menurut Johny, selain untuk berfoya-foya juga dibagi-bagikan sebagian ke orang-orang miskin atau kaum duafa. Kendati demikian, kisah yang menyerupai Robin Hood itu, tetap diakui Johny sebagai kekhilafan dan membuat dia terdampar di “Alcatraz”-nya Indonesia.

Kisah Johny tak berhenti di situ. Setelah bebas dari Nusakambangan, Johny akhirnya memeluk agama Islam. Namun, keputusannya itu mendapat tantangan dari keluarga dan berakhir dengan perceraian dari Stella. Dari istri pertamanya itu Johny dikarunia lima anak. Selama tiga tahun Johny menduda. Selama itu ia bukan malah menjadi orang baik-baik. “Penyakit lama” kumat kembali bahkan Johny memiliki puluhan anak buah dengan bersenjata lengkap. “Boleh dikatakan saat itu kami bukan perampok lagi tetapi gerombolan kecil,” kata Johny yang kerap membawa tiga pistol dan menjepit granat di ketiaknya ini mengenang.

Johny dulu dan Johny sekarang tentu saja lain. Dari pernikahannya yang kedua dengan Vonny Soraya, penulis buku Johny Indo, Tobat dan Harapan ini dikarunia dua anak. Sang istri yang jauh lebih muda mengaku sebelumnya tak tahu banyak tentang kehidupan Johny. Ia baru tahu, kisah hidup suaminya dari film Johny Indo, Kisah Nyata Seorang Narapidana.(YYT/Syaiful Halim dan Anto Susanto/Liputan6.com/07/12/2002)

103. Agus Slamet (Na Peng An) : Ada apa dengan Islam sehingga begitu dibenci dan dimusuhi ?

 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah AL BAQAROH 2:120 – Judul diatas bukanlah isapan jempol belaka atau dikarang dikarang.

Didalam Edisi 2004 salah situs kristiani secara khusus mencantum para Muslim Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan islam Tionghoa indonesia kedalam Doa 40 Hari ( edisi 2004 ), yang isinya sangat self explained.

Berikut ini kami sajikan sebuah pengakuan dari ustadz Agus Slamet (d/h Na Peng An mantan pendeta cilik) seorang mubaligh dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Depertemen Komunikasi dan Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI dari situs mualaf.com , simak bagaimana perjalanan panjang beliau dari belenggu Kebencian beliau terhadap Islam akibat pendidikan yang sudah ditanamkan sejak “Di Sekolah Kristen” – program kristenisasi hingga akhirnya memperoleh hidayah Islam dan bahkan sekarang Subhanallah aktif sebagai Dai PITI.

Sebuah Keluarga Tionghoa jemaah PITI sedang belajar dan membaca Al Quran

KALAU saya renungkan, jalan hidup saya sungguh unik dan berliku. Sebab, sebelum memutuskan untuk memilih Islam – bahkan sekarang menjadi dai-saya adalah orang yang paling memusuhi Islam dan kaum muslimin. Sikap saya itu terbentuk karena pendidikan saya mengajarkan demikian Ketika duduk di kelas VI SD milik sebuah yayasan Katolik, saya sudah menyaksikan sikap para guru yang kurang simpatik, bahkan cenderung menekan kepada siswa yang beragama Islam.

Saya dilahirkan 28 Agustus 1962 dan ayah Tionghoa dan ibu berasal dan Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah. Sebagaimana lazimnya orang Tionghoa, ayah saya beragama Budha Konghucu. Sedangkan, ibu saya yang asli Jawa adalah Islam abangan dan banyak mengamalkan tradisi Kejawen. Karena itulah saya punya dua nama. Oleh ayah saya diberi nama Na Peng An. Sedangkan, ibu memberi saya nama Agus Slamet. Saya sendiri lebih menyukai nama pemberian ibu.

Sejak SD, saya sudah bersekolah dua. Pagi bersekolah di SD Katolik D***** (edited). sedangkan siangnya bersekolah di SD Hokkian yang berbahasa Mandarin (sekarang SD Bhineka Tunggal Ika). Keduanya di daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Meskipun ayah saya beragama Budha, tetapi karena Ia meninggal saat umur saya baru 9 tahun, maka ajaran Katoliklah yang paling banyak mempengaruhi masa kecil saya. Di SD Katolik itu saya bahkan termasuk anak yang menonjol, sehingga pada saat duduk di kelas IV SD (umur 10 Tahun), saya sudah menjadi pendeta anak-anak. Tugas saya menyampaikan cerita kisah para rasul menurut versi Injil kepada anak-anak kelas I sampai kelas III pada Sekolah Minggu atau kebaktian khusus untuk anak-anak.

Karena bakat saya itulah, ketika di kelas V SD saya di sekolahkan pada sekolah khusus untuk calon pendeta di daerah Cibubur, Jakanta Timur Tentu saja dengan jaminan bebas SPP, mendapat uang saku, bahkan jaminan naik kelas dan lulus EBTA(ujian).

Di sekolah khusus itu, selain mendapat pendalaman Injil, kami juga dilatih ilmu bela diri dengan disiplin militer yang ketat. Sedangkan, untuk tugas-tugas kemasyarakatan kami diajarkan bagaimana cara mempengaruhi masyarakat agar mendukung program kristenisasi. Misalnya dengan pendekatan ohahraga dan kesenian kepada remaja muslim, dan santunan sosial kepada masyarakat muslim yang miskin.

Selama mengikuti sekohah khusus itu saya tinggal di asrama. Praktis, saya tidak mengikuti pelajaran di kelas.

Hanya sekali-kali saja datang, jika ada ulangan atau tes. Tetapi, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya lulus EBTA dengan nilai rata-rata. Di kelas VI SD inilah, siswa yang beragama Islam mendapatkan tekanan untuk datang ke gereja pada setiap hari Minggu dengan ancaman tidak lulus EBTA bagi yang tidak datang.

Setelah lulus SD, saya disekolahkan ke SMP Katolik V** T****** (edited) di jalan KB. Mas Mansyur, Tanab Abang, Jakarta Pusat. Sementara itu, pada saat yang sama saya tinggal di asrama sekolah khusus calon pendeta. Pelajaran yang saya terima pun semakin meningkat. Kami, para siswa sekolab khusus, di samping terus mengikuti peridalaman Injil, juga diajarkan bagaimana cara menghancurkan agama Islam dengan jalan merombak sikap hidup islami kaum muslimin. Terutama, menciptakan dekadensi moral di kalangan remaja muslim. Dan cara yang paling ampuh, melalui jalan pernikahan. Kami yang laki-laki disuruh menikahi gadis-gadis muslimah. Sedangkan, yang perempuan disuruh menikah dengan pemuda Islam Lari Dari Tugas.

Tetapi satu hal, timbul sesuatu yang aneh dalam diri saya. Tidak seperti kawan-kawan saya yang lain, yang begitu saja menelan mentah-mentah doktrin yang diberikan para guru di sekolah khusus, saya justru selalu merenungkannya. Bahkan, tidak jarang saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, baik yang menyangkut pemahaman lnjil maupun mengenai strategi penghancuran moral kaum muslimin.

Pendalaman Injil yang utuh dan detail, menyebabkan wawasan saya semakin terbuka. Saya menemukan banyak kejanggalan dan keanehan di dalam Injil, balk menyangkut redaksi maupun isi. Dari segi radaksi, antara Injil yang satu dan Injil yang lainnya terjadi perbedaan redaksional yang terkadang amat tajam.

Satu hal lagi yang membuat saya bingung, mengapa Injil yang diyakini sebagai firman Tuhan mengalami revisi (ralat, perbaikan) beberapa kali, sehingga dalam Alkitab ada Perjanjian Baru yang meralat ajaran-ajaran Perjanjian Lama? kalau begitu, di mana keautentikan dan keaslian Injil?

Semua keanehan yang saya temukan itu selalu saya tanyakan kepada pastur yang membimbing kami. Tetapi, jawaban yang saya dapatkan selalu tidak memuaskan, karena hanya berdasarkan akal pastur yang bersangkutan saja, tanpa menyebut dalil Injil yang jelas.

Saya juga menanyakan mengapa kaum muslimin dianjurkean berkhitan (sunat) dan diharamkan memakan daging babi Oleh pastur dijawab babwa orang Islam tidak bersyukur kepada Tuhan. Alasannya, mengapa kemaluan (alat vital) yang diciptakan utuh oleh Tuhan harus dipotong (dibuang)? termasuk daging babi, mengapa sesuatu yang telah disediakan Tuhan untuk manusia harus diharamkan? Tetapi, alasan itu disampaikan hanya berdasarkan akal saja, tanpa ada dalil Alkitab yang konkret. Saya betul-betul kecewa.

Termasuk usaha untuk menghancurkan moral kaum muslimin pun, tidak luput dari sasaran pertanyaan saya.

Saya terkadang heran dan bingung sendiri, mengapa agama yang mengajarkan kasih sesama mahluk Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada Islam?

Semua kejanggalan dan keanehan itu mempunyai kesan yang amat kuat membekas dalam jiwa saya yang kelak akan mengubah jalan hidup saya. Sejak timbulnya konflik yang berkepanjangan itu, terjadi kesenjangan rohani pada diri saya. Saya sudah tidak mempercayai lagi dengan kebenaran Alkitab. Saya betul-betul kecewa kepada Injil yang selama itu saya anggap sebagai kitab suci.

Klimaks dan semua itu, saya mengundurkan diri dan sekolah khusus. Akibatnya, semua jaminan dan fasilitas yang saya dapatkan selama itu, dicabut. Waktu itu tahun 1976, saat akhir di kelas I dan kenaikan kelas. Ketika pembagian rapor kenaikan, saya keluar dad SMP Van Tarsius itu. Saya memutuskan pindah sekolah. Sebagai konsekuensinya, saya harus memikirkan soal biaya sekolah. Padahal, sebelumnya serba gratis. Beruntung ada seorang kenalan saya yang menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) mau menerima saya mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Waktu itu saya masih beragama Katolik. Saya diserahi mengajar bidang studi matematika dan IPS. Dengan cara itulah saya membiayai pendidilcan saya di SMP sampai kemudian menamatkan SMA tahun 1980.

 

Melirik Islam

Antara tahun 1976-1980, saya sebetulnya sudah tidak beragama lagi. Saya sudah frustrasi dengan Katolik.

Saya sudah tidak pernah lagi membuka-buka Injil. Di hati saya, sudah tidak adalagi ikatan batin yang menghubungkan antara saya dan gereja.

Tetapi sejalan dengan itu, suasana ketika saya mengikuti pendidikan disekolah khusus calon pendeta seperti terulang kembali. Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana kami mendapat doktrin tentang kebenaran Kristus yang tidak dapat dibantah selain harus menelan mentah-mentah.

Tetapi di antara semua itu, yang paling mengusik batin saya, mengapa mereka begitu membenci Islam?

Mengapa Islam begitu dimusuhi, sehingga diperlukan strategi dan taktik untuk menghancurkannya ? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah saya mulai melirik kepada Islam. Ada apa dengan Islam? Kekuatan apa yang dimiliki Islam sehingga ia dianggap sebagai ancaman?

Waktu itu sayabaru tamat SMA. Untuk menjawab hasrat hati itu, saya harus mempelajani Islam terlebih dahulu.

Sebab, saya tidak ingin tertipu dua kali. Saya merasa tertipu memilih Katolik sebagai agama, lantaran tidak mendalami terlebih dahulu.

Kebetulan, tidak jauh dari rumah saya tinggal seorang mantan qari tahun 50-an bemama H. Abdul Ghani Gamal.

Kepada beliau, saya katakan bahwa saya ingin mempelajari Islam. Tidak tanggung-tanggung saya ingin belajar Islam dari nol, mulai dan belajar huruf Arab (A1-Qur’an), teologi (tauhid), termasuk peribadatannya (fikih syariah).

Semula H. Abd. Ghani keberatan, dengan alasan saya belum mengucapkan dua kalimat syahadat alias masih kafir. Tetapi, saya katakan kepadanya bahwa saya akan masuk Islam jika saya sudah benar-benar meyakininya. Atas pertimbangan itu, akhirya saya diterima menjadi muridnya.

Waktu itu akhir tahun 1980. Selain itu, saya juga sering berkunjungkepada ulama-ulama terkenal, seperti K.H. Abdullah Syafii (almarhum) dan Abah Anom di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, setiap ada pengajian di masjid-masjid terkenal saya tidak pernah absen menghadirinya. Waktu itu, tidak satu pun jamaah yang hadir mengetahui ada seorang nonmuslim ikut mengaji bersama mereka.

Dari beberapa pengajian yang saya ikuti, saya sudah dapat menilai bahwa Islam adalah agama yang rasional dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Meskipun pemahaman kaum muslimin secara umum terbagi dalam 3 golongan: tradisional, moderat, dan fundamental. Tetapi, dalam masalah prinsip (pokok) tetap utuh, yakni bertuhan Allah SWT dan meyakini satu kitab suci Al-Qur’an sebagai imam (pernbimbing, pedoman hidup).

Kurang kebih 5 tahun saya mempelajari Islam dan beberapa orang guru yang mewakili 3 kelompok pemahaman seperti tersebut. Di samping itu, untuk menambah wawasan saya selalu membaca buku-buku tentang Islam. Pokoknya, sebap ada uang lebih, selalu saya belikan buku-buku tentang Islam.

Dalam pengembaraan mencari kebenaran hakiki itu, baru saya dapatkan jawabannya. Dan, jawabnya hanya ada dalam Islam. Di antara daya tarik Islam yang begitu berkesan pada diri saya adalah konsep Ketuhanannya yang tegas dan sederhana (tauhid), keautentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci, tata cara ibadahnya yang luwes dan sederhana.

Setelah merasa cukup bahan untuk menentukan pilihan, maka pada awal tahun 1985, secara resmi di hadapan jemaah sebuah masjid di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, saya ucapkan ikrar dun kalimat syahadat di bawab bimbingan 2 orang guru saya, H. Abdul Ghani dan H. Ali. Seminggu kemudian, ibu saya menyempurnakan kembali keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Saya bersyukur dapat langsung membimbing beliau melaksanakan shalat. Kini, saya hidup berbahagia dengan istri dan 3 orang anak. Selain berusaha dan berbisnis, saya juga aktif berdakwah melalui wadah organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam).

Agus Slamet (Na Peng An) adalah seorang mubaligh dan menjabat sebagai Sekretaris Depertemen Komunikasi dan Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI (mualaf.com)

104. Vera Mawengkang : Ajaran Islam Jelas dan Lengkap

 

Nama saya Vera Mawengkang. Saya lahir dari orang tua yang asli Manado, Sulawesi Utara. Keluarga saya adalah penganut agama Kristen Katolik yang taat. Sejak kecil saya sudah diajak aktif mengikuti kegiatan ritual di gereja. Ini karena orang tua menginginkan agar saya menjadi pengikut Kristus yang taat.

Selain pendidikan di gereja, saya juga belajar melantunkan lagu-lagu Mazmur, yakni puji-pujian pada Tuhan. Kegiatan yang dilakukan di gereja ini harus dilakukan secara khusyu. Selain itu, saya juga sering mengikuti upacara sakramen, yaitu pesta minum anggur dan makan roti (hosti) yang diyakini umat kristiani sebagai pengejewantahan darah dan daging Yesus Kristus. Untuk lebih memantapkan iman, kedua orang tua sepakat untuk mengirimkan saya ke asrama Katolik yang khusus menampung pelajar putri. Dari bekal pendidikan gereja yang saya jalani sejak kecil, lalu dikirim ke asrama Katolik, kedua orang tua saya sangat berharap saya menjadi seorang biarawati.

Saya berusaha untuk mewujudkan impian orang tua saya itu. Saya terus belajar dan bergaul. Lambat laun, pergaulan saya kini luas. Saya tidak hanya bergaul dengan teman-teman seagama saja, tetapi juga bergaul dengan teman-teman yang beragama lain. Pergaulan yang kian luas ini, temyata memberikan pemahaman baru tentang agama, selain agama Kristen. Dari pergaulan dengan anak seorang menteri yang beragama Islam itulah, saya mulai mengenal ajaran Islam. Dari sana pulalah, awal simpati saya kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Tanpa sadar, saya mulai tertarik dengan ajaran-ajaran Islam.

Saya tidak saja bergaul dengan teman saya itu, tapi juga bergaul dengan ayahnya yang menjadi menteri. Ayah teman saya itu, yang belakangan menjadi mertua saya, adalah seorang laki-laki yang sangat taat pada agamanya. Perilaku dan sikap calon mertua saya itulah yang mengembalikan pemikiran saya tentang agama. Lewat beliau, saya bagai menemukan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini belum pernah saya peroleh. Kalau dulu, saya mengenal agama lewat penampilan figur orang tua saya dan ibu asrama, kini, lewat figur dan perilaku calon mertua saya.

Beliau tidak pernah memaksa saya untuk masuk agama Islam. Beliau hanya mengatakan bahwa agama Islam itu sunatullah, dan sunatullah itu identik dengan hukum alam. Islam itu realistis. “Kelak kamu akan mengerti bahwa dunia ini hakikatnya adalah Islam,” jelasnya suatu ketika.

Selain pergaulan dengan keluarga calon suami, saya juga banyak mendapatkan pengetahuan tentang Islam dari lingkungan sekitar rumah. Saya sering mendengar azan, menyaksikan orang shalat, dan mendengar ayat ayat Al-Qur’an dilantunkan orang. Secara sembunyi-sembunyi, saya sering memperhatikan teman-teman saya sedang shalat. Mereka sangat khusyu dan tampak tenteram dalam shalatnya. Hati kecil saya tergerak untuk memperoleh kedamaian seperti itu. Dan situlah saya mulai tergerak untuk mengetaai lebih jauh tentang Islam. Terkadang timbul pertanyaan terutama tentang ibadah shalat. Apa yang terkandung di dalamnya? Mengapa wajah mereka makin segar seusai bersujud ke kiblat? Saya berpikir bahwa Islam adalah agama yang benar-benar masuk akal. Setiap umatnya selalu diingatkan untuk selalu sujud kepada Yang Maha Pencipta, lima kali dalam sehari.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa shalat lima waktu ternyata menimbulkan kegundahan dalam batin. Saya mengalami pergulatan batin yang hebat. Sebab, Islam memiliki segala macam ketentuan hidup yang lengkap. Ketentuan untuk mencintai Tuhan Yang Maha Pengasih Aturan aturan dalam Islam tampak jelas, tidak kontradiktif antara ajaran atau aturan yang satu dan aturan yang lainnya.

Pergulatan batin ini, akhimya saya tutup dengan menyatakan diri untuk segera memeluk agama Islam. Saya mulai meninggalkan agama yang saya anut sejak kecil. Saya mulai membaca buku buku agama Islam dan menelaah terjemahan Al-Qur’an. Saya menelaah Al-Qur’an dari segi logika dan alam. Saya yakin bahwa sumber kehidupan berada di dalam makna Al-Quran.

Setelah menyatakan diri untuk memeluk Islam, saya kembali dihadapkan pada keraguan untuk menyatakan itu di hadapan orang tua saya, terutama mama. Saya belum berani bicara pada beliau. Namun, hati kecil saya menyuruh untuk segera berbicara. Akhirnya, saya bulatkan tekad untuk segera berbicara kepada mama. Betapa pun pahitnya kenyataan yang akan terjadi. Dengan membaca bismillah, saya segera menghadap mama.

Niat tersebut segera saya sampaikan dengan terlebih dulu meminta maaf, karena telah keluar dari agama Kristen yang menjadi aturan keluarga. Di luar dugaan, tangan mama mengusap kepala saya dengan lembut. Mama berkata, “Kau putri mama. Apa pun keputusanmu, kau tetap anak mama. Kalau sudah menjadi keputusanmu dan bisa membawa kebahagiaan,jalanilah dengan sepenuh hati. Jangan setengah setengah. Jadilah orang Islam yang baik.”

Setelah mendapat restu mama, saya segera merealisasikan keislaman saya. Saya segera mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara yang sangat syahdu. Saya bahagia dapat mewujudkan keinginan saya kepada Islam dan segera pula diikuti oleh adik saya.

Kemudian, saya segera menikah dengan anak menteri itu. Saya bersama keluarga terus belajar agama dengan bimbingan seorang ustadz. Saya bercita-vita menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak-anak saya, agar mereka menjadi muslim dan muslimat yang taat.

Manusia punya rencana, tapi Allah punya rencana lain. Akhirnya, saya berpisah dengan suami. Kami bercerai. Saya harus mengasuh dan membesarkan anak-anak untuk mewujudkan cita-cita saya itu. Setelah lama mengasuh anak sendiri, kemudian saya menikah kembali untuk melengkapi keutuhan rumah tangga. Saya bersyukur kepada Allah yang telah menguji rumah tangga hamba-Nya. (Maulana/Albaz) (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ ). Catatan: Wawancara berlangsung pada Sabtu, 10 Juli 1999 di Jakarta, beberapa waktu sebelum beliau wafat. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

105. Di Italia : Jangan Nikahi Pria Muslim, Please !

 

Ia lebih suka dipanggil dengan nama panggilan barunya, Iman. Sebelum menikah dengan Ahmed, seorang pria asal Yordania, dia penganut Katolik. Imigran asal Kanada yang sudah sepuluh tahun bermukim di Italia ini menjadi Muslim sejak lima tahun lalu, atau dua tahun setelah menikah. Kendati suaminya Muslim, mereka jarang mendiskusikan soal agama. Iman justru mengenal Islam di sekolah anaknya. Seorang teman meminjaminya buku Islam in Focus. Pertanyaan bertahun-tahun yang tak terjawab oleh agamanya ada dalam buku itu.

Misalnya, dalam agamanya yang lama, anak kecil yang meninggal sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ia akan berkumpul dengan orang-orang senasib di limbo (tempat bagi orang-orang terlantar). Sedang dalam Islam, tak ada dosa asal. Tidak ada dosa nenek moyang yang diturunkan kepada anak cucunya.

Ia pun mantap berislam. Suaminya mendukung dengan suka cita. ”Orang sulit untuk menemukan kebenaran Islam yang sesungguhnya, sebelum dia sungguh-sungguh menjadi Muslim. Saya damai dalam islam,” ujarnya, seperti ditulis Islamicweb.

Jumlah kaum wanita seperti Iman — menikah dengan pria Muslim dan kemudian menjadi Muslimah — jumlahnya meningkat di Italia. Situs BBC Online menyebut, pada tahun 2005 telah terjadi banyak pernikahan antara wanita Katolik dan lak-laki Muslim di Italia. Menurut data dari kantor statistik Italia, ISTAT, pada tahun 2004 lalu ada 19.000 lebih perkawinan beda agama di Italia.

Menggelembungnya jumlah mualaf wanita mulai meresahkan gereja. Para kardinal di Italia baru-baru ini mengingatkan kaum wanitanya agar tidak melakukan ikatan perkawinan dengan laki-laki Muslim, seiring dengan makin meningkatnya jumlah populasi Muslim di negara itu.

Kardinal Camillo Ruini di Roma mengatakan, perbedaan budaya seperti peranan wanita dan pendidikan anak-anak membuat kaum perempuan Katolik mengalami kesulitan jika menikah dengan laki-laki Muslim. “Pengalaman beberapa tahun belakangan ini, membuat kami mengeluarkan himbauan agar tidak melakukan perkawinan campuran, atau dalam kasus apapun tidak membenarkan perkawinan itu,” kata Ruini dalam siaran persnya. Kardinal Ruini juga mengungkapkan secara intrinsik, perkawinan beda agama itu sebagai perkawinan yang rapuh.

Imbauan Ruini agar tidak melakukan perkawinan beda agama ini juga pernah dikeluarkan oleh Kardinal Vatikan, Stephen Hamao. Hamao bahkan menyebut wanita Eropa yang terlanjur menikah dengan laki-laki Muslim sebagai ‘pengalaman pahit.’

Menanggapi himbau gereja Vatikan itu, seorang pendeta Katolik yang juga profesor bidang filsafat di Universitas Kairo, Kristian Van Spen mengatakan, himbauan itu dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa wanita Katolik yang menikah dengan laki-laki Muslim nantinya akan masuk Islam. “Selain itu mereka juga khawatir anak-anak hasil perkawinan ini nantinya akan memeluk Islam. Konsekuensinya, jumlah warga Muslim di Italia akan bertambah banyak,” ujar Van Spen.

Bagi Italia, isu nikah campur menjadi hal yang sangat sensitif. Negara ini memiliki angka kelahiran paling rendah di dunia. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, mereka mengundang tenaga kerja asing, karena jumlah naker di negerinya jumlahnya kurang memadai.

Sepertiga dari imigran yang datang adalah Muslim. Kebanyakan dari mereka berasal dari Tunisia dan Maroko. Kini, jumlah Muslim di negara itu membengkak menjadi 500 ribu orang, atau dua kali lipat dari 10 tahun lalu. Dan, islam kini menjadi agama terbesar kedua di Italia.

Momennya terjadi awal tahun 2000 lalu. Bayi yang lahir pertama di tahun tersebut — dijuluki “Model 2000 Italian oleh media massa — adalah anak seorang imigran Maroko. Ditelusur ke belakang, banyak familinya yang berislam karena menikah. Sekitar 10 ribu wanita Italia menikah dengan imigran Muslim dan beranak-pinak pula.

Awal Februari 2002, konferensi para uskup diselenggarakan khusus untuk membahas pernikahan campur Muslim-Kristen. Konferensi merekomendasikan pelarangan pernikahan campur dan pemanfaatan gereja untuk shalat berjamaah. ”Kami khawatir hal ini akan menimbulkan kesan bahwa Kristen tidak mempunyai kepercayaan hakiki,” kata Ennio Antonelli, juru bicara acara itu.

Namun imbauan itu bak angin lalu saja. Penduduk Naples memberi ruang bagi komunitas Muslim untuk mendirikan masjid. Warga kota Palermo dan Modena mendirikan badan penasihat bagi imigran. Kota kecil Meduno mengadopsi pasal-pasal diversitas budaya dalam undang-undang mereka.

Inilah barangkali, yang melandasi imbauan Ruini. Apalagi komunitas Muslim mengusulkan kepada pemerintah agar di sekolah negeri disediakan guru untuk mengajar mata pelajaran Alquran dan bahasa Arab untuk murid Muslim mereka.

 

Islam di Tetangga Vatikan

Seperti di banyak negara Eropa, Islam tumbuh dengan cepat di Italia. Jumlah imigran Muslim saat ini sebanyak 500 ribu orang, atau 1 persen dari populasi Italia. Mereka umumnya berasal dari Maroko, Albania, Tunisia, Senegal, dan Mesir. Saat ini, jumlah penduduk Muslim di Italia sebanyak 719 ribu orang, dan 25 ribu di antaranya adalah mualaf.

Terdapat sedikitnya 10 organisasi Muslim di negara itu. Berdasar survei yang dilakukan Italiaplease, sebanyak 59,7 persen Muslim Italia menilai pemakaian jilbab tergantung pada pilihan hati masing-masing, tidak diwajibkan.

Di negara ini, terdapat 214 tempat ibadah Muslim. Terbanyak di Italia bagian utara. Masjid pertama berdiri tahun 1980 di Catania, Sicily. Tahun 1988, Masjid Al Rahman di Segrate (Milan) diresmikan penggunaannya. Pendirian masjid ini didanai imigran Muslim dan mualaf. Tahun 1995 masjid terbesar di Eropa dibuka di Monte Antenne, Roma. tri/italiaplease ( tri/islamonline/bbc /Republika Online)

106. Silaturahmi Muslim Tionghoa di Bandung : Bangun Image Islam Lebih Baik

 

Ada anjuran tak tertulis di kalangan etnis Tionghoa, yaitu boleh masuk agama apa saja kecuali Islam. Dienullah ini digambarkan sebagai agama tukang nyandung (orang yang suka berpoligami).

Benarkah mualaf itu hanya sebutan untuk orang yang baru pertama kali masuk Islam? Bagaimana dengan orang yang sejak lahir Islam, tapi baru akan memperdalam ilmu agamanya, apakah pantas disebut mualaf? Bagaimana dengan stigma mengenai Islam sebagai agama “rendah” (sampai-sampai ada istilah di kalangan etnis Tionghoa, boleh memeluk agama lain kecuali agama Islam)? Bagaimana menghapuskan stigma agama Islam identik dengan poligomi?

Berondongan pertanyaan itu mengemuka dalam acara silaturahmi Muslim Tionghoa di Bandung, akhir pekan lalu. Dalam kemasan acara bertajuk ‘Ada Apa dengan Mualaf ?’.

Apreasiasi dari peserta di luar dugaan. Mereka bersama-sama mencari solusi bagi semua permasalahan yang dihadapi mualaf. Hadir sebagai narasumber pada acara itu adalah Wakil Ketua Yayasan Haji Karim Oei Jakarta HM Ali Karim Oei dan pengurus masjid Lautze Ku Kie Fung S Ag Muh Syarif Abdurrahman. Acara itu dihadiri juga oleh mantan preman dan residivis Anton Medan dan pelawak asal Bandung, Sup Yusup, beserta istri.

Menurut HM Ali Karim Oei, di Jakarta pihaknya sudah mengislamkan sekitar dua ribu orang sejak 10 tahun lalu. Setiap satu minggu, kata dia, masjidnya mengislamkan dua atau tiga orang. Selain di Jakarta, kata dia, di Masjid Lautze Bandung dan Tanggerang pun banyak mualaf yang datang. Bahkan, di daerah lain minat non-Muslim untuk memeluk agama Islam pun tinggi. ”Oleh karena itu, kami akan membuka masjid di Cirebon, dan Surabaya pun akan dibuat Masjid Lautze,” katanya.

Bila dilihat per wilayah, Jakarta, kata dia, paling banyak mualafnya. Sebenarnya, kata dia, banyak orang, terutama etnis Tionghoa, yang ingin tahu Islam tapi tidak harus kemana. Pada umumnya, kata dia, orang Tionghoa yang mau tahu tentang Islam itu akan mencari Masjid Lautze. ”Karena bentuk Masjid Lautze seperti ruko jadi tidak menakutkan bagi mereka,” ujarnya.

Para mualaf, kata Ali, masih memiliki kendala dan hambatan setelah masuk Islam. Memang, kata dia, masalah yang mereka hadapi itu bentuknya bukan penyiksaan seperti zaman dulu. Namun, tekanan dalam bentuk lain, misalnya tekanan perasaan. ”Kendala yang dihadapi oleh mualaf sekarang misalnya di sekolah, begitu tahu Islam langsung dikeluarkan oleh sekolah berlatar agama lain,” jelasnya. Beruntung, jalan keluar sudah diperoleh. Mereka menjalin kerja sama dengan Muhamadiyah dan lembaga pendidikan Islam yang lain untuk menampung mereka.

Sebelum zaman demokrasi, kata dia, banyak mualaf yang diusir oleh keluarganya karena keluarganya tidak setuju ia berislam. Sehingga, pihaknya menyiapkan tempat untuk menampung mualaf yang diusir itu. Namun, lama-lama tempat itu tidak terpakai lagi setelah globalisasi dan modernisasi berkembang. ”Upaya yang kami lakukan saat ini adalah pembinaan setiap hari dengan menyiapkan ustadz dan ustadzah,” katanya.

Sedangkan menurut Anton Medan, untuk berdakwah pada etnis Tionghoa, tantangannya sangat besar dibanding berdakwah di kalangan pribumi. Hal itu, kata dia, berkaitan dengan kesiapan mental. Karenanya, ia menganjurkan agar mualaf dari etnis Tionghoa agar berbaur dengan Muslim pribumi. ”Tapi pada umumnya, kalau akidah dan keyakinan mereka kurang kuat maka akan mengalami kesulitan setelah menjadi mualaf,” ujarnya.

Sup Yusup yang juga menjadi nara sumber dalam acara itu menceritakan, pada saat menjadi mualaf, etnis Tionghoa mengalami beberapa kendala. Terutama, kata dia, berkaitan dengan stigma yang dibangun tentang islam oleh non-Muslim. Islam, kata dia, diidentikan dengan tukang nyandung (poligami). Sehingga, kata dia, pada saat istrinya yang bernama Lie Ing masuk Islam, semua temannya menghina istrinya. ”Teman-teman istri saya mengatakan, kenapa harus masuk Islam, nanti hidup kamu tidak bahagia karena dimadu, lebih baik masuk agama lain saja asal bukan Islam,” katanya menirukan.

Stigma lain yang sudah terbangun pada non-Muslim, kata dia, adalah, jika masuk Islam maka akan merosot dari segi materi. Pemikiran-pemkiran seperti itu, kata dia, menjadi tugas semua orang untuk merubahnya. Pasalnya, minat etnis Tionghoa untuk menjadi mualaf itu makin besar jika semua pihak membangun image Islam yang sebenarnya. ”Yang terpenting dari semua kendala itu adalah bagaimana agar mualaf itu bisa terus dibimbing dan dijaga keimanannya,” katanya.

Sedangkan menurut Ketua Pengurus Masjid Lautze Cabang Bandung, Muhamad Bobby Alandi, kondisi yang dialami oleh mualaf Indonesia sesuai dengan kondisi umat Islam. Saat ini, kata dia, kondisi umat Islam merosot di segala bidang, begitu juga dengan kondisi mualafnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Pertama, kata dia, kondisi umat islam yang lemah itu bisa membuka peluang maraknya upaya-upaya pemurtadan. Jadi, kata dia, mualaf perlu diperhatikan dengan terus memberikan bimbingan. Oleh karena itu, pihaknya akan membangun pondok singgah di Bandung. Rencananya, pembangunan dilakukan mulai 2006.”Pondok singgah untuk mualaf harus ada sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mualaf,” ujarnya. ( Republika Online / n kie / Irwan MCOL)

 

107. Iga Mawarni & Clara Shinta : Alquran Adalah Nasihat Allah SWT

 

BANYAK cara yang dilakukan Iga Mawarni untuk memahami Islam. Penyanyi jazz ini kerap menonton tayangan TV yang bernuansa keislaman. “Saya juga mendengarkan ceramah,” ujar kelahiran Bogor 24 Juni 1973 ini. Perkenalan dengan Islam dimulai ketika seorang teman menyarankan Istri Charles Rubiyan Afirin ini membaca tafsir Alquran. Lambat laun pelantun lagu Kasmaran ini terbuka hatinya. “Semua yang ada di Alquran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia,” kata ibu seorang putra ini. Keputusan Iga berpindah keyakinan sempat ditentang sang ibu. Namun sebagai anak dia tetap berbakti dan mendoakan sang bunda. “Semoga suatu saat Allah membukakan hatinya,” ujar dia.

Pengalaman hampir serupa dialami Clara Sinta. Putri penyair W.S. Rendra ini belajar Islam lewat sejumlah buku. Perempuan yang berasal dari keluarga nonmuslim itu suka sembunyi-sembunyi saat salat. Tak jarang artis sinetron ini menaruh mukena di lemari. “Kalau lihat orang ngambil wudu dan salat, gimana gitu,” kata Clara. Pemilik rambut panjang ini mampu bertoleransi dengan suaminya Totok Tewel yang berbeda iman. “Tapi kami saling menghargai,” tutur pemain sinetron “Inem Sang Pelayan” ini.

Iga Mawarni & Clara Shinta

 

108. Iga Mawarni : Memeluk Islam Karena Berdebat 1

 

Islam Lebih Realistis

Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas.Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.

Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.

Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

109. Yvonne Ridley, Masuk Islam Setelah Ditawan Taliban

 

Yvonne Ridley, seorang wartawati Inggris mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi oleh pasukan Taliban. Sosok yang selalu digambarkan ‘kejam’ oleh media AS

Apa perasaan Anda jika tertawan dan ditangkap musuh?. Mungkin susah untuk membayangkan nasib anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi jika menghadapi tuduhan mata-mata. Yvonne Ridley, wartawati Sunday Express, Inggris, ditangkap pasukan Taliban yang oleh media massa AS digambarkan sebagai kelompok kejam.

Tetapi pengalaman Yvonne di Afghanistan saat ditangkap Taliban justru membuatnya masuk Islam bahkan menyebutnya sebagai keluarga terbesar dan terbaik didunia. Alkisah, mantan guru sekolah Minggu yang juga mantan peminum itu masuk Islam setelah membaca Al-Qur’an usai di lepas oleh Taliban.

Menurutnya, kaum Taliban mendapat liputan media massa yang tidak adil.

Bekerja sebagai wartawan Sunday Express, koran terbitan Inggris, Ridley pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik.

Tetapi penyamarannya justru terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai di dekat Jalalabad persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh.

Yang ada di benaknya ketika tentara itu dengan marah mendatanginya adalah: ”Luar biasa tampan.”

”Bola matanya hijau, khas bola mata dari daerah itu dan dengan jenggot yang tebal.”

”Tetapi kemudian ketakutan mulai merayapinya. Saya sempat melihatnya lagi dalam perjalanan ke Pakistan setelah saya dibebaskan. Ia sempat melambaikan tangannya dari mobil.”

Ridley diinterogasi selama sepuluh hari tanpa diperbolehkan menggunakan ponsel maupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulangtahun ke 9.

Ridley mengatakan ia tak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percaya sebagai kebenaran.

Tetapi menurutnya anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster jauh sekali dari realitas.

Ia mengatakan, orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan ramah.

Banyak yang mengatakan perempuan berusia 46 tahun ini terkena Sindrom Stockholm, dimana sandera malah kemudian memihak penyandera.

Tetapi ia membantahnya: ”Saya membenci mereka yang menangkap saya. saya meludahi mereka, kasar terhadap mereka dan menolak makan. Saya tertarik Islam hanya ketika saya sudah bebas.”

 

Celana dalam

Sebuah kejadian lucu adalah ketika Ridley menolak untuk menurunkan celana dalamnya yang baru dicuci dari jemuran.

Sehingga wakil menteri luar negeri Taliban terpaksa turun tangan sendiri dan memintanya untuk menurunkannya karena akan bisa dilihat oleh para tentara.

”Afghanistan sedang akan dibom oleh negara terkaya di dunia dan yang mereka pikirkan adalah celana dalam saya yang sudah kedodoran.”

”Dari kejadian itu saya katakan kalau mau mengusir Taliban tak perlu pakai bom segala, Amerika tinggal mengirimkan satu resimen perempuan dengan melambai-lambaikan celana dalam mereka dan Taliban pasti akan terbirit-birit.”

Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Al- Qur’an untuk mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya.

”Saya luluh dengan apa yang saya baca. Tak ada satupun yang berubah dari isi buku ini, tak satu titikpun, sejak 1400 tahun yang lalu.”

”Saya bergabung dengan apa yang saya anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini. Kalau kami bersatu, kami betul-betul tak tertahankan.”

Bagaimana reaksi orang tuanya yang beragama Protestan Anglikan saat Yvonne masuk Islam?

”Pada awalnya keluarga dan teman saya khawatir, tetapi ketika mereka melihat bagaimana bahagianya saya, saya lebih sehat dan merasa hidup saya lebih punya arti, mereka sangat senang.”

”Ibu saya sangat gembira saya tak minum lagi.”

Tapi bagaimana dengan tuduhan tekanan terhadap kalangan perempuan di dunia Islam?

”Ada perempuan yang ditekan di berbagai negara Islam, tetapi bukankah itu juga bisa terjadi di Inggris utara ini dan bahkan detik ini masih terjadi.”

”Ini persoalan budaya bukan Islam. Qur’an jelas tegas menyebut perempuan itu satu derajat dengan pria.”

Kini, Ridley telah memakai baju muslim dan telah mengenakan kerudung.

”Anda tak lagi dinilai berdasar besarnya payudara anda atau panjangnya kaki anda tetapi apa yang ada di benak anda. Sungguh membebaskan.” Yang masih sulit dijalankan dalam kehidupannya sebagai seorang muslim? ”Sholat lima kali sehari. Dan mencoba berhenti merokok.”. (dikutip dari http://www.bbc.co.uk/Hidayatullah.com)

110. Mirza Riadiani Kesuma cq Chicha Koeswoyo : Mendapat Hidayah dari suara Azan

 

Nama Mirza Riadiani barangkali memang tidak dikenal. Tetapi nama penyanyi cilik yang mencuat di tahun 70-an lewat lagu “Helly” nama seekor anjing kecil, pasti semua orang sudah dapat menebaknya. Ya. siapa lagi kalau bukan Chicha Koeswoyo yang sekarang lebih dikenal sebagai wanita karier. Chicha sekarang memang Direktur PT Chicha Citrakarya yang bergerak di bidang Interior Design, Enterprise, Grafic Design, dan Landscape. Yang jelas perbedaan antara Chicah cilik dan Chicha sekarang bukan pada penyanyi atau wanita karier; tetapi pada keyakinan imannya. Chicha hari ini adalah Chicha yang muslimah, yang hatinya telah terbimbing cahaya kebenaran Dinullah (Islam).

Perihal keislaman saya, beberapa majalah ibukota pernah mengakatnya. Itu terjadi tahun 1985. Singkatnya, saya tergugah mendengar suara azan dari TVRI studio pusat Jakarta.

Sebetulnya saya hampir tiap hari mendengar suara azan. Terutama pada saat saya melakukan olah raga jogging (lari pagi). Saat itu, saya tidak merasakan getaran apapun pada batin saya. Saya memperhatikannya sepintas lalu saja.

Tetapi, ketika saya sedang mempunyai masalah dengan papa saya, saya melakukan aksi protes dengan jalan mengurung diri di dalam kamar selama beberapa hari. Saya tidak mau sekolah. Saya tidak mau berbicara kepada siapapun. Saya tidak mau menemui siapapun. Pokoknya saya ngambek.

Pada saat saya mengurung diri itulah, saya menjadi lebih menghabiskan waktu menonton teve. Kurang lebih pulul 18.00 WIB. siara teve di hentikan sejenak untuk mengumandangkan azan magrib.

Biasanya setiap kali disiarkan azan magrib, pesawat teve langsung saya matikan. Tetapi pada saat itu saya betul-betul sedang malas, dan membiarkan saja siaran azan magrib kumandang sampai selesai. Begitulah sampai berlangsung dua hari.

Pada hari ketiga, saya mulai menikmati alunan azan tersebut. Apalagi ketika saya membaca teks terjemahannya di layar teve. Sungguh, selama ini saya telah lalai, tidak perhatikan betapa dalam arti dari panggilan azan tersebut.

Saya yang sedang bermasalah seperti diingatkan, bahwa ada satu cara untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yaitu dengan shalat. Di sisi lain, suara azan yang mengalun syahdu, sanggup menggetarkan relung hati saya yang paling dalam. Hati saya yang resah, seperti di sirami kesejukan. Batin terasa damai dan tenteram.

Kebetulan meskipun beragama kristen, tetapi saya sekolah di SMA Yayasan Perguruan Islam Al-Azhar Kebayoran Baru. Sejak peristiwa itulah saya menjadi sering merenung dan memperhatikan teman-teman yang melaksanakan shalat di Masjid Agung Al-Azhar yang memang satu kompleks dengan sekolah saya.

Saya pun mulai sering berdiskusi dengan teman-teman sekelas, terutama dengan guru agam saya Bp Drs. Ajmain Kombeng. Beliau orang yang paling berjasa mengarahkan hidup dan keyakinan saya, sehingga akhirnya saya membulatkan tekat untuk memeluk agama Islam. Apalagi menurut silsilah, keluarga kami masih termasuk generasi kedelapan keturunan (trah) Sunan Muria.

Alhamdulillah, rupanya, masuk islamnya saya membawa berkah bagi keluarga saya dan keluarga besar Koeswoyo. Tahun 1986, saudara sepupu saya, Sari Yok Koeswoyo, mengikuti jejak saya ke jalan Allah. Bahkan di awal 1989, adik kandung saya, Hellen, telah berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Alhamdulillah, tidak ada masalah yang berarti dengan keluarga kami.

Dengan Islamnya Hellen, saya merasa mempunyai teman untuk berkompetisi mendalami ajaran Islam. Pada setiap Kamis sore, ba’da shalat ashar, kami berdua tekun mendalami Islam kepada seorang guru mengaji yang datang kerumah. Sekarang ini saya sedang tekun mempelajari Al-Qura’an. Meskipun saya akui masih rada-rada susah.

Dari hasil pengkajian saya terhadap Islam dan Al-Qur’an, saya berpendapat bahwa semua permasalah yang ada didunia ini, jawabannya ada di dalam Al-Qur’an. Sebagai orang yang baru merintis usaha, saya tentu pernah mengalami benturan-benturan bisnis. Jika kegagalan dikembalikan kepada takdir Allah, maka insya Allah akan ada hikmahnya. Menurut saya, manusia boleh saja merencanakan seribu satu planning, tetapi yang menentukan tetap yang di atas (Allah SWT).

 

Dakwah di Australia

Setalah tamat di SMU Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tahun 1987 saya melanjutkan kuliah di Stamford Colege, mengambil jurusan Managerial Principples. Selama satu tahun setengah, saya bermukim di Negeri Kanguru, Australia. Setelah itu, selama setahun saya bermukim di Singapura, masih di lembaga yang sama, Stamford College Singapore.

Selama di Australia, saya mempunyai pengalaman menarik. Misalnya, kalau saya ingin shalat berjamaah ke masjid maka saya harus ke daerah Lucinda di negara bagian Queensland. Jauhnya sama antara Jakarta-Puncak, sekitar 90 km.

Sewaktu saya shalat di apartemen, sahabat akrab saya orang Australia, memarihai saya. “Ngapain kamu menyembah-nyembah begitu,” katanya bersungut sungut. Lalu saya jawab, “Sekarang saya jauh lebih tenang daripada tadi, dari pada 5-10 menit yang lalau. “Setelah itu, kami terlibat diskusi serius tentang perbedaan Islam dan Kristen.

Alhamdulilah, sejak saat itu kawan saya tampak serius mempelajari Islam. Meskipun sampai saat ini, saya tidak tahu lagi apakah ia sudah masuk Islam atau belum. Tapi buat saya sendiri, peristiwa itu memberikan kesan yang cukup dalam. Meskipun kecil, terapi terasa telah berbuat sesuatu yang berarti bagi diri saya dan agama saya, Islam.

Saya di lahirkan di Jakarta, 1 Mei 1968, putri sulung Nomo Koeswoyo, pencipta lagu terkenal sekaligus produser rekaman. Setelah selesai studi di Australia dan Singapura, saya melanjutkan di John Robert Power Jakarta, mengambil program Public Relation.Semua hanya rahmat Allah. Sebagai probadi saya juga ingin sukses. Saya ingin juga mengabdi diri, supaya dapat menikmati kebahagian hidup. Soal materi bagi saya ternyata tidak ada apa-apanya. Toh, kita menghadap Allah hanya dengan kain kafan dan amal.

 

Chicha Koeswoyo Sedang ‘Transit’

Jumat, 16 Agustus 2002 : Siapa yang tidak kenal Chicha Koeswoyo? Bagi mereka yang pada tahun 1980-an seusia murid TK atau SD, Chica adalah idola. Namanya, untuk masa kini, bisa disejajarkan dengan sederet penyanyi cilik yang sedang beken seperti Sherina, Tasya, dan Miesy.

Lagu-lagu Chica seperti Helly dan Senam Pagi menjadi ‘nyanyian wajib’ buat anak-anak saat itu. Nama bekennya itulah yang kemudian juga mengantarkannya sebagai pemain film. Minimal tiga judul film telah dibintanginya: Kartini, Chica, dan Break Dance. Sebuah terbitan untuk anak-anak bahkan memakai namanya. Di situ ia duduk sebagai pengasuh tanya jawab dengan sobat-sobat kecilnya.

Ya, itu dulu. Seiring dengan pertumbuhannya menjadi remaja dan kemudian seorang gadis cantik, ia justru menepi dari kehidupan glamor. Apalagi saat itu ia mulai merasakan nikmatnya menjalankan ajaran agama. Sejak itu secara pelan ia pun surut dari kehidupan selebritis.

Dan, ketika ia kemudian melanjutkan pendidikan di Australia dan lalu Singapura, nama putri sulung Nomo Koeswoyo, salah satu dedengkot Koes Bersaudara, ini pun seolah ‘ditelan bumi’. Nama Chica tak lagi mewarnai lembaran dunia showbiz di tanah air.

Namun, menurut Mirza Riadiani Kesuma — nama asli Chica Koeswoyo –, ia tak menyesali meninggalkan lingkungan dunia selebritis. Semua itu ia lakukan dengan kesadaran. Dan sejak pulang ke Indonesia, sosok Chica pun berubah total.

Kini ibu dua anak ini lebih sering tampak di forum-forum pengajian. Pengajian yang rutin didatangi adalah di tempat ibu mertua dan kakak ipar. ”Saya haus dan butuh informasi aktual tentang ajaran agama karena hidup memang harus berubah. Kalau tidak, kita akan jalan di tempat,” kata mantan artis cilik ini.

Baginya, kehidupan dunia ini hanyalah terminal, dan ia mengaku sedang transit di terminal itu. ”Yang kekal itu nanti, di akhirat,” tuturnya.

Namun, ia melanjutkan, untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik harus dilalui dengan kehidupan dunia yang baik pula. Kehidupan dunia yang tidak baik, katanya, akan menyesatkan manusia dari jalan lempang.

Menurut Chicha, hidup ini perlu keseimbangan. ”Memang kita berjuang untuk hidup, tapi ibadah juga jangan dilupakan. Apalagi hidup di kota besar hampir setiap orang berambisi akan materi. Karena itu, harus ada balance,” tutur wanita yang ingin jadi entrepreneur ini.

Chicha merasa dunia ini sudah semakin tua dan seharusnya hal yang negatif dihindari. Ada kecemasan terhadap kehidupan di kota. Alangkah lebih baik, lanjut wanita yang mengaku sangat menikmati menjadi orang biasa ini, hidup diisi dengan hal yang positif daripada yang mubazir.

Agar hidup bisa sejahtera, ujarnya, tiap manusia harus berupaya hidup lurus, tidak saling menzalimi. ”Hal ini bisa diterapkan dalam keluarga dan tetangga dengan memahami cara berfikir mereka,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sebagai ibu rumah tangga, Chica menuturkan semua pedoman tentang hidup yang didapatkannya itu kini ingin juga ditularkan kepada keluarganya, khususnya kepada anak-anaknya. Ini, katanya, karena anak-anak akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. ”Orang tua adalah figur yang akurat bagi anak-anak,” ujar mantan penyanyi cilik yang lincah melantunkan lagu ‘heli, guk guk guk’ itu.

Bila Chicha sedang shalat jamaah bersama suami, anak pertamanya yang masih berusia tiga tahun akan diam, dan terkadang mengikuti apa yang dilakukan kedua orang tuanya — ikut berdoa, dzikir, dan menunggu saling cium tangan.

Mantan pelantun lagu anak-anak ini mengaku sering melakukan tafakur. Biasanya, sehabis shalat Isya dan setelah menidurkan kedua anaknya. ”Saya senang bertafakur di saat suasana hening,” katanya.

Chica menyadari, apa yang dijalaninya kini belumlah sempurna sebagai seorang muslimat. Namun, katanya, ia selalu berupaya menuju ke sana. Sebagai misal, meski ia belum selalu memakai pakaian yang menutup seluruh aurat, tapi ia berupaya berpakaian sopan.

Sejak menikah, ujar wanita kelahiran Jakarta 1 Mei 1968, memakai baju ketat tidak cocok lagi. ”Rasanya tidak enak saja berpakaian seperti itu,” tegas pengagum cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid ini.

Chicha mengatakan sangat mengsyukuri apa yang didapatkannya dalam hidup ini. Apalagi, katanya, Allah masih memberikan umur yang panjang sehingga ada kesempatan untuk berbuat amal kebaikan. Ia pun selalu berdoa agar anak-anak dan keluarganya dari hari ke hari diberi keselamatan. ”Bila ada apa-apa, saya akan pasrahkan semua kepada Allah,” ujarnya.

Menurutnya, pada waktu-waktu tertentu ia selalu berintrospeksi mengenai kekurangan apa saja yang telah diperbuat hari ini. Bila ada kesalahan pada Allah ia akan minta ampun. Bila ada kesalahan kepada orang lain, ia juga akan minta maaf kaena manusia memang tidak luput dari kesalahan.

Menurut pemilik nama asli Mirza Riadiani Koeswoyo, karena manusia tidak mengetahui rencana Allah selanjutnya, maka dia berharap senantiasa diberi kesadaran penuh dalam menghadapi hidup ini. ”Jangan sampai tidak diberi kesabaran menghadapi cobaan hidup,” ungkap Chicha yang mengaku sering ditawari manggung dan main sinetron.

Biasanya, lanjut putri pasangan Nomo Koeswoyo dan Francisca, bila doanya mendapat keridhoan Allah, esok harinya seperti ada jalan yang terbentang lebar. ”Saya akan tambah bersyukur,” kata Chicha yang mengaku kehidupan sehari-harinya dijadikan inspirasi oleh Nomo Koeswoyo, ayahnya.

Kini, setelah melakukan umrah di tahun 1992, Chica berkeinginan untuk dapat melaksanakan kewajiban ibadah haji. Sayangnya, ketika niat dia dan suaminya sudah bulat, ada saja rintangannya. Kebetulan sekarang ini ia sedang mengandung anak ketiganya. ”Mudah-mudahan Allah memberikan jalan,” doa pengelola Kedai Bunga ini. n c12

 

DATA PRIBADI

Nama              : Mirza Riadiani Kesuma

Nama panggilan: Chicha Koeswoyo

Lahir                : Jakarta, 1 Mei 1968

Suami              : Asdi Indra Kesuma

Nama Anak :

- Andi Rahmat Aqil Kesuma (3 tahun)

- Andi Kinaya Putri (13 bulan)

Pendidikan:

- D3 Stamford College Australia

- Sekolah manajemen di Singapura

Nama orang tua:

Nomo Koeswoyo dan Francisca

Album:

- Helly (1975)

- Senam Pagi

- Chicha Natal Berbaris

Film:

- Kartini

- Chicha (1980-an)

- Break Dance (1985). ( )

1979 : Sikecil Cicha sedang Rekaman

1979 : Sikecil Cicha sedang Nampang di rumahnya Jalan Barito

1984 : Sikecil Cicha sedang Rekaman di rumahnya Jalan Barito

1984 : Rak Surat Penggemar di rumahnya Jalan Barito

Tahun 2003

 

111. Chica Koeswoyo Ikhlas Melepas Kepergian Sang Ibu

 

“SAYA ikhlas dan tabah melepas kepergian ibu,” kata Chica. Namun, setelah ditinggal sang bunda pada pertengahan Desember silam, Chica malah mengaku lega. Sebab, ibunya, Fatimah Francis telah memeluk agama Islam, empat bulan sebelum wafat. “Alhamdulillah, beliau bisa merasakan puasa dan Lebaran sebagai seorang muslimah. Ini adalah yang pertama dan terakhir buat ibu,” kata mantan penyanyi cilik, yang juga memeluk Islam sejak 1985.

Putri pertama musisi Nomo Koeswoyo ini menuturkan bahwa sebelum ibunya meninggal, ia mengaku tak merasakan firasat apapun. Bahkan, saat sang ayah memberitahukan bahwa sang ibu sudah berpulang ke Rahmatullah, Chica malah menjawab akan menjemput kehadirannya. “Aku sampai dibilang bodo. Sebab, aku pikir ibu mau pulang dan akan aku jemput di stasiun,” ujar ibu dua anak ini. Semoga, amal ibadah ibunya diterima Yang Kuasa.

 

Ibunda Chica Koeswoyo Meninggal Dunia

22 Desember 2002 : INNALILAHI wainnailaihirajiun, Fatimah Francis Koeswoyo, ibunda mantan penyanyi cilik Chica Koeswoyo, berpulang ke Rahmatullah di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (18/12). Mendiang istri seniman Nomo Koeswoyo ini meninggal dipelukan sang suami. “Dia istri yang baik, bisa membimbing suami dan anak. Mulia sekali. Saya merasa sangat kehilangan,” ujar Nomo, dengan mata berkaca-kaca.

Sedangkan Chica mengaku tak punya firasat apapun mengenai kepergian ibunya. Bahkan, ia megaku kaget dengan meninggalnya sang ibu yang baru memeluk agama Islam itu.

Sebab, selama ini kondisi fisik sang ibu dalam keadaan sehat. “Dia tak kelihatan mau pergi. Dia lagi giat-giatnya belajar agama Islam,” kata Chica. (SCTV)

112. El Manik: “Saya Merasa Punya Tuhan Sekarang”

 

SEPULUH tahun silam, El Manik terbenam dalam kegelisahan hidup. Dia lalu bersujud meminta petunjuk kepada Tuhan agar lepas dari perasaan itu. “Dalam doa saya diberi hidayah untuk menerima kehadiran dia [Allah] di lubuk hati saya,” kenang aktor lawas ini. Sejak itu, lelaki berdarah Batak ini teguh memilih Islam sebagai agama yang dianutnya.

Kini, El Manik tak lagi merasa nestapa. Bagi dia, semua suka duka bisa dilalui bersama Sang Pencipta, yang sekaligus menjadi tempat mengadu. “Saya merasa punya Tuhan sekarang,” ucap suami Ida Zainun itu, tenang. Perubahan tabiat pun dialami peraih Aktor Terpuji Forum Film Bandung ini. Dia menjadi semakin sabar dan takut melanggar dosa.

Sebagai mualaf, tak semua mudah dijalani El Manik. Awalnya, dia mengaku kesulitan berpuasa atau bangun subuh untuk salat. Tapi kini, dia bisa menjalani ibadah tersebut secara lebih baik.

Cuma satu yang mudah buat El Manik yaitu hafalan ayat Kursi. Sebab, ayat-ayat itu sudah diingatnya di luar kepala sejak berperan sebagai ustad dalam film “Titian Serambut Dibelah Tujuh” pada 1981. “Itu jadi ayat favorit saya sampai sekarang,” seru El Manik. Duh, makin taat aja Om…

 

113. Lautze , Masjidnya Warga Keturunan Tionghoa

 

Selain sebagai tempat beribadah, Masjid Lautze juga berfungsi sebagai tempat berkumpul para mualaf. Di saat Ramadan, masjid ini juga menggelar berbagai kegiatan seperti masjid lainnya.

Jakarta: Jika dilihat sepintas, keberadaan Masjid Lautze tak berbeda dengan deretan rumah toko yang ada di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kendati demikian, masjid ini sebenarnya sama seperti masjid lain jika dilihat dari sisi fungsinya. Selain itu, masjid ini juga memiliki nilai historis yang tinggi.

Masjid yang merupakan penyatuan dua unit ruko ini didirikan pada 1991 oleh seorang warga keturunan Tionghoa, Haji Karim Oei. Tidak hanya difungsikan untuk tempat melaksanakan ibadah salat, Masjid Lautze juga kerap dijadikan tempat bertemu para mualaf keturunan Tionghoa. Di masjid inilah mereka berbagi pengalaman serta bertukar informasi dan perkembangan agama Islam.

Menurut Ketua Yayasan Masjid Lautze, Haji Ali Karim Oei, saling tukar pengalaman bagi mualaf penting artinya untuk menguatkan iman mereka. Terlebih bagi warga keturunan Tionghoa yang dulu sempat dicap sebagai kelompok eksklusif.

Setiap bulan Ramadan kegiatan di masjid ini biasanya bertambah. Menjelang waktu berbuka puasa, pengurus masjid selalu mengadakan pengajian. Malam hari, kegiatan tadarus dan ceramah agama juga menjadi agenda rutin masjid ini.

Selain itu, sebagaimana disebutkan Haji Ali, salah satu kegiatan yang rutin digelar adalah Ceramah Minggu yang biasa disebut Cermin. “Kegiatan ini sudah berjalan 20 tahun lamanya, yang dilangsungkan setiap hari Minggu pukul 11 siang,” jelasnya. Untuk membangun silaturahmi di antara mualaf dengan umat muslim lainnya, pengurus Masjid Lautze juga rutin mengadakan pertemuan pada hari-hari besar Islam.(ADO/Dora Multa Sari dan Satya Pandia/Liputan6.com)

 

Rumah Allah di Ruko Kontrakan

TAMPILAN luarnya tampak seperti ruko biasa. Apalagi, di sebelah kirinya ada papan nama kantor notaris, dan di sebelah kanannya ada papan nama perusahaan kontraktor. Hanya tulisan “Masjid Lautze 2″ yang menjadi penanda bahwa di lantai dua, satu petak ruko di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung, itu adalah sebuah masjid. Tulisannya itu pun tak begitu mencolok. Kubahnya hanya berupa gambar di dinding kaca.

Sesuai dengan namanya, masjid ini merupakan “cabang” Masjid Lautze di Jakarta. Maka, tak mengherankan, di dindingnya ada foto besar ukuran 60 x 40 sentimeter memperlihatkan Karim Oei bersama Presiden RI Soekarno. Seperti juga di Jakarta, Masjid Lautze 2 merupakan masjid pertama komunitas keturunan Tionghoa di Bandung. Masjid ini pun didominasi warna merah seperti terlihat di kelenteng.

Ukurannya hanya 7 x 6 meter, sehingga hanya mampu menampung paling banter 60 jamaah. Selain tempat salat, terdapat pula kantor dewan keluarga masjid yang dibatasi tripleks. Berbagai poster mengenai kejadian bumi, alam setelah kiamat, cerita kenabian, terpampang di pembatas itu.

Ruko yang dulunya toko buku itu berubah fungsi menjadi masjid sejak 1999. Saat itu bersamaan dengan dibukanya cabang Yayasan Karim Oei di Bandung. Sekretariat yayasan ini berada di lantai dasar bangunan bertingkat dua itu. Harga sewanya hanya Rp 6 juta. Terhitung murah, karena ruko ini terletak di kawasan strategis. “Harga sewa tak naik dari dulu. Mungkin yang punya tahu bahwa kami nggak punya uang, dan senang tempat ini dijadikan masjid,” kata Muhammad Sultoni, pengurus Masjid Lautze 2.

Kini, masjid sekaligus kantor yayasan itu itu berkembang menjadi tempat berkumpulnya warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama Islam di Bandung. Mereka rajin menggelar pertemuan berkala saban Ahad. Selain untuk bersilaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendengarkan ceramah dari para kiai yang diundang. “Materi yang dijadikan bahan ceramah biasanya menyangkut kehidupan sehari-hari, untuk memperkuat iman,” ujar Muhammad. Masjid ini juga meluaskan fungsinya sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Menurut Muhammad, sebetulnya masjid itu sudah tidak memadai lagi untuk menampung jamaah warga keturunan Tionghoa. Bila salat Jumat berlangsung, jamaah Lautze meluber sampai ke trotoar. Jamaahnya mencapai ratusan. Bukan hanya warga keturunan yang sengaja datang, Masjid Leutze 2 juga digunakan para karyawan yang berkantor tak jauh dari situ. Kebetulan di sekitar kawasan itu memang tidak terdapat masjid.

Pengurus Masjid Lautze 2 sudah berencana membangun masjid baru. Namun, karena terbentur dana, keinginan itu terpaksa diredam dulu. “Kami harus sabar. Yayasan tetap ingin masjid berada di pusat bisnis. Mualaf umumnya berbisnis,” kata Muhammad.

Mungkin karena statusnya masih kontrak, pengurus masjid tak terlalu bersemangat menyesuaikan bangunan masjid itu dengan masjid kebanyakan. Alhasil, kendati lokasinya di kawasan padat, tak banyak warga Bandung yang menyadari bahwa satu petak ruko di Jalan Tamblong itu adalah rumah Allah. (GTR)

114. Situa Ojak Hutagaol (H. Abd. Razak H.) : Menemukan Kebenaran dalam Islam

 

Saya, ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.

ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H. Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama Situa Ojak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah, sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian saya menunaikan ibadah haji. (Amien, Red.)

Keluarga kami sangat taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil, papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau, ia sering memarahi saya.

Proses awal saya masuk Islam, melalui pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan dengan kitab suci Al-Qur’an. Temyata Al-Qur’an lebih konsisten, baik dalam redaksi maupun ajarannya.

Di antara perintah (ayat) Injil yang tidak dipatuhi umat Kristen adalah soal keharusan memakal kerudung bagi kaum wanitanya, termasuk perintah tak boleh memakan daging babi, seperti tertuang dalam Injil Matius 5:17 dan Imamat 11: 7. Umat Kristen tak mempedulikan larangan ini. Lain halnya dengan Islam yang selalu menaati perintah tersebut.

Lalu masalah teologi, yakni konsep ketuhanan yang sangat membingungkan dan tak masuk akal, yaitu mengenai masalah trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Jadi, menurut saya, falsafah Kristen itu sudah tak dapat dipercaya.

Saya juga memperhatikan munculnya aliran (sekte) yang ada di dalam agama Kristen Misalnya, ada pendeta di Guyana, Amerika Latin, yang memerintahkan jemaatnya untuk melakukan bunuh diri massal, dengan tujuan ingin bertemu Tuhan Ini menurut saya tak masuk akal. Tapi dalam Islam, seperti di pesantren-pesantren atau di majelis-majelis taklim, tak pernah ada hal semacam itu.

Sebab itu, saya bertekad untuk mendalami Islam lebih jauh. Dan, ternyata Islam memberikan cakrawala berpikir lebih rasional. Sehingga Islam itu bisa dikaji dan didiskusikan seperti mengenai masalah haram, makruh, halal, dan lainnya. Islam itu juga tak mengenal dogma-dogma.

Saya juga teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami — mungkin tidak ada orang yang percaya. Ceritanya terjadi ketika saya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar menyuruh saya untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat. Perintah ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.

Saya waktu itu dalam keadaan sadar. Saya tak mengerti, apakah suara itu suara jin atau apa. Tapi, saya berpikir keras. Setelah proses mengkaji itu, mungkin ini perintah Allah kepada saya. Kejadian ini seringkali muncul ketika saya sedang dalam keadaan susah.

Saya mengibaratkan kejadian yang selalu mendadak ini sebagai ilham kepada saya. Apa yang selama ini saya anggap gaib, ternyata dapat saya rasakan. Hingga akhirnya saya memilih Islam sebagai pegangan hidup.

Sebulan kemudian, saya menjalankan ibadah umrah yang dibiayai oleh Haji Darmanto. Selesai umrah, saya banyak belajar mendalami Islam dengan bimbingan Ustadz Drs. H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan Yayasan Pendidikan Muallaf. Saya juga terus mendalami Islam di yayasan pendidikan Islam serta pesantren-pesantren lainnya.

 

Cobaan Iman

Setelah masuk Islam, banyak pula cobaan yang menimpa saya. Di antaranya waktu kembali dari ibadah umrah, saya ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan atas pengaduan orang tua saya. Dan ternyata, penangkapan itu dipimpin oleh ipar saya sendiri. Tapi akhirnya persoalan selesai dan semuanya telah saya maafkan.

Sedangkan orang tua saya sekarang ini masih belum bisa memaafkan saya. la belum juga mau menjumpai saya, walaupun saya sudah melakukan kompromi dengan berbagai pihak untuk mengadakan pertemuan itu. Tapi, sampai saat ini belum berhasil. Mudah-mudahan Allah bisa memberikan hidayah kepadanya.

Saya juga mengalami cobaan dalam hal ekonomi. Dulu, saya seorang kontraktor yang sukses dan hidup sangat kecukupan. Tapi, sekarang ini saya diuji Allah, dengan dihilangkan sebagian dari harta yang saya miliki. Sekarang saya hidup sederhana.

Saya cukup pusing dengan sikap anak-anak saya yang tidak mau menerima kenyataan ini. Mereka selalu bertanya, “Mengapa dulu sebelum ayah masuk Islam hidup kita berkecukupan, bisa punya mobil mewah, bisa beli apa yang diinginkan. Tapi sekarang, setelah ayah masuk Islam hidup kita menjadi susah?”

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat saya sedih. Bagaimana saya harus menerangkan kepada anak-anak saya itu? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Hanya bisa memohon kepada Allah dan selalu berzikir dan terus berusaha. Karena anak-anak saya belum bisa menerima Islam, sedangkan istri saya sudah dapat menerima dan sudah saya islamkan.

Saya terus berusaha membuktikan kepada anak-anak kami bahwa sebenarnya Islam itu tidak membuat orang jadi melarat. Allah juga membuktikannya kepada saya melalui rezeki yang tak diduga-duga. Ini saya yakini sebagai anugerah Allah kepada saya. (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)

115. H. AbdulKarim Oei (Oei Tjen Hien) tokoh Muhammadiyah, pendiri Persatuan Tionghoa Indonesia

 

Melongok Masjid Lautze Pasar Baru, Masjidnya Warga Tionghoa

Ia dikenal dengan nama Haji Abdurkarim, seorang tokoh Muhammadiyah mantan anggota Parlemen RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Pada tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar kemudian mengikuti berbagai kursus, lalu bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Disamping itu ia juga sebagai pandai emas, lalu ia pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia mempelajari berbagai agama melalui bacaan buku, majalah dan suka bergaul dengan para pemeluk agama. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya dia yakin benar dan penuh kesadaran pada umur 20 tahun lalu masuk Islam.

Ia aktif di Muhammadiyah sampai tahun 1932 dan dalam kegiatan ini lalu kenal dengan Prof. Dr. HAMKA. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannyapun semakin tambah lalu pada tahun 1961 beliau membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, maka organisasi PITI ini berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.

Dalam dunia bisnis, dia dikenal sebagai seorang etnis yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan Mas. Sebagai seorang muslim yang taat dia selalu menghitung dengan teliti jumlah kekayaannya untuk dikeluarkan zakatnya. Pak Oei dikenal pula dengan si Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) juga akrab dengan Bung Karno (Presiden I RI). Suatu ketika di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Pak Oei. Sesampai di atas kota kedua sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.

Haji Abdulkarim Oei sebagai salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dia buktikan dengan kesadarannya menjadi warganegara Indonesia yang otomatis harus keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya. Ke Islamannya membawa Oei otomatius ke pola hidup baru ini. Dan keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka akan lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang diri Pak Oei ini dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” tahun 1979 “Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu.

Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih terkenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara H. Abdulkarim dengan Bung Karno itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa H. Abdulkarim sendiri”. Di samping dia menjadi seorang muslim yang taat, diapun dipupuk, diasuh dan akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan ia diangkat sebagai KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian dia memilih Partai Muslimin Indonesia/PARMUS sebagai wadah perjuangannya.

Pada tahun 1982 riwayat hidupnya yang berjudul “Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa” terbitan PT Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina Muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional sejak 1980-1985.

Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum`at dini hari tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan 5(lima) putra-putri dan beberapa cucu

 

Masjid Lautze, Masjidnya Warga Tionghoa

Masjid Lautze didirikan oleh Yayasan Abdul Karim Oei dan diresmikan pada tahun 1994. Dalam waktu dekat fisik bangunan Masjid Lautze akan dipugar, namun masalah biaya menjadi ganjalan.

Liputan6.com, Jakarta: Masjid Lautze yang berlokasi di daerah Pecinan, Pasar Baru, Jakarta Pusat adalah sebuah masjid yang didirikan komunitas Tionghoa muslim di ibu kota. Dengan segala keterbatasan, masjid yang didirikan Yayasan Abdul Karim Oei dan diresmikan 1994 ini terus menjalankan fungsinya sebagai tempat syiar Islam.

Sepintas memang tak ada yang unik dari masjid yang berbentuk rumah toko layaknya ruko-ruko lain yang ada di sekitarnya. Bentuk bangunan Masjid Lautze pun bisa dibilang sangat sederhana. Namun kesan pertama yang tertangkap segera sirna bila Anda memasuki ruang masjid seperti yang dialami SCTV, baru-baru ini.

Ciri-ciri sebuah masjid begitu terasa di ruang dalam gedung berlantai empat itu. Lantai pertama dan kedua biasa digunakan untuk salat berjemaah. Sedangkan lantai tiga dan empat berfungsi sebagai kantor sekretariat Yayasan Abdul Karim Oei.

Warna merah yang disapukan pada beberapa bagian dinding bangunan menjadi satu-satunya sentuhan Tionghoa di Masjid Lautze. Selain itu tak terlihat lagi ornamen tradisional Cina lainnya. Namun di dalam ruang masjid tergantung pula beberapa foto Abdul Karim Oei.

Muhammad Ali Karim Oei, anak almarhum Abdul Karim Oei mengatakan, dalam waktu dekat fisik bangunan Masjid Lautze akan dipugar. Dia mengaku sudah memiliki gambaran masjid setelah dipugar nanti. Namun masalah biaya masih menjadi ganjalan.(ICH/Ariyo Ardi dan Budi Sukma)

 

Melongok Masjid Lautze di Yayasan Haji Karim Oei, Pasar Baru

Masjid ngontrak, pernahkah anda dengar? Mungkin Masjid Lautze masjid pertama di Indonesia yang pernah terpaksa mengontrak gedung demi tegaknya syi’ar agama Islam di kalangan etnis Cina. Karena sebagian besar jama’ah masjid adalah mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), di saat bulan ramadhan pengajian mingguan banyak dilakukan di rumah-rumah pejabat. Apa sih uniknya mereka?

Berdiri di tengah-tengah daerah perdagangan, gedung berlantai empat di jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru, Jakarta ini seperti layaknya ruko (rumah toko). Papan nama berwarna merah. Pintu-pintunya pun berwarna merah. Warna khas etnis Cina. Namun ada nuansa lain dalam bentuk bingkai pintunya yang melengkung.

Lengkungan itu seperti gaya bangunan seni Islam. Gambarannya pun serupa masjid. Ternyata, lantai bawah bangunan yang bertuliskan nama Yayasan Haji Karim Oei (baca: Karim Ui) memang berfungsi sebagai masjid, yaitu Masjid Lautze.

Yayasan Haji Karim Oei didirikan 9 April 1991. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu. Nama yang terdengar bernuansa Cina ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan misi yayasan yang berupaya menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa.

Selain dikenal sebagai konsul Muhammadiyah karena ketaatannya menjalankan syari’at Islam dengan baik, H Karim Oei juga seorang bisnismen yang sukses. Ia merupakan salah satu pendiri Bank Central Asia (BCA), Preskom BCA dan pemilik berbagai perusahaan yang sukses, khususnya di bidang industri. “Karena itu, setelah bapak meninggal, Pak Yunus Yahya (tokoh pembauran) dan kawan-kawan mendirikan yayasan ini untuk mengenang almarhum. Tujuannya, agar lahir Karim Oei-Karim Oei baru yang Islamnya kuat, nasionalis tulen dan bisnismen sukses,” tutur H Ali Karim, SH, salah satu anak H Karim Oei dan menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei.

Lokasi gedung memang terletak di area Pecinan (China town). Sehingga, memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam. “Mungkin sebenarnya banyak orang Tionghoa ingin tahu tentang Islam.

Tetapi kebanyak mereka takut atau ragu untuk masuk masjid. Dengan melihat papan nama yang mencantumkan jelas nama Haji Karim Oei, tentu orang sudah tahu bahwa ini yayasan Islam yang ada hubungannya dengan etnis Cina. Sehingga, kalau ada orang Tionghoa lewat sini dan ingin masuk Islam, tidak akan sungkan lagi,” papar Ali.

Meski sarat nuansa Cina, Ali menegaskan, keberadaan yayasan terbuka untuk setiap orang. ”Salah, kalau ada yang mengatakan yayasan ini adalah perkumpulan cina muslim. Misinya memang untuk orang Cina, tapi kegiatannya siapa saja boleh ikut. Bahkan, kita pun tidak menutup kemungkinan bagi non muslim untuk berpartisipasi membantu yayasan atau mengikuti berbagai forum kegiatan di sini.”

 

Cina kaya

Stereotipe orang Cina pasti kaya, juga dialami oleh yayasan. Itu terlihat dari banyaknya permohonan bantuan pada yayasan. Padahal, pada awal berdirinya, untuk menebus akte pendirian sebesar Rp 100.000 saja pihak yayasan tidak mampu. Beruntung, yayasan mendapat tugas mengurus jama’ah haji dengan ONH Plus. Uang komisi dari tugas itulah yang digunakan untuk membayar akte.

Setelah yayasan berdiri, kendala lain muncul. Yayasan belum mempunyai tempat. Maka, mau tak mau harus mengontrak gedung di lantai bawah di jalan Lautze untuk kantor. Ide lain kemudian muncul dari ketua umum Yayasan yaitu Drs H Junus Jahja untuk membangun masjid. “Tidak ada jalan lain, kita hanya punya satu lantai digunakan untuk masjid. Sedang kantor kita pakai ruangan pak Yunus yang berada di lantai dua,” ungkap Ali seraya menambahkan, “jadilah masjid ini masjid pertama di Indonesia yang ngontrak.

Masjid Lautze baru dinyatakan milik yayasan, setelah Prof DR Ing Habibie melalui ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) saat itu yaitu H Ahmad Tirtosudiro (sekarang ketua DPA), membayar harga gedung berlantai empat secara keseluruhan. Yaitu, sekitar 1998 yayasan telah memiliki gedung sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam.

 

Dakwah Ramadhan melalui Media Elektronik

Ramadhanan ala Masjid Lautze tak ubahnya pengajian keliling yang digelar dari rumah ke rumah. Tak kalah menariknya, rumah yang dikunjungi adalah rumah para pejabat. Mereka tidak perlu menunggu undangan, justru para pejabat itulah yang banyak mengundang.

Jama’ah Masjid Lautze ini memang tergolong unik. Mengapa? Karena sebagian besar di antara mereka adalah mu’allaf yang pastinya telah mendapat hidayah dari Allah untuk memeluk agama Islam, meski melalui proses pengislaman berbeda. Misalnya, karena pergaulan atau menjelang menikah.

Menurut HM Syarif Tanudjaya, bendahara umum yang juga salah seorang pengurus harian yayasan, sebelum terjadi krisis, hampir setiap hari ada orang Tionghoa yang ingin masuk Islam. Mereka kemudian dikumpulkan untuk diyakinkan terlebih dahulu kesungguhannya pindah agama. Namun setelah krisis, kira-kira tiga hari sekali ada yang masuk Islam. Jumlahnya tiap tahun ada 100 sampai 120 orang yang baru masuk Islam.

Upaya menegakkan syi’ar Islam di lingkungan etnis Cina ini, diakui H Ali Karim, SH, Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei, tidak mudah. Oleh karena itu, kegiatan pengajian dilaksanakan setiap minggu pukul 11.00 WIB, hingga dilanjutkan setelah dzuhur dengan memanfaatkan beragam kegiatan. Seperti, diskusi, les bahasa Inggris, bahasa Cina, musik dan lainnya

Mengapa dipilih hari Minggu? “Karena keturunan Cina banyak pedagang, hari Minggu mereka tidak kerja.

Terutama, jama’ah di sini banyak pula yang datang dari tempat jauh, seperti Bogor, Tangerang, Cirebon dan lain-lain. Tapi, hari Senin sampai Jum’at pun mereka bisa datang. Bagi warga sekitar sini yang mau belajar ngaji atau tanya-tanya persoalan agama ada ustdz-ustdzah yang siap membantu,” ungkap Ali.

 

Pengajian keliling

Khusus di bulan Ramadhan, biasanya dilakukan pengajian keliling dari rumah ke rumah tiap minggu. Uniknya, rumah yang dikunjungi adalah rumah salah seorang pejabat atas undangannya. Sebelum reformasi, beberapa nama seperti Mar’ie Muhammad, BJ Habibie, Amin Rais, R Hartono, pernah mengundang jama’ah masjid untuk berbuka puasa, tarawih dan mendengar ceramah.

Selain itu, Yayasan Haji Karim Oei juga selalu berupaya untuk mensyi’arkan dakwah bulan Ramadhan melalui media elektronik. Contohnya, pada bulan Ramadhan tahun lalu mengadakan kerja sama dengan (almarhum) Anton Indracaya tentang masalah haji. “Niat untuk membuat acara seperti itu lagi tetap ada. Tetapi, untuk membuat pesantren kilat di bulan Ramadhan belum terpikir. Dulu, pernah kita programkan tapi terbentur pada

pemilahan kelas. Jama’ahnya kan ada yang hanya tamat SMP, SMA, kuliah, sehingga cara berpikirnya beda. Mau bikin kelas awalnya dari mana, bingung,” tukasnya.

 

English Club

Jama’ah remaja Masjid Lautze pun terbilang cukup aktif. Meski sebagian besar di antara mereka adalah mua’alaf awal (baru masuk Islam), mereka mampu menerapkan ajaran Islam dalam seluruh sendi-sendi kehidupannya. Hal ini terlihat dari kegiatan mereka yang tergabung dalam English Club Remaja Masjid Lautze. Pada Ramadhan ini, mereka menggelar Learning English Fast with games. Adanya games ini, ungkap Endang, salah seorang anggota English Club, tujuannya untuk memancing kreatifitas peserta kursus agar tidak cepat bosan. “Ini berlaku untuk umum, non muslim juga boleh,” ujar mua’alaf yang pada usia lima tahun ingin belajar mengaji, namun mulai terketuk masuk Islam sejak SMA.

Bentuk kegiatan ini pun, menurut Wina, cucu almarhum Karim Oei, tidak seperti les. “Kalau materinya terlalu banyak, bisa jadi beban mental. Kita mulai dari yang disukai. Tidak seluruhnya bicara tentang Islam, tetapi pada akhirnya basic to Al- Qur’an,” ucapnya penuh antusias.

116. Ahmad Dzulkiffi Mandey (d/h Abraham David Mandey) : Pendeta TNI AD yang mendapat Hidayah Allah

 

Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai “Pelayan Firman Tuhan “, istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai “jalan hidup” akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. – Cerita Beliau ini, – mohon maaf – tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf – red.

Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.

Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin “Sapta Marga”-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas negara yang dibebankan kepada saya.

Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental, tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).

Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang sejarah dan filsafat agama-agama di dunia, termasuk studi tentang Islam.

 

Menjadi Pendeta.

Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.

Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.

Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh UNESCO di Paris, Prancis.

 

Dilema Rumah Tangga

Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat saya sibuk luar biasa. Sebagai pendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat rumah tangga.

Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima usulannya itu. Sebagai seorang “Pelayan Firman Tuhan” saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat di atas segalanya.

Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap kepulangan saya.

Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampil pada kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.

Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling sejalan? Ketika niat saya untuk “melepas” istri, saya sampaikan kepada sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka mengingatkan.

Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.

Mencari Kedamaian

Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi. Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama. Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.

Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti di Yerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya, mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu. Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z. Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.

Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan. Secara selentingan saya pemah mendengar “Pendeta Mandey telah miring.” Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.

Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah perumpamaannya. Saya semakin “terseret” untuk mendalami, konsepsi Islam tentang ketuhanan dan peribadahan

Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut “tauhid”. Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.

Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau ini akan mampu di selamatkan.

Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.

Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.

Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad (Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan Strategi) ABRI.

Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.

Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya. Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini.

Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqlal. Allahu Akbar. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Hari saat saya menemukan diri saya yang sejati.

 

Menghadapi Teror

Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja, termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.

Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi teror dan berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.

Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggung jawabkan perbuatan saya itu di hadapan majelis gereja.

Saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima surat ucapan terima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus pembebas tugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.

Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.

Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu, beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya pernah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank ternama di Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator.

Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan.

Saya menikahinya tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap sebagai penganut Protestan yang taat.

Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada tahun 1989.

117. Abigael Mitaart : Aku Yakin Yesus Kristus Bukan Allah

 

Nama saya Abigael Mitaart, lahir di Pulau Bacan, Maluku Utara, 30 Maret 1949, dari pasangan Efraim Mitaart dan Yohana Diadon. Latar belakang agama keluarga kami adalah Kristen Protestan. Ketika beragama Kristen Protestan, saya sama sekali tidak pernah membayangkan untuk memilih agama Islam sebagai iman kepercayaan saya. Hal ini dapat dilihat dari situasi keluarga kami yang sangat teguh pendiriannya pada keimanan Kristus.

Bagi saya, saat itu tidak mudah untuk hidup rukun berdampingan bersama umat Islam, karena sejak masa kanak-kanak telah ditanamkan oleh keluarga agar menganggap setiap orang Islam sebagai musuh yang wajib diperangi. Bahkan kalau perlu, seorang bayi Kristen diberikan pelajaran bagaimana caranya membuang ludah ke wajah seorang muslim. Hal ini mereka lakukan sebagai perwujudan dari rasa kebencian kepada umat Islam. Disanalah, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen yang sangat tidak bersahabat dengan warga muslim.

Tentu saya tidak pernah absen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Bahkan, saya berperan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Misalnya, saya selalu diminta tampil di berbagai kelompok paduan suara untuk pelayanan lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, saya kerap mengikuti kegiatan “Aksi Natal” yang diselenggarakan oleh gereja dalam rangka pelebaran sayap tugas-tugas misionaris (kristenisasi).

 

TERTARIK PADA ISLAM

Ihwal ketertarikan saya pada agama Islam berawal dari rasa kekecewaan kepada ajaran-ajaran Kristen dan isi Alkitab yang hanya berisikan slogan-slogan. Bahkan, menurut saya, apabila para pendeta menyampaikan khotbah diatas mimbar, mereka lebih terkesan seperti seorang penjual obat murahan. Ibarat kata pepatah, ” tong kosong nyaring bunyinya.”

Sekalipun saya sudah menekuni pasal demi pasal, ayat demi ayat dalam Alkitab, tetapi tetap saja saya sulit memahami maksud yang terkandung mengenai isi Alkitab. Misalnya, tertulis pada Markus 15:34, “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Lalu, siapakah Yesus Kristus sesungguhnya? Bukankah ia adalah paribadi (zat) Allah yang menjelma sebagai manusia? Lalu, mengapa ia (Yesus) berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, ”Eli, Eli,..lama sabakhtani? “ (Tuhanku,..Tuhanku,.. mengapa Engkau tinggalkan aku?)

Akhirnya saya yakin bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Walaupun sebelumnya iman kepada Yesus Kristus sangat berarti dalam kehidupan saya. Apalagi, ketika itu didukung dengan ayat-ayat dalam Alkitab, seperti tertulis,”Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus). Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan.” Kisah Para Rasul 4:12

Kemudian dilanjutkan lagi dengan Yohanes 14:6, ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapak, kalau tidak melalui Aku (Yesus).”

Setelah membaca ayat ini, kemudian saya mencoba membanding-bandingkan dengan satu ayat yang tertulis dalam QS. 3:19, ”Sesungguhnya agama (yang diridhai) pada sisi Allah ialah Islam.”

Entah mengapa, saya merasakan pikiran saya beru-bah, mungkin ini suatu keajaiban yang luar biasa terjadi dalam diri saya, karena selesai membaca ayat al-Qur’an tersebut, saya mulai merasa yakin bahwa ayat yang tertulis dalam QS. 3:19 itu bukanlah ‘ayat rekayasa’ dari Nabi Muhammad, tetapi ayat tersebut sesungguhnya adalah firman Allah yang hidup dan kehadiran agama Islam langsung mendapat ridha dari Allah SWT.

Betapa sulitnya seorang Kristen seperti saya bisa memeluk agama Islam, tetapi saya yakin dengan keputusan untuk masuk agama Islam, karena saya berkesimpulan apabila seorang beragama Kristen kemudian memilih agama Islam, selain karena mendapat hidayah, ia juga termasuk umat pilihan Allah SWT. Alhamdulillah, singkat cerita pada tanggal 22 Desember 1973, disebuah pulau terpencil bernama Pulau Moti di wilayah Makian, Maluku Utara dengan disaksikan warga muslim setempat, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa terasa air mata kemenangan berlinang, sehingga suasana menjadi hening sejenak, keharuan amat terasa saat peristiwa bersejarah dalam hidup saya itu berlangsung. Usai mengucap dua kalimat syahadat, nama saya segera saya ganti menjadi Chadidjah Mitaart Zachawerus.

Keputusan saya untuk memilih Islam harus saya bayar dengan terusirnya saya dari lingkungan rumah, pengusiran ini tidak menggoyahkan iman dan Islam saya, karena saya yakin akan kasih sayang Allah SWT, senantiasa tetap memelihara saya dalam lindungan-Nya.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah tidak menolong kamu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin berserah diri.” QS. 3:160

Alhamdulillah, pada bulan Juni 1996, saya bersama suami, Sulaiman Zachawerus, menunaikan rukun Islam kelima, pergi haji ke Baitullah. ( al-islahonline.com )

118. Anton Medan (Tan Hok Liang) : Menemukan Hidayah di Penjara

 

NAMA saya Tan Hok Liang, tapi biasa dipanggil Kok Lien. Saya dilahirkan di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 1 Oktober 1957, sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara. Pada umur 8 tahun saya masuk SD Tebing Tinggi. Ketika saya sedang senang senangnya menikmati dunia pendidikan, tiba-tiba dunia sakolah terpaksa saya tinggalkan karena ibu menyuruh saya berhenti sekolah. Jadi, saya hanya tujuh bulan menikmati bangku SD. Mulai saat itulah saya menjadi tulang punggung keluarga. Saya sadar, mungkin inilah garis hidup saya. Saya terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari

Pada usia 12 tahun, saya mulai merantau dan menjadi anak jalanan di Terminal Tebing Tinggi. Sehari-hari saya menjadi calo, mencari penumpang bus. Suatu ketika, saya berhasil mencarikan banyak penumpang dari salah satu bus. Tapi entah mengapa, tidak seperti biasanya, saya tidak diberi upah.

Terbayang di mata saya wajah kedua orang tua, adik-adik, serta kakak saya yang senantiasa menunggu kiriman uang dari saya. Saya terlibat perang mulut dengan sopir bus tersebut. Tanpa sadar, saya ambil balok kayu dan saya pukulkan ke kepalanya. Akhirnya, saya berurusan dengan pihak yang berwajib. Di hadapan aparat kepolisian, saya tak mau mengaku bersalah. Saya menuntut hak saya yang tak diberikan oleh sopir bus itu.

Sebetulnya, saya tak ingin berurusan dengan pihak yang berwajib. Saya ingin hidup wajar-wajar saja. Tapi entah mengapa, kejadian di Terminal Tebing Tinggi itu terulang kembali di Terminal Medan. Dulu, selama di Terminal Tebing Tinggi, saya menjadi calo. Tapi, di Terminal Medan, saya beralih profesi menjadi pencuci bus.

Suatu ketika, tak saya sangka, tempat yang biasanya saya jadikan tempat menyimpan uang, ternyata robek. Uang saya pun ikut lenyap. Saya tahu siapa yang melakukan semua itu. Saya berusaha sabar untuk tak ribut dengannya. Saya peringatkan saja dia. Ternyata, mereka malah memukuli saya. Waktu itu saya berumur 13 tahun. Lawan saya orang yang sudah dewasa dan tinggi besar. Saya sakit hati, karena tak satu pun teman yang membantu saya. Tanpa pikir panjang, saya ambit parang bergerigi pembelah es yang tergeletak di antara kerumunan lalu saya bacok dia. Dia pun tewas. Lagi-lagi saya berurusan dengan polisi. Saat itu saya diganjar empat tahun hukuman di Penjara Jalan Tiang Listrik, Binjai. Masih saya ingat, ibu hanya menjenguk saya sekali saja.

 

Merantau ke Jakarta.

Setelah bebas dari penjara, saya pulang kampung. Tak pernah saya sangka, ternyata orang tua saya tak mau menerima saya kembali. Mereka malu mempunyai anak yang pernah masuk penjara. Hanya beberapa jam saya berada di rumah. Setelah itu, saya hengkang, mengembara ke Jakarta dengan menumpang KM Bogowonto.

Saya hanya mempunvai uang seribu rupiah. Tujuan utama saya ke Jakarta mencari alamat paman saya yang pernah menyayangi saga. Berbulan-bulan saga hidup menggelandang mencari alamat paman. Waktu itu alamat yang saya ingat hanyalah daerah Mangga Besar. Dengan susah payah, akhirnya saya temukan alamat paman. Sungguh tak saya sangka, paman yang dulu menyayangi saya, ternyata mengusir saya. Hilang sudah harapan saya untuk memperbaiki masa depan.

Tekad saya sudah bulat. Tak ada orang yang mau membantu saya untuk hidup secara wajar. Mulailah saya menjadi penjahat kecil-kecilan. Kejahatan pertama yang saya lakukan adalah menjambret tas dan perhiasan nenek-nenek yang akan melakukan sembahyang di klenteng.

Mulai saat itu saya telah berubah seratus persen. Keadaan mendorong saya untuk melakukan semua ini. Pelan-pelan dunia jambret saya tinggalkan. Saya beralih ke dunia rampok. Perdagangan obat-obat terlarang mulai saya rambah. Dan terakhir, saya beralih sebagai bandar judi. Saat-saat itulahsaya mengalami kejayaan. Masyarakat Jakarta menjuluki saya Si Anton Medan, penjahat kaliber kakap, penjahat kambuhan, yang hobinya keluar masuk penjara, dan lain-lain.

 

Proses mencari Tuhan

Tak terbilang berapa banyak LP (Lembaga Pemasyarakatan) dan rutan (rumah tahanan) yang sudah saya singgahi. Karena sudah terbiasa, saya tahu seluk-beluk rutan yang satu dengan rutan yang lain, baik itu sipirnya maupun fasilitas yang tersedia.

Di tembok penjara itulah saya sempat menemukan hidayah Tuhan. Ketika dilahirkan, saya memang beragama Budha. Kemudian saya berganti menjadi Kristen. Entah mengapa, tatkala bersentuhan dengan Islam, hati saya menjadi tenteram. Saya menemukan kesejukan di dalamnya.

Bayangkan, tujuh tahun saya mempelajari Islam. Pengembaraan saya mencari Tuhan, tak lepas dari peran teman-teman sesama tahanan. Misalnya, teman-teman yang terkena kasus Cicendo, dan sebagainya. Tanpa terasa, hukuman yang begitu panjang dapat saya lalui. Akhirnya saya menghirup udara segar kembali di tengah-tengah masyarakat. Tekad saya sudah bulat. Saya ingin berbuat kebaikan bagi sesama.

 

Masuk Islam

Tapi, kenyataannya ternyata berlainan. Begitu keluar dari penjara, saya dipaksa oleh aparat untuk membantu memberantas kejahatan. Terpaksa ini saga lakukan. Kalau tidak, saya bakal di 810-kan, alias didor. Dalam menjalankan tugas, saya selalu berhadapan dengan bandar-bandar judi kelas wahid. Sebutlah misalnya, Hong-lie atau Nyo Beng Seng. Akibat ulah Hong-lie, terpaksa saya bertindak keras kepadanya. Saya serahkan dia kepada pihak berwajib.

Dan akhirnya, saya menggantikan kedudukannya sebagai mafia judi. Sudah tak terhitung berapa banyak rumah-rurnah judi yang saya buka di Jakarta. Saya pun merambah dunia judi di luar negeri. Tapi, di situlah awal kejatuhan saya. Saya kalah judi bermiliar-miliar rupiah.

Ketidakberdayaan saya itulah akhimya yang membuat saya sadar. Mulailah saya hidup apa adanya. Saya tidak neko-neko lagi. Saya ingin mengabdikan hidup saya di tengah-tengah masyarakat. Untuk membuktikan kalau saya benar-benar bertobat, saya lalu masuk Islam dengan dituntun oleh KH. Zainuddin M.Z. Setelah itu, saya berganti nama menjadi Muhammad Ramdhan Effendi.

Kiprah saya untuk berbuat baik bukan hanya sebatas masuk Islam. Bersama-sama dengan K.H. Zainuddin M.Z., K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., dan Pangdam Jaya (waktu itu) Mayjen A.M. Hendro Prijono, 10 Juni 1994, kami mendirikan Majels Taklim Atta’ibin.

Sengaja saya mendirikan majelis taklim ini untuk menampung dan membina para mantan napi (narapidana) dan tunakarya (pengangguran) untuk kembali ke jalan Yang benar. Alhamdulillah, usaha ini tak sia-sia. Pada tahun 1996, Majels Taklim Atta’ibin mempunyai status sebagai yayasan berbadan hukum yang disahkan oleh Notaris Darbi S.H. yang bernomor 273 tahun 1996.

Kini, keinginan saya hanya satu. Saya ingin mewujudkan pangabdian saya pada masyarakat lebih jauh lagi. Saya ingin mendirikan pondok pesantren. Di pondok inilah nantinya, saya harapkan para mantan napi dan tunakarya dapat terbina denganbaik. Entah kapan pondokpesantren harapan saya itu bisa terwujud. Saya hanya berusaha. Saya yakin nur Ilahi yang selama ini memayungi langkah saya akan membimbing saya mewujudkan impian-impian itu. (Maulana/Albaz) (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ ).

119. Ahlan wa Sahlan, Saudaraku Ella

 

Banyak ketidaknyamanan yang dialami mualaf setelah memutuskan untuk berislam. Tak sekadar ucapan selamat, butuh kepedulian yang tinggi dari Muslimin yang lain.

Mengucapkan syahadat pada 8 April 2001, Ella (bukan nama sebenarnya, red) mengaku hingga kini belum berani berterus terang kepada keluarganya soal ke-Islamannya. Ia pernah mengutarakan niatnya berislam. Tapi tanggapan keluarga di luar dugaannya.

Bukan hanya pemukulan yang ia dapatkan. Lebih dari itu, ia mendapat ultimatum yang menurutnya sangat berat.

”Ayah mengancam akan bunuh diri. Keluarga akan menuntut saya karena sayalah penyebab kematian ayah,” ungkap Ella, ketika ditemui Republika di tempat kerjanya di bilangan Jakarta Pusat, Rabu (24/8).

Ella sendiri awalnya adalah aktivis gereja di Jakarta. Namun, setelah beberapa pertanyaannya tidak mampu dijawab dengan baik oleh sang pendeta ia pun berhenti dari kegiatannya. ”Saya sempat tanya apa perbedaan Alah sama Alloh. Tapi pendeta saya tidak bisa memberi jawaban. Jawabannya muter-muter saja.”

Di tengah kebingungan, Ella tiba-tiba bertemu dengan Ir H Surya Madya, seorang mualaf yang kemudian mendirikan Yayasan AMMA. Ia kemudian aktif mengikuti pengajian yang diadakan yayasan itu.

”Jawaban-jawaban Pak Surya itu masuk di dalam logika saya,” kata Ella.

Ella pun bersyahadat. Ketika itu, ia bekerja di perusahaan travel milik non-Muslim. Rekan-rekan yang tahu ia menjadi Muslim banyak yang mencibir. Ia juga kerap dipermainkan. Saat jam makan, misalnya, dalam menunya sengaja diberi daging babi. ”Enak enggak? Makanan tadi kan isinya babi,” ujarnya, menirukan olokan teman-temannya.

Kini ia berpindah kerja. Pengurus AMMA membantunya mendapatkan pekerjaan baru. Ia bersyukur. Bila Ella menyembunyikan agamanya dari keluarga, tidak begitu dengan Cuncun, WNI keturunan asal Bandung. Lelaki yang kini lebih sering dipanggil Aries itu tetap diterima keluarganya kendati ia Muslim. Di rumahnya yang asri di Bandung, ia tinggal bersama lima anggota keluarganya yang menganut agama Kristen.

Sebelum menjadi Muslim, Cuncun menjadi preman jalanan. Merasa “lelah” dengan kenakalannya, ia kerap mampir ke Masjid Lautze di Bandung. Ia merasa tenteram dengan siraman rohani yang diberikan pengurus Yayasan Karim Oei cabang Bandung. Ia pun menyatakan berislam setahun lalu. ”Keluarga menerima saya, mungkin karena saya menjadi lebih baik setelah memeluk agama Islam,” ujarnya sambil tertawa.

Cobaan bagi mualaf keturunan Tionghoa justru datang dari lingkungannya. Oleh sesama keturunan Tionghoa, dia dikucilkan. Sementara komunitas Muslim pribumi belum sepenuhnya menerima mereka. Ku Wie Han (36 tahun), yang biasa dipanggil Wiwih, mengaku prihatin dengan kondisi ini. Mualaf Tionghoa, katanya, belum pernah diposisikan sebagai asnaf dalam penyaluran zakat. Padahal, tutur dia, hampir seluruh lembaga zakat di Bandung mengetahui bila di Masjid Lautze merupakan wadah perkumpulan mualaf Tionghoa.

Bagi Wiwih, menjadi Muslim penuh rintangan. Ia berislam 18 tahun lalu, setelah kepergian ayahnya. ”Kematian hanya gerbang menuju kehidupan lain,” ujarnya. Ia pun mempelajari semua kitab. ”Dan yang paling bisa menjamin kehidupan saya di akhirat, hanya ajaran Islam,” tutur dia. Ia pun menyatakan diri sebagai Muslim.

Komunitas Tionghoa langsung mengambil jarak darinya. Apalagi kemudian ia menyunting gadis pribumi. Tak hanya menjauh, rekan-rekannya pun mencibir. Beruntung, ia bertemu dengan jamaah Masjid Lautze Bandung. Ia “terselamatkan” dari rasa keterkucilannya. Apalagi belakangan, ibu dan adiknya juga mengikuti jejaknya, memeluk agama Islam.

 

Kepedulian Muslim masih rendah

Kristolog H Kodiran Salim secara tegas mengatakan, sejauh ini tidak banyak tokoh umat Islam yang peduli terhadap pembinaan mualaf. Kalau pun kemudian berdiri lembaga atau yayasan untuk mualaf, itu sebatas inisiatif dari pribadi-pibadi yang peduli.

Ironisnya, mereka yang bergerak pada bidang pembimbingan mualaf tersebut terkesan masih bergerak sendiri-sendiri, belum ada sinergi. Walau beberapa telah ada yang menjalin komunikasi, tapi intensitasnya belum seperti yang diharapkan. Dikatakan lebih jauh, pembinaan mualaf harus segera ditangani secara serius dan berkesinambungan. Pasalnya, bukan tidak mungkin, para mualaf ini lantaran tidak mendapatkan bimbingan dan pendampingan dengan baik, justru akan kembali ke agama asalnya.

Kodiran membayangkan, ke depan harus ada sebuah lembaga atau wadah khusus bagi pembinaan mualaf, tersedia database mualaf, serta tenaga-tenaga pembimbing dengan bekal ilmu yang mumpuni. Begitu pula organisasi Islam maupun pondok pesantren diharapkan lebih aktif berperan antara lain dengan membentuk lembaga pendidikan bagi mualaf.

Saat ditanya pembinaan seperti apa yang paling dibutuhkan oleh mualaf, Kodiran mengatakan yang terpenting adalah bagaimana menanamkan akidah agar keimanan mereka benar-benar kuat. Untuk itu, harus ada pentahapan pemberian bimbingan, yakni mulai dari pembelajaran Alquran, hadis, fikih, dan seterusnya.

Pembinaan dan pendampingan para mualaf sudah jelas merupakan tanggungjawab seluruh Muslimin. Mereka sudah bersedia menyerahkan segala jiwa raga kepada Islam, dan semestinya pengorbanan itu menjadi perhatian kita semua. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

120. Ir. H. Surya Madya (Lie Sie Tiong) Kemudahan Dari Allah SWT

 

wawancara Ir H Surya Madya : ‘Perlu Rumah Singgah Mualaf’

Sekalipun sudah 22 tahun ia hidup dalam ajaran Islam, namun Ir. H. Surya Madya tetap mempunyai kisah bagaimana ia masuk Islam. Insinyur kelahiran Samarinda ini memang keturunan Thionghoa makanya masih sering ia dilirik oleh orang sambil menyangka pasti ia baru masuk Islam. Tapi Surya tetap tersenyum dan bersyukur kepada Allah SWT karena secara fisik memang wajah-wajah Cinanya gampang dikenali.

Pelajaran tentang Islam diterimanya tatkala ia duduk dibangku SMP. “Dari pada bengong sendirian diluar kelas mendingan saya masuk kelas saja.” Begitu gumamnya. Masuklah ia dikelas dan mendengarkan pelajaran agama Islam. Ini berlangsung sampai ia lulus SMP.

Surya yang masih beragama Budha itu langsung tertarik pada sosok Nabi Allah, Muhammad SAW. Figur yang begitu luar biasa, luhur dan amanah. Muhammad sangat pemaaf, sabar, dan sangat bersih hatinya.

Surya Madya yang memiliki nama asal Lie Sie Tiong itu terharu. Saat itu secara tidak langsung beliau sudah mengimani Muhammad sebagai manusia pilihan.

Proses pembelajaran pun dimulai. Al-Qur’an, kitab suci umat Islam segera dibacanya, diamati dan dipelajari. Surya dalam pelajaran Al-Qur’an selalu merasa dipersalahkan. Dianggap kafir, calon penghuni neraka, dilaknat Allah, dan lain-lain. Tak berdaya ia ditunding seperti itu oleh firman Allah dalam Al-Qur’an.

Ia diperlakukan seperti itu bukan oleh orang lain tapi oleh Al-Qur’an yang dipegangnya itu. Hati jadi takut dan ingin menghindari semua azab Allah SWT itu. Disamping ia sadar bahwa hidup yang dijalaninya ini mengemban tanggung jawab yang teramat besar.

Didapatinya bahwa manusia maupun jin diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Diresapi juga bahwa Allah menciptakan sesuatu pasti dengan sebuah tujuan. “Eceng gondok yang dianggap hama saja ternyata bisa dijadikan obat.” Begitu pikirnya. Bulatlah tekad beliau untuk segera masuk Islam.

Tahun 1977, dihadapan Yazid, seorang sahabatnya yang keturunan Arab, Surya berikrar bahwa Tiada Tuhan selain Allah bahwa nabi Muhammad utusanNya. Diulangi lagu pada tahun 1978 pada upacara prosesi pengIslaman khusus untuknya.

Sulitkah ia masuk Islam? Tidak, Surya terus menerus bersyukur karena proses pengIslaman pada dirinya cukup mudah dan mulus. Ia juga merasa kemudahan ini tak lain karena anugerah dari Allah, Yang Maha Penyayang juga. Maka dimanfaatkannya berkah tak ternilai dengan semakin sering ia mempelajari ilmu-ilmu Allah.

Semasa kuliah di UPN Yogyakarta juga tak disia-siakannya untuk terus mengaji. Tak heran jabatan khatib dadakan diembannya kalau khatibnya berhalangan hadir di masjid kampusnya. Sampai saat ini Surya Madya tak putus dalam mempelajari Islam sambil juga melakukan pembinaan rutin kepada muallaf lainnya. [Diedit dari AMMA-alhikmah.com])

 

Ir H Surya Madya : ‘Perlu Rumah Singgah Mualaf’

Berbagai persoalan dihadapi para mualaf, begitu mereka ‘hijrah’ dan menyatakan diri memeluk Islam. Yang paling sering dihadapi, adalah persoalan ekonomi dan keluarga. Banyak dari mereka yang “dibuang” oleh keluarganya, dan dipecat dari pekerjaannya. Di sinilah, perlunya dukungan dan perhatian umat Islam kepada para mualaf, sehingga mereka bisa dengan tenang menjalankan ajaran Islam yang diyakininya sebagai jalan hidup yang paling benar dunia dan akhirat.

Amal Muslim Muhajirin dan Anshar (AMMA), sebuah lembaga nirlaba Muslim, mencoba melakukan sesuatu untuk membantu para mulaf. ”Dari pengalaman kami sekian tahun menangani para mualaf, kami merasakan pentingnya Rumah Singgah Mualaf, sehingga dapat membina mereka dengan baik,” ungkap Ketua Umum AMMA, Ir H Surya Madya kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Selasa (23/8).

Berikut ini wawancara dengan pria yang sehari-hari bekerja sebagai staf sekretaris di Pupuk Kaltim:

 

Bisa diceritakan latar belakang pendirian lembaga AMMA

Tahun 2000 saya melihat belum ada pembinaan yang menyeluruh terhadap mualaf. Kemudian saya mengajak teman-teman di Pupuk Kaltim untuk membuat sebuah yayasan yang bergerak di bidang pembinaan mualaf. Fokus kita di situ.

Kenapa disebut AMMA, saya mengambil Juz Amma. Juz Amma itu biasanya dibaca oleh para pemula yang belajar Alquran. Kita membahasakan yayasan yang ingin kita bangun ini adalah yayasan pemula. Cuma untuk sebuah legalitas di akta notaris kita memberi singkatan Amal Muslim Muhajirin dan Anshar (AMMA). Itu semangatnya atau filosofinya saya membahasakan bahwa mualaf itu tidak bisa hanya membina mualafnya, tapi kita harus bisa membina teman-temannya. Jadi, dalam bahasa AMMA, Muhajirin zaman sekarang ini adalah orang yang pindah agama artinya hijrah dan Anshar yang membantunya. Karena itu, setiap mualaf harus punya teman-teman yang siap membantunya.

AMMA berdiri April 2000, mulai dari seorang mualaf. Namanya Mbak Evi, dia tertarik Islam. Dari situ kita mulai pengajian dengan ditemani tiga orang. Di situ saya terangkan soal Islam, Evi waktu itu belum masuk Islam, saya terangkan tentang akidah sampai akhirnya dia memahami ibadah secara Islam dan berperilaku sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Evie akhirnya bersyahadat.

Kini, setiap Ahad kami mengadakan pengajian dan pembinaan bagi mualaf di Musala An-Nur di kompleks perumahan Pukuk Kaltim. Agendanya, dari pukul 14.00 sampai 16.00 WIB belajar membaca Alquran. Pukul 16.00 sampai 18.00 kita mengkaji akidah, akhlak, dan sejarah. Jumlah jamaahnya berfluktuasi antara 20 hingga 30 orang.

 

Siapa saja penyampai materinya?

Saya dan teman-teman yang sudah lebih dulu masuk Islam, seperti dr Bambang Sukamto, Bapak Nababan, dan Ibu Irena Handono. Dari kalangan mubaligh, kita pernah mengundang Bapak Ihsan Tandjung. Pada hari-hari tertentu, jumlah peserta pengajian bisa lebih banyak. Misalnya saja, bila ada pertemuan gabungan mualaf se-Jabotabek. Ramai sekali jamaahnya.

 

Apa problem utama yang paling banyak dihadapi saudara kita para mualaf?

Biasanya kalau mereka masuk Islam karena belajar ilmunya, pengetahuan dasar Islamnya masih sedikit. Problem utamanya dia harus tambah ilmu. Problem tambahan, bila dia berpindah agama dan ditentang keluarganya. Atau kalau dia sudah berkeluarga, suami atau istrinya tidak setuju.

Banyak mualaf yang terusir dari rumahnya setelah keluarganya tahu dia menjadi Muslim. Ini yang paling sering terjadi. Biasanya, pada malam pertama bisa ditampung di tempat teman, sambil kita mencoba mencari jalan keluar, misalnya dengan mencarikan dia pekerjaan. Dengan bekerja, dia bisa mencari tempat kos.

Masalahnya menjadi sedikit kompleks karena kita tidak didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Donatur kita hanya beberapa orang saja. Kalau kita tidak mampu, maka jalan terakhirnya diajak kembali ke rumah orang tuanya. Pernah saya datang ke orang tua teman mualaf mengantarkan dia, dan saya turut diusir, setelah sebelumnya dimaki-maki. Padahal maksud saya saat itu ingin menunjukkan pada dia, walaupun sudah beda iman, tapi hubungan harus tetap baik. Anak tetap harus berbakti pada orang tua.

 

Bagaimana model pembinaan mualaf yang ideal

Membina muallaf itu bukan hanya mengadakan pengajian. Tapi bagaimana kita bisa kalau ada yang kesulitan mendapatkan tempat tinggal minimal bisa mencarikan tempat tinggal yang dia bisa dibina di situ. Saat ini kita masih mengumpulkan kepedulian Anshar untuk patungan mempunyai rumah singgah bagi para mualaf. Kita mengimpikannya, karena saat ini belum punya.

Berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan rumah singgah mualaf tersebut?

Satu rumah di wilayah pinggiran Jakarta sewa pertahunnya Rp 12 juta dengan beberapa kamar. Kita mengharapkan di rumah itu ada seorang pembina yang bisa secara terus menerus membimbing keimanan para mualaf. Rumah singgah ini terutama bagi para mualaf yang diusir dari rumahnya. Lalu, ada biaya operasional seperti makan bagi para mulaf serta honor pembina yang satu bulannya kira-kira mencapai Rp 500 ribu. Angkanya sekitar itu, tinggal dikalikan berapa jumlah mualafnya.

Selama ini, bagaimana sesungguhnya perhatian umat terhadap para mualaf?

Yang saya amati, orang Islam itu terharu ketika ada yang masuk Islam. Jadi, kalau orang non-Muslim di masjid ada yang mengucapkan syahadat, orang-orang Islam itu sampai meneteskan air mata. Sayangnya, hanya sebatas itu. Mereka tidak memahami problematika mualaf. Kita mencoba melihat mualaf dari sisi yang berbeda. Mereka saudara baru yang butuh bimbingan dan perhatian.

Dari pengamatan Anda selama ini, apa faktor teman-teman muallaf pindah ke Islam?

Yang menjadi masalah, bila dia pindah agama hanya karena hendak menikahi pasangannya yang Muslim, dan setelah itu tidak mau dibina. Ada juga yang dia belajar, nonton televisi, dengar pengajian, setelah itu dia tertarik dan masuk Islam. Banyak juga yang masuk Islam karena baca buku, dan karena pergaulan. Ada juga yang melalui mimpi, mendengar suara adzan atau bertemu orang yang menggunakan baju putih seperti jubah yang menasetai supaya masuk Islam. Ada yang bermimpi dia terhempas ketika dalam kegoncangan tiba-tiba dia terdampar di masjid. Itu semua hanya sebab dan membutuhkan ilmu.

 

Terhadap mualaf, di mana AMMA memosisikan diri?

AMMA bergerak di bidang ilmu-ilmu dasar. Saya ibaratkan sebagai pintu gerbang menuju Islam. Kita seperti guide awal. Saya melihat dan ini saya coba tularkan kepada lembaga pembinaan mualaf yang diketuai Pak Bambang Sukamto (Yayasan Al Manthiq-red) kalau bisa kita punya materi dasar yang seragam. Jadi, kalau ada mualaf yang masuk Islam di mana pun juga, awal-awalnya mereka mendapatkan materi dasar yang seragam dan ini sedang digodok oleh tenaga pembina mualaf untuk menjadi sebuah silabus dan nantinya akan diterapkan pada lembaga-lembaga pembina mualaf. (RioL)

 

121. Anna Marcelina : “Mama Keluar dari Islam Aku Malah Masuk Islam”

 

Sebuah Pengakuan ex. Aktivis Militan Gereja

Mimpi ternyata bukan sekedar kembang tidur. Melalui mimpi, Anna Marcelina, mantan aktivis gereja dapat memilih jalan hidupnya yang hakiki. Ia beralih ke Islam meski menghadapi ancaman yang tak ringan.

Di sebuah aula, tempat pembinaan muallaf, Anna Marcelina akhirnya bersedia diwawancarai Amanah, padahal sebelumnya ia sempat mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya dari ancaman orang yang tidak senang dengan perpindahan agamanya ke Islam. Maklum, Anna baru setahun menjadi seorang muallaf. Terlebih, ia dulunya sempat menjadi seorang aktivis gereja yang tergolong fanatik dan militan. Ia sudah mengkristenkan beberapa Muslim. Kini ia merasa berdosa, dan ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan jalan bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih. Berikut penuturan Anna di kediamannya di bilangan Kampung Bugis, Jakarta Utara

Saya anak kelima dari tujuh bersaudara, iahir daiam keluarga Kristen (Protestan) yang tergolong fanatik. Semula mama saya seorang Muslimah, tapi kemudian masuk Kristen karena desakan ekonomi. Mama lebih mengorbankan akidahnya ketimbang harus berpisah dengan ayah.

Yang saya ketahui tentang keluarga mama hingga saat ini, mereka masih mempertahankan agama Islam, hanya mama saja yang tergoda pindah agama menjadi Kristiani, mengikuti ayah.

Setelah ayah meninggal dunia, mama saya kurang menjalani agamanya yang baru sebagai Kristiani. Suatu ketika, saya menegur, kenapa mama tak pernah berdoa dan ikut kebaktian. Tapi teguran saya itu tak digubris oleh mama.

Seiring perjalanan waktu, saya menikah dengan seorang laki-laki Muslim. Sebagai istri, saya bertekad untuk tetap mempertahankan iman Kristiani saya. Dan suami saya pun tetap pada akidah Islamnya. Meski berbeda akidah, saya tetap menghormati suami, begitu pula suami saya tidak memaksa saya pindah agama. Saya tahu, daiam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Bagiku agamaku bagimu agamamu. Prinsip itu diikuuti oleh suami saya.

Memang dulu, saya menikah dengan cara Islam. Tapi saya tidak menjadikan itu sebagai jalan untuk menjadi seorang Musilmah. Selama mengarungi rumah tangga yang baru seumur jagung, suami saya banyak membimbing saya dengan kesabaran dan kelembutan. Padahal, jujur saja, saya sempat ‘berpikir untuk mengkristen dia, termasuk mengkristenkan saudara ibu saya. Tapi pikiran itu selaiu gagal untuk diwujudkan.

Sebelum menikah, saya adalah seorang aktivis gereja di Bandung. Boleh dibiiang, saya bukan sekadar penganut Kristen biasa. Saya tergolong seorang yang militan kata teman-teman di gereja saya punya kharisma. Entahlah. Yang jelas, saya sering mengajak dan menyampaikan kebenaran Kristen. Bahkan ketika saya masih kuliah, saya sempat mendirikan persekutuan doa dan kebaktian di kampus. Padahai sebelumnya tak pernah ada kegiatan kerohanian Kristen.

Lebih dari itu, saya bahkan pernah mengkristenkan dua orang Muslim, yang kebetulan dari golongan yang kurang educated. Tanpa melalui diskusi atau debat, cukup saya memberi pengertian tentang ajaran kaslh terhadap sesama. Dengan kata lain, saya menggunakan cara-cara yang halus dan lebih menggunakan pendekatan yang simpatik. Berbeda dengan lapisan masyarakat yang educated, mereka harus dihadapi melalui perdebatan lebih dulu. Alhasil saya dapat merangkul beberapa Muslim lainnya.

Dalam dakwah Kristen dikenal istilah “Jadilah penjala ikan.” Ikan itu adalah manusia, dan kitalah yang menjalanya. Ketika, sudah menjadikan diri sebagai penjaia ikan, maka harus ada follow-upnya. Sebagai penjala ikan, saya belum sampai menggunakan uang atau materi untuk mengajak mereka yang Muslim. Saya hanya menggunakan pendekatan yang lebih persuasif.

Lagipula, saya bukanlah seorang missionaris. Saya hanya jadi pengikut saya. Artinya, saya memang beium menjadi seorang misionaris dalam pengertian sesungguhnya, yang menyampaikan ajaran Kasih Kristus ke penjuru dunia, mulai dari kota hingga daerah terpencil. Sejauh itu, saya hanya menyampaikan firman Allah, dan mengajarkan nyanyian puji-pujian saja.

 

Mimpi Mendengar La Ilaha Illallah

Asli, sejak saya Iahir, saya tidak pernah mengenal apalagi mencari tahu tentang Islam. Meskipun mama saya awalnya Muslimah, saya tak ingin menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Itu, mungkin, karena saya seorang Kristen fanatik.

Lalu, apa yang membuat saya ingin memeluk Islam? Kedengarannya sepele, Suatu malam saya bermimpi dikelilingi oleh ibu-ibu berbusana Muslim – mengenakan jilbab putih bersih dan menggenggam tasbih seraya melafazkan La Ilaha Illallah. Gemuruh suara itu membuat hati saya bergetar dan membuat saya terisak-isak. Saat terbangun, saya pun bertanya-tanya tentang takwil mimpi saya semalam, terutama kalimat La Ilaha Illallah. Setelah saya mencari tahu, ternyata saya baru memahami, bahwa kalimat tauhid itu bermakna Tiada Tuhan Selain Allah.

Entah kenapa. saya yang dikenal sebagai seorang Kristiani yang fanatik, merasa yakin bahwa mimpi itu bukan sembarang mimpi atau bukan sekadar kembang tidur. Anehnya, saya langsung percaya. Dalam hati kecil saya, ini seperti petunjuk dan jalan terang bagi saya.

Kalau ditanya, kenapa saya langsung percaya? Karena memang, saya selalu meyakini setiap mimpi sebagai firasat dan petunjuk dari Yang Kuasa. Boleh dibiiang, saya punya kelebihan untuk menjadikan mimpi saya sebagai petunjuk. Sebelumnya, pernah saya bermimpi adik saya sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Anehnya, mimpi saya itu selalu menjadi kenyataan. Waktunya pun berlangsung cepat Maiamnya bermimpi, esoknya betul-betul terjadi. Bahkan jauh sebeiumya, saya pernah bermimpi saudara saya meninggal, esok harinya benar-benar terjadi. Umumnya, seseorang yang bermimpi sekitar pukul 2.00 pagi hingga menjelang Subuh, biasanya akan menjadi kenyataan. Karena pada saat itu, bukan sekedar mimpi tapi sebuah firasat yang sangat kuat.

Setelah mimpi yang pertama, kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya mendengar adzan Subuh berkumandang. Saya merasakan keanehan. Setiap kail saya mendengar adzan Subuh, pasti saya terbangun dan tidur saya. Padahal, sebelumnya saya selalu bangun agak siang, saat matahari mulai meninggi.

Untuk-kedua kalinya, saya lagi-lagi bermimpi, seseorang berlutut (bersujud) dengan mengenakan sorban putih. Kemudian orang itu berdoa: “Semoga kamu meraih kebahagiaan di dunia yang sekarang dan kebahagiaan di akhirat kelak.”

Setelah mimpi berturut-turut, saya tak kuat menyimpannya sendiri. Saya menceritakannya kepada suami saya. Suami saya agak surprise dan mendengarnya dengan penuh perhatian. Akhirnya, tahun 2004, saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya diislamkan dr sebuah pulau terpencil di luar Jawa. Sejak saya menjadi Muslimah, saya berganti nama menjadi Siti Masitoh.

Saya teringat, ketika pertama kali shalat, hati saya terasa bergetar. Apalagi jika ayat-ayat Tuhan diperdengarkan, hati saya pun semakin bertambah bergetar. Masa transisi dari Kristen menuju Islam, saya rasakan ujian yang sangat berat Di samping berpisah dengan keluarga, silaturahim terputus, saya juga mendapat kesulitan ekonomi. Hingga suatu malam, saya memohon dan bermunajat kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan menguatkan kesabaran saya. Alhasil, doa saya langsung dijawab Allah, betul-betul instan. Sebagai seorang guru, saya belum menerima gaji bulan. Padahal, uang saya ketika itu tinggal Rp. 15,000, sementara tanggal 30 masih jauh. Mengandalkan suami, tentu tidak mungkin, mengingat suami saya berprofesi sebagai wiraswasta kecil-kecilan.

Begitu saya shalat Tahajud dan bermunajat kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tanpa diduga saya menerima telepon dari teman segereja saya dulu yang sedang berada di Arab Saudi untuk mentransfer uang sebesar Rp 1 juta. Saat itu, saya bertambah yakin, Allah sungguh Maha Hidup. Dia tahu kegelisahan dan penderitaan hambaNya. Padahai kawan saya itu belum tahu, bahwa saya sudah menjadi seorang Muslimah.

 

Pasrah pada Allah

Setahun berjalan menjadi Muslimah, saya sering mengenang dosa-dosa yang telah saya perbuat di masa lalu. Dalam kesendirian, di tengah malam yang sunyi, jiwa saya merintih, air mata ini tak mampu lagi saya bendung. Sedih, kalau saya ingat bahwa saya dulu bukan orang baik, apalagi sempat mengkristen beberapa orang Islam. Ingin sekali, saya menebus dosa-dosa saya, meski saya harus memulai hidup ini dari nol lagi. Apa pun yang terjadi, saya serahkan seluruh hidup saya kepada Allah. Saya hanya ingin mendapat ampunan dan ridhaNya.

Terakhir, saya ingat, saya sempat pamit pada ibu saya. Terus terang, hanya ibu yang tahu dengan keislaman saya. Sementara saudara-saudara saya yang lain belum mengetahui. Sejak saya menikah, hubungan saya dengan saudara-saudara yang lain terputus. Saya memang berusaha menyembunyikan keislaman saya. Saya khawatir dengan keselamatan diri saya dan keluarga saya. Karena saya tahu, keluarga dari pihak kakak-kakak saya adalah orang-orang keras. Mereka tidak segan-segan mendecerai saya, kalau tahu saya memeluk Islam. Tapi, bagi saya, kebenaran itu harus diungkapkan, jangan disembunyikan. Hanya Allah Ian, sebaik-baik Pelindung.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah masuk Islam. Selain rasa ketenangan, saya juga menilai Islam adalah agama yang mengutamakan disiplin. Setiap saya bangun malam untuk shaiat Tahajud, saya merasa dekat dengan Tuhan. Terlebih, saat Subuh, saya selalu berjamaah dengan suami. Kemantapan iman saya semakin kokoh, ketika saya mengikuti workshop ESQ pimpinan Ary Ginanjar. Dengan pelatihan itu, iman saya seperti di-ces kembali. (amanahonline)

122. Drs I Nyoman Musiasa MAMC Kutanggalkan Paham Universalisasi

 

Semula, semua agama dianggapnya sama. Peribadatan Hindu, Islam, Budha, Kristen, pernah ia jalani. Meski terlahir sebagai Hindu, Nyoman lebih menempatkan dirinya sebagai seorang universalis, ketimbang harus memilih meyakini salah satu agama. Keajaiban terjadi, ketika ia bermimpi shalat selama tiga malam berturut-turut Sejak itu, Islam menjawab segala kegelisahan batinnya selama ini. Islam pun menjadi pilihan.

Ditemui di kampus tempatnya mengajar, di bilangan Sunter, Jakarta Utara, I Nyoman Musiasa banyak mengungkap perjalanan rohaninya kepada Amanah tentang proses pencariannya menemui kebenaran Islam dalam kurun waktu yang cukup panjang, Nyoman – begitu sapaan akrabnya – lahir dalam keluarga beragama Hindu. Sifat moderatayahnya, tak menghalangi Nyoman untukmengenal Islam sedari kecil. Ayahnya pun iak ada khawatir, ketika anaknya mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Baginya, polajaran agama Islam adalah pengetahuan umum. siapa pun boleh mempelajarinya. Di samping saat itu belum ada sekolah yang menyediakan guru khusus untuk pelajaran agama Hindu.

Nah, bagaimana perjalanan Nyoman hingga memutuskan Islam sebagai pilihan hidupnya, berikut penuturan lelaki berperawakan tinggi, kelahiran Singaraja, 27 November 1953, kepada Amanah :

Saya lahir sebagai orang Bali. Ayah dan ibu saya adalah penganut Hindu yang taat. Pada usia 10 tahun (tahun 1963), kami sekeluarga sempat tinggal di wilayah pemukiman transmigran, Bengkulu. Saat itu wilayahnya masih hutan. Meski hidup dalam kondisi prihatin, ayah ingin agar saya tetap melanjutkan sekolah. Bagi ayah, sekolah itu nomor satu. Itulah karenanya, ayah menitipkan saya pada seorang keluarga Muslim di Bengkulu, Pak Sidik namanya. Pak Sidik adalah seorang Mantri (kepala Asrama di Bengkulu). Ketika itu saya membantu pekerjaan Pak Sidik dengan imbalan saya disekolahkan.

Sejak tinggal di keluarga Muslim itulah, saya mulai mengenal Islam, bahkan suka ikut-ukutan shalat. Bila Pak Sidik shalat Jumat, saya pun ikutan Jumatan. Jadi kalau ditanya, sejak kapan saya mengenal Islam? Jawabannya, ya sejak kecil, sejak umur 10 tahun. Yang pasti, peristiwa itu cukup membekas dalam benak saya’ hingga saat ini.

Selang satu setengah tahun kemudian, saya sempat pula tinggal di sebuah keluarga beragama Budha (namanya Wi Keng Han). Di tempat iniiah saya bekerja sebagai penjaga toko, miliknya. Namanya bocah, saya juga sukapergi ke vihara untuk ikut-ikutan .sembahyang bersama majikan. Belum lagi ketika saya duduk dibangku SMA, saya pernah ikut-ikutan teman ke gereja untuk ikut kebaktian. Jadi, sejak remaja, saya sudah mengenal, bahkan menjalani peribadatan empat agama, yaitu Hindu, Islam, Budha, dan Kristen.

Setelah ayah mendapat pekerjaan sebagai guru di Palembang, saya pun diasuh kembali oleh orang tua saya di sana. Karena sejak SD hingga SMP saya selalu ikut pelajaran agama Islam di sekolah, hingga saya tak asing lagi dengan lingkungan saya tinggal, di mana mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan, di sekolah, saya sering dipuji oleh guru agama Islam, dikarenakan saya selalu bisa menjawab pertanyaan seputar sejarah Islam. Kebetulan saya memang senang membaca dan kuat dalam hafalan. Di Palembang, ayah malah tidak melarang saya untuk ikutan ngaji bersama teman sebaya di kampung. Ayah memang tak terlalu cemas, bila anaknya berpindah agama. Bisa dibayangkan, dari pengalaman saya mengikuti peribadatan beberapa agama yang ada, telah membuat saya bingung saat memasuki usia dewasa, terlebih ketika harus memilih salah satu agama yang diyakini.

 

Penganut Universalis

Sampai suatu ketika, saya betul-betul bingung untuk memilih agama yang pernah saya jalani sejak kecil. Yang saya rasakan adalah kegelisahan yang sangat untuk terus mencari Tuhan. Tentu saja Tuhan yang sejati dan hakiki. Kalau ditanya Tuhan yang mana, saya pasti bingung menjawabnya. Karena semua Tuhan pernah saya sembah.

Dari kebingungan itu, saya sempat memahami agama bukan sebagai sesuatu yang formalistis. Dengan kata lain, saya tak mesti memilih. Itulah sebabnya, saya cukup menjalani hidup ini sebagai universalis. Yakni tetap meyakini adanya Tuhan, namun tak ada keterikatan harus menentukan Tuhan yang mana.

Saat itu saya merasa semua agama sama. Dalam hati, saya bicara sendiri: selama agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, saya akan ikuti dan jalani sebatas pengetahuan saja. Persoalan sebetulnya, saya sulit untuk memilih Tuhan-tuhan yang ada dalam otak saya.

Dalam proses pencarian itu, jujur, saya selalu iri dengan umat beragama yang khusyuk dalam ibadahnya. Saya bukan hanya merasa iri saat melihat umat Hindu bersembahyang dengan khusyuknya, terhadap umat yang lain pun, seperti umat Budha, Kristen, bahkan Islam sama halnya. Pokoknya kalau melihat orang khusyuk ibadahnya, saya betul-betul iri, dan ingin meniru mereka.

Saat saya ingin berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta, saya bingung, cara mana yang harus saya pakai. Masing-masing punya cara yang berbeda.

Sejak itulah yang membuat saya ingin mengkaji lebih jauh tentang islam, terutama tata cara shalat. Oi saat saya bingung mencari jalan, sebuah keanehan datang, selama tiga hari berturut-turut saya bermimpi sedang shalat. Kenapa harus shalat? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya.

Sejak mimpi shalat itulah, saya membuka buku-buku tentang shalat. Yang pertama saya buka adalah Al Quran terjemahan dan bahasa latinnya, yang saya pinjam dari istri saya yang Muslimah. Meski saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat – ketika nikah pada 1976 (masih usia 23 tahun) – sebetulnya, baru empat tahun yang lalu (2000) saya mendalami ajaran Islam.

Begitu saya baca terjemahan Al Quran, saya masih belum menangkap pengertian ayat yang dimaksud. Akhirnya saya beli Tafsir Ibnu Katsir sebanyak empat jilid. Merasa belum cukup, saya beli Kitab Bukhari-Muslim bekas (ioakan) di Kwitang, hingga tiga set. Dalam tiga hari, buku-buku itu saya lahap1 habis. Dan, setelah saya pahami maksud beberapa ayat Al Quran dan hadis, saya menasakan keistimewaan dan keutamaan ajaran Islam. Di antara keistimewaan itu adalah: Islam memiliki nilai-nilai universal. Sederhana. Tak ada sistem kependetaan. Intinya, setiap individu bias berinteraksi dengan dan bertanggungjawab langsung pada Tuhan, tanpa perantara. Dalam shalat misalnya, seorang imam bisa diganti bila berhalangan.

Selain universal, Islam memiliki kelengkapan dalam hal petunjuk teknisnya. Dalam artian, Islam mengatur aspek hablun minallah dan hablun minannas sesuai tuntunan Al Quran dan hadis. Dari aspek ibadah umpamanya, Islam begitu detil memberi juknis dari hal-hal terkecil, mulai dari cara membersihkan kemaluan setelah beristinja, berwudhu. hingga larangan laki-laki menyetubuhi istrinya yang sedang haid. Tegasnya, Islam sangat menganjurkan umatnya menjaga kebersihan.

Kini, saya mencoba untuk taat. Karena saya pikir, syahadat saja tidak cukup, harus ada konsekuesi lainnya. Bermula dari pembiasaan saya membaca, maka hasil dari membaca, saya dapat mencerna Islam relatif mudah sebagai petunjuk. Itulah sebabnya, saya menilai Al Quran berbahasa Arab tanpa terjemahan belumlah menjadi petunjuk. Bagi saya, tidaklah bermanfaat, membaca Al Quran tanpa tahu maknanya.

 

Gugat Islam Warisan

Meskipun sebagai “orang baru”, semangat (ghirah) ayah empat anak ini – Margaretha Arithama, Agustian Rama Wijaya, Alexander Reynaldo Octavianus, Ananta Victorious Qctabrian – ini, dalam mendalami Islam memang patut ditiru. Reran istrinya, Agustina Laviana, jebolan S2 University of Florida (College of Journalism and Communication, major Public Relations), diakui cukup besar. Terutama mendiskusikan tentang Islam. Nyoman yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta, Jakarta, kini sedang semangat-semangatnya mendalami Islam, dengan membaca beberapa literatur Islam. Berikut penuturan Nyoman:

Saya suka heran melihat cara beragama umat “Islam turunan” alias Islam “warisan” dalam menjalankan syariatnya. Dalam hal shalat, misalnya, saya suka ngetes “ustadz konservatif” setelah mengimami shalat berjamaah. Kata saya: “Pak, tadi anda shalat baca surat Al Fatihah juga bacaan shalat lainnya. Bapak tahu artinya?” Mendengar pertanyaan saya, ustadz itu kaget dan terbengong-bengong. Lalu apa jawabnya? “Saya sih cuma ngapalin saja, kurang ngerti maknanya,” kata ustadz itu.

Terus terang, saya merasa aneh dengan orang Islam sendiri ketika ditanya tentang agamanya, sering lebih banyak tidak tahunya. Lucunya lagi, mereka sangat emosional kalau dibilang bukan Islam. Jadi bagaimana mungkin, Al Quran bisa menjadi petunjuk, kalau tidak tahu dan memahami maknanya. Padahal, Al Quran adalah jelas menjadi petunjuk, bila kita mengerti dan memahami maknanya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, sehingga kita tahu mana yang halal dan mana yang dilarang, Jadi, dalam Islam, syahadat saja tidak cukup.

Tak sedikit “Islam turunan” yang saya temui, tak mempersoalkan Al Quran yang dibaca tanpa tahu maknanya. Saya bingung menghadapi orang Islam semacam ini. Terus terang, saya kasihan dengan “Islam warisan” yang tahun demi tahun tak ada perkembangan pola berpikirnya dalam. memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.

Barangkali carapenyampaian saya salah, atau mungkin terkesan menyudutkan. Tapi bagaimana lagi. Satu hal yang membuat saya kesal, saya selalu dibalikin oleh mereka (Islam warisan), Katanya: Ah ..dasar muallaf, orang baru juga, sok tahu.” Sebagai muallaf, saya prihatin, bila banyak umat “Islam turunan” tidak mendalami bahkan tidak menjalankan ajaran agamanya sendiri alias Islam KTR Lihat saja, meskipun usianya sudah berkepala empat, tapi cara shalatnya seperti bocah usia 10 tahun. Dari tahun ke tahun, tidak ada peningkatan. Saya memang muallaf, tapi saya berusaha untuk taat dan seialu ingin Jadi yang terbaik.

Jadi, ketertarikan saya terhadap Islam sesungguhnya terletak pada konsep ideal Islam itu sendiri, bukan faktor figur atau individualnya. Karena, nyatanya, tak sedikit orang yang ngaku-ngaku Islam, tapi shalat tidak, berzakat tidak, puasa juga tidak. Dulu, saya memang seorang universalis, tapi saya juga tidak sependapat dengan istilah sekarang: Islam Pluralis, Islam liberal dan sejenisnya. Dan saya pikir, kita harus mengislamkan orang Islam kembali. Setuju? (amanahonline)

123. Stefanus R Sumangkir : Surat Imamat 11 ayat 7 mengantarku pada Hidayah Islam

 

Sudah sekitar tiga tahun terakhir, Stefanus R Sumangkir, bergerak membangun kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru masuk Islam), di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri dengan berupaya semampunya. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. ”Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam,” ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karanggedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk misi pengkristenan. Di desa yang mayoritas penduduknya eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen. Di Karanggedang ini, Sumangkir mengaku pertama kali mendapat hidayah dari Tuhan. ”Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristenkan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, di mana Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan,” ujarnya mengenang.

Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun para pendeta Kristen, saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu. Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja yang langsung menskorsnya. Nama Stepanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak. Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadhan berjudul Jamaludin Al Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Mualaf Kallama.

Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di Jalan Murbei No 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustadz untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil. Perlakuan seperti ini, misalnya, pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap Jumat pamit ke masjid untuk shalat Jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.

Karena kebutuhan ekonomi, akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. ”Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan,” tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, juga mualaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama.

Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor, dan peralatan sablon yang harganya cukup mahal. Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama. (RioL)

124. Muhammad Reynold Hamdani, Gagal Meneruskan Cita-cita Oma Jadi Pendeta

 

Hidayah Islam ternyata tak kenal usia dan waktu. Jika Allah menghendaki, tak ada yang tak mungkin. Segalanya serba mungkin. Kendati masih belia, Reynold telah menemukan kebenaran Islam yang selama ini ia cari. Padahal, omanya sangat mengharapkan cucu kesayangannya itu mengikuti jejaknya menjadi pendeta. Tapi, Allah berkehendak lain. Usia muda memang tak menghalangi seseorang untuk mampu bersikap kritis. Adalah Reynold Hamdani, lelaki kelahiran 11 Mei 1981, sejak duduk di bangku SMR sudah rrtulai bertanya tentang Tuhan, Ia punya segudang pertanyaan tentang Tuhan sebenar-benar Tuhan. Tuhan yang dicari adalah Tuhan yang bisa diterima secara logika, bukan konsep Tuhan yang membuatnya bingung dan semakin gelisah.

Untuk menceritakan perjalanan rohaninya itu, Reynold bersedia untuk datang langsung ke redaksi Amanah untuk diwawancarai. Katanya, kampusnya tak jauh dari kantor Amanah. “Usai wawancara, saya bisa langsung meluncur ke kampus untuk kuliah,” ujar Reynold saat membuka percakapan, Berikut penuturan Reynold kepada Amanah usai menunaikan shalat Ashar, beberapa waktu lalu;

Awal ketertarikan saya pada agama Islam, sebetulnya karena peran mama (Yetty Pangau) yang lebih dahulu memeluk Islam. Sebagai keturunan Tionghoa, keluarga saya adalah penganut Kristen Pantekosta yang taat, kecuali papa. Oma dan opa saya, misalnya, keduanya adalah seorang pendeta.

Saya sendiri, anak ketiga dari empat bersaudara. Dibanding saudara yang lain, boleh dibilang, saya anak yang paling dekat dengan oma (Theresia Pangau). Mengingat, sejak kecil, saya sering tinggal di rumah oma ketimbang mama-papa. Dekatnya rumah oma dengan gereja, membuat saya banyak menghabiskan waktu di lingkungan gereja. Dalam keseharian, Oma adalah orang yang paling berperan dalam mendidik iman Kristiani saya. Oma pula, yang melatih saya untuk berpikir kritis teniang segala hal. Di sekolah minggu misalnya, saya sudah bias memimpin, dan bercerita kepada anak-anak tentang Al Kitab.

Keinginan oma, kelak saya menjadipendeta, makanya oma terus mendorong saya agar masuk sekolah khusus pendeta di Surabaya, setelah lulus SD nanti. Didikan oma agar saya mampu berpikir kritis, akhirnya malah berbalik: mengkritisi dogma Kristen yang selama ini saya terima dari oma.

Bagaimana pun, oma adalah orang yang sangat saya sayangi. Begitu juga oma sangat menyayangi saya. Dari kedekatan emosional saya dengan oma, telah membuat saya shock, ketika mendengar kabar oma meninggal dunia (tahun 1992). Saat menyaksikan tubuh oma rebah tanpa nyawa, saya sempat tidak bisa berjaian karena shock yang saya rasakan saat itu. Dengan meningga/nya oma, saya merasa kehilangan seorang yang saya cintai, dan orang yang mencintai saya.

Namun, di balik meninggalnya oma, ternyata Tuhan punya rencana dan kehendak lain. Semu/a oma yang mengharapkan saya melanjutkan jej’aknya menjadi pendeta, akhirnya takpemah terwujud. Begitu oma meninggal, saya justru mempelajari Islam, bahkan memeluk Islam. Saya berpikir, kalau saja oma masih hidup, boleh jadi saya akan memantapkan keinginan oma menjadi pendeta. Juga boleh jadi oma sangat membenci saya, karena telah menanggalkan iman Kristiani saya.

Pada tahun yang sama, selang beberapa hari wafatnya oma, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (BPPS), tempat saya melakukan kebaktian dan sekolah minggu di bilangan Tanjung Priok pun digusur. Sejak itu, praktis saya terpaksa tidak ke gereja lagi.

 

Benci Mama

Setelah wafatnya oma, Reynold tinggal bersama mama-papanya. Ketimbang papanya, ia lebih dekat dengan mamanya. Itulah sebabnya, Reynold banyak meiuangkan waktu bersama mamanya. Semula Reynold betul-betul tidak tahu, bahwa mamanya ternyata diam-diam telah memeluk Islam. Hebatnya, sang mama pandai menyembunyikan kerahasiannya memeluk Islam kepada keluarga dalam beberapa tahun. Suatu ketika, Reynold memergoki mamanya shalat di rumah tetangga. Begitu kepergok, Reynold mulai mencari tahu, ihwal sang mama tertarik dengan Islam. Berikut penuturan Reynold tentang mamanya:

Begitu saya memergoki mama sedang shalat di rumah tetangga, spontan saya bertanya pada mama. Kenapa mama masuk Islam? Lalu dijawab mama, “Mama mimpi berteriak Allahu Akbar. Mimpi itu bukan hanya datang sekali, tetapi beberapa kali. Mama pikir, mungkin ini sudah panggilan untuk memeluk Islam.” Singkat cerita mama memutuskan menjadi Muslimah.

Mendengar pengakuan mama, saya betul-betul marah dan membenci mama. Bagaimana tidak marah, saya yang selama ini mendapat doktrin gereja tentang konsep ketuhanan Yesus, mama justru bertolak belakang dengan apa yang saya terima selama ini. Sebelum meninggalkan mama, tetangga saya yang Muslim menganjurkan saya untuk mempelajari Islam, katanya: Apa benar Yesus itu Tuhan. Bukankah Yesus itu manusia biasa. Karena itu, terla/u tinggi kalau Yesus dijadikan Tuhan.

Sekalipun saya marah dan pergi meninggalkan mama begitu saja, tapi marahnya saya, tetap menyimpan banyak. pertanyaan. Berbekal sikap kritis yang diajarkan oma, saya mulai mengkritisi ajaran Kristiani. Sesampai di rumah, dalam keadaan gelisah, saya banyak bertanya dalam hati. “Kenapa mama masuk islam?Ada apa dengan Islam?”

 

Ke Toko Buku Islam

Saat saya renungkan soal korssep ketuhanan, secara tak sadar saya melontarkan pertanyaan nakal yang tak seharusnya saya lontarkan kepada diri saya sendiri. Dalam hati kecil, saya berkata: secara logika, saat Yesus disalib, dihina, diludahi, sebetulnya di mana sebenamya letak ketuhanan Yesus? Seharusnya, Tuhan tidak layak diperlakukan seperti itu.

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang saya lontarkan sendiri, diam-diam saya masuk ke toko buku Islam di Sarinah, Jakarta dengan hati dag dig dug. Saat itu, saya can buku yang berhubungan dengan pertanyaan saya tentang konsep Tuhan. Secara kebetulan, saya menemukan buku berjudul “Bibel dalam Timbangan”. Dan tepat, saya menemui jawaban dari pertanyaan saya seiama ini. Begitu saya beli buku tersebut, lantas saya baca isinya sampai habis. Selain itu, saya juga membuka tafsir Al Our’an dan Al Kitab untuk saya pelajari dan bandingkan.

Yang pasti, mama tidak tahu, saya sedang mempelajari Islam diam-diam. Adapun, tujuan saya mempelajari Islam awalnya adalah agar saya bisa menyerang balik mama tentang Islam, agama baru yang mama anut. Tegasnya, saya ingin mengcounter mama. Tapi belum saya mengcounter, iman Kristiani saya justru malah goyah. Terlebih, ketika saya membuka ayat Al Qur’an tentang keesaan Tuhan. Dari situ, entah kenapa, saya seperti diyakinkan, bahwa Tuhan itu Esa. Sedangkan Yesus itu hanyalah seorang perantara atau messenger (utusan) yang menghantarkan manusia menuju Tuhan.

Secara logika, saya juga berpikir, Tuhan itu tidak ada perantara. Yesus hanyalah utusan saja yang mengajak kita mengenal Tuhan. Saya menyadari, ternyata dalam Islam, menjelaskan konsep ketuhanan itu lebih gampang ketimbang Kristiani. Maka, dalam kurun waktu setahun, saya betul-betul mempeiajari Islam, dan mencari hakikat Tuhan yang sejati.

Sebelum masuk Islam, mama mengajak saya ke Yayasan Islam Haji Kariem Oei, sebuah komunitas untuk Tionghoa Muslim, di bilangan Sawah Besar, Jakarta. Setiap minggu, mama memang selalu ke sana. Anehnya saya menurut saja. Di Yayasan Karim Oei itulah, saya berkenalan dengan banyak keiuarga Tionghoa Muslim.

Saya akui, dalam pandangan Tionghoa non-Muslim, Islam adalah agama yang rendah, terbelakang, dan menakutkan. Padahal, sebetulnya, bukan Islamnya yang rendah, tapi umatnya yang merendahkan diri. Di Karim Oei, ada upaya untuk menjembatani antara pribumi dengan keturunan Tionghoa soal terjadinya misinformasi. Di Yayasan inilah, disampaikan syiar di kalangan Cina non-Muslim, tentang ajaran Islam yang indah, sejuk, dan bermartabat.

Kenapa ke Karim Oei? Karena, biasanya kaum Tionghoa akan merasa nyaman bila berada di lingkungan dan budaya yang sama, yakni dengan sesama keturunan Tionghoa. Saya sendiri merasa nyambung dalam berkomunikasi, dan seperti di rumah sendiri.

Ketika dibentuk wadah untuk remaja Islam bernama Hirko (Himpunan Remaja Islam Karim Oei) tahun 1995, saya terlibat di daiamnya. Padahal waktu itu saya belum masuk Islam, tapi lucunya saya malah ikut-ikutan. Akhirnya tahun 1996 saya memutuskan untuk masuk Islam. Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah Hartono, mantan KASAD dengan dibimbing oleh Imam Besar Al Aznar (tepat bulan Ramadhan), saya lebih dulu memberi tahu mama. Kata saya, “Ma, saya mau masuk Islam.” Ah betul nih? tanya mama. “Betul! Sudah setahun saya mempelajari Islam, Ma,” jawab saya.

Tahun pertama saya masuk islam, mulanya baik-baik saja, tapi setelah itu, teman dekat saya mulai menjauh. Lebih menyakitkan lagi, saya didiamkan oleh teman-teman saya satu kelas, termasuk guru saya. Saat itu saya masih cuek saja. Tapi, lama-lama saya mulai merasa tidak betah. Meski begitu, saya tetap meneruskan sekolah, hingga tamat.

Sejak awal mama masuk Islam, tidak ada keluarga papa dan mama pun yang tahu. Apalagi saya. Suatu ketika, mama tampil di salah satu stasiun televisi swasta sebagai narasumber untuk diwawancara tentang keislamannya. Kebetuian saja, tetangga saya ada yang menonoton tayangan itu. Akhimya tersebarlah kabar mama masuk Islam hingga semua orang tahu, tak terkecuali, saudara papa dan saudara mama. Tapi keluarga papa lebih menghormati ketimbang keluarga mama. Sebab, sampai saat ini, saudara mama, betul-betul telah putus hubungan, karena mereka menjaga jarak dengan kami.

Setelah Reynold memeluk Islam, ia memilih nasyid sebagai jalur dakwahnya. Di Tim Nasyid “Lampion”, Reynold, berdakwah melalui pendekatan budaya. Menurut Reynold, jalur budaya sangat efektif untuk berdakwah. “Di Kristen saja, ada paduan suara, ada drama tentang pengorbanan Yesus. Pola ini, terbukti bisa diterima oleh banyak orang, Sebagai Muslim, saya berharap, Islam kian berkembang. Dalam dakwah pun, kita harus memperkenalkan Islam lebih indah, sejuk dan damai. Dengan demikian, Islam tidak dinilai dalam kacamata personal atau pribadi semata. Kerena itu, kita harus merubah pola pikir di kalangan non Muslim, Islam adalah agama rendah, buruk dan terbelakang. Terpenting, tantangan dakwah di kalangan Tionghoa non-Muslim adalah dengan memberi keteladanan dan akhlak yang baik,” tandas Reynold yang kini kuliah di Universitas Islam Jakarta. (amanahonline)

125. Sandrina Malakiano : Islam, Kebenaran Yang Dicari

 

NAMA saya Alessandra Shinta Malakiano. Publik lebih mengenal saya dengan nama Sandrina Malakiano. Saya lahir di Bangkok/Thailand, 24 Nov 1971. Saya sangat bersyukur dibesarkan di tengah keluarga perpaduan dua negara. Ayah saya dari Armenia, Itali, yang beragama Kristen. Sementara ibu dari Indonesia, seorang keturunan Jawa beragama Islam, yang kuat dengan budaya kejawen.

Kombinasi dua budaya yang berbeda itu melahirkan kebebasan memeluk agama apapun bagi anak-anaknya. Yang terpenting buat kami adalah percaya adanya Tuhan. Kebebasan yang orang tua berikan membuat saya tidak tahu mana agama yang benar dan bisa saya jadikan jalan hidup.

Hal itu membuat saya terus mencari dengan cara membandingkan berbagai agama yang ada di negeri ini. Dalam pencarian tersebut saya mencoba mempelajari beberapa agama yang ada di Indonesia.

Bahkan ketika tinggal Bali, saya sempat memeluk agama mayoritas penduduk sana. Saya pun menjalaninya secara serius dan total. Saya tidak bisa melakukan atau meyakini sesuatu setengah hati. Bagaimanapun, sesuatu yang dilakukan dan diyakini setengah hati tidak akan terlaksana dengan baik dan benar. Apalagi itu sebuah keyakinan yang harus diketahui kebenarannya.

Tahun 1998 saya pindah ke Jakarta. Di sanalah saya diberi kesempatan untuk bisa melihat Islam lebih dekat. Bertanya tentang keislaman pun saya jadikan rutinitas sehari-hari.

Sulit dijelaskan dengan kata-kata, semakin hari ketertarikan saya pada Islam pun tumbuh. Keinginan untuk lebih banyak tahu pada Islam semakin menjadi. Kerinduan untuk memeluk Islam pun semakin menggebu. Bersyukur saat saya ungkapkan pada keluarga, saudara, dan teman-teman tentang kerinduan itu, mereka mendukungnya.

Saya pun lebih giat lagi memperdalam Islam, termasuk belajar shalat. Dengan semua modal itu, tanpa ada halang rintang yang berarti dan dengan niat serta ketulusan hati, pada tahun 2000, bertempat di Masjid Al Azhar Jakarta, saya memeluk agama Islam. Semoga ini jalan terbaik yang telah Allah tentukan untuk saya.

Subhanallah, keteduhan, ketenangan, dan kedamaian terasa menyejukkan batin ini. Saya telah menemukan kebenaran yang dicari selama ini. Dengan berusaha sabar dalam menjalani ujian dan cobaan hidup ini, senang maupun sulit, di kala lapang ataupun sempit, saya yakini semuanya sebagai pendidikan yang Allah berikan pada saya. Tentu ada hikmah atau pelajaran yang terbaik dari-Nya.

Beberapa bulan yang lalu, hampir beberapa kali saya mimpi bertemu Aa Gym. Aneh, tidak seperti biasanya. Mimpi itu sangat saya hafal detil kejadiannya. Padahal, jika bermimpi, saya sering kali lupa kejadian mimpi tersebut. Pada mimpi yang pertama, saya sakit dan Aa Gym mengobati sakit saya. Lalu mimpi selanjutnya, kejadiannya di sebuah masjid. Dalam mimpi tersebut, banyak orang yang ingin masuk ke dalam dan mendengarkan ceramah di dalam masjid tersebut. Saya pun berusaha masuk ke mesjid itu seperti yang lainnya. Namun berkali-kali saya mencoba masuk ke dalam, saya selalu terpental keluar, sampai akhirnya saya memutuskan duduk di tangga luar. Lalu Aa Gym menghampiri saya dan mengatakan, “Semua masalah itu ada jalan keluarnya. Dan yang memberi jalan keluarnya itu adalah Allah.” Subhanallah! Mimpi yang tidak pernah saya lupakan. Saya pun semakin yakin pada Allah bahwa Allah akan menolong setiap makhluk-Nya yang ada dalam kesusahan.

Saya berharap dan berdoa, di tahun 2004 saya bisa menjadi manusia lebih baik di mata Allah, ibu yang baik bagi anak-anak, menjadi anak yang baik di mata orangtua, serta menjadi pendamping yang baik di mata suami. (Seperti yang diungkapkan kepada Ikun/MQ)[MQMedia.com]

126. Iskandar Waworuntu : Islam Luar Biasa Indah

 

Sebetulnya, sejak kecil Iskandar Waworuntu bersinggungan dengan Islam. Iskandar kecil sudah sering puasa, kendati hanya ikut-ikutan teman-temannya yang beragama Islam. Bahkan waktu usia 12 tahun ia sudah mengucapkan syahadat. ”Waktu itu ikut teman mengikuti ilmu kanuragan (bela diri-red) dan di situ harus diislamkan. Jadi saya bersyahadat, tetapi hanya untuk kepentingan yang sempit,” tutur pemilik usaha di bidang pertanian organik ini.

Waktu itu ia belum tergerak untuk memeluk agama Islam. Apalagi, latar belakang keluarganya pun tak ada yang mendukungnya untuk mengenal Islam lebih jauh. Ayahnya, Wiya Waworuntu (almarhum), adalah seorang aktivis lingkungan dan ibunya, seorang pelukis asal Inggris, Judith, adalah penganut Kristen yang taat.

Bangku sekolah tak lagi menarik minat Iskandar di usianya yang ke-14. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah usai tamat SMP dan lebih memilih hidup dengan caranya. Dia merantau dan berpetualang. Daerah ‘jajahannya’ bahkan sampai Australia, dia tinggal beberapa waktu di negeri